Iklan

WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH DALAM PANDANGAN HUKUM ISLAM

C:\Users\subur riyanto\Pictures\IMG_20210408_175953.jpg

Elo Yuniarti, S.Pd.I.

PENDAHULUAN

Ketika biaya kehidupan terasa makin berat dan seringkali penghasilan suami kurang mencukupi, tidak sedikit para istri yang berupaya menambah penghasilan dengan bekerja di luar rumah. Terutama mereka yamg belum dikaruniai anak, ataupun anak-anak mereka yang telah dewasa.

Problema seperti ini menjadi hal yang sangat fenomenal hampir disetiap keluarga baik di pedesaan maupun di perkotaan, dahulu di pedesaan yang sangat menonjol kehidupan wanita hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja, sekarang sudah berbeda. Banyak diantara mereka yang berperan ganda bahkan beralih jabatan, dari seorang ibu rumah tangga menjadi “wanita karir”.

Di tempat tinggal penulis khususnya, mereka yang dulunya ibu rumah tangga saja, sekarang justru hampir tidak bisa ketemu dengan anak-anak mereka dalam waktu yang cukup lama, karena mereka sibuk dengan pekerjaannya, yang sebagian besar merantau ke Jakarta, ada yang menjadi pedagang, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dan sebagainya. Mereka rela melakukan itu semua demi masa depan keluarganya. Masalah seperti ini sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang tiada bertepi. Saya sebagai penulis akan sedikit mengurai tentang masalah wanita bekerja diluar rumah dalam pandangan hukum Islam. Semoga bermanfaat.

RAGAM PENDAPAT ULAMA

TENTANG WANITA YANG BEKERJA DI LUAR RUMAH

Masalah boleh atau tidaknya seorang perempuan bekerja di luar rumah, ditinjau dari hukum agama, banyak sekali menimbulkan perdebatan di kalangan ulama, baik dahulu maupun sekarang. Namun, dengan mengingat betapa perlunya umat Muslim mengejar ketertinggalannya di antara bangsa-bangsa di dunia, perlulah kiranya tidak membiarkan separuh dari umat, yakni kaum wanita, tanpa memberi mereka kesempatan untuk mengembangkan bakatnya, meluaskan wawasannya dan ikut berperan dalam pembangunan keluarga dan bangsanya. Khususnya di berbagai bidang yang memang lebih tepat dilakukan oleh wanita, dan sesuai dengan bakat serta pendidikan yang diperolehnya. Seperti di bidang kesehatan, pendidikan, penelitian, administrasi, bimbingan keagamaan,pembangunan lingkungan dan sebagainya. Namun tentunya mereka harus berbekal keimanan yang kuat agar bisa menjaga norma-norma kesopanan dan kebajikan yang ditekankan dalam agama Islam.

Tentang hal ini, Sayyid Saabiq mengutip pendapat Ibn ‘Aabidiin, seorang ahli fiqh dari mazhab Hanafi, “yang perlu ditegaskan adalah bahwa larangan terhadap istri untuk bekerja ialah apabila pekerjaannya itu berakibat mengurangi hak suaminya atau menimbulkan gangguan baginya atau mengharuskan istrinya itu keluar rumah. Akan tetapi, apabila pekerjaan itu tidak menimbulkan gangguan bagi suaminya, maka tidak ada alasan bagi si suami untuk melarangnya, dan tidak pula ia berhak melarangnya ke luar rumah apabila pekerjaannya termasuk fardhu kifayah yang khusus bagi wanita, seperti profesi sebagai bidan.” (Muhammad Bagir Al-Habsyi, 2002:157)

Bahkan, seorang da’i dan ulama kontemporer yang dapat digolongkan sebagai “fundamentalis”, yakni Imam Al-Ghazali, dalam buku 9 Risalah Al-Ghazali yang diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa arab: Majmuu’ah Rasaa’il al-Imaam al-Ghazali,jilid 2-6. Menegaskan tentang “adab istri kepada dirinya “:

Senantiasa membiasakan diri tinggal di rumahnya. Duduk didalam rumahnya dan tidak banyak keluar rumah. Senantiasa memperhatikan perkataan tetangganya dan tidak

DALIL-DALIL TENTANG WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH

Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah Sang Pencipta Manusia, hanya Dia-lah yang Maha Mengetahui seluk-beluk ciptaan- Nya. Hanya Dia yang Maha Tahu mana yang baik dan memperbaiki hamba-Nya, serta mana yang buruk dan membahayakan mereka. Oleh karena itu, Islam menjadi aturan hidup manusia yang paling baik, paling lengkap dan paling mulia. Hanya Islam yang bisa mengantarkan manusia menuju kebaikan, kemajuan,dan kebahagiaan dunia akhirat.

Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bekerja dan mencari nafkah adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga. Akan tetapi, Islam pada dasarnya tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh syari’at.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “ Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah mensyari’atkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya: Q.S. At-Taubah ayat 105

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

105. Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.

Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyari’atkan bisnis kepada semua hambanya, karena seluruh manusia diperintahkan untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita.( http://fimadani.com/wanita bekerja di luar rumah). Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan manusia agar mereka beramal, bahkan Dia tidak menciptakan mereka melainkan untuk menguji siapa diantara mereka yang paling baik amalannya. Oleh karena itu, wanita diberi tugas untuk beramal sebagaimana laki-laki (dan dengan amal yang lebih baik secara khusus) untuk memperoleh pahala dari Allah Azza wa jalla.

Selain itu, wanita juga merupakan separo dari masyarakat manusia, dan Islam tidak pernah tergambarkan akan mengabaikan separo anggota masyarakatnya serta menetapkannya beku dan lumpuh, lantas dirampas kehidupannya, dirusak kebaikannya, dan tidak diberi sesuatu pun.( http://images.salimahdy.multiply.com)

Hanya saja tugas wanita yang paling utama dan tidak lagi diperdebatkan adalah mendidik generasi penerus bangsa. Allah memang menyiapkan para wanita untuk mengemban tugas tersebut, baik secara lahir maupun batin. Tugas yang mulia ini jangan sampai diabaikan apalagi dilupakan oleh faktor apapun. Sebab, tak seorangpun yang dapat menggantikan tugas mulia ini, dan dengan peran wanita itulah terwujud kekayaan yang paling besar, yaitu kekayaan yang berupa manusia (SDM), dan padanyalah bergantung masa depan umat.

Hanya saja wanita harus tetap terikat dengan ketentuan Allah (hukum syara’) yang lain ketika ia bekerja. Artinya wanita tidak boleh menghalalkan segala cara dan segala kondisi dalam bekerja. Wanita juga tidak boleh meninggalkan kewajuban apapun yang dibebankan kepadanya dengan alasan waktunya sudah habis untuk bekerja atau dia sudah capek bekerja sehingga tidak mampu lagi untuk mengerjakan yang lain. Justru wanita harus lebih memprioritaskanpelaksanaan seluruh kewajibannya daripada bekerja, karena hukum bekerja bagi wanita adalah mubah. Dengan hukum ini wanita boleh bekerja dan boleh tidak. Apabila seorang mukmin/muslimah mendahulukan perbuatan yang mubah dan mengabaikan perbuatan wajib, berarti ia telah berbuat maksiat(dosa) kepada Allah. Oleh karena itu tidak layak bagi seorang muslimah mendahulukan bekerja dengan melalaikan tugas pokoknya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Juga tidak layak baginya mengutamakan bekerja sementara ia melalaikan kewajiban-kewajibannya yang lain, seperti mengenakan jilbab jika keluar rumah, sholat lima waktu dan lain-lain. (http://fimadani.com/wanita bekerja di luar rumah)

Dalam Q.S. Al-Maidah ayat 3, Allah berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Maka barang siapa terpaksa[398] Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

karena itu, para fuqoha menetapkan kaidah lain sebagai penyempurna, yaitu “ bahwa apa yang diperbolehkan karena darurat, maka diukur sesuai dengan kadar keperluannya. Kalau tidak begitu ( yakni kalau melebihi kebutuhan yang tak dapat dihindari itu ) berarti telah sengaja melanggar dan melampaui batas”( Yusuf Qardhawi,1995:.581)

sekalipun perempuan diberikan kebebasan, agama Islam juga memberikan warning atau peringatan yang harus dipatuhi. Menyangkut masalah ini, Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

33. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

PANDANGAN PENULIS

TENTANG WANITA BEKERJA DILUAR RUMAH

Wanita apalagi seorang istri dan karir adalah sebuah “dilema”. Disatu sisi seorang wanita terlebih seorang istri mempunyai hak dan kebebasan. Namun disisi lain, ia juga dibatasi oleh keberadaan orang lain dan kewajiban yang melekat dalam dirinya. Terutama bagi seorang wanita yang sudah menikah atau hidup berkeluarga, yang tentunya disamping bersuami juga mempunyai anak. Persoalan nafkah keluarga adalah mutlak tanggung jawab suami sebagai kepala rumah tangga. Akan menjadi sebuah persoalan baru ketika istri ikut bekerja apapun motivasi yang melandasinya.

Menurut penulis, masalah bekerja di luar rumah(karir)/ pekerjaan, semua manusia berhak memperolehnya. Hal tersebut sebagai jalan untuk memperoleh rizki guna memenuhi kebutuhannya selama dia hidup. Baik laki-laki maupun perempuan bisa memperolehnya. Namun ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Rambu-rambu ini bukan berarti membatasi ruang gerak laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki silahkan bekerja dengan semaksimal mungkin terutama laki-laki yang sudah menjadi kepala rumah tangga, karena dialah tulang punggung keluarganya, yang wajib mencari nafkah. Begitu juga untuk perempuan, boleh saja jika ingin bekerja, namun ingat semua itu ada aturan dan batasannya.

Seorang wanita memiliki fitrah yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Penciptaan manusia disesuaikan dengan tugas dan peran masing-masing. Bagi wanita, ada tugas-tugas yang tidak bisa digantikan oleh siapapun, seperti; melahirkan, menyusui, hamil,bahkan sampai mendidik anak-anak.

Menurut penulis, alangkah bijaknya jika suatu perbuatan, terlebih sebuah karir/pekerjaan itu diawali dengan sebuah pertimbangan yang matang. Mulai dari persetujuan suami bagi wanita yang sudah menikah, mempertimbangkan tentang manfaat dan madhorot, serta dampak/akibat yang akan timbul dari pekerjaan itu

Menurut penulis, wanita bekerja diluar rumah sah-sah saja, namun ada beberapa hal yang “wajib” dijadikan rambu-rambu dalam pelaksanaan pekerjaannya, agar tercapai kebahagiaan dunia akhirat,antara lain:

  1. Harus dengan izin suaminya,karena bagaimanapun seorang istri harus taat pada suaminya.
  2. Bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatan.
  3. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya sebagai seorang istri/ ibu. Karena, itu adalah pekerjaan wajib baginya. Jangan sampai pekerjaan wajibnya dikalahkan oleh yang lainnya, seperti pekerjaan di luar rumah.
  4. Menerapkan adab-adab islami,seperti; memakai busana muslim, menjaga pandangan, tidak bersolek dll.
  5. Pekerjaannya tidak bertentangan dengan tabiat seorang wanita,seperti; mengajar, bidan, dokter, perawat,penulis buku, dll.
  6. Diusahakan tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaknya mencari lingkungan kerja khusus wanita, seperti; kursus wanita, sekolah wanita, perkumpulan wanita, dll.
  7. Hendaknya mencari pekerjaannya yang ada didalam rumah.

Insya Allah, dengan bekal keimanan yang kuat serta memperhatikan dan menerapkan rambu-rambu yang ada, semuanya bisa berjalan seimbang tanpa ada masalah, yang pada akhirnya keluarga kita akan menjadi keluarga yang bahagia dunia dan akhirat.

KESIMPULAN DAN PENUTUP

Solusi atas problema wanita bekerja di luar rumah, kita kembalikan pada kondisi atau keadaan seorang wanita iti sendiri. Apakah sang suami mengijinkan dirinya untuk bekerja? Apa pekerjaannya tidak mengganggu tugas utamanya dalam keluarga? Apakah tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan didalam rumah? Jika lingkungan kerja yang ada keadaannya ikhtilat (campur antara pria dan wanita), apa tidak ada lingkungan lain yang tidak ada keadaan ikhtilatnya? Kemudian apakah jika seorang wanita tidak bekerja maka kondisi kehidupan keluarganya akan terancam? Sudahkah para wanita karir menerapkan rambu-rambu islami ketika bekerja?

Insya Allah dengan uraian diatas, kita bisa mengambil keputusan dalam menjawab problema tersebut, karena yang jelas dalam pandangan hukum Islam, wanita bekerja di luar rumah itu tidak dilarang, hanya saja ada aturan main yang harus diperhatikan sesuai syari’at Islam. Karena Islam adalah agama yang paling sempurna dan mulia, yang sama sekali tidak akan memberatkan para kaumnya.

Pada dasarnya, agama Islam memberikan kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Islam juga tidak mengharamkan dan tidak akan mencegah wanita untuk sibuk pada pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian dan kemampuannya.( Abdul Hasan al-Ghaffar,1993:195)

Beberapa Fatwa para ulama tentang wanita yang bekerja di luar rumah antara lain 🙁 Husein Syahatan,1998:137-141 )

  • Fatwa Abdul Aziz bin Baz

Adalah ketua umum pada kantor penelitian Ilmiah,Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Kerajaan Arab Saudi. Beliau menyampaikan ceramah dengan judul” Bahaya partisipasi wanita dalam bekerja dengan laki-laki”.

  • Fatwa Abdul Kasyk

Menurut beliau, peran wanita adalah sebagai pendidik sehingga dapat membentuk generasi yang baik, sesuai dengan sabda Rosululloh SAW.” wanita adalah pemimpin rumah tangga suaminya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”.

  • Fatwa Abdul ‘Ala Al-Maududi

Dalam bukunya Al-Hijjab, Al-Maududi menerangkan bahwa peran wanita dalam Islam adalah seorang ibu rumah tangga. Oleh karena itu, jika suami termasuk orang yang mampu bekerja dan berusaha, kewajiban istri adalah mengatur urusan rumah tangga. Wanita adalah pemimpin rumah tangganya, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

  • Fatwa Hasan Al-Bana

Jika kebutuhan-kebutuhan primer menurut wanita bekerja demi keluarga dan anak-anaknya, dia harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan Islam. Dengan demikian, dia akan terhindar dari fitnah laki-laki dan laki-lakipun terhindar dari fitnahnya. Syarat utamanya adalah status pekerjaannya hanya untuk memenuhi kebutuhan primer bukan memenuhi kebutuhan lainnya.

  • Fatwa Muhammad Abdul Khatib

Islam membolehkan wanita bekerja dengan tempat dan jenis pekerjaan yang sesuai karakternya, seperti menjadi guru, dokter, dan lain-lain. Hendaknya pekerjaan-pekerjaan itu bukan semata-mata untuk membantu nafkah suami, karena mencari nafkah adalah kewajiban suami atau untuk keperluan diri sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Bagir Al-Habsyi, Muhammad. Fiqh Praktis : Menurut Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pendapat para Ulama. Bandung: Mizan Media Utama,Cet. I, 2002

Hasan al-Ghaffar, Abdul,dkk,Wanita Islam dan Gaya Hidup Modern. Jakarta: Pustaka Hidayah,1993.

kurniawan, Irwan. 9 Risalah Al-Ghazali(diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa Arab: Majmuu’ah Rasaa’il al-Imaam al-Ghazaali,jilid 2-6, terbitan Daar al-Kutub al-‘Ilmiyyah,Beirut, Lebanon, 1994). Bandung: Pustaka Hidayah.

Syahatan, Husein. Ekonomi Rumah Tangga Muslim. Jakarta:Gema Insani,1998.

Qardhawi, Yusuf.Fatwa-fatwa kontemporer jilid 2,Jakarta: Gema Insani,1995.

Yasid,dkk, Fiqh Realitas; Respon Ma’had Aly Terhadap Wacana Hukum Islam Kontemporer,Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2005.

http://fimadani.com/wanita bekerja di luar rumah

http://images.salimahdy.multiply.com

Biodata Penulis

Nama : Elo Yuniarti, S.Pd.I.

NIP :198406062007012004

Unit Kerja : SD Negeri 02 Notogiwang Kec. Paninggaran Kab. Pekalongan

You cannot copy content of this page