Iklan

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PKN TENTANG SISTEM PEMERINTAHAN REPUBLIK INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BAGI SISWA KELAS VI SEKOLAH DASARNEGERI 4 KEDAWUNG TAHUN PELAJARAN 2016 /2017

Budi Raharti, S.Pd.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa kelas VI SD Negeri 4 Kedawung terhadap mata pelajaran PKn tentang sistem pemerintahan Republik Indonesia menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD . Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 4 Kedawung terhadap mata pelajaran PKn tentang sistem pemerintahan Republik Indonesiamenggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD , untuk mengetahui bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam peningkatan motivasi dan hasil belajar PKn tentang sistem pemerintahan Republik Indonesia. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan metode siklus yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SDNegeri 4 Kedawung dengan subyek penelitian yaitu siswa kelas V1 SD Negeri 4 Kedawung pada semester ganjil tahun ajaran 2016 /2017 yang berjumlah 19 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, tes dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan terhadap data yang diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi maupun hasil belajar siswa.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1)ModelPembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VI SD Negeri 4 Kedawung terhadap mata pelajaran PKn tentang Sistem Pemerintahan Republik Indonesia.(2)Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 4 Kedawung terhadap mata pelajaran PKn tentang Sistem Pemerintahan Republik Indonesia.Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh yaitu: siklus I nilai rata-rata penguasaan konsep sebesar 67,9 dengan presentase 63,2% siswa tuntas,pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 76,8 atau 78,9% siswa tuntas dan pada siklus ketiga mencapai nilai rata-rata 89,5 dengan ketuntasan 100%. Untuk motivasi belajar siswa siklus I rata-rata 2,99 atau 73,75%, untuk motivasi rata-rata pada siklus II yaitu 3,1 atau 78,25%, dan untuk siklus III rata-rata 3,36 atau 84% Oleh karena itu sebaiknya guru pandai dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disajikan, sehingga dapat mendorong tercapainya tujuan yang diharapkan.

PENDAHULUAN

Strategi pembelajaran yang melibatkan siswa aktif diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk kualitas pendidikan PKn di sekolah. Melalui strategi pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dapat membangun pengetahuan siswa secara aktif, seperti yang dikemukakan Anderson dan Armbruster (1982:34);) bahwa “belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Siswa tidak menerima pengetahuan dari guru atau kurikulum secara pasif. Teori skemata menjelaskan bahwa siswa mengaktifkan struktur kognitif mereka dan membangun struktur-struktur baru untuk mengakomodasi masukan-masukan pengetahuan yang baru.” (Anita Lie. Tt, 2005).

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan peneliti, tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar PKn di kelas VI SD Negeri 4 Kedawung, kemudian peneliti menganalisis dan melakukan refleksi dengan mengumpulkan data hasil pembelajaran dan data situasi belajar mengajar pada saat pembelajaran awal. Dari data tersebut analisis masalah terungkap :

1) Kondisi pembelajaranPKn tampak kurang kondusif.

2) Model pembelajaran yang digunakan oleh guru masih konvensional (ceramah). Hal ini mengakibatkan siswa menjadi pasif karena kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

3) Penggunaan media dan metode pembelajaran yang belum optimal.

4) Motivasi belajar siswa rendah karena sebagian siswa merasa kurang begitu tertarik dengan mata pelajaran PKn. Mereka menganggap bahwa pelajaran PKn bersifat hafalan semata, sedangkan kemampuan masing-masing siswa dalam menghafal berbeda-beda, ada yang baik, sedang, dan rendah. Hal itu yang mengakibatkan siswa menjadi kurang bergairah danberminat dalam mempelajarinya. Karena motivasi belajar siswa yang rendah, hal ini berakibat pada pemerolehan hasil belajar siswa yang rendah.

5) Tanggung jawab siswa terhadap tugas masih sangat rendah.

Sehubungan dengan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana meningkatkan mutu pembelajaran PKn, sehingga meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa. Penggunaan model dan media pembelajaran secara tepat, efektif dan maksimal merupakan alternatif untuk memperbaiki mutu pembelajaran PKn.

Model pembelajaran yang tepat sebagai upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar dalam pendidikan PKn merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning (Etin Solihatin, dkk, 2009: 2).

Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti ”Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD ) untuk Meningkatkan motivasi dan Hasil Belajar PKn tentang Sistem Pemerintahan Republik Indonesia pada Siswa Kelas VI SD Negeri 4 Kedawung Tahun Pelajaran 2016 /2017.

II. LANDASAN TEORI

Pengertian PKn

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warga negara dengan negara serta pendidikan pengetahuan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalakan oleh bangsa dan negara (Penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang No 2 Tahun 1989).

Fungsi Mata Pelajaran PKn

Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar, mata pelajaran PKn berfungsi untuk :

l. Mengembangkan dan melestarikan nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari

2. Mengembangkan dan membina siswa yang sadar akan hak dan kewajibannya, taat pada peraturan yang berlaku dan berbudi pekerti luhur.

3. Membina siswa agar memahami dan menyadari hubungan antar sesama anggota keluarga, sekolah, dan masyarakat serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tujuan Mata Pelajaran PKn

Tujuan yang akan dicapai dengan pembelajaran Mata pelajaran PKn di SD dengan proses belajar mengajar PKn adalah menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan kepada nilai-nilai Pancasila baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, dan memberikan bekal kemampuan untuk mengikuti pendidikan di SLTP (Depdikbud, 1994:2).

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatife STAD

Isjoni (2009:20) pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai satu pendekatan mengajar dimana murid bekerjasama diantara satu sama lain dalam kelompok belajar yang kecil untuk menyelesaikan tugas individu atau kelompok yang diberikan oleh guru.

Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri (Etin Solihatin, dkk, 2005).

Dari berbagai uraian yang diungkapkan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi yangmenempatkan siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4-6 siswa dengan tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pada dasarnya tujuan pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahin, et al. (2000) (dalam Isjoni, 2009: 39), yaitu: 1) Hasil Belajar Akademik, 2) Penerimaan Terhadap Individu, 3) Pengembangan Ketrampilan Sosial,

Tinjauan Tentang Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.Pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai beberapa keunggulan (Slavin, 1995:17), diantaranya sebagai berikut:

  1. Siswa bekerjasa sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjungtinggi norma-norma dalam kelompok.
  2. Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama.
  3. Aktif berperan seabagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
  4. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

Media Pembelajaran

Menurut Kamus Istilah Perpustakaan dan Dokumentasi media adalah alat untukmemperjelas pengajaran yang dapat berupa gambar,, film, kaset, dan piringan hitam.Penggunaan media pembelajaran akan membantu guru dalam menyampaikan materipelajaran. Siswa lebih mudah memahami pesan yang disampaikan oleh guru, sehinggatingkat pemahaman siswa meningkat. Kehadiran media pembelajaran mempengaruhiminat belajar siswa. Siswa yang semula jenuh menjadi antusias karena pembelajaranmenarik dan tidak monoton. Pkn yang semula dianggap membosankan,membingungkan, dan tidak bermanfaat menjadi nyata, menyenangkan, dan bahkanmenjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspekpotensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakarpendidikan sebagaimana tersebut diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprehensif. (Agus Suprijono, 2009:7 )

Motivasi Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa untuk bersedia melakukan kegiatan belajar. Motivasi itu sendiri ditinjau dari timbulnya ada dua macam motivasi.

a. Motivasi Intrinsik

Jenis motivasi itu timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.

b. Motivasi Ekstrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individuberupa ajakan, suruhan, atau paksaan dari luar, sehingga dengan kondisi demikian akhirnya seseorang mau melakukan kegiatan belajar

Karakteristik Siswa Kelas VI SD

Anak kelas VI SD berusia antara 10-11 tahun.Pada usia ini anak berada pada fase operasional konkret. Anak aktif bergerak dan mempunyai perhatian yang besar pada lingkungan.

III. METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 4 Kedawung Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen.Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, yaitu bulan Februari, Maret dan April 2017 dengan jumlah19 siswa.

Indikator Kinerja

Adanya peningkatan hasil belajar PKn, khususnya yang dikenai tindakan dengan rincian sebagai berikut :

  1. Anak yang memperoleh nilai ketuntasan hasil belajar 80% tuntas
  2. Rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan ≥ 80
  3. Nilai KKM sama dengan 70
  4. Motivasi belajar siswa meningkat lebih dari 80%.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Motivasi Belajar

a. Motivasi belajar siswa.

Dari hasil analisis, peningkatan motivasi belajar siswa pada setiap siklus kegiatan pembelajaran meningkat dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1 Rekapitulasi Peningkatan Motivasi Belajar Siswa untuk Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan

No Pembelajaran Minat Kesungguhan Kerjasama Rata-rata
1 Siklus I 2,89 2,94 3,15 2,99
2 Siklus II 2,78 3,21 3,21 3,1
3 Siklus III 3,15 3,57 3,36 3,36

Dari tabel diatas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut :

a) Pada siklus I, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 2,99 atau 73,75%

b) Pada siklus II, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,1 atau 78,25%

c) Pada siklus III, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,36 atau 84%

Untuk lebih jelasnya peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :

Gambar 2 Diagram batang Nilai Rata-rata Motivasi Belajar Siswa pada setiap Siklus

b. Hasil belajar siswa

Setelah dilakkan analisis terhadap data diatas, diketahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pada materi sistem pemerintahan Republik Indonesia menunjukan kenaikan angka pemahaman dan ketuntasan belajar yang sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat pada tabel.

Tabel 2 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa pada Setiap Siklus

No Pembelajaran Hasil Belajar Siswa
Nilai rata-rata Kelas Tuntas Persentase Belum Persentase
1. Studi Awal 61,1 6 31,6% 13 68,4%
2. Siklus I 67,9 12 63,2% 7 36,8%
3. Siklus II 76,8 15 78,9% 4 21,1%
4. Siklus III 89,5 19 100% 0 0%

Dari tabel 4.8 tersebut dapat diperoleh keterangan sebagai berikut :

1. Pada kondisi awal siswa yang sudah mencapai angka ketuntasan belajar 31,6%

2. Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik 63,2%.

3. Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 78,9% (bertambah 3 siswa dari siklus I)

4. Pada siklus III, angka ketuntasan siswa naik 100% (bertambah 4 siswa dari siklus II).

5. Pada kondisi awal nilai rata-rata kelas mencapai 61,1

6. Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mencapai 67,9 yang berarti mengalami kenaikan sebanyak 6,8dari kondisi awal

7. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mencapai 76,8 yang berarti mengalami kenaikan sebesar 8,9 dari siklus I.

8. Pada siklus III, nilai rata-rata kelas mencapai 89,5 yang berarti mengalami kenaikan sebesar 12,7 dari siklus II.

Gambar 2 Diagram Batang ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata kelas pada siklus III Diagram Batang nilai rata-rata kelas pada setiap siklus

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan temuan dan analisis yang diperoleh dalam pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan tentang materi memahami Sistem Pemerintah Republik Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran kooperative tipe STAD dari siklus I, II, III dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VI SD Negeri 4 Kedawung terhadap mata pelajaran PKn tentang memahami sistem pemerintahan Republik Indonesia terbukti dari

a) Pada siklus I, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 2,99 atau 73,75%

b) Pada siklus II, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,1 atau 78,25%

c) Pada siklus III, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,36 atau 84%

2 Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 4 Kedawung terhadap mata pelajaran PKn tentang Sistem pemerintahan Republik Indonesia terbukti dari 1. Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik63,2% (bertambah 6 siswa dari studi awal). Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 78,9% (bertambah 3 siswa dari siklus I). Pada siklus III, angka ketuntasan siswa naik 100% (bertambah 4 siswa dari siklus II).Pada kondisi awal nilai rata-rata kelas mencapai 61,1. Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mencapai 67,9. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mencapai 76,8, pada siklus III, nilai rata-rata kelas mencapai 89,5 yang berarti mengalami kenaikan sebesar 12,7 dari siklus II.

3. Langkah-langkahpembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar adalah sebagai baerikut:

  • Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain)
  • Guru menyajikan pelajaran
  • Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itumengerti.
  • Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  • Memberi evaluasi .
  • Dan membuat kesimpulan

Saran

Berdasarkan pembahasan hasil dan kesimpulan penelitian yang dilakukan di atas, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Pelaksanaan penelitian memerlukan perencanaan yang matang khususnya mengenai tindak lanjut setelah siklus agar tindakan selanjutnya dapat mengenai sasaran.
  2. Dalam menggunakan model pembelajaran, guru harus benar-benar memahami karakteristik perkembangan siswa.
  3. Penggunaan media juga diimbangi dengan penggunaan metode yang tepat, agar situasi kelas dapat kondusif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah.
  4. Keberhasilan penelitian yang dilakukan di SD Negeri 4 Kedawung, harus dilakukan kembali dengan setting yang berbeda untuk menjamin validitas penelitian.
  5. Keberhasilan tersebut dapat dijadikan acuan dalam dunia pendidikan, sehingga guru dapat menyampaikan materi dengan media yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono, 2009a. Cooperative Learning Teori dan AplikasiPAIKEM.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Anderson dan Armbruster, 1982.Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta:PT Gramedia Koran

Anita Lie, 2005. Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang 2 Kelas. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Depdikbud 1994. Petunjuk Pembinaan dan Perkumpulan Guru di Sekolah. Jakarta: Depdikbud RI

Etin Solihatin, dkk. 2009.Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran PKn. Jakarta: Bumi Aksara

Green, 1992. Education as a Profesion. New Jersey: Prentice Hall

Isjoni, 2009a.Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Wilson dan Sapanuchart,1993.Kooperative and eksperimen education. Jakarta: Rineka Cipta

You cannot copy content of this page