Iklan

UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PAI TENTANG KETENTUAN- KETENTUAN SALAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD BAGI SISWA KELAS IV SEMESTER 2 SEKOLAH DASAR NEGERI 1 DEPOKREJO  TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Siti Hamidah, S.Pd. I.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah Untuk mendeskripsikan peningkatan motivasi belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo terhadap mata pelajaran PAI tentang ketentuan-ketentuan salat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo terhadap mata pelajaran PAI tentang ketentuan-ketentuan salat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, untuk mengetahui bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam peningkatan motivasi dan hasil belajar PAI tentang ketentuan-ketentuan salat. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan metode siklus yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SD Negeri 1 Depokrejo dengan subyek penelitian yaitu siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo pada semester genap tahun ajaran 2018/2019 yang berjumlah 19 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, tes dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan terhadap data yang diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi maupun hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo terhadap mata pelajaran PAI tentang ketentuan-ketentuan salat. (2) Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo terhadap mata pelajaran PAI tentang ketentuan-ketentuan salat. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh yaitu: Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik 57,9% (bertambah 5 siswa dari studi awal). Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 73,7% (bertambah 3 siswa dari siklus I). Pada siklus III, angka ketuntasan siswa naik 100% (bertambah 5 siswa dari siklus II). Pada kondisi awal nilai rata-rata kelas mencapai 61,05 Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mencapai 67,36. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mencapai 75,27, pada siklus III, nilai rata-rata kelas mencapai 88,42 yang berarti mengalami kenaikan sebesar 13,15 dari siklus II. Untuk nilai motivasi yang meliputi meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,03 atau 74,25%. Pada siklus II, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,21 atau 78,275%. Pada siklus III, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,76 atau 93,25%

PENDAHULUAN

Strategi pembelajaran yang melibatkan siswa aktif diharapkan dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk kualitas pendidikan PAI di sekolah. Melalui strategi pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dapat membangun pengetahuan siswa secara aktif, seperti yang dikemukakan Anderson dan Armbruster (1982:34);) bahwa “belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa, bukan sesuatu yang dilakukan terhadap siswa. Siswa tidak menerima pengetahuan dari guru atau kurikulum secara pasif. Teori skemata menjelaskan bahwa siswa mengaktifkan struktur kognitif mereka dan membangun struktur-struktur baru untuk mengakomodasi masukan-masukan pengetahuan yang baru.” (Anita Lie. Tt, 2005).

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan peneliti, tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar PAI di kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo, kemudian peneliti menganalisis dan melakukan refleksi dengan mengumpulkan data hasil pembelajaran dan data situasi belajar mengajar pada saat pembelajaran awal. Dari data tersebut analisis masalah terungkap :

1) Kondisi pembelajaran PAI tampak kurang kondusif.

2) Model pembelajaran yang digunakan oleh guru masih konvensional (ceramah). Hal ini mengakibatkan siswa menjadi pasif karena kurang terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

3) Penggunaan media dan metode pembelajaran yang belum optimal.

4) Motivasi belajar siswa rendah karena sebagian siswa merasa kurang begitu tertarik dengan mata pelajaran PAI. Mereka menganggap bahwa pelajaran PAI bersifat hafalan semata, sedangkan kemampuan masing-masing siswa dalam menghafal berbeda-beda, ada yang baik, sedang, dan rendah. Hal itu yang mengakibatkan siswa menjadi kurang bergairah dan berminat dalam mempelajarinya. Karena motivasi belajar siswa yang rendah, hal ini berakibat pada pemerolehan hasil belajar siswa yang rendah.

5) Tanggung jawab siswa terhadap tugas masih sangat rendah.

Sehubungan dengan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana meningkatkan mutu pembelajaran PAI, sehingga meningkatkan hasil belajar dan motivasi siswa. Penggunaan model dan media pembelajaran secara tepat, efektif dan maksimal merupakan alternatif untuk memperbaiki mutu pembelajaran PAI.

Model pembelajaran yang tepat sebagai upaya peningkatan kualitas proses belajar mengajar dalam pendidikan PAI merupakan suatu kebutuhan yang sangat mendesak. Salah satu model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif atau cooperative learning (Etin Solihatin, dkk, 2009: 2). Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti ”Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) untuk Meningkatkan motivasi dan Hasil Belajar PAI tentang Ketentuan-ketentuan salat pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019.

II. LANDASAN TEORI

Pengertian PAI

Pendidikan agama Islam dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang dilakukan oleh seseorang atau instansi pendidikan yang memberikan materi mengenai agama islam kepada orang yang ingin mengetahui lebih dalam tentang agama Islam baik dari segi materi akademis maupun dari segi praktik yang dapat dilakukan sehari hari. Untuk agama Islam sendiri di Indonesia merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya, untuk itu pastilah di instansi pendidikan manapun pasti memberikan pelajaran agama Islam di dalamnya.

Tujuan Mata Pelajaran PAI

Pendidikan Agama Islam, yang tercakup mata pelajaran akhlak mulia dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi, pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran di sekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktivitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia.

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatife STAD

Isjoni (2009:20) pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai satu pendekatan mengajar dimana murid bekerja sama diantara satu sama lain dalam kelompok belajar yang kecil untuk menyelesaikan tugas individu atau kelompok yang diberikan oleh guru.

Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri (Etin Solihatin, dkk, 2005).

Dari berbagai uraian yang diungkapkan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang menempatkan siswa belajar dalam kelompok yang beranggotakan 4-6 siswa dengan tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.

Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Pada dasarnya tujuan pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum Ibrahin, et al. (2000) (dalam Isjoni, 2009: 39), yaitu: 1) Hasil Belajar Akademik, 2) Penerimaan Terhadap Individu, 3) Pengembangan Ketrampilan Sosial.

Tinjauan Tentang Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai beberapa keunggulan (Slavin, 1995:17), diantaranya sebagai berikut:

  1. Siswa bekerjasa sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma dalam kelompok.
  2. Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama.
  3. Aktif berperan seabagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
  4. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

Hasil Belajar

Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprehensif. (Agus Suprijono, 2009:7 )

Motivasi Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa untuk bersedia melakukan kegiatan belajar. Motivasi itu sendiri ditinjau dari timbulnya ada dua macam motivasi.

Motivasi Intrinsik

Jenis motivasi itu timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.

b. Motivasi Ekstrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu berupa ajakan, suruhan, atau paksaan dari luar, sehingga dengan kondisi demikian akhirnya seseorang mau melakukan kegiatan belajar

Karakteristik Siswa Kelas IV SD

Anak kelas IV SD berusia antara 10-11 tahun. Pada usia ini anak berada pada fase operasional konkret. Anak aktif bergerak dan mempunyai perhatian yang besar pada lingkungan.

III. METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo Kecamatan Kebumen Kabupaten Kebumen. Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 3 bulan, yaitu bulan Februari, Maret dan April 2019 dengan jumlah 19 siswa.

Indikator Kinerja

Adanya peningkatan hasil belajar PAI, khususnya yang dikenai tindakan dengan rincian sebagai berikut :

  1. Anak yang memperoleh nilai ketuntasan hasil belajar 80% tuntas
  2. Rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan ≥ 80
  3. Nilai KKM sama dengan 70
  4. Motivasi belajar siswa meningkat lebih dari 80%.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Motivasi Belajar

a. Motivasi belajar siswa.

Dari hasil analisis, peningkatan motivasi belajar siswa pada setiap siklus kegiatan pembelajaran meningkat dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.9 Rekapitulasi Peningkatan Motivasi Belajar Siswa untuk Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan

No Pembelajaran Minat Kesungguhan Kerjasama Rata-

rata

1 Siklus I 3,26 2,68 3,15 3,03
2 Siklus II 3,42 2,89 3,31 3,21
3 Siklus III 3,68 3,73 3,83 3,76

Dari tabel diatas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut :

a) Pada siklus I, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,03 atau 73,75%

b) Pada siklus II, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,21 atau 78,25%

c) Pada siklus III, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,76 atau 93,25%

Untuk lebih jelasnya peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat pada gambar diagram batang berikut ini :

Gambar 4.8 Diagram batang Nilai Rata-rata Motivasi Belajar Siswa pada setiap Siklus

b. Hasil belajar siswa

Setelah dilakukan analisis terhadap data diatas, diketahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pada materi ketentuan-ketentuan salat menunjukan kenaikan angka pemahaman dan ketuntasan belajar yang sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat pada tabel.

Tabel 4.10 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa pada Setiap Siklus

No Pembelajaran Hasil Belajar Siswa
Nilai rata-rata Kelas Tuntas Persentase Belum Persentase
1. Studi Awal 61,05 6 31,5% 13 68,5%
2. Siklus I 67,36 11 57,9% 8 42,1%
3. Siklus II 75,27 14 73,7% 5 26,3%
4. Siklus III 88,42 19 100% 0 0%

Dari tabel 4.8 tersebut dapat diperoleh keterangan sebagai berikut :

1. Pada kondisi awal siswa yang sudah mencapai angka ketuntasan belajar

31,5%

2. Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik 57,9%.

3. Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 73,7% (bertambah 3 siswa dari siklus I)

4. Pada siklus III, angka ketuntasan siswa naik 100% (bertambah 5 siswa dari siklus II).

5. Pada kondisi awal nilai rata-rata kelas mencapai 1,05

6. Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mencapai 67,36

7. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mencapai 75,27

8. Pada siklus III, nilai rata-rata kelas mencapai 88,42

Gambar 2 Diagram Batang ketuntasan belajar siswa dan nilai rata-rata kelas pada siklus III

Diagram Batang nilai rata-rata kelas pada setiap siklus

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan temuan dan analisis yang diperoleh dalam pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran Pendidikan Agama Islam tentang materi memahami Ketentuan-Ketentuan Salat dengan menggunakan model pembelajaran kooperative tipe STAD dari siklus I, II, III dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo terhadap mata pelajaran PAI tentang Ketentuan-Ketentuan Salat terbukti dari

a) Pada siklus I, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,03 atau 74,25%

b) Pada siklus II, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,21 atau 78,75%

c) Pada siklus III, rata-rata motivasi belajar siswa yang meliputi minat, kesungguhan, kerjasama 3,76 atau 93,25%

2 Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Depokrejo terhadap mata pelajaran PAI tentang ketentuan-ketentuan salat terbukti dari 1. Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik 57,9% (bertambah 5 siswa dari studi awal). Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 73,7% (bertambah 3 siswa dari siklus I). Pada siklus III, angka ketuntasan siswa naik 100% (bertambah 5 siswa dari siklus II). Pada kondisi awal nilai rata-rata kelas mencapai 61,05 Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mencapai 67,36. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mencapai 75,27 pada siklus III, nilai rata-rata kelas mencapai 88,42 yang berarti mengalami kenaikan sebesar 13,15 dari siklus II.

3. Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar adalah sebagai baerikut:

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain)
  2. Guru menyajikan pelajaran
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  5. Memberi evaluasi.
  6. Dan membuat kesimpulan

Saran

Berdasarkan pembahasan hasil dan kesimpulan penelitian yang dilakukan di atas, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan penelitian memerlukan perencanaan yang matang khususnya mengenai tindak lanjut setelah siklus agar tindakan selanjutnya dapat mengenai sasaran.
  2. Dalam menggunakan model pembelajaran, guru harus benar-benar memahami karakteristik perkembangan siswa.
  3. Penggunaan media juga diimbangi dengan penggunaan metode yang tepat, agar situasi kelas dapat kondusif dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah.
  4. Keberhasilan penelitian yang dilakukan di SD Negeri 1 Depokrejo, harus dilakukan kembali dengan setting yang berbeda untuk menjamin validitas penelitian.
  5. Keberhasilan tersebut dapat dijadikan acuan dalam dunia pendidikan, sehingga guru dapat menyampaikan materi dengan media yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Suprijono, 2009a. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ahmad D Marimba. 2001. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma`Arif.

Ahmad Ibn Hanbal dan Ibn Al Mubarak. 1989. Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid, Jakarta: Pustaka Azzam

Ahmad Syauqi. 1992.Nilai kesehatan dalam Syariat Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara,

Ahmad Tafsir, 2004. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja. Rosda Karya

Anderson dan Armbruster, 1982.Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran. Jakarta:PT Gramedia Koran

Anita Lie, 2005. Cooperative Learning Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang 2 Kelas. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia

Etin Solihatin, dkk. 2009.Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran PAI. Jakarta: Bumi Aksara

Isjoni, 2009a.Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

____, 2009b. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi Antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Biodata Penulis

Nama : Siti Hamidah, S.Pd. I

Unit Kerja : SD Negeri 1 Depokrejo, Kecamatan Kebumen, Kab. Kebumen

You cannot copy content of this page