Iklan

UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PAUD

DALAM MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN HARIAN

PADA MASA PANDEMI COVID 19 MELALUI BIMBINGAN

BERKELANJUTAN DI KECAMATAN PONCOWARNO

KABUPATEN KEBUMEN

ABSTRAK

Sri Kingkin Retno Utami, 2020: ”Upaya Peningkatan Kompetensi Guru PAUD dalam Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian Pada Masa Pandemi Covid 19 melalui Bimbingan Berkelanjutan di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen”. Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru PAUD dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian pada masa pandemi covid 19 melalui bimbingan berkelanjutan di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan dalam Sekolah dengan tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan diskusi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru PAUD dalam menyusun RPPH pada masa pandemi covid 19 dengan lengkap. Guru PAUD menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPPH apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembang/penyusunan RPPH dari peneliti. Informasi ini memiliki diperoleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPPH kepada para guru PAUD pada masa pandemi covid 19: (2) Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam menyusun RPPH di masa pandemi covid 19. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil observasi/pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru PAUD dalam menyusun RPPH dari siklus ke siklus. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPPH 69,31% dan pada siklus II 85,90%, terjadi peningkatan 16,54% dari siklus I.

Kata kunci: Kompetensi, Guru PAUD, RPPH, Pandemi covid 19, bimbingan Berkelanjutan

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu: tenaga kependidikan guru dan non guru.

Usaha-usaha untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak dilakukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “Hal Ini ditunjukkan dengan kenyataan : (1) Guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) Guru sering mengeluh kurikulum yang syarat dengan beban, (3) Seringnya peserta didik mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) Belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagaimana mestinya”. (Imron,2000:5).

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) atau beberapa istilah seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPPH memuat indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.

Perubahan dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19 masih sangat dirasakan  hingga saat ini. Hanya dalam waktu hitungan bulan, mau tak mau Kemendikbud harus mengganti arah kebijakannya guna membantu kegiatan belajar-mengajar berjalan efektif meski dari rumah. Laju penyebaran Covid-19 di Indonesia, tentunya membuat pemerintah harus melakukan berbagai upaya untuk segera mengakhiri pandemi, agar seluruh sektor kehidupan tak lagi mengalami masa sulit, termasuk dunia pendidikan.

Walaupun pada masa pandemi covid 19 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian harus tetap dibuat agar kegiatan pembelajaran jarak jauh berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah, oleh karena itu guru harus mampu menyusun RPPH dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. RPPH sangat penting bagi seorang pendidik karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Guru

Secara etimologi (asal usul kata), istilah “ Guru” berasal dari bahsa india yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari kesengsaraan” Shambuhan, Republika ( dalam Suparlan 2005:11 ). Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan, “ Guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak”.

Undang-undang Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 “ Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar dan membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

Standar Kompetensi Guru

Depdiknas ( 2004:4 ) kompetensi diartikan,” Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Sedangkan menurut Nurhadi (2004:5) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.

Tujuan dan Manfaat Setandar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004: 4) tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Sedangkan manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian

Philip Combs (dalam Kurniawati, 2009:66) menyatakan bahwa perencanaan program pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran secara sistematis. Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajarn Harian (RPPH) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanaan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik, sekolah, dan daerah.

Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian

Menurut Permendiknas No.41 Tahun 2007, komponen RPPH terdiri dari : (a) identitas mata pelajaran,( b) standar kompetensi, (c) kompetensi dasar, (d) indikator dan pencapaian kompetensi, (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu, (h) metode pembelajaran, (i) Kegiatan pembelajaran meliputi: Pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar, (k) penilaian hasil belajar meliputi: soal, skor, dan kunci jawaban.

Prinsip-prinsip Penyusunan RPPH

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembejaran Harian harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut : a) memperhatikan perbedaan individu peserta didik, b) mendorong partisipasi aktif peserta didik, c) mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tidak lanjut, e) keterkaitan dan keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPPH.

Langkah-langkah Menyusun RPPH

Langkah-langkah menyusun RPPH adalah : a) Mengisi kolom identitas, b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c) Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan, e) mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus atau uraian dari materi pokok atau pembelajaran, f) menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir, h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan.

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Menyusun RPPH

Dalam penyusunan RPPH perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut : (a) RPPH disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu pertemuan atau lebih, (b) tujuan pembelelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar, (c) tujuan pambelajaran mencakupi sejumlah indikator, (d) kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPPH terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPPH tersebut terdapat 3 langkah pambelajaran, (e) bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap pertemuannya.

Bimbingan Berkelanjutan

Pengertian Bimbingan menurut Frank Parson (1951) menyatakan, ”bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri dan memangku suatu jabataban dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya”. Menurut Chiskon (1959) menyatakan, “bimbingan membantu individu untuk lebih mengenal berbagai informasi dengan dirinya sendiri”.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latian khusus untuk itu dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dengan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua,” berkelanjutan adalah berlangsung terus menerus, berkesinambungan”.

Berdasarkan pengertian bimbingan dan berkelanjutan dapat diambil suatu kesimpulan bahwa bimbingan berkelanjutan adalah pemberian bantuan yang diberikan seorang ahli kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan berlangsung secara terus menerus untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.

METODOLOGI PENELITIAN

Setting penelitian/lokasipenelitian

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di Paud Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen, bertujuan untuk meningkatkan kompetensi Guru PAUD dalam menyusun RPPH pada masa pandemic covid 19dengan lengkap.

Waktu penelitian

PTS ini dilaksanakan pada semester II tahun 2020 selama kurang lebih 3 bulan yaitu bulan September sampai dengan November 2020.

Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah

Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat sebagai imput instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data dan informasi

Subjek penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah guru PAUD yang menjadi binaan penilik di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen

Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah Rencana Pelaksanaan Belajar Harian yang sudah dibuat Guru PAUD.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah wawancara, observasi, dan diskusi.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerja sama antara peneliti dan Guru PAUD, dalam meningkatkan kemampuan Guru PAUD agar menjadi lebih baik dalam menyusun RPPH pada masa pandemi covid 19.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik prosentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus.

Indikator Pencapaian Hasil

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 80%. Guru PAUD membuat komponen RPPH sebagai berikut :

  1. Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.
  2. Komponen setandar kompetensi diharapkan ketercapainnya 85%.
  3. Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.
  4. Komponen pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.
  5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
  6. Komponen materi pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
  7. Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.
  8. Komponen metode pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
  9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.
  10. Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.
  11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban) diharapkan ketercapaiannya 75%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap 10 RPPH pada masa pandemic covid 19 yang dibuat Guru PAUD di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada Guru PAUD yang tidak melengkapi RPPH-nya dengan komponen dan sub-sub komponen RPPH tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan peserta didik pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.

Dilihat dari segi kompetensi Guru PAUD di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian dari siklus ke siklus.

Siklus I

Observasi dilaksanakan Rabu, 7 Oktober 2020 terhadap 10 orang guru PAUD. Semuanya menyusun RPPH, tetapi masih ada guru PAUD yang belum melengkapi RPPH baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPPH tertentu. Empat orang tidak melengkapi RPPH dengan komponen indikator pencapaian kompetisi.

Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
  • Dua orang tidak melengkapi dengan teknik, bentuk instrumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Dua orang tidak melengkapi dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Dua orang tidak melengkapi dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Dua orang tidak melengkapi dengan penskoran dan kunci jawaban.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan utuk melengkapinya.

Siklus II

Observasi dilaksanakan Selasa, 14 Oktober 2020, dengan 10 orang Guru PAUD di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen. Semuanya menyusun RPPH tetapi masih ada Guru PAUD yang keliru dalam menentukan kegiatan peserta didik dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/menguraikan meteri pembelajaran dalam sub-sub materi.

Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Dua orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
  • Tiga orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
  • Tiga orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran
  • Dua orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai peserta didik.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

Pembahasan

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di Lembaga PAUD Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen Tahun 2020 dalam dua siklus. 10 Guru PAUD menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi menyusun RPPH dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPPH.

Selanjutnya dilihat dari kompetisi Guru PAUD di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen dalam menyusun RPPH terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

  1. Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua Guru PAUD di Kecamatan Poncowarno Kabupaten Kebumen dari 10 orang mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan nama identitas mata pelajaran). Jika diprosentasekan 85 %. Dengan rincian 6 orang Guru PAUD mendapat skor 3 (baik) dan 4 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua 10 orang Guru PAUD tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPPH-nya. Semuanya mendapatkan skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 100%, terjadi peningkatan 15 % dari siklus I .

  1. Komponen Standar Kompetisi

Pada siklus I, Guru PAUD 10 orang mencantumkan standar kompetisi dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan standar kompetensi). Jika diprosentasekan 85%. Masing-masing 1 orang guru PAUD mendapat skor 1, 2 dan 3 (kurang baik, cukup, dan baik). 7 orang guru PAUD mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus II ke10 guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPPH-nya. 3 orang mendapat skor 3 (baik) dan 7 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika jika diprosentasekan 92,5%, terjadi peningkatan 7,5% dari siklus 1.

  1. Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru PAUD 10 orang mencantumkan kompetensi dasar dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan kompetensi dasar). Jika diprosentasekan 85%. 3 orang guru PAUD masing-masing mendapat skor 1, 2 dan 3 (kurang baik, cukup baik, baik). 7 orang guru PAUD mendapat skor (sangat baik). Pada siklus II, ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPPH-nya. 3 orang mendapat skor 3 (baik) dan 7 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 92,5%, terjadi peningkatan 7,5% dari siklus I.

  1. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus 1, 10 orang guru PAUD mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan 2 orang tidak melengkapinya. Jika diprosentasekan 57,5%. 2 orang guru PAUD masing-masing guru PAUD mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). 5 orang guru PAUD mendapat skor 3 (baik). Pada siklus II Ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPPH-nya. 7 orang mendapat skor 3 (baik) dan 3 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 92,5%, terjadi peningkatan 35% dari siklus I.

  1. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus 1, semua guru PAUD 10 orang mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH dengan tujuan pembelajaran). Jika diprosentasekan 57,5%. 2 orang guru PAUD mendapat skor 1 (kurang baik), 3 orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan 5 orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus II ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dari RPPH-nya. 5 orang mendapat skor 3 (baik) dan 5 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 87,5%, terjadi peningkatan 30% dari siklus 1.

  1. Komponen Materi Ajar

Pada siklus I, semua guru PAUD 10 orang mencantumkan materi ajar dalm RPPH-nya (melengkapi RPH-nya dengan materi ajar). Jika diprosentasekan 65%. 1 orang guru PAUD masing-masing mendapat skor 1, dan 4 (kurang baik dan sangat baik), 3 orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan 5 orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus II, ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPPH-nya. 6 orang mendapat skor 3 (baik) dan 4 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 85%, terjadi peningkatan 20% dari siklus I.

  1. Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru PAUD 10 orang mencantumkan alokasi waktu dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan alokasinya). Semuanya mendapat skor 3 (cukup baik). Jika diprosentasekan 75%. Pada siklus II kesepuluh guru PAUD tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPPH-nya. 3 orang mendapatkan skor 4 (baik) dan 6 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 90%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.

  1. Komponen Metode Penbelajaran

Pada siklus pertama semua guru PAUD (mencantumkan metode pembelajaran dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan metode pembelajaran). Jika diprosentasekan 77,5%. 2 orang guru PAUD mendapat skor 2 (cukup baik), 5 orang mendapatkan skor 3 (baik), dan 3 orang guru PAUD mendapat skor (sangat baik). Pada silkus dua ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPPH-nya. 1 orang mendapat skor 2 (cukup baik), 5 orang mendapat skor 3 (baik), dan 4 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 82,5%, terjadi peningkatan 5% dari siklus 1.

  1. Komponen Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru PAUD 10 orang mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan langka-langkah kegiatan pembelajaran). Jika diprosentasekan 57,5%. 7 orang guru PAUD mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan 3 orang mendapatkan skor 3 (baik), pada siklus II ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPPH-nya. 1 orang mendapatkan skor 2 (cukup baik) dan 9 orang mendapat skor 3 ( baik). Jika diprosentasekan 72,5%. terjadi peningkatan 15% dari siklus 1.

  1. Komponen Sumber Belajar

Pada siklus I, semua guru PAUD 10 orang mencantumkan sumber belajar dalam RPPH-nya (melengkapi RPPH-nya dengan sumber belajar). Jika diprosentasekan 65%. 4 orang guru PAUD mendapat skor 2 (cukup baik) sedangkan 6 orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus II, kesepuluh guru PAUD tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPPH-nya. 3 orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan 6 orang mendapat skor 3 (baik), dan 1 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 70 %, terjadi peningkatan 5% dari siklus I.

  1. Komponen Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus I, semua guru PAUD (10 orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPPH-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrument, soal ) pedoman dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika diprosentasekan 52,5%. 3 orang guru PAUD mendapat skor 1 (kurang baik), 2 orang Guru Paud mendapat skor 2 ( cukup baik), 3 orang mendapat skor 2 (baik), dan 2 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus II ke10 guru PAUD tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPPH-nya meskipun ada guru PAUD yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. 8 orang mendapatkan 3 (baik) dan 2 orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika diprosentasekan 80%, terjadi peningkatan 27,5% dari siklus I.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru PAUD dalam menyusun RPPH. Pada siklus I ini nilai rata-rata komponen RPPH 69,31%, pada siklus II nilai rata-rata komponen RPPH 85,90%. Terjadi peningkatan 16,54%.

Kesimpulan Dan Saran

Kesimpulan

  1. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru PAUD dalam menyusun RPPH pada masa pandemi covid 19 dengan lengkap. Guru PAUD menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPPH apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembang/penyusunan RPPH dari peneliti. Informasi ini memiliki diperoleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPPH kepada para guru PAUD.
  2. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru PAUD dalam menyusun RPPH pada masa pandemi covid 19. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil observasi/pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru PAUD dalam menyusun RPPH dari siklus ke siklus. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPPH 69,31% dan pad siklus II 85,90% ,terjadi peningkatan 16,54% dari siklus I.

Saran

  1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPPH hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/dikembangkan.
  2. RPPH yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-kompenen RPPH secara lengkap dan baik karena RPPH merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
  3. Dokumen RPPH hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satu lagi untuk pegangan guru PAUD dalam melaksanakan proses pembelajaran.

BIODATA PENULIS

Nama : Sri Kingkin Retno Utami, S.Pd., M.M.

NIP : 196312131989032008

Unit Kerja : Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen

Daftar Pustaka

Daradjat, Zakiyah. 1980 . Kepribadian Guru PAUD. Jakarta: Bulan Bintang.

Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan Sastra Indonesia Dengan Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.

Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang sistem pendidikan Nasional.

Jakarta: Depdiknas.

_______2004. Standar Kompetensi Guru PAUD Sekolah Dasar. Jakarta:

Depdiknas.

________2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang guru PAUD dan Dosen.

Jakarta: Depdiknas.

________2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses.

Jakarta: Depdiknas.

________2007.Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007b tentang Standar Pengawas

Sekolah/Madrasah. Jakarta: Depdiknas .

________2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Saruan

Pembelajaran SMA.Jakarta.

________2008. Alat Penilaian Kemampuan Guru PAUD. Jakarta: Depdiknas.

________2009. Petunjuk Teknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai

Karya Tulis Ilmiah DalamKegiatan Pengembangan Profesi Pengawas

Sekolah. Jakarta.

Fatihah, RM .2008. Pengertian Konseling (Http://eko13.wordpress.com,akses 19

Maret 2009). (www.cekaja.com)

Imron, Ali. 2000. Pembinaan Guru PAUD Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

_________2010. Supervisi Akademik. Jakarta.

Kumaidi,2008, Sistem Sertifikasi ( diakses 10 Agustus 2009).

Nawawi,Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadja Mada

University Press.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pidarta,Made. 1992.Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi

Aksara.

Sudjana,Nana.2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator.

Jakarta: Binamitra Publishing.

Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan pada

Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.

Suparlan. 2005.Menjadi Guru PAUD Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

_______2006. Guru PAUD Sebagai Profesi.Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Tim Redaksi Kamus Besar Indonesia. Edisi Kedua.

Covid-19 Picu Percepatan Transformasi Digital Pendidikan Indonesia

By admin

You cannot copy content of this page