Iklan

UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN LARI JARAK PENDEK MELALUI PERMAINAN LARI BOLA KERANJANG PADA SISWA KELAS III SDN KALIURIP SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Oleh : Suminah, S.Pd.

ABSTRAK

Tingkat keterampilan siswa dan penguasaan teori gerak dasar lari jarak pendek masih termasuk kategori rendah, hanya 60% siswa yang dapat melewati KKM mata pelajaran. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan penguasaan teori lari jarak pendek pada siswa kelas III SD Negeri Kaliurip Tahun Pelajaran 2016/2017 sebanyak 34 siswa dengan menggunakan permainan lari bola keranjang secara individu dan kelompok. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan selama empat bulan yaitu mulai bulan Agustus sampai dengan November 2016. Penelitian dilaksanakan selama dua siklus, dengan acuan setiap siklus dilakukan dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan data dengan pengambilan tes di pertemuan kedua tiap siklus selanjtnya data dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa dengan penerapan permainan lari bola keranjang, keterampilan lari jarak pendek menunjukkan adanya peningkatan pada setiap siklusnya. Peningkatan tersebut dapat dibuktikan dengan hasil siklus I menunjukkan hasil belajar siswa mencapai ketuntasan (≥75) sebanyak 22 siswa atau 64,71% dan pada siklus II mencapai 28 siswa atau 82,35% dari jumlah siswa keseluruhan.

Kata kunci: Permainan lari bola keranjang,Keterampilan lari jarak pendek

PENDAHULUAN

Permendiknas No. 23 Tahun 2006 mendefinisikan bahwa pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, berfikir kritis, ketrampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, moral pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktifitas jasmani dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, kurikulum pendidikan jasmani SD kelas III memiliki Standar Kompetensi : Mempraktikkan berbagai kombinasi gerak dasar melalui permainan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan Kompetensi Dasar : Mempraktikkan kombinasi berbagai pola gerak jalan dan lari dalam permainan sederhana, serta aturan dan kerjasama.

Atletik merupakan salah satu aktivitas fisik yang dapat diperlombakan atau dipertandingkan dalam kegiatan jalan, lari, lempar, lompat. Istilah atletik berasal dari kata athlon atau athlum dari bahasa Yunani yang berarti pertandingan, perlombaan atau perjuangan (Saputra, 2001). Atletik berada dalam ruang lingkup pertama karena atletik terdiri dari unsur-unsur gerak utama yang mendasari banyak cabang olahraga yaitu: lari, jalan, lompat, dan lempar. Nomor olahraga atletik lari yaitu menuntut keterampilan berlari dengan tolakan secepat cepatnya salah satunya adalah pada nomor lari jarak pendek.

Pengalaman peneliti ketika mengajar pada meteri lari jarak pendek di SD Negeri Kaliurip Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas, ditemukan beberapa permasalahan pembelajaran yang menurut peneliti perlu diperbaiki agar proses dan hasil belajar yang baik dapat terwujud. Permasalahan tersebut adalah tingkat keterampilan siswa dan penguasaan teori gerak dasar lari jarak pendek masih rendah sehingga hanya 60% siswa dapat melewati KKM mata pelajaran.

Sedangkantujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar lari jarak pendek melalui permainan lari bola keranjang pada siswa kelas III SD Negeri Kaliurip Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2016/2017.

KAJIAN PUSTAKA

Hakikat pendidikan jasmani

Permendiknas No. 23 Tahun 2006 mendefinisikan bahwa pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adalah bagian integral dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, ketrampilan gerak, berfikir kritis, ketrampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, moral pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktifitas jasmani dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Permainan dan olahraga merupakan salah satu ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan untuk jenjang SD / MI menurut Permendiknas No 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar & Menengah, meliputi (1) olahraga tradisional, (2) permainan eksplorasi gerak, (3) ketrampilan lokomotor non–lokomotor, dan manipulasi, (4) atletik, (5) kasti, (6). rounders, (7) kippers, (8) sepak bola, (9) bola basket, (10) bola voli, (11) tenis meja, (12) tenis lapangan, (13) bulu tangkis dan (14) beladiri.

Belajar dan mengajar

Belajar adalah perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, anak memperoleh kemampuan dan memperoleh sumber yang diwariskan, tetapi mereka harus mendapatkan kesempatan untuk belajar

Proses belajar-mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar.

Karakteristik Anak Sekolah Dasar

Pada usia anak-anak hingga menuju usia remaja, manusia mengalami perkembangan kognitif yang begitu penting. Menurut pendapat beberapa ahli karakteristik anak usia sekolah dasar dianggap sebagai masa perkembangan kognitif,serta perkembangan sosialisasi yang disitu adanya kegiatan fisik. Sisi ini tidak hanya sebagai penopang kegiatan belajar tetapi juga berperang untuk mendapatkan ketrampilan tertentu. Dalam usia ini anak senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.

Hakikat Bermain dalam pembelajaran

Bermain adalah suatu aktivitas yang membantu anak mencapai perkembangan yang utuh, baik fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional (Andang Ismail, 2009). Bermain memiliki peranan yang sangat berhubungan dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang pada umumnya masih senang dengan permainan. Nilai- nilai permainan diantaranya adalah:

  1. Memiliki suasana yang kondusif untuk melaksanakan pendidikan.
  2. Permainan memenuhi kebutuhan anak dalam pertumbuhan dan perkembangan.
  3. Permainan mampu membangkitkan rasa kemauan anak.
  4. Permaianan merupakan pembentukan rasa sosial.
  5. Dengan permainan akan menghilangkan rasa enggan terhadap guru, sehingga terjadi hubungan yang akrab antara guru dengan murid.
  6. Permainan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial.

Pengertian lari

Menurut Drs. Mochamad Djumidar dalam bukunya belajar dan berlatih gerakan gerakan atletik dalam bermain, FPOK Jakarta lari adalah frekwensi langkah yang di percepat sehingga pada waktu berlari ada kecenderungan badan melayang, yang artinya pada waktu lari kedua kaki tidak menyentuh tanah sekurang kurangnya satu kaki tetap menyentuh tanah. Lari dapat di bedakan menjadi tiga macam yaitu: lari jarak pendek (sprint), lari jarak menengah dan lari jarak jauh. Lari jarak pendek adalah salah satu kategori nomor lari dimana pelari dengan kecepatan penuh sepanjang jarak yang ditempuh (Rumini, 2004). Lari jarak pendek atau lari cepat (sprint) yaitu semua perlombaan lari dengan kecepatan penuh yang menempuh jarak 100 m, 200 m, dan 400 m. Teknik lari jarak pendek adalah (a) Teknik Start, (b) Teknik Saat Berlari Jarak Pendek (Sprint), (c) Teknik Memasuki Garis Finish.

Permainan Lari Bola Keranjang

Permainan dalam penelitian ini yaitu permainan lari bola keranjang. Permainan lari bola keranjang adalah suatu permainan yang dilakukan dengan individu atau beregu dengan cara berlari membawa atau memindahkan bola yang kemudian dimasukan kedalam keranjang. Cara permainan dengan kompetisi secara individu:

  1. Siswa dibagi menjadi 2 baris berbanjar
  2. Dari posisi siap, siswa mempratekkan permainannya secara individu dari posisi start sampai selesai, yaitu siswa berlari membawa bola yang telah disiapkan satu persatu untuk dipindahkan dan dimasukkan kedalam keranjang dengan jarak 20 meter sampai bola yang disiapkan habis.
  3. Ketika mendengar aba-aba “Bersedia – Siaap – Ya” maka siswa berlari secepat-cepatnya.
  4. Pemenang adalah siswa yang menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan benar.

Gambar 1. Skema permainan bola keranjan

METODOLOGI PENELITIAN

Subjek penelitian adalah siswa kelas III SD Negeri Kaliurip Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Adapun jumlah siswa kelas III adalah 34 dengan rincian 21 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 dan berakhir pada bulan Oktober 2016. Konsep pokok penelitian terdiri dari 2 siklus, tiap siklus terdiri dari empat komponen, yaitu: a) Perencanaan (Planning), b) Tindakan (Action), c) pengamatan (Observing), dan d) Refleksi (Reflecting). Instrumen yang menjadi alat ukur yang akan digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah lembar tes tertulis pilihan ganda dan lembar penilaian tes praktek. Teknik pengolahan data hasil belajar siswa dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

Pengolahan nilai individu (kognitif dan psikomotor)

Nilai Siswa =

Keterangan :

S : Skor yang diperoleh

SM : Skor total maksimal

Dengan Kriteria :

0 ≤ Nilai < 75 : Siswa belum tuntas dalam belajar

75 ≤ Nilai ≤ 100 : Siswa sudah tuntas dalam belajar

Menentukan ketuntasan belajar klasikal

Dari uraian diatas dapat diketahui siswa yang belum tuntas dalam belajar dan siswa yang sudah tuntas dalam belajar secara individu. Selanjutnya dapat juga diketahui apakah ketuntasan belajar siswa secara klasikal dapat tercapai, dilihat dari persentase siswa yang sudah tuntas dalam belajar dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :

PKK : Persentase Ketuntasan Klasikal

LAPORAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Pelaksanaan Siklus I

Berdasarkan permasalahan pada pembelajaran lari jarak pendek yang telah diketahui, maka peneliti melakukan tindakan dengan memodifikasi pembelajaran lari jarak pendek dengan pendekatan bermain untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada siswa kelas III.

Pada tahap awal peneliti melakukan kegiatan perencanaan yaitu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan metode permainan bola keranjang individu, mempersiapkan perlengkapan pendukung pembelajaran yang dibutuhkan, menyusun lembar observasi untuk merekam perkembangan keterampilan peserta didik. Selanjutnya pada tahap tindakan peneliti melakukan pembelajaran lari jarak pendek dengan permainan bola keranjang. Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran yang pertama melakukan teknik start jongkok, yang kedua melakukan gerakan ayunan tangan, ketiga melakukan teknik memasuki garis finis, keempat melakukan permainan lari bola keranjang, kelima malakukan lari jarak pendek dengan jarak 40 meter.

Hasil observasi keterampilan siswa dalam pembelajaran siklus I ternyata belum mencapai indikator keberhasilan. Dari 34 orang siswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini, hanya 22 orang siswa (64,71%) yang mencapai ketuntasan belajar, sedangkan sisanya masih belum tuntas. Hasil observasi siswa pada siklus I ternyata belum mencapai ketuntasan klasikal 80%. Informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat diuraikan antara lain: (1) Keterampilan lari jarak pendek siswa pada siklus I ini belum mencapai indikator keberhasilan, sebagian besar siswa belum sepenuhnya dapat menunjukan penguasaan teknik dalam lari jarak pendek, rata-rata nilai ketrampilan yang dicapai hanya 74,38. Adapun hasil tes pengetahuan siswa terhadap teori lari jarak pendek masih rendah, rata-rata nilai pengetahuan yang dicapai hanya 68,74. Hasil capaian untuk penilaian ketrampilan dan pengetahuan materi lari jarak pendek setelah di rata – rata hanya mencapai nilai rata-rata 71,56, nilai tersebut termasuk kategori cukup. Untuk meningkatkan pencapaian pada pembelajaran siklus I maka perlu diadakan siklus II dengan perbaikan atau penambahan beberapa tindakan. Adapun rencana tindakan yang dilakukan pada siklus II adalah :

  1. Peneliti memberikan arahan dan menyampaikan hasil evaluasi pembelajaran siklus I., sehingga siswa memahami kekurangan dan cara meningkatkan kemampuannya.
  2. Peneliti menggunakan permainan bola keranjang beregu untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan lari jarak pendek.
  3. Peneliti mengarahkan siswa agar lebih cermat dalam melakukan gerakan agar tidak terjadi kesalahan yang sama dengan siklus I.

Hasil Pelaksanaan Siklus II

Proses pelaksanaan siklus II yang dimulai dari tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Pada tahap perencanaan peneliti membuat RPP yang memuat alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran. Perencanaan ini dikembangkan untuk dapat meningkatkan kemampuan khususnya pada siswa yang masih memperoleh nilai rendah, dan secara umum agar seluruh siswa dapat melakukan berbagai keterampilan dengan baik. Menyiapkan lembar pengamatan siswa yang berguna untuk merekam pelaksanaan pembelajaran. Terakhir, menyiapkan alat pembelajaran. Selanjutnya pada kegiatan ini pelaksanaan dilakukan peneliti bersama dengan observer dalam menerapkan pembelajaran lari jarak pendek melalui pendekatan bermain pada siswa. Dengan langkah-langkah dalam pembelajaran yaitu dimulai dari latihan melakukan teknik start jongkok, kemudian melakukan gerakan ayunan tangan, ketiga melakukan teknik memasuki garis finis, keempat melakukan permainan lari bola keranjang secara berkelompok,. kelima malakukan lari jarak pendek dengan jarak 40 meter.

Setelah peneliti memberikan evaluasi berdasarkan permainan sebelumnya, siswa tampak lebih memahami dan lebih aktif dalam permainan. Hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung, siswa dalam mengikuti pembelajaran lari jarak pendek sudah mengalami peningkatan. Dari pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung respon siswa terhadap materi pelajaran dan juga antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran lari jarak pendek mengalami peningkatan. Keterampilan dan pengetahuan lari jarak pendek siswa dalam pembelajaran siklus II sudah cukup baik. Dari 34 orang siswa dalam penelitian ini, telah ada 28 orang siswa (82,35%) yang mencapai ketuntasan belajar, hanya tinggal 6 orang siswa (17,65%) masih belum tuntas belajar. Keterampilan lari jarak pendek siswa pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan, sebagian besar siswa sudah sepenuhnya dapat menunjukan penguasaan teknik dalam lari jarak pendek, rata-rata nilai ketrampilan yang adalah 78,24. Adapun hasil tes pengetahuan siswa terhadap teori lari jarak pendek sudah cukup bagus, rata-rata nilai pengetahuan yang dicapai adalah 71,88, sehingga rata-rata kelas yang diperoleh pada siklus II juga meningkat yaitu dari 71,56 pada siklus I menjadi 75,06 pada akhir siklus II ini.

Pembahasan

Kegiatan pembelajaran lari jarak pendek dengan pendekatan permainan lari bola keranjang bertujuan untuk melatih siswa yang sedang mengembangkan beberapa keterampilan dan pengetahuan dalam olah raga lari. Sepanjang pembelajaran, secara umum siswa melaksanakan kegiatan dengan gembira dan bersemangat.

Berdasarkan observasi yang dilakukan sepanjang kegiatan pembelajaran siklus I, dapat diketahui bahwa pembelajaran telah dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan. Pada saat melakukan permainan, siswa masih mengalami kesulitan pada beberapa bagian. Kesulitan siswa tersebut diantaranya belum semua siswa mampu menunjukan teknik start dengan benar. Kesalahan yang cenderung dilakukan adalah karena siswa kurang memperhatikan contoh yang diperagakan guru. Hal ini menyebabkan beberapa teknik belum dilakukan dengan sempurna. Pada pelaksanaan kegiatan siklus I sebagian besar siswa masih belum sempurna dalam melakukan teknik lari jarak pendek. Sebagaimana telah disampaikan dalam hasil observasi, siswa seringkali melakukan kesalahan pada saat melakukan start jongkok, teknik berlari yang kurang tepat seperti tidak mencondongkan badan saat berlari dan memasuki finis. Siswa kurang semangat dalam berlari, sehingga hasil yang dicapai kurang maksimal, berdasarkan uraian diatas siswa masih memerlukan tambahan waktu dan tahapan latihan untuk menguasai seluruh keterampilan yang diajarkan.

Kegiatan pembelajaran keterampilan dan pengetahuan siswa untuk materi lari jarak pendek pada siklus II ternyata hasilnya lebih baik dari siklus I, hal ini disebabkan karena siswa telah melakukan latihan secara berulang-ulang sehingga telah memahami teori dan penerapannya dalam melakukan lari jarak pendek, disamping itu siswa lebih semangat melakukan latihan lari bola keranjang dengan model berlomba secara kelompok. Berdasarkan hal tersebut peningkatan ketuntasan belajar siswa cukup signifikan dan telah melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan. Rekapitulasi hasil penilaian siklus I dan siklus II tersaji dalam tabel dibawah ini.

Tabel 1. Rekapitulasi Penilaian Lari Jarak Pendek

Tindakan Aspek penilaian lari jarak pendek Nilai Rata – Rata Kelas
Psikomotor Kognitif
SIKLUS I 74,38 68,74 71,56
SIKLUS II 78,24 71,88 75,06

Dari hasil observasi dan analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwa adanya peningkatan untuk pembelajaran ini pada tiap siklus, evaluasi secara umum pada akhir siklus II siswa telah mampu berlari jarak pendek dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan hasil nilai ketrampilan dan pengetahun siswa berdasarkan tes pada siklus II yang meningkat dari siklus I, dengan hasil rata-rata nilai yang dicapai yaitu 75,06. Adapun persentase siswa yang tuntas atau memiliki nilai lebih dari KKM 75 sebesar 82,35%. Dengan demikian tindakan dapat dihentikan sampai siklus II karena indikator keberhasilan telah tercapai. Grafik peningkatan tersebut akan terlihat lebih jelas jika dilihat melalui diagram dibawah ini.

Gambar 2. Diagram Hasil Penilaian Lari Jarak Pendek Siswa

Gambar 3. Grafik Prosentase Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa

Hasil ketrampilan lari jarak pendek pada siklus I diperoleh nilai rata-rata kelas adalah 71,56. Dari 34 orang siswa baru ada 22 (64,71%) siswa yang telah mencapai nilai >75 atau tuntas belajar, selebihnya 12 (35,29%) siswa belum mencapai tuntas belajar. Berdasarkan hasil tersebut maka pembelajaran siklus satu belum mencapai ketuntasan klasikal. Pada siklus II, dari 34 siswa terdapat 28 (82,35%) siswa berhasil mencapai ketuntasan belajar, sedangkan 6 (17,65%) siswa belum mencapai ketuntasan belajar, sehingga pembelajaran siklus II berhasil mencapai ketuntasan klasikal dimana lebih dari 80% siswa mencapai nilai >75 atau tuntas.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah melalui permainan bola keranjang pada pembelajaran lari jarak pendek mampu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan lari jarak pendek pada siswa kelas III SD Negeri Kaliurip, Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Peningkatan keterampilan lari jarak pendek berhasil dilakukan dalam dua siklus, dengan menerapkan permainan bola keranjang secara individu dan kelompok.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka peneliti menyarankan :

  1. Agar para guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan memperhatikan dan mengembangkan metode mengajar yang lebih menyenangkan dan memotivasi siswa seperti pembelajaran lari bola keranjang.
  2. Disarankan kepada guru pendidikan jasmani untuk lebih memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada di sekolah dalam meningkatkan Keterampilan lari jarak pendek siswa.
  3. Perlu dilakukan penelitian lanjut oleh peneliti lain guna memberi masukan yang konstruktif bagi dunia pendidikan khususnya dalam meningkatkan kemampuan siswa pada teknik lari jarak pendek.

DAFTAR PUSTAKA

Andang Ismail, 2009. Teori Belajar Mengajar Motorik, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Anni, CT dan Achmad Rifa’i RC. 2004, Psikologi Belajar,UPT MKK UNNES.

Bahagia&Mujianto. (2010). Fasilitas Dan Perlengkapan Penjas. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Dadan Heryana dan Giri Verianti, 2010. Penulisan Penelitian Tindakan Kelas Dalam Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Hafiz. (2010). Metode Bermain Peranan (Role Playing Methode). [Online] http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-danbermain-peranan-role-playing-methode/. Diakses 28 maret 2014.

Rumini, 2004. Model Pembelajaran Atletik dan Metodik 1, UNNES.

Samsudin,2008. Asas dan Landasan Pendidikan Jasmani. Jakarta:Departemen Pendidikan Jasmani.

Saputra, 2001. Belajar&PembelajaranPenjas. Bandung: UniversitasPendidikan Indonesia

Sidik, 2010. Pembelajaran Berbasis PAIKEM, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional.

Slameto, 2010. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PTRineka Cipta.

Soeparwoto,dkk, 2004. Psikologi Perkembangan. UPT MKK UNNES.

Sudjana, 2009. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: SinarBaru Algensindo.

Sugandi, dkk. 2004. Teori Pembelajaran,UPT MKK UNNES

Sukintaka. (1983). Permainan dan Metodik: Untuk SGO. Jakarta:

Usman, MU. 2010. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT RemajaRosdakarya.

Widyawati, 2015. Belajar Dan Pembelajaran, Bandung: ALFABETA

BIODATA PENULIS

Nama : Suminah, S.Pd.

NIP : 19670810 198806 2 002

Pangkat/Golongan : Pembina / IV/a

Jabatan : Guru Penjasorkes

Unit Kerja : SD Negeri Kaliurip UPK Purwojati, Kabupaten Banyumas

You cannot copy content of this page