Iklan

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI MENGUBAH PUISI KE BENTUK PROSA DENGAN METODE CTL ( CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING ) PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 PANINGKABAN SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2016/2017

D:\P Karso\PTK\30. PTK FAJAR\FOTO FAJAR.jpeg

Oleh: Fajar Herowati, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Berbagai usaha telah dilakukan agar prestasi belajar siswa maksimal, ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Hal ini dialami peneliti di kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi mengubah puisi dalam bentuk prosa menemui beberapa permasalahan dikarenakan siswa tidak memahami konsep-konsep bahasa yang diterangkan guru. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia Materi mengubah puisi ke bentuk prosa dengan mengunakan metode CTL. Subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban pada semester I tahun pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 34 siswa dengan 2 siklus. Peneliti merupakan guru kelas VI. Pelaksanaan penelitian melibatkan kepala sekolah sebagai kolaborator. Melalui data yang ada dan refleksi awal, prosedur penelitian tindakan kelas ini meliputi : 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan 3) observasi, 4) refleksi dalam setiap siklus. Data yang diperoleh melalui observasi (pengamatan) , angket, wawancara, dokumen serta tes. Hasil penelitian menunjukkan hasil ketuntasan belajar dari 56 % siswa yang tuntas belajar pada studi awal meningkat menjadi 74 % pada siklus pertama dan 91 % pada siklus kedua. Peningkatan ini juga ditunjukan dengan meningkatnya rata-rata nilai pada kondisi awal yang hanya 68,38 dapat ditingkatkan menjadi 72,94 di akhir siklus I dan 77,65 di akhir siklus II.

Kata Kunci : Bahasa Indonesia, puisi, prosa, CTL (Contextual Teaching Learning).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembelajaran Bahasa Indonesia yang dicapai para siswa masih terbatas pada ketuntasan evaluasi berupa US (Ujian Sekolah) yang ditandai dengan siswa lulus dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal itu dikarenakan US menggunakan tes objektif, aspek yang diujikan berupa pengetahuan. Oleh karena itu banyak siswa belum bisa menggunakan bahasa yang hakiki, baik bahasa secara reseptif dan secara reproduktif, yang disebut keterampilan berbahasa.

Pengamatan penulis bahwa peserta didik kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban masih mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada materi mengubah puisi ke dalam bentuk prosa. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya hasil belajar yang dibuktikan dengan banyaknya siswa yang tidak mencapai nilai KKM dalam ulangan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penulis mengamati bahwa semangat belajar siswa kurang optimal dan ada kecenderungan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia materi puisi kurang dianggap penting oleh siswa.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian penerapan metode kontekstual guna meningkatkan prestasi belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas VI SDN 1 Paningkaban Kecamatan Gumelar. Adapun judul yang diambil adalah: “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia materi Mengubah Puisi Ke Bentuk Prosa Dengan Metode Kontekstual pada Siswa Kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 ”.

D. Rumusan Masalah

Apakah pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mengubah puisi ke dalam bentuk prosa pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban, Kecamatan Gumelar , Kabupaten Banyumas Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 ?.

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas (PTK) ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan metode pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar mengubah puisi ke bentuk prosa pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban, Kecamatan Gumelar , Kabupaten Banyumas Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017 ?.

F. Manfaat Penelitian

Dengan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan prestasi belajar dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pada aspek menulis (dalam hal ini mengubah puisi), mengembangkan pengalaman dan wawasan bagi guru dalam membelajarkan bahasa Indonesia pada aspek menulis.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berdasar pada proses belajar dari berbagai sumber baik dari guru maupun siswa. Seorang guru harus bijak dalam menentukan strategi, memilih metode, menerapkan teknik pembelajaran serta selalu berinovasi dalam menciptakan model pembelajaran.

Menurut M. Ngalim Purwanto (1997 : 4) bahasa memungkinkan manusia untuk saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari orang lain, memahami orang lain, menyatakan diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, mempertinggi kemampuan berbahasa, dan menumbuhkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia.

Metode Kontekstual

Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching And Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Depdiknas, 2002).

Menurut Dr. Zolazlan Hamidi (2001), kaidah pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching And Learning (CTL) adalah proses pembelajaran yang merangkumkan contoh yang diterbitkan daripada pengalaman harian dalam kehidupan pribadi masyarakat serta profesi dan menyajikan aplikasi hands-on yang konkret (nyata) tentang bahan yang akan dipelajari.

Pengalaman siswa yang tumbuh dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar merupakan material yang sangat berharga, dan dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Dengan pembelajaran di luar kelas, diharapkan siswa dapat memperoleh inspirasi dan imajinasi, sehingga siswa dapat menulis dengan baik.

Menulis dan Pendekatan Kontekstual

Menulis memerlukan keterampilan karena diperlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus-menerus. Secara garis besar menulis adalah bentuk dari komunikasi yang membutuhkan keterampilan agar menghasilkan tulisan yang baik. Dalam belajar bahasa Indonesia, khususnya pada aspek menulis diperlukan motivasi yang dapat meningkatkan hasil tulisan siswa.

Kemampuan guru menjadikan dirinya model mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan kesanggupan dalam diri peserta didik merupakan aset utama dalam membangkitkan motivasi. Peningkatan motivasi belajar siswa secara otomatis dapat mempengaruhi belajarnya.

Metode Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam upaya itu, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membimbing peserta didik mencapai tujuannya; mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas.

Pengertian Belajar

Winataputra ( 1986 : 1 ) menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitudes. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitudes) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat. Sedangkan Rogers dalam Dinn Wahyudin, dkk (2007 : 3.33) berpendapat bahwa belajar harus memiliki makna bagi peserta didik.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat diambil pengertian umum tentang belajar adalah merupakan proses kegiatan aktif dalam membangun makna atau pemahaman siswa melalui berbagai kegiatan langsung yang berhubungan dengan lingkungannya untuk memperoleh tujuan tertentu.

Hakikat Puisi

Puisi menurut Tarigan (2004: 37) yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu poesis, yang berarti penciptaan. Istilah tersebut lama-kelamaan semakin sempit ruang lingkupnya menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan. Selanjutnya Tarigan (2004: 37) mengutip pendapat Watts, bahwa puisi adalah ekspresi yang konkrit dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

Dari uraian di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa pengertian puisi tidak lagi terbatas pada sebuah karangan yang terikat oleh jumlah baris, kata, suku kata maupun rumusan persajakan. Puisi merupakan ekspresi pemikiran penulis yang dapat membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama.

Unsur-unsur puisi itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri tetapi merupakan sebuah struktur. Seluruh unsur merupakan satu kesatuan dan unsur yang satu dengan yang lain menunjukkan hubungan keterjalinan yang satu dengan yang lainnya. Unsur-unsur pembangun puisi tersebut adalah diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, versivikasi, tipografi, tema, nada, perasaan, suasana, amanat atau tujuan.

Prosa

Menurut M. Saleh Saad dan Anton M. Muliono mengemukakan pengertian prosa fiksi (fiksi, prosa narasi, narasi, ceritera berplot, atau ceritera rekaan disingkat cerkan) adalah bentuk ceritera atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa, dan alur yang dihasilkan oleh daya imajinasi. Sementara prosa nonfiksi adalah karya sastra yang dibuat berdasarkan data–data yang otentik saja, tapi bisa juga data itu dikembangkan menurut imajinasi penulis.

Di dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur intrinsik. Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu: tema, alur, penokohan, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka teori yang peneliti ajukan di atas, maka dapat ditentukan hipotesis tindakan yaitu : Penerapan Metode Kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi mengubah puisi dalam bentuk prosa di kelas VI SD Negeri Paningkaban pada semester I tahun 2016/2017 .

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan selama 5 bulan dari bulan Juli 2016 sampai dengan bulan November 2016 di kelas VI SDN 1 Paningkaban UPK Gumelar Kabupaten Banyumas.

Subyek Penelitian

Kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban Unit Pendidikan Kecamatan Gumelar Kabupaten Banyumas. Jumlah siswa yang diteliti sebanyak 34 siswa.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan tes dan nontes. Teknik tes dilaksanakan dengan menggunakan soal yang berhubungan dengan isi puisi dan unsur-unsur pembangun puisi, serta penulisan puisi. Teknik Nontes dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara maupun pembuatan angket siswa. Sedangkan alat pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah berupa perangkat tes berupa perangkat tes tertulis.

Indikator Kinerja

Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan penerapan metode kontekstual dalam penelitian ini dinyatakan berhasil jika minimal ketuntasan belajar mencapai minimal 80% dengan nilai KKM 70 dan nilai rata rata sebesar 75.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Data kondisi awal yang ada siswa tidak memahami konsep-konsep hahasa yang diterangkan guru. Sebagai akibatnya nilai siswa dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia rendah. Ini dapat dilihat dari hasil nilai tes formatif yang mencapai rata rata 68,38, hanya 56 % siswa dari 34 siswa atau 19 siswa yang mendapat nilai ≥ 70, berarti masih 66 % siswa dari 34 siswa atau 15 siswa yang belum tuntas belajar.

Deskripsi Per Siklus

Pelaksanaan Tindakan Siklus I

Pelaksanaan pertemuan pertama digunakan untuk untuk menjelaskan materi mengubah puisi ke dalam bentuk prosa. Berdasarkan refleksi dari studi pendahuluan, membuat rencana. Kegiatan awal dimulai dengan mengkondisikan kelas yang kondusif untuk belajar. Peneliti menyiapkan sumber belajar, dan apersepsi lain seperti mengabsen siswa. Kegiatan berikutnya peneliti memberi motivasi kepada siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan / tes awal.

Menjelaskan materi mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dan kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Siswa mengubah puisi kedalam bentuk prosa sederhana dengan mempertahankan makna atau isi puisinya. Guru dan siswa bersama-sama membahas hasil diskusi membuat kesimpulan materi pembelajaran tentang mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap mempertahankan makna pusi

Pertemuan kedua dilaksanakan dengan perbaikan pada pertemuan pertama. Pada pertemuan ini juga digunakan untuk melakukan tes untuk mengetahui prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bahasa indonesia, selanjutnya siswa mengerjakan evaluasi tentang materi mengubah puisi ke dalam bentuk prosa.

Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar hanya mencapai 72,94. Masih ada 9 siswa yang belum tuntas belajar baru 75 % atau 25 dari 34 siswa yang tuntas belajar. Sehinga perlu dilanjutkan pada siklus II karena belum memenuhi indikator yang ditentukan.

Pelaksanaan Tindakan Siklus II

Pelaksanaan Siklus II penelitian menyesuaikan jam pelajaran Bahasa Indonesia di kelas kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban. Pertemuan pertama digunakan untuk untuk menjelaskan materi puisi tentang mengubah puisi ke dalam bentuk prosa. Kemudian untuk pertemuan kedua digunakan untuk melakukan tes evaluasi

Kegiatan awal dimulai dengan mengkondisikan kelas yang kondusif untuk belajar. Guru membawa siswa untuk belajar di luar kelas/halaman sekolah untuk mencari suasana yang berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Peneliti menyiapkan sumber belajar, memberi motivasi kepada siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang pembelajaran sebelumnya.

Siswa dibagi dalam kelompok yang masing-masing beranggotakan 3 siswa yang terdiri atas siswa pandai, siswa rata-rata, dan siswa kurang pandai. Kemudian guru mengundi sejumlah puisi untuk didiskusikan secara berkelompok dan dibuat prosa di bawah bimbingan membahas hasil kegiatan dan menyimpulkannya.

Kegiatan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia pokok bahasan mengubah puisi menjadi prosa pada siklus kedua dianggap sudah berhasil. Keberhasilan ini dapat dilihat dari siswa kelas VI yang berjumlah 34 siswa ternyata yang sudah tuntas sebanyak 31 siswa atau 91 % dengan rata rata nilai 77,65. Keaktifan siswa selama perbaikan pembelajaran menunjukkan peningkatan nyata.

Pembahasan

Berdasarkan data yang terkumpul di atas dapat diketahui bahwa nilai test evaluasi siswa kelas VI SD Negeri 1 Paningkaban pada Siklus I penelitian relatif belum memuaskan. Dari 34 siswa, hanya 25 siswa atau 74 % yang mampu mencapai KKM atau lebih. Lainnya sebanyak 9 orang atau 36% siswa belum mencapai KKM. Nilai terendah yang dicapai dalam Siklus I adalah 65, nilai tertinggi adalah 80, dengan rata-rata nilai pada siklus I sebesar 72,94 pada siklus I dan meningkat menjadi 77,65 pada siklus II.

Berdasarkan nilai interval nilai siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.3 Interval Nilai Siklus I

No. Ketegori Interval

Nilai

Jumlah Persentase
1. Tinggi 75 – 90 16 47 %
2. Sedang 60 – 74 18 53 %
3. Rendah 45 – 59 0 %
Jumlah 34 100 %

Berdasarkan data yang tersaji pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa sebanyak 16 siswa atau 47% termasuk dalam kategori tinggi, 18 siswa atau 53% termasuk dalam kategori sedang. Meskipun demikian nilai tersebut belum berhasil karena mencapai indikator yang ditetapkan yaitu rata-rata nilai 75 dengan ketuntasan belajar 80%..

Disamping itu pengamatan proses pembelajaran Siklus I terhadap proses pembelajaran Siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Siklus I Penelitian

No. Indikator Kriteria
Baik Cukup Kurang
1. Perhatian siswa dalam KBM X
2. Keberanian pertanyaan dan pendapat X
3. Ketekunan belajar. X
4. Kerjasama dalam melaksanakan tugas atau diskusi kelompok. X
5 Kemampuan mempresentasikan hasil diskusi X

Pada siklus II banyaknya siswa yang mampu mencapai nilai diatas KKM yang menjadi indikator keberhasilan pembelajaran dalam penelitian ini. Dari 34 siswa, hanya 3 orang atau 0,9 persen yang nilainya belum mencapai KKM. Lainnya sebanyak 31 orang atau 91 persen nilainya sudah mencapai KKM atau lebih dengan nilai rata rata 77,65. Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan metode CTL sudah berhasil karena sesuai dengan kriteria keberhasilan pembelajaran.

Berdasarkan nilai interval nilai siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.5 Interval Nilai Siklus II

No. Ketegori Interval

Nilai

Jumlah Persentase
1. Tinggi 75 – 90 27 79 %
2. Sedang 60 – 74 7 21 %
3. Rendah 45 – 59 0 %
Jumlah 34

Hasil pengamatan proses pembelajaran juga menunjukkan kondisi yang baik, seperti tersaji pada tabel berikut ini.

Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Siklus II Penelitian

No. Indikator Kriteria
Baik Cukup Kurang
1. Perhatian siswa dalam KBM X
2. Keberanian pertanyaan dan pendapat X
3. Ketekunan belajar. X
4. Kerjasama dalam melaksanakan tugas atau diskusi kelompok. X
5 Kemampuan mempresentasikan hasil diskusi X

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan metode pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia khususnya materi mengubah puisi ke dalam bentuk prosa, sekaligus siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Data pelaksanaan penelitian yanga di dapat adalah etuntasan belajar dari 56 % siswa yang tuntas belajar pada studi awal meningkat menjadi 74 % pada siklus pertama dan 91 % pada siklus kedua , rata-rata nilai pada kondisi awal yang hanya 68,38 dapat ditingkatkan menjadi 72,94 di akhir siklus I dan 77,65 di akhir siklus II %. Hal ini disimpulkan bahwa dengan metode CTL dapat meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia materi mengubah puisi menjadi prosa bagi kelas VI di SDN 1 Paningkaban.

Saran

Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah guru dalam melaksanakan pembelajaran harus menggunakan metode yang tepat agar dapat membangkitkan kreatifitas, keaktifan, dan menyenangkan siswa, metode kontekstual ini dapat meningkatkan prestasi dan keaktifan siswa sehingga diharapkan dapat dilaksanakan pada bidang studi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2011. Kajian Prosa Fiksi. http://adnandoang.blogspot.com/2011/01 /kajian-prosa-fiksi.html. Diakses tanggal 10 Oktober 2015.

Depdiknas 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning), Jakarta: Ditjen Dikdasmen.

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Kosasih, E. 2008. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: PT Perca.Marintan. 2011. Jenis-jenis Prosa. http://marintania.blogspot.com/2011/11/jenis-jenis-prosa.html. Diakses tanggal 26 Oktober 2015.

Nasution N . 2004. Didaktik Azas-azas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Purwanto M. Ngalim. 1997. Evaluasi Hasil Belajar . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rosyid, Abdul. (2009). Puisi: Pengertian dan Unsur-Unsurnya. [Online]. Diakses dari http://www.abdurrosyid.wordpress.com, diakses 26 Oktober 2015.

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Suparno, Yunus, Mohamad. 2007. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.

Taniredja, H Tukiran. 2011. Model-model Pembelajaran inovatif, Bandung: Alfabeta.

Tarigan, Henry Guntur. 2004. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.

Winataputra, Udin S. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.

Wahyudi Duin, Supaiyati, Ishak, Abduhak, 2001, Pengantar Pendidikan, Jakarta, Universitas Terbuka.

Biodata Penulis

Nama : Fajar Herowati, S.Pd.SD

NIP : 197410031999032009

Unit Kerja : SD Negeri 1 Paningkaban

You cannot copy content of this page