Iklan

UPAYA MENINGKATKAN MINAT MEMBACA PESERTA DIDIK SMP MELALUI KOLABORASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN PEMBIASAAN LITERASI

Sri Sulistiati Agustinah, S. Pd.

ABSTRAK

Artikel ini disusun dengan berlatar belakang bahwa berdasarkan penelitian PISA dan CCSU anak Indonesia memiliki minat membaca rendah. Dengan demikian artikel ini disusun untuk mengetahui: upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP melalui perpustakaan sekolah, pembiasaan literasi, kolaborasi perpustakaan sekolah dan pembiasaan literasi. Alternatif pemecahan masalah dalam artikel ini bahwa upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP melalui perpustakaan, antara lain: kepemilikan petugas perpustakaan yang profesional, sarana dan prasarana perpustakaan yang memadai, dan koleksi buku yang lengkap. Sedangkan melalui pembiasaan literasi dengan upaya: memberikan alokasi waktu yang cukup, menugaskan guru mata pelajaran yang mengampu berdekatan dengan kegiatan pembiasaan literasi untuk memantau kegiatan tersebut, Menyiapkan buku jurnal literasi, Menugaskan siswa mencatat intisari bacaan setelah melaksanakan kegiatan pembiasaan literasi, dan memonitoring dan mengevaluasi kegiatan pembiasaan literasi. Adapun melalui perpustakaan dan literasi terdapat alternatif upaya yang dapat dilaksanakan, antara lain: guru memberikan tugas membaca buku di perpustakaan, guru memberikan reeward kepada peserta didik yang telah melaksanakan kegiatan membaca buku di perpustakaan, guru melakukan pembelajaran di perpustakaan, dan pihak perpustakaan memberikan reeward kepada peserta didik yang melakukan kunjungan dan pinjaman buku di perpustakaan.

Kata Kunci: Minat Membaca, perpustakaan, dan pembiasaan literasi

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Membaca merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat dibutuhkan peserta didik dalam berbahasa. Membaca memiliki banyak manfaat bagi perkembangan peserta didik. Dengan kegiatan membaca peserta didik mampu mendapatkan pengetahuan. Akan tetapi, hal seperti ini jarang dijumpai peserta didik yang memanfaatkan waktu untuk membaca. Bahkan di tingkat dunia, anak-anak Indonesia khususnya peserta didik tingkat Sekolah Dasar dan Menengah masih sangat rendah minat membaca.

Berdasarkan Penelitian PISA menunjukkan rendahnya tingkat membaca Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Penelitian ini dilakukan terhadap 72 negara. Responden dalam penelitian ini adalah anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun berarti dapat dikatakan sebaya dengan peserta didik di tingkat Sekolah Menengah Pertama. Adapun yang dijadikan respondennya berjumlah sekitar 540 ribu anak. Sampling error-nya kurang lebih terdiri atas 2 hingga 3 skor. Kenyataan menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei (bukan 72 karena 2 negara lainnya yakni Malaysia dan Kazakhstan tak memenuhi kualifikasi penelitian).

Pada Maret 2016 CCSU juga merilis peringkat literasi negara-negara dunia. Pemeringkatan perilaku literasi ini dibuat berdasar lima indikator kesehatan literasi negara, yakni perpustakaan, surat kabar, pendidikan, dan ketersediaan komputer. Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Kedua penelitian yang diadakan oleh PISA dan CCSU menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia khususnya peserta didik di tingkat SMP masih rendah minat membacanya. Dan tentunya memancing perhatian dari pemerintah sampai dengan masyarakat untuk memberikan perhatian khusus pada aspek membaca. Rendahnya minat membaca anak-anak Indonesia didukung oleh beberapa faktor yang salah satunya adalah perpustakaan.

Pembicaraan berkaitan dengan perpustakaan sekolah tidak akan pernah habisnya. Di dunia pendidikan dapat dikatakan bahwa perpustakaan selalu menyertai keberadaan suatu satuan pendidikan baik dari tingkatan perguruan tinggi sampai dengan tingkat taman kanak-kanak. Keberhasilan suatu pendidikan dapat dilihat dari perpustakaannya. Perpustakaan merupakan suatu tempat yang tidak asing bagi kita. Dunia membaca tidak dapat dilepaskan dari dunia pendidikan. Hampir semua satuan pendidikan itu memiliki perpustakaan dari ruang yang kecil sampai dengan gedung yang tinggi.

Namun, keberadaan perpustakaan tidak ditunjang dengan banyaknya pengunjung. Hampir sebagian perpustakaan di sekolah-sekolah sepi pengunjungnya. Peserta didik lebih mementingkan bermainnya dibandingkan dengan harus membaca. Fenomina seperti ini sangatlah memrihatinkan bagi semua pihak. Perpustakaan yang dianalogikan sebagai jantungnya sekolah yang ikut menentukan keberhasilan ilmu pengetahuan di suatu sekolah kurang dimanfaatkan oleh komponen-komponen yang ada di suatu sekolah khususnya peserta didik. Saat istirahat tidak dimanfaatkan oleh peserta didik untuk mengunjungi perpustakaan. Peserta didik lebih memanfaatkan waktu istirahat untuk bermain, mengunjungi kantin, atau yang lain. Hal tersebut dipicu juga dengan penyediaan koleksi buku yang kurang lengkap dan fasilitas-fasilitas yang lainnya yang mendukung perpustakaan kurang diminati oleh peserta didik.

Demikian pula dengan pembiasaan literasi yang menjadi salah satu program pemerintah seperti yang tertuang di dalam permendikbud nomor 23 tentang Penumbuhan Budi Pekerti bagian IV yaitu Mengembangkan Potensi Diri Peserta Didik secara utuh. Pada bagian tersebut memberikan ruang tersendiri untuk melaksanakan pembiasaan literasi atau membaca. Akan tetapi, pembiasaan literasi tersebut kurang dapat dilaksanakan secara maksimal oleh suatu sekolah. Peserta didik kurang memanfaatkan kesempatan yang diberikan sekolah untuk membaca.

Berdasarkan fenomena-fenomena di atas maka penulis berusaha mengangkat sebuah artikel yang berjudul “Upaya Meningkatkan Minat Membaca Peserta Didik SMP Melalui Perpustakaan dan Pembiasaan Literasi”. Artikel ini akan mengupas tuntas permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan perpustakaan dan Pembiasaan Literasi.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Bagaimana upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP melalui perpustakaan?
  2. Bagaimana upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP melalui pembiasaan literasi?
  3. Bagaimana upaya meningkatkan minat membaca peserta didik melalui kolaborasi perpustakaan dan pembiasaan literasi?
  4. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat ditentukan tujuan penulisan artikel ini sebagai berikut:

  1. mengetahui upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP melalui perpustakaan sekolah .
  2. mengetahui upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP melalui pembiasaan literasi.
  3. mengetahui upaya meningkatkan minat membaca melalui kolaborasi perpustakaan sekolah dan pembiasaan literasi.

Manfaat Penulisan

Artikel ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:

Manfaat Teoretis

Untuk memberikan sumbangsih pemikiran dalam penerapan pemanfaatan perpustakaan dan pembiasaan literasi.

Manfaat Praktis

Bagi peserta didik

  1. Siswa dapat memperoleh pengalaman tentang pemanfaatan perpustakaan sekolah dan pembiasaan literasi.
  2. Peserta didik terlatih untuk mengembangkan daya kreativitasnya dalam kegiatan membaca.

Bagi Guru

  1. Dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya.
  2. Sebagai sumber informasi bagi guru, khususnya guru bahasa Indonesia tentang upaya meningkatkan minat membaca peserta didik di tingkat SMP dapat melalui pemanfaatan perpustakaan dan pembiasaan literasi.

Bagi Sekolah

Sebagai pedoman bagi pengambil kebijakan, khususnya yang terkait dengan perpustakaan dan pembiasaan literasi di sekolah. Artikel ini dapat menjadi masukan yang berharga untuk berbagai kebijakan baru sehubungan dengan upaya perbaikan dalam sistem pembelajaran di sekolah.

Bagi Penulis

Memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan pengalaman dan ilmu yang dipelajari dan diperolehnya dalam bentuk tulisan.

KAJIAN PUSTAKA

Minat Membaca

Pembicaraan tentang minat tidak dapat dipisahkan dari setiap orang karena setiap orang mempunyai minat . Adapun minat tersebut adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan (Tim Penyusun, 2008: 1045). Demikian pula dengan pendapat Meichati (Sandjaja, 2005) minat adalah perhatian yang kuat, intensif dan menguasai individu secara mendalam untuk tekun melakukan suatu aktivitas.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan secara umum bahwa minat adalah kecenderungan hati yang tinggi untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan. Hal tersebut memiliki kekuatan yang besar yang menguasai diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas.

Minat dapat kita hubungkan dengan membaca sehingga kita pun perlu mengetahui hakikat membaca. “Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis. Selanjutnya, dipandang dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi ( a recording and decoding process), … sebuah aspek pembacaan sandi (decoding) adalah menghubungkan kata-kata tulis ( written word) dengan makna bahasa lisan ( oral language meaning ) yang mencakup  pengubahan tulisan/cetakan menjadi bunyi yang bermakna.” (Henry Guntur Tarigan, 1979: 17). Adapun membaca menurut pendapat Joul adalah proses mengenal kata, memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan (Sandjaja, 2005).

Kedua pendapat tersebut yang berkaitan dengan membaca dapat disebutkan secara umum bahwa membaca merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengenal kata yang pada intinya seseorang mampu membuat intinya dari apa yang kita baca. Dengan mengenal hakikat minat dan membaca maka akan muncul istilah minat membaca.

Farida Rahim (2008:28) mengemukakan bahwa minat baca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. minat baca adalah suatu perhatian yang kuat dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan seseorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri atau dorongan dari luar.

Mengacu pada kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa minat membaca itu merupakan keinginan atau perhatian yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca sehingga dapat menghasilkan intisari suatu bacaan.

Hakikat Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan merupakan tempat yang vital yang harus dimiliki oleh suatu sekolah. Sekolah berusaha untuk mengusahakan adanya keberadaan perpustakaan di lingkungannya. Adapun perpustakaan itu sendiri menurut Mudyana dan Royani adalah sarana penunjang pendidikan di satu pihak sebagai pelestari ilmu pengetahuan dan di lain pihak sebagai sumber bahan pendidikan yang akan diwariskan kepada generasi yang lebih muda. Secara nyata perpustakaan sekolah merupakan sarana untuk proses belajar dan mengajar bagi guru maupun bagi murid (Sinaga, 2005: 6). Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Trimo yang mengatakan bahwa perpustakaan adalah sekumpulan bahan pustaka, baik yang tercetak maupun yang lainnya pada suatu tempat tertentu yang telah diatur sedemikian rupa untuk mempermudah pemustaka mencari informasi yang diperlukannya dan yang tujuan utamanya adalah untuk melayani kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninya dan bukan untuk diperdagangkan (Sinaga, 2005: 220).

Dengan pernyataan kedua pakar tersebut maka penulis dapat menggarisbawahi bahwa perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran guru dalam menyampaikan materi pembelajaran karena di dalamnya terdapat sekumpulan bahan pustaka.

Adapun manfaat perpustakaan sekolah menurut Bafadal (2008), antara lain:

  1. Perpustakaan sekolah menimbulkan kecintaan siswa terhadap membaca
  2. Perpustakaan sekolah memperkaya pengalaman belajar siswa
  3. Perpustakaan menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya siswa mampu belajar mandiri
  4. Perpustakaan sekolah mempercepat proses penguasaan teknik membaca.
  5. Perpustakaan sekolah membantu perkembangan kecakapan berbahasa.
  6. Perpustakaan sekolah melatih murid ke arah tanggung jawab.
  7. Perpustakaan sekolah memperlancar murid dalam tugas sekolah.
  8. Perpustakaan sekolah membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran.
  9. Perpustakaan sekolah membantu siswa, guru dan anggota staff sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi.

Adapun fungsi perpustakaan sekolah ditekankan kepada pendidikan, yaitu yang dirumuskan ke dalam 3 bagian:

  1. Bagi siswa: untuk kepentingan proses belajar sehingga dapat berprestasi di dalam belajarnya.
  2. Bagi guru: dalam hal penambahan ilmu pengetahuan, untuk mengadakan penyelidikan ilmiah demi kemajuan ilmu pengetahuan dan prestasi dirinya.
  3. Bagi masyarakat: untuk mencari bahan yang diinginkannya yang tidak ada di perpustakaan umum. Misalnya riwayat perkembangan perpustakaan sekolah yang bersangkutan.(A.R. Ibnu Ahmad Shaleh, 1987: 17)

Hakikat Pembiasaan Literasi

Literasi sama halnya dengan membaca. Literasi merupakan program pemerintah sebagai tindak lanjut dari adanya minat membaca siswa Indonesia yang rendah. Dengan demikian, Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana siswa dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan siswa, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya untuk menumbuhkan budi pekerti mulia (Kisyani-Laksono, 2008: 1) Di dalam kamus online Merriam – Webster mengatakan bahwa literasi adalah kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis seperti yang dikatakan oleh Elizabeth Sulzby (1986). Adapun tujuan literasi antara lain:

  1. membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan cara membaca berbagai informasi bermanfaat;
  2. membantu meningkatkan tingkat pemahaman seseorang dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca;
  3. meningkatkan kemampun seseorang dalam memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis;
  4. Membantu menumbuhkan dan mengembangkan budi pekerti yang baik di dalam rdiri seseorang;
  5. Meningkatkan nilai kepribadian seseorang melalui kegiatan membaca dan menulis;
  6. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya literasi di tengah-tengah masyarakat secara luas; dan
  7. membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu seseorang.

PEMBAHASAN

Keterkaitan minat membaca dengan perpustakaan Sekolah

Perpustakaan Sekolah sangatlah penting dalam meningkatkan minat membaca siswa khususnya siswa SMP. Untuk menepis kenyataan yang menunjukkan bahwa perpustakaan kurang disenangi oleh siswa yang berimbas pada rendahnya minat membaca. Suatu perpustakaan sekolah sebenarnya dapat mendobrak siswa untuk membaca jika dikelola dengan baik. Hal tersebut sangat membantu pemerintah dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang berkaitan dengan rendahnya minat membaca siswa.

Suatu perpustakaan sekolah sebagai jantungnya sekolah dapat melaksanakan perannya dengan baik jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Kepemilikan petugas perpustakaan yang profesional

Di dalam melaksanakan pengelolaan perpustakaan dibutuhkan petugas perpustakaan yang profesional. Petugas perpustakaan sering dikenal dengan sebutan pustakawan. Setiap perpustakaan sekolah diharapkan memiliki pustakawan karena akan mengelola keberlangsungan perpustakaan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perpustakaan sangatlah membantu di dunia pendidikan khususnya di sekolah.

Petugas perpustakaan yang menguasai pekerjaannya akan menjadikan perpustakaan sekolah semakin dikenal dan dicintai oleh siswa. Untuk memperoleh petugas perpustakaan yang profesional harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

memiliki pendidikan profesi yang sesuai dengan perpustakaan

Perpustakaan sekolah yang ingin maju dan dicintai oleh seluruh warga sekolah haruslah dapat terpenuhinya pustakawan yang dapat mengelola perpustakaan tersebut dengan memiliki pendidikan formal yang memadai. Pustakawan yang ideal haruslah memiliki pendidikan yang sesuai dengan profesi di perpustakaan tersebut, antara lain: Diploma Perpustakaan, Sarjana perpustakaan, Magister perpustakaan atau doktor di bidang perpustakaan. Dengan terpenuhinya pendidikan yang sesuai akan berpengaruh kepada angka kredit jika pustakawan tersebut seorang pegawai negeri.

mengikuti pendidikan dan pelatihan perpustakaan

Dewasa ini seiring dengan semakin pentingnya keberadaan perpustakaan sekolah di lingkungan sekolah, pemerintah semakin berusaha meningkatkan pelayanan perpustakaan sekolah kepada warga sekolah. Bukti adanya keterlibatan dan perhatian pemerintah terhadap perpustakaan sekolah dapatlah kita lihat dengan sering diadakannya pendidikan dan pelatihan/workshop terhadap para pustakawan. Selain dimilikinya pendidikan formal, pustakawan juga haruslah mengikuti sederetan workshop yang berhubungan dengan perpustakaan, antara lain: Workshop Pengelolaan Perpustakaan Sekolah bagi Pemustaka.

menguasai Informatika dan Teknologi (IT)

Dewasa ini perkembangan teknologi sudah merambah di segala bidang khususnya di perpustakaan. Internet bukan hal yang baru atau asing bagi setiap orang. Oleh karena itu, kita khususnya Pustakawan dituntut harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut yang salah satunya internet di segala bidang di perpustakaan. Pekerjaan secara manual sudah semakin tergeser oleh keberadaan internet. Pustakawan harus dapat menyesuaikan situasi dan kondisi yang terjadi agar dapat mengikuti perkembangan teknologi.

Internet sangat membantu pekerjaan pustakawan seperti halnya adanya buku bacaan elektronik. Di samping itu, pustakawan juga bisa membuat berbagai macam link seperti link berita, link majalah, link artikel, dan lain-lain. Dengan demikian, pada hakikatnya pustakawan harus menguasai informatika dan teknologi dalam melaksanakan tugas kepustakaannya.

Berjiwa inovatif dan bersikap ramah

Seorang pustakawan yang profesional hendaknya selalu memiliki jiwa inovatif dan bersikap ramah. Inovatif itu sendiri menurut Kamus Bahasa Indonesia ( Tim Penyusun, 608) adalah memperkenalkan sesuatu yang baru. Inovatif disini selalu ada perubahan-perubahan. Pustakawan harus selalu memiliki ide-ide baru untuk kemajuan dan peningkatan perpustakaan. Pustakawan harus memiliki kemampuan seperti mampu membuat proposal buku-buku yang bermutu, menulis sinopsis, dan lain-lain. Kemampuan tersebut dapat digunakan untuk menarik perhatian pengunjung khususnya peserta didik SMP yang sedang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan demikian, mereka akan senang dan tidak bosan untuk mengunjungi perpustakaan sekolah.

Hal tersebut didukung dengan sikap ramah dari pustakawan. Sikap ramah ini menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya (terhadap semua orang); suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. Sikap ramah ini juga harus senantiasa dimiliki oleh pustakawan guna menarik perhatian pengunjung untuk senang mengunjungi dan berada di perpustakaan sekolah.

Sarana dan prasarana perpustakaan yang memadai

Penyediaan sarana dan prasarana perpustakaan sangatlah penting karena hal tersebut dapat menunjang kelancaran kegiatan perpustakaan. Di samping itu, akan berpengaruh pula terhadap pengunjung perpustakaan. Hal tersebut bisa kita lihat pada ruang perpustakaan yang merupakan salah satu dari sekian sarana dan prasarana yang harus dipenuhi oleh suatu perpustakaan. Ruangan ini semestinya harus standar memenuhi kriteria yang ada. Suatu perpustakaan tidak dapat memenuhi sarana dan prasarana yang ditentukan maka jangan berharap pengunjung dan peminjam buku akan berkapasitas banyak.

koleksi buku yang lengkap

Suatu perpustakaan yang diinginkan pengunjung atau peserta didik SMP tentunya perpustakaan yang memiliki koleksi buku yang lengkap sehingga mereka akan senang berada di perpustakaan. Sebaliknya, jika pengunjung atau peserta didik SMP mengunjungi perpustakaan mencari buku tertentu ternyata tidak menjumpai buku yang diinginkan pastilah mereka akan enggan untuk mengunjungi perpustakaan itu kembali.

Buku-buku yang tersedia di perpustakaan semestinya tidak hanya buku-buku pelajaran saja, tetapi juga ada buku bacaan ilmu pengetahuan, buku sastra, majalah, buku-buku terbitan baru yang sedang diminati oleh pengunjung khususnya peserta didik SMP. Dengan ketersediaan koleksi buku yang lengkap akan berpengaruh kepada jumlah pengunjung suatu perpustakaan sekolah.

Dengan dikemukakan hal-hal tersebut, perpustakaan sekolah akan semakin dicintai oleh pengunjung dan peseta didik. Perpustakaan sekolah dapat memberikan sumbangan bagi peningkatan minat membaca peserta didik khususnya SMP. Jika perpustakaan semakin membenahi segala kekurangan yang ada maka sudah dapat dipastikan maka minat membaca akan dapat meningkat.

Keterkaitan minat membaca dengan pembiasaan literasi

Pembiasaan literasi dapat dikatakan sebagai salah satu solusi pemerintah di bidang pendidikan dalam upaya meningkatkan minat membaca anak Indonesia khususnya peserta didik SMP. Pada tahun-tahun sebelumnya minat membaca anak Indonesia dapaqt dikatakan rendah karena menduduki posisi terbawah dalam penelitian yang dilakukan oleh PISA. Dengan hasil penelitian tersebut, hal tersebut merupakan tantangan bagi pemerintah yang mencoba menggandeng masyarakat untuk meningkatkan minat membaca peserta didik.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah agar program literasi dapat dilaksanakan oleh peserta didik SMP. Pemerintah membentuk adanya gerakan literasi sekolah yang merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Kemendikbud, 2016).

Ruang Lingkup Gerakan Literasi Sekolah di SMP ini berisi tentang penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SMP yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan yaitu penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca, pengembangan yaitu Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, dan pembelajaran yaitu pemanfaaatan berbagai strategi literasi dalam pembelajaran lintas disiplin.

Gerakan literasi sekolah perlu didukung oleh semua pihak terutama oleh warga sekolah. Sementara pemerintah sudah mendengungkan gerakan literasi sekolah tetapi tidak disambut oleh warga sekolah maka upaya pemerintah meningkatkan minat membaca anak Indonesia khususnya peserta didik SMP tidak akan berhasil.

Mengacu gerakan literasi sekolah di atas, penulis mencoba memberikan alternatif upaya yang dapat meningkatkan minat membaca yang berkaitan dengan program pembiasaan literasi.

Memberikan alokasi waktu yang cukup dalam kegiatan pembiasaan literasi

Pemerintah menganjurkan untuk menerapkan pembiasaan literasi di tingkat SMP itu 15 menit sebelum pelaksanaan pembelajaran jam pertama. Hal ini pun dapat diubah waktunya tergantung masing-masing sekolah. Pada tahap pembaca pemula memang alokasi waktu cukup 15 menit. Akan tetapi, hal ini pun tidak menutup kemungkinan sekolah menambah waktu dapat lebih dari 15 menit sehingga dapat memberikan keleluasaan peserta didik dalam membaca. Hal ini harus dilaksanakan secara kontinyu supaya peserta didik dapat terbiasa untuk membaca buku. Ada pun buku yang mereka baca adalah buku-buku yang bukan buku pelajaran dengan harapan dapat menambah wawasan pengetahuan bagi peserta didik SMP

Menugaskan guru mata pelajaran yang mengampu berdekatan dengan kegiatan pembiasaan literasi untuk memantau kegiatan tersebut.

Suatu program tidak akan berhasil kalau tidak ada yang memantau kegiatan tersebut. Demikian pula dengan kegiatan pembiasaan literasi ini. Kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar harus ada yang mendampinginya. Pihak yang tepat untuk mendampingi kegiatan pembiasaan literasi ini adalah guru mata pelajaran. Jika sekolah menetapkan pembiasaan literasi ini dilaksanakan sebelum jam pembelajaran pertama maka yang bertanggung jawab akan berjalan tidaknya kegiatan pembiasaan literasi ini tentu adalah guru mata pelajaran yang mengajar pada jam pembelajaran yang pertama. Hal ini tentunya dilakukan secara kontinyu pada setiap pelaksanaan pembiasaan literasi tersebut dan dapat dipastikan peserta didik akan melaksanakan kegiatan tersebut yang imbasnya dapat meningkatkan minat membaca mereka.

Menyiapkan buku jurnal literasi

Kegiatan literasi dapat berhasil tidak hanya ditentukan oleh waktu dan pihak yang terlibat juga harus dapat dipantau dengan bukti pendukung yang dikenal dengan buku jurnal literasi. Buku ini akan merekam kegiatan literasi peserta didik dan kita pun dapat mengetahui perkembangan membaca mereka.

Menugaskan siswa mencatat intisari bacaan setelah melaksanakan kegiatan pembiasaan literasi

Dalam kegiatan literasi ini perlu juga melibatkan guru mata pelajaran yang berhubungan dengan kegiatan membaca. Guru mata pelajaran yang tepat adalah guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Guru tersebut dapat memberikan tugas kepada peserta didik SMP untuk mencatat intisari bacaan setiap mereka selesai membaca buku. Guru dapat mata pelajaran bahasa Indonesia dapat memberikan skor nilai terhadap kegiatan membaca peserta didik sehingga mereka akan termotivasi untuk membaca.

Memonitoring dan mengevaluasi kegiatan pembiasaan literasi

Semua kegiatan sekolah tentu merupakan tanggung jawab Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di sekolah. Demikian pula dengan kegiatan pembiasaan literasi ini. Beliau melaksanakan pemantauan secara keseluruhan terhadap kegiatan literasi sehingga dapat mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan tersebut. Tanpa adanya keterlibatan beliau, pasti kegiatan literasi tidak akan ada manfaatnya.

Semua pihak terlibat dan mendukung kegiatan literasi di sekolah maka dapat meningkatkan minat membaca peserta didik.

Keterkaitan minat membaca dengan kolaborasi pemanfaatan perpustakaan sekolah dan pembiasaan literasi

Perpustakaan dan literasi tidak dapat dipisahkan. Keduanya dianalogikan dua mata yang keduanya memiliki manfaat/kegunaan yang sama besar dalam kehidupan. Keduanya saling mendukung dan tidak dapat berjalan sendiri. Supaya perpustakaan dan literasi dapat berjalan seiring dalam meningkatkan minat membaca peserta didik SMP maka ada beberapa alternatif upaya yang dapat dilaksanakan, antara lain:

Guru memberikan tugas membaca buku di perpustakaan.

Tugas membaca tidak hanya dilaksanakan dalam kegiatan membaca 15 menit tetapi dapat pula dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran yang dapat melibatkan perpustakaan sebagai sarana untuk terlaksananya kegiatan membaca. Guru menugaskan kepada peserta didik untuk membaca buku-buku pendamping yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan dengan cara mereka mencari buku yang dimaksud di perpustakaan dan membacanya di sana dalam waktu yang telah ditentukan oleh guru. Jika semua guru melaksanakan hal terebut pasti perpustakaan akan ramai dikunjungi oleh peserta didik. dengan demikian dapat meningkatkan frekuensi kunjungan perpustakaan dan dapat dijadikan bukti pendukung bahwa minat membaca meningkat.

Guru memberikan reeward kepada peserta didik yang telah melaksanakan kegiatan membaca buku di perpustakaan

Kegiatan membaca di perpustakaan yang diberikan oleh guru mata pelajaran ini tidak hanya sekadar tugas. Akan tetapi, dibutuhkan evaluasi dari tugas membaca tersebut. Adapun evaluasi tersebut dapat berupa pemberian pertanyaan yang berkaitan dengan buku yang dibaca. Setelah peserta didik dapat menjawab pertanyaan guru maka guru pun dapat memberikan reeward kepada peserta didik. Reeward itu tidak mesti berupa barang. Akan tetapi, dapat pula berupa pujian atau penambahan nilai. Jika guru melakukan hal tersebut, maka peserta didik akan termotivasi untuk membaca buku sehingga mereka pun akan terbiasa membaca buku.

Guru melakukan pembelajaran di perpustakaan.

Kegiatan pembelajaran tidak harus dilaksanakan di dalam kelas. Kegiatan pembelajaran yang terus menerus dilaksanakan di dalam kelas akan menimbulkan kejenuhan bagi peserta didik. Kejenuhan peserta didik berada di dalam kelas akan berpengaruh pula tentunya pada prestasi peserta didik. Suasana hidup akan tercipta jika guru sebagai faktor utama dalam kegiatan pembelajaran ini memiliki kreativitas dalam pembelajarannya.

Guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran di luar kelas. Salah satu alternatif pembelajaran di luar kelas adalah ruang perpustakaan. Hal tersebut dipertegas pula dalam Modul Pendidikan dan Latihan Kepala Perpustakaan Sekolah (2014: 1) bahwa perpustakaan sekolah dewasa ini bukan hanya merupakan unit kerja yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi murid, tetapi juga merupakan bagian yang integral dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, perpustakaan sekolah dapat digunakan sebagai ruang pelaksanaan pembelajaran. Peserta didik dan guru dapat memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan yang sesuai dengan materi untuk dapat dibaca.

Pihak perpustakaan memberikan reeward kepada siswa yang melakukan kunjungan dan pinjaman buku di perpustakaan.

Dalam rangka menarik perhatian dan minat membaca peserta didik, pihak perpustakaan sekolah dapat memberikan reeward kepada peserta didik. Adapun jenis reeward tersebut bisa berupa reeward peserta didik tergiat mengunjungi perpustakaan dan reeward peserta didik yang terbanyak pinjam buku. Reeward itu tidak mesti harus berupa materi atau barang. Peserta didik diberi sertifikat piagam penghargaan itu saja sudah merasa senang.Pemberian reeward ini akan membangkitkan motivasi peserta didik untuk mengunjungi perpustakaan dan pinjam buku.

Hal-hal seperti di atas dilaksanakan oleh perpustakaan khususnya perpustakaan sekolah sudah pasti perpustakaan tersebut akan familiar di kalangan warga sekolah. Tidak ada perpustakaan yang sepi dengan pengunjung. Perpustakaan setiap harinya akan ramai pengunjung dan dapat dikatakan minat membaca peserta didik meningkat.

PENUTUP

Simpulan

Upaya meningkatkan minat membaca peserta didik SMP dapat dilakukan melalui pemanfaatan perpustakaan dan pembiasaan literasi. Suatu perpustakaan sekolah dapat melaksanakan perannya dengan baik jika memenuhi persyaratan sebagai berikut: kepemilikan petugas perpustakaan yang profesional, sarana dan prasarana perpustakaan yang memadai, dan koleksi buku yang lengkap.

Adapun alternatif upaya yang dapat meningkatkan minat membaca yang berkaitan dengan program pembiasaan literasi antara lain: Memberikan alokasi waktu yang cukup, menugaskan guru mata pelajaran yang mengampu berdekatan dengan kegiatan pembiasaan literasi untuk memantau kegiatan tersebut, Menyiapkan buku jurnal literasi, Menugaskan siswa mencatat intisari bacaan setelah melaksanakan kegiatan pembiasaan literasi, dan memonitoring dan mengevaluasi kegiatan pembiasaan literasi.

Supaya perpustakaan dan literasi dapat berjalan seiring dalam meningkatkan minat membaca peserta didik SMP maka ada alternatif upaya yang dapat dilaksanakan, antara lain: guru memberikan tugas membaca buku di perpustakaan, guru memberikan reeward kepada peserta didik yang telah melaksanakan kegiatan membaca buku di perpustakaan, guru melakukan pembelajaran di perpustakaan, dan pihak perpustakaan memberikan reeward kepada peserta didik yang melakukan kunjungan dan pinjaman buku di perpustakaan.

Saran-Saran

Penulis menghimbau kepada guru mata pelajaran untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu tempat belajar. Kita berikan kesempatan kepada peserta didik menumbuhkan kegiatan gemar membaca melalui pemanfaatan perpustakaan dan pembiasaan literasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arti Literasi: Pengertian, Tujuan, Manfaa, dan Jenis-Jenis Literasi. http://www.maxmanroe. diakses tanggal 30 Mei 2019.

Ibrahim, Bafadal. 1991. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Rahim, Farida. 2008. Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar (Edisi Kedua).

Jakarta: Bumi Aksara.

Sandjaya, Soeyanto. 2005. Pengaruh Keterlibatan Orang Tua terhadap Minat Membaca Anak Ditinjau dari pendekatanSter Lingkungan, (Online),

(http://www.unika.ac.id/fakultas/psikologi/artikel/ss-1pdf)

Shaleh, A.R. Ibnu Ahmad. 1987. Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: PT Hidakarya Agung.

Sinaga, Dian. 2009. Mengelola Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Kiblat Buku Utama.

Sulistio-Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.

Tarigan, Henry Guntur. 2008. Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Biodata Penulis

Nama : Sri Sulistiati Agustinah, S. Pd.

Unit Kerja : SMP Negeri 1 Kroya

By admin

You cannot copy content of this page