Iklan

UPAYA MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG GEJALA (PERISTIWA) ALAM YANG TERJADI DI INDONESIA DAN NEGARA TETANGGA MELALUI  METODE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 2 PENIRON TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Hendri Yulianti, S.Pd.

ABSTRAK

Hendri Yulianti, S.Pd Upaya Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Tentang Gejala (Peristiwa) Alam yang Terjadi di Indonesia dan Negara Tetangga Melalui Metode Numbered Head Together (NHT) pada Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Peniron Tahun Pelajaran 2017/2018. Rumusan masalah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah (1) Apakah penerapan metode Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan minat belajar peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Peniron dalam pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga? (2) Apakah penerapan metode Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Peniron dalam pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga?. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1)Ada tidaknya peningkatan minat peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Peniron dalam pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga selama proses pembelajaran berlangsung (2) Ada tidaknya peningkatan hasil belajar peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Peniron dalam pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga setelah dilaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran.Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan metode siklus yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Peniron dengan subjek penelitian yaitu siswa kelas VI SD Negeri 2 Peniron semester 2 tahun pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 22 siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik data kalitatif dan data kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif komparatif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan terhadap data yang diperoleh dari hasil observasi dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) metode Numbered Head Together (NHT) pada pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SD Negeri 2 Peniron (2) metode Numbered Head Together (NHT) pada pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 2 Peniron. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan minat belajar siswa pada studi awal 22,7%, siklus I 45,4%, siklus II 77,3%, dan pada siklus III 90,9%, angka ketuntasan belajar siswa pada studi awal 27,3%, siklus I 50%, siklus II 81,8%, dan pada siklus III 95,4%.

Kata Kunci: Minat, Hasil Belajar, Numbered Head Together (NHT)

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Peserta didik baru mampu memperoleh hasil pembelajaran pada tingkat hafalan (ingatan), mereka belum dapat belajar sampai tingkat pemahaman.Selain itu, banyak peserta didik yang kurang berminat dalam belajar karena dalam memberikan materi pembelajaran guru kurang kreatif dan terkesan enggan untuk memvariasi metode pembelajaran.Ini menyebabkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPS kelas VI di SD Negeri 2 Peniron belum menunjukkan hasil yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes pembelajaran awal yang dilakukan peneliti, peserta didik yang berminat dalam pembelajaran IPS hanya anak 5 dari 22 peserta didik (22,7%) dan dari 22 peserta didik hanya 8 anak yang telah memperoleh nilai ≥ KKM (KKM = 64). Ini berarti baru 27,3% peserta didik yang telah mencapai kriteria ketuntasan minimal.

Setelah memperhatikan permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran tersebut, atas saran supervisor dan hasil diskusi dengan teman sejawat, peneliti memilih alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan metode Numbered Head Together (NHT) dalam pembelajaran IPS pada kompetensi dasar 2.1 Mendeskripsikan gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, sebagai bentuk pemberian tindakan yang akan diterapkan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun judul yang peneliti pilih adalah “Upaya Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Tentang Gejala (Peristiwa) Alam yang Terjadi di Indonesia dan Negara Tetangga Melalui Metode Numbered Head Together (NHT) pada Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Peniron Tahun Pejaran 2017/2018”.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Minat

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata “minat” mempunyai arti kesukaan (kecenderungan hati) kepada sesuatu; perhatian; keinginan. (Poerwadarminta, 2007:769)

Menurut Pintrich dan Schunk (1996 dalam Mikarsa dkk, 2008:3.3) “Minat merupakan aspek berpikir motivasi yang mempengaruhi perhatian, belajar, berpikir, dan berprestasi.”

“Minat merupakan dorongan dari dalam diri seseorang atau faktor yang menimbulkan ketertarikan atau perhatian secara selektif, yang menyebabkan dipilihnya suatu objek atau yang menguntungkan, menyenangkan dan lama kelamaan akan mendatangkan kepuasan dalam dirinya”. (Mikarsa dkk, 2008:3.5)

Pengertian Hasil Belajar

Kunandar (2007:251) mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji. Hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap”.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar berupa pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan ketrampilan dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu suatu kompetensi dasar.

.

Hakekat IPS

Hakekat IPS menurut Saidihardjo (2009:6-10) meliputi:

Dimensi ruang, waktu, dan nilai/norma

Dalam mengkaji dan memahami fenomena social serta kehidupan manusia secara keseluruhan, IPS menggunakan tiga dimensi ruang, waktu, dan nilai-nilai/norma. Ketiga dimensi ini menjadi dasar bagi manusia dalam mengembangkan kemampuannya untuk beradaptasi sebagai upaya memperjuangkan kelangsungan hidup yang harmonis, sejahtera, dan damai.

Pengertian Metode Numbered Head Together (NHT)

Pada dasarnya metode NHT merupakan varian dari diskusi kelompok. Menurut Slavin dalam Huda (2013:203), “Metode NHT merupakan metode yang cocok untuk memastikan akuntabilitas individu dalam diskusi kelompok”.

“Metode NHT adalah metode yang melibatkan siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut”. (Kunandar, 2007:368)

Sebagai pengganti langsung kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat langkah sebagai berikut:

  1. Langkah 1: Penomoran (Numbering), yaitu guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan tiga hingga lima orang dan memberi mereka nomor berbeda.
  2. Langkah 2: Pengajuan pertanyaan (Questioning), yaitu guru mengajukan suatu pertanyaan ke pada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.
  3. Langkah 3: Berpikir bersama (Head Together), yaitu para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.
  4. Langkah 4: pemberian jawaban (Answering), yaitu guru menyebut satu nomor dan siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Lokasi SD Negeri 2 Peniron merupakan SD komplek, yaitu satu komplek dengan SD Negeri 1 Peniron. SD Negeri 2 Peniron mempunyai 12 tenaga pendidik dan kependidikan yang terdiri 1 kepala sekolah, 6 guru kelas, 4 guru mata pelajaran, dan 1 penjaga sekolah. SD Negeri 2 Peniron mempunyai 180 peserta didik yang sebagian besar dari lingkungan desa Peniron.Karena merupakan daerah peralihan antara desa dengan kota maka anak-anak desa Peniron terkesan nakal dan susah diatur. Namun prestasi secara akademik cukup baik. Sedangkan dilihat secara sosial ekonomi, penduduk desa Peniron sebagian besar bermata pencaharian sebagai buruh. Karena di desa Peniron banyak berdiri pabrik-pabrik genteng yang banyak membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk setempat

Indikator Kinerja

Untuk mengetahui adanya perbaikan dalam proses dan hasil belajar sesuai dengan tujuan penelitian diperlukan indikator kinerja.

Indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur peningkatan minat dan hasil belajar adalah:

Minat Belajar

Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan minat belajar siswa adalah:

  1. Memperhatikan penjelasan guru
  2. Aktif unjuk kerja dalam diskusi
  3. Antusias dalam pencarian informasi

Minat belajar siswa dinyatakan:

Rendah, jika tidak ada/ada 1 indikator yang muncul

Sedang, jika ada 2 indikator yang muncul

Baik, jika ada 3 indikator yang muncul

Perbaikan pembelajaran dapat dilihat dari segi minat belajar dinyatakan berhasil apabila minimal 90% dari peserta didik menampilkan tiga indikator dari tiga indikator (memperhatikan penjelasan guru, aktif unjuk kerja dalam diskusi, antusias dalam pencarian informasi) atau minat baik.

Hasil belajar

Indikator yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa adalah peningkatan hasil belajar siswa, baik secara individual maupun klasikal serta ketuntasan belajar siswa. Siswa yang dinyatakan tuntas belajar jika telah mencapai tingkat pemahaman materi 64% ke atas yang ditunjukkan dengan perolehan hasil evaluasi 64 atau lebih (sesuai KKM di sekolah peneliti). Perbaikan pembelajaran dilihat dari hasil belajar dinyatakan berhasil apabila minimal 90% dari jumlah peserta didik berhasil mencapai kriteria tuntas belajar

BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL BELAJAR

Hasil belajar diketahui melalui nilai tes akhir pembelajaran, diperoleh setelah proses perbaikan pembelajaran berlagsung. Nilai tes akhir pembelajaran Siklus I adalah sebagai berikut: (1) Nilai tertinggi adalah 80, (2) Nilai terendah adalah 40 (3) Rata-rata kelas adalah 65, (4) Peserta didik tuntas belajar sebanyak 11 anak atau 50%, dan (5) Peserta didik tidak tuntas belajar sebanyak 11 anak atau 50%.

Sedangkan pada Siklus II hasilnya adalah sebagai berikut: (1) Nilai tertinggi adalah 80, (2) Nilai terendah adalah 60 (3) Rata-rata kelas adalah 70,45 (4) Peserta didik tuntas belajar sebanyak 18 anak atau 81,8%, dan (5) Peserta didik tidak tuntas belajar sebanyak 4 anak atau 18,2%. Sementara itu nilai pada Siklus III adalah sebagai berikut: (1) Nilai tertinggi adalah 100, (2) Nilai terendah adalah 60, (3) Rata-rata kelas adalah 78,2, (4) Peserta didik tuntas belajar sebanyak 21 anak atau 95,4%, (5) Peserta didik tidak tuntas belajar sebanyak 1 anak atau 4,6%

Minat Belajar

Data tentang minat belajar siswa pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 Rekapitulasi kreativitas belajar Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I,II dan III

NO Indikator Perolehan tiap Siklus
awal 1 2 3
1 Minat Kurang 8 6 3
2 Minat Sedang 9 6 2 2
3 Minat Baik 5 10 17 20

Pembahasan

Pada studi awal siswa yang telah tuntas belajar berjumlah 6 siswa dari 22 siswa (27,3%) dengan nilai rata-rata 58,6. Siswa yang benar-benar menunjukkan minat belajar IPS hanya 5 siswa dari 22 siswa (22,7%). Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus I, jumlah siswa yang tuntas belajar menjadi 11 siswa dari 22 siswa (50%) dengan nilai rata-rata 65, sedang siswa yang benar-benar menunjukkan minat belajar IPS menjadi 10 siswa dari 22 siswa (45,4%). Ini berarti ada kenaikan ketuntasan belajar sebesar 22,7%, dan kenaikan rata-rata kelas sebesar 6,4 dibandingkan dengan studi awal. Minat belajar IPS juga naik sebesar 22,7%.

Pada siklus I siswa yang telah tuntas belajar berjumlah 11 siswa dari 22 siswa (50%) dengan nilai rata-rata 65. Siswa yang benar-benar menunjukkan minat belajar IPS hanya 10 siswa dari 22 siswa (45,4%). Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas belajar menjadi 18 siswa dari 22 siswa (81,8%) dengan nilai rata-rata 70,45 sedang siswa yang benar-benar menunjukkan minat belajar IPS menjadi 17 siswa dari 22 siswa (77,3%). Ini berarti ada kenaikan ketuntasan belajar sebesar 31,8%, dan kenaikan rata-rata kelas sebesar 5,45 dibandingkan dengan siklus I. Minat belajar IPS juga naik sebesar 31,9%

Pada siklus II siswa yang telah tuntas belajar berjumlah 18 siswa dari 22 siswa (81,8%) dengan nilai rata-rata 70,45. Siswa yang benar-benar menunjukkan minat belajar IPS hanya 17 siswa dari 22 siswa (77,3%). Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus III, jumlah siswa yang tuntas belajar menjadi 21 siswa dari 22 siswa (95,4%) dengan nilai rata-rata 78,2 sedang siswa yang benar-benar menunjukkan minat belajar IPS menjadi 20 siswa dari 22 siswa (90,9%). Ini berarti ada kenaikan ketuntasan belajar sebesar 13,6%, dan kenaikan rata-rata kelas sebesar 7,75 dibandingkan dengan siklus II. Minat belajar IPS juga naik sebesar 13,6%.

Berdasarkan hasil diskusi dengan teman sejawat diketahui, bahwa kenaikan Pembelajaran berlangsung sangat kondusif dan interaktif.Siswa kelihatan bersemangat. Jumlah siswa yang tuntas belajar sudah jauh melampaui indikator kinerja yang ditetapkan bahkan mencapai angka yang fantastik yaitu 95,4%. Minat belajar siswa pada siklus III sangat memuaskan karena minat belajar siswa sudah melampaui kriteria yang ditetapkan, bahkan mencapai angka fantastik yaitu 90,9% setelah menggunakan metode Numbered Head Together (NHT). Ini berarti perbaikan pembelajaran sudah berhasil, karena sudah sesuai dengan indikator kinerja yaitu minimal 90% peserta didik menunjukkan minat belajar dan minimal 90% peserta didik tuntas belajar. Maka upaya perbaikan pembelajaran berakhir pada siklus III.

Untuk lebih jelasnya keberhasilan hasil belajar dapat dilihat pada gambar 1

. Gambar 1 Diagram Batang Perbandingan Nilai Rata-rata, Tingkat Ketuntasan, dan Siswa yang Belum Tuntas Studi Awal, Siklus I, Siklus II, dan Siklus III Pembelajaran IPS

Sedangkan keberhasilan minat belajar siswa dapat dilihat pada gambar 2

Gambar 2 Diagram Batang Rekapitulasi Minat Belajar Siswa Studi Awal, Siklus I, dan Siklus II Pembelajaran IPS

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dalam pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga dengan menggunakan metode Numbered Head Together (NHT) dari siklus I, II, dan III dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penggunaan metode Numbered Head Together (NHT) pada pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SD Negeri 2 Peniron. Peningkatan minat belajar siswa dapat dilihat dari hasil pengamatan proses perbaikan pembelajaran yang mengalami peningkatan. Minat belajar siswa pada studi awal 22,7%, siklus I 45,4%, siklus II 77,3%, dan pada siklus III meningkat menjadi 90,9%.
  2. Penggunaan metode Numbered Head Together (NHT) pada pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga, dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 2 Peniron. Peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari hasil evaluasi pada proses perbaikan pembelajaran yang mengalami peningkatan. Angka ketuntasan belajar siswa pada studi awal 27,3%, siklus I 50%, siklus II 81,8%, dan pada siklus III meningkat menjadi 95,4%.

Dari uraian di atas peneliti berpendapat bahwa perbaikan pembelajaran menggunakan metode Numbered Head Together (NHT) adalah salah satu langkah untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

Saran

Berdasarkan pembahasan hasil dan kesimpulan pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran IPS tentang gejala (peristiwa) alam yang terjadi di Indonesia dan negara tetangga dengan menggunakan metode Numbered Head Together (NHT) dari siklus I, II, dan III, peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan penelitian memerlukan perencanaan yang matang khususnya mengenai tindak lanjut setelah siklus agar tindakan selanjutnya dapat mengenai sasaran.
  2. Dalam menggunakan metode Numbered Head Together (NHT) harus memperhatikan jumlah anggota kelompok, sifat pertanyaan, dan guru harus memastikan semua anggota kelompok mengetahui jawabannya.
  3. Guru harus pandai memilih dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran agar dapat mendorong tercapai tujuan yang diharapkan.
  4. Keberhasilan penelitian yang dilakukan di SD Negeri 2 Peniron harus dilakukan kembali dengan setting yang berbeda untuk menjamin validitas penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. (2010). Penelitian Tindakan. Yogya:Aditya Media

Hernawan, Asep Herry dkk.(2009). Pengembangan Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta:Universitas Terbuka

Huda, Miftahul. (2013). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Kunandar.(2007). Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi. Jakarta:Raja Grafindo Persada

Menteri Pendidikan Nasional.(2006). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Jakarta

Mikarsa, Hera Lestari dkk. (2008). Pendidikan Anak di SD. Jakarta:Univertas Terbuka

Nadirah dkk. (2013). Metode Numbered Heads Together. Diakses dari http://dhyrahcahayacinta. WordPress.com/2013/06/04/metode-nht/. Pada tanggal 24 Maret 2018

Poerwadarminta.(2007). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka

Purwanto, Ngalim. (1997). Psikologi Pendidikan. Bandung:PT Rosdakarya

Qym, Qym Yaqin. (2009). Pengertian Minat. Diakses dari http://qym7882.blogspot.com/2009/03/pengertian-minat.html. Pada tanggal 16 Maret 2018

Saidihardjo.(2009). Pengembangan Materi IPS Terpadu. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta

Sumiati dan Asra.(2009). Metode Pembelajaran. Bandung:Wacana Prima

Suprijono, Agus. (2014). Cooperatif Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Wardani, I. G. A. K. dkk.(2007). Modul 1.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:Universitas Terbuka

Winataputra, Udin. S. dkk.(2008). Modul 2.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Universitas Terbuka

Wiradana, I Wayan Gde.(2007). Penelitian Tindakan Kelas. Diakses dari http://disdikklungkung.net/content/view/93/46/. Pada tanggal 24 Maret 2018

Nama : Hendri Yulianti, S.Pd

NIP : 19860716 201001 2 021

Unit Kerja : SD Negeri 2 Peniro

You cannot copy content of this page