Iklan

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU DALAM PENGEMBAGAN KARIR MELALUI PEMBERIAN REEWARD AND PUNISHMENT DI SD NEGERI 1 CANDI

Sutriyono, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mendapatkan deskripsi empirik tentang peningkatan Kompetensi profesional Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran di SD Negeri 1 Candi Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen semester 1 tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini menerapkan Penelitian Tindakan Sekolah melalui Pemberian Reward and Punishment terhadap Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran disekolah pada semester 1 tahun pelajaran 2019/2020 SD Negeri 1 Candi. Hal tersebut dilakukan tindakan dengan maksud meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Pelaksanaan Pembelajaran. Analisis data dengan langkah-langkah : (1) pengumpulan dan telaah data, (2) deskripsi komperatif, (3) penyajian data dan (4) verifikasi menarik kesimpulan. Temuan penting dalam penelitian ini bahwa Pemberian Reward and Punishment terhadap Guru Pelaksanaan Pembelajaran dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan dapat mewujudkan peningkatan Kemampuan Pelaksanaan Pembelajaran. Hal ini terbukti dari hasil penelitian tentang penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dari studi awal hingga siklus kedua mengalami peningkatan yaitu dari 62,76% pada studi awal menjadi 76,53%, dan pada siklus kedua menjadi 86,22%. Sedangkan pelaksanaan pembelajaran juga demikian dari studi awal 64,29% menjadi 74,29% pada siklus satu dan pada siklus kedua menjadi 87,86%. Dengan demikian jelas bahwa Pemberian Reward and Punishment terhadap Kompetensi profesional Guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Pelaksanaan Pembelajaran dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Pelaksanaan Pembelajaran pada SD Negeri 1 Candi Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen tahun pelajaran 2019/2020.

Kata Kunci : Reward And Punishment , Kompetensi profesional

I. PENDAHULUAN

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen diuraikan bahwa guru profesional adalah guru yang memiliki kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Guru yang memiliki empat kompetensi tersebut masih dipersyaratkan harus memiliki ijazah akademik yang relevan yakni Diploma IV atau Strata I. Sebegitu gencarnya guru ditingkatkan kemampuannya agar mampu melaksanakan tugas profesinya dengan penuh tanggung jawab sehingga kualitas pendidikan secara keseluruhan meningkat. Konsekuensinya bahwa peningkatan mutu guru telah dibarengi dengan kesejahteraannya sehingga sertifikasi guru yang telah diberlakukan pemerintah telah mendorong guru untuk berkarya lebih profesional.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah menegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial.

Kepala Sekolah memiliki peran sebagai penanggung jawab pengelola sekolah secara keseluruhan. Peran Kepala Sekolah dalam hal ini sangat strategis karena manajemen sekolah yang berkualitas akan mampu berperan dalam menggalang peningkatan mutu sekolah. Hal ini menggambarkan bahwa tuntutan akan jaminan mutu pendidikan dari masyarakat pengguna jasa pendidikan merupakan gejala yang tumbuh secara wajar. Itulah sebabnya penyelenggara pendidikan bermutu yang telah menjadi bagian dari implementasi MBS yang mengedepankan akuntabilitas publik. Pendidikan bermutu akan menampakkan kualitas lulusan yang kompetitif dan kepuasan masyarakat atas pelayanan pendidikan di sekolah. Kulitas lulusan yang kompetitif menggambarkan strategi dan enejemen yang digerakkan oleh kepala sekolah yaitu mengoptimalkan pendayagunaan seluruh potensi sekolah dan yang berkaitan dengan sekolah secara dinamis dan terstruktur. Pendayagunaan seluruh potensi antara lain dengan cara memastikan bahwa seluruh guru melaksanakan kegiatan pembelajaran mengacu pada dokumen yang dipersiapkan sendiri, menggunakan sumber – sumber belajar dengan cermat dan efektif.

Dalam melaksanakan program dan kegiatan kepala sekolah memfasilitasi guru untuk menggunakan model, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan materi pelajaran dengan cara menyediakan segala sesuatu yang diperlukan unruk itu. Dalam hal menggerakkan dan mengoordinasikan, kepala sekolah tampil sebagai pemimpin, manajer, dan administrator yang visioner. Memperhitungkan segala sesuatu sebagai antisipasi dari kemungkinan yang terjadi, bukan rekatif terhadap permasalahan yang muncul sesaat. Dalam hal menjamin kulitas pelaksanaan seluruh kegiatan dan program sekolah, kepala sekolah selalu mengacu pada manual prosedur dan instruksi kerja, maka kepala sekolah tampil sebagai pengawas yang cermat dan teliti. Sedangkan dalam hal membantu memecahkan berbagai problem yang dihadapi seluruh personil sekolah dan menyetujui cara – cara pemecahan masalahnya maka kepala sekolah tampil sebagai supervisor.

Hal ini sangat berbeda dengan konsep Reward and Punishment . Secara konseptual, Reward and Punishment adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran.

Kepala Sekolah sebagai top manajer di sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam ikut serta mengendalikan proses pembelajaran yang bermutu. Melalui fungsi manajemen baik planning, organizing, aktuiting dan controling Kepala Sekolah dapat melakukan Reward and Punishment secara terstruktur untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Reward and Punishment tersebut bertujuan melakukan tindakan/ action manajerial untuk mengetahui secara jelas bagaimana guru mempersiapkan pembelajaran baik dari sisi rencana pembelajarannya mapun media yang disiapkan. Di samping itu Reward and Punishment dilakukan sebagai alat kontrol terhadap tugas guru sebagai tenaga profesional, apakah dari sisi kompetensi profesional dan pedagogiknya sudah terpenuhi atau belum. Hal tersebut dapat dilihat dari sisi penguasaan materi pembelajaran, penguasaan metodologi pembelajaran, penggunaan alat peraga, bagaimana proses pembelajaran berlangsung, bagamana guru melakukan evaluasi, dan bagaimana guru melaksanakan tindak lanjut dalam pembelajaran.

Permasalahan yang terjadi pada guru menyebabkan pembelajaran berlangsung kurang efektif. Hal tersebut sudah barang tentu berdampak terhadap hasil belajar siswa. Oleh karena itu, pembelajaran yang kurang efektif memerlukan pemecahan, yakni bagaimana usaha guru dapat memberikan pembelajaran yang efektif sehingga siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik. Bagaimana guru dalam menyusun rencana pembelajaran sudah sesuai antara tujuan dengan materi atau belum. Bagaimana guru memilih media pembelajaran yang tepat dan relevan sebagai salah satu alternatif sehingga pembelajaran akan berlangsung menarik. Bagaimana guru menggunakan metode pembelajaran yang bukan itu-itu saja yakni hanya terdiri dari metode ceramah, diskusi, dan tugas yang dirasa sangat monoton dan membosankan siswa melainkan bagaimana guru menggunakan metode yang bervariasi sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik. Oleh karena itu Kepala Sekolah dalam hal ini selaku peneliti mencoba melakukan tindakan nyata mengfungsikan sebagai seorang manajerial melaksanakan Reward and Punishment teknik indivdual sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran agar pembelajaran berlangsung secara efektif pada guru SD Negeri 1 Candi tahun pelajaran 2019/2020.

Berdasarkan studi awal Reward and Punishment yang dilakukan Kepala Sekolah ternyata guru kelas dan guru mata pelajaran dalam melaksanakan: (1) penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran rata-rata dari 7 guru jika diprosentase mencapai 62,76 %, (2) melaksanakan proses pembelajaran rata-rata dari 7 guru jika diprosentase mencapai 64,29 %. Sedangkan berdasarkan indikator kinerja dan keberhasilan guru dikatakan berhasil memiliki kompetensi apabila 80 % memenuhi standar ketuntasan minimal atas kinerjanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hampir semua guru di SD Negeri 1 Candi di dalam merencanakan, melaksanakan proses pembelajaran, dan melakukan penilaian pembelajaran belum berlangsung secara efektif. Berawal dari ketidakberhasilan guru dalam pembelajaran tersebut, peneliti meminta bantuan observer atau guru senior untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan guru kelas tinggi SD Negeri 1 Candi . Dari hasil diskusi bersama observer terungkap beberapa masalah yang ada dalam proses pembelajaran yaitu : (1) Guru dalam menentukan tujuan pembelajaran belum sesuai dengan materi yang akan diajarkan, (2) Konsep materi yang disampaikan guru belum tuntas, (3) Metode yang digunakan guru belum tepat karena monoton dan kurang bervasiasi, (4) Belum seluruh guru menggunakan media/ alat peraga dalam proses pembelajaran (5) Penggunaan media / alat peraga yang digunakan guru belum efektif, (6) Bimbingan guru masih bersifat klasikal, (7) Belum seluruh siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan (8) Masih minimnya latihan dan tugas yang diberikan guru kepada siswa.

Perilaku Reward and Punishment sebagaimana diuraikan di atas merupakan salah satu contoh perilaku Reward and Punishment belum baik. Perilaku Reward and Punishment yang demikian tidak akan memberikan banyak pengaruh terhadap tujuan dan fungsi Reward and Punishment . Seandainya memberikan pengaruh, pengaruhnya relatif sangat kecil artinya bagi peningkatan mutu guru dalam mengelola proses pembelajaran. Reward and Punishment sama sekali bukan penilaian unjuk kerja guru. Apalagi bila tujuan utama penilaiannya semata-mata hanya dalam arti sempit, yaitu mengkalkulasi kualitas keberadaan guru dalam memenuhi kepentingan akreditasi guru belaka.

Alasan peneliti menggunakan supervisi teknik individu karena teknik ini pelaksanaan supervisi dilakukan secara perseorangan terhadap guru. Teknik supervisi ini dugunakan oleh kepala sekolah selaku supervisor dalam melaksanakan program supervisi pengajaran yang menyentuh langsung kegiatan guru dalam menagajar, sehingga kepala sekolah selaku supervisor tahu persis akan kelebihan dan kekurangan guru dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Pemberian Reward and Punishment terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individu, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri.

Harapan peneliti dengan Pemberian Reward and Punishment ini Kompetensi profesional Guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran akan lebih baik sesuai aturan yang ada dan pelaksanaan pembelajaran di kelas keadaan siswa akan lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, sehingga hasil belajar siswa akan meningkat

Berdasarkan latar belakang masalah, maka diajukan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah Reward and Punishment teknik inidividu dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru SD Negeri 1 Candi Tahun 2020
  2. Bagaiman pelaksanaan Pemberian Reward and Punishment yang dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru SD Negeri 1 Candi tahun 2020

II. KAJIAN PUSTAKA

Kompetensi adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan mulai dari menggosok gigi sampai dengan melakukan opersi jantung. Dalam pembelajaran, kompetensi menunjuk pada perbuatan (performance) yang bersifat rasional yang memenuhi spesifikasi tertentu dalam pembelajaran (Mulyasa, 2004 ). Istilah profesional adalah jabatan yang tidak bisa tergantikaan oleh orang lain yang bukan bidangnya atau dengan istilah lain job performance yaitu prestasi kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Profesional diartikan juga sebagai tingkat atau derajat pelaksanaan tugas seseorang atas dasar kompetensi yang dimilikinya.

Sebagaimana diatur dalam Permendiknas Nomor 14 tahun 2007, standar proses tersebut meliputi perencaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Perencanaan proses pembelajaran salah satunya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

3. Kompetensi Pedagogik merupakan salah satu jenis kompetensi yang mutlak perlu dikuasai guru. Kompetensi Pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Pedagogik merupakan kompetensi khas, yang akan membedakan guru dengan profesi lainnya dan akan menentukan tingkat keberhasilan proses dan hasil pembelajaran peserta didiknya.

Kompetensi ini tidak diperoleh secara tiba-tiba tetapi melalui upaya belajar secara terus menerus dan sistematis, baik pada masa pra jabatan (pendidikan calon guru) maupun selama dalam jabatan, yang didukung oleh bakat, minat dan potensi keguruan lainnya dari masing-masing individu yang bersangkutan.

Berkaitan dengan kegiatan Penilaian Kinerja Guru terdapat 7 (tujuh) aspek dan 45 (empat puluh lima) indikator yang berkenaan penguasaan  kompetensi pedagogik. Berikut ini disajikan ketujuh aspek kompetensi pedagogik beserta indikatornya:

Guru mampu mencatat dan menggunakan informasi tentang karakteristik peserta didik untuk membantu proses pembelajaran. Karakteristik ini terkait dengan aspek fisik, intelektual, sosial, emosional, moral, dan latar belakang sosial budaya:

  1. Guru dapat mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya,
  2. Guru memastikan bahwa semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran,
  3. Guru dapat mengatur kelas untuk memberikan kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan kemampuan belajar yang berbeda,
  4. Guru mencoba mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik untuk mencegah agar perilaku tersebut tidak merugikan peserta didik lainnya,
  5. Guru membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan peserta didik,
  6. Guru memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu agar dapat mengikuti aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik tersebut tidak termarjinalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dsb).

Guru mampu menetapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif sesuai dengan standar kompetensi guru. Guru mampu menyesuaikan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan memotivasi mereka untuk belajar:

  1. Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai materi pembelajaran sesuai usia dan kemampuan belajarnya melalui pengaturan proses pembelajaran dan aktivitas yang bervariasi,
  2. Guru selalu memastikan tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran tertentu dan menyesuaikan aktivitas pembelajaran berikutnya berdasarkan tingkat pemahaman tersebut,
  3. Guru dapat menjelaskan alasan pelaksanaan kegiatan/aktivitas yang dilakukannya, baik yang sesuai maupun yang berbeda dengan rencana, terkait keberhasilan pembelajaran,
  4. Guru menggunakan berbagai teknik untuk memotiviasi kemauan belajar peserta didik,
  5. Guru merencanakan kegiatan pembelajaran yang saling terkait satu sama lain, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran maupun proses belajar peserta didik,
  6. Guru memperhatikan respon peserta didik yang belum/kurang memahami materi pembelajaran yang diajarkan dan menggunakannya untuk memperbaiki rancangan pembelajaran berikutnya.

Guru mampu  menyusun silabus sesuai dengan tujuan terpenting kurikulum dan menggunakan RPP sesuai dengan tujuan dan lingkungan pembelajaran. Guru  mampu memilih, menyusun, dan menata materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik:

  1. Guru dapat menyusun silabus yang sesuai dengan kurikulum,
  2. Guru merancang rencana pembelajaran yang sesuai dengan silabus untuk membahas materi ajar tertentu agar peserta didik dapat mencapai kompetensi dasar yang ditetapkan,
  3. Guru mengikuti urutan materi pembelajaran dengan memperhatikan tujuan pembelajaran,
  4. Guru memilih materi pembelajaran yang: (1) sesuai dengan tujuan pembelajaran, (2) tepat dan mutakhir, (3) sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar peserta didik, (4) dapat dilaksanakan di kelas dan (5) sesuai dengan konteks kehidupan sehari‐hari peserta didik.

Guru mampu menyusun dan melaksanakan rancangan pembelajaran yang mendidik secara lengkap. Guru mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Guru mampu menyusun dan menggunakan berbagai materi pembelajaran dan sumber belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik. Jika relevan, guru memanfaatkan teknologi informasi komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran:

  1. Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran sesuai dengan rancangan yang telah disusun secara lengkap dan pelaksanaan aktivitas tersebut mengindikasikan bahwa guru mengerti tentang tujuannya,
  2. Guru melaksanakan aktivitas pembelajaran yang bertujuan untuk membantu proses belajar peserta didik, bukan untuk menguji sehingga membuat peserta didik merasa tertekan,
  3. Guru mengkomunikasikan informasi baru (misalnya materi tambahan) sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar peserta didik,
  4. Guru menyikapi kesalahan yang dilakukan peserta didik sebagai tahapan proses pembelajaran, bukan semata‐mata kesalahan yang harus dikoreksi. Misalnya: dengan mengetahui terlebih dahulu peserta didik lain yang setuju/tidak setuju dengan jawaban tersebut, sebelum memberikan penjelasan tentang jawaban yamg benar,
  5. Guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai isi kurikulum dan mengkaitkannya dengan konteks kehidupan sehari‐hari peserta didik,
  6. Guru melakukan aktivitas pembelajaran secara bervariasi dengan waktu yang cukup untuk kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan belajar dan mempertahankan perhatian peserta didik,
  7. Guru mengelola kelas dengan efektif tanpa mendominasi atau sibuk dengan kegiatannya sendiri agar semua waktu peserta dapat termanfaatkan secara produktif,
  8. Guru mampu memanfaatkan audio‐visual (termasuk TIK) untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menyesuaikan aktivitas pembelajaran yang dirancang dengan kondisi kelas,
  9. Guru memberikan banyak kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya, mempraktekkan dan berinteraksi dengan peserta didik lain,
  10. Guru mengatur pelaksanaan aktivitas pembelajaran secara sistematis untuk membantu proses belajar peserta didik. Sebagai contoh: guru menambah informasi baru setelah mengevaluasi pemahaman peserta didik terhadap materi sebelumnya, dan
  11. Guru menggunakan alat bantu mengajar, dan/atau audio‐visual (termasuk tik) untuk meningkatkan motivasi belajar pesertadidik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Pengertian Reward and Punishment menurut Syaiful Sagala (2012;88) supervisi pembelajaran ialah usaha untuk memeperbaiki situasi belajar mengjar, yaitu supervisi sebagai bantuan bagi guru dalam meningkatkan kualitas mengajar untuk membantu peserta didik agar lebih baik dalam belajar. Menurut Ngalim Purwanto (2014;76) ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Dalam buku Reward and Punishment Impelmentasi Kurikulum 2013 Bagi Kepala Sekolah (2014;3) menjelaskan bahwa Reward and Punishment adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pendapat dari beberapa ahli memberikan pengertian bahwa supervisi merupakan bantuan dalam rangka perbaikan dan pengembangan situasi belajar mengajar agar proses pembelajaran berlangsung efektif dan efisien. Dalam hal ini supervisi pembelajaran lebih ditekankan sebagai usaha memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki pembelajaran.

Berdasarkan dari beberapat pendapat para ahli peneliti menyimpulkan bahwa Reward and Punishment ialah aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu guru dalam meningkatkan kualitas mengajar secara efektik guna membantu peserta didik agar lebih baik dalam belajar dan dapat mewujudkan tujuan belajar yang ditetapkan.

Menurut Moh Rifai, M.A. (dalam Ngalim Purwanto 2014;117) prinsip-prinsip supervisi sebagai berikut:(1) Bersifat konstruktif dan kreatif, (2) Realitas dan mudah dilaksanakan, (3) Sederhana dan informal, (4) Memberikan rasa aman kepada guru dan pegawai sekolah, (5) Bersifat profesional bukan pribadi, (6) Memperhitungkan sikap kesanggupan, sikap, dan mungkin prasangka guru, (7) Tidak bersifat otoriter, (8) Tidak didasarkan kekuasaan pangkat, kedudukan, dan kekuasaan pribadi, (9) Tidak boleh mencari kesalahan dan kekurangan, (10) Tidak teralalu cepat mengharapkan hasil dan tidak boleh lekas merasa kecewa, (11) Bersifat prefentif, korektif, kooperatif.

Tujuan supervisi diantaranya adalah : (1) meningkatkan disiplin kerja secara luas (2) memecahkan masalah – masalah yang dihadapi guru di dalam kelas (3) membantu guru mengembangkan kompetensinya, (4) mengembangkan kurikulum, (5) mengembangkan kelompok kerja guru, dan meningkatkan serta memotivasi kerja guru (6) membimbing pengembangan profesi guru (7) mewujudkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan dalam tugas.

Manfaat supervisi bagi kepala sekolah itu sendiri adalah untuk memberikan informasi dan memberikan wawasan mengenai supervisi akademik teknik individu kaitannya dengan peningkatan kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Kepala Sekolah akan mampu melakukan analisa terhadap kekurangan dan kelemahan yang di hadapi guru dalam menysusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Dengan hal tersebut Kepala Sekolah akan dapat ikut serta memecahkan masalah-masalah manajemen kelas bersama guru.

Manfaat supervisi oleh Kepala Sekolah bagi guru adalah untuk melakukan identifikasi terhadap berbagai kekurangan serta potensi yang ada pada diri guru itu sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai kaca benggala dan introspeksi diri dalam meningkatkan kompetensinya. Dengan guru mengenali kekurangan serta mengetahui potensi diri maka dapat dijadikan sebagai refleksi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya di kelas.

Sedangkan manfaat supervisi yang dilaksanakan Kepala Sekolah bagi siswa adalah untuk memberikan motivasi belajar para siswa serta adanya perhatian Kepala Sekolah terhadap siswa sehingga mampu memberikan pelayanan dalam pembelajaran yang berdampak meningkatnya prestasi belajar siswa .

Teknik supervisi dekelompokan menjadi dua yaitu teknik individu dan teknik kelompok. Pemberian Reward and Punishment adalah pelaksanaan supervisi perseorangan terhadap guru. Pemberian Reward and Punishment terdiri atas lima macam yaitu kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan individu, kunjungan antar kelas, dan menilai diri sendiri.

Berhubungan dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Pelaksanaan Pembelajaran Disekolah untuk guru di SD Negeri 1 Candi , peneliti melakukan tindakan Penelitian Tindakan Sekolah menggunakan Pemberian Reward and Punishment untuk meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Pelaksanaan Pembelajaran. Hal ini dilaksanakan agar proses belajar mengajar berjalan lebih efektif.

Berdasarkan latar belakang dan kajian teori di atas dapat ditarik hipotesis tindakan sebagai berikut :

  1. Melalui Pemberian Reward and Punishment oleh Kepala Sekolah SD Negeri 1 Candi diduga dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah .
  2. Melalui Pemberian Reward and Punishment oleh Kepala Sekolah SD Negeri 1 Candi diduga dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah .

Indikator bahwa guru telah memiliki kompetensi yang baik jika diprosentase secara keseluruhan tugas aktivitas guru dalam pembelajaran telah mencapai 80 % seluruh guru persyaratan tersebut terpenuhi.

Sedangkan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran disekolah adalah sebagai berikut :

  1. Guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran disekolah diprosentase secara keseluruhan telah mencapai ≤ 80 % dari seluruh guru SD Negeri 1 Candi terpenuhi
  2. Pelaksanaan pembelajaran dapat melibatkan siswa secara aktif yang ditunjukkan dengan respons yang antusias dalam pembelajaran baik secara individu, klasikal maupun dalam kelompok diprosentase secara keseluruhan telah mencapai ≤ 80 % seluruh guru di SD Negeri 1 Candi .

IV. HASIL PENELITIAN

Peneliti mengadakan penilaian terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah dibuat oleh guru menggunakan lembar penilaian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang digunakan dalam penilaian Kompetensi profesional Guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran. Hasil penilaian rata – rata sebesar pada studi awal untuk penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah 62,76 % dan pelaksanaan pembelajaran mencapai 64,29 %. Sedangkan pada siklus pertama setelah dilakukan Pemberian Reward and Punishment penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah 76,53 % dan pelaksanaan pembelajaran mencapai 74,29 %. Tingkat keberhasilan diperoleh pada siklus kedua setelah adanya musyawarah antara Kepala Sekolah dan Guru dalam Pemberian Reward and Punishment dengan memperoleh hasil yang optimal yakni penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah 86,22 % dan pelaksanaan pembelajaran mencapai 87,86 %. Rekapitulasi tingkat pencapaian keberhasilan guru dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Pelaksanaan Pembelajaran dari Studi Awal sampai Siklus Kedua, dalam upaya guru menyusun rencana pembelajaran, guru dalam melaksanakan kegitatan pembelajaran. Tingkat pencapaian Kompetensi profesional Guru dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembalajaran dan pelaksanaan pembelajaran sebagaimana pembelajaran berlangsung secara efektif dapat dibuktikan adanya peningkatan kinerja dari studi awal sampai siklus kedua. Kompetensi profesional Guru dalam proses pembelajaran menunjukkan peningkatan sehingga sampai tindakan siklus kedua dihentikan karena penilaian secara kumulatif untuk pelaksanaan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran telah mencapai 86,22 % dan pelaksanaan pembelajaran mencapai 87,86 %. Hal tersebut membuktikan bahwa pelaksanaan Pemberian Reward and Punishment dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru SD Negeri 1 Candi Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan pelaksanaan pembelajaran. Selain itu pembelajaran berjalan sesuai PAKEM yaitu baik siswa maupun guru selalu aktif, terlihat kreatif, dan pembelajaran efektif serta menyenangkan.

Simpulan

Berdasarkan deskripsi hasil setiap siklus dan pembahasan hasil penlitian, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

  1. Melalui Pemberian Reward and Punishment Kepala Sekolah terhadap 7 orang guru SD Negeri 1 Candi semester 2 tahun pelajaran 2019/2020 dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di sekolah , karena hasil penilaian terhadap guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran mencapai 86,22 % sudah melebihi dari indikator yang telah ditetapkan.
  2. Melalui Pemberian Reward and Punishment Kepala Sekolah terhadap 7 orang guru SD Negeri 1 Candi semester 2 tahun pelajaran 2019/2020 dapat meningkatkan Kompetensi profesional Guru dalam Pelaksanaan Pembelajaran di sekolah , karena hasil penilaian terhadap guru dalam pelaksanaan pembelajaran mencapai 87,86 % sudah melebihi dari indikator yang telah ditetapkan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2003. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional

Anonim, 2005. Undang –undang No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

http://penilaian-kinerja-guru.blogspot.com/2012/02/proses-pembelajaran-efektif.html, searching, 6 Maret 2019.

Abdul Majid, 2014. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Moleong, 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nana Sujana, dkk, (2011), Buku Kerja Pengawas Sekolah. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional.

Biodata Penulis

Nama : Sutriyono, S.Pd.SD.

Unit Kerja : SD Negeri 1 Candi

By admin

You cannot copy content of this page