Iklan

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH DASAR DALAM MENYUSUN RENCANA KERJA TAHUNAN (RKT) MELALUI PEMBINAAN IN HOUSE TRAINING DI GUGUS GEMPITA KORWILCAM DINDIK PURWOJATI PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Oleh : Surtini, S.Pd,M.Pd.

Abstrak

Masalah yang akan diteliti adalah 1) Apakah In House Training dapat meningkatkan kompetensi dalam menyusun RKT bagi kepala sekolah di Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati pada semester I tahun pelajaran 2019/2020?, 2) Bagaimana tindakan In House Training yang dilakukan pengawas SD? Tujuan umum untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kemampuan pengembangan profesi pengawas, sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui upaya peningkatan kompetensi Kepala SD dalam menyusun RKT melalui In House Training oleh pengawas SD dan mengetahui tindakan In House Training yang dilakukan pengawas SD. Prosedur tindakan yang dilakukan meliputi dua siklus. Langkah-langkah setiap siklus adalah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, serta refleksi. Tindakan In House Training dilakukan kepada subjek penelitian 8 Kepala SD se Gugus Gempita, sedangkan sebagai pengamat atau kolaborator adalah teman sejawat yaitu Pengawas SD Gugus Permadani dan salah satu subjek penelitian

Hasil PTS menunjukkan bahwa In House Training dapat meningkatkan kompetensi kepala SD dalam menyusun RKT. Hal tersebut dibuktikan dengan : 1) Meningkatnya kompetensi menyusun RKT dari rata-rata skor 24,3 (kurang layak) menjadi 45,2 (layak). Skor tersebut lebih tinggi dari indikator kinerja dalam penelitian ini yaitu skor rata-rata kompetensi menyusun RKT sebesar 43. 2). Tindakan In House Training maksimal karena naik dari skor 0 (tidak ada tindakan) menjadi 55,5 (maksimal). Skor tersebut melampaui indikator kinerja dalam penelitian ini yaitu rata-rata tindakan dilakukan peneliti sebesar 47. Berdasarkan hasil tersebut maka “ In House Training dapat meningkatkan kompetensi menyusun RKT bagi kepala sekolah di Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati Kabupaten Banyumas pada semester I Tahun Pelajaran 2019/2020”, terbukti benar. Implikasi penelitian ini dapat meningkatkan kompetensi kepala sekolah dan pengawas. Bagi pengawas yang memiliki problema sama dengan peneliti dapat, mencoba melakukan tindakan yang sama.

Kata kunci: In House Training, kompetensi kepala sekolah, Rencana Kerja Tahunan

PENDAHULUAN

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikkan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, diamanatkan bahwa seorang kepala sekolah harus memiliki standar kompetensi yang sudah ditetapkan. Kompetensi meliputi: Kompetensi Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi, dan Sosial. Kepala sekolah memiliki peran strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru dan mutu pendidikan di sekolah. Dalam buku Panduan Kerja Kepala Sekolah yang diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar dan Menengah menguraikan bahwa Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu :(1) mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri kepada para guru, staf dan peserta didik dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, 2) memberikan bimbingan dan mengarahkan para guru, staf dan peserta didik, serta memberikan dorongan , memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi dalam mencapai tujuan

Keberhasilan kepala sekolah dalam memimpin lembaganya akan terlihat dalam pelaksanaan tugas pokoknya antara lain: (1) menyusun dan atau menyempurnakan visi, misi dan tujuan sekolah;(2) menyusun struktur organisasi sekolah; (3) menyusun peraturan sekolah; (4) mengembangkan sistem informasi manajemen dan (5) menyusun Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). RKT yang disusun oleh kepala sekolah dengan melibatkan semua stakeholder diharapkan dapat menjadi acuan pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam upaya peningkatan mutu di sekolah tersebut.

Dari hasil monitoring dan supervisi peneliti selaku pengawas di Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati terlihat dari 8 SD ada 3 sekolah (37,5%) sudah menyusun RKT namun secara kualitas tidak layak karena dokumen tidak sesuai dengan panduan yang ditentukan dan hanya mengcopypaste dari sekolah lain yang jelas berbeda visi.misi, tujuan serta program kegiatannya. Artinya dari 8 sekolah, belum satupun (0%) yang menyusun RKT yang layak.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pengawas kepala sekolah selaku manager belum memahami tentang alur penyusunan RKT yang benar sehingga dalam pelaksanaannya tidak sesuai ketentuan. Kepala sekolah tidak dapat mengelak ketika dari hasil monev BOS ditemukan kejanggalan antara program dan kenyataan yang ada di sekolah. Sebagai contoh sarana pembelajaran yang tidak dimiliki tidak diprogramkan sementara ada pos-pos anggaran yang terprogram berulang kali. Rekomendasi yang ada pada hasil EDS tidak ditindaklanjuti pada penyusunan RKT.Masalah tersebut harus segera dipecahkan, maka pengawas ingin melakukan penelitian tindakan terhadap 8 kepala SD untuk menyusun RKT.

Tujuan secara umum untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kemampuan pengembangan profesi pengawas, sedangkan tujuan khususnya adalah untuk mengetahui peningkatan kompetensi kepala sekolah dalam menyusun RKT melalui In House Training oleh pengawas SD dan mengetahui tindakan yang dilakukan pengawas.

B. Kajian Pustaka

1. Kajian Teori

Kompetensi Kepala Sekolah

Kepala sekolah memegang peran sentral dalam menghimpun, memanfaatkan dan menggerakkan secara optimal seluruh potensi dan sumber daya yang terbatas untuk membawa sekolah dan masyarakat sekolah yang dikelolanya mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk keberhasilan dalam melaksanakan tugasnya, seorang kepala sekolah harus memiliki kemampuan manajerial yang handal dan memiliki kepribadian yang baik serta dapat memainkan berbagai peran yang sesuai dengan karakteristik sekolah yang dipimpin. Pelaksanaan peran, fungsi dan tugas tersebut tidak dapat dipisahkan satu dan yang lain karena saling terkait dan saling mempengaruhi serta menyatu dalam pribadi seorang kepala sekolah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 13 tahun 2007 tanggal 17 April 2007 tentang standar kepala sekolah, menyebutkan bahwa kepala sekolah harus mempunyai dimensi kompetensi: (a) Kepribadian, (b) Manajerial, (c) Kewirausahaan, (d) Supervisi, dan (e) Sosial.

Dalam dimensi kompetensi manajerial, kepala sekolah harus dapat merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin, mendayagunakan seluruh sumber daya, mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran, serta mengendalikan organisasi dalam rangka pencapaianan tujuan pendidikan. Penyusunan RKT merupakan rangkaian kegiatan yang bersifat internal yang melibatkan stake holders harus disusun oleh kepala sekolah dan dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan merupakan kompetensi kepala sekolah yang harus dipenuhi

Rencana Kerja Tahunan (RKT)

Dalam buku Panduan Kerja Kepala Sekolah yang diterbitkan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan diuraikan bahwa RKT adalah rencana kerja sekolah dalam satu tahun sebagai skala prioritas dari RKJM. Rencana Kerja Tahunan dapat dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah sebagai istilah lain dari rencana anggraran penerimaan dan belanja sekolah.

Rencana Kerja Tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. RKT memuat ketentuan yang jelas mengenai kesiswaan, kurikulum dan kegiatan pembelajaran, pendidik dan tenaga kependidikan serta pengembangannya, sarana dan prasarana, keuangan, pembiayaan, budaya, lingkungan sekolah dan peran serta masyarakat dan kemitraan serta rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu.

Rencana Kerja Tahunan merupakan salah satu rencana kerja sekolah yang dijadikan dasar pengelolaan sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas.Rencana kerja tahunan disetujuai oleh rapat dewan pendidik setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah dan disahkan berlakunya oleh Dinas Pendidikan bagi sekolah negeri dan oleh penyelenggara sekolah bagi sekolah swasta. Rencana Kerja Tahunan memuat ketentuan yang jelas mengenai 1) Kesiswaan, 2) Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran, 3) Pendidik dan Tenaga Kependidikannya, 4) Sarana Prasarana, 5)Keuangan dan Pembiayaan, 6) Budaya dan Lingkungan Sekolah, 7) Peran serta Masyarakat dan Kemitraan, 8) Rencana kerja lain yang mengarah kepada peningktan dan pengembangan mutu.

Untuk menyusun RKT yang sempurna harus diawali dengan perencanaan yang tepat sesuai dengan konsep manajemen secara umum, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), menggerakkan atau memimpin (actuating atau leading), dan pengendalian (controlling). RKT yang disusun sekolah pada intinya sebagai pedoman kerja (kerangka acuan) dalam mengembangkan sekolah dan upaya penentuan mencapai tujuan.Untuk penyusunan RKT harus diawali dengan EDS oleh TPS dibawah tanggung jawab kepala sekolah.Hal ini dilakukan agar program yang dicantumkan dalam RKT benar-benar merujuk pada kebutuhan sekolah.

Penyusunan RKT mengacu Permendiknas No. 19/2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan menyebutkan, bahwa setiap sekolah memiliki kewajiban untuk membuat Rencana Kerja Jangka Menengah (4 tahun) dan Rencana Kerja Tahunan/Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah. Sejalan dengan standar pengelolaan tersebut, sekolah harus menyusun RKS yang meliputi Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM), Rencana Kerja Tahunan (RKT), serta Rencana Kerja dan Anggaran sekolah (RKAS).

RKJM merupakan program kerja sekolah yang akan dicapai selama empat tahun, dan kemudian dijabarkan menjadi program kerja tahunan yang disebut RKT. Untuk mewujudkan program tersebut, sekolah menyusun rencana kerja yang disesuaikan dengan anggaran penerimaan sekolah yag disebut RKAS/RAPBS.

In House Training

Danim (2012:94) berpendapat bahwa IHT adalah pelatihan yang dilaksanakan secara internal di kelompok kerja guru, sekolah atau tempat lain yang ditetapkan untuk menyelenggarakan pelatihan. Basri dan Rusdiana (2015:227) mengemukakan bahwa In House Training adalah program pelatihan yang diselenggarakan di tempat peserta pelatihan atau di sekolah dengan mengotimalkan potensi-potensi yang ada, menggunakan peralatan kerja peserta pelatihan dengan materi yang relevan dan permasalahan yang dihadapi, sehingga diharapkan peserta dapat lebih mudah menyerap dan mengaplikasikan materi untuk menyelesaikan dan mengatasi permasalahan yang dialami dan mampu secara langsung meningkatkan kualitas dan kinerjanya.

Pengertian IHT menurut Danim menitik beratkan pada tempat pelaksanaannya sedangkan menurut Basri dan Rusdiana selain menjelaskan tempat juga menjelaskan tujuan agar kualitas dan kinerja secara langsung bisa meningkat. Sebenarnya kalau dikaji pendapat ini tidak secara otomatis benar karena peningkatan kinerja membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama tidak serta merta pada saat pelatihan. Hal ini sejalan dengan pendapat Musfah ( 2011:82) bahwa pelatihan pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan kompetensi, akan tetapi untuk melahirkan sesorang yang kompeten memerlukan waktu yang tidak sedikit.

Istilah In House Training sama pengertiannya dengan in-service training. Menurut Nawawi (2003) in-service training sebagai usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam bidang tertentu sesuai dengan tugasnya agar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam bidang tersebut. Program in-service training ini diperlukan karena banyak guru-guru muda yang belum mendapat pengalaman dan bekal yang cukup dalam menghadapi pekerjaannya. Agar program in-service training ini efektif memerlukan manajemen pelatihan.

Berdasarkan penjabaran dari pengertian-pengertian IHT, maka dapat disimpulkan bahwa IHT adalah pelatihan yang dilakukan secara internal oleh organisasi tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja atau kompetensi sesuai dengan bidang tugasnya. Berkaitan dengan langkah-langkah IHT, Marwansyah (2012:170), menjelaskan bahwa IHT dilakukan melalui 3 fase, yaitu fase perencanaan, fase proses penyelenggaraan dan fase evaluasi.

Strategi pembinaan melalui In House Training dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa sebagian kemampuan dalam meningkatkan kompetensi dan karir guru tidak harus dilakukan secara eksternal, tetapi dapat dilakukan oleh guru yang memiliki kompetensi yang belum dimiliki oleh guru yang lain.

Secara umum, tujuan In House Training yaitu untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang didayagunakan instansi terkait, sehingga pada akhirnya dapat lebih mendukung dalam upaya pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Sasaran pelatihan internal ini antara lain : menciptakan interaksi antara peserta di lingkungan instansi yang terkait serta mempererat rasa kekeluargaan/kebersamaan, meningkatkan motivasi baik bagi peserta maupun bagi narasumber untuk membiasakan budaya pembelajaran yang berkesinambungan, untuk mengeksplorasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi di lapangan yang berkaitan dengan peningkatan efektifitas kerja, sehingga dapat diformulasikan solusi pemecahannya secara bersama-sama.

Kerangka Berpikir

C. Metode Penelitian

1. Setting Penelitian

a. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan ini dilakukan di Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati, Kabupaten Banyumas yang terdiri dari 8 SD yaitu: SDN 1 Karangmangu, SDN 2 Karangmangu, SDN 3 Karangmangu, SDN Kaliputih, SDN 1 Kaliwangi, SDN 2 Kaliwangi, SDN 1 Kalitapen, SDN 2 Kalitapen

b.Waktu Penelitian

Semester I Tahun pelajaran 2019/2020 ( Juli-Oktober 2019)

c. Subjek Penelitian

Kepala SD di Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati Kabupaten Banyumas

Sumber Data

Data kompetensi menyusun RKT diperoleh dari hasil penilaian terhadap dokumen RKT yang disusun oleh subjek penelitian. Data tindakan In House Training adalah pengamatan/penilaian kolaborator dan subjek penelitian terhadap kegiatan yang dilakukan peneliti kepada subjek penelitian, dengan menggunakan lembar pengamatan.

Teknik dan Alat Pengumpul Data

Pengumpulan data kompetensi menyusun RKT dilakukan dengan teknik evaluasi terhadap dokumen RKT yang disusun subjek penelitian. Instrumen penilaian dokumen terdiri dari 13 indikator. Penilaian terhadap dokumen RKT dilakukan oleh peneliti. Pengumpulan data tindakan In House Training menggunakan teknik pengamatan oleh kolaborator dan salah satu subjek penelitian. Alat untuk melakukan pengamatan menggunakan lembar pengamatan.

Validasi/Triangulasi Data

Dengan terlebih dahulu membuat kisi-kisi instrumen, maka data yang diambil dengan instrumen tersebut telah memenuhi validitas isi ( content). Sedangkan proses triangulasi data untuk data keberhasilan In House Training dilakukan dengan mencari lebih dari satu sumber

2. Analisis Data

a. Analisis Kompetensi Menyusun RKT

Setiap indikator dalam dokumen RKT diberi skor 4 jika layak , skor 3 jika cukup layak, skor 2 jika kurang layak dan skor 1 jika tidak layak. Dengan 13 indikator maka skor tertinggi 13×4=52 dan skor terendah 13×1=13. Rentang kategorinya adalah skor 13-22 ( tidak layak), skor 23-32 ( kurang layak), skor 33-42 (cukup layak) dan skor 43-52 layak.

b. Data Tindakan In House Training

Jumlah butir lembar pengamatan terhadap tindakan pendampingan sebanyak 20 butir. Setiap butir mendapat skor 3 jika indikator keberhasilan maksimal, skor 2 jika tampak kurang maksimal, dan skor 1 jika indikator tidak tampaksehingga total skor tindakan In House Training berkisar antara 20 sampai 60. Rentangan kategori sesuai skor perolehannya adalah jika skor 20-32 ( tidak tampak), skor 33-46 (kurang maksimal), 47-60 (maksimal)

c. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui tindakan pendampingan sebanyak 2 siklus. Tiap- tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/evaluasi dan refleksi

d. Indikator Keberhasilan

Tindakan dalam penelitian ini dapat dikatakan berhasil jika terdapat bukti peningkatan kompetensi kepala sekolah dalam menyusun RKT setelah dilakukan In House Training dengan kriteria sebagai berikut:

  1. Skor rata-rata kompetensi menyusun RKT sebesar 43 dari total skor 52
  2. Skor rata-rata tindakan In House Training sebesar 47 dari total skor 60

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Kompetensi Kepala Sekolah dalam Menyusun RKT

Berdasarkan hasil supervisi manajerial yang dilaksanakan sebelum tindakan, dapat diketahui bahwa kondisi kuantitas kemampuan menyusun RKT dari subjek penelitian hanya 37,5% karena dari 8 kepala sekolah hanya ada 3 dokumen RKT yang disusun. Setelah di telaah menggunakan instrumen terstandar ternyata hanya mendapat skor 24,3 atau 46,7% sehingga masuk kategori kurang layak

b.Tindakan In House Training

Peneliti sudah pernah melakukan semacam In House Training tentang penyusunan RKT kepada kepala sekolah di Gugus binaan peneliti, namun karena hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga hasilnya kurang efektif. Karena hanya sekedar ceramah sehingga tidak ada tindak lanjut dari peserta atau dengan kata lain secara fisik tidak ada hasilnya sama sekali. Oleh sebab itu peneliti menganggap tindakan In House Training belum dilakukan sehingga skor awal bernilai nol.

Deskripsi Siklus I

Perencanaan Tindakan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan materi untuk pelaksanaan IHT. Disamping itu, peneliti menyiapkan instrumen penelitian yang akan digunakan oleh kolaborator dan seorang perwakilan dari subjek penelitian serta lembar evaluasi untuk menilai tingkat kelayakan RKT. Peneliti mengadakan rapat koordinasi dengan 8 subjek penelitian dan kolaborator untuk menyusun kesepakatan teknik, waktu dan tempat kegiatan IHT. Hasil rapat tersebut disepakati bahwa IHT akan dilaksanakan pada hari kerja sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada tanggal 29 Juli dan 7 Agustus 2019 di SDN 1 Karangmangu. Disepakati pula bahwa peneliti melakukan pembimbingan In House Training secara kolektif.

Pelaksanaan Tindakan

In House Training yang pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2019. Bertempat di SDN 1 Karangmangu kepala sekolah berkumpul untuk mendapat sosialisasi. Hadir 8 (sembilan) kepala sekolah yang menjadi subjek penelitian. Diawali dengan apersepsi berupa tanya jawab tentang kegiatan sekolah yang sudah dilaksanakan dan permasalahan yang dialami masing – masing sekolah. Sesi berikutnya peneliti menyampaikan materi tentang pentingya RKT bagi kelancaran pengelolaan sekolah serta tahapan-tahapan yang harus dilakukan pada saat penyusunan RKT diantaranya: Sekolah harus membentuk tim pengembang sekolah, selanjutnya melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) baik menggunakan format yang sudah baku maupun yang di susun sendiri oleh tim pengembang. Dari hasil EDS dapat diketahui indikator-indikator pada SNP yang sudah tercapai dan yang belum terpenuhi. Selanjutnya kepala sekolah beserta tim pengembang menganalisa hasil EDS yang selanjutnya dibuat rekomendasi sebagai dasar penyusunan RKT.

Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 2019. Pada pelatihan lanjutan ini peneliti menyampaikan materi tentang buku-buku tau panduan yang digunakan dalam penyusunan RKT. Selain itu peneliti mengajak kepala sekolah untuk meneliti contoh RKT disesuaikan dengan penjelasan peneliti pada pertemuan yang lalu. Selanjutnya terjadi tanya jawab untuk memperjelas dan menambah pemahaman kepala sekolah. Pada umumnya kepala sekolah menyampaikan permasalahan tentang cara menentukan rekomendasi yang harus diangkat menjadi program tahunan, pembatasan jumlah program dan cara menyusun analisi konteks.

Kegiatan dilanjutkan dengan arahan kepada semua subjek penelitian untuk menyusun RKT untuk sekolah masing-masing. Dalam penyusunan ini, setiap subjek penelitian menyusun sendiri RKT dengan acuan panduan penyusunan RKT dan dari hasil penjelasan peneliti tentang penyusunan RKT. Waktu yang diberikan untuk menyusun dan mengumpulkan RKT maksimal sampai tanggal 20 Agustus 2019..

Hasil Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan ada 2 macam, yaitu pengamatan yang dilakukan peneliti terhadap hasil RKT yang disusun kepala SD dan pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator.Hasil evaluasi tersebut tertulis di tabel 4.2 berikut ini

Tabel 4.2 Kompetensi Menyusun RKT pada Subjek Penelitian Setelah Tindakan In House Training pada Siklus I

No Subjek Skor Penelitian Rata-Rata Kategori
peneliti kolaborator
1 A 38 38 38 Cukup layak
2 B 36 35 35,5 Cukup layak
3 C 43 45 44 Layak
4 D 44 42 43 Layak
5 E 44 40 42 layak
6 F 38 36 37 Cukup layak
7 G 43 43 43 Layak
8 H 45 43 44 Layak
41,37 40,25 40,81 Cukup layak

sumber: Hasil evaluasi RKT

Berdasarkan hasil evaluasi di atas dapat diketahui bahwa dari 8 dokumen yang disusun setelah dievaluasi menggunakan instrumen yang sudah disiapkan rata-rata memiliki tingkat kelayakan dengan skor 40,81 Dengan angka ini maka rata –rata masuk kategori cukup layak.

Hasil pengamatan dari pengawas Gugus Permadani selaku kolaborator serta pengamatan dari salah satu subjek penelitian sebagai triangulasi data, dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Tindakan In House Training Penyusunan RKT pada Siklus 1

No Pengamat Tindakan IHT Keterangan
Skor Maksimal Skor Perolehan
1 Kolaborator 60 42 Triangulasi
2 Subjek penelitian 60 45
Rata-Rata 43,5 kurang maksimal

Sumber: Hasil pengamatan

Terlihat bahwa skor tindakan IHT dari kolaborator 42 sedangkan dari salah satu subjek penelitian mendapat skor 45 Rata-rata dari kedua pengamat tersebut sebagai skor tindakan adalah 43,5 sehingga masih masuk katagori indikator nampak kurang maksima

Refleksi

Setelah akhir bimbingan di siklus I, selanjutnya peneliti mengundang subjek penelitian untuk mengadakan refleksi. Pada saat tersebut peneliti menjelaskan kelebihan dan kekurangan dokumen RKT yang sudah disusun dan memotivasi bagi kepala sekolah yang belum mencapai kategori layak. selain itu kolaborator juga mengungkapkan evaluasi terhadap tindakan IHT yang dilakukan peneliti.

Untuk mengetahui apakah kemampuan menyusun RKT meningkat, maka hasil pengamatan pada akhir siklus 1 dibandingkan dengan data awal seperti terlihat pada tabel 4,4 berikut ini:

Tabel 4.4 Rata-Rata Data Awal dan Data Akhir Siklus 1

No Data Data

Awal

Siklus

1

Kenaikan %

Kenaikan

Katagori
1 Kemampuan menyusun RKT 24,3 40,8 16,5 31,8 Cukup layak
2 Tindakan IHT 0 43,5 43,5 72,5 kurang maksimal

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui kualitas dokumen naik dari data awal rata-rata skor 24,3 menjadi 40,81. Dengan demikian terjadi kenaikan sebesar 31,8%. Pelaksanaan tindakan yang semula skor rata-rata nol menjadi 43,5 pada akhir siklus I sehingga terjadi peningkatan sebesar 72,5% meskipun tindakan IHT masih nampak kurang maksimal.

Deskripsi Hasil Siklus II

Perencanaan Tindakan

Sesuai dengan perencanaan awal, tindakan pembimbingan melalui In House Training pada siklus ini dilakukan secara individual. Tindakan pembimbingan secara individual dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali. Peneliti menyiapkan materi dan instrumen penyusunan RKT serta instrumen pengamatan untuk kolaborator. Pembimbingan akan dilaksanakan secara individu dalam bentuk diskusi untuk penyempurnaan RKT yang sudah disusun dalam rangka penyempurnaan sampai dengan penjilidan dokumen. Tempat pembimbingan dibeberapa tempat sesuai kesepakatan

Pelaksanaan Tindakan

Pembimbingan pertama dilaksanakan tanggal 28 Agustus 2019 di Korwilcam Dindik Purwojati yang dihadiri 3 (tiga) subjek penelitian. Pada kegiatan ini subjek penelitian membawa RKT yang sudah direvisi pada kegiatan di siklus I untuk didiskusikan dan dikoreksi.. Selanjutnya peneliti membaca dan membetulkan beberapa bagian yang harus di revisi kembali. Hal-hal yang dikoreksi antara lain: penulisan tahun berlakunya RKT, halaman pada daftar isi, halaman pada dokumen, penyempurnaan matrik, kelengkapan lampiran, dan tata tulis. Memang diakui belum semua kepala sekolah mahir mengoperasikan komputer sehingga masih ditemukan kesalahan-kesalahan pada pengetikan.

Pada tanggal 5 September 2019 peneliti hadir di SDN 1 Karangmangu untuk melanjutkan bimbingan pada putaran ke dua. Pada kegiatan ini hadir 3 (tiga) subjek penelitian. Mereka hadir membawa dokumen RKT yang sudah disusun pada siklus I. Peneliti kembali mengoreksi satu persatu dan menyampaikan saran untuk penyempurnaan dokumen. Pada kegiatan ini peneliti jg diamati kepala SDN 3 Karangmangu sebagai kolaborator yang sekaligus peserta dengan setia ikut mendampingi.

Bimbingan secara individu yang ke 3 dilaksanakan di Korwilcam Dindik pada tanggal 12 September 2019. Hadir untuk mengikuti kegiatan 2 (dua) subjek penelitian. Seperti biasa peneliti mengoreksi kembali dokumen yang sudah disusun pada siklus I. Hal-hal yang belum sesuai disarankan untuk disempurnakan kembali selain itu peserta juga mempertanyakan beberapa permasalahan yang dihadapi diantaranya masalah cara menentukan program prioritas dan permasalahan indikator pencapaian.

Tahap akhir kegiatan di siklus II adalah evaluasi terhadap dokumen RKT yang sudah selesai disusun dan disempurnakan. Evaluasi terhadap kelayakan dokumen dilaksanakan pada tanggal 17 September 2019 dengan menggunakan instrumen yang sudah disiapkan.

Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan yang dilakukan kolaborator terhadap pelaksanaan IHT ternyata baik. Sudah banyak peningkatan yang dilakukan peneliti pada saat bimbingan. Selain itu subjek penelitian juga memberikan apresiasi yang cukup bagus dan menyatakan setuju jika model seperti ini dilaksanakan untuk penyusunan administrasi yang lain. Semua kepala sekolah antusias walaupun salah satu diantaranya ada yang akan pensiun di tahun 2020.

Selanjutnya pada tanggal 20 September 2019 peneliti melakukan pembahasan hasil pengamatan yang dilaksanakan terhadap kelayakan dokumen RKT ternyata juga memuaskan, Ada 8 dokumen dari subjek penelitian ditelaah secara cermat sesuai panduan instrumen. Hasil selengkapnya seperti tertulis pada tabel 4.5

Tabel 4.5 Kondisi Kompetensi Menyusun RKT Setelah Tindakan In House Training Siklus II

No Subjek Skor Penelitian Rata-Rata Kategori
peneliti kolaborator
1 A 42 46 44 Layak
2 B 45 41 43 Layak
3 C 45 47 46 Layak
4 D 47 47 47 Layak
5 E 47 43 45 Layak
6 F 43 43 43 Layak
7 G 45 47 46 Layak
8 H 50 46 48 Layak
45,5 45 45,2 Layak

Sumber: Hasil evaluasi dan pengamatan

Terlihat pada tabel di atas bahwa sudah ada 8 dokumen RKT dari subjek penelitian, sehingga data kuantitatif 100%. Data kualitas kelayakan dokumen RKT rata-rata skor 45,2 sehingga dapat disebut layak

Data pengamatan tindakan peneliti dalam membimbing subjek penelitian pada siklus II ini telah diperoleh dengan menghitung skor hasil pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator dan salah satu Kepala SD. Data dari keduanya kemudian di rata-rata. Selain data skor, peneliti juga mendapat laporan lisan bahwa secara umum peneliti telah melakukan pembimbingan dengan baik, menyenangkan dan memuaskan subjek. Perhatikan tabel berikut.

Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Tindakan In House Training Penyusunan RKT pada Siklus II

No Pengamat Tindakan IHT Ket
Skor Maksimal Skor Perolehan
1 Kolaborator 60 55 Triangulasi
2 Subjek Penelitian 60 56
Rata-Rata 60 55,5 Nampak maksimal

Sumber: Hasil pengamatan

Terlihat bahwa skor pengamatan dari kolaborator 55 dan dari salah satu Kepala Sekolah sebesar 56, sehingga rata-rata skor pembimbingan adalah 55,5 masuk dalam katagori sudah nampak maksimal

Refleksi

Pada kegiatan refleksi siklus II, peneliti menyampaikan terimaksih dan kebanggaan karena ternyata kepala sekolah dapat menyusun RKT yang didasari pada hasil EDS. Subjek penelitianpun merasa senang karena kebiasaan lama yang hanya mengcopy paste program tahunan saat ini dapat menyusun sesuai ketentuan dan dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengelolaan sekolah.

Selain secara kuantitas dapat dicapai 100%, kemampuan dalam penyusunan dokumenpun mengalami peningkatan yang signifikan. Berikut ini hasil perbandingan kemampuan subjek penelitian dalam penyusunan RKT seperti terlihat pada tabel 4.7

Tabel 4.7 Rata-rata Data Akhir Siklus I dan Akhir Siklus 1I

No Data Penelitian Siklus

I

Siklus

II

Kenaikan % Kenaikan Katagori
1 Kemampuan menyusun RKT 40,8 45,2 4,4 8,5% layak
2 Tindakan IHT 43,5 55,5 12 20 Nampak maksimal

Melihat hasil siklus II dapat diketahui bahwa sudah 100% subjek menyusun RKT. Dalam segi kualitas sudah meningkat dari skor rata-rata 40,8 pada siklus I meningkat menjadi 45,2 pada akhir siklus II, sehingga termasuk katagori layak,. Terjadi kenaikan sebesar 8,5 % dibanding siklus I. Pada pelaksanaan tindakan, indikator IHT sudah meningkat dari skor 43,5 pada skor I menjadi 55,5 pada akhir siklus II, sehingga nampak maksimal atau mengalami kenaikan 20%.

Pembahasan

Berdasarkan data hasil penelitian tentang penyusunan RKT dapat diketahui dengan jelas tentang perbandingan masing-masing variabel dari data awal, data hasil siklus I dan data hasil siklus II seperti terlihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8 Rata-Rata Data Awal, Akhir Siklus I dan Akhir Siklus II

No Data Penelitian Data Awal Siklus

I

Siklus

II

Total Kenaikan Ket
1 Kemampuan menyusun RKT 24,3 40,8 45,2 40,2% Layak
2 In House Training 0 43,5 55,5 92,5% Nampak maksimal

Dari tabel diatas dapat diketahui terjadi peningkatan dalam hal kompetensi kepala sekolah dalam menyusun RKT yang dibuktikan dengan skor kelayakan dokumen RKT dari data awal skor 24,3 menjadi 40,8 pada siklus I dan mencapai skor 45,2 pada akhir siklus II. Terbukti ada kenaikan keseluruhan sebesar 40,2%. kualitas dokumen pada data awal termasuk kategori kurang layak dan pada akhir siklus II rata-rata dokumen masuk kaegori layak.

Dalam hal tindakan In House Training yang dilakukan peneliti juga mengalami perubahan. Pada awal belum ada skor dari tindakan. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I maka diperoleh skor dari tindakan sebesar 43,5 dan masuk kategori belum maksimal. Namun pada akhir siklus II mendapat skor 55,5 dan masuk kategori nampak maksimal. Jika dibandingkan antara data awal dan data siklus II maka terjadi kenaikan sebesar 92,5%.

Dari tabel dan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kompetensi kepala SD dalam menyusun RKT telah berhasil. Hal ini dibuktikan dengan semangatnya semua subjek penelitian dalam mengikuti bimbingan dan dapat menghasilkan dokumen RKT yang layak.

Tindakan peneliti dalam membimbing subjek melalui In House Training yang semula dilakukan dengan indikator kurang maksimal pada siklus I dapat meningkat pada kategori maksimal. Hal ini terjadi karena pada siklus II peneliti beserta subjek penelitian berdiskusi bersama secara intensif untuk memperbaiki dokumen RKT yang sudah disusun pada siklus I.

Hasil Tindakan

Dari pembahasan di atas, maka dapat dilaporkan bahwa tindakan In House Training dapat meningkatkan kompetensi menyusun RKT pada kepala SD di wilayah Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati. Sebagi bukti fisik adanya tindakan ini adalah dokumen RKT beserta proses penyusunannya.

Jika melihat data hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa keberhasilan tindakan In House Training jika dibandingkan dengan indikator pada bab III, telah melebihi target. Perhatikan diagram bagan berikut.

Diagram 1 Indikator dan hasil tindakan pembimbingan

Berdasarkan kenyataan tersebut maka rumusan masalah pada bab I dapat dipecahkan atau dijawab, yaitu:

  1. Kompetensi kepala SD dalam menyusun RKT dapat ditingkatkan melalui In House Training Pengawas SD.
  2. Tindakan In House Training yang dilakukan Pengawas SD nampak maksimal.

Simpulan dan Saran

Simpulan

Kepala SD di wilayah Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati belum menyusun RKT yang sesuai ketentuan. Kompetensi SD rendah karena kurangnya bimbingan dari pengawas SD. Masalah tersebut dipecahkan dengan melakukan penelitian tindakan sekolah yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kompetensi Kepala Sekolah Dasar dalam Menyusun Rencana Kerja Tahunan (RKT) melalui Pembinaan In House Training di Gugus Gempita Korwilcam Dindik Purwojati pada semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020” Tindakan In House Training dinyatakan berhasil bahkan melampaui indikator yang ditetapkan.

Hal tersebut dibuktikan dengan terjawabnya masalah dan tercapainya tujuan pada bab I yaitu:

  1. Terdapat bukti naiknya kompetensi kepala SD dalam menyusun RKT setelah dilakukan In House Training, ditandai dengan kualitas dokumen yang dihasilkan dari skor 24,3 menjadi 45,2 dan masuk kategori layak.
  2. Skor tindakan In House Training naik dari tidak ada tindakan menjadi ada tindakan dengan skor 55,5 katagori nampak maksimal

Saran

Kepada pengawas SD jika menghadapi masalah yang sama di gugus binaannya maka bisa mengadopsi pengalaman dalam membantu kepala sekolah menyelesaikan masalah RKT. Melalui tindakan pembinaan yang tepat dan intensif diharapkan kepala sekolah dapat mengatasi kesulitan terkait tugas pokok dan fungsinya.

Kepada kepala sekolah, hendaknya rutin melakukan EDS beserta tim pengembang sekolah agar dapat diketahui kekuatan maupun kelemahan sebagai dasar penyusunan program. Penyusunan program hendaknya benar-benar berdasarkan rekomendasi hasil EDS.Dengan program yang baik dipastikan berpengaruh terhadap keberhasilan pengelolaan sekolah termasuk didalamnya peningkatan prestasi..

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi (2007). Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara

Basri, H., & Rusdiana, A. (2015). Manajemen Pendidikan &Pelatihan. Bandung: CV Pustaka Setia

Danim, Sudarwan. (2012). Motivasi Kepemimpinan dan Efektivitas Kelompok, Edisi 2. Jakarta: PT Rineka Cipta Utama

Dirjen GTK. (2017) Panduan Kerja Kepala Sekolah. Jakarta:Kemendikbud

Kepala Pusbangtendik, (2015). Evaluasi Diri Sekolah, Pusbangtendik, Depdikbud.

Muhaimin (2004), Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa, E (2004).Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nsional Pendidikan

Permendiknas Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah.

Biodata Penulis

Nama : Surtini, S.Pd,M.Pd

Jabatan : Pengawas

Unit Kerja : SD Korwilcam Dindik Purwojati

You cannot copy content of this page