Iklan

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU KELAS MELALUI METODE FOCUSE GROUP DISCUSSION DALAM MEMAHAMI BUKU GURU DAN BUKU SISWA DI SD NEGERI KRADENAN 01 KECAMATAN KERSANA KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2021/2022

C:\Users\Toshiba\Downloads\WhatsApp Image 2022-01-22 at 21.11.15.jpeg

Oleh: Mu’ad Kuswanto, S.Pd.

ABSTRAK

Latar belakang dari penelitian ini adalah rendahnya kompetensi guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran hal ini dikarenakan tidak digunakannya berbagai metode yang relevan; jarang memanfaatkan media atau alat peraga; dan nampak belum menguasai materi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru kelas dalam memahami Buku Guru dan Buku Siswa. Model pembinaan yang diterapkan yaitu Metode Focuse Group Discussion. Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Kradenan 01 Kecamatan Kersana Kabupaten Brebes pada semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022. Dalam bentuk Penelitian Tindakan (Action Research). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan urutan prosedur di mulai dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Keberhasilan dalam penelitian ini guru kelas dapat menguasai kompetensi pembelajaran melalui penerapan Metode Focuse Group Discussion sehingga mencapai rata-rata lebih dari 29,00 dan berkategori sangat baik. Hasil Penelitian pada siklus I rata-rata kemampuan guru kelas dalam kegiatan belajar mengajar mencapai 27,17 dan pada siklus II terjadi peningkatan sehingga rata-ratanya mencapai 32,67 sehingga penelitian dikatakan berhasil karena rata-rata kompetensi guru kelas melebihi 29,00. Tindakan pembinaan guru kelas melalui Metode Focuse Group Discussion sangat efektif untuk meningkatkan kompetensi guru kelas dalam Kegiatan Belajar Mengajar.

Kata kunci : Buku Guru dan Buku Siswa, Kompetensi Guru, Metode Focuse Group Discussion

PENDAHULUAN

Guru dalam pembelajaran berpedoman pada prinsip pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dalam Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi bahwa prinsip pelaksanaan kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia. Seperti juga dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru menyebutkan salah satu kompetensi guru kelas SD/MI adalah agar guru mampu menggunakan media pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan lima mata pelajaran SD/MI untuk mencapai tujuan pembelajaran secara utuh. Selain itu, guru agar mampu menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

Guru harus mampu mengimplementasikan prinsip ini agar tujuan pembelajaran berhasil sesuai yang diharapkan. Media atau alat peraga dan strategi atau metode yang digunakan dalam pembelajaran terutama untuk meningkatkan motivasi, minat, dan hasil belajar siswa. Namun kenyataannya guru di SD Negeri Kradenan 01 belum seperti yang diharapkan, karena kompetensi guru dalam memahami buku guru dan buku siswa masih rendah. Guru mengajar belum menggunakan berbagai metode yang relevan; jarang memanfaatkan media atau alat peraga; dan nampak belum menguasai materi.

Amanat Permendiknas dan kenyataan guru di atas, bagi Peneliti selaku Kepala Sekolah merupakan sebuah tantangan sekaligus memunculkan harapan. Melihat kenyataan kondisi guru kelas SD Negeri Kradenan 01 dalam kemampuan melaksanakan pembelajaran masih rendah, menuntut upaya seluruh pihak terkait khususnya Kepala Sekolah untuk mengupayakan agar kemampuan guru dalam pembelajaran terutama buku guru dan buku siswa di sekolah meningkat.

Metode Focuse Group Discussion (FGD) adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan survei. Metode Focuse Group Discussion ( FGD ) adalah metode sistematis dalam mengumpulkan pendapat dari sekelompok pakar melalui serangkaian kuisioner,dimana ada mekanisme feedback melalui putaran pertanyaan yang diadakan sambil menjaga anonimitas tanggapan responden. Metode Focuse Group Discussion (FGD) adalah proses, cara perbuatan memberikan bimbingan secara langsung, merupakan alat pemberdayaan dan pengembangan personal yang ampuh; merupakan cara yang efektif dalam menolong seseorang mengembangkan karirnya; merupakan kerjasama antara dua orang (pendamping dan sasaran) yang biasanya bekerja di bidang yang sama atau berbagi pengalaman yang mirip; merupakan hubungan kerja yang bermanfaat didasarkan pada sikap saling percaya dan menghormati.

Berdasarkan kenyataan di atas penulis mencoba mengadakan penelitian tindakan sekolah untuk mengetahui efektivitas penerapan Metode Focuse Group Discussion (FGD) dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Kradenan 01 untuk meningkatkan kompetensi guru kelas.

Dari latar belakang dan identifikasi di atas, di rumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah proses penerapan Metode Focuse Group Discussion (FGD) untuk meningkatkan kompetensi guru kelas SDN Kradenan 01 dalam memahami buku guru dan buku siswa?
  2. Bagaimanakah peningkatan kompetensi guru kelas SDN Kradenan 01 setelah penerapan Metode Focuse Group Discussion (FGD)?
  3. Bagaimanakah tanggapan guru kelas terhadap kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah?

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

Metode Focuse Group Discussion (FGD)

Metode Focuse Group Discussion (FGD) adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan survei. Metode Focuse Group Discussion (FGD) adalah metode sistematis dalam mengumpulkan pendapat dari sekelompok pakar melalui serangkaian kuisioner, dimana ada mekanisme feedback melalui putaran pertanyaan yang diadakan sambil menjaga anonimitas tanggapan responden. Metode Focuse Group Discussion (FGD) adalah proses, cara perbuatan memberikan bimbingan secara langsung, merupakan alat pemberdayaan dan pengembangan personal yang ampuh; merupakan cara yang efektif dalam menolong seseorang mengembangkan karirnya; merupakan kerjasama antara dua orang (pendamping dan sasaran) yang biasanya bekerja di bidang yang sama atau berbagi pengalaman yang mirip; merupakan hubungan kerja yang bermanfaat didasarkan pada sikap saling percaya dan menghormati. Yang dimaksud pembimbingan dalam penelitian adalah proses pemberian bantuan penguatan pelaksanaan pemahaman terhadap buku guru dan buku siswa pada Kurikulum 2013 yang diberikan oleh kepala sekolah kepada guru-guru di kelas.

Menurut Buku Materi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk Pengawas Sekolah Tahun 2013 menjelaskan pembimbingan dilakukan berdasarkan prinsip sebagai berikut, kolegial: yaitu hubungan kesejawatan antara pemberi dan penerima pembimbingan. Dengan prinsip ini maka antara pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru pemberi bantuan serta pengawas, kepala sekolah, dan guru yang menerima bantuan memiliki kedudukan setara, yang satu tidak lebih tinggi dibandingkan lainnya. Profesional: yaitu hubungan yang terjadi antara pemberi pembimbingan dan penerima pembimbingan adalah untuk peningkatan kompetensi profesional danbukan atas dasar hubungan personal. Sikap saling percaya: yaitu pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru yang menerima pembimbingan memiliki sikap percaya kepada pemberi pembimbingan bahwa informasi, saran, dan contoh yang diberikan adalah yang memang dikehendaki. Berdasarkan kebutuhan: yaitu materi pembimbingan adalah materi teridentifikasi sebagai aspek yang masih memerlukan penguatan dan kegiatan penguatan akan memantapkan pengetahuan dan ketrampilan penerima pembimbingan. Berkelanjutan: yaitu hubungan profesional yang terjadi antara pemberi dan penerima pembimbingan berkelanjutan setelah pemberi pembimbingan secara fisik sudah tidak lagi berada di lapangan, dilanjutkan melalui e-mail, sms, atau alat lain yang tersedia.

Kompetensi Guru

Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi. Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi profesional akan menerapkan “pembelajaran dengan melakukan” untuk menggantikan cara mengajar dimana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya mendengarkan.

Standar kompetensi guru meliputi 3 komponen yaitu: 1) pengelolaan pembelajaran, 2) pengembangan potensi dan 3) penguasaan akademik (Anonim, 2003:11).

Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 3 (tiga) yaitu ; kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional mengajar. Keberhasilan guru dalam menjalankan  profesinya sangat ditentukan oleh ketiganya dengan penekanan pada kemampuan mengajar. Dengan demikian, bahwa untuk menjadi guru profesional yang memiliki akuntabilitas dalam melaksanakan ketiga kompetensi tersebut, dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat dalam diri setiap guru atau calon guru untuk mewujudkannya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi, di antaranya yaitu:

1. Kompetensi pedagogik

2. Kompetensi kepribadian

3. Kompetensi profesional

4. Kompetensi sosial

Hakikat Buku Teks

Keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan sangat tergantung pada keberhasilan guru dalam memahami buku teks. Buku teks pada hakikatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari silabus, yakni perencanaan, prediksi, dan proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran. Buku teks merupakan salah satu komponen terpenting yang harus dipersiapkan guru sebelum melaksanakan pembelajaran di dalam kelas selain komponen-komponen lain yang dapat menentukan keberhasilan dalam pembelajaran. Karena merupakan hal terpenting dalam menentukan keberhasilan pada suatu sistem pendidikan maka guru sebagai pelaksana operasional dituntut untuk mampu memahami buku teks yang sesuai dengan tuntutan kompetensi peserta didik.

Istilah buku teks yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah terjemahan atau padanan textbook dalam bahasa Inggris. Walaupun dalam kamus textbook diartikan dengan buku pelajaran tetapi demi kepraktisan dan untuk menghindari salah paham dalam tulisan ini. Menurut Hall-Quest dalam Tarigan (2008:13) buku teks adalah rekaman pikiran rasial yang disusun buat maaksud-maksud dan tujuan-tujuan instruksional. Sementara itu menurut Bacon dalam Tarigan (2008:14) buku teks adalah buku yang dirancang buat penggunan di kelas dengan cermat disusun dan disiapkan oleh para ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan saran-sarana pengajaran yang sesuai dan serasi. Hal tersebut senada dengan pendapat Tomlinson (1998:2) buku teks merujuk segala sesuatu yang digunakan guru atau peserta didik untuk memudahkan belajar, untuk meningkatkan pengetahuan dan atau pengalaman berbahasa.

HIPOTESIS TINDAKAN

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan penerapan Metode Focuse Group Discussion (FGD) dalam kegiatan belajar mengajar terdapat peningkatan kompetensi guru kelas dalam memahami buku guru dan buku siswa di SD Negeri Kradenan 01 Tahun Pelajaran 2021/2022.

METODE PENELITIAN

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Kradenan 01 Semester 1 Tahun Pelajaran 2020/2021 dimulai bulan Juli sampai dengan Oktober 2021. Subjek penelitian Tindakan Sekolah ini adalah guru kelas SD Negeri Kradenan 01 yang berjumlah 6 orang.

Dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini data yang dianalisis berupa data kuantitatif interval menggunakan skala likert. Data tersebut bersumber dari hasil pengukuran tingkat kompetensi guru dalam program kerja.

Untuk melengkapi kesimpulan hasil Penelitian Tindakan Sekolah ini, diperlukan juga tanggapan guru atas kegiatan bimbingan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Data mengenai tanggapan guru diperoleh dari angket yang diisi oleh guru pada setiap tahapan siklus.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan catatan data lapangan, wawancara, hasil tes dan catatan hasil refleksi/diskusi yang dilakukan oleh peneliti dan mitra peneliti. Penentuan teknik tersebut didasarkan ketersediaan sarana dan prasana dan kemampuan yang dimiliki peneliti dan mitra peneliti.

Metode yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing), dan refleksi (reflecting).

Indikator Kinerja

Penelitian ini dinyatakan berhasil apabila Metode Focuse Group Discussion (FGD) di SD Negeri Kradenan 01 dapat meningkatkan kompetensi guru kelas dalam memahami buku guru dan buku siswa, sehingga dapat menghasilkan prestasi pada anak didik.

Keberhasilan yang ingin dicapai adalah pada akhir penelitian pada tahun pelajaran 2021/2022 guru kelas di SD Negeri Kradenan 01 dapat menguasai kompetensi pembelajaran melalui Metode Focuse Group Discussion (FGD) secara nyata, dengan rata rata asfek kemampuan guru lebih dari 29,00 sehingga berkategori sangat baik .

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Berdasarkan hasil observasi kondisi guru kelas SD Negeri Kradenan 01 dalam kemampuan melaksanakan pembelajaran masih rendah, menuntut upaya seluruh pihak terkait khususnya Kepala Sekolah untuk mengupayakan agar kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah meningkat.

Deskripsi Siklus I

Tujuan yang ingin dicapai dalam PTS ini adalah a) Meningkatkan pemahaman Guru Kelas SDN Kradenan 01 dalam memahami buku guru dan buku siswa; b) Meningkatkan keterampilan Guru Kelas SDN Kradenan 01 dalam Metode Focuse Group Discussion (FGD); dan, 3) Meningkatkan kompetensi guru kelas dalam memahami buku guru dan buku siswa.

a. Perencanaan

  1. Memberikan tugas kepada guru untuk membuat persiapan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Metode Focuse Group Discussion (FGD) yang akan digunakan pada siklus ini.
  2. Mempersiapkan lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar.
  3. Mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam diskusi antara kepala sekolah sebagai peneliti dan guru sebagai mitra peneliti.

b. Pelaksanaan

a) Mengamati atau memberikan penilaian persiapan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat oleh guru yang menjadi subyek penelitian untuk digunakan pada siklus 1 ini.

b) Memonitoring atau mensupervisi kegiatan pelaksanaan skenario pembelajaran yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya. Kegiatan kepala sekolah sebagai peneliti adalah mengamati jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen observasi, sementara kegiatan guru sebagai mitra peneliti adalah melaksanakan kegiatan pengajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya.

c. Observasi

1) Mengobservasi penampilan guru

2) Mengobservasi aktivitas siswa

d. Refleksi

Ada dua hal yang menjadi fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah RPP yang dibuat sudah menerapkan Metode Focuse Group Discussion (FGD) terutama dilihat dari skenario atau langkah-langkah pembelajarannya; 2) Apakah pelaksanaan pembelajarannya juga sudah mengedepankan Metode Focuse Group Discussion (FGD).

Tabel 1 Hasil Observasi Penampilan Guru Siklus I

No. Responden Jumlah Skor
1. Guru kelas I 28
2. Guru Kelas II 27
3. Guru Kelas III 30
4. Guru Kelas IV 26
5. Guru Kelas V 27
6. Guru Kelas VI 25
Jumlah 163
Rata-Rata 27,17
Kategori Baik

Keterangan =

Kriteria penilaian sebagai berikut:
1 = sangat tidak baik

2 = tidak baik

3 = kurang baik

4 = baik

5 = sangat baik

Pedoman Penafsiran Skor

ü Jumlah skor 0 – 7 = Sangat tidak baik

ü Jumlah skor 8 – 14 = Tidak baik

ü Jumlah skor 15 – 21 = Kurang baik

ü Jumlah skor 22 – 28 = Baik

ü Jumlah skor 29 – 35 = Sangat baik

Berdasarkan tabel di atas dan dengan berpedoman pada penafsiran skor tersebut, terlihat bahwa rata-rata kemampuan guru dalam memahami buku guru dan buku siswa yang dilakukan oleh 6 orang guru kelas yang menjadi subyek penelitian masih di bawah 29,00 atau belum dikategorikan sangat baik. Maka penelitian di lanjutkan ke siklus II.

Deskripsi Siklus II

Sebagaimana dijelaskan pada siklus I, tujuan yang ingin dicapai dalam PTS ini adalah a) Meningkatkan pemahaman Guru Kelas SDN Kradenan 01 dalam mengembangkan Metode Focuse Group Discussion (FGD); b) Meningkatkan keterampilan Guru Kelas SDN Kradenan 01 dalam mengembangkan Metode Focuse Group Discussion (FGD); dan, 3) Meningkatkan kompetensi guru kelas dalam memahami buku guru dan buku siswa.

Berdasarkan hasil refleksi menunjukkan bahwa tingkat pemahaman dan keterampilan guru dalam menerapkan Metode Focuse Group Discussion (FGD) (terutama dalam pemilihan metode yang variatif dan dapat memotivasi keterlibatan atau partisipasi siswa dalam belajar) masih rendah sehingga berimplikasi pada masih rendahnya keterlaksanaan kegiatan belajar mengajar. Maka fokus PTS pada siklus ini adalah meningkatan keterampilan guru dalam pemilihan metode yang mengedepankan pendekatan Metode Focuse Group Discussion (FGD).

a. Perencanaan

Seusai dengan fokus tujuan di atas, kegiatan perencanaan yang dilakukan pada siklus 2 adalah sebagai berikut:

1) Memberikan tugas kepada guru untuk membuat persiapan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Metode Focuse Group Discussion (FGD) yang akan digunakan pada siklus 2 ini.

2) Mempersiapkan lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar mengajar.

3) Mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan digunakan dalam diskusi antara kepala sekolah sebagai peneliti dan guru sebagai mitra peneliti.

b. Pelaksanaan

1) Mengadakan diskusi dan memberi pendampingan bagi guru untuk membuat persiapan mengajar atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menggunakan Metode Focuse Group Discussion (FGD) untuk digunakan pada siklus II ini.

2) Memonitoring atau mensupervisi kegiatan pelaksanaan skenario pembelajaran yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya. Kegiatan kepala sekolah sebagai peneliti adalah mengamati jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan instrumen observasi, sementara kegiatan guru sebagai mitra peneliti adalah melaksanakan kegiatan pengajaran sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya.

c. Observasi

1) Mengobservasi penampilan guru

2) Mengobservasi aktivitas siswa

d. Refleksi

Ada dua hal yang menjadi fokus refleksi pada siklus ini, yakni 1) Apakah RPP yang dibuat sudah mengedepankan Metode Focuse Group Discussion (FGD) terutama dilihat dari skenario atau langkah-langkah pembelajarannya; 2) Apakah pelaksanaan pembelajarannya juga sudah mengedepankan Metode Focuse Group Discussion (FGD).
Berikut data hasil pengamatan siklus II:

Tabel 2 Hasil Observasi Penampilan Guru Siklus II

No. Responden Jumlah Skor
1. Guru Kelas 33
2. Guru kelas I 32
3. Guru Kelas II 34
4. Guru Kelas III 32
5. Guru Kelas IV 33
6. Guru Kelas V 32
Jumlah 196
Rata-Rata 32,67
Kategori Baik

Berdasarkan tabel di atas dan dengan berpedoman pada penafsiran skor tersebut, terlihat bahwa rata-rata kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran dalam siklus II ini meningkat menjadi 32,67 dalam arti dikategorikan sangat baik. Maka penelitian di akhiri sampai siklus II.

Pembahasan dari Setiap Siklus

Pembahasan pada Siklus I

Gambaran tingkat kemampuan guru dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan Metode Focuse Group Discussion (FGD) terlihat pada grafik 1 berikut:

Grafik 1 Tingkat Kemampuan Guru Berdasarkan Metode Focuse Group Discussion (FGD) Siklus I

Dari paparan grafik di atas tingkat kompetensi guru dalam proses belajar mengajar mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terlihat bahwa dari 6 orang guru kelas yang menjadi subjek penelitian hanya satu orang yang memperoleh rata-rata skor diatas 29,00 atau kategori sangat baik sehingga penelitian di lanjut ke siklus II.

Pembahasan Pada Siklus II

Gambaran tingkat kompetensi guru dalam kegiatan belajar mengajar berdasarkan Metode Focuse Group Discussion (FGD) pada siklus II terlihat pada grafik 2 berikut:

Grafik 2 Tingkat Kemampuan Guru Berdasarkan Metode Focuse Group Discussion (FGD) Siklus II

Dari paparan grafik di atas tingkat kompetensi guru dalam memahami buku guru dan buku siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan, terlihat bahwa dari 6 orang guru kelas yang menjadi subjek penelitian semua guru memperoleh rata-rata skor diatas 29,00 atau kategori sangat baik sehingga penelitian dinyatakan berhasil.

PENUTUP

Simpulan

  1. Metode Focuse Group Discussion (FGD) adalah proses, cara perbuatan memberikan bimbingan secara langsung, merupakan alat pemberdayaan dan pengembangan personal yang ampuh; merupakan cara yang efektif dalam menolong seseorang mengembangkan karirnya; merupakan kerjasama antara dua orang (pendamping dan sasaran) yang biasanya bekerja di bidang yang sama atau berbagi pengalaman yang mirip; merupakan hubungan kerja yang bermanfaat didasarkan pada sikap saling percaya dan menghormati.
  2. Kegiatan bimbingan melalui Metode Focuse Group Discussion (FGD) sangat efektif untuk meningkatkan kompetensi guru kelas kegiatan belajar mengajar di SD Negeri Kradenan 01.
  3. Guru memberikan tanggapan yang baik terhadap tindakan bimbingan yang dilaksanakan oleh kepala sekolah dan memicu motivasi mereka untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Danial, Endang AR., Dr. H. M.Pd. (2003) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Direktorat PLP, Dirjendikdasmen, Depdiknas.

Depdiknas. (2005). Paket Pelatihan 1 Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar melalui Manajemen Berbasis Sekolah, Peran Serta Masyarakat, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. (2009). Draf Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa. Jakarta : Depdiknas.

Indonesia. (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Hasibuan dan Moedjino. (1996). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya.

Hidayat, Kosadi, dkk.. (1987). Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Bina Cipta.

Munandir. (2001). Ensiklopedia Pendidikan. Malang: UM Press.

Silberman, Melvin L (2002). Active Learning, 101 Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Yappendis.

Sudirman, dkk. (1987). Ilmu Pendidikan. Bandung: Remadja Karya CV.

Sudjana. (1992) Metoda Statistik. Bandung: Tarsito.

Tarigan, H.G. 2008 . Telaah Buku Teks SMA. Bandung :Angkasa

Biodata Penulis

Nama : Mu’ad Kuswanto, S.Pd.

NIP : 19710110 199903 1 008

Pangkat/ Gol : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SD Negeri Kradenan 01 Kec. Kersana – Brebes

By admin

You cannot copy content of this page