Iklan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENGELOLA PEMBELAJARAN PERBAIKAN (REMEDIAL TEACHING) MELALUI METODE PEERCOACHING DI SDN 2 SIDAMULIH SEMESTER I UPK RAWALO TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Sirwan, S.Pd.

ABSTRAK

Masalah yang dialami oleh guru dalam mencapai KKM siswa adalah belum semua tenaga pendidik memahami akan pentingnya perencanaan yang matang dalam pemilihan metode dan alat bantu mengajar pada masing-masing mata pelajaran yang akan dilaksanakan. Dalam kenyataannya (berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru yang bertugas di SD Negeri 2 Sidamulih) tidak sedikit siswa yang memiliki kompetensi di bawah standar yang telah ditetapkan (KKM). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan desain penelitian tindakan sekolah (school action research). Subyek pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini adalah guru kelas 1 sampai dengan dengan kelas 6 SD Negeri Negeri 2 Sidamulih Korwilcam Dindik Rawalo Tahun Pelajaran 2018/2019. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, dokumentasi, wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dapat dilihat dari perolehan skor pada hasil penelitian siklus I dan siklus II. Pada tindakan siklus I jumlah guru yang mencapai kriteria baik atau mempunyai skor lebih dari atau sama dengan 4 hanya 2 orang atau 33,33%, dengan rata-rata skor keseluruhan adalah 3,77. Setelah melakukan refleksi pada tindakan siklus I, maka peneliti melanjutkan penelitian pada siklus II dengan metode peer coaching. Pada tindakan siklus II, terjadi peningkatan terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) yang ditunjukkan dengan skor pencapaian lebih dari atau sama dengan 4 sebanyak 5 guru atau 83,33% dengan skor rata-rata seluruh guru mencapai 4,12. Simpulan dari penelitian ini memiliki tujuan penelitian secara umum menunjukkan bahwa pengimplementasian peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran melalui peer coaching mampu mengoptimalkan kemampuan guru di dalam pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) yang dapat membantu untuk dikembangkan menjadi model pembelajaran (Remedial Teaching) yang mampu meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dan memberikan pengalaman baru bagi tenaga pendidik di dalam mengimplementasikan peningkatan kemampuan mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) melalui peer coaching.

Kata kunci : Kemampuan Guru, Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching), Metode Peercoaching

PENDAHULUAN

Guru profesional adalah guru yang menyajikan pembelajaran dengan perencanaan yang baik dan hasil yang memuaskan. Dapat menciptakan suasana belajar yang membuat kelas nyaman dan membuat siswa selalu rindu dengan buku dan gurunya.

Masalah yang dialami oleh guru dalam mencapai KKM siswa adalah belum semua tenaga pendidik memahami akan pentingnya perencanaan yang matang dalam pemilihan metode dan alat bantu mengajar pada masing-masing mata pelajaran yang akan dilaksanakan. Semakin tinggi kemampuan siswa menguasai kompetensi yang diharapkan akan semakin tinggi daya serap yang diperoleh. Dalam kenyataannya (berdasarkan wawancara dengan sejumlah guru yang bertugas di SD Negeri 2 Sidamulih) tidak sedikit siswa yang memiliki kompetensi di bawah standar yang telah ditetapkan (KKM).

KKM telah ditetapkan oleh guru sejak awal tahun pelajaran. Dalam menetapkan KKM guru berdasarkan pada kiteria yang telah ditentukan , di antaranya input siswa, kompleksitas materi pelajaran, dan daya dukung. Daya dukung di sini meliputi sarana/prasarana yang ada maupun kemampuan guru didalam menggunakan atau menciptakan alat peraga yang digunakan pada masing-masing mata pelajaran. Dengan ditetapkannya KKM tersebut akan digunakan oleh guru dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan kemampuan siswa. Guru akan berusaha semaksimal mungkin agar semua siswa memiliki kompetensi minimal sama dengan KKM yang telah ditentukan.

Kenyataan menunjukkan bahwa dalam pembelajaran di SD Negeri 2 Sidamulih, pencapaian KKM tidak semudah yang diharapkan. Dalam setiap akhir pembelajaran kompetensi dasar tertentu, tidak semua siswa dapat mencapai nilai di atas KKM. Menurut perhitungan rata-rata di masing-masing kelas dari kelas satu sampai kelas enam sekitar 44 % siswa yang dapat mencapai KKM yang telah ditentukan.

Peer coaching adalah salah satu usaha yang bertujuan untuk memberikan perbaikan pembelajaran pada guru yang juga diamati oleh guru lain secara bergantian dimana bukan hanya peneliti yang melakuka pengamatan tetapi juga guru lain sehingga mereka bisa saling memberi saran untuk pembelajaran yang lebih baik. Dengan bimbingan peneliti sebagai kepala sekolah tujuan dari Peer coaching bukan untuk membuat guru saling menyalahkan atau salung mengkritik satu sama lain tetapi untuk membuat mereka salaing memberi masukan tentang kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Atas dasar pertimbangan di atas untuk dapat melaksanakan pembelajaran perbaikan dengan maksimal kompetensi guru tentang pembelajaran perbaikan perlu ditingkatkan. Salah satu jenis kegiatan yang kemungkinan dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru tentang pembelajaran perbaikan adalah melalui pelatihan teman sejawat (Peer Coaching). Oleh sebab itu sesuai dengan tugas pokok dan fungsi penelitian, peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul ”Upaya Meningkatkan Kemampuan Guru Dalam Mengelola Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching) Melalui metode Peercoaching di SD Negeri 2 Sidamulih UPK Rawalo Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019”.

KAJIAN PUSTAKA

Hakikat Kemampuan Guru

Menurut Widyastuti (2017) menjelaskan dalam proses pengembangan dan pembinaan profesional guru untuk meningkatkan kompetensi sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat pada guru yang bersangkutan secara mandiri dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan usaha yang dilakukan institusi terkait.

Standar Pengembangan Profesi Guru

Standar pengembangan profesi guru dinyatakan bahwa semua guru harus memiliki pengetahuan yang kuat, dasar pengetahuan yang luas termasuk riset ilmu pengetahuan dan penggunaannya, memahami bukti fundamental dan konsep, mampu membuat hubungan konseptual, menggunakan pemahaman ilmiah dan kemampuan ketika berhadapan dengan isu personal dan sosial.

Secara jelas dan tegas bahwa konsep-konsep tersebut telah ada dalam kurikulum khususnya Garis-Garis Program Pengajaran (GBPP) yang disajikan dalam bentuk pokok bahasan dan sub pokok bahasan. Itulah sebabnya guru harus membaca, mempelajari dan menguasi kurikulum, khususnya GBPP bidang yang dipegangnya. Uraian lebih mendalam setiap konsep dan pokok bahasan ada dalam buku pelajaran (teks book), sehingga usaha guru untuk mempelajari buku tersebut sebelum mengajar sangat diperlukan.

Perbaikan (Remedial Teaching)

Menurut Putra (2015) menjelaskan Peer coaching adalah salah satu strategi untuk memperbaiki implementasi kurikulum pada strategi, teknik dan kemampuan guru dalam pembelajaran (Hasbrouck,1997). Dalam proses peningkatan kemampuan, peer coaching tidak boleh ditinggalkan. Karena coach memberikan panduan dan dukungan bagi coachee untuk melihat secara utuh kondisi mereka, misalnya mengenai asumsi dan persepsi mengenai pekerjaan, pribadi, dan pandangan mereka tentang pihak lain (Ridwan, 2007).

Dengan diberikannya pembelajaran perbaikan (remedial teaching) bagi peserta didik yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, maka peserta didik ini memerlukan waktu lebih lama daripada mereka yang telah mencapai tingkat penguasaan. Mereka juga perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remedial.

Metode Peer Coaching

Menurut Robbins (1991) dalam Widyastuti (2017) menjelaskan Peer Coaching adalah suatu proses kepercayaan dimana dua atau lebih rekan kerja yang profesional bekerja bersama untuk merefleksikan praktik pengajaran yang sedang dilakukan, memperluas, memperbaiki, dan membangun keterampilan baru, berbagi ide, mengajar satu sama lain, melakukan observasi kelas atau memecahkan sesuatu masalah di tempat kerja.

Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa program peer coaching dilakukan sebagai suatu proses perencanaan kolaborasi, observasi, dan feedback daripada suatu evaluasi atau review normal untuk meningkatkan implementasi kurikulum dan teknik pembelajaran. Oleh karena itu, peer coaching tidak menghakimi (non judgmental) dan tidak bersifat evaluatif. Program peer coaching memfokuskan pada pengembangan kolaborasi, perbaikan serta berbagi pengetahuan ketrampilan dan pengalaman.

Kerangka Berpikir

https://lpmp.files.wordpress.com/2013/05/051313_0710_peningkatan1.png?w=771

Gambar 2.1 : Kerangka Berfikir

Hipotesis Tindakan

  1. Melalui kegiatan Peer Coaching dapat menghasilkan kesamaan persepsi dan meningkatkan pemahaman terhadap konsep progam perbaikan (remedial),
  2. Melalui kegiatan Peer Coaching yang efektif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (remedial teaching) yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.

METODE PENELITIAN

Desain/Prosedur Penelitian

Gambar 3.2 Rancangan Penelitian Tindakan Model Kemmis dan Taggart

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research). Karena dalam penelitian ini peneliti melakukan sesuatu tindakan, mengamati dan melakukan perubahan terkontrol dan dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di sekolah. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik Peer coaching diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapatdicapai. Dan penelitian ini juga disebut eksperimen karena peneliti mencoba melakukan pemberian pengertian untuk dilakukan oleh guru tentang bagaimana tugas dan fungsi seorang guru.

Setting Tindakan

Tempat Penelitian

Penelitian ini bertempat di SD Negeri 2 Sidamulih Unit Pendidikan Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2018/2019.

Waktu Penelitian

Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2018/2019, selama 4 bulan waktu penelitian yaitu pada bulan Agustus sampai dengan November 2018.

Subjek Penelitian

Subyek pelaksanaan penelitian tindakan sekolah ini adalah guru kelas 1 sampai dengan dengan kelas 6 SD Negeri Negeri 2 Sidamulih Unit Pendidikan Kecamatan Rawalo Tahun Pelajaran 2018/2019.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu observasi, dokumentasi, teknik wawancara.

Instrumen Penelitian

Data Primer

Data kegiatan penelitian ini diambil dari:

Guru-guru kelas 1-6 SD Negeri 2 Sidamulih Unit Pendidikan Kecamatan Rawalo.

Aktivitas guru dalam membuat perencanaan remedial dan pelaksanaan pembelajaran remedial.

Dokumen perencanaan remedial yang dibuat guru.

Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang menjadi penunjang obyek penelitian. Data sekunder penelitian ini antara lain: penggunaan metode pembelajaran, perangkat mengajar.

Teknik Analisis Data

Untuk mengembangkan data dan menguji validitas data yang telah dikumpulkan digunakan teknik validitas triangulasi. Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi data atau sumber. Setelah data terkumpul, dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Pengelolaan Kelas adalah hal penting yang harus dilakukan pada setiap kegiatan. Terlebih dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena pentingnya dimensi tersebut maka guru dituntut bisa atau harus memiliki kompetensi dalam pengelolaan kelas. Namun dalam kenyataannya sebagian besar guru-guru di SD Negeri 2 Sidamulih belum bisa dalam pengelolaan kelas dengan baik dan benar pada proses pembelajaran.

Guru pada SD Negeri 2 Sidamulih diantaranya adalah guru kelas. Mereka mengajarkan berbagai mata pelajaran, dimana mereka dituntut sebagai guru professional yang harus mampu menciptakan pembelajaran dengan baik dan terstruktur dari awal hingga akhir pembelajaran. Kenyataan membuktikan bahwa selama ini pembelajaran belum dapat dilaksanakan secara maksimal. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dilakukan belum sesuai seperti yang diharapkan. Oleh sebab itu, hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut belum dapat maksimal.

Selain itu, masing-masing guru masih mengerjakan tugas secara individual. Belum ada kepedulian antara guru yang satu dengan yang lain. Guru senior, yang mempunyai pengalaman lebih, belum peduli terhadap teman lain yang mengalami hambatan atau kendala dalam melaksanakan pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, guru yang merasa belum memiliki kompetensi yang cukup tentang pembelajaran, merasa enggan bertanya ataupun untuk minta bantuan kepada guru lain yang lebih mampu.

SIKLUS I

Berikut ini adalah hasil pengamatan yang diperoleh pada tabel sebagai berikut:

No Komponen Kompetensi Jabatan Guru
I II III IV V VI
1 Menyusun Rencana Pembelajaran 3,25 3,13 3,88 3,38 3,88 3,38
2 Pelaksanaan Interaksi Pembelajaran 3,50 3,17 4,08 3,92 4,08 3,92
3 Penilaian Prestasi Belajar PD 3,73 3,27 4,09 4,00 4,09 3,82
4 Pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian 3,83 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00
Rata-rata Skor 3,58 3,39 4,01 3,82 4,01 3,78

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching ) Siklus I

Berdasarkan data pada tebel di atas, dapat diketahui bahwa dari 6 orang guru yang diobservasi, terdapat 2 orang guru yang masuk dalam kriteria baik dengan rata-rata skor lebih dari 4.

Gambar 4.1 Grafik Kemampuan Mengelola Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching) Siklus I

Berdasarkan hasil pengamatan dan catatan selama berlangsungnya siklus pertama peneliti mengadakan refleksi sebagai berikut. Motivasi peserta saat mengikuti kegiatan peer coaching cukup tinggi. Walaupun dalam memulai kegiatan tersebut agak mundur, akan tetapi antusiasme peserta cukup tinggi. Sejak awal kegiatan semua peserta terlibat aktif dalam diskusi dan tanya jawab. Secara bergantian semua peserta menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Setiap ada penyampaian permasalahan dari salah seorang peserta, peserta yang lain, yang merasa memahami persoalannya, memberikan tanggapan untuk pemecahannya jadi semacam problem solving.

SIKLUS II

Adapun hasil pengamatan terhadap pelaksanaan peer coaching pada siklus II, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

No Komponen Kompetensi Jabatan Guru
I II III IV V VI
1 Menyusun Rencana Pembelajaran 4,00 4,13 4,25 4,13 4,25 3,88
2 Pelaksanaan Interaksi Pembelajaran 3,83 4,00 4,42 4,33 4,25 4,42
3 Penilaian Prestasi Belajar PD 4,00 3,91 4,36 4,09 4,18 4,00
4 Pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian 4,00 4,00 4,33 4,17 4,33 4,00
Rata-rata Skor 3,96 4,01 4,34 4,18 4,25 4,07

Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kemampuan Guru Mengelola Perbaikan Pembelajaran (Remedial Teaching) Siklus II

Berdasarkan data pada tabel diatas dapat digambar dalam sebuah grafik seperti di bawah ini:

Gambar 4.2 Grafik Kemampuan Mengelola Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching) Siklus II

Berdasarkan data dan grafik di atas dapat dilihat kondisi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada siklus II. Jika pada siklus I hanya ada 2 orang guru dengan kriteria baik, maka pada siklus II ini 5 orang guru atau 83% dari semua guru yang di observasi sudah menunjukkan pencapaian skor dengan kriteria baik, yaitu dengan rata-rata skor lebih dari 4.

Pembahasan

Pada siklus 1 pertemuan pertama diketahui bahwa guru pada umumnya belum merencanakan pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) secara sistematis. Jenis kegiatannya pun juga kurang direncanakan secara matang. Pada umumnya guru akan memberikan ulangan lagi khusus bagi siswa yang belum dapat mencapai nilai KKM. Jika ulangan yang kedua, siswa yang bersangkutan sudah mendapat nilai minimal sama dengan KKM, siswa tersebut dinyatakan sudah tuntas. Oleh sebab itu, pada siklus 1 tersebut responden saling berbagi informasi, tanya jawab dengan sesama teman tentang perencanaan pembelajaran. Pada kegiatan tersebut salah seorang guru kelas yang kebetulan sebagai guru pemandu cukup aktif dalam baik dalam menyampaikan permasalahan maupun dalam memberikan solusi sebagai pemecahan persoalan.

Pada siklus II, kegiatan difokuskan pada pemeilihan metode dalam pembelajaran. Penekanan kegiatan ini adalah pada perencanaan berbagai strategi pembelajaran berdasarkan kualitas dan persentase atau jumlah siswa yang belum tuntas. Melalui berbagai penjelasan dan contoh, akhirnya pada akhir pertemuan yang kedua sebagian besar responden telah memahami perencanaan pembelajaran dengan menggunakan metode yang tepat.

No Penelitian Jabatan Guru
I II III IV V VI
1 Siklus I 3,58 3,39 4,01 3,82 4,01 3,78
2 Siklus II 3,96 4,01 4,34 4,18 4,25 4,07

Tabel 4.3 Perbandingan Rata-Rata Kemampuan Guru

Dalam Mengelola Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching )Siklus I Dan Siklus II

Berdasarkan data tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata dari semua komponen kompetisi yang diobservasi yaitu menyusun rencana pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching), pelaksanaan interaksi pembelajaran, penilaian prestasi belajar peserta didik, dan pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar siswa. Pada tindakan siklus I jumlah guru yang mencapai kriteria baik atau mempunyai skor lebih dari atau sama dengan 4 hanya 2 orang atau 33,33%. Setelah melakukan refleksi pada tindakan siklus I, maka peneliti melanjutkan penelitian pada siklus II dengan metode peer coaching. Pada tindakan siklus II, terjadi peningkatan terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) yang ditunjukkan dengan skor pencapaian lebih dari atau sama dengan 4 sebanyak 5 guru atau 83,33%.

Grafik 4.3 Peningkatan Kemampuan Mengelola Pembelajaran Siklus I dan Siklus II

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas pada bab sebelumnya, maka peneliti dapat menyimpulkan hasil penelitian bahwa, dalam pengimplementasian peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran melalui peer coaching mampu mengoptimalkan kemampuan guru di dalam pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) yang dapat membantu untuk dikembangkan menjadi model pembelajaran (Remedial Teaching) yang mampu meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dan memberikan pengalaman baru bagi tenaga pendidik di dalam mengimplementasikan peningkatan kemampuan mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) melalui peer coaching.

Peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dapat dilihat dari perolehan skor pada hasil penelitian siklus I dan siklus II. Pada tindakan siklus I jumlah guru yang mencapai kriteria baik atau mempunyai skor lebih dari atau sama dengan 4 hanya 2 orang atau 33,33%, dengan rata-rata skor keseluruhan adalah 3,77. Setelah melakukan refleksi pada tindakan siklus I, maka peneliti melanjutkan penelitian pada siklus II dengan metode peer coaching. Pada tindakan siklus II, terjadi peningkatan terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) yang ditunjukkan dengan skor pencapaian lebih dari atau sama dengan 4 sebanyak 5 guru atau 83,33% dengan skor rata-rata seluruh guru mencapai 4,12.

SARAN

Berdasarkan penelitian yang diperoleh dari lapangan tentang peningkatan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) melalui peer coaching, peneliti menyampaikan saran untuk kemajuan guru-guru dan sekolah pada umumnya.

  1. Bagi Remedial Teaching Kepala Sekolah
  2. Kepala sekolah perlu mereduksi sekecil mungkin sekat hubungan antara guru dan kepala sekolah, serta dengan sesama guru sehingga guru secara sadar mendatangi kepala sekolah agar bersedia memberikan bantuan atas kesulitan yang dihadapi guru dalam praktek mengajar di kelas.
  3. Kepala sekolah perlu meyakinkan guru bahwa melalui metode peer coaching guru akan mengetahui kelemahan dan kekurangan yang dimiliki agar dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru.
  4. Kepala sekolah perlu memahami dan selalu tanggap dengan permasalah yang dihadapi guru dalam praktek di lapangan.
  5. Kepala sekolah perlu meningkatkan penerapan saran dan nasehat rutin kepada guru berdasarkan temuan selama observasi.
  6. Kepala sekolah perlu meningkatkan dan merencanakan kembali hal-hal yang perlu diperhatikan pada kesempatan pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching) berikutnya.
  7. Bagi Guru
  8. Guru harus meningkatkan kemampuannya dalam mengidentifikasi setiap masalah yang dihadapi siswa.
  9. Guru seharusnya dapat meningkatkan kemampuannya dalam merumuskan ide pokok pikiran secara jelas ketika menyusun silabus sesuai dengan kurikulum yang berlaku
  10. Guru seharusnya dapat menggunakan metode dan media pembelajaran yang lebih bervariasi untuk meningkatkan minat belajar siswa
  11. Guru seharusnya dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik.
  12. Bagi Peneliti Selanjutnya
  13. Penelitian ini membahas tentang pengaruh penerapan metode peer coaching untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran perbaikan (Remedial Teaching), untuk itu peneliti menghimbau kepada peneliti yang lain agar tertarik untuk meneliti dalam kajian selain penelitian ini.
  14. Dalam penelitian ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat belajar dari kekurangan yang terdapat dalam penelitian ini, agar penelitian yang dilakukan dapat lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Permendiknas

Ardilah, Vivian. (2017). “Pengaruh Remedial Teaching Metode Tutor Sebaya terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Struktur Atom Kelas IX IPA SMA Negeri 1 Sanggau”. Ar-Razi Jurnal Ilmiah. 5, (1), 139-150.

Arikunto. Suharsimi (1999). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang – Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional. Bandung : Citra Umbara.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Pedoman Pembelajaran Tuntas, Jakarta: Depdiknas

Depdikbud. 2007. Standar Kompetensi Kepala Sekolah. Jakarta: Buku Kita.

Iskandar, D & Senam. 2015. Studi Kemampuan Guru Kimia SMA Lulusan UNY dalam Mengembangkan Soal UAS Berbasis HOTS. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA. 1(1), 65-72.

Kemmis dan Teggart. 1988. The Action Research Planner. Deakin Univercity

Muslikin., Tindangen, M., & Ruchaeni, A. 2021. Peningkatan Kinerja Guru IPA dalam Mengimplementasikan Standar Proses Melalui Pendampingan Sejawat (Peer Coaching) di Kab. Kutai Barat. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. 2(1), 13-26.

Mulyasa. 2013. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Prasetiya, B. 2018. Peningkatan Kemampuan Guru Madrasah dalam Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas Di Probolinggo. Annual Conference On Community Engagement. 441-465.

Putra, M. J. A. 2015. Pengaruh Peer Coaching Terhadap Praktek Pembelajaran IPA Guru SD (Studi Kuasi Eksperimen SD di Pekanbaru). Artikel.

Raharjo, B. 2017. Peningkatan Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran Perbaikan (Remedial Teaching) Mata Pelajaran Penjasorkes Melalui Peer Coaching Di SMP Binaan Kota Banda Aceh. Jurnal Dedikasi. 1(2), 192-198.

Saputro, A., D., & Suhito. 2015. Keefektifan Adaptive Remedial Teaching Strategy Belajar Pembelajaran Aktif dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika Jurusan IPS. Unnes Journal of Mathematics Education. 4(1), 1-10.

Soleh, Agus. (2014). “Pengaruh Pembelajaran Remedial Berbantuan Tutor Sebaya terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa yang Mengalami Kesulitan Belajar dengan Kovariabel Tingkat Kecemasan”. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. 4.

Widyastuti, E. 2017. Studi Kajian Model Pembinaan Profesional Guru dengan Pendekatan Peer Coaching Berkaitan Kinerja Guru Provinsi Sumatera Utara. Artikel.

BIO DATA PENULIS

Nama : Sirwan, S.Pd.

NIP : 19650316 198608 1 001

Unit Kerja : SDN 2 Sidamulih

You cannot copy content of this page