Iklan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA MENGGUNAKAN MEDIA GAMBAR PADA KELOMPOK A DI TK MEKAR SARI TAYEM TAHUN AJARAN 2019-2020

Suis Tanaroh, S.Pd.AUD.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak menggunakan media gambar di TK Mekar Sari Tayem . Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah anak yang terdiri dari 20 anak. Penelitian ini yaitu peningkatan kemampuan berbicara anak menggunakan media gambar. Model penelitian ini menggunakan model penelitian Kemmis dan Mc Taggart yang dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil yang diperoleh dari upaya meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan media gambar yang di dalamnya ada interaksi antara guru dengan anak melalui kegiatan menjawab pertanyaan, menceritakan kembali isi cerita, dan bercerita tentang pengalaman pribadi yang dimiliki anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pra tindakan, kemampuan berbicara pada kriteria tidak baik (0%). Pada siklus 1 meningkat pada kriteria cukup (65%), dan pada siklus II meningkat pada kriteria baik (90%). Peningkatan yang terjadi dari hasil pra tindakan sampai pada siklus I sebesar 65% dan pada siklus I sampai siklus II peningkatan yang terjadi sebesar 25, jadi peningkatan yang terjadi dari hasil pra tindakan sampai pada siklus II sebesar 90%. Dari hasil yang diperoleh, maka kemampuan berbicara anak dapat ditingkatkan dengan menggunakan media gambar.

Kata kunci: Media Gambar, Kemampuan Berbicara

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak merupakan periode yang sangat penting untuk mendasari pemahaman terhadap pengetahuan, sikap, dan kepribadian atau yang lebih umum mendasari pertumbuhan dan perkembangan secara menyeluruh. Pada masa ini, proses pembelajaran bagi anak meliputi berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama.

Salah satu aspek penting yang dikembangkan sejak usia dini ialah bahasa. Kemampuan bahasa sangat penting bagi anak, karena dipakai oleh anak untuk menyampaikan keinginan, pikiran, harapan, permintaan, dan lain-lain untuk kepentingan pribadinya (Suhartono, 2005:8). Tujuan pengembangan bahasa pada anak usia dini adalah untuk menambah kosa kata anak, membantu anak dalam berkomunikasi dengan orang lain dan masyarakat sekitar. Dalam kehidupan sehari-hari, anak tidak terlepas dari bahasa karena anak menggunakan bahasa untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa merupakan media komunikasi karena memberikan keterampilan kepada anak untuk dapat berkomunikasi dan mengekspresikan dirinya agar anak dapat menjadi bagian dari kelompok sosialnya.

Berdasarkan pengamatan peneliti tentang kegiatan bercerita terhadap anak di TK Mekar Sari Tayem Kecamatan Karangpucung Kabupaten Cilacap, menunjukan bahwa anak kurang tertarik dan cenderung hanya diam atau pasif pada saat kegiatan bercerita. Pada saat kegiatan bercerita, ketika guru mulai menyampaikan judul cerita dan melanjutkan cerita di depan anak-anak, terlihat respon anak-anak pada awalnya masih memperhatikan namun setelah 5-7 menit anak-anak akan ramai dan bermain sendiri. Anak yang duduk di barisan belakang pun tidak memperhatikan ketika guru sedang bercerita, dan hanya anak-anak yang duduk di depan saja yang dapat memperhatikan guru ketika sedang bercerita. Dengan kurangnya interaksi anak terhadap guru dalam kegiatan bercerita, maka perkembangan bahasa pada anak menjadi kurang optimal. Anak belum tertarik dengan kegiatan bercerita yang dapat mengembangkan kemampuan bicaranya. Kadangkala ketika guru meminta anak untuk maju ke depan untuk bercerita, tetapi anak tidak mau. Selain itu anak cenderung merasa bosan, hal ini ditandai dengan sikap anak yang tidak memperhatikan cerita yang disampaikan oleh guru. Hal ini terjadi dikarenakan tidak ada ketertarikan anak untuk mengikuti kegiatan bercerita yang disampaikan oleh guru.

Mengatasi permasalahan yang timbul dalam pembelajaran di kelas ini, maka perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk memperbaiki proses belajar mengajar dalam kelas untuk mengembangkan kemampuan bercerita pada anak. Guru perlu menciptakan suasana agar anak merasa terpenuhi kebutuhannya, artinya kebutuhan tentang kemampuan anak untuk berbicara mengeluarkan pendapat dan bersosialisasi dengan temannya terpenuhi, sehingga anak akan mengikuti kegiatan bercerita dengan penuh semangat. Kegiatan bercerita yang dilakukan haruslah menyenangkan, mengajak anak aktif dalam pembelajaran di kelas agar lebih menarik perhatian anak. Penggunaan media yang menarik juga sangat penting bagi peningkatan kemampuan bercerita pada anak, karena dengan penggunaan media yang bervariasi maka anak tidak akan cepat bosan dalam kegiatan belajar mengajar.

Salah satu media yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak yaitu dengan media gambar, karena dengan media gambar diharapkan bisa menarik perhatian dan minat anak dan juga akan berpengaruh pada peningkatan kemampuan berbicara pada anak. Media gambar yang digunakan dalam bercerita yaitu berukuran besar dan diberi warna yang cerah agar menarik bagi anak. Setelah bercerita anak-anak diharapkan memberikan respon kepada guru yaitu dengan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru tentang isi cerita yang telah disampaikan. Setelah anak mampu menjawab dan menceritakan kembali isi cerita yang telah disampaikan oleh guru, maka anak dapat dikatakan mampu berbicara dengan baik. Hal ini diharapkan akan membantu dalam mengembangkan aspek bahasa pada anak usia dini. Apabila anak memiliki semangat dalam kegiatan bercerita, maka hasil yang diperoleh anak diharapkan akan meningkat, terutama dalam aspek berbicara seiring dengan bertambahnya kosa kata anak.

Berdasarkan alasan tersebut peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengetahui peningkatan kemampuan berbicara anak dengan adanya penggunaan media gambar dalam metode pembelajaran bercerita disertai tanya jawab. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Menggunakan Media Gambar Pada Anak di TK Mekar Sari Tayem Tahun Ajaran 2019-2020”.

KAJIAN TEORETIS

Pengertian Berbicara

Berbicara juga merupakan kegiatan yang efektif karena kemampuan berbicara juga memerlukan artikulasi keterampilan mental motorik, artinya jika anak mengalami gangguan dalam mental motoriknya maka artikulasi yang dihasilkan oleh alat ucap anak kurang maksimal karena dalam kegiatan berbicara tidak hanya melibatkan suara yang berbeda, akan tetapi juga mempunyai aspek sosial emosional yaitu mental untuk mengkaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan (Elizabeth B.Hurlock,1978:176).

Berbicara merupakan kegiatan penyampaian maksud, ide, gagasan, dan pikiran kepada orang lain secara lisan yang berhubungan dengan artikulasi/kejelasan dalam berkomunikasi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang melibatkan mental motorik.

Tujuan Perkembangan Bicara Anak

Perkembangan bicara anak akan meningkat juga tidak terlepas dari adanya stimulasi yang diberikan oleh guru yaitu dengan adanya variasi dalam proses pembelajaran di dalam kelas, variasi disini bisa dilihat dari variasi metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dan variasi media yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan bicara anak sehingga kemampuan berbicara anak akan meningkat lebih optimal.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Berbicara Anak

Menurut Tarmansyah (1996:50-61) dalam Eny Zubaidah (23-29) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan bicara pada anak yaitu: kondisi jasmani dan kemampuan motorik, kesehatan umum, kecerdasan, sikap lingkungan, sosial ekonomi, kedwibahasaan, dan neurologis.

Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Anak

Upaya yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak yang sesuai dengan kebutuhan dan pengalaman belajar anak yaitu dengan menggunakan metode bercerita disertai tanya jawab dan didukung dengan adanya media gambar yang menarik dalam kegiatan bercerita, karena dengan adanya metode bercerita anak akan memperoleh informasi baru dan proses yang dilakukan lebih efektif karena ditambah dengan penggunaan media gambar yang dapat menarik perhatian anak.

Pengertian Media Pembelajaran

Menurut Azhar Arsyad (2007:29) media pembelajaran merupakan komponen istruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Yang dimaksud pesan disini yaitu sesuatu yang akan disampaikan kepada orang lain yang dinamakan pesan, orang yang dimakasud disini yaitu yang menyampaikan pesan misal guru yang berada di dalam kelas, sedangkan peralatan yaitu seuatu/alat yang digunakan untuk memperjelas isi pesan yang akan disampaikan agar pesan tersebut mudah diterima, dimengerti, dan dipahami oleh penerima pesan.

Pengertian Media Gambar

Menurut Nurbiana Dhieni (2005:11.14), media gambar dapat digunakan untuk menjelaskan suatu masalah agar masalah tersebut mudah dipahami oleh anak misal gambar dibuat secara rinci dengan dibawah gambar diberi tulisan, selain itu media gambar juga memberikan daya tarik tersendiri bagi anak-anak terutama anak Taman Kanak-Kanak dari segi warna yang cerah dan ukuran yang besar, dan gambar juga bersifat ekonomis karena mudah didapat dan semua orang bisa membuat media gambar tesebut.

Selain itu penggunaan media gambar dapat disertai dengan berbagai macam metode yaitu: bercerita, pemberian tugas, diskusi dan tanya jawab, dari beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan media gambar yang disesuaikan dengan perkembangan anak yaitu menggunakan metode bercerita disertai tanya jawab.

Pengertian Anak TK

Kurikulum 2010, Taman Kanak-Kanak merupakan satuan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan progrsm pendidiksn bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun.

Anak usia dini merupakan anak yang berusia 0-8 tahun dan harus diberi stimulasioleh orang tua, guru, dan masyarkat sekitar yang berada pada lingkungan dengan tujuan untuk mengembangkan seluruh kemampuan anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal dari aspek fisik motorik, kognitif, sosial emosional, dan bahasa.

Aspek-Aspek Perkembangan Anak TK

Perkembangan anak terdiri dari sejumlah aspek perkembangan. Aspek-aspek perkembangan tersebut meliputi: perkembangan fisik motorik, kognitif, bahasa, dan sosial emosional (M. Ramli, 2005:50).

Langkah-Langkah Pembelajaran

Langkah-langkah tindakan penenlitian yang dilakukan dalam setiap siklus yang dilakukan dalam tiga kali pertemuan terdiri dari:

  • Langkah pertama, guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan cara hari, tanggal, bulan, dan tahun kepada anak kemudian dilanjutkan menyampaikan tema pada hari itu dengan diikuti kegiatan apersepsi yang dilakukan oleh guru kepada anak.
  • Langkah kedua, guru mulai melakukan kegiatan bercerita menggunakan media gambar yang sudah disiapkan.
  • Langkah ketiga, guru memberikan pertanyaan kepada anak tentang isi cerita yang sudah disampaikan oleh guru kepada anak dan guru juga memberikan kesempatan dan kebebsana kepada anak untuk dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru serta memberikan kebebsan kepada anak untuk menceritakan kembali isi cerita yang sudah disampaikan oleh guru, selain itu guru juga memberikan waktu kepada anak untuk bercerita tentang pengalaman pribadi yang dimilki oleh anak.
  • Langkah keempat, guru melakukan reflkesi terhadap kegiatan yang sudah dilakukan selama satu hari kepada anak kegiatannya yaitu berupa tanya jawab, tentang bagaimana perasaan anak hari ini? guru juga mengulang kegiatan bertanya kepada anak tentang cerita yang sudah disampaikan oleh guru kepada anak dan guru juga masih memberikan kesempatan bagia anak yang belum mau menceritkan kembali isi cerita serta bercerita tentang pengalaman priabdi yang dimiliki oleh anak.

Kerangka Pikir

2.1 Kerangka Pikir Penelitian

Hipotesis tindakan

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka Pikir di atas maka, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah media gambar dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak di TK Mekar Sari Tayem .

METODE PENELITIAN

Setting penelitian/lokasi penelitian

Tempat penelitian adalah TK Mekar Sari Tayem Kecamatan Karangpucung Kabupaten Cilacap.

Waktu penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada semester II tahun pelajaran 2019 – 2020.

Subjek penelitian

Subjek penelitian adalah anak didik di TK Mekar Sari Tayem pada semester II Tahun Ajaran 2019-2020

Teknik Pengumpul Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini yaitu dengan cara observasi

Teknik Analisis data

Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian tindakan kelas (PTK) ini yaitu menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan lembar pengamatan berupa checklist (√) untuk mempermudah pengamatan, maka dibuat instrumen penelitian berdasarkan pada indikator-indikator pada bidang pengembangan kemampuan mengungkapkan bahasa.

Variabel Sub Variabel Sub-Sub Variabel Indikator
Kemampuan berbicara Mengekspresikan, menyampaikan, dan menyatakan gagasan ide Pembentukan kata secara lisan.
  1. Bercerita tentang pengalaman pribadi menggunakan lebih dari 2 kalimat.
  1. Menjawab pertanyaan dengan alasan yang kompleks.
  1. Menceritakan kembali isi cerita.

Kisi-Kisi Lembar Observasi dari Teori Kemampuan Berbicara Anak Tk

  1. Bercerita tentang pengalaman pribadi menggunakan lebih dari 2 kalimat
Indikator Skor Deskriptor
Bercerita tentang pengalaman pribadi menggunakan lebih dari 2 kalimat. 3 Anak mampu bercerita pengalaman pribadi menggunakan lebih dari 2 kalimat
2 Anak belum mampu bercerita pengalaman pribadi menggunakan lebih dari 2 kalimat
1 Anak tidak mau bercerita pengalaman pribadi.
  1. Menjawab pertanyaan disertai dengan alasan yang kompleks.
Indikator Skor Deskriptor
Menjawab pertanyaan disertai alasan yang kompleks 3 Anak mampu menjawab pertanyaan disertai alasan yang kompleks.
2 Anak mampu menjawab akan tetapi tidak disertai dengan alasan yang kompleks.
1 Anak tidak mau menjawab pertanyaan.
  1. Menceritakan kembali isi cerita
Indikator Skor Deskriptor
Menceritakan kembali isi cerita 3 Anak mampu menceritakan kembali isi cerita dengan lengkap
2 Anak mampu menceritakan kembali isi cerita, akan tetapi cerita yang disampaikan kurang lengkap
1 Anak tidak mau menceritakan kembali isi cerita

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan pada penelitian ini yaitu apabila ada 18 anak (80%) dari jumlah anak di dalam kelas kemampuan berbicara anak dikategorikan baik hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya kemampun berbicara anak di TK Mekar Sari Tayem setelah diadakan penelitian tindakan kelas dibandingkan sebelum diadakan penelitian

Prosedur Penelitian

Desain Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis dan Mc Taggart

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian Kondisi Awal

No Kriteria Jumlah Siswa Persentase
1 Baik 0 %
2 Cukup 0 %
3 Kurang Baik 11 55 %
4 Tidak baik 9 45 %
Jumlah 20 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Pra Tindakan

Dari hasil rekapitulasi kemampuan berbicara pra tindakan diperoleh data yaitu kemampuan berbicara anak dari 20 anak sebanyak 11 anak (55%) kriteria kurang baik, dan 9 anak (45%) dengan kriteria tidak baik. Dari data tersebut, dapat diketahui bahwa anak yang mencapai kriteria baik dalam kemampuan berbicara belum ada satupun.

Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I

Dari hasil observasi terhadap kemampuan berbicara anak diperoleh data sebagai berikut:

  • Pertemuan 1
No Kriteria Jumlah Siswa Persentase
1 Baik 6 30%
2 Cukup 3 15%
3 Kurang Baik 3 15%
4 Tidak baik 8 40%
Jumlah 20 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Siklus I Pertemuan 1

Dari hasi data rekapitulasi siklus I pertemuan 1 di atas dapat diketahui bahwa kemampuan berbicara anak dari 20 anak sebanyak 6 anak (30%) dalam kriteria baik, ada 3 anak (15%) dalam kriteria cukup, ada 3 anak (15%) dalam kriteria kurang baik, dan ada 8 anak (40%) dalam kriteria tidak baik. Dari data dapat diketahui bahwa kemampuan berbicara anak sudah ada peningkatan walaupun belum optimal dikarenakan masih ada 6 anak yang kemampuan berbicaranya dalam kriteria tidak baik.

  • Pertemuan II
No Kriteria Jumlah Siswa Persentase
1 Baik 8 40 %
2 Cukup 3 15 %
3 Kurang Baik 6 30 %
4 Tidak baik 3 15 %
Jumlah 20 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Siklus I Pertemuan 2

Dari hasil rekapitulasi yang diperoleh dari siklus I pertemuan 2 diperoleh data dari 20 anak, sebanyak 8 anak (40%) termasuk dalam kriteria baik, 3 anak (15%) dalam kriteria cukup, sedangkan 6 anak (30%) dalam kriteria kurang baik, dan 3 anak (15%) termasuk dalam kriteria tidak baik, dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan berbicara anak meningkat akan tepai belum optimal karena masih ada kemampuan berbicara anak pada kriteria tidak baik sebanyak 3 anak.

  • Pertemuan 3
No Kriteria Jumlah

Siswa

Persentase
1 Baik 13 65%
2 Cukup 4 20%
3 Kurang Baik 2 10%
4 Tidak baik 1 5%
Jumlah 15 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Siklus I Pertemuan 3

Dari hasil rekapitulasi data di atas yang diperoleh dari siklus I pertemuan 3 diperoleh data bahwa dari 20 anak sebanyak 13 anak (65%) sudah dalam kriteria baik, ada 4 anak (20%) kriteria cukup, ada 2 anak (10%) dalam kriteria kurang baik, dan yang berada dalam kriteria tidak baik ada 1 anak (5%).

Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II

  • Pertemuan I
No Kriteria Jumlah

Siswa

Persentase
1 Baik 14 70%
2 Cukup 4 20%
3 Kurang Baik 2 10%
4 Tidak baik 0 0
Jumlah 20 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Siklus II pertemuan 1

Dari hasil rekapitulasi di atas diperoleh data sebagai berikut yaitu dari jumlah anak dalam satu kelas sebanyak 20 anak sebanyak 14 anak (70%) masuk dalam kriteria baik, ada 4 anak (20%) masuk dalam kriteria cukup, ada 2 anak (10%) termasuk dalam kriteria kurang baik, dan yang termasuk dalam kriteria tidak baik tidak ada.

  • Pertemuan 2
No Kriteria Jumlah

Siswa

Persentase
1 Baik 16 80%
2 Cukup 4 20%
3 Kurang Baik 0 0
4 Tidak baik 0 0
Jumlah 20 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Siklus II Pertemuan 2

Dari hasil rekapitulasi dapat diketahui dari jumlah anak sebanyak 20 anak ada 16 anak (80%) masuk dalam kriteria baik, ada 4 anak (20%) termasuk dalam kriteria cukup, kemampuan berbicara kriteria kurang baik tidak ada, dan kemampuan berbicara dengan kriteria tidak baik tidak ada.

  • Pertemuan 3
No Kriteria Jumlah

Siswa

Persentase
1 Baik 18 90%
2 Cukup 2 10%
3 Kurang Baik 0 0
4 Tidak baik 0 0
Jumlah 20 anak 100%

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara Siklus II Pertemuan 3

Dari hasil data rekapitulasi tentang kemampuan berbicara anak di atas dapat diketahui bahwa dari 20 anak sebanyak 18 anak (90%) kemampuan berbicara dalam kriteria baik, ada 2 anak (10%) dalam kriteria cukup, sedangkan yang termasuk dalam kriteria kurang baik tidak ada, dan yang termasuk dalam kriteria tidak baik juga tidak ada.

PEMBAHASAN

Kriteria Pratindakan Siklus I Siklus II
Pert.1 Pert.1 Pert.2 Pert.3 Pert.1 Pert.2 Pert.3
Baik 30% 40% 65% 70% 80% 90%
Cukup 15% 15% 20% 20% 20% 10%
Kurang Baik 55% 15% 30% 10% 10%
Tidak Baik 45% 40% 15% 5%

Rekapitulasi Data Kemampuan Berbicara Anak Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II.

Kriteria Kemampuan Awal Siklus I Siklus II
Jumlah anak Persentase Jumlah anak Persentase Jumlah anak Persentase
Baik 13 65% 18 90%
Cukup 4 20% 2 10%
Kurang Baik 11 55% 2 10%
Tidak Baik 9 45% 1 5%

Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II

Dari hasil data rekapitulasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan kemampuan berbicara anak dari pra tindakan, siklus I, dan siklus II. Anak yang telah mencapai ketuntasan kemampuan berbicara pada pra tindakan adalah 0% yaitu pada kriteria tidak baik, pada siklus I meningkat menjadi 65% yaitu pada kriteria cukup, dan pada siklus II meningkat menjadi 90% dalam kriteria baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan media gambar dengan metode bercerita disertai tanya jawab dapat meningkatkan kemampuan berbicara pada anak di TK Mekar Sari Tayem. Peningkatan kemampuan berbicara anak dapat dilihat dari hasil data observasi yaitu sebelum adanya tindakan ketuntasan kemampuan berbicara,yaitu 0% yaitu pada kriteria tidak baik, pada siklus I meningkat menjadi 65% yaitu pada kriteria cukup, dan pada siklus II meningkat menjadi 90% dalam kriteria baik. Peningkatan yang terjadi dari hasil pra tindakan sebesar 0% sampai siklus I 65% sebesar 65%, siklus I sampai siklus II sebesar 25%, jadi peningkatan yang terjadi dari hasil pra tindakan sampai siklus II sebesar 90%.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang sudah peneliti paparkan di atas peneliti memberikan saran sebagai berikut:

  1. Bagi sekolah memberikan sumbangan perbaikan mutu pembelajaran dalam meningkatkan perkembangan bahasa anak salah satunya adalah kemampuan berbicara anak.
  2. Bagi Guru hendaknya dapat mengembangkan model pembelajaran yang menarik bagi anak agar anak tidak bosan dan proses pembelajaran berlangsung secara maksimal, penggunaan media gambar dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan berbicara dengan metode bercerita disertai tanya jawab hendaknya dilakukan dalam proses pembelajaran lebih lanjut dalam rangka meningkatkan kemampuan berbicara anak.
  3. Bagi Peneliti Selanjutnya, mengenai peningkatan kemampuan berbicara melalui penggunaan media gambar disertai dengan metode pembelajaran bercerita disertai tanya jawab masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu menjadi motivasi bagi peneliti selanjutnya untuk melengkapi penelitian ini, yaitu dengan variasi yang lebih baik, sehingga kemampuan berbicara dapat lebih dioptimalkan lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Azhar Arsyad. (2007). Media Pembelajaran. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Daryanto. ( 2010 ). Media Pembelajaran. Yogyakarta. Grava Media.

Hurlock Elizabeth B. (1978). Jilid 1 Perkembangan Anak. Jakarta:Erlangga.

Enny Zubaidah. Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini. Pendidikan Dasar Dan Pra Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.

Moeslichatoen (2004). Pengajaran Di Taman Kanak-Kanak (Pengembangan Kognitif, Bahasa, Kreativitas, Motorik, dan Emosional Metode). Departemen Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan tenaga Akademik.

M. Ramli (2005). Pendampingan Perkembangan Anak usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Nur Mustakim. (2005). PerananCerita Dalam Pembentukan Perkembangan Anak TK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nnasional.

Nurbiana Dhieni (2005). Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka.

Purwanto (2008). Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saleh Abbas. (2006). Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Efektif di Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidkan Nasional.

Slamet Suyanto. (2005). Pembelajaran Untuk Anak TK. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Suharsimi Arikunto. (2005). Manajemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto. (2010). Penelitian Tindakan 2010. Yogyakarta:Aditya Medika.

Suharsimi Arikunto dkk (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Suhartono. (2005). Pengembangan keterampilan Bicara Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Syaiful Bahri Djamarah. (2000). Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Tadkiroatun Musfiroh. (2005). Bercerita Untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan Dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

BIO DATA PENULIS

Nama : Suis Tanaroh, S.Pd.AUD.

NIP : 1972016 200801 2010

Unit Kerja : TK Mekar Sari Tayem

You cannot copy content of this page