Iklan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA

TERHADAP KONSEP VOLUM BANGUN RUANG

DENGAN PENGGUNAAN ALAT PERAGA KUBUS SATUAN

MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM-BASED INSTRUCTION

PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI TEGALSARI 03 SIDAREJA

Oleh:

Siti Maemunah Sri S, S.Pd.SD.

NIP. 19710507199703 2 006

ABSTRAK

Masalah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini adalah; (1) Apakah penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction dapat membantu siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 03 dalam meningkatkan hasil belajar? (2) Apakah penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction dapat meningkatkan kesungguhan siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 03 dalam pembelajaran?. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk menganalisis dampak penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 03. (2) untuk menganalisis dampak pemanfaatan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction terhadap peningkatan kesungguhan siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 03 dalam belajar. Penelitian ini dilakukan melalui proses pengkajian berdaur (PTK) yang meliputi empat tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection). Dari hasil analisis data, kesimpulan yang diperoleh dari pengkajian ini adalah: (1) Penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction pada pembelajaran Matematika konsep Volum bangun ruang, mampu membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar. (2) Penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction pada pembelajaran Matematika konsep Volum bangun ruang, mampu meningkatkan kesungguhan belajar siswa yang berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret..

Kata kunci : Model pembelajaran Problem-Based Instruction, alat peraga kubus satuan, hasil belajar siswa.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Matematika merupakan mata pelajaran yang melatih anak untuk berpikir rasional, logis, cermat, jujur dan sistematis. Pola pikir yang demikian sebagai suatu yang perlu dimiliki siswa sebagai bekal dalam kehidupan seharihari. Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari akan dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan kehidupan.

1

Sebagaimana yang terjadi pada kelas tempat peneliti mengajar yaitu di Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03 Kecamatan Sidareja di mana hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika merupakan urutan yang terbawah dari semua mata pelajaran yang diajarkan di Kelas VI. Diketahui bahwa pada pokok bahasan Volum Bangun Ruang dari ulangan harian yang dilakukan selama dua kali, hasilnya baru mencapai rata-rata kelas 5,6. Hal tersebut masih sangat perlu diupayakan peningkatannya.

Berdasarkan hasil identifikasi masalah tersebut, peneliti mencoba melakukan analisis masalah, berdiskusi dengan teman sejawat dan supervisor, serta bertanya kepada siswa tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari rangkaian proses tersebut, akhirnya dapat diprediksi bahwa faktor penyebab rendahnya hasil belajar siswa, adalah: Model pembelajaran yang peneliti pilih terlalu didominasi oleh metode ceramah sehingga menyebabkan abstraksi konsep; Siswa kurang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran, sehingga muncul rasa bosan dalam belajar. Siswa kurang memperoleh pengalaman belajar yang nyata dan tidak mengalaminya sendiri sehingga siswa kesulitan memahami materi pembelajaran; Model pembelajaran hanya barfokus pada kegiatan guru (teacher centered learning); peneliti kurang memperhatikan perkembangan kognitif siswa; peneliti kurang mampu menggali potensi dan rasa ingin tahu dalam diri siswa.

Dengan memperhatikan akar masalah tersebut di atas, atas saran supervisor, upaya peningkatan kemampuan siswa terhadap pokok bahasan volum bangun ruang antara lain melalui penggunaan model pembelajaran Problem-based instruction dan alat peraga. Dalam pemrolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.

Alat peraga yang tepat untuk menerangkan volum bangun ruang diantaranya kubus satuan. Alat peraga tersebut menjadikan anak akan mampu memecahkan masalah melalui pengamatan, penganalisisan dan pembuktian secara terpadu sehingga konsep volum bangun ruang akan mudah diselesaikan anak didik pada saat mempelajari konsep volum bangun ruang. Sejalan dengan latar belakang masalah tersebut di atas maka penulis bermaksud mengadakan penelitian tindakan untuk mengkaji lebih mendalam yang dirumuskan dalam judul “Upaya Meningkatkan Hasil belajar Siswa Terhadap Konsep Volum Bangun Ruang dengan Penggunaan Alat Peraga Kubus Satuan Melalui Model Pembelajaran problem-based instruction Pada Siswa Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03”.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan alternatif pemecahan masalah di atas, maka masalah yang menjadi fokus perbaikan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

    1. Apakah penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03?
    2. Bagaimanakah penggunaan alat peraga kubus satuan dalam model pembelajaran Problem-Based Instruction dalam meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03?
  1. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk:

    1. Meningkatkan hasil belajar siswa terhadap konsep volum bangun ruang dengan penggunaan alat peraga kubus satuan melalui model pembelajaran problem-based instruction pada siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 03.
    2. Meningkatkan kualitas proses pembelajaran dengan pemanfaatan alat peraga kubus satuan melalui model pembelajaran Problem-Based Instruction pada siswa Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03.

LANDASAN TEORI

1. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan keberhasilan yang telah dirumuskan guru berupa kemampuan akademik. Winarno Surachmad (1981:2) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan nilai hasil belajar yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Hal tersebut berarti hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar. Dalam hasil belajar meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor (Sunaryo,1983:4). Dari berbagai kajian definisi hasil belajar di atas maka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika yang berupa kemampuan akademis siswa dalam mencapai standar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya dan harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Belajar dipengaruhi pula oleh faktor-faktor baik dari dalam maupun dari luar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain dibagi menjadi dua kategori yaitu faktor internal dan eksternal.

Jadi hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar yang telah dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan proses belajar dan mengajar, baik yang menyangkut segi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hasil yang dimaksudkan dalam penelitian tindakan kelas ini, berupa hasil belajar yang berupa hasil akademik siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.

2. Model Pembelajaran Problem-Based Instruction

Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik (Arends et al., 2001). Dalam perolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah.

Sistem sosial yang mendukung model ini adalah: kedekatan guru dengan siswa dalam proses teacher-asisted instruction, minimnya peran guru sebagai transmitter pengetahuan, interaksi sosial yang efektif, latihan investigasi masalah kompleks. Prinsip reaksi yang dapat dikembangkan adalah: peranan guru sebagai pembimbing dan negosiator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan selama proses pendefinisian dan pengklarifikasian masalah. Sarana pendukung model pembelajaran ini adalah: lembaran kerja siswa, bahan ajar, panduan bahan ajar untuk siswa dan untuk guru, artikel, jurnal, kliping, peralatan demonstrasi atau eksperimen yang sesuai, model analogi, meja dan korsi yang mudah dimobilisasi atau ruangan kelas yang sudah ditata untuk itu. Dampak pembelajaran adalah pemahaman tentang kaitan pengetahuan dengan dunia nyata, dan bagaimana menggunakan pengetahuan dalam pemecahan masalah kompleks. Dampak pengiringnya adalah mempercepat pengembangan self-regulated learning, menciptakan lingkungan kelas yang demokratis, dan efektif dalam mengatasi keragaman siswa.

3. Alat Peraga Kubus Satuan

Alat peraga disebut juga alat bantu pelajaran. Alat peraga yang digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran, maka pembelajaran menjadi lebih berkualitas. Menurut Heinich (dalam Arsyad, 2002: 4) menyatakan bahwa keseluruhan sejarah, media dan teknologi telah mempengaruhi pendidikan. Media merupakan jamak dari kata medium adalah suatu saluruh untuk komunikasi.

Meskipun ada perbedaan, pada prinsipnya media dan alat peraga merupakan perantara dalam kegiatan pembelajaran. Kaitannya dengan pembelajaran matematika maka alat peraga yang dapat digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang akan diberikan pada saat itu.

METODE PENELITIAN

  1. Seting Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Tegalsari 03,Kecamatan Kabupaten Cilacap, yang berlokasi di di pinggir jalan raya berdekatan dengan SDN Tegalsari 02. Penelitian ini memakan waktu dua bulan mulai dari bulan Januari 2019 sampai dengan bulan Februari 2019

B. Metode dan Rancangan Penelitian

Metode dan Rancangan Penelitian

Data yang akan diperoleh/dikumpulkan berupa data yang langsung tercatat dari kegiatan di lapangan, maka bentuk metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif kualitatif. Rancangan penelitian yang akan diambil adalah Penelitian tindakan kelas model siklus karena objek penelitian yang diteliti hanya satu sekolah. Adapun rancangan penelitiannya yaitu, a) perencanaan, b) tindakan, c) pengamatan, d) refleksi.

  1. Subyek Penelitian

Salah satu karakteristik PTK adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas, sehingga fokus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa perilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi. Karena siswa terlibat dalam situasi penelitian, maka karakteristik siswa perlu dipahami agar PTK berjalan lancar sesuai tujuan. PTK ini dilaksanakan di Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03, dengan jumlah siswa sebanyak 30 anak terdiri dari 15 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan.

  1. Validitas Data

Menurut Suharsimi Arikunto (2008: 129) di dalam penelitian diperlukan adanya validitas data, maksudnya adalah semua data yang dikumpulkan hendaknya mencerminkan apa yang sebenarnya diukur atau diteliti. Di dalam penelitian ini untuk menguji kesahihan data digunakan triangulasi data dan triangulasi metode. D. Analisa Data

Untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisis data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran passing bawah dengan permainan bola berantai.

E. Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Istilah dalam bahasa Inggris adalah Classroom Action Research (CAR), yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi per Siklus

A. Data Hasil Tindakan

Siklus I

1. Data hasil perencanaan

Pada tahap perencanaan, data yang diperoleh berupa: rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP) yang di dalamnya tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan; seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data; dan data pendukung pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS).

2. Data hasil pelaksanaan tindakan

Pada tahap pelaksanaan tindakan, data yang diperoleh berupa rekapitulasi nilai tes formatif pembelajaran sebagai berikut :

  1. Pada studi awal nilai rata-rata kelas 52, setelah dilakukan perbaikan mengalami kenaikan menjadi 67. Rata-rata kelas naik 15.
  2. Ada 25 siswa yang mengalami kenaikan nilai prestasi (83%)
  3. Jumlah siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 18 (60%).

3. Data hasil pengamatan

Pada tahap pengamatan, diperoleh data sebagai berikut:

No

Pembelajaran

Siswa yang benar-benar telah menunjukkan kesungguhan belajar

Persentase

1

Studi Awal

10

33%

2

Siklus I

16

53%

Tabel 4.2

Rekapitulasi Kesungguhan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I

4. Data hasil refleksi

Berdasarkan data yang terkumpul dan data hasil diskusi saya melakukan penelaahan dan mencoba menyimpulkan hasil tindakan yang telah dilakukan. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa sudah meningkat, meski belum optimal (18 dari 30 siswa sudah mencapai tingkat ketuntasan belajar). Target peningkatan kesungguhan belajar belum tercapai, baru 16 siswa dari 30 siswa yang benar-benar telah menunjukkan kesungguhan belajar. Di samping itu banyak anak-anak yang ingin melakukan peragaan tetapi tidak memperoleh kesempatan.

Siklus II

1. Data hasil perencanaan tindakan

Pada tahap perencanaan tindakan data yang diperoleh berupa RPPP siklus II yang dibuat dengan tambahan sesuai perubahan-perubahan perbaikan setelah mengakomodasi masukan dari siklus I; seperangkat instrumen yang akan digunakan dalam pengumpulan data; dan data pendukung pembelajaran berupa lembar LKS.

2. Data hasil pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan tindakan, data yang diperoleh berupa hasil nilai tes formatif pembelajaran, sebagai berikut:

  1. Pada siklus I nilai rata-rata kelas 67. Setelah dilakukan perbaikan dengan mengakomodasikan kelemahan pada siklus I, nilai rata-rata kelas pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 79. Nilai rata-rata kelas naik 12 dari siklus I atau 27 dari studi awal.
  2. Ada 25 siswa yang mengalami kenaikan nilai prestasi belajar (83%).
  3. Jumlah siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 21 (70%).

3. Data hasil pengamatan

Pada tahap pengamatan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.1 Rekapitulasi Kesungguhan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus II

No

Pembelajaran

Siswa yang benar-benar telah menunjukkan kesungguhan belajar

Persentase

1

Studi Awal

10

33%

2

Siklus I

16

53%

3

Siklus II

23

77%

4. Data hasil refleksi

Berdasarkan data yang terkumpul dan data hasil diskusi saya mencoba melakukan penelaahan dan mencoba menyimpulkan hasil tindakan yang dilakukan. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa sudah meningkat meski belum optimal (21 dari 30 siswa sudah tuntas belajar).

Target meningkatkan kesungguhan belajar sudah memberikan angka yang berarti meski belum mencapai batas kriteria yang telah ditentukan, baru 23 dari 30 siswa yang benar-benar telah menunjukkan kesungguhan belajar.

Dari 8 siswa yang berhasil diminta komentarnya, 7 siswa mengatakan sangat membantu, sedangkan 1 siswa tidak memberikan komentar apapun.

Siklus III

1. Data hasil perencanaan

Pada tahap perencanaan data yang diperoleh berupa: RPPP siklus III yang dibuat dengan tambahan sesuai dengan perubahan-perubahan perbaikan setelah mengakomodasikan masukan dari siklus II: seperangkat instrumen yang akan digunakan dalam pengumpulan data; dan data pendukung pembelajaran berupa LKS.

2. Data hasil pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan tindakan, data yang diperoleh berupa hasil nilai tes formatif pembelajaran, sebagai berikut:

  1. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas 79. Setelah dilakukan perbaikan dengan mengakomodasikan kelemahan pada siklus II, nilai rata-rata kelas pada siklus III mengalami kenaikan menjadi 89. Nilai rata-rata kelas naik 37 dari studi awal.
  2. Ada 22 siswa yang mengalami kenaikan nilai prestasi belajar (73%).
  3. Jumlah siswa yang mencapai tingkat ketuntasan belajar 29 (97%).

3. Data hasil pengamatan

Pada tahap pengamatan diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.2. Rekapitulasi Kesungguhan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus III.

No

Pembelajaran

Siswa yang benar-benar telah menunjukkan kesungguhan belajar

Persentase

1

Studi Awal

10

33%

2

Siklus I

16

53%

3

Siklus II

23

77%

4

Siklus II

28

93%

4. Data hasil refleksi

Setelah dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh, hasil penelitian ini dapat dirangkumkan sebagai berikut.

a. Hasil belajar siswa

Setelah dilakukan analisis terhadap data di atas, diketahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep Volum Bangun Ruang setelah dilakukan intervensi dengan penggunaan peraga maket dalam model pembelajaran aktif menunjukkan kenaikan angka pemahaman dan ketuntasan belajar yang sangat signifikan.

Tabel 4.3 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa pada Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran

No

Pembelajaran

Hasil Belajar Siswa

Nilai Rata-rata Kelas

Tuntas

Persentase

Belum

Persentase

1

Studi Awal

52

13

43%

17

57%

2

Siklus I

67

18

60%

12

40%

3

Siklus II

79

21

70%

9

30%

4

Siklus III

89

29

97%

1

3%

b. Kesungguhan belajar siswa

Dari hasil analisis, peningkatan kesungguhan belajar siswa pada setiap siklus kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.8 Rekapitulasi Peningkatan Kesungguhan Belajar Siswa untuk Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan Pembelajaran

No

Pembelajaran

Siswa yang benar-benar telah menunjukkan kesungguhan belajar

Persentase

1

Studi Awal

10

33%

2

Siklus I

16

53%

3

Siklus II

23

77%

4

Siklus II

28

93%

Dari hasil refleksi tersebut, saya menyimpulkan bahwa tindakan perbaikan yang dilakukan telah berhasil. Meski masih ada hal-hal yang harus diperbaiki. Berarti upaya perbaikan pembelajaran berakhir di siklus ketiga.

B. Pembahasan

1. Siklus I

Alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep Volum Bangun Ruang dan rendahnya kesungguhan belajar siswa dengan menggunakan peraga maket dalammodel pembelajaran aktif pada pembelajaran konsep Volum Bangun Ruang di Kelas VI SD Negeri Tegalsari 03, ternyata memberikan kenaikan hasil belajar dan kesungguhan belajar yang signifikan jika dibandingkan dengan studi sebelumnya.

Berkat intervensi ini ada kenaikan ketuntasan belajar sebesar 23%, kenaikan kesungguhan belajar sebesar 20% dan kenaikan nilai rerata sebesar 15.

2. Siklus II

Setelah dilakukan intervensi terhadap kelemahan hasil refleksi pada siklus I, melalui pengaturan mengubah posisi tempat duduk membentuk tapal kuda (U) kenaikan ketuntasan belajar siswa semakin terlihat. Kenaikan ketuntasan belajar sebesar 10%, kenaikan kesungguhan belajar siswa sebesar 23% dari kenaikan nilai rerata sebesar 12. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Slamet Trihartanto (2007:8), “Setiap media sudah pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk mempermudah hasil yang optimal, pemilihan media di antaranya perlu memperhatikan jumlah siswa atau besar kecilnya kelas.”

Akan tetapi pada siklus II ini walaupun sudah menunjukkan kenaikan yang signifikan, pemahaman siswa belum melampaui batas kriteria yang telah ditetapkan, walau kesungguhan belajar siswa sudah melampui batas kriteria yang ditetapkan.

3. Siklus III

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus II, peneliti menggunakan variabel lain untuk meningkatkan kesungguhan belajar siswa yang nantinya diharapkan memberi kontribusi terhadap peningkatan pemahaman, yaitu dengan memperkecil jumlah anggota untuk setiap anggota kelompok kerja siswa, ternyata upaya tersebut dapat memberikan kontribusi yang signifikan.

Peningkatan pemahaman siswa (ketuntasan belajar) naik sebesar 27, kenaikan kesungguhan belajar sebesar 17% dan kenaikan nilai rerata sebesar 10. Ternyata dengan jumlah 5 siswa, dinamika kerja kelompok lebih baik dan semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, dan semua siswa memperoleh pengalaman nyata dari pembelajarannya. Seperti dikatakan Edgar Dale bahwa pengalaman belajar yang paling tinggi nilainya adalah pengalaman belajar melalui pengalaman belajar langsung dan melakukan sendiri.

Di samping hal di atas, faktor lain yang turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan hasil adalah alokasi waktu tes yang cukup dengan disediakannya lembar soal dan lembar jawab, waktu belajar lebih efisien karena siswa tidak lagi membuang sebagian waktunya untuk mencatat soal di papan tulis dan menyediakan lembar jawab.

SIMPULAN DAN SARAN

      1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan temuan yang diperoleh pada siklus I, II, dan III dapat ditarik simpulan sebagai berikut:

        1. Penggunaan peraga maket dalam model pembelajaran aktif pada pembelajaran Matematika konsep Volum Bangun Ruang, mampu mempermudah siswa dalam memahami materi pelajaran.
        2. Penggunaan peraga maket dalam model pembelajaran aktif pada pembelajaran Matematika konsep Volum Bangun Ruang, mampu memberikan tingkat pemahaman materi yang lebih baik dari peraga gambar atau chart pada model pembelajaran konvensional
        3. Penggunaan peraga maket dalam model pembelajaran aktif mampu meningkatkan kesungguhan belajar siswa yang berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret.
        4. Jumlah anggota kelompok 5 siswa dalam kelompok kerja dapat memungkinkan siswa bekerja secara efektif dan aktif dalam kelompok.
        5. Faktor lain yang memberikan kontribusi pada peningkatan hasil perbaikan pembelajaran adalah pemberian kesempatan kepada setiap siswa untuk melakukan peragaan dalam kelompoknya. Sehingga setiap siswa masing-masing memperoleh pengalaman belajar melalui pengalaman langsung dan melakukan sendiri.
        6. Ada korelasi positif antara kesungguhan belajar siswa dengan hasil belajar siswa, semakin tinggi kesungguhan belajar siswa semakin tinggi pula angka keberhasilan siswa dalam belajar.
        7. Pembelajaran akan lebih efektif bila dalam proses pembelajaran memperhatikan perkembangan kognitif siswa. Sehingga siswa mempunyai kesungguhan dalam belajar.
      1. Saran
        1. Saran untuk Penelitian Lebih Lanjut

Munculnya variabel ekstra yang tidak terkontrol mungkin berpengaruh terhadap validitas hasil, yakni:

          1. Keberhasilan yang dicapai dapat saja bukan hanya didapat dari intervensi yang dilakukan, tetapi mungkin karena adanya proses pembelajaran yang diulang-ulang dari siklus ke siklus. Seyogyanya kontribusi dari variabel ekstra ini dapat diminimalkan.
          2. Dalam menilai tentang peran intervensi yang dilakukan terhadap kemudahan siswa dalam memahami materi, hanya dilakukan berdasarkan sampel, sebaiknya seluruh siswa diminta komentar dan pendapatnya.
          3. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini masih merupakan instrumen yang tingkat validasinya belum memuaskan. Penelitian berikutnya dapat mencoba dengan lebih standar.
        1. Saran untuk Penerapan Hasil

Mengingat penggunaan peraga maket dalam model pembelajaran aktif terbukti dapat mempermudah siswa dalam memahami materi, dapat meningkatkan kesungguhan belajar, dan pemahaman siswa terhadap pembelajaran konsep Volum Bangun Ruang, sekolah dengan karakteristik yang relatif sama:

          1. Tidak ada salahnya kalau mencoba menerapkan cara belajar yang serupa untuk meningkatkan prestasi Matematikasi siswa secara aktif dalam pembelajaran;
          2. Dalam elemen penanaman konsep Matematika sebaiknya menggunakan media karena dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu;
          3. Penggunaan media dalam pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa perlu diterapkan pada mata pelajaran atau konsep pembelajaran yang lain;
          4. Kesungguhan belajar siswa tinggi jika kita mengupayakan kondisi pembelajaran yang menyenangkan. Salah satunya dengan menggunakan media dalam pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S., Sukardjono, P Supardi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Belen, S. (2003). Belajar Aktif dan Terpadu. Surabaya: Duta Graha Pustaka.

Carin, Arthur. (1993). Teaching Science Through Discovery. New York: Macmillan Publishing Company.

Dahar, R.W. (1996). Kontruktivisme dalam P endidikan MATEMATIKA. Makalah pada forum komunikasi integrasi vertikal pendidikan sains di Cisarua Bogor.

Depdiknas. (2003). Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Departemen Pendidikan Naisonal.

Hamalik, Oemar. (2004). Media Pendidikan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

Harlen, W. (1992). The Teacher of Science. London: David Fultion Publisher Ltd.

Hernawan, A.H. (2007). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Kemmis & Mc. Taggart. (1994). The Action Research Planner. Geelong: Deaken University Press.

Mc. Niff. J. (1991). Action Research; Principle an Practice. London: Macmillan.

Mikarsa, H.L., Taufik, A., Prianto, P.L. 2007. Pendidikan Anak SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Mills, G.E. (2000). Action Research: A Guide for the Teacher Research. Colombus: Merrils Am Imprint of Prentice Hill.

Purwadarminta. (1994). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Pusat dan Pengembangan Bahasa, tanpa tahun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ristasa, R.A. (2009). Perspektif Pendidikan MATEMATIKA. Hand Out Pembimbingan TAP di UPBJJ Purwokerto.

Ristasa, R.A. (2010). Pedoman Penyusunan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Purwokerto: Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Terbuka, UPBJJ Purwokerto.

BIODATA PENULIS

Nama : Siti Maemunah Sri S, S.Pd.SD.

NIP : 19710507199703 2 006

Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Guru Kelas

Instansi : SD Negeri Tegalsari 03 Korwil Bidang Pendidikan Kec Sidareja, Kab. Cilacap

Judul : UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA TERHADAP KONSEP VOLUM BANGUN RUANG DENGAN PENGGUNAAN ALAT PERAGA KUBUS SATUAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM-BASED INSTRUCTION PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI TEGALSARI 03 SIDAREJA

By admin

You cannot copy content of this page