Iklan

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING SETTING TPS PADA SISWA KELAS VIIE SEMESTER II SMP NEGERI 1 KEDUNGBANTENG TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Nuke Andriani, S.Si.

ABSTRAK

Pembelajaran matematika yang dilakukan penulis selama ini belum mengoptimalkan potensi siswa dan tidak menggunakan strategi pembelajaran yang bervariatif dan mengoptimalisasi potensi siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cara meningkatkan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran problem based learning setting think pair share (TPS) pada siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng. Subjek penelitian siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng Kabupaten Banyumas tahun pelajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 31 siswa. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari instrumen penilaian pilihan ganda dan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kondisi dari sebelum tindakan (pretes), akhir siklus 1dan akhir siklus 2. Hasil dari penelitian ini adalah terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan yang terjadi cukup signifikan dari hasil pretes dengan hasil 16,1% atau sebanyak 5 dari 31 siswa yang mencapai KKM dan diakhir siklus 1 meningkat menjadi 54,8% atau sebanyak 17 siswa sedangkan di akhir siklus 2 setelah pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learningsetting think pair share (TPS) meningkat menjadi 87,9 % atau sebanyak 27 siswa.

Kata kunci :Hasil Belajar, Problem Based Learning, Think Pair Share.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Peran dan fungsi matematika dalam kehidupan tidak bisa dipungkiri menjadi suatu hal pokok untuk mengembangkan dan memajukan tingkat kehidupan manusia di dunia ini. Matematika merupakan salah satu ilmu yg menjadi dasar bagi pengembangan ilmu-ilmu yang lain. Selain itu matematika merupakan suatu ilmu yang menjadi dasar bagi berkembangnya ilmu yang lain (Suherman, dkk, 2001: 29). Tanpa adanya penguasaan terhadap matematika penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang lain akan sulit bahkan dapat menjadi suatu hal yang mustahil. Mengingat pentingnya matematika, maka pembelajaran matematika harus dilaksanakan dengan baik agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal.

Proses pembelajaran matematika di kelas yang membosankan, tidak menarik, monoton dan konvensional juga makin membuat siswa makin jenuh dan makin tidak memahami materi – materi pada mata pelajaran matematika. Sehingga seringkali kita mendengar mata pelajaran matematika di sekolah justru menjadi momok yang menakutkan bagi siswa.

Perjalanan pembelajaran matematika Indonesia tidak terlepas dari teori-teori belajar yang telah bervariasi di buat oleh ahli-ahli belajar. Bell (1978:97) mengemukakan bahwa tiap teori dapat dipandang sebagai suatu metoda untuk mengorganisasi serta mempelajari berbagai variabel yang berkaitan dengan belajar dan perkembangan intelektual, dan dengan demikian guru dapat memilih serta menerapkan elemen-elemen teori tertentu dalam pelaksanaan pengajaran di kelas.

Optimalnya hasil belajar tidak akan terlepas dari peran guru sebagai fasilitator pembelajaran. Bagaimanapun optimal atau tidaknya hasil yang dicapai siswa akan sangat tergantung dari proses pembelajaran yang dibangun oleh guru. Sebenarnya pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, hal ini tercermin dari adanya penyempurnaan kurikulum, penyediaan buku bacaan dan pengetahuan guru melalui penataran baik pada tingkat regional maupun pada tingkat nasional.

Namun demikian, sampai saat ini penguasaan matematika siswa dikatakan masih rendah. Fakta menunjukkan bahwa hasil belajar yang dicapai siswa khususnya pada bidang studi matematika di SMP secara umum masih kurang menggembirakan. Hal serupa juga dialami oleh siswa Kelas VIIE di SMP Negeri 1 Kedungbanteng.

Untuk itu diperlukan suatu metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi perbedaan kebutuhan-kebutuhan siswa. Salah satu metode pembelajaran yang mampu memfasilitasi kebutuhan belajar baik dengan belajar secara individu maupun kelompok adalah model pembelajaran think, pair, share (TPS). Model pembelajaran ini memiliki tiga ciri yang utama yaitu proses berfikir individu (think), berdiskusi berpasangan (pair), dan proses mengomunikasikan hasil diskusi (share).

Adapun model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk belajar menggunakan soal atau masalah adalah model pembelajaran problem based learning. Seperti dikemukakan oleh Wilcox (dalam Nur, 1999:7) yaitu siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

Berdasarkan uraian diatas maka pembelajaran model problem based learning dengan setting TPS dirasa guru sesuai untuk memfasilitasi kebutuhan belajar siswa di kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng tahun pelajaran 2019/2020.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan di kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng tahun pelajaran 2019/2020 sebagai berikut.

  1. Guru belum menggunakan model pembelajaran yang memfasilitasi kebutuhan seluruh siswa
  2. Rendahnya hasil belajar siswa

Rumusan Masalah

Rumusan masalah tersebut adalah :

Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng melalui model pembelajaran problem based learning setting think pair share (TPS)

Tujuan penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng melalui model pembelajaran problem based learning setting think pair share (TPS)

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Hakekat Belajar dan Pembelajaran

Belajar adalah sebuah proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang menetap, baik  yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Roziqin, 2007: 62).

Definisi yang lain menyebutkan bahwa belajar menurut W. Gulö (2002: 23) adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat. Kemudian James O. Whittaker (Djamarah,1999) juga menguatkan pernyataan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Sedanghkan menurut R. Gagne (Djamarah ; 1999:22) Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku.

Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku. Perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil belajar meliputi perubahan dalam kawasan (domain) kognitif, afektif dan psikomotor, beserta tingkatan aspek-aspeknya. Sedangkan pembelajaran adalah proses belajar yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar. Adapun tujuan belajar antara lain adalah untuk meningkatkan penguasaan terhadap suatu materi pelajaran dengan tujuan meningkatkan hasil belajar siswa.

Model Pembelajaran Problem based learning dengan Setting Think Pair Share (TPS)

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Arends (2007: 43) menyatakan bahwa esensinya PBL menyuguhkan berbagai situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada siswa, yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan. PBL dirancang untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan menyelesaikan masalah, mempelajari peran-peran orang dewasa dan menjadi pelajar yang mandiri. Model ini menyediakan sebuah alternatif yang menarik bagi guru yang menginginkan maju melebihi pendekatan-pendekatan yang lebih berpusat pada guru untuk menantang siswa dengan aspek pembelajaran aktif dari model itu. PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan yang esensial dari mata pelajaran.

Model Pembelajaran Think Pair Share

Model pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman dkk di universitas Maryland pada tahun 1981 (Lie, 2007: 57). Ciri utama dari model pembelajaran ini adalah tiga langkah utama yang terdiri dari think (Berpikir secara individu), pair (Berdiskusi secara berpasangan), dan share (berbagi jawaban dengan yang lain). Dengan demikian siswa diberi kesempatan berpikir secara individu dan juga berdiskusi dengan temanya. Hal itu akan sangat bermanfaat dalam memfesilitasi gaya belajar siswa yang beragam.

Lebih lanjut Arends (2012: 370-371) mengemukakan bahwa langkah-langkah model pembelajaran TPS adalah sebagai berikut.

Step 1—Thinking: The teacher poses a questions or an issue assoclated with the lesson and students to spend a minute thinking alone about the answer or the issue. Students need to be taught that talking is not part of thinking time.

Step 2—Pairing: Next, the teacher asks students to pair off and discusess what they have been thinking about. Interaction during this period can be sharing answer if a question has been posed or sharing ideas if a specific issue was identified. Usually, teachers allow no more than four or five minutes for pairing.

Step 3—Sharing: In the final step the teacher asks the pairs to share what they have been talking about with the whole class. It is effective to simply go round the room from pair and continue until about a fourth or a half of the pairs have had a chance to report.”

Maksud dari pernyataan tersebut adalah langkah utama dalam TPS yaitu 1) Berpikir: Guru memberikan pernyataan atau masalah yang terkait dengan pelajaran dan meminta siswa untuk menghabiskan satu menit berpikir sendiri tentang jawaban atau masalah. Siswa perlu diajarkan bahwa bicara bukanlah bagian dari waktu berpikir; 2) Berpasangan: guru meminta siswa untuk berpasangan dan berdiskusi tentang apa yang telah mereka pikir. Interaksi selama periode ini dapat berbagi jawaban jika pertanyaan telah diajukan atau berbagi ide untuk mengidentifikasi masalah tertentu; 3) Berbagi: Pada langkah akhir, guru meminta pasangan untuk berbagi apa yang telah didiskusikan pada teman sekelas. Hal ini efektif untuk berbagi dari pasangan satu ke pasangan lain dalam satu ruangan dan melanjutkan sampai sekitar seperempat atau setengah dari pasangan memiliki kesempatan untuk melaporkan ke depan kelas.

Hasil Belajar Matematika

Menurut Sukmadinata (2005); Hasil belajar (achievement) merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Sedangkan menurut Sudjana (2004); Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.

Kerangka Berfikir

Pada latar belakang telah diuraikan, bahwa siswa Kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng belum mencapai standar ketuntasan dikarenakan siswa cenderung pasif pada saat pembelajaran berlangsung. Suatu model pembelajaran yang mampu memfasilitasi hal tersebut adalah model pembelajaran problem based learning setting TPS. Hal ini diupayakan agar siswa dapat aktif untuk menemukan sendiri bukan didapat dari hafalan atau dari penjelasan guru. Dengan demikian dengan karakteristik yang dimilikinya model pembelajaran tersebut diduga mampu memfasilitasi kebutuhan siswa yang beragam sehingga hasil belajar siswa akan meningkat.

METODE PENELITIAN

Subyek, Tempat dan Waktu Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng tahun pelajaran 2019/2020. Siswa kelas VIIE berjumlah 31 siswa yang terdiri dari 14 siswa putra dan 17 siswa putri. Karekteristik siswa di kelas ini sangat beragam, baik dari segi prestasi akademis, gaya belajar maupun latar belakangnya.

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai Mei 2020.

Skenario Tindakan

Dalam penelitian ini, peneliti melaksanakan pola kerja sama dengan guru matematika lain di SMP Negeri 1 Kedungbanteng. Posisi peneliti dalam penelitian ini adalah guru di kelas VIIE, dan rekan guru matematika lain berperan sebagai observer. Pelaksanaannya dilakukan tiga kali yaitu pembelajaran awal (pra siklus), siklus I, dan siklus II.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Tes Pilihan Ganda

Tes pilihan ganda digunakan dalam masing-masing siklus pada penelitian ini untuk soal pretest dan postes. Soal pretest dan postes pada masing-masing siklus bertujuan untuk melihat sejauh mana peningkatan prestasi belajar siswa sebelum dan setelah pembelajaran.

Lembar observasi

Lembar observasi pada penelitian dilakukan sebelum dan selama proses pembelajaran. Observer mengisi lembar observasi dengan cara memberikan tanda checklist pada kolom terlaksana, atau tidak terlaksana dan memberikan catatan apabila diperlukan pada tempat yang disediakan.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data penelitian adalah hasil belajar siswa dilakukan dengan cara menghitung skor tiap siswa dengan penilaian skala 100 dan menentukan ketercapaian prestasi belajar secara klasikal. Skor Siswa dalam satu kelas percobaan kemudian dipersentase untuk mengetahui ketercapaian hasil belajar. Ketercapaian hasil belajar tercapai apabila minimal 75% siswa mencapai skor di atas kriteria ketuntasan minimal mata pelajaran matematika di SMP Negeri 1 Kedungbanteng yaitu 70. Sedangkan data hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran akan dianalisis dengan menghitung persentase keterlaksanaan kegiatan pembelajaran pada setiap pelaksanaan pembelajaran.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Diskripsi Kondisi Awal

Hasil observasi pelaksanaan sebelum diterapkan model pembelajaran Think Pair Share terdapat beberapa masalah yang mendorong untuk pelaksanaan observasi. Selama ini pembelajaran matematika yang terjadi di kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng mayoritas masih dilakukan dengan metode ekspositori yaitu  strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Hal itu antara lain dikarenakan kurangnya pengetahuan guru mengenai berbagai metode pembelajaran inovatif yang dapat memfasilitasi kebutuhan siswa yang berbeda dengan baik. Meskipun cakupan materi yang menjadi target dalam kurikulum dapat selesai tepat waktu, tetapi hasil belajar siswa tidak sebaik yang diharapkan. Hal itu terbukti dari nilai ulangan harian sebelum penelitian dilaksanakan masih kurang dari 50% siswa yang tuntas KKM.

Rendahnya hasil belajar terhadap matematika secara empiris dapat dilihat dari hasil pretes prestasi belajar dan dan angket yang dilakukan sebelum adanya perlakuan pada penelitian ini. Hasil kognitif siswa yang tuntas ≥ 70 adalah 16,1%. Data tersebut secara singkat tersaji pada tabel 1.

Tabel 1. Deskripsi kondisi awal kelas VIIIC

Variabel Interval Kriteria Kondisi

Awal

Kognitif

(Hasil belajar)

yang tuntas ≥ 70 KKM tercapai 16,1%

Artinya hanya ada 5 dari 31 siswa yang tuntas KKM. Hal itu dikarenakan belum adanya proses pembelajaran yang dilakukan. Siswa mengerjakan soal tentang materi yang belum dipelajarinya secara maksimal.

Hasil Penelitian Siklus 1

Kompetensi dasar pada siklus I dalam penelitian ini adalah KD 3.12 yaitu

menjelaskan sudut, jenis sudut, hubungan antar sudut, cara melukis sudut, membagi sudut, dan membagi garis dan KD 4.12 yaitu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sudut dan garis.

Persiapan

Persiapan pada tahap siklus 1 terdiri dari menyiapkan perangkat penelitian meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran, lembar observasi pembelajaran, instrumen tes hasil belajar, dan membagi siswa dalam kelompok yang heterogen. Guru mempelajari kembali semua perangkat yang telah disiapkan untuk memastikan pembelajaran berlangsung sesuai rencana.

Pelaksanaan pembelajaran.

Pada tahap ini, guru melaksanakan pembelajaran tentang menjelaskan sudut, jenis sudut, hubungan antar sudut, cara melukis sudut, membagi sudut, dan membagi garis pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yaitu cek segala kebutuhan belajar, memberikan introduksi, apersepsi, menyampaikan sasaran belajar. Guru memberikan semangat dan informasi agar siswa dapat melaksanakan pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Sebelum pembelajaran dimulai guru memberikan LKS terbimbing dengan dibantu oleh sebagian siswa, guru menjelaskan petunjuk pengerjaan LKS terbimbing, siswa merespon secara aktif penjelasan guru. Pada saat siswa mengerjakan LKS terbimbing, guru membimbing siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan probling / menggali hingga guru bersama siswa mengkomunikasikan dan menyimpulkan hasil temuan. Pada akhir pembelajaran guru memberikan tugas rumah dan pesan belajar.

Observasi Pelaksanaan Pembelajaran

Observasi dilakukan di setiap pertemuan pada siklus 1 untuk mengamati keterlaksanaan kegiatan pembelajaran problem based learning setting think pair share. Pada pertemuan pertama siklus 1, hanya 69% kegiatan pembelajaran yang terlaksana, tetapi pada akhir siklus 1 atau pertemuan ke-2 meningkat menjadi 76%. Secara keseluruhan keterlaksanaan pembelajaran pada siklus 1 baru sebesar 73%.

Refleksi

Pada akhir siklus dilakukan rekapitulasi terhadap presentase keterlaksanaan pelaksanaan pembelajaran. Selain itu juga dilakukan postes untuk mengukur keberhasilan pembelajaran dalam ranah kognitif. Ranah kognitif adalah hasil belajar siswa. Hasil dari ketiganya pada akhir siklus 1 disajikan dalam tabel 2.

Tabel 2. Hasil Akhir Siklus 1

Variabel Interval Kriteria Kondisi Awal Target Akhir Siklus 1
Kognitif (Hasil belajar) yang tuntas ≥ 70 KKM tercapai 16,1% 75% 54,8%
Proses Pembelajaran terlaksana ≥ 85 % Pemb Berhasil <50% 85% 73%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat keterlaksanaan pembelajaran aspek kognitif belum mencapai target baik. Meski demikian ada peningkatan pada akhir siklus 1 jika dibandingkan dengan kondisi awal. Pada variabel kognitif (hasil belajar siswa) sebagai hasil pembelajaran pada siklus 1 menunjukan bahwa ada 17 siswa atau 54,8% siswa yang telah mencapai KKM. Rata-rata skor tes hasil belajar baru mencapai 64 dari target 70 artinya belum mencapai target yang ditentukan. Walaupun belum mencapai target yang diharapkan, tetapi hasil tersebut jauh lebih baik daripada hasil pretes saat kondisi awal yaitu hanya 5 dari 31 siswa yang mencapai KKM.

Hasil penelitian siklus 2

Pada pembelajaran siklus 2 ini dilakukan pada KD 3.13 yaitu menganalisis hubungan antar sudut sebagai akibat dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis transversal dan 4.13 yaitu menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hubungan antar sudut sebagai akibat dari dua garis sejajar yang dipotong oleh garis transversal.

Persiapan

Pada siklus 2 ini kegiatan persiapan sama seperti pada siklus 1, adapun tindakan tambahan pada siklus 2 ini, yaitu memperbaiki proses pelaksanaan pembelajaran problem based learning setting think pair share.

Peningkatan hasil belajar siswa di siklus 2 diharapkan bisa memenuhi target yang telah direncanakan khususnya pada hasil belajar siswa. Adapun secara lebih rinci persiapan yang dilakukan pada siklus 2 terdiri dari: menyiapkan perangkat penelitian, meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan rencana perbaikan pada kekurangan di siklus 1; LKS yang disesuaikan dengan rencana perbaikan atas kekurangan yang ditemui pada siklus 1 lembar observasi pembelajaran; instrumen tes hasil belajar; dan membagi siswa dalam kelompok yang heterogen. Guru mempelajari kembali semua perangkat yang telah disiapkan untuk memastikan pembelajaran berlangsung sesuai rencana.

Pelaksanaan pembelajaran.

Pelaksanaan tindakan pada siklus 2 pembelajaran dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sesuai kelompok belajar pada siklus 1. Kegiatan pendahuluan, meliputi: mengondisikan siswa, menjelaskan tujuan pembelajaran, apersepsi, dan memberikan motivasi belajar kepada siswa. Kegiatan inti pembelajaran sesuai karakteristik problem based learning setting think pair share meliputi: Siswa mengamati masalah, mencari informasi terkait masalah yang diberikan oleh guru, mengumpulkan informasi, mendiskusikan informasi yang didapatkan untuk menyelesaikan masalah yang telah dipikirkan secara berpasangan, menarik simpulan-simpulan tentang informasi yang didapatkan bersama kelompoknya, mendiskusikan hasil diskusi dengan teman sekelompok, mengeshare hasil diskusi didepan guru dan kelompok yang lainnya. Kegiatan penutup, membuat kesimpulan, melakukan refleksi kegiatan pembelajaran, memberikan penguatan dalam bentuk PR, menginformasikan materi pembelajaran pertemuan selanjutnya, dan menutup pembelajaran dengan berdoa bersama.

Observasi

Pada pertemuan pertama siklus 2, 88% kegiatan yang terlaksana, sedangkan pada pertemuan ke-2 meningkat menjadi 93% kegiatan pembelajaran terlaksana. Secara keseluruhan keterlaksanaan pembelajaran pada siklus 2 adalah sebesar 91%.

Refleksi

Tujuan dari kegiatan refleksi pada siklus 2 adalah melihat seberapa jauh keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan ditinjau dari target yang telah ditetapkan. Variabel kognitif yaitu hasil belajar siswa hanya akan dilihat dari satu aspek yaitu bagaimana ketercapaian target yang telah dilakukan. Hal itu karena untuk membandingkan keberhasilan variabel kognitif dengan hasil pada akhir siklus 1 adalah hal yang kurang relevan untuk dilakukan. Kompleksivitas materi yang berbeda menjadi salah satu alasan ketidakrelevanan tersebut. Walaupun dalam penelitian ini hasil tes hasil belajar di akhir siklus 2 lebih baik dari pada di akhir siklus 1. Secara keseluruhan rekapitulasi hasil penelitian ini sampai akhir siklus 2 disajikan dalam tabel 3 berikut.

Tabel 3. Hasil Penelitian Pada Akhir Siklus 2

Variabel Interval Kriteria Kondisi Awal Target Akhir Siklus 1 Akhir Siklus 2
Kognitif / (Hasil belajar) yang tuntas ≥ 70 KKM tercapai 16,1% 75% 54,8% 87,9 %
Proses Pembelajaran terlaksana ≥ 85 % Pemb Berhasil <50% 85% 73% 91%

Hasil penelitian terhadap hasil belajar siswa sebagai hasil pembelajaran pada siklus 2 menunjukan bahwa ada 27 siswa atau 87,9% siswa yang telah mencapai KKM. Angka tersebut telah memenuhi target peneliti untuk aspek kognitif. Peningkatan secara signifikan dapat terlihat dengan jelas jika dibandingkan dengan nilai pretes dimana hanya 5 dari 31 siswa mencapai KKM. Hal yang sama juga terjadi pada variabel keterlaksanaan pembelajaran yang juga telah melampaui target yang ditetapkan yaitu 85% kegiatan pembelajaran terlaksana, sedangkan pada akhir siklus 2 sebanyak 91% kegiatan pembelajaran telah tercapai. Dengan tercapainya target penelitian terhadap kedua variabel maka penelitian diakhiri pada siklus 2 ini.

Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ini mencakup peningkatan hasil belajar siswa. Upaya yang dilakukan untuk meningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran problem based learning setting TPS (Think Pair Share) adalah dengan meningkatkan peran aktif siswa dalam pembelajaran. Pada pretes siswa belum melalui proses pembelajaran sehingga belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjawab soal. Sedangkan terjadi peningkatan prestasi belajar dari pretes dengan akhir siklus 2 dikarenakan pada akhir siklus 2 siswa telah melakukan proses pembelajaran dengan model problem based learning setting TPS (Think Pair Share). Sedangkan kenaikan prosentase siswa yang mencapai KKM pada akhir siklus 1 dengan akhir siklus 2 diantaranya disebabkan karena siswa lebih termotivasi belajar dan kegiatan pembelajaran yang telah terlaksana dengan lebih baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem based learning setting Think Pair Share dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIE SMP Negeri 1 Kedungbanteng tahun pelajaran 2019/2020.

SARAN

Saran yang dapat penulis berikan antara lain guru diharapkan diharapkan dalam pembelajaran lebih mengetahui karakteristik siswa, memberikan kompetensi sesuai dengan kaidah-kaidah yaitu ranah afektif, psikomotor, dan konitif. Pendampingan terhadap siswa perlu ditingkatkan. Memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada, mengevaluasi sarana dan prasarana tiap tahun untuk diusulkan kepada sekolah agar pembelajaran matematika lebih menarik. Guru hendaknya mengembangkan kompetensi pedagogik lebih baik lagi untuk proses pembelajaran lebih jelas dan tujuan terarah yang tidak mengganggu tugas pokoknya sebagai guru.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. L. (2012). Learning To Teach (9th ed). New York: McGraw-Hill

Bell, F.H. (1978). Teaching and Learning Mathematics (in secondary schools). Dubuque, Lowa: Wm. C. Brown Company

Djamarah, Syaiful Bahri.(1999). Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta

Gulo, W. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo

Hosnan, M. (2014). Pendekatan saintifik dan konstektual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia

Lie, A. (2007). Cooperative Learning: Mempraktekan Cooperative Learning di ruang Kelas. Jakarta: Gramedia

Roziqin, Muhammad Zainur. (2007). Moral Pendidikan di Era Global; Pergeseran Pola Interaksi Guru-Murid di Era Global. Malang : Averroes Press

Sudjana. (2004). Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran. Jakarta: FEUI

Suherman, E dkk. (2001). Strategi Pembelajaran Matemaatika Kontemporer. Bandung: Jurusan Pendidikan Matematika. Fakultas Pendidikan MIPA Universitas Pendidikan Indonesia

Sukmadinata. (2005). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, Bandung.

Biodata Penulis

Nama : Nuke Andriani, S.Si.

NIP : 19810427 200903 2 007

Pangkat/Gol : Penata / IIIc

Unit Kerja : SMP Negeri 1 Kedungbanteng

You cannot copy content of this page