Iklan

UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN GURU DALAM KEHADIRAN DI SEKOLAH MELALUI PENERAPAN REWARD AND PUNISHMENT DI SD NEGERI SIDAURIP 01 KECAMATAN GANDRUNGMANGU KABUPATEN CILACAP SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2018/2019

PARMAN

Parman, S.Pd., M.Pd.

ABSTRAK

Peningkatan mutu pembelajaran disekolah sangat tergantung dari beberapa faktor. Faktor yang sangat penting antara lain adalah penerapan budaya sekolah kearah peningkatan mutu. Budaya sekolah merupakan hal yang positif yang harus dipertahankan dan dilaksanakan oleh semua warga sekolah tanpa merasa terpaksa. Budaya sekolah yang harus dipertahankan salah satunya adalah masalah kedisiplinan, termasuk disiplin para guru dalam kehadiran dikelas pada proses belajar mengajar. Untuk meningkatkan disiplin para guru dapat diupayakan melalui bermacam-macam cara. Dalam Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini, dicobakan tindakan berupa penerapan Reward and Punishment untuk para guru di SD Negeri Sidaurip 01, Kabupaten Cilacap.Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, karena dari hasil penelitian dan analisa data, ternyata pada siklus kedua, kedisiplinan guru dalam kehadiran di sekolah pada proses belajar mengajar meningkat dan memenuhi indikator yang telah ditetapkan sebesar 75%. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran di sekolah pada kegiatan belajar mengajar dapat dilakukan dengan penerapan Reward and Punishment kepada guru.

Kata Kunci : Disiplin Guru, Reward and Punishment

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, di mana pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, dan ketrampilan. Untuk melaksanakan tugas dalam meningkatkan mutu pendidikan maka diadakan proses belajar mengajar, guru merupakan figur sentral, di tangan gurulah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena, itu tugas dan peran guru bukan saja mendidik, mengajar dan melatih tetapi juga bagaimana guru dapat membaca situasi kelas dan kondisi siswanya dalam menerima pelajaran.

Untuk meningkatkan peranan guru dalam proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa, maka guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan mampu mengelola kelas. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik dan mengevaluasi peserta didik, pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Sementara pegawai dunia pendidikan merupakan bagian dari tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Dalam informasi tentang wawasan Wiyatamandala, kedisiplinan guru diartikan sebagai sikap mental yang mengandung kerelaan mematuhi semua ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tangung jawab.

Peranan guru selain sebagai seorang pengajar, guru juga berperan sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah setiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi (Sutari Imam Barnado, 1989:44). Sehinggga sebagai pendidik, seorang guru harus memiliki kesadaran atau merasa mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik.

Keteladanan guru dapat dilihat dari prilaku guru sehari-hari baik didalam sekolah maupun diluar sekolah. Selain keteladanan guru, kedisiplinan guru juga menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh guru sebagai seorang pengajar dan pendidik.

Fakta di lapangan yang sering kita jumpai disekolah adalah kurang disiplinnya guru, terutama masalah disiplin guru dalam kehadiran di sekolah dan masuk ke dalam kelas pada saat kegiatan pembelajaran dikelas.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan sekolah dengan judul : ”Upaya Meningkatkan Disiplin Guru dalam Kehadiran di sekolah Melalui penerapan Reward and Punishment di SD Negeri Sidaurip 01, Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap”.

B. Identifikasi Masalah

Masalah-masalah yang mendasari dari penelitian ini adalah :

  1. Masih banyak guru yang datang terlambat ke sekolah.
  2. Masih kurangnya disiplin guru dalam kehadiran mengajar dikelas.
  3. Guru masih sering terlambat masuk kelas.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ”Bagaimana Proses penerapan Reward and Punishment dapat meningkatkan kedisiplinan dan kehadiran guru di SD Negeri Sidaurip 01?”

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mencari alternatif pemecahan masalah sebagai upaya meningkatkan disiplin guru dalam kehadiran di sekolah melalui penerapan Reward and Punishment.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :

1. Bagi kepala sekolah adalah merupakan wujud nyata kepala sekolah dalam memecahkan berbagai masalah disekolah melalui kegiatan penelitian.

2. Bagi guru diharapkan dapat menjadi motivasi guru dalam meningkatkan kedisiplinan dalam kehadiran.

3. Bagi sekolah bisa dijadikan sumbangan dalam mewujudkan budaya sekolah yang dapat mendorong keberhasilan dan peningkatan mutu pembelajaran.

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teori

Disiplin (discipline).

Menurut Davis disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi (Mangkunegara, 2000: 129). Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan disiplin diri, disiplin belajar dan disiplin kerja. Disiplin kerja merupakan kemampuan seseorang untuk secara teratur, tekun secara terus-menerus dan bekerja sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku dengan tidak melanggar aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Pada dasarnya banyak indikator yang mempengaruhi tingkat kedisplinan karyawan suatu organisasi di antaranya ialah: (1) tujuan dan kemampuan, (2) teladan pimpinan, (3) balas jasa (gaji dan kesejahteraan), (4) keadilan, (5) waskat (pengawasan melekat), (6) sanksi hukuman, (7) ketegasan, dan (8) hubungan kemanusiaan (Hasibuan, 1997:213).

Heidjrachman dan Husnan, (2002:15) mengungkapkan “Disiplin adalah setiap perseorangan dan juga kelompok yang menjamin adanya kepatuhan terhadap perintah” dan berinisiatif untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan seandainya tidak ada perintah”. Menurut Davis (2002: 112) “Disiplin adalah tindakan manajemen untuk memberikan semangat kepada pelaksanaan standar organisasi, ini adalah pelatihan yang mengarah pada upaya membenarkan dan melibatkan pengetahuan-pengetahuan sikap dan perilaku pegawai sehingga ada kemauan pada diri pegawai untuk menuju pada kerjasama dan prestasi yang lebih baik”.

Menurut Nitisemito (1986:199) menyatakan masalah kedisiplinan kerja, merupakan masalah yang perlu diperhatikan, sebab dengan adanya kedisiplinan, dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan menurut Greenberg dan Baron (1993:104) memandang disiplin melalui adanya hukuman. Disiplin kerja, pada dasarnya dapat diartikan sebagai bentuk ketaatan dari perilaku seseorang dalam mematuhi ketentuan-ketentuan ataupun peraturan-peraturan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan, dan diberlakukan dalam suatu organisasi atau perusahaan (Subekti D., 1995).

Penerapan disiplin dapat ditegakan melalui pemberian reward and punishment. Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode dalam memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasinya.

Reward dan punishment

Reward dan punishment dikenal sebagai ganjaran, merupakan dua metode yang lazim diterapkan di sebuah organisasi, instansi, atau perusahaan yang menargetkan adanya produktivitas kerja yang tinggi dari para karyawannya. Menurut Amaryllia, konsultan manajemen dan strategi dari Sien Consultan, dalam sejarahnya, reward dan punishment kali pertama banyak diterapkan di bidang penjualan (sales). Namun, kini metode tersebut banyak diadopsi oleh organisasi, perusahaan yang bergerak di pelbagi bidang, bahkan dunia pendidikan.

Penerapan reward dan punishment dalam dunia pendidikan dapat diterapkan sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri. Penerapan reward dan punishment juga tidak hanya diterapkan kepada siswa yang berprestasi atau yang melanggar tata-tertib, tetapi juga dapat diterapkan kepada guru-guru agar mereka berdisiplin dalam mengajar untuk memenuhi tugas mereka memberikan pelajaran kepada siswanya.

Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode dalam memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan prestasinya. Kedua metode ini sudah cukup lama dikenal dalam dunia kerja. Tidak hanya dalam dunia kerja, dalam dunia penidikan pun kedua ini kerap kali digunakan. Namun selalu terjadi perbedaan pandangan, mana yang lebih diprioritaskan antara reward dengan punishment?

Reward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Dalam konsep manajemen, reward merupakan salah satu alat untuk peningkatan motivasi para pegawai. Metode ini bisa meng-asosiasi-kan perbuatan dan kelakuan seseorang dengan perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat mereka melakukan suatu perbuatan yang baik secara berulang-ulang. Selain motivasi, reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi usahanya untuk memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah dapat dicapainya.

Sementara punishment diartikan sebagai hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement yang positif; maka punishment sebagai bentuk reinforcement yang negatif, tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Tujuan dari metode ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang supaya mereka jangan membuat sesuatu yang jahat. Jadi, hukuman yang dilakukan mesti bersifat pedagogies, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik ke arah yang lebih baik.

C. Kerangka Berpikir

Berdasarkan pengamatan di sekolah kedisiplinan guru terlihat jauh dari disiplin, sedangkan prestasi belajar anak juga ikut jadi menurun. Upaya Meningkatkan Disiplin Guru dalam Kehadiran di sekolah Melalui penerapan Reward and Punishment di SD Negeri Sidaurip 01 diharapkan dapat memecahkan masalah ini. Caranya adalah dengan pemberian penghargaan kepada guru-guru, kemudian diaplikasikan pada guru yang hadir tepat waktu. Hasilnya, diharapkan proses kedisiplinan guru dan prestasi belajar peserta didik juga akan meningkat.

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah yang diajukan pada Penelitian Tindakan Sekolah ini, maka dapat diambil hipotesis tindakan bahwa pemberian Reward and Punishment dapat meningkatkan kedisiplinan dan kehadiran guru di SD Negeri Sidaurip 01.

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di sekolah tempat Peneliti bertugas yaitu SD Negeri Sidaurip 01 Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap. Adapun penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 Tahun Ajaran 2018/2019, tepatnya pada bulan Januari – Februari 2019.

B. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah guru-guru di SDN Sidaurip 01, Kecamatan Gandrungmangu, Kabupaten Cilacap yang berjumlah 7 orang, yang terdiri dari laki-laki 3 orang dan perempuan 4 orang. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan Februari 2019 pada semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019.

C. Tindakan Penelitian

Dalam penelitian ini penggunaan rancangan penelitian tindakan dilaksanakan mengikuti pola spiral berdasarkan siklus, dimana hasil kajian melalui refleksi siklus I merupakan dasar untuk tindakan siklus II, hasil kajian melalui refleksi siklus II dan begitu juga seterusnya dengan urutan kegiatan perencanaan-pelaksanaan-observasi dan refleksi.

Gambar 1. siklus model Kemmis & McTaggart (diadaptasi dari Kasbolah E.S,1998)

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Sutopo, (2006: 76) Observasi berperan partisipasif dilakukan peneliti untuk mengamati dan menggali informasi mengenahi perilaku dan kondisi dan lingkungan peneliti menurut kondisi sesungguhnya. saat penelitian berlangsung maupun sesudahnya.

2. Wawancara

Syamsudin dan Damaianti (2006: 239), pengumpulan data untuk PTS, kecuali melalui observasi juga dengan melakukan wawancara. Orang-orang yang diwawancarai adalah guru, siswa dan wali murid. Wawancara ini dilakukan sebelum dan sesudah penelitian..

E. Instrumen Penelitian

Arikunto (2010: 203) mengatakan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik dalam arti lebih cermat lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa observasi.

F. Teknik Analisa Data

Menurut Danim (2002: 209) analisis data adalah proses pencandraan (description) dan penyusunan transkrip interviev serta material lain yang telah terkumpul. Analisis data dalam penelitian ini adalah berupa analisis berdasarkan prosentase hasil penelitian dan disajikan dengan deskriptif berupa kalimat. Data hasil pengamatan dimasukkan ke dalam rumus deskriptif persentase sebagai berikut.

DP = n/N × 100%

Keterangan: DP : Deskriptif Persentase

n : skor yang diperoleh

N : Jumlah total skor (Ali 1995: 186)

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pra Siklus (Sebelum Tindakan)

Berdasarkan pengematan sebelum adanya tindakan yaitu tindakan siklus I dan II kedatangan guru dan karyawan SD Negeri Sidaurip 01 datang ke sekolah dapat dilaporkan pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Kedatangan Guru Di Sekolah Per Hari

Hari Sebelum jam

06.59

≥ jam 07.00
I 4 guru 3 guru
II 3 guru 4 guru
III 4 guru 3 guru
IV 3 guru 5 guru
V 3 guru 4 guru
VI 4 guru 3 guru

Berdasarkan tabel 4.1, kedatangan guru di sekolah penelitian tindakan sebelum ada tindakan adalah 3 – 4 guru, hampir sekitar 50% sampai 60% yang hadir tepat waktu sebelum pukul 06.59 WIB.

B. Hasil Penelitian

1. Siklus I

c. Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan adalah tahap inti di mana peneliti melaksanakan penelitian dengan mengamati dan mencatat kedatangan guru di sekolah pada lembar pengamatan. Selanjutnya pengawas akan memberikan reward sesuai dengan rancangan yang sudah di-persiapkan.

Bentuk reward yang akan diberikan pada siklus II disusun pada tabel 3.4

Tabel 4.2 Bentuk Reward (Glasser dalam Nelson-Jones: 2011) Siklus II

No Bentuk kata-kata/ kalimat reward
1 “top pak/bu” (menunjukkan ibu jari)
2 “anda keren pak/ bu, hari ini tidak terlambat”
3 “wah, semakin pagi semakin terlihat fresh”
4 “bapak/ ibu tiba lebih pagi hari ini, bagus pak/ bu”
5 “bapak/ ibu hari ini tidak kalah lho sama murid-murid”
6 “sip pak/ bu, hari ini tidak terlambat?”
7 “selamat pagi bapak/ ibu guru teladan”
8 “dua jempol pak/ bu, untuk keda tangannya pagi ini”

b. Pengamatan (Observasi)

Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yaitu pada saat mengamati, mencatat, dan memberikan reward kepada guru di sekolah. Tahap observasi bertujuan untuk mengetahui perubahan perasaan guru dalam menerima reward untuk meningkatkan kedisiplinan.

Hasil pengamatan kedatangan guru SD Negeri Sidaurip 01 tiba di sekolah dilaporkan pada tabel 4.2.

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Kedatangan Guru Di Sekolah Siklus I Per Hari

Hari Sebelum jam

06.59

≥ jam 07.00
I 5 guru 2 guru
II 5 guru 2 guru
III 5 guru 2 guru
IV 4 guru 3 guru
V 5 guru 2 guru
VI 5 guru 2 guru

Berdasarkan tabel 4.2, kedatangan guru di sekolah sebelum pukul 07.00 pagi pada penelitian tindakan siklus 1 adalah 4 -5 guru.

Data hasil peningkatan kedisiplinan guru SD Negeri Sidaurip 01 siklus I dilaporkan pada tabel 4.3.

Tabel 4.4 Analisis Persentase Peningkatan Kedatangan Guru Di Sekolah Per Hari

Hari Pra Siklus Siklus I Peningkatan
I 57 % 71 % 14 %
II 43 % 71 % 28 %
III 57 % 71 % 14 %
IV 43 % 57 % 14 %
V 43 % 71 % 28 %
VI 57 % 71 % 14 %

Dari tabel 4.3 persentase ketepatan guru datang ke sekolah meningkat sebesar 14 % pada siklus I. Berdasarkan tabel pengamatan deskriptif di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat kedisiplinan guru SD Negeri Sidaurip 01 pasca tindakan siklus I meningkat dengan persentase sebesar 14 %. Secara umum tindakan siklus I memiliki kelemahan dan kekuatan yang ditemukan selama proses tindakan penelitian berlangsung. Kekuatan penelitian tindakan I adalah pemberian reward berjalan baik, karena ada peningkatan kedatangan guru tiba di sekolah sebelum jam 07.00 WIB sehingga kedisiplinan guru meningkat.

Sedangkan kelemahan yang ditemukan pada tindakan siklus I adalah ada beberapa reward yang belum dapat merubah perilaku beberapa guru. Reward “top! Pak/ Bu, Selamat pagi” (menunjukkan ibu jari)”; “top! Pak/ Bu, Sugeng enjang tenan”; belum dapat merubah perilaku seorang guru 2 hari berturut-turut. Selanjutnya reward “bagus bapak/ ibu, anda tiba lebih awal hari ini” (“Apik ki pak/ bu, dina iki jenengan luwih gasik”), juga belum dapat merubah perilaku seorang guru 2 hari berturut-turut.

Tabel 4.5 Hasil Observasi Kedatangan Guru Siklus I Per Hari (perasaan guru sebelum diberi reward)

Hari Perasaan guru sebelum diberi reward
Sedih Sedang Senang Sangat senang
f f f f
I 4 3
II 3 4
III 2 5
IV 4 3
V 3 4
VI 2 5

Data hasil observasi guru menunjukkan perasaan guru yaitu sedang dan senang saat tiba di sekolah.

Tabel 4.6 Hasil Observasi Kedatangan Guru Siklus I Per Hari (perubahan perasaan guru sesudah diberi reward)

Hari Perasaan guru sebelum diberi reward
Sedih Sedang Senang Sangat senang
f f f f
I 2 4 1
II 1 4 2
III 1 2 4
IV 4 3
V 4 3
VI 2 5

Data hasil observasi guru menunjukkan 2 perubahan perasaan guru setelah pemberian reward oleh pengawas, respons guru berubah menjadi senang dan sangat senang. Namun pada hari I dan III (masing-masing 2 dan 1 guru) ada yang masih merespons sedang. Penerimaan reward oleh guru tersebut belum memberikan perubahan perasaan/suasana hati guru. Perubahan perasaan setelah pemberian reward diharapkan dapat merubah perilaku guru. Perubahan perasaan setiap guru menunjukkan bagaimana penerimaan mereka terhadap reward yang diberikan pengawas SD.

d. Refleksi

Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi selama berlangsungnya kegiatan pada akhir pertemuan siklus 1. Hasil refleksi dijadikan acuan untuk merencanakan penyempurnaan dan perbaikan siklus berikutnya. Seluruh tahap kegiatan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, dan refleksi dilakukan secara berulang-ulang melalui siklus-siklus dan berakhir jika peningkatan sudah sesuai dengan target yang diharapkan, yaitu 80% guru tidak terlambat tiba di sekolah. Jika ada guru yang masih terlambat, maka perlu dilakukan tindakan ke siklus II.

2. Siklus II

a. Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan penelitian adalah mengamati dan mencatat kedatangan guru di sekolah pada lembar pengamatan sesuai rencana tindakan. Selanjutnya rekan peneliti akan memberikan reward kepada guru.

b. Pengamatan (Observasi)

Kegiatan observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan yaitu pada saat mengamati, mencatat, dan memberikan reward kepada guru di sekolah. Peneliti melakukan observasi yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.

Data hasil pengamatan kedatangan guru SD Negeri Sidaurip 01 siklus II dilaporkan tabel 4.7.

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Kedatangan Guru Di Sekolah Siklus II Per Hari

Hari Sebelum jam

06.59

≥ jam 07.00
I 5 guru 2 guru
II 5 guru 2 guru
III 6 guru 1 guru
IV – guru – guru
V – guru – guru
VI – guru – guru

Berdasarkan tabel 4.7 kedatangan guru di sekolah sebelum pukul 07.00 pada penelitian tindakan siklus II adalah 6–7 guru. Data hasil peningkatan kedisiplinan guru SD Negeri Sidaurip 01 siklus II dilaporkan pada tabel 4.8.

Tabel 4.8 Analisis persentase siklus II Per Hari

Hari Siklus I Siklus II Peningkatan
I 71 % 71 % 0 %
II 71 % 71 % 0 %
III 71 %
  1. %
15 %
IV 57 % -% -%
V 71 % -% -%
VI 71 % -% -%

Dari tabel 4.8 persentase ketepatan guru datang ke sekolah pada siklus II meningkat 15% pada hari ke 3. Perlakuan pemberian reward dihentikan pada siklus II hari ke 3 karena peningkatan kedisiplinan guru sudah mencapai 86 % sesuai dengan target penelitian. Data tersebut menunjukkan bahwa kedisiplinan guru di SD Negeri Sidaurip 01 mengalami peningkatan setelah melalui pemberian reward. Data hasil observasi pada tindakan siklus II dilaporkan pada tabel 4.9.

Tabel 4.9 Hasil Observasi Kedatangan Guru Siklus II Per Hari (Perasaan guru sebelum diberi reward)

Hari Perasaan guru sebelum diberi reward
Sedih Sedang Senang Sangat senang
f f f f
I 2 4 1
II 1 4 2
III 1 2 4
IV 4 3
V 4 3
VI 2 5

Tabel 4.10 Hasil Observasi Kedatangan Guru Siklus II Per Hari (Perubahan perasaan guru sesudah diberi reward)

Hari Perasaan guru sebelum diberi reward
Sedih Sedang Senang Sangat senang
f f f f
I 2 5
II 3 4
III 3 4
IV 1 6
V 7
VI 7

Pada siklus yang ke II, perubahan perasaan yang ditunjukkan guru berbeda-beda. Guru tiba di sekolah dengan perasaan sedang dan senang. Perubahan perasaan guru terjadi setelah pemberian reward yaitu guru terlihat senang, senang sekali, dan beberapa guru masih memberikan respon sedang. Respon yang diperlihatkan guru menyebabkan perubahan perilaku kedatangan di hari berikutnya.

c. Refleksi

Hasil tindakan pemberian reward siklus II lebih stabil. Jumlah guru yang terlambat pada 3 kali tindakan ada 2 guru, 2 guru, dan 1 guru. Peningkatan kedisiplinan kedatangan guru di sekolah dengan penerapan reward sudah berhasil. Tanggung jawab guru meningkat karena guru telah dapat membuat pilihan untuk merubah perilakunya dengan datang ke sekolah lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Berdasarkan hasil tindakan siklus II yang sudah mencapai tingkat keberhasilan yang ditentukan yaitu 80%, maka peneliti menghentikan penelitian tindakan pada siklus II.

C. Pembahasan

Peningkatan kedisiplinan guru SD Negeri Sidaurip 01 Kecamatan Cipari Kabupaten Temanggung ditunjukkan dari meningkatnya kehadiran guru di sekolah sebelum jam 07.00 WIB. Pada perlakuan tindakan di siklus I, peningkatan kedisiplinan belum optimal karena guru masih belum bisa konsisten untuk tiba di sekolah tepat waktu. Namun di siklus II hasil tindakan menunjukkan peningkatan perubahan perilaku guru.

Reward dapat merubah perilaku guru mulai hari kedua. Meskipun demikian ada penurunan jumlah guru yang tidak terlambat pada hari ke 3, 4 dan 6 masing-masing sebanyak 1 guru. Pemberian reward juga disesuaikan dengan budaya yang hidup di lingkungan guru dan sekolah. Pengawas memberikan reward dengan 2 bahasa yaitu bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Penggunaan bahasa Jawa dalam memberikan reward dilakukan agar komunikasi terbangun dengan baik dan guru merasa nyaman. Pemberian reward dengan menggunakan bahasa sehari-hari tidak keluar dari rencana tindakan yang telah disusun sebelumnya.

Perubahan perilaku disiplin guru setelah pemberian reward, disebabkan guru merasa ada penghargaan yang diberikan saat guru dapat berperilaku sesuai dengan aturan yang berlaku. Reward perlu diberikan kepada guru, karena pada dasarnya guru membutuhkan sebuah pengakuan atau penghargaan dari orang lain atas apa yang dilakukan. Perubahan perilaku guru SD Negeri Sidaurip 01 disebabkan karena tanggung jawab guru meningkat, sehingga membuat guru memilih untuk datang ke sekolah sebelum jam 07.00 WIB. Hal ini sejalan dengan pendapat Glasser dalam Loekmono (2003: 112) perubahan perilaku individu dipengaruhi oleh individu itu sendiri dan lebih ditekankan pada tanggung jawab individu itu sendiri.

Guru tiba di sekolah dengan berbagai suasana hati yang berbeda-beda, sebagian besar guru datang dengan perasaan yang biasa atau tanpa ekspresi dan sebagian kecilnya terlihat senang. Respon guru terlihat lebih senang dan beberapa guru bersemangat mendengar reward yang diberikan. Perubahan perasaan yang diperlihatkan guru SD Negeri Sidaurip 01 tersebut membuat guru merubah perilaku dengan datang lebih awal ke sekolah atau memilih untuk tidak terlambat. Hal ini sejalan dengan pendapat Glasser dalam Nelson-Jones (1999: 45; 2011: 285) bahwa ketika kita merasa senang, kita memilih untuk berperilaku sedemikian rupa sehingga seseorang, sesuatu, atau suatu keyakinan tertentu dalam dunia nyata mendekati setara dengan seseorang, sesuatu, suatu keyakinan dalam dunia kualitas kita.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pemberian reward dapat meningkatkan kedisiplinan guru di SD Negeri Sidaurip 01 Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap. Kesimpulan tersebut didapat berdasarkan data berikut :

1. Jumlah guru yang datang kurang dari 10 menit pda siklus I berjumlah 5 orang sedangkan guru yang datang kurang dari 10 menit pada Siklus II berjumlah 1 orang.

2. Persentase guru yang datang kurang dari 10 menit pada Siklus I rata-rata sebesar 69% sedangkan persentase guru yang datang kurang dari 10 menit pada Siklus II sebesar 86%

3. Persentase guru yang datang kurang dari 10 menit pada Siklus II sebesar 86% telah melebihi indikator keberhasilan sebesar 80%

B. Saran

Dikarenakan penelitian ini berhasil peneliti terapkan di SD Negeri Sidaurip 01 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap. Peneliti ini memberi saran sebagai berikut :

1. Kepada Kepala-kepala Sekolah disarankan membuat suatu terobosan dalam rangka memajukan sekolah berupa pemberian Reward untuk meningkatkan kedisiplinan guru dalam kehadiran di sekolah.

2. Kepada guru-guru diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan dalam melaksanakan tugas di sekolah sesuai dengan apa yang diamanatkan undang-undang.

DAFTAR PUSTAKA

________. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007, tentang Standar Pengelolaan Pendidikan: oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.

________. Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. http://sindikker.dikti.go.id/dok/UU/UUNo142005(Guru%20&%20Dosen).pdf.

Danim, Sudarwan. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Depdiknas, 2006. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007, tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2008. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru.

Glasser, William. 1975. Reality Therapy: A New Approach tp psychiatry.London: Perennial Library.

Indriyani. Yekti. 2014. Hubungan Supervisi Akademik Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Kinerja Mengajar Gugus Durian Kecamatan Bejen. Tesis: Universitas Kristen Satya Wacana.

Harjoko, Dwi. 2011. Upaya Meningkatkan Disiplin Guru Dalam Kehadiran Mengajar Di Kelas Melalui Penerapan Reward And Punishment Di SD Negeri 3 Gombang Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten Semester I Tahun Ajaran 2010/2011. Jurnal Pendidikan Dwija Utama.

Loekmono, Lobby J.T. 2003. Model-Model Konseling. Salatiga: Widya Sari Press.

Madya, Suwarsih. 2009. Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (Action Research). Bandung: Alfabeta.

Mulyasa, H.E. 2012. Penelitian Tindakan Sekolah. Bandung: Rosdakarya.

Munasef. 1984. Manajemen Kepegawaian di Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.

Rachman, Maman. 1992. Manajemen Kelas. Depdikbud: Jakarta.

Suwarsih, Madya. 1999. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogya-karta.

Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indo-nesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.

BIODATA PENULIS PTS

Nama : Parman, S.Pd., M.Pd.

NIP : 19720725 199603 1 002

Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

Instansi : SD Negeri Sidaurip 01 Korwil Bidang Pendidikan Kec Gandrungmangu, Kab. Cilacap

You cannot copy content of this page