Iklan

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG PECAHAN DENGAN PEMBELAJARAN AKTIF TIPE TRUE OR FALSE BAGI SISWA KELAS II SD NEGERI GADUNGREJO SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Suryati, S.Pd.SD

ABSTRAK

Suryati, S.Pd.SD: Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Tentang Pecahan Dengan Pembelajaran Aktif Tipe True Or False bagi Siswa Kelas II SDN Gadungrejo Semester 2 Tahun Pelajaran 2019/2020. Penelitian tindakan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar pecahan melalui pembelajaran aktif tipe true or false bagi siswa Kelas II SDN Gadungrejo tahun 2019/2020. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas II SD Negeri Gadungrejo Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen. Data dikumpulkan dengan menggunakan tes, observasi, dan dokumentasi berupa foto. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian tindakan mengungkapkan bahwa Dengan penerapan pembelajaran aktif true or false yang dilaksanakan secara efektif dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung pecahan bilangan cacah bagi siswa Kelas II SDN Gadungrejo tahun 2019/2020 . Hal tersebut dibuktikan dengan hasil belajar siswa yang dalam setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup baik, dengan rincian sebagai berikut; rata-rata kelas hasil pree test mencapai 57,7 dengan persentase ketuntasan 19,2%, sedangkan rata-rata kelas hasil post test siklus I mengalami peningkatan menjadi 67,7 dengan persentase ketuntasan 59,1%, dan terjadi peningkatan yang cukup tinggi pada siklus II dengan rata-rata kelas hasil test siklus II mencapai 85,4 dengan persentase ketuntasan 100%. Pada kegiatan siklus I aktivitas siswa yang meliputi keaktifan, keseriusan dan ketepatan rata-rata skor siswa untuk tiap indikator yaitu keaktifan 80,18, keseriusan 78,72 dan ketepatan 81,38. Pada kegiatan siklus 2 aktivitas siswa yang meliputi keaktifan, keseriusan dan ketepatan rata-rata skor siswa untuk tiap indikator yaitu keaktifan 86,80, keseriusan 87 dan ketepatan 86,95.

I PENDAHULUAN

Matematika adalah ilmu deduktif sedangkan karakteristik anak belum berpikir secara deduktif. Seorang guru harus dapat menjembatani antara dunia anak dengan dunia matematika dengan menggunakan metode-metode yang mengaktifkan bepikir logis anak. Pada materi pecahan, anak mengalami kesulitan. Dan selama ini siswa diberi tuntutan untuk menghafal konsep pecahan. Namun siswa merasa kesulitan dan tertekan saat mengerjakan soal pecahan, tak jarang mereka frustasi saat mendapat tugas mengerjakan soal evaluasi. Berdasar dari jawaban-jawaban yang peneliti dapatkan dari siswa mereka mengalami kesulitan pada materi pecahan karena mereka tidak mendapatkan cara-cara yang cepat dan mudah dipahami saat menyelesaikan soal pecahan dibandingkan soal lainnya. Seharusnya pecahan dapat dikuasai oleh siswa karena siswa telah mendapat pengetahuan dan keterampilan pasyarat sebelumnya. Di sini guru hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, aktif dan menyenangkan tanpa ada intervensi atau pun tekanan. Sehingga komunikasi dengan siswa dapat terbagun dengan sempurna, dan tak lagi ada siswa yang salah mendefinisikan materi yang diberikan guru. Meskipun tingkat pemahaman anak usia SD sekalipun di kelas-kelas akhir mereka tetap terbatas. Mereka akan mengalami kesulitan merumuskan definisi dengan kata-katanya sendiri. Dan inilah menjadi tantangan bagi guru untuk dapat mengurangi kesenjangan antara karakteristik matematika dengan karakteristik anak usia SD.

Berdasar uraian masalah yang dialami oleh siswa Kelas II SDN Gadungrejo penyusun merasa tertarik dan mendapat kesempatan untuk mencoba memperbaiki proses pembelajaran dan hasil pembelajaran dengan mengangkat sebuah judul sebagai acuan dalam penelitian ini, yakni Upaya meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Tentang Pecahan Melalui Pembelajaran Aktif Tipe True Or False bagi Siswa Kelas II SDN Gadungrejo Semester 2 Tahun 2019/2020.

II. LANDASAN TEORI

Hakikat Belajar

Gagne (dalam Udin S. Winataputra, 2007: 2.3) menyatakan bahwa belajar adalah suatu proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Dijelaskan lebih lanjut oleh Gagne (dalam Mulyono Abdurahman, 2003: 32) bahwa proses belajar hendaknya bertahap, dari yang paling sederhana ke yang kompleks. Inti dari proses belajar menurut Gagne adalah perlunya penguasaan prasyarat (prerequisite skiils) yang digunakan sebagai landasan untuk menguasai bentuk perilaku yang diharapkan.

Pengertian senada dengan pengertian Gagne dikemukakan oleh Bowner dan Hilgard (dalam Udin S. Winataputra, 2008: 1.8) bahwa belajar mengacu pada perubahan perilaku atau potensi individu sebagai hasil dari pengalaman dan perubahan tersebut tidak disebabkan oleh insting, kematangan, atau kelelahan dan kebiasaan.

Aktivitas

Aktivitas yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang sangat mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Djamarah (2008: 38) aktivitas artinya kegiatan atau keaktifan. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktivitas. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar.

Pembelajaran Aktif tipe True or False

Pembelajaran aktif tipe true or false dapat diartikan sebagai sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Prestasi belajar yang akan dicapai siswa dalam pembelajaran aktif merupakan perpaduan antara pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotor.

Penerapan pembelajaran ini, akan menstimulasi siswa untuk terlibat langsung terhadap pengajaran yang dilakukan guru. Siswa akan lebih aktif dalam proses belajar mengajar karena mereka merasa bebas untuk mengemukakan pendapatnya. Hisyami Zaini (2008: 24) menyatakan bahwa pembelajaran aktif tipe true or false merupakan aktivitas kolaboratif yang dapat mengajak peserta didik untuk terlibat ke dalam materi dengan segera. Strategi ini menumbuhkan kerjasama tim, berbagai pengetahuan dan belajar secara langsung.

Aktivitas belajar di kelas dapat meningkatkan pembentukan tim, pertukaran pendapat, dan pembelajaran langsung (Melvin L. Silberman, 2006: 111). Kedua pengertian tersebut mengacu pada keaktifan peserta didik untuk belajar secara langsung dengan membentuk tim. Pembentukan tim dapat terjadi ketika guru membagi kelas dalam beberapa kelompok belajar. Dalam kelompok yang sudah terbentuk, siswa akan belajar untuk mengemukakan pendapatnya dan menghargai pendapat teman dalam kelompoknya. Sehingga dapat dikatakan kelebihan strategi pembelajaran ini selain memberi kesempatan kepada siswa untuk aktif dalam belajar, siswa juga belajar untuk menghargai temannya.

Langkah-Langkah Pembelajaran Aktif tipe True or False

Melvin L. Silberman (2006: 111) menerangkan langkah-langkah pembelajaran melalui pembelajaran aktif tipe true or false adalah sebagai berikut:

  1. Susunlah sebuah daftar pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran anda, yang setengahnya benar dan setengahnya salah.
  2. Bagikan satu kartu untuk satu siswa. Katakan kepada siswa bahwa misi mereka adalah menentukan kartu mana yang benar dan mana yang salah.
  3. Bila para siswa sudah selesai, perintahkan agar setiap kartu dibaca dan mintakan pendapat siswa tentang benar atau salahkah pertanyaan tersebut.
  4. Berikan umpan balik tentang masing-masing kartu, dan catat cara-cara siswa dalam bekerja sama menyelesaikan tugas ini.
  5. Tunjukan bahwa dalam pelajaran ini diperlukan keterampilan tim yang positif karena hal ini menunjukan kegiatan belajar yang sifatnya aktif.

Hakikat Matematika

Matematika adalah ilmu deduktif, asiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbul yang padat arti semacamnya, sehingga para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah sistem matematika (Karso, 2007 : 1.4). Dari matematika dengan pengembangan model-model matematika dapat digunakan untuk mengatasi persoalan-persoalan dunia nyata. Dan dapat membentuk pola berpikir seseorang menjadi pola pikir yang sistematis, logis, kritis dan penuh kecermatan.

Udin S. Winataputra (2007: 2.17) mengemukakan pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari komponen atau unsur: tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa, dan guru. Dari pernyataan tersebut pembelajaran dapat dilaksanakan dengan komponen dan unsur yang saling berkaitan sebagai suatu sistem yang saling mempengaruhi.

Karakteristik Anak SD

Iskandar (dalam Udin S. Winataputra, 2007: 11.6) memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut dapat ditarik suatu ciri umum kecenderungan belajar anak usia Sekolah Dasar sebagai berikut:

  1. Beranjak dari hal-hal yang konret.
  2. Memandang sesuatu yang dipelajari sebagai sesuatu keutuhan, terpadu, dan melalui proses manipulatif.
  3. Berkembang melalui tahapan hierarkis.

Dari uraian di atas, anak usia 7-12 tahun belajar dengan pola pikir dari yang konkret ke abstrak, memandang sesuatu secara terpadu melalui proses manipulatif, dan dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang kompleks.

III. METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri Gadungrejo, Kecamatan Klirong Kabupaten Kebumen. Waktu penelitian akan dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2019/2020, yang berlangsung kurang lebih 4-7 bulan. subjek penelitian ini adalah sejumlah siswa Kelas II SD Negeri Gadungrejo yakni 22 siswa dan guru SD Negeri Gadungrejo sebagai pengamat.

B. Indikator Kinerja

  1. Adanya peningkatan hasil belajar siswa terhadap operasi hitung pecahan bilangan cacah dengan acuan KKM=70.
  2. Rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal lebih dari ≥80
  3. Prosentase ketuntasan belajar siswa lebih dari 80%
  4. Adanya peningkatan aktivitas belajar siswa, pemahaman konsep dan keterampilan matematika.
  5. Rata-rata aktivitas belajar siswa secara klasikal lebih dari ≥ 80

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Belajar

Pre test

Dengan melaksanakan langkah-langkah pembelajaran aktif tipe true or false secara baik dan tepat, hasil belajar Matematika operasi hitung pecahan bilangan cacah siswa Kelas II SD Negeri Gadungrejo mengalami peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada setiap tindakan yang dilaksanakan. Berdasarkan data hasil belajar siswa di atas tentang pree test, dapat dirinci sebagai berikut: (1) nilai terendah ialah 40, dan nilai tertinggi ialah 80, persentase ketuntasan 19,2% siswa tuntas dan 81,8% siswa belum tuntas.

Siklus I

Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I, hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Berdasarkan data di atas tentang post test Siklus I dapat sebagai berikut: (1) nilai terendah ialah 50, dan nilai tertinggi ialah 90, persentase ketuntasan adalah 59,1% siswa tuntas dan 40,9% siswa belum tuntas. Begitu halnya dengan hasil belajar yang diperoleh siswa, dapat diketahui bahwa persentase ketuntasan mencapai 20% pada pree test dan mengalami peningkatan pada siklus I yang mencapai 59,1%. Nilai rata-rata kelas pada siklus I yaitu 67,7

Siklus II

Setelah dilaksanakan siklus II, hasil belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Berdasarkan data di atas semua siswa mendapat nilai > 70, yang berarti lebih dari KKM yang telah ditentukan peneliti. Dari data di atas tentang hasil test siklus II, dapat dirinci sebagai berikut: (1) nilai terendah ialah 70, dan nilai tertinggi ialah 100, persentase ketuntasan adalah 100% siswa tuntas dan 0% siswa belum tuntas. Begitu halnya dengan hasil belajar yang diperoleh siswa, dapat diketahui bahwa persentase ketuntasan mencapai 20% pada pree test, mengalami peningkatan pada siklus I yang mencapai 59,1%, dan kembali mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 100%. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan pada diagram histogram berikut:

Gambar Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pree Test, Siklus I, dan II.

Aktivitas Siswa

Tabel Perbandingan Hasil Obeservasi Aktivitas Siswa pada Siklus I dan Siklus II

No Indikator Siklus I Siklus II Keterangan
1 Keaktifan 80,18 86,80 Meningkat
2 Keseriusan 78,72 78 Meningkat
3 Ketepatan 81,38 86,95 Meningkat
Rata-rata 80,11 86,96

Pada kegiatan siklus I aktivitas siswa yang meliputi keaktifan, keseriusan dan ketepatan rata-rata skor siswa untuk tiap indikator yaitu keaktifan 80,18, keseriusan 78,72 dan ketepatan 81,38.

Pada kegiatan siklus 2 aktivitas siswa yang meliputi keaktifan, keseriusan dan ketepatan rata-rata skor siswa untuk tiap indikator yaitu keaktifan 86,80, keseriusan 78 dan ketepatan 86,95.

Gambar Diagram Batang Perbandingan Aktivitas Siswa Pada Siklus I dan II

BAB V SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi pelaksanaan penelitian selama dua siklus dalam pembelajaran Matematika pokok bahasan pecahan dengan judul Upaya Peningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Operasi Hitung Pecahan Bilangan Cacah Melalui Pembelajaran Aktif Tipe True Or False bagi Siswa Kelas II SD N Gadungrejo Semester 2 Tahun 2019/2020 dapat disimpulkan sebagai berikut: Dengan penerapan pembelajaran aktif true or false yang dilaksanakan secara efektif dapat meningkatkan hasil belajar operasi hitung pecahan bilangan cacah bagi siswa Kelas II SDN Gadungrejo tahun 2019/2020. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil belajar siswa yang dalam setiap siklus mengalami peningkatan yang cukup baik, dengan rincian sebagai berikut; rata-rata kelas hasil pree test mencapai 57,7 dengan persentase ketuntasan 19,2%, sedangkan rata-rata kelas hasil post test siklus I mengalami peningkatan menjadi 67,7 dengan persentase ketuntasan 59,1%, dan terjadi peningkatan yang cukup tinggi pada siklus II dengan rata-rata kelas hasil test siklus II mencapai 85,4 dengan persentase ketuntasan 100%.

B. Saran

  1. Siswa hendaknya mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar. Hal ini mengingat akan tugas siswa adalah belajar yang nantinya akan berguna bagi siswa itu sendiri di masa depan.
  2. Guru hendaknya menggunakan Pembelajaran Aktif Tipe True or Fasle dalam pembelajaran Matematika di kelas II khususnya pada materi pecahan, karena siswa akan lebih fokus dalam mengerjakan tugasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Hisyami Zaini.2008. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: PustakaInsan Madani

Karso.2007. Pendidikan Matematika I. Jakarta: Universitas Terbuka

Melvin L Silberman.2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia

Mulyono, Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Udin S. Winataputra.2007a. Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: Universitas Terbuka.

Biodata Penulis

Nama : Suryati, S.Pd.SD.

NIP : 19740611 200801 2 006

Jabatan : Guru

Unit Kerja : SD Negeri Gadungrejo

You cannot copy content of this page