Iklan

TETAP BERPRESTASI DI MASA PANDEMI

Oleh : Novi Rohayatun S.Pd.

Pandemi boleh saja memaksa kita untuk berdiam diri dirumah,namun ini tidak menyurutkan niat siswa-siswi SMA Negeri 1 Wangon untuk tetap ikut berkompetisi dan mengukir prestasi ditengah pandemi ini. Berbagai perlombaan yang diikuti baik itu secara offline maupun online membuahkan hasil yang menjadi kebanggaan, baik untuk siswa-siswi, guru, orangtua dan tentunya pihak sekolah. Salah satu prestasi yang sudah diraih oleh siswi SMA negeri 1 Wangon adalah Oca Maharani Tryadi berhasil meraih juara 3 lomba macapat SMA/SMK/SMALB tingkat propinsi Jawa Tengah. Tentu saja hal ini menjadi kebanggaan bagi semua pihak karena dari 550 peserta bisa menjadi 3 yang terbaik. Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri, dimulai ketika babak penyisihan dengan mengirimkan rekaman video macapat kepada panitia di Semarang sampai dengan pengumuman finalis akhirnya salah satu peserta didik SMAN 1 WANGON atas nama Oca Maharani Tryadi dipanggil ke Semarang untuk unjuk kebolehan membawakan tembang macapat wajib Dhandhanggula Tinjomoyo laras slendro pathet sanga dan tembang macapat pilihan Mijil laras slendro manyura.

Di Era globalisasi saat ini, teknologi terus berkembang memacu peradaban manusia yang semakin terus berubah. Tidak hanya perkembangan dari bidang teknologi tetapi juga berkembang dari bidang budaya. Oleh sebab itu budaya asing dapat ditemui dengan mudah, terutama budaya barat yang tidak sesuai dengan adat budaya timur seperti Indonesia. Budaya asing dapat menambah edukasi bagi bangsa Indonesia, terutama dibidang Ilmu Pengetahuan. Namun budaya asing tidak selalu berdampak positif, kerena dengan adanya budaya asing, budaya kita sendiri mulai diabaikan. Kebudayaan itu sangat penting, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudaya. Contohnya Jepang, walaupun Jepang negara maju dan terkenal dangan teknologinya, masyarakat Jepang tetap menjungjung kebudayaannya yang merupakan warisan leluhurnya. Berbanding terbalik dengan masyarakat Indonesia terutama yang berdomisili di kota-kota besar,cara berpakaian, cara bicara, bahkan sifat, sudah lebih bergaya asing. Kita sebagai warga Negara yang mencintai tanah kelahirannya, sepatutnya kita dapat menjaga apa yang telah leluhur kita berikan yaitu berupa  “Kebudayaan”. Salah jika kita mencemooh apa yang telah nenek moyang berikan kepada kita. Dan merupakan sebuah keanehan jika ada warga Negara jika lebih membanggakan kebudayaan lain, dan membiarkan kebudayaannya hilang dicuri tetangga. Maka dari itu penting adanya kita bersama-sama menjaga budaya sendiri daripada lebih membanggakan budaya orang lain.

Kata kebudayaan berasal dari kata Sansakerta yaitu Buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi atau akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Tetapi ada sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi daya yang berarti daya dari budi. Karena itu mereka membedakan budaya dari kebudayaan. Kebudayaan dalam bahasa latin / Yunani berasal dari kata “colere” yang berarti mengolah, mengerjakan terutama mengolah tanah. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam. Sedangkan pengertian kebudayaan menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Macapat (bahasa Jawa: ꦩꦕꦥꦠ꧀) adalah tembang atau puisi tradisional Jawa. Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan BaliSasakMadura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin. Biasanya macapat diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata.Namun ini bukan satu-satunya arti, penafsiran lainnya ada pula. Macapat diperkirakan muncul pada akhir Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, tetapi hal ini hanya bisa dikatakan untuk situasi di Jawa Tengah. Sebab, di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.Karya-karya kesusastraan klasik Jawa dari masa Mataram Baru, pada umumnya ditulis menggunakan metrum macapat. Sebuah tulisan dalam bentuk prosa atau gancaran pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil karya sastra namun hanya semacam ‘daftar isi’ saja. Beberapa contoh karya sastra Jawa yang ditulis dalam tembang macapat termasuk Serat WedhatamaSerat Wulangreh, dan Serat Kalatidha.

Puisi tradisional Jawa atau tembang biasanya dibagi menjadi tiga kategori: tembang ciliktembang tengahan dan tembang gedhé. Macapat digolongkan kepada kepada kategori tembang cilik dan juga tembang tengahan, sementara  tembang gedhé berdasarkan kakawin atau puisi tradisional Jawa Kuno, tetapi dalam penggunaannya pada masa Mataram Baru, tidak diterapkan perbedaan antara suku kata panjang ataupun pendek. Di sisi lain tembang tengahan juga bisa merujuk kepada kidung, puisi tradisional dalam bahasa Jawa Pertengahan.

Tembang macapat masuk dalam golongan tembang cilik dalam bagian tembang Jawa. Terdapat sebelas jenis tembang macapat yakni maskumambang, mijil, sinom, kinanti, asmarandana, gambuh, dandanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pucung.

Macapat merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang mulai tersisih keberadaannya oleh budaya K-POP. Tidak semua peserta didik tahu dan bisa melagukannya, disamping harus paham pengucapan teksnya juga harus menguasai laras atau nada dari tembang macapat tersebut. Untuk mempelajari macapat dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran, hal ini diperlukan waktu yang lumayan lama.

Di era milenial ini, budaya asli Indonesia khususnya budaya Jawa sudah mulai tersingkir keberadaannya. Peserta didik lebih senang menonton drama Korea ( drakor) ketimbang menonton wayang kulit, lagu-lagu K-Pop lebih menarik daripada tembang mocopat, mobile legend lebih menarik daripada congklak dan contoh yang lainnya. Hal ini menjadi keprihatinan bagi kita semua, apabila peserta didik sudah tidak menyukai budaya kita sendiri bagaimana mereka mau mencintai, bahkan mau mempelajari nya. Seperti peribahasa Jawa witting tresno jalaran saka kulino tumbuhnya cinta karena berawal dari kebiasaaan, bagaimana peserta didik mau mencintai budaya Jawa kalau mereka tidak mengenalnya.

Salah satu upaya pemerintah untuk melestarikan macapat adalah dengan memasukkan materi macapat di mata pelajaran muatan lokal Bahasa Jawa. Materi tembang macapat ada di semua jenjang SMA/MA/SMK, di kelas X semester 1 siswa dikenalkan dengan tembang macapat Sinom, di semester 2 tembang macapat Pangkur, semester 3 tembang macapat Pocung, semester 4 tembang macapat Gambuh, semester 5 tembang macapat Kinanthi, dan di semester 6 tembang macapat Dhandhanggula. Disamping itu juga diadakan lomba nembang macapat sampai tingkat propinsi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi peserta didik melalui penguatan karakter di bidang seni dan budaya. Dengan pelatihan yang rutin di harapkan muncul generasi yang bisa membawa prestasi di setiap moment perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun propinsi.

Ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya lokal di antaranya (Yunus: 2014: 123): (1) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam memajukan budaya lokal; (2) Mendorong masyarakat untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta pemberdayaan dan pelestariannya; (3) Berusaha menghidupkan kembali semangat toleransi, kekeluargaan, keramahtamahan dan solidaritas yang tinggi; (4) Selalu mempertahankan budaya Indonesia agar tidak punah. Mengusahakan agar masyarakat mampu mengelola keanekaragaman budaya lokal.

Dengan peran serta berbagai pihak diharapkan budaya Jawa khususnya macapat bisa terus berkembang keberadaannya dan tidak tersisih oleh kebudayaan asing. Berikut beberapa tips bagi generasi millennial untuk melestarikan kesenian Indonesia :

  1. Mulai mencintai kesenian Indonesia dari diri sendiri
  2. Buat komunitas yang bergerak di bidang kesenian Indonesia

Mengurangi konsumsi kesenian dari bangsa lain

  1. Mempelajari kesenian Indonesia lewat cara asyik
  2. Memanfaatkan teknologi dan internet sebagai sarana mempromosikan kesenian Indonesia

Daftar Pustaka

Gede Dody Sukma Oktiva Askara, S.Sos, M.Si. 2019. Pentingnya Menjaga Kebudayaan Daerah. [Online]. https://disbud.bulelengkab.go.id/artikel/pentingnya-menjaga-kebudayaan-daerah-70, diakses pada tanggal 30 Desember 2020

Wikipedia. 2020. Macapat. [Online]. https://id.wikipedia.org/wiki/Macapat. Diakses pada tanggal 30 Desember 2020.

Koran Bernas, 2020. Upaya Melestarikan Budaya Lokal pada Era Globalisasi. [Online].

https://kober.id/upaya-melestarikan-budaya-lokal-pada-era-globalisasi#:~:text=Ada%20berbagai%20upaya%20yang%20dapat,pelestariannya%3B%20(3)%20Berusaha%20menghidupkan. Di akses pada tanggal 30 Desember 2020.

IDN TIMES. 2019. 5 Cara Gaul Millennial untuk Lestarikan Kesenian Indonesia. [Online].

https://www.idntimes.com/life/inspiration/mia-rianti-lubis-1/5-cara-gaul-millennial-untuk-lestarikan-kesenian-indonesia-smartfren-c1c2/5. Diakses pada tanggal 30 Desember 2020.

C:\Users\hp\Documents\39760184-af8e-4fc6-bb9b-02bfd3e2789d.jpg

Biodata Penulis

Nama : Novi Rohayatun, S.Pd.

NIP : 198011182009032005

Pangkat/ Golongan : Penata Muda Tingk 1/IIIb

Email : novijowo@gmail.com

No Hp : 085227728764

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Wangon

Judul : TETAP BERPRESTASI DI MASA PANDEMI

By admin

You cannot copy content of this page