Iklan

D:\foto hp\IMG_20180802_195415.jpg

Oleh :

Nama : Priyanti,S.Pd.SD

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SDN 5 Karanganyar, Kec.Purwanegara Kab.Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah

SUKA DUKA MENGAJAR PADA MASA PANDEMI COVID 19

Perubahan situasi kondisi yang nyaman tentram dan jadwal kegiatan pembelajaran yang sudah tertata rapi telah dilaksanakan oleh sekolah-sekolah dengan rutinnya. Tiba-tiba wabah penyakit Virus yang sangat mengerikan terjadi di negara China dengan korban yang sangat banyak. Mendengarkan berita di televisi, WA di HP di beberapa negara sudah mulai terjadi penularan massal dan memakan korban yang tidak sedikit dalam waktu yang singkat sehingga sehingga tiap-tiap Kepala Negara mengambil keputusan untuk melarang warganya bepergian ke negara–negara tetangga dan warganegara juga tidak boleh bepergian dulu ke tempat kerja dan tempat wisata sebelum pandemi ini reda. Semua serba dihentikan untuk sementa waktu. PHK terjadi dimana-mana karena penularan virus sangat mudah menular yaitu melaui air liur, mulut, hidung dan mata sehingga pemerintah mewajibkan seluruh warga negara Indonesia sementara tinggal di rumah. Mulailah penderitaan terjadi dimana-man. Semua membutuhkan makanan tapi semua berhenti total sehingga banyak terjadi kelaparan, krisis makanan karena toko semua tutup maka terjadi pembelian yang sepihak. Bagi orang yang kaya bisa memborong bahan makanan di supermarket. Dimana-mana terjadi peristiwa yang sangat menakutkan. Kematian demi kematian mulai menjalar virusnya di Indonesia. Mereka yang terpapar virus ini sudah semakin mendekat dan mereka meninggal dunia. Setiap yang meninggal karena terpapar covid tidak dibolehkan dikubur di pemakaman umum karena masyarakat sekitar takut jenazah yang dikubur bisa menularkan virus kepada warga sekitar makam. Maka banyak orang yang yang menolak jenazah warganya yang meninggal karena covid. Sampai terjadi tragedi keluarga bertengkar dengan sesama warga desa karena anggota keluarganya yang meninggal minta diperlakukan dengan adil. Masyarakat tidak boleh egois dan melukai perasaan keluarga yang kehilangan karena korban covid 19. Akhirnya pemerintah membuka lahan tempat pemakaman umum untuk warganya yang meninggal disebabkan terpapar covid untuk dikebumikan menjadi satu tempat.

Kita semua harus disiplin menjalankan protokoler kesehatan setiap hari. Memakai masker, cuci tangan sebelum pergi dan sesudah bepergian, sebelum masuk rumah, sebelum masuk kerja dan sebelum masuk kantor. Semua dibatasi semata-mata untuk mengurangi penularan wabah virus covid 19. Dampak pandemi ini juga dialami oleh guru-guru dan siswa yang untuk sementara diliburkan dengan tugas menunggu keputusan dari Kemendikbud. Ternyata setelah terjadi peraturan berdiam di rumah saja virus covid 19 bukannya hilang masih tetap gentayangan di sekitar kita menjadi hantu yang menakutkan bagi orang tua dan warga masyarakat. Namun demikian ada juga waga masyarakat yang tidak perduli, tidak patuh dengan peraturan pemerintah sehingga korban virus covid 19 terus bertambah.

Namun demikian kehidupan harus dilanjutkan, kebutuhan sosial, politik, ekonomi harus berlanjut agar negara tidak lemah. Maka kehidupan new normal diberlakukan setelah menunggu redanya korban dari dampak virus covid 19, berangkat kerja dengan tetap mematuhi protokoler kesehatan di masa pandemi dengan semangat tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran bagi siswa dan guru berangkat bekerja mengajar membimbing siswa melalui sistem yang sudah diterapkan di setiap daerah.

Tidak terasa waktu kegiatan pembelajaran masa pandemi sudah terlewati hampir dua semester. Dampak dari pandemi ini tidak hanya pada pertumbuhan perekonomian negara saja, namun banyak hal yang sangat fatal terjadi pada dunia pendidikan..Anak-anak yang selalu riang bersemangat setiap pagi bernyanyi sepanjang perjalanan berangkat ke sekolah belajar bersama-sama teman-temannya di kelas dengan dibimbing oleh gurunya, bertatap muka bertanya belajar kelompok dengan temannya di kelas, melakukan presentasi hasil kelompok, bangga dengan hasil diskusi bersama dan presetasinya mewakili kelompoknya adalah kebanggan tersendiri bagi siswa karena bisa bersaing belajar secara positif dengan memperlihatkan kemampuannya dan memperoleh nilai yang objektif, nyata dan langsung karena dapat disaksikan oleh teman-teman dan guru kelas. Semua berbalik seratus delapan puluh derajat, kegiatan pembelajaran di ganti dengan belajar di rumah karena dampak pandemi ini belum mereda. Semua warga dan siswa tidak boleh belajar di sekolah untuk menghindari kerumunan karena anak sangat rentan dengan panyakit. Program kegiatan belajar mengajar yang tadinya berlansung di sekolahan, di kelas bertatap muka langsung dengan guru di ganti dengan belajar di rumah. Tiap-tiap guru mulai belajar dengan mendatangi rumah-rumah siswa agar pelajaran tidak tertinggal. Kegiatan berjalan beberapa minggu namun demikian ternyata dirasakan tidak efektif karena satu hari guru hanya dapat mengunjungi tiga sampai empat rumah siswa dikarenakan sekolah yang ada di daerah pegunungan dari tiap-tiap siswa rumahnya saling berjauhan dan tidak mengelompok seperti perumahan di perkotaan atau di daerah tanah yang rata. Pengalaman mengajar di daerah pegunungan sudah jelas dipengaruhi oleh letak geografi dan tanah yang naik turun.

Pada masa pandemi ini kita semua tidak boleh keluar atau berkumpul. Guru tetap menjalankan tugasnya karena sudah kewajiban memberikan ilmu dan membimbing siswa. Orang tua membantu membimbing, mengawasi, membantu mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Banyak juga orang tua yang emosi karena pengalaman mengajar putranya sendiri lebih sulit.

Kerinduan yang dirasakan oleh anak belajar di sekolah sudah tidak tertahankan, mereka rindu dengan gurunya, mereka rindu dengan bangku sekolahnya, mereka rindu dengan teman-temannya dan tidak kalah rindunya juga mereka minta uang jajan tiap paginya. Mereka berharap dengan bimbingn guru belajar dapat belajar dengan tatap muka banyak terungkap dari celotehan anak yang sering datang ke sekolahan menemui gurunya agar diperbolehkan berangkat dan agar tidak tiap hari tidak kena marah ibunya. Mereka berharap dengan bertatap muka satu jam saja dengan konsultsi pelajaran dan bimbingan pelajaran yang belum dipahaminya baik oleh orang tua dan siswa akan mengobati rasa jenuh dan bosan mengerjakan tugas belajar di rumah. Orang tua sekarang ikut merasakan betapa beratnya tugas guru membimbing siswa.

Setelah selang beberapa bulan kegiatan pembelajaran sudah dilalui, masih banyak korban berjatuhan karena virus covid 19, maka strategi pembelajaran dengan belajar sistem jemput bola mengunjungi rumah siswa diganti dengan pembelajaran melalui daring menggunakan HP. Disinilah mulai terjadi ketimpangnan yang sangat tajam antar sekolah yang berada di kota dan di desa. Jaringan internert di kota cenderung stabil sehingga tidak masalah dengan pembelajaran sistem daring, berbeda dengan sekolah yang bearada di desa, guru dan siswa mengalami kendala masalah jaringan internet yang tidak stabil.

Semua mulai berangsur-angsur memahami keadaan, situasi dan kondisi yang terjadi. Keadaan korban akibat virus covid terus bertambah namun kehidupan harus terus berlanjut. Demikian juga dengan semua kegiatan pembelajaran bagi anak-anak harus terus berlanjut, maka semua jadwal pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan kurikulum darurat yaitu kurikulum masa pandemi yang sudah berjalan hampir sembilan bulan ini. Semoga semua tetap berjalan lancar dan adanya virus covid 19 ini menjadikan pembelajaran dan peningkatan dalam perilaku hidup dan lebih mengutamakan pada hidup yang tertib, disiplin dan mematuhi protokol kesehatan. Peningkatan secara spiritual lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada masa pandemi banyak halangan dan rintangn semuanya dapat teratasi dan dapat menemukan solusi bagi kepentingn kegiatan pembelajaran siswa dan membantu orang tua tetap mengawasi siswa dalam belajar di rumah .Semoga kemantapan hati bapak dan ibu guru dalam membimbing mengarahkan, dan dalam mengajar siswa pada masa pandemi ini diberikan kemudahan dan kelancaran.

By admin

You cannot copy content of this page