Iklan

Oleh : Shobirin Slamet, S.Pd., M.Si

Platform Merdeka Mengajar (PMM) adalah platform teknologi yang disediakan bagi guru dan kepala sekolah dalam mengajar, belajar, dan berkarya. PMM dibangun untuk menunjang penerapan kurikulum merdeka. Melalui PMM, guru mendapat referensi, inspirasi, dan pemahaman dalam IKM. (https://pusatinformasi,guru.kemdikbud.go.id). Di dalamnya terdapat pelatihan mandiri yang dijadikan sarana guru mempelajari kurikulum merdeka secara daring. Di dalamnya banyak konten materi berupa modul maupun video. (https://guru.kemdikbud.go.id). Pelatihan mandiri ini dipantau terus oleh dinas provinsi dan kabuoaten/ kota. Bagaimana pelaksanaan pelatihan mandiri di Banyumas? Marilah kita bahas sekilas tentang pelatihan mandiri tersebut dan hambatan-hambatannya.

Update Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) per 4 November 2022 guru SMA Negeri 1 Banyumas yang belum login 27 orang dari 72 guru yang terdaftar di dapodik atau 37,5%. Jumlah guru yang lulus topik sebanyak 28 orang. Menyikapi hal ini, saya memberikan arahan untuk segera login. Dalam waktu seminggu per tanggal 9 November 2022, kami pantau dan dorong terus jumlah login PPPK sebanyak 21 orang, PNS guru sebanyak 34 orang, dan Non ASN 7 orang. Semua berjumlah 61 orang sudah login. Sedangkan 3 orang telah penisun. Ini berarti 100% dalam waktu seminggu sudah login semua.

Berdasarkan wilayah cabang dinas wilayah se-Jawa Tengah, Banyumas menempati urutan 8 dengan jumlah guru yang belum login 36,26%. Ini berarti jumlah guru yang sudah login sebanyak 65,74%. Dari jumlah guru terdaftar 1194 yang belum login sebanyak 433 orang dengan lulus topik 268. Per tanggal 11 November 2022, wilayah banyumas yang belum update turun menjadi 406 orang dari 433 orang pada 4 November 2022. Dalam seminggu hanya 27 orang yang melakukan login ke PMM. Persentase guru yang belum login menjadi 34% dari 36,26%. Dengan demikian hanya 2,26% guru yang login selama seminggu. Guru yang lulus topik menjadi 285 orang dari 268, sehingga mengalami kenaikan sebanyak 17 orang saja. Jika kita lihat dengan kenaikan login 27 orang, sedangkan yang lulus topik hanya 17 orang, maka 10 guru dimungkinkan hanya login dan atau masih proses mengerjakan topik-topik dalam PMM. Kondisi tersebit ternyata menempatkan Banyumas menjadi urutan 7 dari seluruh Cabang Wilayah di Jawa Tengah.

Data yang tertulis dalam laporan aktivitas per 11 November 2022 menggambarkan betapa rendahnya pergerakan guru-guru kita dalam menggunakan PMM. Secara kesuluruhan di Jawa Tengah pergerakan aktivitas dalam seminggu adalah dari jumlah guru per 04 November 2022 adalah 27.354 menjadi 28.561, maka ada kenaikan 1.207 orang. Jumlah guru login per 04 November 2022, 17,655 dan jumlah guru login per 11 November 2022 adalah 19.017, maka peningkatan jumlah guru login 1362 orang. Jumlah guru yang belum login per 04 November 2022 sebanyak 35,46% dan jumlah guru yang belum login per 11 November 2022 sebanyak 33,42%. Ini berarti terjadi kenaikan guru login sebanyak 2,04% atau 155 orang dalam seminggu. Dengan demikian kenaikan di Cabdin Wilayah X dengan angka kenaikan 2,26% masih lebih tinggi disbanding kenaikan secara keseluruhan di Jawa Tengah yaitu 2,04%.

Dilihat dari data wilayah maupun provinsi, kenaikan guru yang login maupun lulus topik masih tergolong sangat rendah. Berdasarkan pengamatan dan fakta di satuan pendidikan bahwa pelatihan mandiri di PMM dipengaruhi oleh banyak faktor. Setidaknya ada 8 (delapan) factor yaitu:

  1. Rendahnya kemampuan mengoperasikan aplikasi melalui android atau laptop.

Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak guru yang belum terampil dalam mengoperasikan Smartphone atau laptop. Mereka masih “nunak nunuk” memainkan jari-jarinya mengikuti dan mempelajari alur pelatihan mandiri. Dari install aplikasi sampai dengan masuk ke topik-topik pelatihan. Di sisi lain, pelatihan mandiri kurikulum merdeka adalah hal baru yang harus dipelajari satu demi satu. Pemahaman yang belum memadai tentu akan mempengaruhi pergerakan guru dalam aktivitas pelatihan. Solusi untuk hal ini adalah adanya mentoring dan guiding bagi guru yang dapat dilakukan oleh guru penggerak di sekolah maupun guru-guru yang memiliki kemampuan IT. Pada umumnya guru-guru ini adalah ASN PPPK atau guru non ASN. Sebagian kecil guru PNS yang belum memiliki kemampuan IT memadai dapat dilakukan pendampingan secara berkelanjutan.

2. Kurangnya kesempatan mengerjakan topik-topik dalam PMM karena mengajar di kelas, sebagian besar guru mengajar di atas 30 jam. Dan sebagian PPPK dan guru non ASN mengikuti kegiatan Pendidikan Profesi Guru (PPG), Calon Guru Penggerak (CGP), Calon Pengajar Praktik (CPP), Guru Pamong PPG, dan kegiatan diklat lainnya. Akhir-akhir ini kegiatan guru sangat banyak, bahkan dapat terjadi di sekolah, seorang guru harus melakukan 2 sampai 4 kegiatan dalam waktu yang sama. Pernah terjadi, seorang guru yang mengajar di atas 40 jam adalah seorang pengajar praktik, wakil kepala sekolah, pamong PPG, dan juga seorang mengikuti diklat daring. Ada juga guru penggerak yang mengikuti kegiatan pelatihan di luar kota, dia juga seorang pengajar praktik, guru dengan jumlah jam mengajar di atas 30 jam, harus mengikuti MOOC (Masive Open Online Course) PPPK. Kenyataan ini di era digital menjadi pemandangan yang sudah biasa. Multitasking sudah menjadi tuntutan guru masa kini, bukan hanya yang mau tetapi sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan. Pada umumnya guru mengalami kendala mengikuti PMM disebabkan oleh kewajiban mengajar di atas normal. Jika dulu rata-rata 24 sampai 30, sekarang sudah banyak yang mengajar antara 30 sampai 40 jam, bahkan ada yang lebih. Dalam menghadapi situasi dan kondisi guru2 dituntut bisa melakukan PM di rumah di sela-sela kesibukan aktivitas bersama keluarga.

3. Kurangnya dukungan sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah maupun di rumah

Pelatihan mandiri melalui android harus terhubung dengan internet. Kita sadari bahwa sebagian guru belum mampu menyediakan fasilitas secara penuh. Ketersediaan android yang memiliki spesifikasi tinggi sebenarnya menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Kemampuan operasi android yang berspesifikasi tinggi akan sangat berpengaruh kepada motivasi guru. Sebaliknya jika guru menggunakan android dengan RAM 2 atau 3 GB akan mengalami kendala yang cukup banyak. Di samping itu, ketersediaan kuota data atau Wifi tidak selalu siap untuk mengakses PMM. Bagi sebagian guru masih menggantungkan kebutuhan akses internet kepada fasilitas sekolah. Tidak dipungkiri bahwa untuk menyediakan kuota data/ wifi bagi sebagian guru masih terasa memberatkan, apalagi dengan menggunakan PMM yang merupakan aplikasi online yang selalu membutuhkan akses internet. Dukungan sarana di sekolah menjadi hal penting dalam mempercepat implementasi PMM.

4. Kemampuan guru dalam memaknai kurikulum merdeka.

Kemampuan guru dalam memahami Kurikulum Merdeka masih sangat terbatas. Kurikulum merdeka merupakan hal baru yang membutuhkan waktu, pikiran, dan energi yang Panjang untuk memahami secara menyeluruh. Sebagian guru yang sudah lama mengajar dengan kurikulum sebelumnya cenderung lambat dalam belajar mulai dari konsep hingga tataran penerapan di dalam kelas. PMM terdiri dari banyak topik dan modul. Khususnya bagi guru-guru usia 50 hingga 59 tahun adalah menjadi hal berat melalui tahapan belajar tersebut. Perlu Kerjasama tim sekolah untuk mendampingi mereka secara intensif dan kontinyu. Tanpa pembimbingan yang dilakukan oleh guru-guru muda maka akan berpotensi statis tidak mengalami perkembangan.

5. Rendahnya motivasi guru dalam menggunakan PMM sebagai platform pelatihan mandiri.

Motivasi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu motivasi instrinsik (dari dalam individu) dan ekstrinsik (dari luar individu). Guru yang memiliki pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) akan merespon positif kegiatan pelatihan mandiri dengan semangat. Mereka akan melakukan pelatihan tanpa basa-basi. Aktivitas mereka berlangsung secara otomatis dengan atau tidak dibimbing oleh pihak lain. Hal yang dipikirkan oleh mereka adalah melakukan dengan usaha keras untuk mencapai kesuksesan. Sedangkan guru yang belum memiliki pola pikir bertumbuh harus dimulai dari sosialisasi, pendampingan, pendorongan, dan juga diberi warning tertentu. Mereka sebagian menunggu “perhatian” atasan atau dinas pendidikan untuk menggerakan dirinya mengikuti PMM. Bahkan sebagian dari mereka sering tidak mampu menggerakan dirinya berbuat lebih walaupun diimingi dengan pencapaian kelulusan dan sertifikat.

6. Kurangnya dukungan dan pemantauan kepala sekolah.

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam menggerakan guru-gurunya. Sekolah sebagai komunitas belajar guru sangat dibutuhkan sosok kepala sekolah yang mampu menjadi motivator dan inspirator. Seorang yang mampu menggerakan warga sekolah dalam berbagai kegiatan untuk mewujudkan program-program sekolah. Berbagai kesempatan melalui briefing pagi¸ apel guru karyawan, rapat dinas, workshop, IHT, pertemuan koordinasi dan evaluasi kepala sekolah menyisipkan dan memberikan inspirasi motivasi bagi mereka. Jika belum dapat melaksanakan sendiri maka dapat memanfaatkan tenaga orang lain, misalnya naras sumber dari luar sekolah atau guru penggerak di sekolahnya. Pemantauan melalui WA Group juga dapat dilakukan sebagai bentuk dukungan dan perhatian khusus dalam implementasi kurikulum merdeka. Setiap kegiatan bisa dilakukan list sehingga mereka termotivasi masuk login ke PMM, belajar modul-modul, video, dan mengerjakan post test. Kemudia di lakukan list lagi bagi guru yang sudah mendapat sertifikat, maka guru-guru yang lain akan terdorong untuk mengerjakan aksi nyata dan mengikuti teman-temannya.

7. Tidak adanya regulasi yang mengatur pelatihan mandiri khususnya tentang batas waktu pelatihan mandiri dan pemberian sanksi bagi guru yang tidak mengikuti pelatihan di PMM. Surat Edaran Kemendikbudristek tentang IKM secara mandiri tahun 2022/ 2023 mengamanatkan tentang Implementasi Kurikulum Merdeka, 6 strategi berpusat pada penguatan komunitas belajar bagi pendidik dan sekolah, pengawasan oleh dinas pendidikan provinsi/ kabupaten kota, dan persiapan sekolah. (https://mastiokdr.com/suaramerdeka). Dalam mempersiapkan diri, satuan Pendidikan diperintahkan untuk melihat panduan terkait dokumen dan pelatihan mandiri melalui PMM. Dengan demikian IKM akan dilaksanakan satuan Pendidikan sesuai dengan pilihannya (mandiri belajar, berubah atau berbagi). Guru dan Satuan Pendidikan (Kepala Sekolah) Bersama-sama bekerja keras berkolaborasi untuk menyukseskan IKM tersebut.

Terkait batas waktu pelatihan mandiri dan sanksi bagi guru yang tidak atau belum mendapat sertifikat pelatihan di PMM belum ada regulasi yang jelas. Memang pernah diberitahu melalui sebuah kegiatan IHT IKM beberapa waktu lalu, yaitu bahwa guru yang tidak/ belum bersertifikat Pelatihan Mandiri di PMM tidak boleh mengajar kurikulum merdeka, tetapi dasar hukumnya belum ada. Akibatnya, banyak guru yang belum memperhatikan mengenai pelatihan mandiri tersebut. Adalah penting bagi guru-guru yang belum memiliki pola piker bertumbuh, adanya dasar hukum yang mengikat tentang batasan waktu dan perlakuan khusus bagi guru yang belum bersertifikat.

8. Keterbatasan jumlah petugas validasi aksi nyata PMM.

Hal ini sangat mempengaruhi aktivitas guru dalam merespon validasi 1 ke validasi berikutnya. Keterbatasan ini menyebabkan seorang guru menunggu beberapa lama, padahal terbitnya sertifikat akan mendongkrak motivasi bagi guru yang bersangkutan dan merangsang guru lain berbuat aksi nyata. Sebagai contoh Ketika penulis tidak lolos validasi aksi nyata, waktu tunggu sudah beberapa minggu bahkan lebih dari 1 bulan, setelah itu ternyata harus diperbaiki dan menunggu lagi, waktu yang cukup lama karena keterbatasan validator dapat menyebabkan hambatan bagi guru untuk mendapatkan sertifikat. Dalam hal ini, maka sebaiknya validasi dilaksanakan secara marathon mengingat jumlah guru yang ingin mendapatkan respon sangat banyak. Motivasi guru juga akan terjaga dan meningkat di saat validator memberikan catatan-catatan perbaikan yang jelas sehingga langsung direvisi. Pemenuhan jumlah dan waktu validasi tentu akan dilakukan oleh pihak pengelola pelatihan mandiri PMM guna mempercepat sertifikasi bagi seluruh guru yang menjadi ujung tombak IKM.

Demikian tulisan saya pada kesempatan ini, mudah-mudahan dapat memacu atau memberikan gambaran terkait pelaksanaan pelatihan mandiri di sekolah masing-masing. Pola pikir bertumbuh adalah kunci kesuksesan kita. Guru-guru yang menjadi guru penggerak dan pengajar praktik adalah contoh nyata orang-orang yang bertumbuh. Maka sudah sepantasnya mereka diberi kekhususan menjadi kepala sekolah dan pengawas tanpa melalui prosedur yang berbelit-belit. Perjuangan saat menjadi CGP dan CPP yang cukup melelahkan akan tergantikan dengan penghargaan dari pemerintah. Kita harus optimis menyambut kurikulum merdeka untuk mewujudkan generasi profil pelajar Pancasila dengan 6 dimensi yaitu Beriman Bertaqwa kpd Tuhan YME dan berakhlak mulia, bergotong-royong, bernalar kritis, berkebhinekaan global, kreatif, dan mandiri. Bergerak bersama-sama dengan penuh keyakinan adalah langkah strategis menyukseskan IKM. Merdeka…..!

Daftar Referensi:

https://mastiokdr.com/suaramerdeka diakses 19 November 2022 pukul 06.50”

https://pusatinformasi,guru.kemdikbud.go.id). diakses 19 November 2022 pukul 7.10”

(https://guru.kemdikbud.go.id). diakses 19 November 2022 pukul 07.35”

 BIODATA PENULIS:

Nama : Shobirin Slamet. S.Pd., M.Si

NIP : 197107191995011001

Pangkat/ Golongan : Pembina Tk. I/ IVb

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Banyumas

Email : fariracollege@gmail.com

POLA PIKIR BERTUMBUH GURU KUNCI SUKSES PELATIHAN MANDIRI

PADA PLATFORM MERDEKA MENGAJAR

Oleh : Shobirin Slamet, S.Pd., M.Si

Platform Merdeka Mengajar (PMM) adalah platform teknologi yang disediakan bagi guru dan kepala sekolah dalam mengajar, belajar, dan berkarya. PMM dibangun untuk menunjang penerapan kurikulum merdeka. Melalui PMM, guru mendapat referensi, inspirasi, dan pemahaman dalam IKM. (https://pusatinformasi,guru.kemdikbud.go.id). Di dalamnya terdapat pelatihan mandiri yang dijadikan sarana guru mempelajari kurikulum merdeka secara daring. Di dalamnya banyak konten materi berupa modul maupun video. (https://guru.kemdikbud.go.id). Pelatihan mandiri ini dipantau terus oleh dinas provinsi dan kabuoaten/ kota. Bagaimana pelaksanaan pelatihan mandiri di Banyumas? Marilah kita bahas sekilas tentang pelatihan mandiri tersebut dan hambatan-hambatannya.

Update Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) per 4 November 2022 guru SMA Negeri 1 Banyumas yang belum login 27 orang dari 72 guru yang terdaftar di dapodik atau 37,5%. Jumlah guru yang lulus topik sebanyak 28 orang. Menyikapi hal ini, saya memberikan arahan untuk segera login. Dalam waktu seminggu per tanggal 9 November 2022, kami pantau dan dorong terus jumlah login PPPK sebanyak 21 orang, PNS guru sebanyak 34 orang, dan Non ASN 7 orang. Semua berjumlah 61 orang sudah login. Sedangkan 3 orang telah penisun. Ini berarti 100% dalam waktu seminggu sudah login semua.

Berdasarkan wilayah cabang dinas wilayah se-Jawa Tengah, Banyumas menempati urutan 8 dengan jumlah guru yang belum login 36,26%. Ini berarti jumlah guru yang sudah login sebanyak 65,74%. Dari jumlah guru terdaftar 1194 yang belum login sebanyak 433 orang dengan lulus topik 268. Per tanggal 11 November 2022, wilayah banyumas yang belum update turun menjadi 406 orang dari 433 orang pada 4 November 2022. Dalam seminggu hanya 27 orang yang melakukan login ke PMM. Persentase guru yang belum login menjadi 34% dari 36,26%. Dengan demikian hanya 2,26% guru yang login selama seminggu. Guru yang lulus topik menjadi 285 orang dari 268, sehingga mengalami kenaikan sebanyak 17 orang saja. Jika kita lihat dengan kenaikan login 27 orang, sedangkan yang lulus topik hanya 17 orang, maka 10 guru dimungkinkan hanya login dan atau masih proses mengerjakan topik-topik dalam PMM. Kondisi tersebit ternyata menempatkan Banyumas menjadi urutan 7 dari seluruh Cabang Wilayah di Jawa Tengah.

Data yang tertulis dalam laporan aktivitas per 11 November 2022 menggambarkan betapa rendahnya pergerakan guru-guru kita dalam menggunakan PMM. Secara kesuluruhan di Jawa Tengah pergerakan aktivitas dalam seminggu adalah dari jumlah guru per 04 November 2022 adalah 27.354 menjadi 28.561, maka ada kenaikan 1.207 orang. Jumlah guru login per 04 November 2022, 17,655 dan jumlah guru login per 11 November 2022 adalah 19.017, maka peningkatan jumlah guru login 1362 orang. Jumlah guru yang belum login per 04 November 2022 sebanyak 35,46% dan jumlah guru yang belum login per 11 November 2022 sebanyak 33,42%. Ini berarti terjadi kenaikan guru login sebanyak 2,04% atau 155 orang dalam seminggu. Dengan demikian kenaikan di Cabdin Wilayah X dengan angka kenaikan 2,26% masih lebih tinggi disbanding kenaikan secara keseluruhan di Jawa Tengah yaitu 2,04%.

Dilihat dari data wilayah maupun provinsi, kenaikan guru yang login maupun lulus topik masih tergolong sangat rendah. Berdasarkan pengamatan dan fakta di satuan pendidikan bahwa pelatihan mandiri di PMM dipengaruhi oleh banyak faktor. Setidaknya ada 8 (delapan) factor yaitu:

  1. Rendahnya kemampuan mengoperasikan aplikasi melalui android atau laptop.

Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak guru yang belum terampil dalam mengoperasikan Smartphone atau laptop. Mereka masih “nunak nunuk” memainkan jari-jarinya mengikuti dan mempelajari alur pelatihan mandiri. Dari install aplikasi sampai dengan masuk ke topik-topik pelatihan. Di sisi lain, pelatihan mandiri kurikulum merdeka adalah hal baru yang harus dipelajari satu demi satu. Pemahaman yang belum memadai tentu akan mempengaruhi pergerakan guru dalam aktivitas pelatihan. Solusi untuk hal ini adalah adanya mentoring dan guiding bagi guru yang dapat dilakukan oleh guru penggerak di sekolah maupun guru-guru yang memiliki kemampuan IT. Pada umumnya guru-guru ini adalah ASN PPPK atau guru non ASN. Sebagian kecil guru PNS yang belum memiliki kemampuan IT memadai dapat dilakukan pendampingan secara berkelanjutan.

2. Kurangnya kesempatan mengerjakan topik-topik dalam PMM karena mengajar di kelas, sebagian besar guru mengajar di atas 30 jam. Dan sebagian PPPK dan guru non ASN mengikuti kegiatan Pendidikan Profesi Guru (PPG), Calon Guru Penggerak (CGP), Calon Pengajar Praktik (CPP), Guru Pamong PPG, dan kegiatan diklat lainnya. Akhir-akhir ini kegiatan guru sangat banyak, bahkan dapat terjadi di sekolah, seorang guru harus melakukan 2 sampai 4 kegiatan dalam waktu yang sama. Pernah terjadi, seorang guru yang mengajar di atas 40 jam adalah seorang pengajar praktik, wakil kepala sekolah, pamong PPG, dan juga seorang mengikuti diklat daring. Ada juga guru penggerak yang mengikuti kegiatan pelatihan di luar kota, dia juga seorang pengajar praktik, guru dengan jumlah jam mengajar di atas 30 jam, harus mengikuti MOOC (Masive Open Online Course) PPPK. Kenyataan ini di era digital menjadi pemandangan yang sudah biasa. Multitasking sudah menjadi tuntutan guru masa kini, bukan hanya yang mau tetapi sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan. Pada umumnya guru mengalami kendala mengikuti PMM disebabkan oleh kewajiban mengajar di atas normal. Jika dulu rata-rata 24 sampai 30, sekarang sudah banyak yang mengajar antara 30 sampai 40 jam, bahkan ada yang lebih. Dalam menghadapi situasi dan kondisi guru2 dituntut bisa melakukan PM di rumah di sela-sela kesibukan aktivitas bersama keluarga.

3. Kurangnya dukungan sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah maupun di rumah

Pelatihan mandiri melalui android harus terhubung dengan internet. Kita sadari bahwa sebagian guru belum mampu menyediakan fasilitas secara penuh. Ketersediaan android yang memiliki spesifikasi tinggi sebenarnya menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Kemampuan operasi android yang berspesifikasi tinggi akan sangat berpengaruh kepada motivasi guru. Sebaliknya jika guru menggunakan android dengan RAM 2 atau 3 GB akan mengalami kendala yang cukup banyak. Di samping itu, ketersediaan kuota data atau Wifi tidak selalu siap untuk mengakses PMM. Bagi sebagian guru masih menggantungkan kebutuhan akses internet kepada fasilitas sekolah. Tidak dipungkiri bahwa untuk menyediakan kuota data/ wifi bagi sebagian guru masih terasa memberatkan, apalagi dengan menggunakan PMM yang merupakan aplikasi online yang selalu membutuhkan akses internet. Dukungan sarana di sekolah menjadi hal penting dalam mempercepat implementasi PMM.

4. Kemampuan guru dalam memaknai kurikulum merdeka.

Kemampuan guru dalam memahami Kurikulum Merdeka masih sangat terbatas. Kurikulum merdeka merupakan hal baru yang membutuhkan waktu, pikiran, dan energi yang Panjang untuk memahami secara menyeluruh. Sebagian guru yang sudah lama mengajar dengan kurikulum sebelumnya cenderung lambat dalam belajar mulai dari konsep hingga tataran penerapan di dalam kelas. PMM terdiri dari banyak topik dan modul. Khususnya bagi guru-guru usia 50 hingga 59 tahun adalah menjadi hal berat melalui tahapan belajar tersebut. Perlu Kerjasama tim sekolah untuk mendampingi mereka secara intensif dan kontinyu. Tanpa pembimbingan yang dilakukan oleh guru-guru muda maka akan berpotensi statis tidak mengalami perkembangan.

5. Rendahnya motivasi guru dalam menggunakan PMM sebagai platform pelatihan mandiri.

Motivasi dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu motivasi instrinsik (dari dalam individu) dan ekstrinsik (dari luar individu). Guru yang memiliki pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) akan merespon positif kegiatan pelatihan mandiri dengan semangat. Mereka akan melakukan pelatihan tanpa basa-basi. Aktivitas mereka berlangsung secara otomatis dengan atau tidak dibimbing oleh pihak lain. Hal yang dipikirkan oleh mereka adalah melakukan dengan usaha keras untuk mencapai kesuksesan. Sedangkan guru yang belum memiliki pola pikir bertumbuh harus dimulai dari sosialisasi, pendampingan, pendorongan, dan juga diberi warning tertentu. Mereka sebagian menunggu “perhatian” atasan atau dinas pendidikan untuk menggerakan dirinya mengikuti PMM. Bahkan sebagian dari mereka sering tidak mampu menggerakan dirinya berbuat lebih walaupun diimingi dengan pencapaian kelulusan dan sertifikat.

6. Kurangnya dukungan dan pemantauan kepala sekolah.

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam menggerakan guru-gurunya. Sekolah sebagai komunitas belajar guru sangat dibutuhkan sosok kepala sekolah yang mampu menjadi motivator dan inspirator. Seorang yang mampu menggerakan warga sekolah dalam berbagai kegiatan untuk mewujudkan program-program sekolah. Berbagai kesempatan melalui briefing pagi¸ apel guru karyawan, rapat dinas, workshop, IHT, pertemuan koordinasi dan evaluasi kepala sekolah menyisipkan dan memberikan inspirasi motivasi bagi mereka. Jika belum dapat melaksanakan sendiri maka dapat memanfaatkan tenaga orang lain, misalnya naras sumber dari luar sekolah atau guru penggerak di sekolahnya. Pemantauan melalui WA Group juga dapat dilakukan sebagai bentuk dukungan dan perhatian khusus dalam implementasi kurikulum merdeka. Setiap kegiatan bisa dilakukan list sehingga mereka termotivasi masuk login ke PMM, belajar modul-modul, video, dan mengerjakan post test. Kemudia di lakukan list lagi bagi guru yang sudah mendapat sertifikat, maka guru-guru yang lain akan terdorong untuk mengerjakan aksi nyata dan mengikuti teman-temannya.

7. Tidak adanya regulasi yang mengatur pelatihan mandiri khususnya tentang batas waktu pelatihan mandiri dan pemberian sanksi bagi guru yang tidak mengikuti pelatihan di PMM. Surat Edaran Kemendikbudristek tentang IKM secara mandiri tahun 2022/ 2023 mengamanatkan tentang Implementasi Kurikulum Merdeka, 6 strategi berpusat pada penguatan komunitas belajar bagi pendidik dan sekolah, pengawasan oleh dinas pendidikan provinsi/ kabupaten kota, dan persiapan sekolah. (https://mastiokdr.com/suaramerdeka). Dalam mempersiapkan diri, satuan Pendidikan diperintahkan untuk melihat panduan terkait dokumen dan pelatihan mandiri melalui PMM. Dengan demikian IKM akan dilaksanakan satuan Pendidikan sesuai dengan pilihannya (mandiri belajar, berubah atau berbagi). Guru dan Satuan Pendidikan (Kepala Sekolah) Bersama-sama bekerja keras berkolaborasi untuk menyukseskan IKM tersebut.

Terkait batas waktu pelatihan mandiri dan sanksi bagi guru yang tidak atau belum mendapat sertifikat pelatihan di PMM belum ada regulasi yang jelas. Memang pernah diberitahu melalui sebuah kegiatan IHT IKM beberapa waktu lalu, yaitu bahwa guru yang tidak/ belum bersertifikat Pelatihan Mandiri di PMM tidak boleh mengajar kurikulum merdeka, tetapi dasar hukumnya belum ada. Akibatnya, banyak guru yang belum memperhatikan mengenai pelatihan mandiri tersebut. Adalah penting bagi guru-guru yang belum memiliki pola piker bertumbuh, adanya dasar hukum yang mengikat tentang batasan waktu dan perlakuan khusus bagi guru yang belum bersertifikat.

8. Keterbatasan jumlah petugas validasi aksi nyata PMM.

Hal ini sangat mempengaruhi aktivitas guru dalam merespon validasi 1 ke validasi berikutnya. Keterbatasan ini menyebabkan seorang guru menunggu beberapa lama, padahal terbitnya sertifikat akan mendongkrak motivasi bagi guru yang bersangkutan dan merangsang guru lain berbuat aksi nyata. Sebagai contoh Ketika penulis tidak lolos validasi aksi nyata, waktu tunggu sudah beberapa minggu bahkan lebih dari 1 bulan, setelah itu ternyata harus diperbaiki dan menunggu lagi, waktu yang cukup lama karena keterbatasan validator dapat menyebabkan hambatan bagi guru untuk mendapatkan sertifikat. Dalam hal ini, maka sebaiknya validasi dilaksanakan secara marathon mengingat jumlah guru yang ingin mendapatkan respon sangat banyak. Motivasi guru juga akan terjaga dan meningkat di saat validator memberikan catatan-catatan perbaikan yang jelas sehingga langsung direvisi. Pemenuhan jumlah dan waktu validasi tentu akan dilakukan oleh pihak pengelola pelatihan mandiri PMM guna mempercepat sertifikasi bagi seluruh guru yang menjadi ujung tombak IKM.

Demikian tulisan saya pada kesempatan ini, mudah-mudahan dapat memacu atau memberikan gambaran terkait pelaksanaan pelatihan mandiri di sekolah masing-masing. Pola pikir bertumbuh adalah kunci kesuksesan kita. Guru-guru yang menjadi guru penggerak dan pengajar praktik adalah contoh nyata orang-orang yang bertumbuh. Maka sudah sepantasnya mereka diberi kekhususan menjadi kepala sekolah dan pengawas tanpa melalui prosedur yang berbelit-belit. Perjuangan saat menjadi CGP dan CPP yang cukup melelahkan akan tergantikan dengan penghargaan dari pemerintah. Kita harus optimis menyambut kurikulum merdeka untuk mewujudkan generasi profil pelajar Pancasila dengan 6 dimensi yaitu Beriman Bertaqwa kpd Tuhan YME dan berakhlak mulia, bergotong-royong, bernalar kritis, berkebhinekaan global, kreatif, dan mandiri. Bergerak bersama-sama dengan penuh keyakinan adalah langkah strategis menyukseskan IKM. Merdeka…..!

Daftar Referensi:

https://mastiokdr.com/suaramerdeka diakses 19 November 2022 pukul 06.50”

https://pusatinformasi,guru.kemdikbud.go.id). diakses 19 November 2022 pukul 7.10”

(https://guru.kemdikbud.go.id). diakses 19 November 2022 pukul 07.35”

 BIODATA PENULIS:

Nama : Shobirin Slamet. S.Pd., M.Si

NIP : 197107191995011001

Pangkat/ Golongan : Pembina Tk. I/ IVb

Unit Kerja : SMA Negeri 1 Banyumas

Email : fariracollege@gmail.com

You cannot copy content of this page