Iklan

PERMASALAHAN DAN TANTANGAN GURU PPKn MENGHADAPI KURIKULUM 2013

C:\Users\TOTOK\Downloads\WhatsApp Image 2021-01-23 at 14.59.47.jpeg

Susiati Purwaningsih, S.Pd.

Abstrak

Perubahan kurikulum selalu untuk menjawab tantangan yang sedang dirisaukan masyarakat, salah satunya ialah karena siswa lebih cenderung memiliki atau mendapatkan kompetitip kognitif. Apa yang harus dijawab dengan kurikulum 2013 ? . Untuk menjawab pertanyaan itu harus mengerti benar tentang kelemahan dalam pendidikan pada umumnya di Indonesia. Banyak ahli menilai bahwa pendidikan di Indonesia kebih mengisi pikiran daripada mengajarkan cara berfikir. Hasil berfikir dan bernalar siswa masih rendah, oleh karena itu tantangan terbesar pendidikan di Indonesia adalah bagaimana menterjemahkan konsep succesfull intelegence (SI) kedalam operasional sistem pendidikan. Pendidikan di Indonesia nampaknya belum berhasil membentuk succes intelegence (SI), khususnya dalam kemampuan berfikir tingkat tinggi. Dalam hal inilah tantangan tantangan guru PPKn menghadapi kurikulum 2013 yang arahnya tidak hanya memberi pengetahuan tetapi juga mengajar cara berfikir tingkat tinggi dalam proses pembelajarannya karena salah satu tujuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah membentuk kepribadian dimana berpikir kritis merupakan unsur penting dalam membentuk kepribadian.

Kata kunci : Perubahan kurikulum, Tantangan guru, Pendidikan Berpikir PPKn.

PENDAHULUAN

Perubahan kurikulum selalu untuk menjawab tantangan yang sedang dirisaukan masyarakat, salah satunya ialah karena siswa lebih cenderung memiliki atau mendapatkan kompetensi kognitif dalam proses pembelajarannya. Apa yang harus dijawab dengan kurikulum 2013 ?. Untuk menjawab pertanyaan itu harus mengerti tentang kelemahan dalam pendidikan yang sedang berlangsung. Di Indonesia kelemahan itu berkaitan dengan masih lemahnya pada aspek bernalar. Sedangkan tantangan terbesar pendidikan di Indonesia berkaitan dengan bagaomana mengupayakan proses belajar mengajar agar dapat mengatasi kondisi rendahnya kemampuan berpikir. Dalam hal inilah tantangan guru pada umumnya dan guru PPKn pada khususnya menghadapi kurikulum 2013 yang penerapannya sudah dilaksnakan di sebagian besar sekolah.

LATAR BELAKANG

  • Kurikulum 2013

Perlu diajukan pertanyaan sebagai berikut. “ Kemana arahnya dengan perubahan kurikulum 2013 ? “. Saya menggaris bawahi sebagaimana yang dikemukakan oleh Suyadi (2013), bahwa perubahan kurikulum sudah jelas arahnya, yaitu perubahan untuk meningkatkan dan menyeimbangkan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skills) dan pengetahuan (knowledge). Apa yang harus dijawab dengan kurikulum mendatang ? Rupanya perubahan kurikulum selalu untuk menjawab tantangan yang sedang dirisaukan masyarakat, salah satunya ialah karena peserta didik lebih cenderung memiliki kompetensi kognitif. Kerisauan masyarakat sebagaimana yang dikemukakan oleh Sujadi diatas ternyata dirasakan oleh Abduhzen (2013) yang mengemukakan bahwa kemampuan berpikir dan bernalar siswa-siswa Indonesia masih rendah. Pernyataan itu bersumber dari hasil penelitian internasional yang mempopoul sisikan Indonesia berada pada urutan terendah. Menurutnya yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk merubah kurikulum pendidikan. Abduhzen menambahkan bahwa selama ini model pendidikan di Indonesia hanya mengisi pikiran, tetapi tidak mengajarkan berpikir. Oleh karena itulah orang Indonesia sangat lemah dalam berpikir dan bernalar.

Senada dengan Abduhzen, Megawangi dalam Forum Mangunwijaya VII (2013) mengemukakan bahwa tantangan terbesar pendidikan kita adalah bagaimana menerjemahkan konsep sucess Intelegence (SI) ke dalam sisitem operasional pendidikan. Menurutnya pendidikan di Indonesia belum berhasil membentuk SI, misalnya dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thingking skills/HOTS). Hal itu berdasarkan data dari TIMMS 2007 (Trends in Internationsl Math and Science survey), dimana hanya satu prosen siswa Indonesia mempunya kemampuan berpikir advanced. Secara rinci perbandingannya yakni dengan negara lain adalah dapat dilihat pada tabel yang menunjukan diantara negara-negara Asia ( Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, Jepang) Indonesia berada pada posisi terendah sebagai berikut :

No Negara Higher Order

Thingking Skills

(Hots)

Lower Order

Thingking Skills

(Lots)

1 Indonesia 1 % 78 %
2 Taiwan Rata-rata diatas 40 % Dibawah 15 %
3 Korea Selatan Rata-rata diatas 40 % Dibawah 15 %
4 Singapura Rata-rata diatas 40 % Dibawah 15 %
5 Hoingkong Rata-rata diatas 40 % Dibawah 15 %
6 Jepang Rata-rata diatas 40 % Dibawah 15 %

Disarikan dari: Forum Mangunwijaya, Penerbit Kompas (2013)

Oleh karena itu kurikulum hendaknya dapat menjawab masalah tersebut dengan tidak hanya memberi kompetensi kognitif saja, melainkan ada sikap dan keterampilan yang didasari tiga pilar utama yaitu kreatif, inovatif dan produktif. Dengan kata lain kurikulum 2013 adalah merupakan kurikulum yang mencerdaskan, dan dapat merubah mindset pendidikan menjadi dua paradigma akademik dan karakter. Maksud dari cerdas akademik adalah kreatifitas anak dipacu dengan cara diajari mengamati, memanfaatkan indrawi untuk meliahat fenomena dan dorongan untuk bertanya.

Dengan bertanya-tanya anak akan sampai pada tingkat bernalar dan akhirnya sampai bereksperimen. Menurut Nugroho (2013) ada lima hal yang harus dilakukan guru agar sukses menjadi pelaku implementasi Kurikulum 2013, kelima hal tersebut meliputi : 1) penguasaan pembelajaran dengan tematik, 2) penguasaan pedagogi materi subjek, 3) kemampuan mengajar keahlian berpikir, 4) kemampuan mengembangkan dan mengimplementasikan autentic assesment, 5) kemampuan untuk mengembangkan mindset perubahan dalam dirinya.

  • Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi

Apa yang dikatakan Nugroho (2013) memperlihatkan satu hal yang relevan yaitu tentang keterampilan berpikir, yang dinyatakan sebagai salah satu nilai lebih Kurikulum 2013. Orientasi ideologisnya secara sadar mengarahkan siswa untuk menguasai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking) sebagai prakondisi untuk bersaing di abad 21 ini. Nugroho juga mencatat bahwa sampai hari ini praktis pendidikan negeri ini dominan mengajarkan kemampuan berpikir tingkat rendah (lower order thinking) sebagaimana yang berlangsung di sekolah setiap hari, anak-anak diajarkan untuk mahir dalam menghafal dan menirukan. Selanjutnya menurut Al Muhtar, Abdul Karim (2011) dalam Nusarastriya (201) mengemukakan bahwa kualitas pendidikan masih lemah dengan ditandai oleh salah satu cirinya yaitu proses pendidikan yang memberikan sebanyak mungkin bahan pelajaran untuk mencapai target kurikulum. Sedangkan kapasitas berpikir tidak ditingkatkan kepada taraf yang optimal (higher order thingking skills). Keprihatinan semacam itu juga muncul dari Sanusi (1998:222-227) dalam Nusarastriya (2013) dalam pembahasannya mengenal perspektif pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang mengemukakan bahwa pengajaran IPS di sekolah cenderung menitikberatkan pada penguasaan hafalan dan pencapaian tujuan kognitif dan dominannya berpikir taraf rendah.

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sangat besar andilnya untuk membentuk kepribadian yang cerdas sebagai warga negara. Oleh karena itu PPKn harus dikemas dengan model pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir siswa. Walaupun setiap tingkat satuan pendidikan belum tentu sama model pembelajarannya, nmun demikian dari beberapa tingkat atau jenjang pendidikan ada tujuan yang sama yaitu pengembangan berpikir siswa . UNESCO menyatakan bahwa belajar pada abad 21 harus didasarkan kepada empat pilar yaitu :

  1. Learning how to know
  2. Learning to do
  3. Learning how to live together
  4. Learning to be

Keempat hal tersebut oleh UNESCO disebut sebagai empat pilar belajar dari manusia Abad 21 untuk menghadapi arus informasi dan kehidupan yang terus menerus berubah. Arus informasi yang begitu berubah semakin lama semakin banyak tidak mungkin lagi dikuasai oleh manusia karena kemampuan otaknya yang terbatas. Oleh sebab itu proses yang terus menerus terjadi seumur hidup ialah antara lain bagaimana belajar berpikir yang baik, termasuk dalam learning how to know (Nusarastriya:2013). Selaras dengan empay pilar khususnya pilar learning how to knowdimana didalamnya termasuk learning how to thing maka pembiasaan berpikir dalam proses pembelajaran PPKn merupakan upaya yang sangat sesuai dengan tujuan nasional sebagaimana yang dimuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu berarti dunia pendidikan mempunyai tanggung jawab yang strategis untuk ikut mwujudkan melalui pross belajar dan mengajar di sekolah dari level yang paling rendah sampai pendidikan tinggi.

PERMASALAHAN

Dalam kenyataan PPKn sering dipandang sebelah mata dan diremehkan serta terkesan kurang menarik bahkan dirasa membosankan karena hanya begitu-begitu saja. Fenomena inilah yang harus disikapi dengan serius oleh kounitas Pendidik PPKn atau MGMP PPKn. Hal semacam ini harus dijadikan tantangan dengan mengembangkan PPKn dari berbagai segi baik itu yang menyangkut proses pembelajarannya, materi, metode pembelajaran, media pembelajarannya dan pengemasan. Rasanya dibutuhkan keseriusan untuk menangani mata pelajaran PPKn yang berarti dibutuhkan pengembangan atau aktualisasi supaya benar-benar menarik dan menyenangkan sehingga efektif dalam mencapai tujusnnys. Salah satu hal yang menurut penulis harus diperhatikan adalah perlunya memberi spirit berpikir kritis. Walaupun dalam konteks PPKn posisinya sebagi tujuan pengiring tetapi kalautidak berhasil mengembangkan cara berpikir (pemikiran) warga negara maka tujuan PPKn tidak akan mencapai kompetensi yang diharapkan. Pemberian spirit berpikir dalam PPKn mensyaratkan adanya model pembelajaran tertentu, karena tidak semua model memberi peluang yang besar bagi tumbuhnya semangat berpikir. Oleh karena itu pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan cara berpikir PPKn harus diupayakan dalam proses pembelajaran di setiap jenjang / satuan pendidikan dari SD sampai Perguruan Tinggi.

Memberi motivasi berpikir dalam PPKn akan sangat membantu tercapainya kompetensi yang diharapkan. Alasannya adalah salah satu tujuan membentuk kepribadian yang tegas sebagai warga negara. Oleh sebab itu pembiasaan berpikir dalam proses pembelajarannya sangat diharapkan agar kompetensi dapat tercapai yaitu kecerdasan yang majemuk. Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sebagaimana tuntutan kurikulum 2013, guru PPKn harus memperhatikan tiga komponen dasar dalam civid education yaitu: Civic knowledge, Civic Values, Civic Skills. Jika tiga komponen utama ini diberikan secara prporsional melalui proses pembelajaran maka akan memenuhi harapan sebagaimana yang dituntut melalui perubahan kurikulum 2013 yang arahnya dimaksudkan dapat meningkatkan dan menyeimbangkan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skills) dan pengetahuan (knowledge). Kompetensi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang meliputi civic knowledge, civic values, civic skills tidak akan tercapai jika guru hanya menekankan pada kompetensi kognitif saja, karena baru mengenai civic knowledge.

TANTANGAN BAGI GURU PPKn

Guru yang profwsional akan berpikir tentang apa yang akan diajarkan, bagaimana itu diajarkan, siapa yang menerima pelajaran, apa makna belajar bagi siswa, kemampuan apa yang ada pada siswa dalam mengikuti belajar. Guru biasanya memberi takanan pada aspek tertentu pada strategi belajar mengajar itu sangat tergantung pada persepsi guru tentang apa belajar dan mengajar itu ? . Jika menggunakan pendekatan Fromm (1976:22) maka akan dikenal dua modus yaitu modus memiliki dan modus menjadi. Untuk melaksanakan pembelajaran dalam kerangka kurikulum 2013 maka guru PPKn hendaknya memilih model atau metode serta strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan dua modus yaitu tidak hanya berhenti pada modus memiliki tetapi juga mencakup modus menjadi, tidak hanya mengisi pikiran tetapi juga mengajar bagaimana berpikir, tidak hanya memberi pengetahuan (aspek kognitif knowledge), tetapi juga mengembangkan dengan aspek skills dan attitude (sikap / karakter). Perbedaan tekanan pada dua modus menurut Erich Formm dapat dilihat pada tabel 1.

Untuk itu perlu inovasi dalam proses pembelajaran khususnya di dalam mengisi perubahan kurikulum 2013 . Pada kesempatan ini perlu memberi tekanan pada pendidikan berpikir dalam pembelajaran PPKn agar tidak sekedar memberi materi tetapi juga skills, yaitu keterampilan berpikir kritis. Berpikir kritis bukan hanya merupakan tuntutan dalam PPKn tetapi juga dalam pembelajaran pada umumnya menghadapi era globalisasi dimana guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi bagi siswa karena mereka (siswa) sudah mengenal berbagai sumber informasi seperti internet, facebook, twiter, BB, TV, majalah, buku-buku, dan sebagainya. Diberikan contoh “Desain untuk Pengembangan Berpikir Kritis”, yang bisa digunakan untuk tidak sekedar mengajar aspek kognitif saja tetapi melatih berpikir kritis menghadapi berbagai objek (informasi, fenomena,, pernyataan, dll) sehingga siswa mengalami proses habituasi dalam proses belajar mengajar. Jika kurikulum 2013 siswa diajari mengamati, memanfaatkan inderawi untuk melihat fenomena , bertanya agar siswa sampai pada tingkat bernalar, dan akhirnya sampai bereksperimen maka perlu pilihan metode pembelajaran yang memiliki kontribusi pada hal-hal tadi. Dalam desain ini digunakan Project Citizen (PC), yang intinya ada enam langkah yaitu :

1). Mengidentifikasikan masakah kebijakan publik yang ada dalam masyarakat

2). Pemilihan masalah sebagai fokus kajian kelas

3). Pengumpulan informasi terkait masalah yang menjadi fokus kajian kelas

4). Mengembangan forto folio kelas

5). Penyajian porto folio (show case)

6). Kajian pengendapan atas pengalaman belajar yang dilakukan

Dalam Modus “memiliki” Dalam Modus “Menjadi”
Menghafal Memahami
Pasif Aktif
Berpegang terus pada apa yang mereka pelajari Menanggapi apa yang mereka dengar
Memegang / menyimpan pengetahuan Timbul pertanyaan-pertanyaan baru

Tidak perlu menciptakan suasana yang baru

Produktif, tidak sekedar memperoleh pengetahuan

Tabel 1. Belajar menurut Erich Formm

Pertama , perlu menentukan apa yang dimaksud berpikir kritis dan komponen apa saja yang harus dipenuhi sehingga disebut berpikir kritis ?. Dengan menggunakan komponen yang telah ditentukian kita dapat menggunakan untuk sejauh mana pemahaman siswa mengenai keterampilan berpikir kritis tersebut. Hal ini perlu analisis supaya tahu hasil pemahaman yang berkaitan dengan komponen mana yang masih lemah dan mana yang sudah baik.

Kedua, perlu dilakukan analisis materi dilihat dari tingkat berpikir (mana materi yang bersifat deskriptif, mana materi yang memuat analisis sintetis dan mana analisis yang mencerminkan cara berpikir linier serta mana materi yang menuntut berpikir kompleks.

Ketiga, maping (pemetaan) mana materi yang berkaitan dengan tuntutan berpikir kritis sesuai dengan tingkatan berpikir siswa dihubungkan dengan kompetensi yang diharapkan.

Keempat, pemilihan metode pembelajaran yang memang dapat mendukung terwujudnya skills ( kemampuan atau keterampilan berpikir kritis).

Kelima, proses pembelajaran menggunakan metode yang dimaksud.

Keenam, maping (membuat pemetaan) soal/tes dengan tuntutan berpikir yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi.

PENUTUP

Menghadapi tantangan perubahan kurikulum guru perlu meninjau dan berefleksi mengenai beberapa hal seperti materi yang diajarkan, cara mengajar, sarana belajar mengajar, dan proses pembelajaran. Kurikulum 2013 dibuat bukantanpa dasar tetapi berangkat dari adanya persoalan dan kebutuhan. Arah perubahan kurikulum yang dimaksudkan dapat meningkatkan dan menyeimbangkan antara kompetensi sikap (attitudw), keterampilan (skills), dan pengetahuan (knowledge). Guru PPKn hendaknya memilih model dan metode serta strategi pembelajaran yang dapat menyeimbangkan dua modus yaitu tidak hanya berhenti pada “modus memiliki” tetapi juga mencakup “modus menjadi”, tidak hanya mengisi pikiran tetapi juga mengajar bagaimana berpikir tidak hanya akademis tetapi juga karakter dan tidak hanya aspek kognitif tetapi juga afektif dan psikomotor. Aplikasi dan operasionalisasi berpikir kritis dan berpikir tingkat tinggi dalam mata pelajaran serta dalam operasionalisasi sistem pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Abduhzen, Mohammad. 2013. Pendidikan Kita Belum Mengajar Berpikir. Suara merdeka 13 Januari 2013

Branson, M.S.dkk.1999. Belajar Civic Education Dari Amerika

Forum Mangunwijaya VII. 2013. Menyambut Kurikulum 2013. Jakarta. Kompas.

Nursarastriya. 2013. Pengembangan Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan Menggunakan Project Citizen, Disertasi Doktor Pada Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung, tidak diterbitkan.

Nugroho, 2013. Kurikulum 2013 Butuh Guru Hebat. Makalah Pada Seminar Tentang Kurikulum, Mei 2013 di UNES Semarang.

Pitalokasari.I. 2012. Meninjau Ulang Kurikulum. PT Suara Merdeka, 29 September 2012

Sanusi. A. 1998. Pendidikan Alternatif Menyentuh Asas Dasar Persoalan Pendidikan dan kemasyarakatan. Bandung: PT Grafindo Media Pratama.

Suyadi, 2013. Kurikulum Baru Berubah Tanpa Galau. Jawa Pos. 11 Januari 2013

BIODATA

Nama : Susiati Purwaningsih, S.Pd.

NIP : 19700422 200701 2 010

Pangkat/Gol : Penata/ III c

Jabatan : Guru muda

Unit Kerja : SMP Negeri 2 Sokaraja, Kabupaten Banyumas

You cannot copy content of this page