Iklan

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPA PADA MATERI GAYA MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI PADA ANAK TUNARUNGU KELAS V SDLB NEGERI TAMANWINANGUN TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Adviarsih, S.Pd

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar IPA pada materi gaya melalui metode demonstrasi bagi anak tunarungu kelas V Sekolah Dasar SDLB Negeri Tamanwinangun. Metode demonstrasi menggunakan media yang dapat menarik perhatian siswa secara visual.

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan secara kolaboratif. Model penelitian yang digunakan yaitu model Kemmis dan Mc Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun yang berjumlah 3 siswa. Objek penelitian yaitu prestasi belajar IPA dan metode demonstrasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan tes. Instrumen pengumpulan data yang digunakan yaitu instrumen tes, instrumen observasi,dan instrumen kinerja guru. Teknik analisis data yaitu secara deskriptif kuantitatif.

`Hasil penelitian menunjukkan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPA materi gaya. Hal itu dibuktikan dengan adanya peningkatan dari kemampuan awal subjek ACK dengan skor 60, AYP dengan skor 50, dan STA dengan skor 45. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I menunjukkan peningkatan pada subjek ACK 15% dengan skor 75, subjek AYP sebesar 10% dengan skor 60, dan STA sebesar 20% dengan skor 65. Perbaikan tindakan pada siklus II yaitu siswa diberikan reward apabila bisa menjawab pertanyaan dari guru. Tempat duduk diberi jarak antara siswa satu dengan yang lain. Menghadirkan media yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Tes siklus II menunjukkan peningkatan pada subjek AYP sebesar 15% dengan skor 75, subjek STA sebesar 5% dengan skor 70 dan Subjek ACK tidak mengalami peningkatan yaitu dengan skor 75. Hasil tindakan siklus II menunjukkan bahwa hasil masing-masing subjek meningkat dan mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan sebesar 70 sehingga tindakan diberhentikan.

Kata kunci: prestasi belajar IPA materi gaya, metode demonstrasi, siswa tunarungu

BAB I PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan proses belajar yang dilakukan oleh manusia selama hidupnya. Proses belajar tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi pada diri seseorang yang dibutuhkan dalam keberlangsungan hidupnya.

Salah satu jalur pendidikan yaitu pendidikan sekolah. Pendidikan di sekolah tidak lepas dari adanya proses pembelajaran yang berisikan interaksi belajar mengajar yang maksimal serta melibatkan adanya hubungan timbal balik dari guru dengan siswanya. Peserta didik tidak hanya anak normal tetapi anak berkebutuhan khusus juga merupakan peserta didik, karena semua anak mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan. Layanan pendidikan yang diberikan kepada anak berkebutuhan khusus harus sesuai dengan kebutuhan dan kekhususan anak. misalnya pada layanan pendidikan khusus yang diperuntukkan bagi anak tunarungu, yakni terselenggaranya program khusus yang sering dikenal dengan Sekolah Khusus atau Sekolah Luar Biasa Seperti halnya anak tunarungu adalah seseorang yang mengalami hambatan pendengaran atau tidak berfungsinya organ pendengaran, dengan kehilangan sebagian atau seluruh dalam kemampuan mendengar. Pendidikan khusus dimaksudkan untuk memberikan pelayanan khusus yang disesuaikan kebutuhan anak tunarungu dalam pembelajarannya. Kebutuhan anak tunarungu tidak hanya terbatas pada kebutuhan pembelajaran kemampuan berkomunikasi tetapi juga kebutuhan pengetahuan yang bersifat ilmu pengetahuan alam. Sehingga kemampuan pemahaman konsep IPA kelas V SLB pada materi gaya dapat dipahami oleh siswa melalui pembelajaran di dalam kelas.

Untuk meningkatkan kualitas proses pendidikan atau pengajaran IPA, guru memegang peranan penting. Kemampuan guru dalam menerapkan metode demonstrasi sangat mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Kenyataan dilapangan menunjukkan prestasi belajar IPA SDLB Negeri Tamanwinangun kelas V cenderung rendah. Hal ini terbukti dari pemerolehan nilai rata-rata ulangan adalah 50. Hal ini berarti nilai siswa rata-rata masih di bawah kriteria ketuntasan minimal dalam kurikulum yang telah ditetapkan SDLB Negeri Tamanwinangun yaitu 70 untuk mata pelajaran IPA.

Anak membutuhkan pembelajaran yang menerapkan metode pembelajaran yang tepat dalam proses belajar, terutama metode yang dapat melibatkan anak langsung dalam proses memahami konsep yang dipelajari, sehingga belajar bukan hanya dengan menghafal. Metode yang dapat mengupayakan hal tersebut antara lain adalah metode demonstrasi, karena metode ini memiliki kelebihan-kelebihan yakni membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda. Belajar lebih menyenangkan dan jelas dengan melakukan atau mempraktekkan kerja suatu benda yang ingin dipelajari, sehingga anak lebih memahami konsep IPA yang akan dipelajari. Metode demonstrasi ini juga menggunakan alam sekitar dan benda-benda kongkrit sebagai media pembelajaran dalam rangkaian pembelajaran, selain tepat untuk anak tunarungu juga tepat untuk pembelajaran IPA. Pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi untuk meningkatkan prestasi belajar anak tunarungu dilakukkan melalui tahap guru menjelaskan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran, guru mengajak siswa untuk melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekitar. Oleh karena itu, penelitian tentang “Peningkatan Prestasi Belajar IPA Pada Materi Gaya Menggunakan Metode Demonstrasi Pada Anak

Tunarungu Kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun” penting untuk dilakukan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Kajian tentang Anak Tunarungu

Pengertian anak tunarungu

Ketunarunguan merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mendengar yang mengakibatkan kerugian dalam perolehan informasi. Seperti yang dijelaskan oleh Sutjihati Soemantri (2006: 94) bahwa tunarungu adalah kehilangan pendengaran sebagian (hard of hearing) maupun seluruhnya (totaly deaf) menyebabkan pendengarannya tidak memiliki nilai fungsional dalam kehidupan sehari-hari”. Ketidakmampuan tersebut akan mempersulit anak dalam bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya, sehingga memerlukan pembinaan sosial sebagai upaya pemenuhan kebutuhan.

Ciri-ciri atau Karakteristik Anak Tunarungu

Menurut Permanarian Somad dan Tati Hernawati (1995: 34-39) terdapat beberapa karakteristik anak tunarungu antara lain:

  1. Intelegensi
  2. Bahasa
  3. Emosi dan social

Kajian Tentang Metode Demonstrasi

Pengertian Metode Demonstrasi

Menurut K. Jaya Sree (2004: 39) demonstrasi berarti menampilkan, demonstrasi menampilkan dan mengilustrasikan fenomena dan aplikasi yang abstrak. Jadi demonstrasi akan memberikan pengalaman yang nyata kepada siswa, dengan bantuan beberapa perantara atau alat peraga berupa film, slides, OHP atau micro-projector.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat ditegaskan bahwa metode demonstrasi merupakan suatu metode yang digunakan oleh seorang guru untuk memperagakan dan mepertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, kejadian, urutan melakukan suatu kegiatan atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik dalam bentuk yang sebenarnya maupun tiruan melalui penggunaan berbagai macam media yang relevan dengan pokok bahasan untuk memudahkan siswa agar kreatif dalam memahami materi.

Metode Demonstrasi

Demonstrasi tergolong ke dalam strategi pembelajaran langsung (direct instruction) yang berpusat pada siswa dan paling sering digunakan. Metode ini sangat erat hubungannya dengan prinsip aktivitas langsung yang dilakukan siswa.

Metode demonstrasi juga memberikan keterangan apa saja yang dibutuhkan siswa untuk menciptakan sesuatu, misalnya apa yang dibutuhkan untuk mempraktekkan terjadinya gaya pada kehidupan sehari-hari. Demonstrasi dapat dilakukan oleh guru atau seorang demonstrator (bukan guru) bahkan seorang siswa yang memperagakan atau memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas. Tujuan dilakukannya metode demonstrasi adalah untuk lebih meningkatkan pemahamaan siswa terhadap materi karena menggunakan alat peraga dan media visualisasi. Selain untuk meningkatkan keterampilan, metode demonstrasi juga memiliki tujuan untuk menjelaskan suatu ide, teori, konsep, dan ketrampilan itu sendiri. Ada lima tipe dasar dasar demonstrasi, dimulai dari yang sederhana hingga yang kompleks menurut Sredl dan Rothwell, 1998 yang dikutip oleh Prem Lata Sharma (2006: 228-229) dalam bukunya Adult Learning Methods:

  1. Instructor. Memiliki tugas untuk mempertunjukkan dan menjelaskan.
  2. Participant Volunteer. Siswa yang secara sukarela mendemonstrasikan tugas, proses, atau kebiaasaan dan kemudian didiskusikan.
  3. Full participation. Seluruh siswa yang ada diminta untuk mendemonstrasikan dan selanjutnya satu atau seluruh siswa diminta untuk mendiskusikan pengalaman mereka selama praktik.
  4. Job Instruction Training (JIT). Tipe ini digunakan untuk menjelaskan langkah-langkah demonstrasi seperti dibawah ini.
  5. Instructor memperkenalkan atau memberikan tugas dan mendemonstasikannya.
  6. Siswa memberikan penjelasan tentang tugas yang diberikan dan mendemonstrasikannya.
  7. Instructor memberikan feedback terhadap kinerja siswa dalam menjelaskan dan medemonstrasikan tugas yang diberikan dan selanjutnya instructor akan memberikan tugas yang lain lagi.
  8. Ketiga langkah di atas akan diulang kembali pada pemberian tugas selanjutnya.

5). Behavior Modeling. Tipe ini membutuhkan langkah-langkah dan demonstrasi:

  1. Pendidik/guru memperkenalkan topik dan “model” yang efektif dan tidak efektif dalam bertingkah laku.
  2. Pendidik/guru mempertunjukkan video atau fil yang mensimulasikan kondisi lingkungan kerja dan “model” yang efektif dan tidak efektif dalam bertingkah laku.
  3. Siswa mendiskusikan tindakan dan kemudian memperagakannya pada diri mereka sendiri.
  4. Pendidik/guru dan siswa memberikan evaluasi pada demonstrasi yang dilakukan.

Kelebihan dan Kerugian Metode Demonstrasi

metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangan, sebagai berikut:

  1. Kelebihan Metode Demonstrasi
  2. Dapat membuat pembelajaran menjadi jelas dan lebih konkrit, sehingga menghindari verbalisme
  3. Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari
  4. Proses pembelajaran lebih menarik
  5. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencobanya melakukan sendiri.
  6. Kekurangan Metode Demonstrasi
  7. Metode ini memerlukan keterampilan guru secara khusus, karena tanpa ditunjang dengan hal itu, pelaksanaan demonstrasi akan tidak efektif
  8. Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
  9. Demonstrasi memerlukan kesiapan atau perencanaan yang matang di samping memerlukan waktu yang cukup panjang yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.

Tujuan dan Fungsi Metode Demonstrasi

Melihat kenyataan tersebut, Winata Putra, dkk (2004: 450), juga mengemukakan bahwa metode demonstrasi ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk:

  1. Memberikan keterampilan tertentu.
  2. Penjelasan sebab penggunaan bahasa lebih terbatas.
  3. Menghindari verbalisme, membantu siswa dalam memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian sebab lebih menarik.

Langkah-langkah Penerapan Metode Demonstrasi

Melaksanakan metode demonstrasi yang baik dan efektif, ada beberapa langkah-langkah yang harus dipahami dan digunakan oleh guru, lalu diikuti oleh siswa dan diakhiri dengan evaluasi. Ali Muhammad (2010: 85), mengemukakan bahwa langkah penerapan metode demonstrasi adalah sebagai berikut :

  1. Merumuskan kecakapan atau keterampilan yang hendak dicapai setelah demonstrasi.
  2. Mempertimbangkan penggunaan metode yang tepat dan efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan.
  3. Melihat alat yang mudah didapat, dan mencobanya sebelum didemonstrasikan sehingga tidak gagal saat diadakan demonstrasi.
  4. Menetapkan langkah-langkah yang akan dilaksanakan.
  5. Menghitung waktu yang tersedia.
  6. Pelaksanaan demonstrasi.
  7. Membuat perencanaan penilaian terhadap kemajuan siswa.

Kajian Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu pengetahuan alam merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, proses penemuan dan memiliki sikap ilmiah. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam di sekolah dasar bermanfaat bagi anak untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar (Depdiknas, 2006: 6).

Manfaat Ilmu Pengetahuan Alam

Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam perlu diajarkan di SDLB karena:

  1. Bahwa IPA berfaedah bagi suatu bangsa kiranya tidak perlu dipersoalkan panjang lebar kesejahteraan materi suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang IPA, sebab IPA merupakan dasar teknologi, sering disebut sebagai tulang punggung pembangunan dasar untuk teknologi ialah IPA.
  2. Bila diajarkan IPA menurut cara yang tepat maka IPA merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis, misalnya IPA diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah, anak diminta untuk mencari dan menyelidiki masalah tersebut.
  3. Bila IPA diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak maka IPA tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.
  4. Mata pelajaran ini mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membantu kepribadian anak secara keseluruhan (Depdiknas, 2006: 10).

III. METODE PENELITIAN

Tempat dan Setting Penelitian

Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research), yang bertujuan untuk memperoleh data dengan melihat adanya peningkatan prestasi belajar IPA melalui metode demonstrasi pada anak tunarungu kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun Kebumen. Berdasarkan pengertian diatas dapat ditegaskan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara terencana untuk memperbaiki proses maupun peningkatan hasil kegiatan belajar. Penelitian tindakan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi belajar IPA yang dimiliki oleh anak tunarungu kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun Kebumen.

Indikator Keberhasilan Tindakan

Kriteria keberhasilan merupakan pedoman untuk menentukan keberhasilan dari suatu tindakan atau program. Suatu tindakan atau program dikatakan berhasil apabila adanya peningkatan skor tes pratindakan dengan skor siklus I. Nilai tes pratindakan dikatakan baik apabila hasilnya dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada pembelajaran IPA anaktunarungu kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun Kebumen adalah 70 atau mencapai presentasi 70%. Skor tersebut masuk dalam katerori baik.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kemampuan Awal

Sebelum melaksanakan tindakan siklus I, peneliti perlu mengetahui kemampuan prestasi belajar IPA pada materi gaya. Untuk mengetahui kemampuan awal siswa maka dilakukan tes pratindakan.

Hasil pra tindakan kemampuan prestasi belajar IPA pada materi gaya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 6. Rekapitulasi Data Hasil Pra tindakan Kemampuan Prestasi Belajar IPA pada Materi Gaya Kelas V

No Subjek Skor Pra Tindakan KKM Kriteria
1 ACK 60 70 Cukup
2 AYP 50 70 Rendah
3 STA 45 70 Sangat rendah

Tabel 6 menunjukkan bahwa kemampuan awal prestasi belajar

IPA pada materi gaya siswa tunarungu kelas V. Terlihat bahwa skor hasil pra tindakan belum memenuhi standar yang telah diterapkan, bahkan ada sebagian yang cenderung sangat rendah. Skor tertinggi diperoleh oleh ACK yang mendapatkan skor 60. Skor tersebut masuk dalam kriteria cukup tetapi belum mampu memenuhi kriteria KKM yaitu 70.

Subjek AYP yang mendapatkan skor 50 dengan klasifikasi rendah, dan yang terakhir STA mendapatkan skor 45 dengan klasifikasi sangat rendah. Perolehan skor tersebut dapat dilihat dalam diagram histogram sebagai berikut

Gambar 3. Diagram Histogram Hasil Pra Tindakan

Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I

Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak empat kali pertemuan. Tes hasil belajar dibuat berdasarkan materi yang telah diberikan pada tindakan sebelumnya yaitu memahami hubungan gaya, gerak dan energi serta fungsinya. Terdapat 20 butir soal untuk tes siklus II yang terdiri dari 10 soal pilihan ganda dan 10 soal jawab singkat. Rekapitulasi hasil tes pada siklus pertama ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 7. Rekapitulasi Data Hasil Tes Siklus 1 setelah Tindakan Prestasi Belajar IPA pada Materi Gaya Kelas V

No Subjek Skor Siklus 1 KKM Kriteria
1 AYP 60 70 Cukup
2 ACK 65 70 Cukup
3 STA 75 70 Baik

Tabel 7 merupakan rekapitulasi data hasil tes kemampuan

Prestasi belajar IPA pada materi gaya kelas V. Tes ini diberikan kepada 3 siswa kelas V setelah diberikan tindakan selama 3 kali pertemuan. Subjek AYP mendapatkan skor 60 sehingga masuk kategori cukup, skor ini adalah nilai terendah pada hasil tes siklus pertama. Subjek STA juga masuk dalam kategori cukup dengan skor 65. Skor kedua subjek tersebut belum mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 70. Kemudian subjek ACK mendapatkan skor 75, skor yang diperoleh ACK masuk dalam kategori baik, Skor ini adalah nilai tertinggi pada hasil tes pada siklus pertama. Pada tes sebelumnya anak mengalami kebingungan memahami materi yang diberikan oleh guru. Suasana kelas tidak kondusif ketika dilakukan tes, anak keluar masuk kelas dan masih merasa bosan. Jadi pada tes selanjutnya guru membuat suasana kelas menjadi nyaman untuk belajar.

Gambaran rekapitulasi data hasil pos tes mengenai kemampuan prestasi belajar IPA pada materi gaya bagi siswa tunarungu kelas V adalah sebagai berikut:

Gambar 4. Grafik Histogram Rekapitulasi Data Hasil Tes Siklus I Setelah Tindakan

Skor tes pratindakan, tes siklus I dan peningkatan yang terjadi dipaparkan pada tabel berikut ini:

Tabel 8. Data Peningkatan Tes Pratindakan dan Tes Siklus I

No Subjek Skor tes pratindakan Skor Siklus 1 KKM Kriteria
1 AYP 50 60 70 Cukup
2 STA 45 65 70 Cukup
3 ACK 60 75 70 Baik

Tabel 8 menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan prestasi belajar IPA materi gaya setelah diberikan metode demonstrasi. Peningkatan terjadi pada seluruh subjek. Peningkatan juga terjadi secara signifikan walaupun masih ada subjek yang belum mencapai KKM yang telah ditentukan. Peningkatan tertinggi didapat oleh subjek STA yaitu sebesar 20%. Sebeumnya subjek STA mendapat skor 45 dan pada tes siklus I subjek STA mendapatkan skor 65. Subjek ACK mendapatkan peningkatan 15%. Subjek ACK sebelumnya mendapatkan skor 60 pada tes pratindakan kemudian pada tes siklus I subjek ACK mendapatkan skor tertinggi yaitu 75. Subjek AYP mengalami peningkatan mendapat skor 50 pada tes pratindakan dan mengalami peningkatan 10% dengan skor 60 pada tes siklus I setelah diberi tindakan.

Hasil pencapaian kemampuan prestasi belajar IPA materi gaya pada siswa kelas V dapat dilihat pada grafik histogram dibawah ini. Grafik histogram berikut menggambarkan hasil tes pra tindakan dan setelah diberi tindakan

Gambar 5. G rafik Histogram Peningkatan Hasil Rekapitulasi Data Tes Pratindakan dan Tes Siklus 1

Grafik histogram di atas menunjukkan kemampuan prestasi belajar IPA materi gaya bagi anak tunarungu kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun Kebumen. Terjadinya peningkatan kemampuan prestasi belajar IPA materi gaya sebelum dan sesudah diberi tindakan. Peningkatan terjadi pada seluruh subjek yang diberi tindakan pada siklus 1. Skor tes siklus I subjek tertinggi hingga terendah secara berurutan adalah sebagai berikut, subjek ACK 75, subjek STA 65, dan subjek AYP 60. Skor tertinggi diperoleh oleh subjek ACK yaitu skor 75, dan skor terendah diperoleh AYP dengan perolehan skor 60.

Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II

Tes hasil belajar dilakukan dengan tes tertulis yang berjumlah 20 soal. Tes soal tidak berbeda jauh pada tes siklus I. Skor tes hasil belajar dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 10. Rekapitulasi Data Hasil Tes Siklus II Prestasi Belajar IPA Materi Gaya

No Subjek Skor tes siklus II KKM Kriteria
1 AYP 75 70 Baik
2 STA 70 70 Baik
3 ACK 75 70 Baik

Tabel 9. Menunjukkan bahwa skor prestasi belajar IPA materi gaya pada anak tunarungu kelas V. Setelah dilakukan tindakan siklus II dan tes siklus II hasil yang didapatkan siswa meningkat dengan signifikan. Subjek AYP meningkat 15% dari nilai 60 menjadi 75 sehingga masuk dalam kriteri baik. Subjek STA meningkat 5% dari nilai 65 menjadi 70 yang mendapatkan skor paling rendah dan masuk kriteria baik. Sedangkan subjek ACK juga mendapatkan skor sama seperti AYP yaitu 75, skor tersebut masuk dalam kriteria baik. Sebagai gambaran yang lebih jelas maka skor prestasi belajar IPA materi gaya akan divisualisasi ke dalam grafik histogram di bawah ini:

Gambar 6. Grafik Histogram Hasil Tes Siklus II

BAB V PENUTUP

Kesimpulan

Prestasi belajar IPA dengan menggunakan metode demonstrasi SDLB Negeri Tamanwinangun mengalami peningkatan. Proses peningkatan prestasi belajar IPA materi gaya dilakukan dari melakukan tes pratindakan untuk mengetahui kemampuan awal, tes pratindakan menunjukkan bahwa subjek belum mencapai KKM yang ditentukan yaitu 70, kemudian dilakukan tindakan siklus I. Tindakan dilakukan dengan menjelaskan dan mencontohkan terjadinya gaya di lingkungan sekitar menggunakan metode demonstrasi. Metode demonstrasi pada anak tunarungu lebih memperhatikan indera visual dengan menggunakan media yang dapat menarik perhatian siswa ketika pembelajaran. Tes siklus I menunjukkan peningkatan namun masih belum mencapai KKM 70. Hal itu dibuktikan dengan adanya peningkatan dari kemampuan awal subjek ACK dengan skor 60, AYP dengan skor 50, dan STA dengan skor 45. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I menunjukkan peningkatan pada subjek ACK 15% dengan skor 75, subjek AYP sebesar 10% dengan skor 60, dan STA sebesar 20% dengan skor 65. Pada siklus I, siswa masih belum aktif dalam pembelajaran. Subjek tidak memperhatikan guru tetapi subjek bermain dengan temannya. Ketika subjek merasa bosan, ia akan mengganggu temannya. Perbaikan pada siklus II yaitu siswa diberikan reward apabila bisa menjawab pertanyaan dari guru. Tempat duduk diberi jarak antara siswa satu dengan yang lain.

Menghadirkan media yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Tes siklus II menunjukkan peningkatan pada subjek AYP sebesar 15% dengan skor 75, subjek STA sebesar 5% dengan skor 70 dan Subjek ACK tidak mengalami peningkatan yaitu dengan skor 75. Pada siklus II hasil belajar semua siswa yang berjumlah 3 anak telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan yaitu 70. Dengan demikian, metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPA materi gaya pada anak tunarungu kelas V SDLB Negeri Tamanwinangun.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:

Bagi guru

  1. Guru lebih berinteraksi kepada siswa pada proses pembelajaran.
  2. Guru hendaknya menjadikan metode demonstrasi sebagai salah satu metode dalam pembelajaran IPA.

Bagi siswa

Dengan metode demonstrasi siswa harus berpartisipasi aktif pada saat proses pembelajaran IPA. Perhatian siswa fokus mengikuti pembelajaran dari guru.

Bagi Kepala Sekolah

Metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar IPA materi gaya. Oleh karena itu sebaiknya Kepala Sekolah menambah sarana prasarana pembelajaran untuk menunjang kegiatan demonstrasi agar optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Muhammad. (2010). Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.

Anas Sudijono. (2008). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Azwan Zain. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Buxton, C. A. & Provenzo, E. F, Jr. (2007). Teaching science in elementary & middle school, a cognitive and cultural approach. London: Sage Publications, Inc.

Depdiknas.(2000). Metodik Khusus Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas

Dirjen Dikdasmen. (2006). Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu (SDLB-B). Jakarta: Depdiknas Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa.

Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Asdi Mahastya.

Dwi Siswoyo, dkk. (2011). Ilmu Pendidikan. Kebumen: UNY Press.

Elin Rosalin. (2008). Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual. Bandung: PT. Karsa Mandiri Persada.

Garcia, Manuel Buenconsejo. (2006). Fokus On Teaching Approachs Methods Techniques. Diakses pada tanggal 24 Februari 2016, dari googlebooks.com:http:/www.googlebooks.com.

Hallahan, P. Daniel & Kauffman, M. James (1991). Exceptional Children, 11th. Boston: Allyn and Bacon

Harjanto. (2005). Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

HendrSo Darmodjo & Jenny R.E. Kaligis. (1992). Pendidikan IPA 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.

J.J. Hasibuan dan Moedjiono. (2002). Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Biodata Penulis

Nama : Adviarsih, S.Pd

Jabatan : Guru

Unit Kerja : SDLB Negeri Tamanwainangun Kec.Kebumen

You cannot copy content of this page