Iklan

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA MATERI MENULIS PUISI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MIND MAPPING DENGAN MEDIA GAMBAR SITUASI DI KELAS VIII A MTS AL-MUAWANAH KAWUNGANTEN

OLEH : SRI HARTATI, S.Pd

ABSTRAK

Sri Hartati,S.Pd NIP. 19740305 200501 2 003, Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Materi Menulis PuisiMelalui Model Pembelajarn Mind Mapping dengen Media Gambar Situasi di Kelas VIII A MTs Al-Muawanah Kawunganten.Penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan pembelajaran dengan model Mind Mapping, peningkatan keatifan dan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan observasi untuk mengetahui proses pembelajaran Mind Mapping, observasi untuk mengetahui keaktifan siswa, dan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model Mind Mapping adalah sebagai berikut: Tahap 1: Orientasi, Tahap 2: Penyajian, Tahap 3: Latihan Terstruktur, Tahap 4: Latihan Terbimbing, Tahap 5: Latihan Mandiri. Pelaksanaannya dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami perbaikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa keaktifan dari kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2 terus mengalami peningkatan. Pada kondisi awal ke siklus 1 dan ke siklus 2 persentase siswa yang keaktifannya dengan kategori rendah terus mengalami penurunan, yakni 18,18% – 15,14% – 0%. Sedang yang kategorinya sedang dari 77,27% – 78,78% – 67%. Sedang yang kategorinya tinggi dari 4,54% – 6,05% – 33,44%. Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan. Persentase siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari siklus 1 ke siklus 2 (dari 68,18% menjadi 59,09%. Persentase siswa yang sudah tuntas mengalami kenaikan dari siklus 1 ke siklus 2 (dari 31,81% menjadi 77.27%). Indikator keberhasilan PTK ini adalah, bahwa PTK ini dikatakan berhasil jika persentase siswa yang nilai hasil belajarnya sudah tuntas mencapai minimal 75%. Dari tabel menunjukkan bahwa persentase siswa yang nilainya tuntas sudah mencapai 75%, maka PTK sudah berhasil

PENDAHULUAN

Menulis merupakan suatu bentuk kemampuan dan keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasai anak setelah kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca. Oleh karena itu, menulis menulis merupakan kegiatan yang kompleks dan produktif dibandingkan dengan tiga kemampuan berbahasa yang lain. Kemampuan menulis lebih sulit dikuasai siswa, sehingga dalam penyampaian materi menulis dibutuhkan model dan strategi pembelajaran untuk memepermudah pemahaman siswa.

Model pembelajaran yang berkembang didasarkan pada teori-teori belajar sesuai dengan karakteristik siswa. Usaha yang dilakukan guru untuk mencapai hasil belajar diantaranya yaitu membuat dan menggunakan strategi. Dengan adanya srtetegi pembelajaran, siswa akan lebih kreatif. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia srategi belajar merupakan salah satu daya dukung untuk membangkitkan prestasi belajar menulis siswa.

Materi menulis cerpen dijenjang MTs/SMP dimulai dari pemahaman konsep menentukan tema dan menulis sebuah puisi. Masih banyak siswa yang kurang memahami dalam menulis puisi yang baik dan benar. Oleh sebab itu guru dalam penyampaian materi kepada siswa dengan menggunakan strategi dan media yang sesuai agar dapat sedikit memecahkan ragam permasalahn yang terjadi.

Menurut hasil penelitian guru terhadap siswa kelas VIII A MTs AL-Mu’awanah Kawunganten,dalam pelajaran Bahasa Indonesia masih banyak siswa yang mengalami masalah. Masalah tersebut berupa penguasaan kompetensi yang belum sesuai dengan KKM yang telah ditentukan. KKM yang ditentukan yaitu 67. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil tes pada tengah semester genap. Jika masalah tersebut tidak diatasi, maka akan banyak siswa yang nilainya kurang dari KKM. Penyebabnya siswa masih banyak yang belum menguasai materi menulis puisi sesuai dengan KKM yang telah ditentukan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya masih banyak siswa yang kurang memahami dalam menulis puisi yang baik dan benar dan kurangnya rasa tanggung jawab dan prestasi belajar menulis puisi. Untuk memecahkan masalaha tersebut, peneliti menggunakan model pembelajaran mind mapping. Jika diterapkan model pembelajaran mind mapping pada kelas VIII A MTs AL-Mua’wanah Kawunganten, diduga prestasi belajar akan meningkat.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :

    1. Bagaimanakah penerapan pembelajaran pokok bahasan menulis puisi dengan model mind mapping siswa kelas VIII A MTs Al-Muawanah Kawunganten dapat meningkatkan prestasi siswa?
    2. Apakah prestasi belajar siswa kelas VIII MTs Al-Muawanah Kawunganten tahun pelajaran 2019/2020 pokok bahasan menulis puisi dapat ditingkatkan melalui model mind mapping?

Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini dengan dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan:

    1. Apakah model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan tanggung jawab peserta didik atau tidak pada pokok bahasan menulis puisi siswa kelas VIII A MTs AL-Muawanah Kawunganten Kabupaten Cilacap.
    2. Apakah model pembelajaran mind mapping dapat meningkatkan prestasi peserta didik atau tidak pada pokok bahasan menulis puisi siswa kelas VIII A MTs Al- Muawanah Kawunganten Kabupaten Cilacap.

Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini antara lain:

1. Manfaat Praktis

      1. Siswa

Dengan adanya penelitian ini,dapat membantu siswa untuk meningkatkan rasa tanggung jawab serta prestasi belajar menulis puisi yang dimiliki oleh siswa.

      1. Guru

Dengan adanya penelitian ini,guru dapat mengetahui srategi pembelajaran yang sesuai, termasuk dalam memilih srategi pembelajaran dan media yang digunakan dalam pembelajaran, sehingga tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai secara maksimal.

      1. Sekolah

Dengan adanya penelitian ini,dapat memberikan masukan bagi sekolah dalam mengambil kebijakan untuk mengambil kebijakan untuk mengambil keputusan dalam menentukan model pembelajaran, pendekatan, media dan srategi yang tepat untuk meningkatkan mutu dan keberhasilan dalam pembelajaran.

      1. Peneliti

Dengan adanya penelitian ini,dapat mengaplikasikan gagasan yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta sebagai proses pembelajaran.

2. Manfaat teoritis

a. Sebagai acuan untuk mengembangkan srategi pembelajaran sehingga rasa tanggung jawab dan prestasi belajar menulis puisi yang dimiliki siswa meningkat yang pada akhirnya mencapai hasil secara maksimal.

  1. Sebagai acuan untuk melaksanakan penelitian selanjutnya.

KAJIAN PUSTAKA

Prestasi Belajar

Menurut Aarifin (2011:12-13),kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahasa indonesia menjadi “prestasi” yang berarti “hasil usaha”.Istilah “prestasi belajar” berbeda dengan “hasil belajar”. Prestasi belajar pada umumnya berkenan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak prestasi didik.

Hamdani (2011: 138-139) juga mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak, menilai informasi- informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar.

Pengajaran Bahasa Indonesia

Resmini dan Hartati (2006 : 154) mengungkapkan bahwa Bahasa Indonesia disusukan sebagai alat, bukan sebagai struktur. Oleh karena bahasa sebagai alat,maka yang terpenting adalah bagaimana menggunakan alat itu secara lancar, teliti, cermat, efisien, dan efektif, dan bukan bagaimana memahami unsur-unsur alat tersebut.

Menurut Depdiknas dalam (Muslich, 2010: 115) mengungkapkan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia di semua jenjang pendidikan formal. Dengan demikian diperlukan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menandai sebagai alat komunikasi,berinteraksi,media pengembangan ilmu,dan alat pemersatu bangsa.

Tujuan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Taat Hartati (2006 :75) menyebutkan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia, antara lain :

  1. Siswa menghargai dan mengembangkan Bahasa Indonesia sebagai bahsa persatuan dan bahasa Negara.
  2. Siswa memahami Bahasa Indonesiam dari segi bentuk makna,dan fungsi ,serta menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan dan keadaan
  3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.
  4. Siswa memiliki disiplin dalam berfikir dan berbahasa.
  5. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Menulis

Menurut Tarigan (2008:22) mengungkapkan menulis ialah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang,sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang- lambang grafik tersebut kalau mereka memahmi bahasa dan gambaran grafik itu.

Pembelajaran menulis merupakan komponen penggunaan bahasa yang harus diajarkan di SMP.Hal itu tersurat pada tujuan kurikulum 2006,yang berbunyi “ agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut,berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,baik secara lisan maupun tertulis”.Tujuan pembelajaran menulis diarahkan pada tataran penggunaan,sebagai berikut : (1) siswa mampu mengungkapkan gagasan,pendapat,pengalaman,dan perasaan secara tertulis dengan jelas. (2) siswa mampu menyampaikan informasi secara tertulis sesuai dengan konteks dan keadaan . (3) siswa memiliki kegemaran menulis. (4) siswa mampu memanfaatkan unsur0unsur kebahasaan karya sastra dan menulis ( Resmini dan Juanda,2007:115).

Pengertian Mind Mapping

Model mind mapping atau sering disebut dn padengan peta pikiran merupakan salah satu tipe model pembelajaran aktif(active learning).Mind mapping pertama kali ditemukan oleh Tony Buzan pada tahun 2005.Konsep ini didasarkan pada cara kerja otak kita menyimpan informasi.Sesuai dengan hasil penelitian menunjukan bahwa otak kitaa tidak menyimpan informasi dalam kotak-kotak sel –sel sraf terjejer rapi melainkan dikumpulkan pada sel-sel saraf yang bercabang-cabang,sehingga bentuk mind mapping ditampilkan dalam bentuk yang serupa.inti dari model pembelajaran ini menggunakan teknik penyusunan catatan untuk membantu murid menggunakan seluruh potensi otak agar optimum.(Buzan, 2011)

Dari penertian tersebut,dapat disimpulkan bahwa Mind Mapping merupakan suatu teknik grafis yang sangat ampuh dan menjadi kunci yang universal untuk membuka potensi dari seluruh otak,karena menggunakan seluruh keterampilan yang terdapat pada otak kiri dan otak kanan manusia.Mind Mapping juga sebagai penjelajah hamparan tak terbatas otak kita.

Menurut Buzan (2010) dan Anton(2008),otak dapat di pandang sebagai hutan raya tempat puluhan ribu pohon dengan ratusan ribu cabang besar,jutaan dahan dan milyaran ranting.Mind Mapping dibuat dengan cara yang sama seprti halnya informasi yang disimpan pada cabang-cabang drai tema sentral meskipun skalanya jauh lebih kecil.

Kerangka Berpikir

Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang memerlukan rasa tanggung jawab dan prestasi belajar menulis yang cukup tinggi. Pembelajaran siswa pada Madrasah Tsanawiyah masih bersifat monoton karena dalam proses pembelajaran guru tidak menggunakan alat peraga dan model pembalajaran.

Melihat keadaan tersebut maka perlu adanya perubahan pembelajaraan yang berorientasi pada siswa, sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.Model Mind Mapping merupakan model yang membatu memecahkan masalah dalam proses pembelajaran. Model Mind Mapping dapat membantu siswa dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menulis puisi. Peneliti akan mencoba menerapka model Mind Mapping dengan harapan rasa tanggung jawab dan prestasi belajar menulis siswa dalam menulis puisi akan meningkat,Selain bermanfaat bagi siswa di harapkan dapat bermanfaat bagi guru dan peneliti di kemudian hari.

.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas VIII A MTs AL-Mu’awanah Kawunganten. Jumlah keseluruhan siswa di kelas VIII A adalah 22 siswa. Rincianya, siswa perempuan ada 13 anak, siswa laki-laki ada 9 anak. Secara umum siswa madrasah mengalami kesulitan dalam menyelesaikan materi menulis puisi. Keaktifan dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi masih rendah. Hal ini bisa dilihat pada rekapitulasi hasil tugas membuat puisi di kelas. Nilai yang dicapai yakni siswa yang tuntas sekitar 7 anak, yang belum tuntas sekitar 15 anak. Dari data tersebut menunjukan bahwa menulis puisi merupakan salah satu mata pelajaran yang tidak mudah untuk dipahami oleh siswa. Rendahnya tanggung jawab dan prestasi belajar menulis puisi siswa dimungkinkan karena kurang strategi pembelajaran yang belum selesai.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang difokuskan pada aktifitas pembelajaran di dalam kelas (classroom action research).Penelitian Tindakan Kelas atau disebut PTK adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru yang dilakukan oleh siswa (Arikunto,Dkk,2012:3). Dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi pada proses pembelajaran di kelas dengan metode ilmiah.

Tujuan Penelitan Tindakan Kelas adalah untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan prestasi belajaar Bahasa Indonesia materi menulis puisi serta memperbaiki proses kegiatan belajar mengajar di kelas.

Melalui penelitaan tindakan kelas peneliti dapat meneliti sendiri kegiatan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas.

Langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari perencanaan,tindakan, pengamatan,dan refleksi.

Tahap-tahap di atas dapat dijabarkan secaara sederhana yaitu :

    1. Rencana yaitu rencana tindakan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau menyusun perilaku dan sikap sebagai solusi.Perencanaan tersebutyaitu dengan membuat rencana pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran.
    2. Tahap tindakan merupakan tahap apa yang akan dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan,peningkatan atau perubahan yang di inginkan.
    3. Observasi yaitu mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakn atau dikenakan terhadap siswa.Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas perilaku dan keadaan yang berhubungan dengan pembelajaran.
    4. Refleksi yaitu peneliti mengkaji,melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari berbagai kriteria.Refleksi adalah kegiatan mengulas secar kritisd tentsng perubahan yang terjadi,baik pada siswa,suasana kelas,maupun peneliti.

Banyak manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan PTK.Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Akan terjadi peningkatan kompetensi guru dalam mengatasi masalah pembelajaran yang menjadi tugas utamanya.
  2. Peningkatan sikap profesionalisme guru.
  3. Perbaikan dan peningkatan kinerja belajar dan kompetensi siswa.
  4. Perbaikan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas.
  5. Perbaikan dan peningkatan kualitas penggunaan media,alat bantu belajar,dan sumber belajar lainya.
  6. Perbaikan dan peningkatan kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mrngukur proses dan hasil belajar.
  7. Perbaikan dan pengembangan pribadi siswa di sekolah.
  8. Perbaikan dan peningkatan kualitas peningkatan kuslits penerapan kurikulum. ( Muslich, 2010: 11)

Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang dampak dari pembelajaran bahasa Indonesia materi menulis puisi melalui model Mind Mapping kelas VIII A MTs Al-Muawanah Kawunganten.

Metode Pengumpulan Data

  1. Teknik pengumpulan data dalam kegiatan tindakan kelas dilakukan dengan cara tes dan non tes.

2.Angket

Alat Pengumpul Data

Berdasarkan teknik pengumpulan dalam penelitian tindakan kelas,alat pengumpulan data menggunakan:

a. Lembar observasi

b .Soal Tes Tertulis

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di kelas VIII MTs Al-Muawanah Kawunganten. Jumlah keseluruhan siswa di kelas VIII A adalah 22 siswa. Keaktifan mereka selama pembelajaran di kelas rata-rata rendah. Berdasar obervasi diketahui bahwa siswa yang keaktifannya dengan kategori rendah ada 18,18%, sedang ada 77,27% dan Tinggi ada 4,54%. Hasil belajar mereka pada mapel bahasa Indonesia, dilihat dari nilai ulangan setelah menyelesaikan 1 bulan pembelajaran (KD1) rata-rata nilai mereka rendah. Siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM (Belum Tuntas) ada 68,18%. Siswa yang memperoleh nilai =/> KKM hanya ada 31,81 %.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh tiga observer (teman sejawat), dengan menggunakan lembar observasi (terlampir) dalam dua kali pertemuan, yakni pertemuan pertama Senin, 16 Maret 2020, pertemuan kedua pada hari Rabu, 18 Maret 2020, ditemukan bahwa proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut:

  1. Pertemuan pertama

Secara umum sudah sesuai dengan rencana tindakan (RPP pertemuan 1). Berdasarkan observasi dan hasil analisis data diketahui bahwa ada beberapa langkah pembelajaran yang tidak dilakukan secara optimal, yakni sebagai berikut:

    1. Konsep pembelajaran Mind Mapping belum diterangkan secara rinci atau detail.
    2. Belum memberikan contoh langkah-langkah penting dalam menyelesaikan tugas.
    3. Belum memberikan tugas secara rutin.
  1. Pertemuan kedua

Secara umum pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan kedua ini sudah sesuai dengan rencana tindakan (RPP pertemuan kedua). Berdasarkan observasi diketahui bahwa sudahdilaksanakan pembelajaran dengan sangat baik. Relatif lebih baik dibanding pada pertemuan pertama, yakni:

    1. Konsep pembelajaran Mind Mapping sudah diterangkan secara jelas walaupun masih kurang rinci.
    2. Optimalisasi langkah menyelesaikan tugas harus dilakukan lagi
    3. Memberikan tugas secara rutun ditingkatkan lagi.

Berdasarkan tes yang dilakukan di akhir siklus 1 diketahui bahwa rata-rata nilai yang diperoleh siswa untuk mapel bahasa Indonesia KD 8.4. (KKM 67) . Kalau dipersentase berdasarkan kategori belum tuntas (<KKM) dan tuntas (=/>KKM) adalah sebagai berikut:

Persentase Belum Tuntas : 13/22 x 100% = 59,09% Persentase Sudah Tuntas : 9/22 x 100% = 40,90%

Bila dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada kondisi awal, hasil belajar pada siklus 1 ini mengalami peningkatan. Dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.3: Nilai Siswa Kondisi Awal dan Siklus 1

NO Kategori nilai Kondisi awal Siklus 1 Siklus 2
1 Belum tuntas :<KKM 68,18% 59,09%
2 Tuntas : =/> KKM 31,81% 40,90%

Kalau kita lihat contoh tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan. Persentase siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari kondisi awal ke siklus 1 (dari 75% menjadi 37.5%. Persentase siswa yang sudah tuntas mengalami kenaikan dari kondisi awal ke siklus 1 (dari 25% menjadi 62.5%).Indikator keberhasilan dari PTK ini adalah, PTK dikatakan sudah berhasil jika persentase siswa yang nilai hasil belajarnya sudah tuntas mencapai minimal 75%. Dari tabel menunjukkan bahwa persentase siswa yang nilainya tuntas baru mencapai 62.5%, maka PTK harus dilanjutkan pada siklus 2.

b) Keaktifan

Menurut observer 1 didapatkan data bahwa, persentase siswa yang memiliki keaktifan rendah ada 9,09%, sedang ada 72,72%, dan tinggi 18,18%. Menurut observer 2 didapatkan data bahwa persentase siswa yang memiliki keaktifan rendah ada 4,54%, sedang 81,81% dan tinggi 13,63%. Menurut observer 3 didapatkan data bahwa persentase siswa yang memiliki keaktifan rendah ada 4,54%, sedang 81,81%, dan tinggi 13,63%.

Kalau dirata-rata dari tiga observer tersebut diperoleh data bahwa persentase siswa yang keaktifannya rendah ada 6,05%, sedang 78,78% dan tinggi 15,14%. Kalau dibandingkan dengan keaktifan siswa pada kondisi awal adalah sebagai berikut:

Tebel 4.4 Keaktifan Siswa Kondisi Awal dan Siklus 1

NO Kategori keaktifan Kategori awal Siklus 1 Siklus 2
Tinggi 4,54% 6,05%
Sedang 77,27% 78,78%
Rendah 18,18% 15,14%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keaktifan siswa pada siklus 1 mengalami peningkatan. Tetapi PTK belum dikatakan berhasil, karena indikator yang ditetapkan adalah jika persentase siswa yang keaktifannya dengan kategori rendah mencapai 0%.

Kalau dari rata-rata nilai, siklus 2 nilainya lebih baik dibandingkan dengan siklus 1. Kalau dipersentase berdasarkan kategori belum tuntas (<KKM) dan tuntas (=/>KKM) adalah sebagai berikut (lihat KKM KD2 = 67):

Persentase Belum Tuntas : 5/22 x 100% = 22,73% Persentase Sudah Tuntas :17/22 x 100% = 77,27%

Tabel 4.5 Hasil belajar Kondisi awal, siklus 1 dan 2

no Kategori nilai Kondisi awal Siklus 1 Siklus 2
Tuntas(<KKM) 31,81% 40,90% 77,27%
Belum tuntas(=/>KKM) 68,18% 59,09% 22,73%

Kalau kita lihat contoh tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan. Persentase siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari siklus 1 ke siklus 2 (darI 59,09% menjadi 22,73%. Persentase siswa yang sudah tuntas mengalami kenaikan dari siklus 1 ke siklus 2 (dari 40,90% menjadi 77,27%). Indikator keberhasilan PTK ini adalah, bahwa PTK ini dikatakan berhasil jika persentase siswa yang nilai hasil belajarnya sudah tuntas mencapai minimal 75%. Dari tabel menunjukkan bahwa persentase siswa yang nilainya tuntas sudah mencapai 75%, maka PTK sudah berhasil (tidak dilanjutkan pada siklus 3).

b) Keaktifan

Menurut observer 1 didapatkan data bahwa, persentase siswa yang memiliki keaktifan rendah ada 0 %, sedang ada 68,18%, dan tinggi 31,82%. Menurut observer 2 didapatkan data bahwa persentase siswa yang memiliki keaktifan rendah ada 0%, sedang 68,18% dan tinggi 31,82%. Menurut observer 3 didapatkan data bahwa persentase siswa yang memiliki keaktifan rendah ada 0%, sedang 63.64%, dan tinggi 36,36%. Kalau dirata-rata dari tiga observer tersebut diperoleh data bahwa persentase siswa yang keaktifannya rendah ada 0%, sedang 67% dan tinggi 33,44%. Kalau dibandingkan dengan keaktifan siswa pada kondisi awal dan siklus 1 adalah sebagai berikut:

Tebel 4.4 Keaktifan Siswa Kondisi Awal dan Siklus 1

No Kategori keaktifan Kategori awal Siklus 1 Siklus 2
Tinggi 4,54% 6,05% 33,44%
Sedang 77,27% 78,78% 67%
Rendah 18,18% 15,14% 0%

Tabel di atas menunjukkan bahwa keaktifan siswa dari kondisi awal, siklus 1, siklus 2 mengalami peningkatan. Tetapi PTK sudah dikatakan berhasil, persentase siswa yang keaktifannya dengan kategori rendah sudah mencapai mencapai 0%.

  1. Siklus Pertama
  2. Siklus Kedua

Dari analisis data hasil belajar siswa menunjukkan dari kondisi awal, ke siklus 1 dan siklus 2 mengalami peningkatan yang cukup berarti. Persentase hasil belajar pada siklus 2 sudah mencapai target (indikator kinerja) bahkan melebihi. Data ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru (peneliti) memberikan dampak bagi peningkatan terhadap hasil belajar siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini:

Tabel 4.7 Hasil belajar Kondisi awal, siklus 1 dan 2

No Kategori nilai Kategor i awal Siklus 1 Siklus 2
Tuntas (>KKM) 31,81% 40,90% 77,27%
Belum tuntas (<KKM) 68,18% 59,09% 22,73%

Grafik 4.7 Hail belajar kondisi awal, siklus 1 dan 2

Grafik 4.1 Hasil belajar kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2

Dari analisis data keaktifan siswa menunjukkan dari kondisi awal, siklus 1 dan siklus 2 mengalami peningkatan yang cukup berarti. Pada siklus 2 persentase siswa yang keaktifannya rendah sudah mencapai 0%. Jadi sudah mencapai target seperti yang ditetapkan pada indikator kinerja PTK ini. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini.

Tabel 4.8 Keaktifan Siswa Kondisi Awal, Siklus 1 dan siklus 2

Kategori keaktifan Kategori awal Siklus 1 Siklus 2
Tinggi 4,54% 6,05% 33,44%
Sedang 77,27% 78,78% 67%
Rendah 18,18% 15,14% 0%

Grafik 4.8 Keaktifan siswa dari kondisi awal, siklus 1 dan 2

Dari analisis data menunjukkan proses pembelajaran yang dilakukan pada siklus 2 jauh lebih baik dibanding pada siklus 1. Secara umum proses pembelajaran pada siklus 2 kategorinya sangat bagus. Dari data-data tersebut menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh guru (peneliti) terus mengalami perbaikan dan sudah mencapai sesuai yang ditargetkan. Maka siklus PTK ini selesai pada siklus 2 saja.

PENUTUP

Simpulan

Hasil penelitian dengan judul: Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Materi Menulis Puisi Melalui Model Pembelajaran Mind Mapping dengan Media Gambar Situasi di Kelas VIII A MTs Al- Muawanah Kawunganten tahun 2020”,

dapat disimpulkan sebagai berikut:

    1. Proses pembelajaran dengan menggunakan model Mind Mapping adalah sebagai berikut: Tahap 1: Orientasi, Tahap 2: Penyajian, Tahap 3: Latihan Terstruktur, Tahap 4: Latihan

Terbimbing, Tahap 5: Latihan Mandiri. Pelaksanaannya dari siklus 1 ke siklus 2 mengalami perbaikan.

    1. Penelitian ini menunjukkan bahwa keaktifan dari kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2 terus mengalami peningkatan. Pada kondisi awal ke siklus 1 dan ke siklus 2 persentase siswa yang keaktifannya dengan kategori rendah terus mengalami penurunan, yakni 18,18% – 15,14% – 0%. Sedang yang kategorinya sedang dari 77,27% – 78,78% – 67%. Sedang yang kategorinya tinggi dari 4,54% – 6,05% – 33,44%.
    2. Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan. Persentase siswa yang belum tuntas mengalami penurunan dari siklus 1 ke siklus 2 (dari 59,09% menjadi 22,73%. Persentase siswa yang sudah tuntas mengalami kenaikan dari siklus 1 ke siklus 2 (dari 31,81% menjadi 77,27%). Indikator keberhasilan PTK ini adalah, bahwa PTK ini dikatakan berhasil jika persentase siswa yang nilai hasil belajarnya sudah tuntas mencapai minimal 75%. Dari tabel menunjukkan bahwa persentase siswa yang nilainya tuntas sudah mencapai 75%, maka PTK sudah berhasil .

Saran

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Bahasa Indonesia lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:

    1. Untuk melaksanakan pembelajaran dengan model Mind Mapping memerlukan persiapan yang cukup matang, yakni berupa persiapan konsep pembelajaran model Mind Mapping secara rinci dan detail terutama dalam langkah-langkahnya.
    2. Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan memberikan contoh langkah-langkah menyelesaikan tugas dengan jelas dan rutin, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, Ratna Wilis. (2011). Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Bandung:Erlangga.

Hanifah, N., & Suhana, C (2012). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Refika Aditama. Jacobsen, D.A, Eggen, P., & Kauchak, D. (2009). Methods for Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kusumah, W., & Dwitagama, D. (2010). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Indeks.

Qodratillah, M, T, dkk. (2011). Kamus Bahasa Indonesia untuk Pelajar. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Rusyan, A, T., Kusnidar, A., & Arifin, Z. (1994). Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.Bandung: Remaja Rosdakarya.

Schunck, Dale H. (2012). Learning Theoris An Educational Perspectif Edisi 6. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Susanto, A. (2013). Mendesain Model Pembelajaran inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Uno, H, B., & Koni, s. (2012). Assesment Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Wardhani, S. (2008). Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Winkel, W. S. (1996). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo.

Zaini, H., Munthe, B., & Aryani, S. A. (2008). Strategi Pembelajaran Aktif . Yogyakarta: Pustaka Indah Madani.

BIODATA

N A M A : SRI HARTATI, S.Pd

NIP : 19740305 200501 2 003

PANGKAT/GOL : PEMBINA/ IV A

UNIT KERJA : MTs AL-MU’AWANAH KAWUNGANTEN

KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN CILACAP PROPINSI JAWA TENGAH

By admin

You cannot copy content of this page