Iklan

PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP PERPINDAHAN PANAS DALAM PEMBELAJARAN IPA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DENGAN METODE EKSPERIMEN DI KELAS IV SD NEGERI SENGON 04 KECAMATAN TANJUNG KABUPATEN BREBES SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Achmad Rois, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran IPA Kompetensi Perpindahan Panas di Kelas IV SD Negeri Sengon 04 Laporan PTK ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hasil penelitian dan pembahasannya. Dalam kegiatan ini peneliti melaksanakan pembelajaran IPA Kompetensi Perpindahan Panas di Kelas IV SD Negeri Sengon 04 dengan dua siklus perbaikan yang masing-masing dilaksanakan selama 4 jam pelajaran. Pada siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini dilihat dari hasil refleksi siklus pertama. Ketercapaian rata-rata nilai hanya mencapai 68,18 ketuntasan belajar hanya mencaapai 59,10 %. Hanya 18 siswa yang tuntas dari 30 siswa kelas IV SD Negeri Sengon 04. Setelah peneliti melaksanakan siklus II , peneliti merasa cukup berhasil dalam pembelajaran, hal ini terlihat dari refleksi siklus, hasil analisis nilai rata-rata mncapai 77,73. Ini sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 70. Dan siswa yang tuntas 27 (90,91%) dari 20 siswa SD Negeri Sengon 04 Dengan dengan menerapkan Pendekatan Kontekstual dengan Metode Eksperimen maka hasil pembelajaran IPA Kompetensi Perpindahan Panas, dapat mencapai hasil yang maksimal. Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Sengon 04 dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata Kunci : Pendekatan Kontekstual, konsep perpindahan panas, Hasil Belajar, Metode Eksperimen

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Berdasarkan hasil analisis terhadap nilai ulangan harian dan ulangan akhir semester I tahun 2018/2019 siswa kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes pada mata pelajaran IPA belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 70. Hasil Ulangan Akhir Semester I tahun 2018/2019 siswa kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes, pada mata pelajaran IPA diperoleh nilai terendah 35, nilai tertinggi 80 dan nilai rata-rata 56. Dari 30 siswa yang mencapai KKM hanya 11 siswa (36,36%). Demikian pula dari hasil observasi awal yang dilaksanakan pada siswa kelas IV diperoleh data bahwa masih banyak konsep Ilmu Pengetahuan Alam yang belum di pahami siswa, antara lain konsep tentang perpindahan panas.

Hasil belajar IPA yang sangat rendah merupakan suatu permasalahan yang harus segera diatasi. Untuk mengatasi masalah tersebut guru harus menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dapat tercipta bila guru menggunakan metode yang bervariasi dan media pembelajaran yang relevan dengan materi IPA yang akan diajarkan serta menggunakan pendekatan pembelajaran yang tepat. Siswa akan merasa tertarik mempelajari IPA, mencoba dan membuktikan sendiri, sehingga akan memperkuat kemampuan kognitifnya dengan demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna dan tujuan pembelajaran IPA SD dapat tercapai

Dalam memperbaiki proses pembelajaran, peneliti menetapkan pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Guru dalam pendekatan kontekstual dituntut dapat mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Dengan pendekatan kontekstual, pembelajaran menjadi lebih menyenangkan karena dapat dilakukan secara alamiah, sehingga siswa dapat mempraktekkan secara langsung konsep yang dipelajari. Pembelajaran kontekstual mendorong siswa memahami hakekat, makna dan manfaat belajar sehingga memungkinkan siswa rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar. Kondisi tersebut terwujud ketika siswa menyadari tentang apa yang mereka perlukan dalam hidup dan bagaimana cara memperolehnya(trianto, 2007:32)

Dari uraian latar belakang masalah tersebut maka peneliti ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Pemahaman Siswa Terhadap Konsep Perpindahan Panas Dalam Pembelajaran IPA Melalui Pendekatan Kontekstual dengan metode eksperimen di Kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung”.

Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang permasalahan di atas, disusun rumusan masalah sebagai berikut :

Apakah melalui pendekatan kontekstual dengan metode Eksperimen dapat meningkatkan aktifitas siswa dalam pembelajaran IPA kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung?

Pemecahan Masalah

Dari rumusan masalah tersebut maka alternatif tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan tahapan-tahapan tindakan dengan pendekatan kontekstual, yaitu:

  1. Membangun pengetahuan dasar siswa melalui pengalaman yang pernah dialami dalam kehidupan sehari-hari, Melaksanakan kegiatan inkuiri. Proses pembelajaran didasarkan pada proses pencarian dan penemuan melalui eksperimen, Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Dalam kegiatan pembelajaran terjadi kegiatan tanya jawab antara guru dengan siswa.
  2. Menciptakan masyarakat belajar. Siswa melakukan diskusi kelompok membahas materi yang sedang dipelajari.
  3. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Proses pembelajaran dengan memeragakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh semua siswa.
  4. Melakukan refleksi di akhir pertemuan pembelajaran. Refleksi merupakan proses pengendapan pengalaman belajar yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaksanakan
  5. Melakukan penilaian nyata Penilaian dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.

Tujuan Penelitian

Meningkatkan kualitas pembelajaran IPA pada siswa kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung terhadap konsep perpindahan panas dengan pendekatan kontekstual dengan metode eksperimen.

Manfaat Penelitian

Manfaat Bagi Siswa anatara lain :

menumbuhkan minat belajar siswa pada pembelajaran IPA, sehingga IPA menjadi mata pelajaran yang menarik bagi siswa,

meningkatkan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran.

melatih siswa untuk dapat memecahkan masalah dengan menggunakan pemikiran secara logis dan sistematis.

Manfaat Bagi guru anatara lain :

  1. dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengevaluasi terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung,
  2. mengembangkan kurikulum di tingkat kelas, serta untuk mengembangkan dan melakukan inovasi pembelajaran,
  3. membantu guru untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran dan membuat guru lebih kreatif dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Manfaat bagi sekolah antara lain :

dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memotivasi guru untuk melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien dengan menerapkan CTL dengan metode eksperimen, menumbuhkan kerja sama antar guru yang berdampak positif pada kualitas pembelajaran di sekolah.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Landasan Teori

Pengertian Belajar

Menurut Siddiq (2008: 1-3) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas yang disengaja dilakukan oleh individu agar terjadi perubahan kemampuan diri, dengan belajar anak yang tadinya tidak mampu melakukan sesuatu, menjadi mampu melakukan sesuatu itu, atau anak yang tadinya tidak trampil menjadi trampil.

Hakekat Pembelajaran

Menurut Siddiq (2008), pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan oleh seseorang (guru atau yang lain) untuk membelajarkan siswa yang belajar. Pada pendidikan formal (sekolah), pembelajaran merupakan tugas yang dibebankan kepada guru, karena guru merupakan tenaga profesional yang dipersiapkan untuk itu.Menurut Winataputra dkk, (2007), pembelajaran merupakan kegiatan untuk menginisisasi, memfasilitasi dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik.

Menurut pasal 1 butir 20 Butir Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas (dalam Winataputra, 2007) yakni, “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.” Dalam konsep tersebut terkandung 5 konsep, yakni interaksi peserta didik, pendidik, sumber belajar dan lingkungan belajar.

Hasil Belajar

Kata hasil belajar sering disebut prestasi belajar. Kata prestasi berasal dari Belanda yaitu ”prestatie” kemudian dalam bahasa Indonesia disebut prestasi yang artinya hasil usaha. Kata prestasi juga berarti kemampuan ketrampilan, sikap sesorang dalam menyelesaikan sesuatu (Arifin l,1999 :78)

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh setelah mengalami aktifitas belajar (Tri Anni, 2004: 4)

Hakekat Ilmu Pengetahuan Alam

Ilmu Pengetahuan Alam berarti ”Ilmu” tentang “Pengetahuan Alam”. Ilmu artinya suatu pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar artinya pengetahuan yang dibenarkan menurut tolok ukur kebenaran ilmu, yaitu rasional dan obyektif. Rasional artinya masuk akal atau logis, diterima oleh akal sehat. Sedangkan obyektif artinya sesuai dengan objeknya, sesuai dengan kenyataannya, atau sesuai dengan pengalaman pengamatan melalui panca indra. Pengetahuan alam artinya pengetahuan tentang alam semesta dengan segala isinya. Adapun “pengetahuan” itu sendiri artinya segala seauatu yang diketahui oleh manusia. Jadi secara singkat IPA adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (Kaligis dan Hendro, 1991: 3).

IPA merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah antara lain penyelidikan, penyusunan dan penyajian gagasan (Depdiknas, 1994: 61).

IPA merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, pronsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah (Depdiknas, 2004: 6).

Pendekatan Kontekstual

Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat,  dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, agar tidak gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan-memberdayakan siswa, bukan mengajar siswa.

Hakikat pembelajaran kontekstual adalah konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa menbuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif (Yasa,Doantara. 2008. Contextual Teaching and Learning) dalam friendlyschool.blogspot.com.

Kerangka Berpikir

Optimalisasi kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya faktor metode atau teknik dan model mengajar guru. Guru dapat menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa tidak jenuh dalam kegiatan pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi yang terdapat dalam kurikulum dengan kondisi lingkungan atau sesuai dengan dunia nyata sehingga siswa merasa pembelajaran menjadi lebih bermakna atau memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan guru harus dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajaran atau pembelajaran yang partisipatif. Peserta didik dibantu oleh pendidik dalam melibatkan diri untuk mengembangkan atau memodifikasi kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, siswa dibantu oleh guru melibatkan diri dalam proses pembelajaran. Proses ini mencakup kegiatan untuk menyiapkan fasilitas atau alat bantu pembelajaran, menerima informasi tentang materi/bahan belajar dan prosedur pembelajaran, membahas materi/ bahan belajar dan melakukan saling tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi atau memecahkan masalah.

Kerangka Berpikir di atas digambarkan dalam bagan di bawah Ini :

Hipotesis Tindakan

Diduga dengan menerapkan pendekatan kontekstual, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat mengatasi masalah dalam pembelajaran IPA di kelas IV SD Negeri Sengon 04, karena siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan diharapkan pula terjadi peningkatan hasil belajar.

METODOLOGI PENELITIAN

Subyek Penelitian

Setting/Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IV sebanyak 30 siswa yang terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.

Variabel/Faktor yang Diselidiki antara lain :

  1. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual
  2. Keterampilan guru dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual.
  3. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPA dengan pendekatan kontekstual

Prosedur Penelitian

Rancangan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Perencanaan

Dalam tahap perencanaan ini peneliti membuat perencanaan sebagai berikut:

Menelaah materi pembelajaran IPA kelas IV semester 2 yang akan dilakukan tindakan penelitian dengan menelaah indikator-indikator pelajaran.

Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai indikator yang telah ditetapkan. Menyiapkan alat peraga yang digunakan dalam penelitian.

Menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan dalam penelitian

Menyiapkan alat evaluasi yang berupa pre test dan post test, serta lembar kerja siswa.

Pelaksanaan Tindakan

Penelitian ini dilaksanakan dengan melaksanakan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya yakni melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

Pelaksanaan tindakan penelitian ini direncanakan dalam dua siklus. Siklus pertama dilaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Siklus kedua dilaksanakan untuk memperbaiki segala sesuatu yang belum baik.

Observasi

Kegiatan observasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru pengamat untuk mengamatai tingkah laku siswa dan sikap siswa ketika mengikuti pembelajaran IPA yang menerapkan pendekatan kontekstual. Observasi juga dilakukan terhadap guru yang menerapkan pendekatan kontekstual.

Refleksi

Setelah mengkaji hasil belajar IPA siswa dan hasil pengamatan aktivitas guru, serta melihat ketercapaian indikator kinerja maka peneliti melaukan perbaikan pada siklus dua agar pelaksanaannya lebih efektif.

Peneliti juga melihat apakah indikator kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya telah tercapai. Bila belum tercapai maka peneliti melanjutkan siklus berikut sampai mencapai indikator kinerja.

Teknik Pengumpulan Data

Sumber Data

Siswa

Sumber data siswa diperoleh dari hasil observasi yang diperoleh secara sistematik selama pelaksanaan siklus pertama sampai siklus kedua, hasil evaluasi dan hasil wawancara guru pengamat (observer)

Guru

Sumber data guru berasal dari lembar observasi aktivitas guru oleh obsever.

Data dokumen.

Sumber data dokumen berasal dari data awal hasil tes, hasil pengamatan, catatan lapangan selama proses pembelajaran dan hasil foto.

Catatan lapangan

Sumber data yang berupa catatan lapangan berasal dari catatan selama proses pembelajaran.

Jenis Data

Data Kuantitatif

Data kuantitatif diwujudkan dengan hasil belajar IPA yang diperoleh siswa

Data Kualitatif

Diperoleh dari lembar pengamatan aktivitas siswa, keterampilan guru, wawancara serta catatan lapangan dengan menerapkan pendekatan dengan pendekatan kontekstual.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode observasi, metode tes dan dokumentasi.

Teknik analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah:

Data berupa hasil belajar IPA yang dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menentukan mean atau rerata. Adapun penyajian data kuantitatif dipaparkan dalam bentuk presentase. Rumus persentase tersebut sebagi berikut:

Keterangan:

= Jumlah frekuensi yang muncul.

= Jumlah total siswa

= Persentase frekuensi

Hasil penghitungan dikonsultasikan dengan kriteria ketuntasan belajar siswa yang dikelompokkan ke dalam dua kategori tuntas dan tidak tuntas, dengan kriteria sebagai berikut :

Kriteria Ketuntasan Kualifikasi
≥ 70 Tuntas
< 70 Tidak Tuntas

Data kualitatif berupa data hasil observasi aktifitas siswa dan aktifitas guru dalam pembelajaran kontekstual, serta hasil catatan lapangan dan angket dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif. Data kualitatif dipaparkan dalam kalimat yang dipisah-pisahkan menurut kategori untuk memperoleh kesimpulan

Indikator Kinerja

  1. Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA menggunakan pendekatan kontekstual meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  2. Aktivitas guru dalam pembelajaran IPA menggunakan pendekatan kontekstual meningkat dengan kriteria sekurang-kurangnya baik.
  3. 80% siswa kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung mengalami ketuntasan belajar individual sebesar ≥ 70 dalam pembelajaran IPA.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Hasil Penelitian Siklus I

Hasil Observasi Siklus I

Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pedoman observasi. Sebelum dilaksanakan observasi peneliti lebih dahulu menjelaskan tugas-tugas observer serta cara menggunakan pedoman observasi. Hal ini dilakukan agar observer mampu merekam data yang diperlukan dan tidak mengganggu jalannya pembelajaran.

Hasil observasi terhadap pembelajaran siklus pertama, dideskripsikan sebagai berikut.

Kegiatan Awal ( 10 menit)

Apersepsi dan motivasi

Mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan

Mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari

Menyampaikan manfaat materi pembelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari

Menyampaikan garis besar cakupan materi

Penyampaian kompetensi , rencana kegiatan, dan penilaian

Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai yaitu siswa kelas IV dapat membuktikan terjadinya perpindahan panas.

Menyampaikan garis besar kegiatan yang akan dilakukan (kegiatan kerja kelompok,)

Menyampaikan lingkup dan teknik penilaian

Kegiatan Inti ( 120 menit)

Guru (peneliti) mendemonstrasikan cara mendapatkan panas

Siswa mengamati demonstrasi cara mendapatkan energi panas.

Tanya jawab tentang sumber panas.

Guru (peneliti) menyampaikan permasalahan yang harus dijawab oleh siswa,

yaitu :

Ketika memasak menggunakan panci, bagian panci yang terkena api adalah bagian bawah. Bagian mana dari panci tersebut yang menjadi panas?

Jika panci tersebut diisi air, bagaimanakah dengan suhu air dalam panci?

Kita juga mendapat panas dari matahari. Bagaimana panas matahari sampai ke bumi?

Guru menjelaskan dan mendemonstrasikan perpindahan panas.

Siswa mengamati demonstrasi perpindahan panas yang dilakukan oleh guru.

Siswa dibentuk kelompok untuk melakukan percobaan. Satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 anak.

Tiap kelompok melakukan percobaan tentang perpindahan panas.

Guru memimbing siswa dalam kegiatan percobaan.

Siswa melaporkan hasil percobaan.

Kelompok yang lain memberikan tanggapan hasil percobaan kelompok lain.

Guru membimbing peserta didik untuk membuat kesimpulan dari hasil kerja kelompok

Kegiatan Akhir (10 menit)

Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi)

Siswa melakukan perenungan (ada 3 hal yang mereka pelajari di hari ini, bagian yang sudah mereka pahami dengan baik, bagian yang belum dipahami, apa manfaat yang mereka peroleh, serta apa yang mereka ingin ketahui lebih lanjut).

Untuk menutup kegiatan pembelajaran :

Guru memberikan tindak lanjut berupa remedial bagi siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70 dan pengayaan bagi siswa yang memperoleh nilai 70 ke atas dalam bentuk tugas pekerjaan rumah (PR)

Guru menutup pelajaran dengan salam

Data Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa

Hasil observasi menyimpulkan bahwa aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA konsep perpindahan panas adalah sebagai berikut :

Table 4.1 Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I

Jumlah Siswa Perolehan skor Jumlah
2 18 36
7 24 168
6 26 156
7 28 196
5 29 145
2 30 60
1 32 32
Jumlah 793
Rata-rata 26,43
Katgori Baik

Rata-rata skor untuk aktivitas siswa dari 30 jumlah siswa Kelas IV SD Negeri Sengon 04 adalah 26,43 kategori Baik.

Data Hasil Pengamatan Keterampilan Guru

Hasil observasi para observer tentang keterampilan guru adalah sebagai berikut :

Dari 10 indikator yang diobservasi perolehan skor yang diperoleh adalah 34 rata-rata adalah 3,4, Kategori A = Sangat Baik

Hasil penilaian Tes Tertulis (Tes Formatif) Siklus I

Siswa yang memperoleh nilai < 70 = 12 siswa = 40,90 %

Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 = 18 siswa = 59,10 %

Ketuntasan Belajar = 59,10 %

Hasil Refleksi Siklus I

Hasil analisis terhadap hasil penilaian oleh seluruh siswa pada siklus I dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 68,18 KKM yang telah ditetapkan yaitu 70 Jadi nilai rata-rata belum mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 19 siswa tuntas atau sekitar 63,64 % daan yang belum tuntas ada 11 siswa atau 36,36 %. Kalau dilihat dari hasil analisis pembelajaran prasiklus yang mencapai 36,36 %, sudah ada ada peningkatan 27,28 %.

Penyebab Kegagalan dan Solusinya

Dalam pembelajaran masih ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, malu bertanya, tidak aktif dalam kerja kelompok. Belum memahami tugas yang diberikan dalam kegiatan kerja kelompok

Solusi untuk mengatasi kegagalan tersebut Peneliti akan selalu membimbing dan memberikan motivasi baik secara individu maupun kelompok agar mereka turut aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan memperbanyak tanya jawab dengan teman. Selanjutnya solusi ini akan digunakan untuk memperbaiki RPP siklus I menjadi RPP siklus II.

Hasil Penelitian Siklus II

Hasil Observasi Siklus II

Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan pedoman observasi. Sebelum dilaksanakan observasi peneliti lebih dahulu menjelaskan tugas-tugas observer serta cara menggunakan pedoman observasi. Hal ini dilakukan agar observer mampu merekam data yang diperlukan dan tidak mengganggu jalannya pembelajaran.

Hasil observasi terhadap pembelajaran siklus Kesua , dideskripsikan sebagai berikut.

Kegiatan Awal ( 10 menit)

Apersepsi dan motivasi

Mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan

Mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari

Menyampaikan manfaat materi pembelajaran yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari

Menyampaikan garis besar cakupan materi

Penyampaian kompetensi , rencana kegiatan, dan penilaian

Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai yaitu siswa kelas IV dapat membuktikan terjadinya perpindahan panas.

Menyampaikan garis besar kegiatan yang akan dilakukan (kegiatan kerja kelompok,)

Menyampaikan lingkup dan teknik penilaian

Kegiatan Inti ( 120 menit)

Siswa dibentuk kelompok untuk melakukan percobaan. Satu kelas dibagi menjadi 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 anak.

Guru memberikan lembar kerja yang berisi langkah-langkah percobaan.

Guru menjelaskan cara melakukan percobaan.

Tiap kelompok melakukan percobaan

Guru memimbing siswa dalam kegiatan percobaan

Siswa melaporkan hasil percobaan.

Kelompok yang lain memberikan tanggapan hasil percobaan kelompok lain.

Menyimpulkan hasil percobaan.

Kegiatan Akhir (10 menit)

Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi)

Siswa melakukan perenungan (ada 3 hal yang mereka pelajari di hari ini, bagian yang sudah mereka pahami dengan baik, bagian yang belum dipahami, apa manfaat yang mereka peroleh, serta apa yang mereka ingin ketahui lebih lanjut).

Untuk menutup kegiatan pembelajaran

Guru memberikan tindak lanjut berupa remedial bagi siswa yang memperoleh nilai kurang dari 70 dan pengayaan bagi siswa yang memperoleh nilai 70 ke atas dalam bentuk tugas pekerjaan rumah (PR)

Guru menutup pelajaran dengan salam

Data Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa

Hasil observasi menyimpulkan bahwa aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran IPA konsep perpindahan panas adalah sebagai berikut

Rata-rata skor untuk aktivitas siswa dari 22 jumlah siswa Kelas IV SD Negeri Sengon01 adalah 28,55 kategori Baik.

Data Hasil Pengamatan Keterampilan Guru

Hasil observasi para observer tentang keterampilan guru adalah sebagai berikut :

Dari 10 indikator yang diobservasi perolehan skor yang diperoleh adalah 37 rata-rata adalah 3,7 Kategori A = Sangat Baik

Hasil penilaian Tes Tertulis (Tes Formatif) Siklus II

Siswa yang memperoleh nilai < 70 = 3 siswa = 9,09 %

Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 = 27 siswa = 90,91 %

Ketuntasan Belajar = 90,91 %

Hasil Refleksi Siklus II

Hasil analisis terhadap hasil penilaian oleh seluruh siswa pada siklus II dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 77,73 KKM yang telah ditetapkan yaitu 70 Jadi nilai rata-rata mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 27 siswa tuntas atau sekitar 90,91 % daan yang belum tuntas ada 3 siswa atau 9,09 %. Kalau dilihat dari hasil analisis pembelajaran Siklus I yang mencapai 63,64 sudah ada ada peningkatan 27,27 %.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil observasi tentang aktivita siswa pada siklus I Rata-rata skor untuk aktivitas siswa dari 22 jumlah siswa Kelas IV SD Negeri Sengon 04 adalah 26,32 kategori Baik. Sedang pada siklus II Rata-rata skor untuk aktivitas siswa dari 30 jumlah siswa Kelas IV SD Negeri Sengon 04 adalah 28,55 kategori Baik. Ternyata setelah peneliti menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran IPA konsep perpindahan panas aktivitas siswa meningkat.

Hasil observasi keterampilan guru menunjukkan peningkatan ari rata-rata skor 3,4 padda siklus I menjaddi 3,7 di siklus ke-2. Hal ini membuktikan bahwa peneliti berusaha memperbaiki keterampilan mengajarnya.

Hasil penilaian kerja kelompok dari 4 kelompok juga meningkat rata-rata nilainya 2 kelompok berkategori Cukup Baik, dan 2 kelompok Sudah Baik.

Hasil observasi pembelajaran mulai dari kondisi awal atau prasiklus, siklus I, sampai Siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut :

Hasil Analisis Penilaian Kondisi Awal :

Hasil Ulangan Akhir Semester I tahun 2018/2019 siswa kelas IV SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes, pada mata pelajaran IPA diperoleh nilai terendah 35, nilai tertinggi 80 dan nilai rata-rata 56. Dari 30 siswa yang mencapai KKM hanya 11 siswa, sedang yang belum mencapai KKM 19 siswa. KKM ditentukan 70,00.

Hasil Analisis Penilaian Siklus I :

Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 68,18 KKM yang telah ditetapkan yaitu 70 Jadi nilai rata-rata belum mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 14 siswa tuntas atau sekitar 63,64 % dan yang belum tuntas ada 11 siswa atau 36,36 %. Kalau dilihat dari hasil analisis pembelajaran prasiklus yang mencapai 36,36 %, sudah ada ada peningkatan 27,28 %.

Data tersebut disajikan dalam bentuk table di bawah ini :

Tabel 4. 2 Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus I

Jumlah siswa Siswa yang Memperoeh Nilai Ketuntasan Belajar
≥ 70 < 70 Tuntas Belum Tuntas
30 19 11 19 11
Prosentase 63,64 % 36,36 %. 36,36 %. 36,36 %.

Hasil Analisis Penilaian Siklus II :

Ketercapaian rata-rata tes formatif adalah 77,73 KKM yang telah ditetapkan yaitu 70 Jadi nilai rata-rata mencapai KKM. Dilihat dari ketuntasan belajarnya 27 siswa tuntas atau sekitar 90,91 % daan yang belum tuntas ada 3 siswa atau 9,09 %.

Data tersebut peneliti sajikan dalam bentuk tabl di bawah ini :

Tabel 4. 3 Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus II

Jumlah siswa Siswa yang Memperoeh Nilai Ketuntasan Belajar
≥ 70 < 70 Tuntas Belum Tuntas
30 27 3 27 3
Prosentase 90,91 % 9,09 %. 90,91 % 9,09 %.

Dari ketiga hasil analisis penilaian maka terlihat bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran mengalami peningkatan. Baik peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran, keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran, juga peningkatan nilai kerja kelompok, rata-rata nilai hasil tes formatif tiap siklus, serta prosentase ketuntasan belajar.

Peningkatan rata-rata nilai hasil tes formatif isajikan dalam tabel di bawah ini :

Tabel 4. 4 Peningkatan Rata-Rata Nilai Tes Formatif

Kondisi Nilai
Kondisi Awal 56
Siklus I 68,18
Siklus II 77,73

Data tersebut disajikan dalam bentuk diagram di bawah ini :

Peningkatan prosentase Kertuntasan Belajar disajikan dalam tabel di bawah ini :

Diagram 4.3 Peningkatan Rata-Rata Nilai Tes Formatif

Tabel 4. 5 Prosntase Peningkatan Ketuntasan Belajar

Kondisi Prosentase Peningkatan Ketuntasan Belajar
Kondisi Awal 36,36 %
Siklus I 63,64 %
Siklus II 90,91 %

Dari tabel di atas disajikan dalam bentuk iagram di bawah ini :

Diagram 4.4 Prosentase Peningkatan Ketuntasan Belajar

Berdasar dari pembahasan hasil penelitian mulai dari kondisi awal sampai siklus II peneliti resum sebagai berikut :

Bahwa pelaksanaan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan peneliti sudah di anggap berhasil, hal ini dapat dilihat dari hasil pembahasan mulai dari kondisi awal sampai siklus II yang mengalami peningkatan secara signifikan, baik pada aktivitas siswa dalam pembelajaran, keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran, hasil penilaian kerja kelompok, serta hasil nilai rata-rata setiap siklus juga prosentase ketuntasan belajar yang mencapai 90,91 %. Dengan demikian hipotesis yang peneliti rumuskan sudah terjawab dan indikator kinerja sudah tercapai.

PENUTUP

Simpulan

Dari hasil penelitian serta pembahasan pada Bab IV, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan pendekatan kontekstual maka suasana pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan anak sehingga mereka aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar pun mengalami peningkatan, secara rinci dapat dijelaskan :

Belajar dengan memanfaatkan sumber belajar secara kontekstual, siwa mengalami. Melakukan, dan mencoba sendiri, dengan pemberian motivasi serta penguatan pada siswa, akan lebih meningkatkan aktivitas siswa sehingga hasil belajar pun meningkat secara signifikan.

Terbukti bahwa Ketuntasan Belajar mengalami peningkatan dari mulai kegiatan pembelajaran Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II.

Dengan menerapkan pendekatan kontekstual pembelajaran akan lebih bermakna dan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa meningkat.

Saran

Berdasarkan simpulan di atas, maka penulis menyarankan kepada semua guru khususnya guru di SD Negeri Sengon 04 Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, agar dalam menyajikan pembelajaran hendaknya : a) Harus pandai-pandai menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna, b) Harus lebih kreatif memilih strategi pembelajaran dan memilih model apa yang paling tepat untuk menyajikan materi pembelajaran, c) Harus pandai-pandai memilih media/alat pembelajaran dengan tepat sesuai materi pembelajaran yang disajikan, d) Selalu memberikan bimbingan, motivasi, serta penguatan pada siswa baik secara individual maupun kelompok, e) Selalu menindak lanjuti disetiap akhir pembelajaran dengan memberikan Remedial dan pengayaan sebagai bahan pekerjaan rumah siswa.

Dari pengalaman penulis dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), maka setidaknya guru telah melakukan penelitian terhadap kinerjanya sendiri sehingga akan mengetahui dengan pasti kelebihan serta kekurangannya sendiri.

Di samping itu, karena terbukti PTK dapat meningkatkan hasil belajar belajar siswa, penulis menyarankan rekan-rekan guru senantiasa mempelajari dan melaksanakan PTK di kelasnya masing-masing. Karena dengan sering melaksanakan PTK maka guru akan lebih memahami bagaimana cara menyajikan pembelajaran yang lebih bermakna serta hasil yang optimal, sehingga guru akan lebih professional dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, serta akan meningkatkan kegiatan pengembangan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Azhar, Ahmad. 2009. Peranan Pendekatan Kontekstual Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sd-Mi. (http://ahmadazhar.wordpress, diakses tanggal 6 Januari 2010

BNSP. 2007. Pedoman Penilaian Hasil Belajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas

Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP. Jakarta: Depdikbud

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004. Jakarta : Depdiknas

Azhar, Ahmad. 2009. Peranan Pendekatan Kontekstual Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Di Sd-Mi. (http://ahmadazhar.wordpress, diakses tanggal 6 Januari 2010

Nasution, Noehi. 2003. Pendidikan IPA di SD. Jakarta: Universitas Terbuka

Sutrisno, Leo dan Heri Kresnadi. Kartono. 2007. Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Siddiq, M. Djauhar. 2008. Pengembangan Bahan Pembelajaran SD. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional

Purwanto. M Ngalim. 1997. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Wardhani, IGKA dan Kuswaya Wihardit. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka

Yasa,doantara. 2008. Contekstual Teaching And Learning. (http://www.friendlyschool.blogspot.com, diakses 2 Januari 20

BIODATA PENULIS

Nama : Achmad Rois, S.Pd.SD

NIP : 19680930 199003 1 006

Pangkat, Gol/Ruang : Pembina, IV a

Jabatan : Guru Kelas

Lokasi Penelitian : SD Negeri Sengon 04 , Kelas V

Kecamatan/Kabupaten: Kec. Tanjung. Kab. Brebes

You cannot copy content of this page