Iklan

PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG MENGENAL SIMBOL-S9IMBOL SILA PANCASILA DALAM LAMBANG NEGARA ‘GARUDA PANCASILA” DENGAN MENERAPKAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE- A MACH DI KELAS I SD NEGERI BANJARANYAR 03 KECAMATAN BREBESKABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Ani Palupi, S.Pd.

ABSTRAK

Peneliti bertujuan untuk Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Siswa tentang Mengenal simbol-simbol Sila Pancasila dalam Lambang Negara “Garuda Pancasila” dengan Menerapkan Pendekatan Saintifik dan Model Pembelajaran Make- A Mach di Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03”.  Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil penelitian serta pembahasannya Dalam kegiatan penelitian ini, peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui dua siklus perbaikan. Peda siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini terlihat dari hasil refleksi siklus pertama.yaitu Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.1.3 , adalah 69,17 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75. Jadi skor rata-rata sudah mencapai KKM. Skor rata-rata indikator 4.1.4 yaitu adalah 65 dan KKM yang ditetapkan yaitu 2,67 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.1.2 belum mencapai KKM.Nilai rata-rata yang dicapai oleh indikator adalah 3.1.3 Bila dibandingkan dengan Nilai KKM yaitu 66,75 , maka terdapat kelebihan 2,42 Nilai rata-rata yang dicapai Indikaor 4.1.2 adalah 65 bila dibandingan dengan KKM 66,75 maka terdapat kekurangan 1,75.  Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II, peneliti merasa sudah puas dengan hasil yang cukup maksimal, hal ini terlihat dari hasil refleksi siklus II, yaitu Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.1.3 , adalah 81,67 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75 Jadi skor rata-rata sudah melebihi KKM .Skor rata-rata indikator 4.1.4 yaitu adalah 76,94 dan KKM yang ditetapkan yaitu 66,75 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.1.4 telah melebihi KKM.Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 19 jumlah siswa kelas I SD Negeri Banjaranyar 03, yang telah tuntas sebanyak 16 atau 83,33%, dan yang belum tuntas sebanyak 3 siswa atau 16,67 %. Dengan menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran Make-A Mach maka dapat meningkatkan pemahaman dan hasil pembelajaran Mengenal simbol-simbol Sila Pancasila dalam Lambang Negara “Garuda Pancasila”.  Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Banjaranyar 03, dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata kunci : Saintifik, Make-A Mach, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal

LATAR BELAKANG

Dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, tentunya guru harus dapat melaksanakan pembelajaran tematik terpadu dengan menggunakan pendekatan saintifik, hal ini juga dilaksanakan di SD Negeri Banjaranyar 03.

Pada kegiatan pembelajaran di kelas I SD Negeri Banjaranyar 03 tema Peristiwa Alam yang terdiri dari muatan Bahasa Indonesia, Matematika, dan PPKn, ternyata masih belum mendapatkan hasil yang maksimal, hal ini dilihat dari hasil pencapaian kompetensi siswa yang masih rendah, terutama pada muuatan PPKn dengan indikator 3.1 Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila”, dan 4.1 Mengamati dan menceritakan perilaku di sekitar rumah dan sekolah dan mengaitkannya dengan pengenalannya terhadap salah satu simbol sila Pancasila hasilnya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal yaitu 2,67. Dari permasalahan inilah maka peneliti merumuskan masalah “Bagaimana meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila” “ dari rumusan masalah tersebut peneliti akan mengadakan perbaikan pembelajaran melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas.

Untuk dapat menjawab rumusan masalah diatas peneliti akan mencoba melakukan perbaikan pembelajaran melalui kegiatan PTK dengan dua siklus perbaikan. Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran peneliti akan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Make-A Mach (mencari pasangan), dengan maksud agar pembelajaran akan lebih menggairahkan, menarik minat siswa, serta meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Siswa tentang Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila”

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara “Garuda Pancasila”, dengan penerapan pendekatan saintifik dan model pembelajaran Make- A. Mach di Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03”

Manfaat Penelitian bagi siswa adalah : (1) Dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang mengenal simbol-simbol Pancasila, serta mengenal perilaku yang sesuai dengan sila Pancasila, (2) Siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, (3) Sikap dan nilai-nilai Pancasila mulai tertanam, dan dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari. Manfaat bagi peneliti dan teman sejawat antara lain : (1) Meningkatkan kemampuan dan kreatifitas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, (2) Mampu menjadi inovator bagi dirinya serta rekan-rekan teman sejawatnya untuk melakukan kegiatan PTK di kelasnya., dan Manfaat bagi intansi atau sekolah yakni : (1) Sebagai motivasi bagi guru-guru di sekolahnya untuk menyajikan pembelajaran yang lebih bermakna, (2) Sebagai acuan untuk melaksanakan PTK dalam bidang kajian yang lain atau kompetensi yang lain, serta bahan kajian seminasi di Tingkat Gugus.

KAJIAN TEORITIS

Pendekatan Saintifik

Penerapan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 menggunakan modus pembelajaran langsung (direct instructional) dan tidak langsung (indirect instructional). Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP. Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran (instructional effect).

Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant effect). Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap yang terkandung dalam KI-1 dan KI-2. Hal ini berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pengembangan nilai dan sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku, dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat.

Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan peserta didik yang dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler dilaksanakan melalui mata pelajaran. Kegiatan kokurikuler dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler tidak terkait langsung dengan mata pelajaran.

Pendekatan saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, para ilmuan lebih mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning) dibandingkan dengan penalaran deduktif (deductive reasoning). Penalaran deduktif melihat fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Sebaliknya, penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan. Sejatinya, penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam relasi idea yang lebih luas.

Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Oleh karena itu, metode ilmiah umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesis.

Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik meliputi lima pengalaman belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut.mengangati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/mengolah informasi, mengomunikasikan.

Model pembelajaran Make- A Mach (mencari pasangan) (Lorna curran, 1994)

Langkah-langkah : (1) Guru menyiapkan beberapa kartu berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagiian lainnya kartu jawaban, (2) Setiap siswa mendapat satu buah kartu, (3) Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang, (4) Setiap siswa mencari passangan yang mempunyyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawwaban), (5) Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartuna sebelum batas waktu diberi poin, (5) Setelah ssatu babakk kartu dikocok lagiusna agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya.

KERANGKA BERPIKIR

HIPOTESIS TINDAKAN

Diduga, jika dalam kegiatan pembelajaran tentang kompetensi dasar Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila di Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03 peneliti menerapkan ppendekatan Saintifik dan moodel Make-A Mach, maka kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna serta pemahaman dan hasil belajar siswa akan meningkat.

METODOLOGI PENELTIAN

SUBJEK PENELITIAN

Tempat penelitian adalah SD Negeri Banjaranyar 03 UPT Dinas Pendidikan Kecamatan BrebesKabupaten Brebes.

Waktu penelitian selama 6 bulan (satu Semester), adapun pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.

Kelas yang dijadikan tempat penelitian ini adalah Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03 UPT Dinas Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes.

Karakteristik Siswa

Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03 UPT Dinas Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes.yang berjumlah19 anak, terdiri atas 2 anak perempuan dan 17 anak laki-laki.

Kemudian dilihat dari pekerjaan orang tua mereka adalah 80 % buruh tani dan petani dan 20 % sebagai wireaswasta dan pedagang. Dengan kondisi seperti ini kehidupan anak-anak kurang perhatian terutama masalah belajarnya, dan kurang sekali motivasi belajar dari orang tua mereka.

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas terhadap perbaikan pembelajaran tentang kompetensi dasar Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila di Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03 akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Setiap siklus terdapat empat fase meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila’

Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedang fase siklus kedua dirancang dari refleksi siklus pertama.dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03 dapat meningkatkan pemahaman serta hasil belajarnya.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik observasi, teknis tes, teknik angket/quesioner. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data dari kegiatan pembelajarran yang dilakkuka yang akan dideskripsikan. Ttekniis tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil peniilaian sedang teknik angket/quesioner digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menyerap materi pembelajaran.

Pada setiap akhir pembelajaran peneliti melakukan analisis data hasil observasi dan hasil penilaian yang dilaksanakan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis/mengorganisasikan data, dan (3) melaporkan data. (Wardani, 2002:2.28).

Hasil pengolahan penilaian tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh peningkattan hasil belajar berarti hipotesis terbukti, sebaliknyya jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian Siklus I

Hasil Refleksi Siklus I

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.1.3 , adalah 69,17 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75. Jadi skor rata-rata sudah mencapai KKM.

Skor rata-rata indikator 4.1.4 yaitu adalah 65 dan KKM yang ditetapkan yaitu 2,67 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.1.2 belum mencapai KKM.

Nilai rata-rata yang dicapai oleh indikator adalah 3.1.3 Bila dibandingkan dengan Nilai KKM yaitu 66,75 , maka terdapat kelebihan 2,42

Nilai rata-rata yang dicapai Indikaor 4.1.2 adalah 65 bila dibandingan dengan KKM 66,75 maka terdapat kekurangan 1,75

Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 19 jumlah siswa kelas I SD Negeri Banjaranyar 03, yang telah tuntas untuk aspek pengetahuan adalah sebanyak 8 atau 41,67 %, dan yang belum tuntas sebanyak 11 siswa atau 58,33 %. Jadi untuk, untuk aspek keterampilan yang tuntas sebanyak 6 anak atau 33,33 %, yang belum tuntas sebanyak 13 atau 66,67 % ,maka untuk mencapai ketuntasan belajar siswa yang ditentukan yaitu 75 %. Maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran siklus II.

Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa indikator yang menjadi masalah dan harus dicarikan penyebab serta solusinya adalah indikator 3.1.3 dan indikator 4.1.4.

Penyebab Kegagalan dan Solusinya

Penyebab kegagalan dari indikator 3.1.3, adalah disebabkan oleh 4 siswa memperoleh skor di bawah KKM, dan untuk indikator 4.1.4 ada 5 siswa memperoleh skor di bawah KKM hal ini disebabkan karena mereka belum lancar membaca dan belum memahami soal, juga tidak terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, ketika membaca soal mereka masih mengeja dan belum dapat memahami soal.

Solusi untuk mengatasi kegagalan tersebut Peneliti akan selalu membimbing dan memberikan motivasi baik secara individu maupun kelompok agar mereka turut aktif dalam kegiatan pembelajaran, dan memberikan contoh-contoh perilaku ang baik sesuai dengan nilai sila kedua Pancasila.

Hasil Penelitian Siklus II

Hasil Refleksi Siklus II

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.1.3 , adalah 81,67 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75 Jadi skor rata-rata sudah melebihi KKM .

Skor rata-rata indikator 4.1.4 yaitu adalah 76,94 dan KKM yang ditetapkan yaitu 66,75 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.1.4 telah melebihi KKM.

Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 19 jumlah siswa kelas I SD Negeri Banjaranyar 03, yang telah tuntas sebanyak 16 atau 83,33%, dan yang belum tuntas sebanyak 3 siswa atau 16,67 %.

Berdasarkan hasil refleksi di atas dapat dijelaskan bahwa perbaikan pembelajaran Siklus ke II telah berhasil, hal ini dilihat dari peningkatan ketuntasan belajar yaitu selisih ketuntasan belajar Siklus I dengan siklus II , Ketuntasan Belajar pada Siklus I Aspek Pengetahuan adalah 41,67 % sedangkan Ketuntasan Belajar pada Siklus II 83,33 %, jadi ada peningkatan secara signifikan yaitu 41,67 %. Sedang untuk aspek Keterampilan ketuntasan belajar pada siklus I adalah 33,33 %, sedang pada siklus II adalah 100 %, maka terjadi peningkatan yang signifikan, yaitu 66,67 %.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Dari hasil pelaksanaan pembelajaran Prasiklus, siklus I, dan Siklus II diperoleh data sebagai berkut :

Hasil Analisis Penilaian Prasiklus

Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial

Hasil penilaian untuk sikap spiritual dan sikap Sosial seluruh siswa sudah kategori baik, meskipun masih ada aspek-aspek yang masih perlu mendapat bimbingan.

Aspek Pengetahuan :

Tabel 4.6

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 66,75 ≥ 66,75 T BT
19 13 6 6 13

Aspek Keterampilan :

Tabel 4.7

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 66,75 ≥ 66,75 T BT
19 11 8 8 11

Hasil Analisis Penilaian Siklus I

Sikap Spiritual dan Sikap Sosial:

Untuk hasil penilaian sikap spiritual dan sikap sosial, kategori Sangat Baik, ini dilihat dari modus nilai, yaitu 4., meskipun masih ada siwa yang memperoleh kategori Baik (3)

Aspek Pengetahuan (KD 3.1)

Tabel 4.8

Jumlah Siswa

Siswa yang Memperoleh Nilai

< 66,75 ≥ 66,75 T BT
19 10 9 9 10

Aspek Keterampilan (KD 4.1)

Tabel 4. 9

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 66,75 ≥ 66,75 T BT
19 11 8 8 11

Hasil Analisis Penilaian Siklus II

Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial

Pada Siklus II hasil penilaian sikap spiritual dan sikap sosial, kategori Sangat Baik, ini dilihat dari modus nilai, yaitu 4

Penilaian Aspek Pengetahuan Indikator 3.1.3 :

Tabel 4.10

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 66,75 ≥ 66,75 T BT
19 3 16 16 3

Penilaian Aspek Keterampilan Indikator 4.1.4 :

Tabel 4.11

Jumlah Siswa Siswa yang Memperoleh Nilai
< 66,75 ≥ 66,75 T BT
19 0 19 19

Jika dilihat dari prosentasi kenaikan ketuntasan belajar dari prasiklus, siklus I dan siklus II seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

Siklus Ketuntasan Belajar
Aspek Pengetahuan Aspek Keterampilan
Prasiklus 25 % 33,33 %
Siklus I 41,67 % 33,33 %
Siklus II 83,33 % 100 %

Data tersebut disajikan dalam bentuk Diagram Batang di bawah ini :

Diagram 4.3 Prosentase Ketuntasan Belajar Aspek Pengetahuan

Diagram 4.3 Prosentase Ketuntasan Belajar Aspek Keterampilan

Dari tabel prosentase di atas dapat disimpulkan bahwa, kegiatan perbaikan pembelajaran dari prasiklus ,Siklus I dan Siklus II, pencapaian ketuntasan belajar mengalami kenaikan yang signifikan, untuk aspek pengetahuan dari mulai Prasiklus ke Siklus I naik dari 25 % menjadi 41,67 %, dan dari siklus I ke siklus II naik dari 41,67 % menjadi 83,33 %, dan jika dilihat dari hasil penilaian aspek keterampilan mulai dari prasiklus ke siklus I tidak mengalami kenaikan , tetapi pada siklus II naik mencapai 100 % ,dengan demikian peneliti merasa bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran Make-A Mach dapat meningkatkan aktivitas, pemahaman dan hasil belajar siswa di Kelas I SD Negeri Banjaranyar 03.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian serta pembahasan pada Bab IV, dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan salah satu model pembelajaran PAIKEM yakni Make-A Mach maka suasana pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan anak sehingga mereka aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar pun mengalami peningkatan, secara rinci dapat dijelaskan : (1) Belajar sambil bermain peran, dan dengan pemberian motivasi serta penguatan pada siswa, akan lebih meningkatkan aktivitas siswa sehingga hasil belajar pun meningkat secara signifikan, (2) Terbukti bahwa Ketuntasan Belajar mengalami peningkatan dari mulai kegiatan pembelajaran Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II.

Pendekatan Saintifik dengan Model pembelajaran Make-A Mach dapat membawa situasi belajar lebih menyenangkan dan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa meningkat.

SARAN/REKOMENDASI

Berdasarkan hasil data penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanaka oleh penulis, maka penulis menyampaikan beberapa saran bagi para pembaca dalam hal ini rekan-rekan guru. Bahwa kurikulum 2013 dalam kegiatan proses pembelajaran harus menggunakan pendekatan saintifik juga pandai memilih model pembelajaran yang tepat khususnya di kelas rendah , disamping itu seyogyanya guru :

  1. Harus pandai-pandai menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna.
  2. Harus lebih mengenal model-model pembelajaran PIKEM, dan memilih model apa yang paling tepat untuk menyajikan materi pembelajaran.
  3. Harus pandai-pandai memilih media/alat pembelajaran dengan tepat sesuai materi pembelajaran yang disajikan.
  4. Selalu memberikan bimbingan, motivasi, serta penguatan pada siswa baik secara individual maupun kelompok.
  5. Selalu menindak lanjuti disetiap akhir pembelajaran dengan memberikan Remedial dan pengayaan sebagai bahan pekerjaan rumah siswa.

Dari pengalaman penulis dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), maka setidaknya guru telah melakukan penelitian terhadap kinerjanya sendiri sehingga akan mengetahui dengan pasti kelebihan serta kekurangannya sendiri.

Di samping itu, karena terbukti PTK dapat meningkatkan hasil belajar belajar siswa, penulis menyarankan rekan-rekan guru senantiasa mempelajari dan melaksanakan PTK di kelasnya masing-masing. Karena dengan sering melaksanakan PTK maka guru akan lebih memahami bagaimana cara menyajikan pembelajaran yang lebih bermakna serta hasil yang optimal, sehingga guru akan lebih professional dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, serta akan meningkatkan kegiatan pengembangan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Udin S.Winataputra, dkk.2007. Materi Pembelajaran PKn. Jakarta : Universitas Terbuka

Udin S.Winataputra, dkk. 2007.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :Universitas Terbuka

Mulyani Sumantri,2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta :Universitas Terbuka.

Ai Sofiyanti, dkk. 2015. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum.. Jakarta : Kemendikbud.Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112. (2012) Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru dalam Jabatan . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

BIODATA PENELITI

Nama : Ani Palupi, S.Pd.

NIP : 19660516 199001 2 002

Pangkat, Gol/Ruang : Pembina, IV a

Jabatan : Guru Kelas

Lokasi Penelitian : SD Negeri Banjaranyar 03 , Kelas I

Kecamatan/Kabupaten : Kec. Brebes. Kab. Brebes

You cannot copy content of this page