Iklan

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR DARING MELALUI VIDEO PEMBELAJARAN YOUTUBE PADA PESERTA DIDIK KELAS III SD NEGERI RANDEGAN 03 KECAMATAN LOSARI KABUPATEN BREBES SEMESTER I TAHUN 2020/2021

D:\KENAIKAN PANGKAT\Info\INFO baru\Foto Sadiyo.jpeg

Oleh : Sadiyo, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Penelitian ini di latar belakangi oleh rendahnya hasil ulangan harian siswa kelas III SD Negeri Randegan 03 yang hanya mencapai nilai rata-rata 57. Hal itu dapat disebabkan karena motivasi peserta didik yang kurang, hal ini menimbulkan kejenuhan selama proses pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar daring selama pandemi covid-19. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan metode deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SDN Randegan 03 dengan jumlah 20 orang. Hasil penelitian menunjukkan pada siklus I hasil belajar peserta didik terlihat mulai meningkat sebanyak 5 dari 10 peserta didik atau 50% yang mendapat nilai di atas KKM, untuk rata-rata nilai klasikal sebesar 69, dan 6 orang peserta didik atau 60% aktif dalam pembelajaran. Pada Siklus II sebanyak 9 orang peserta didik mendapat nilai di atas KKM 70 atau 90% dinyatakan tuntas, rata-rata nilai klasikalpun mencapai 86, dan 9 orang peserta didik atau 90% aktif dalam pembelajaran. Dengan dilaksanakannya pembelajaran daring melalui video pembelajaran youtube terlihat motivasi belajar peserta didik mengalami peningkatan.

Kata Kunci: motivasi belajar, pembelajaran daring, video pembelajaran youtube

PENDAHULUAN

Pandemi COVID-19 menimbulkan dampak di berbagai bidang kehidupan, salah satunya bidang pendidikan yang menyebabkan seluruh aktifitas belajar mengajar secara tatap muka di sekolah-sekolah dihentikan. Sebagai gantinya, sesuai Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang aktifitas belajar mengajar dalam masa darurat COVID-19 dilaksanakan dari rumah melalui pembelajaran dalam jaringan atau daring. Kebijakan ini tentu saja menimbulkan berbagai permasalahan baru. Ketidakhadiran sosok guru bagi peserta didik, penggunaan media pembelajaran daring yang belum optimal, kesulitan orang tua peserta didik dalam mendampingi pelaksanaan pembelajaran daring, minimnya akses peserta didik terhadap gawai, dan berbagai kendala teknis pelaksanaan daring merupakan sekelumit masalah yang muncul saat ini. Dampak dari permasalahan yang muncul di atas adalah hasil belajar siswa yang rendah, terlihat dari capaian rata-rata dan prosentase ketuntasan hasil belajar siswa pada Penilaian Harian Tema 1. Rata-rata hasil belajar Penilaian Harian Tema 1 diperoleh 72,41 dengan prosentase ketuntasan hasil belajar 66,67% siswa tuntas.

Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tidak bertatap muka langsung, tetapi menggunakan platform yang dapat membantu proses belajar mengajar yang dilakukan meskipun jarak jauh. Tujuan dari adanya pembelajaran daring ialah memberikan layanan pembelajaran bermutu dalam jaringan yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau peminat ruang belajar agar lebih banyak dan lebih luas (Sofyana & Abdul, 2019:82). Dalam pembelajaran daring, guru perlu memilih media pembelajaran yang tepat sehingga dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan baik. Gerlach & Ely dikutip oleh Azhar Arsyad (2011: 7) menyatakan bahwa media pembelajaran memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2010: 121) media pembelajaran adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan agar tercapai tujuan pembelajaran.

Perlu adanya upaya perubahan yang dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran daring. Selama ini, guru sebatas memberikan penjelasan dan materi pembelajaran daring melalui pesan singkat whatsapp. Pemanfaatan media pembelajaran dalam pelaksanaan pembelajaran daring selama ini belum optimal. Media pembelajaran yang belum dimanfaatkan oleh guru salah satunya adalah video pembelajaran dari Youtube. Menurut Budiargo (2015: 47) Youtube adalah video online dan yang utama dari kegunaan situs ini adalah sebagai media untuk mencari, melihat dan berbagi video yang asli ke dan dari segala penjuru dunia melalui suatu web. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka peneliti berpendapat bahwa media pembelajaran yang disajikan dari Youtube merupakan suatu alat pengantar pesan dari guru kepada siswa dengan tujuan agar proses pembelajaran menjadi lebih baik, lebih menarik, dan memberikan pengaruh lebih baik terhadap hasil pembelajaran siswa. Dari video pembelajaran Youtube diharapkan peserta didik dapat dengan mudah memahami materi pelajaran.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan motivasi belajar daring siswa kelas III SD Negeri Randegan 03 melalui pemanfaatan media video pembelajaran Youtube.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah proses pemanfaatan video pembelajaran Youtube untuk meningkatkan motivasi belajar daring peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 Semester 1 Tahun 2020/2021?
  2. Bagaimanakah peningkatan motivasi belajar daring peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 Semester 1 Tahun 2020/2021 setelah pemanfaatan video pembelajaran Youtube?
  3. Bagaimanakah perubahan perilaku pada peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 setelah pemanfaatan video pembelajaran Youtube?

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

Pengertian Motivasi Belajar

Menurut Abdul Madjid, motivasi adalah kekuatan yang menjadi pendorong kegiatan individu untuk melakukan suatu kegiatan mencapai tujuan. Motivasi terbentuk oleh suatu tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan dari luar individu. Kondisi tersebut yang mendorong individu untuk melakukan suatu kegiatan yang disebut dengan motivasi.

Berdasarkan uraian di atas, memotivasi anak adalah suatu kegiatan memberi dorongan agar anak bersedia dan mau mengerjakan kegiatan atau perilaku yang diharapkan oleh orang tua atau pendidik, anak yang memiliki motivasi akan memungkinkan ia untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Pembelajaran Daring

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkugan belajar. Pendidik harus memenuhi kualifikasi sesuai tingakatan peserta didik yang diajari, mata pelajaran yang diampu, dan ketentuan yang intruksional lainnya. Disamping itu pendidik harus menguasai sumber belajar dan media pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran. Menurut Sagala dalam Pohan (2020:2) pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan.

Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan dimana pengajar dan yang diajar tidak beratatap muka secara langsung. Menurut Isman dalam Pohan (2020:2) pembelajaran daring adalah pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran.

Menurut Thorne (2003), pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan teknologi multimedia, kelas virtual, CD ROM, streaming video, pesan suara, email dan telepon konferensi, teks online animasi, dan video streaming online. Selain materi, latihan dan pembelajaran remidi juga disediakan
dalam bentuk daring. Baik materi pembelajaran, latihan, maupun materi pembelajaran remidi ketiganya disajikan melalui sarana medsos. Ada dua jenis medsos yang dipilih, yaitu, WAG (group whattsapp) dan Ytb (Youtube). Pemilihan jenis medsos tersebut telah sesuai dengan pilihan subjek yang pendapatnya diungkap melalui instrument angket.

Pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan tidak
bertatap muka langsung, tetapi menggunakan platform yang dapat membantu proses belajar
mengajar yang dilakukan meskipun jarak jauh. Tujuan dari adanya pembelajaran daring ialah memberikan layanan pembelajaran bermutu dalam jaringan yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau peminat ruang belajar agar lebih banyak dan lebih luas (Sofyana & Abdul, 2019:82). Dalam pembelajaran daring, guru perlu memilih media pembelajaran yang tepat sehingga dapat menyampaikan materi pembelajaran dengan baik. Gerlach & Ely dikutip oleh Azhar Arsyad (2011: 7) menyatakan bahwa media pembelajaran memiliki cakupan yang sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2010: 121) media pembelajaran adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan agar
tercapai tujuan pembelajaran.

Sejarah Youtube

YouTube didirikan oleh Chad HurleySteve Chen, dan Jawed Karim, yang sebelumnya merupakan karyawan pertama PayPal. Hurley belajar desain di Indiana University of Pennsylvania, sementara Chen dan Karim belajar ilmu komputer di University of Illinois at Urbana-Champaign.

Menurut cerita yang berulang-ulang diterbitkan di media, Hurley dan Chen mengembangkan ide YouTube pada bulan-bulan pertama tahun 2005 setelah mengalami kesulitan saat berbagi video pesta makan malam di apartemen Chen di San Francisco. Karim tidak datang ke pesta dan menolak pesta tersebut pernah terjadi, sementara Chen berkomentar bahwa ide YouTube tercetuskan setelah pesta makan “tampaknya diperkuat oleh metode pemasaran yang terpusat pada menciptakan cerita yang mudah dicerna konsumen.

YouTube berawal sebagai sebuah perusahaan teknologi rintisan yang didanai oleh investasi senilai $11,5 juta dari Sequoia Capital antara November 2005 dan April 2006.[13] Kantor pertama YouTube terletak di atas sebuah restoran Jepang dan pizzeria di San Mateo, California. Nama domain www.youtube.com aktif pada 14 Februari 2005 dan situs ini dikembangkan pada bulan-bulan berikutnya.

Video pertama di YouTube berjudul Me at the zoo. Video ini menampilkan pendiri pendamping Jawed Karim di Kebun Binatang San Diego. Video ini diunggah pada tanggal 23 April 2005 dan masih ada sampai sekarang di situs ini.

Bekas logo YouTube, 2006-2011, dengan gradasi warna yang berbeda.

YouTube menawarkan uji beta pada Mei 2005, enam bulan sebelum peluncuran resmi pada November 2005. Pertumbuhan situs ini meroket dan pada bulan Juli 2006, perusahaan ini mengumumkan bahwa lebih dari 65.000 video diunggah setiap harinya dan situs ini menerima 100 juta kunjungan video per hari. Menurut data yang dikumpulkan perusahaan riset pasar comScore, YouTube adalah penyedia video daring utama di Amerika Serikat dengan pangsa pasar 43 persen dan lebih dari 14 miliar video ditonton pada bulan Mei 2010. YouTube mengatakan bahwa sekitar video berdurasi total 60 jam diunggah setiap menit dan tiga perempat materialnya berasal dari luar A.S. Situs ini menerima delapan ratus juta kunjungan unik setiap bulannya. Diperkirakan bahwa pada tahun 2007 YouTube mengonsumsi pita lebar yang sama besarnya seperti seisi Internet tahun 2000. Alexa menempatkan YouTube sebagai situs ketiga yang paling banyak dikunjungi di Internet, setelah Google dan Facebook.

HIPOTESIS

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah dengan melalui video pembelajaran youtube terdapat peningkatan motivasi belajar daring peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 Kecamatan Losari Kabupaten Brebes Semester I Tahun Pelajaran 2020/2021.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Tujuan utama dari  penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil  pembelajaran di kelas. Guru terlibat langsung mulai dari  perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ observasi, dan refleksi.

PTK dilaksanakan sesuai siklus yang sudah direncanakan. Dalam penelitian ini, penulis sebagai guru  pelaksana sekaligus peneliti yang bertanggungjawab  penuh atas penelitian ini. Peneliti bekerja sama dengan teman sejawat yang memberikan masukan terhadap pelaksanaan  penelitian tindakan kelas.

Subjek penelitian tindakan kelas adalah peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 Semester I Tahun Pelajaran 2020/2021 yang berjumlah 10 orang. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Agustus s.d Oktober 2020 yang terbagi menjadi dua siklus.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Usaha mendeskripsikan fakta-fakta itu pada tahap permulaan tertuju pada usaha mengemukakan gejala-gejala secara lengkap di dalam aspek yang diselidiki, agar jelas keadaan dan kondisinya.

Metode yang digunakan dalam perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap, yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing), dan refleksi (reflecting).

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkannya, melakukan sintesa, menyusun ke dalam  pola, memilah-milah yang penting dan kurang penting, dan menyimpulkan.

Indikator Kinerja

Penelitian ini dinyatakan berhasil apabila pembelajaran melalui video Youtube dapat meningkatkan motivasi belajar daring pada peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03. Sesuai dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) seorang peserta didik dianggap tuntas apabila telah mencapai kriteria ideal ketuntasan 75%, secara klasikal ketuntasannya 85%. Sedangkan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan pada SD Negeri Randegan 03 adalah nilai 70. Rerata secara klasikal minimal 70.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Siklus I

Hasil Pelaksanaan pada Siklus 1 dari penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1) Perencanaan Siklus I

  1. Menetapkan hari dan tanggal pelaksanaan penelitian.
  2. Mengumpulkan data hasil belajar peserta didik yang rendah
  3. Mengidentfikasi masalah dan memecahkannya
  4. Menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran I melaui video pembelajaran Youtube
  5. Menyiapkan video pembelajaran youtube.
  6. Menyiapkan Lembar Observasi
  7. Menyiapkan Buku Sumber
  8. Menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS)

2) Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan siklus I dilaksanakan pada hari kamis, 13 Agustus 2020 selama 70 menit atau 2 jam pelajaran tepatnya pukul 07.00 – 08.10 WIB.

3) Observasi Siklus I

Pembelajaran dan pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa yang dilaksanakan oleh peneliti dan observer mengunakan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti. Hasil observasi tentang aktivitas belajar siswa pada pembelajaran daring melalui video pembelajaran Youtube pada siklus 1 terlihat pada tabel:

Tabel 1 Analisis Data Kuantitatif Siklus I

No Skor (S) Frekuensi

(F)

Persentase

(%)

S x F
1 100 0 0 0
2 90 1 10 90
3 80 2 20 160
4 70 2 20 140
5 60 5 50 300
6 50
Jumlah 10 100 690
Rata-rata nilai = ∑SF = 690 = 69

10

Berdasarkan kriteria ketuntasan minimal sebesar 70 maka data dari tabel di atas disimpulkan bahwa:

  1. Peserta didik tuntas belajar adalah 5 dari 10 peserta didik atau 50%;
  2. Peserta didik belum tuntas belajar adalah 5 dari 10 peserta didik atau 50%;
  3. Rata-rata nilai secara klasikal adalah 69.

Dalam Pembelajaran siklus I diperoleh peningkatan hasil namun peningkatan ini masih jauh dari harapan. Kemampuan peserta didik dalam pembelajaran daring masih kurang karena meskipun guru dalam penyajian materi menggunakan video pembelajaran youtube, namun masih saja ada peserta didik belum siap menerima materi. Dengan ditampilkannya video youtube pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sehingga peserta didik termotivasi untuk berusaha memahami materi. Dengan demikian peserta didik tertantang untuk lebih aktif agar mampu memahami dan berani maju ke depan untuk mencoba menjawab soal. Adapun tingkat keaktifan peserta didik selama kegiatan pembelajaran pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2 Analisis Data Kualitatif Keaktifan Peserta Didik Siklus I

No Keaktifan Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Aktif 6 60
2 Cukup 3 30
3 Kurang 1 10
Jumlah 10 100

Berdasarkan pengamatan peneliti dan teman sejawat, hasil belajar peserta didik dalam siklus I cukup meningkat. Hal ini disebabkan karena melalui video Youtube pembelajaran menjadi lebih menarik bagi peserta didik untuk mempelajari materi. Namun demikian pembelajaran siklus I belum bisa dikatakan berhasil karena belum memenuhi indikator keberhasilan yaitu peserta didik tuntas hanya 50%, keaktifan belajar secara klasikal baru 60% sedangkan rerata secara klasikal baru mencapai 69. Berdasarkan data tersebut penelitian dilanjutkan ke siklus II.

4) Refleksi dilakukan setelah melakukan tindakan siklus I. Hasil diskusi antara peneliti dan pengamat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran daring melalui video youtube cukup meningkatkan hasil belajar dan keaktifan peserta didik. Namun masih ditemukan beberapa peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM ini dikarenakan pembelajaran masih bersifat individualisme sehingga untuk peserta didik yang kurang siap mengikuti pembelajaran, mereka belum memahami benar materi.

Hasil Siklus II

Hasil Pelaksanaan pada Siklus II meliputi:

1) Perencanaan siklus II

Sebagai persiapan pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II, telah disusun Rencana Perbaikan Pembelajaran yang berbeda dengan siklus I. Adapun perbedaannya adalah pada siklus II pembelajaran daring melalui video youtube mencoba diterapkan pada materi dengan indikator yang berbeda.

2) Pelaksanaan siklus II

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan pada hari Senin, 24 Agustus 2020 selama 70 menit atau 2 jam pelajaran tepatnya pukul 07.00 – 08.10 WIB. Pada kegiatan pendahuluan meliputi: guru mengkoordinasikan siswa agar siswa siap menerima pembelajaran, mengecek kehadiran siswa, apersepsi serta menginformasikan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan

3) Observasi siklus II

Pembelajaran dan pengamatan terhadap aktivitas belajar siswa yang dilaksanakan oleh observer mengunakan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti.

Hasil observasi aktivitas belajar daring siswa melalui video youtube terlihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3 Analisis Data Kuantitatif Siklus II

No Skor (S) Frekuensi

(F)

Persentase

(%)

S x F
1 100 3 30 300
2 90 3 30 270
3 80 2 20 160
4 70 1 10 70
5 60 1 10 60
6 50 0 0 0
Jumlah 10 100 860
Rata-rata nilai = ∑SF = 690 = 69

10

Berdasarkan kriteria ketuntasan minimal sebesar 70 maka data dari tabel di atas disimpulkan bahwa:

  1. Peserta didik tuntas 9 orang atau 90% tuntas belajar.
  2. Hanya 1 orang saja peserta didik yang mendapat nilai di bawah KKM.
  3. Rata-rata nilai secara klasikal adalah 86.

Adapun peningkatan keaktifan peserta didik dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4 Analisis Data Kualitatif Keaktifan Peserta Didik Siklus II

No Keaktifan Frekuensi (F) Persentase (%)
1 Aktif 9 90
2 Cukup 1 10
3 Kurang 0 0
Jumlah 10 100

Kegiatan pembelajaran daring melalui video youtube ternyata sangat efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik karena sangat menarik bagi peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan memudahkan mereka menerima materi yang dipelajarinya.

4) Refleksi dilakukan setelah melakukan tindakan pada siklus II. Berdasarkan hasil refleksi sudah tidak terlalu tampak kekurangan pada pelaksanaan siklus II. Setelah melaksanakan siklus II dan melihat hasil observasi siklus II maka peneliti dan observer sepakat untuk menghentikan siklus dan melaksanakan tindak lanjut.

Pembahasan

Pada tahap pra siklus hanya 2 dari 10 peserta didik atau 20% saja yang mendapat nilai sesuai KKM 70, untuk rata-rata nilai klasikal sebesar 57 , dan hanya 2 orang saja atau 20% dari 10 peserta didik yang aktif dalam pembelajaran.

Pada tahap siklus I hasil belajar peserta didik terlihat mulai meningkat sebanyak 5 dari 10 peserta didik atau 50% yang mendapat nilai di atas KKM, untuk rata-rata nilai klasikal sebesar 69, dan 6 orang peserta didik atau 60% aktif dalam pembelajaran.

Pada tahap siklus II sebanyak 9 orang seluruh peserta didik mendapat nilai di atas KKM 70 atau 90% dinyatakan tuntas, rata-rata nilai klasikalpun mencapai 86, dan 9 orang peserta didik atau 90% aktif dalam pembelajaran. Dengan demikian semua indikator keberhasilan dapat terpenuhi sehingga penelitian dinyatakan berhasil.

Grafik 1 Perbandingan Prosentase Ketuntasan Belajar dan Rata-Rata Nilai Klasikal Tiap Siklus

Grafik 2 Persentase Keaktifan Peserta didik dalam Pembelajaran

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran daring melalui video pembelajaran Youtube pada peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 dapat di simpulkan bahwa:

1. Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan teknologi multimedia, kelas virtual, CD ROM, streaming video, pesan suara, email dan telepon konferensi, teks online animasi, dan video streaming online.

2. Pembelajaran daring melalui video youtube dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik kelas III SD Negeri Randegan 03 terbukti 90% dinyatakan tuntas.

3. Pembelajaran daring melalui video youtube dapat merubah perilaku peserta didik menjadi lebih percaya diri dalam menyelesaikan soal

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad. Azhar. (2011). Media Pembelajaran Cet. 14, Jakarta, Raja Grafindo Persasda

Arikunto Suharsimi, Suhardjono, Supardi. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Kunandar. (2008). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta:

Hamdani. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia.

M. Toha Anggoro, dkk. (2008). Metode Penelitian, Jakarta: Universitas Terbuka.

Pohan, Albert Efendi. (2020). Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Pendekatan Ilmiah. Grobogan: CV Sarnu Untung.

Thorne, K., (2003). Blended Learning: How to Integrate Online & Traditional
Learning. London & Sterling, VA: Kogan Page Limited.

BIODATA

Nama : Sadiyo, S.Pd.SD.

NIP : 19660404 199301 1 001

Pangkat/ Gol : Pembina, IV/a

Jabatan : Guru Kelas

Unit Kerja : SD Negeri Randegan 03 Kec. Losari – Brebes

You cannot copy content of this page