Iklan

PENINGKATAN MINAT DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA KOMPETENSI MENGUMPULKAN DAN MENGOLAH DATA DENGAN MENERAPKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW DI KLAS VI SD NEGERI CIKAKAK 03 SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Ngadiyono, S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilatar belakangi dengan ditemukannya permasalahan pada murid kelas VI di SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes khususnya pada mata pelajaram Matematika.kompetensi mengumpulkan dan mengolah data Murid kelas VI SD Negeri Cikakak 03 hampir setiap kali KBM nampak kurang antusias, tidak ada murid belajar, sehingga nilai hasil belajarpun 60% siswa dibawah rata-rata KKM. Berdasarkan latar belakang masalah pada bagian pendahuluan di atas, maka rumusan masalah ini adalah sebagai berikut : (1) Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa di kelas VI SD Negeri Cikakak 03?, (2) Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatakan hasil pembelajaran siswa di kelas VI SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes?PTK ini bertujuan untuk meningkatkan minat serta hasil belajar siswa paa pembelajaran matematika kompetensi mengumpulkan dan mengolah ddata di kelas VI SD Negerti Cikakak 03. Dalam pelaksanaanya dilakukan dengan 2 siklus masing-masing siklus 1 pertemuan melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw”. Kesimpulandari seluruh kegiatan penelitian ini antara lain : a) Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat memperbaiki atau dapat meningkatkan aktifitas minat belajar siswa. Data hasil observasi terhadap aktifitas menunjukan bahwa rat-rata prosentase aktifitas/ minat belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari kategori kurang aktif ( 50.07%) menjadi kategori aktif ( 75.33%), ada selisih peningkatan 25.26%. dengan demikian penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat menantang siswa mampu belajar mandiri, dapat mengembangkan keterampilan berfikir, dapat melakukan kerjasama dalam kelompok dan mampu memproses informasi yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapi; b) Proses KBM dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan intelektual siswa atau memperbaiki hasil belajar siswa. Hal ini dapat ditunjukan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata yang cukup signifikan pada setiap pertemuan dari setiap siklus, yakni siklus I dengan rata-rata 56,12% menjadi 79,87% pada siklus II dengan selisih 23,77%.

Kata Kunci: Pembelajaran Kooperatif, Model Jigsaw, Minat belajar, Hasil Belajar

Latar Belakang

Perkembangan zaman menuntut kualitas sumber daya manusia ke arah yang lebih maju sesuai dan seiring dengan kemajuan teknologi. Untuk menguasai teknologi salah satunya mata pelajaran Matematika merupakan dasar yang harus banyak dikuasi oleh setiap siswa sejak dini.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas di SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes tentang pembelajaran Matematika nampak permasalahan yang harus segera di antisipasi antara lain : (a) Rendahnya nilai mata pelajaran Matematika setiap mengadakan ulangan harian terutama pada konsep pengolahan data hasil pencapaiannya tidak lebih dari 40 % siswa yang mendapatkan nilai di atas 65, dengan demikian maka hal ini menunjukkan 60 % siswa masih mengalami masalah, karena nilai tersebut masih di bawah standar rata-rata yaitu di bawah 65, (b) Lemahnya motivasi belajar siswa karena disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Kekurangan motivasi belajar yang disebabkan faktor internal adalah dengan tidak adanya rangsangan serta gairah dalam belajar. Karena siswa kurang memahami dari tujuan kebutuhan dalam kehidupannya sehingga dapat menimbulkan lemahnya untuk belajar.

Sedangkan faktor eksternal karena kurangnya perhatian dari berbagai pihak, baik pihak keluarga, masyarakat atau pemerintah.

Dengan pernyataan di atas, peneliti berupaya untuk meningkatkan pembelajaran Matematika dengan menggunakan metoda demontrasi yang menekankan pada siswa untuk dapat memahami konsep dasar Matematika yang sesuai dengan kebutuhan tuntutan.

Dari permasalahan yang ada di SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes , peneliti dengan adanya kesempatan, kesediaan waktu, serta biaya, maka akan mencoba untuk memecahkan permasalahan tersebut di atas dengan melakukan penelitian yang mengacu pada Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).

Berdasarkan latar belakang masalah pada bagian pendahuluan di atas, maka rumusan masalah ini adalah sebagai berikut : (1) Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa di kelas VI SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes, (2) Apakah dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatakan hasil pembelajaran siswa di kelas VI SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes ?

Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, dalam konsep pembelajaran Matematika  melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw di kelas VI SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes , (2) Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran Matematika pada konsep  mengumpulkan dan mengolah data  melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw di kelas VI SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes

Hasil Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ) ini akan memberikan manfaat untuk perbaikan dan peningkatan proses hasil belajar terutama bagi perorangan atau institusi di bawah ini :

Bagi Siswa : Belajar Matematika dengan penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw siswa akan tergugah semangat belajarnya sehingga menumbuhkan keberanian untuk mencoba sendiri, menemukan sendiri, menyimpulkan sendiri, melakukan suatu tindakan, bertanya, menjawab, mengembangkan ide-ide baru, kerja sama yang  baik antara siswa, sehingga aktivitas dan antusias belajar siswa lebih hidup dan meningkat.

Bagi Guru : Dapat meningkatkan dan mengembangkan wawasan, sikap ilmiah, kompetensi profesional guru dalam upaya meningkatkan mutu proses pembelajaran matematika.

Bagi Guru Sekolah : Menambah wawasan pengetahuan dalam pembelajaran Matematika melalui penerapan pembelajaran kooperatif model Jigsaw dan sebagai bahan untuk dijadikan acuan dalam membuat kebijakan sekolah pada bidang mata pelajaran yang lain.

Landasan Teori

Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran koopratif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 – 6 orang engan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati, 2002 : 25). Dalam sistim belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya.

Model pmbelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan beelajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya, 2006:239).

Tom V. Savage (1987 : 217) mengemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok.

Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni : (1) adanya pesrta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Berkenaan dengan pengelompokkan siswa dapat ditentukan berdasarkan atas : (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat ddan bakat siswa dan latar kemampuan siswa.

Nurulhayati, (2002:25-28), mngemukakan lima unsur dasar model cooperative learning yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungan individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok.

Prosedur Pembelajaran Kooperatif

  1. Penjlasan Materi, tahap ini merupakan tahapan pnyampaian pokok-pokok materi plajaran sebelum siwa belajar dalam kelompok. Tujuan tahpa ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran
  2. Belajar Kelompok, tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
  3. Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok. Tes individu akan memberikan penilaian kmampuan individu, sedangkan klompok akan memberikan penilaian pada kmampuan klompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006: 247). Hasil trakhir setiap siswa adalah menggabungkan keduanya dan dibagi dua.
  4. Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadian, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.

Model Jigsaw

Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini mengambil pola cara bekerja sbuah gergaji (zigzag), yaitu siswa melakukan suatu kegiatan belajar dengan cara bekrja sama dengan siswa lain untuk mncapai tujuan bersama.

Pada dasarnya dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke ddalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota berrtanggung jawab terhadap penguasaan setiap kompopnen/subtopic yang ditugaskan guru dengan sebaik-biknya. Siswa-iswa ini bekerja sama untuk menyeleaikan tugas kooperatifnya dalam (a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopic baghiannya, (b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopic bagiannya kepada teman kelompoknya semula. Setelah itu siswa itu kembali lagi kelompoknya masing-masing sebagai ahli an mengajarkan subtopic baianya kepada teman kelompoknya. Dengan demikian setiap siswa dapat menguasai topic secara keseluruhan.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : (1) Siswa dikelompokkan dengan anggota ± 4 orang, (2) Tiap orang dalam tim diberi materi dan tugas yang berbeda, (3) Anggota dari tim yang berbeda ddengan penugasan yang sama membentuk kelompok baru (kelompok ahli), (4) Setelah kelompok ahli berdiskusi , tiap anggota kembali ke kelompok asal dan menjelakan kepaa anggota kelompoknya tentang subbab yang mereka kuasai., (5) Tiap tim ahli memprsentasikan hasil diskusi, (6) Pembahasan dan penutup

METODOLOGI PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini  dilaksanakan di SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes  Adapun  yang menjadi subyek penelitian yaitu Kelas VI. Dan penelitian tindakan kelas ini direncanakan 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 1 kali pertemuan, dengan demikian penelitian ini berlangsung kurang lebih dua minggu.

Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas

Prosedur penelitian tindakan kelas ini menggunakan model yang di kembangkan oleh Kurt Lewin yaitu melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : (a) Perencanaan ( planning ), (a) Aksi / tindakan ( acting ), (c) Obeservasi ( observing ), dan, (dd) Refleksi ( reflecting ) ( Dikdasmen, 2003 : 18 )

Prosedur pelaksanaannya meliputi 2 siklus, pada setiap siklus terdiri dari perencanaan, aksi/tindakan, observasi, refleksi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table di bawah ini :

Merencanakan pembelajaran

  • Menentukan Konsep dan Sub Konsep
  • Mengembangkan skenario pemelajaran
  • Menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) sesuai topik pembelajaran
  • Menyiapkan sumber
  • belajar Konsep dan Sub Konsep
  • Mengembangkan format observasi dan aktifitas pembelajaran
  • Membuat pengelompokkan siswa

Aksi / Tindakan

  • Menerapkan tindakan mengacu pada skenario pembelajaran yang telah disiapkan
  • Melakukan evaluasi ( pre tes dan pos tes ) kemampuan pemahaman konsep Matematika dalam bentuk tes.

Observasi / Pengamatan

  • Melakukan observasi dengan memakai format observasi untuk guru dan siswa
  • Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format lembar kerja siswa (LKS)

Refleksi

  • Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari tindakan yang telah dilakukan
  • Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, tes kemampuan pemahaman konsep
  • Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya

Indikator Keberhasilan

Di atas 50 % siswa mendapatkan nilai di atas 65 pada tes kemampuan pemahaman konsep

Di atas 60 % siswa aktif dalam KBM

Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber Data

Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes  Sedangkan jenis data yang didapatkan ini adalah data kuantitatif dan data kualitatif.

Data kuantitatif dan data kualitatif meliputi :

  • Data tes kemampuan pemahaman konsep Matematika siklus I dan II
  • Hasil observasi terhadap aktivitas pembelajaran meliputi siswa dan guru
  • Jurnal harian ( catatan harian ) guru dan kondisi kelas
  • Foto

Teknik Pengumpulan Data 

Observasi

Observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas siswa selama  pembelajaran berlangsung. Di dalam kegiatan observasi di antaranya akan melihat peningkatan proses pembelajaran yang meliputi ; peningkatan frekuwensi dan atau kualitas pernyataan siswa kepada guru maupun sesama temannya selama interaksi belajar mengajar, peningkatan kerjasama, diskusi kelompok antar siswa dalam pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran.

Selain peningkatan proses pembelajaran, di amati pula peningkatan hasil belajar dan penguasaan konsep pembelajaran yang diharapkan antara lain meliputi : peningkatan hasil pre tes dan pos tes, peningkatan perasaan ingin tahu, peningkatan mutu produk belajar yang dihasilkan siswa melalui demontrasi dan sebagainya.

Data tes

Data tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika pada siklus I dan II. Data ini juga merupakan data kuantitatif yang diambil dari setiap siklus. Tes kemampuan Pemahaman Konsep Matematika ini di buat dalam bentuk soal sebanyak 10 butir soal, dilakukan melalui pre tes dan pos tes pada setiap siklus. Hasilnya dibuat dalam bentuk prosentase dan dilihat selisihnya (gain) antara pre tes dan pos tes. Hal ini dimaksudkan agar setiap berakhirnya pelaksanaan siklus dapat diketahui kemajuan dan perkembangannya yang di dapat oleh siswa. Dengan demikian hasilnya dapat menjadi acuan, pertimbangan, bahan refleksi untuk merencanakan pelaksanaan pada siklus berikutnya.

Analisis Data

Lembar observasi, untuk mengetahui perkembangan aktifitas belajar siswa  dengan menggunakan prosentase dari setiap poin.

Tes tertulis / Tes Kemampuan Pemahaman

Adapun langkah-langkah pengolahan data tes tertulis dilakukan sebagai berikut:

Mengitung skor mentah dari setiap jawaban pre tes dan pos tes. Penskoran dalam tes tertulis diambil berdasarkan jawaban yang benar. Jika jawaban benar diberi nilai 1 ( satu ) dan jika jawaban salah diberi nilai 0 ( nol ).

Menentukan banyaknya siswa yang mendapat nilai di atas atau sama dengan 6,5

Menghitung prosentase banyaknya siswa yang mendapatkan nilai di atas atau sma denga 6,5

HASIL PENELITIAN

Siklus I

Pelaksanaan Pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran pada siklus I menyajikan materi pembelajaran pengelolaan data, langkah-langkah kegiatan belajar dan membelajarkan siswa dimulai dengan kegiatan apersepsi, kemudian kegiatan inti yang terdiri dari :Penjelasan tujuan pembelajara

Kerja kelompok atau diskusi kelompok untuk melaksanakan kegiatan pengerjaan Lembar Kerja Siswa (LKS).Dari setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya sedangkan kelompok yang lain menanggapinya kemudian diakhiri dengan kegiatan penutup.

Semua anggota kelompok harus memahami dan mengerti terhadap tugas yang harus dikerjakan pada LKS kegiatan diskusi dari mendemontrasikan pengolahan data yang ada pada lembar kerja siswa dianggap selesai apabila siswa telah memahami serta dapat menjawab semua soal 100% benar, kemudian diakhiri dengan kegiatan pos tes.

Aktifitas Belajar

Dari hasil observasi seluruh aktifitas siswa diperoleh rata-rata prosentase aktifitas siswa pada siklus I ; kerja sama 50.25%, keaktifan 50,25%, tanggung jawab 53% rata-rata prosentase aktifitas siswa siklus I yaitu 51,17%. Berdasarkan data tersebut aktifitras belajar siswa tergolong katagori kurang aktif. Berdasarkan catatan dan pengamatan pada waktu proses pembelajaran berlangsung aktifitas siswa terpaku pada pola belajar “ Duduk Dengar Catat Hafal” (DDCH). Ini terjadi pada saat guru menjelaskan dan bertanya pada siswa, mereka menjawab dengan ragu-ragu walaupun jawabanya terkadang benar, siswa masih nampak kurang berani mengemukakan pendapat atau menemukan ide-ide dan belum terbiasa melakukan kerjasama kelompok. Mereka cenderung apatis dalam mengerjakan LKS, masih tampak mengandalkan anggota kelompoknya yang punya keberanian dan punya kemampuan lebih sehingga sikap ketergantungan masih ada.

Hasil Belajar

Hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus I adalah siswa yang mendapat nilai 60 keatas sebanyak 5 siswa dari jumlah siswa 40 orang berarti 12,5% dengan rata-rata nilai 38.87 hal ini dilakukan melalui pretes. Sedangkan hasil yang diperoleh melalui postes adalah siswa yang mendapat nilai 60 keatas sebanyak 15 siswa yaitu 37,50% dengan rata-rata nilai 56.12.

Refleksi

Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh beberapa faktor penyebabnya antara lain : Sebagian siswa tampak kaku untuk melakukan kerja dalam kelompok, tingkat ketergantungan pada guru dan teman yang dianggap memiliki pengetahuan lebih masih tinggi, karena hal ini terbiasa dengan pola pembelajaran gaya lama yaitu Duduk, Dengar, Catat dan Hafal ( DDCH ), sehingga menyebabkan tingkat pemahaman, penguasaaan dan menemukan gagasan kyurang dilakuklan oleh siswa. Siswa kurang terbiasa mencari dan menemukan solusi untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya sehingga kurang komunikatif dan cenderung belajar masih individual mengandalkan yeman yang dianggap mempunyai kemampuan lebih. Siswa kurang memahami petunjuk kerja yang harus dilakukan dan tidak terbiasa menghadapi situasi masalah dalam kehidupan nyata maka mengakibatkan kondisi belajar masih tampak pasif. Berkenaan dengan kondisi diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dilakukan perbaikan pada pembelajaran siklus II yakni sebagai berikut : Siswa diberi tugas untuk mempelajari dan melakukan pengamatan terhadap peristiwa nyata melalui kegiatan mendemontrasikan langsung pengolahan data yang ada hubungannya dengan konsep pembelajaran yang sedang dipelajari. Guru membimbing siswa secara intensif dan menyeluruh untuk menumbuh kembangkan keterampilan intelektual agar semua siswa mampu melakukan sesuatu dan menemukan gagasasn untuk memecahkan suatu permasalahan.

Siklus II

Pelaksanaan Pembelajaran

Pada pembelajaran siklus II ini tampak kelihatan lebih antuisias, minat belajarnya nampak dan lebih aktif bila dibandingkan dengan pertemuan pada siklus I, karena mereka telah diberi tugas untuk melakukan langsung mendemontrasikan cara pengolahan data.

Setelah seluruh proses kegiatan pembelajaran tersebut selesai,  LKS yang telah dikerjakan siswa dikumpulkan kembali untuk dilakukan penilaian dan pada akhir kegiatan dilakukan postes untuk mengukur tingkat penguasaan materi yang duisajikan pada siklus II.

Aktifitas Belajar

Dari hasil observasi terhadap seluruh aktifitas siswa diperoleh rata-rata prosentase aktifitas minat belajar siswa pada siklus II ; Kerja sama 74.75%, keaktifan 76.50%, Tanggung jawab 74.75%  dan rata-rata minat belajar 75.25%.

Berdasarkan  data tersebut diatas, aktifitas belajar siswa tergolong katagori aktif. Dan hasil analisis terhadap aktifitas ini diperoleh informasi bahwa siswa kelas VI mulai terbiasa belajar kelompok, tumbuhnya kepedulian dan kerja sama yang baik sesame anggota kelompok, munculnya keberanian untuk mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan, dan mampu memberikan sanggahan atau komentar terhadap pendapat kelompok lain, sehingga dengan metode demontrasi disimpulkan dapat membangkitkan minat belajar siswa.

Hasil Belajar

Hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus II adalah siswa yang mendapat nilai 60 keatas sebanyak 39 siswa dari jumlah siswa 40 orang berarti 97,50% dengan rata-rata nilai 79.87. Perolehan data tersebut menunjukan adanya peningkatan yanag cukup signifikan terhadap pemahaman konsep yakni dengan selisih 24 siswa atau kenaikan sekitar 60% dan rata-rata pada siklus II ini adalah 79.87 hal ini pula mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan perolehan nilai rata-rata pada siklus I yaitu dengan selisih 23.75.

Refleksi

Hasil dari siklus II ini menunjukan bahwa indikator keberhasilan yang ditargetkan dapat dikategorikan berhasil, yakni nilai yang diperoleh siswa mengalami peningkatan yang cukup berarti bila dibandingkan dengan siklus I begitu juga dengan aktifitas belajar siswa tampak lebih pro aktif, hidup, efektif dan efisien sehingga sasaran dan target pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Namun demikian disadari betul bahwa siswa harus mulai diperkenalkan atau dihadapkan pada situasi masalah nyata yang ada pada lingkkungannyadan sesuai dengan tingkaat pengetahuan serta pengalamannya, sehingga siswa betul-betul dapat memahami dan mampu memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

Kesimpulan

Dari seluruh kegiatan penelitian yang dilakukan mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai dengan refleksi maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa hal penting yaitu antara lain :

Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan pendekatan kooperatif model Jigsaw dapat memperbaiki atau dapat meningkatkan aktifitas minat belajar siswa. Data hasil observasi terhadap aktifitas menunjukan bahwa rat-rata prosentase aktifitas/ minat belajar siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari kategori kurang aktif ( 50.07%) menjadi kategori aktif ( 75.33%), ada selisih peningkatan 25.26%. dengan demikian metoda demontrasi dapat menantang siswa mampu belajar mandiri, dapat mengembangkan keterampilan berfikir, dapat melakukan kerjasama dalam kelompok dan mampu memproses informasi yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Proses KBM dengan menggunakan pendekatan kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan kemampuan intelektual siswa atau memperbaiki hasil belajar siswa. Hal ini dapat ditunjukan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata yang cukup signifikan pada setiap pertemuan dari setiap siklus, yakni siklus I dengan rata-rata 56,12% menjadi 79,87% pada siklus II dengan selisih 23,77%.

Saran

Saran-saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kooperatif model Jigsaw ternyata sangat baik juga untuk diterapkan pada anak tingkat sekolah dasar, oleh karena itu guru yang akan mengajar harus dapat memilih metode yang tepat dalam mempersiapkan kegiatan proses belajar membelajarkan. Siswa harus dibiasakan belajar dihadapkan pada situasi masalah yang nyata, otentik dan bermakna bagi kehidupannya. Guru terlebih dahulu harus menguasai dan memahami konsep model pembelajaran agar dalam pelaksanaannya kegiatan belajar membelajarkan anak dapat dilakukan secara maksimal sehingga target yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan baik, efektif dan efisien.

DAFTAR PUSATAKA

Azhar, Arsyad 2003. Media Pembelajaran., Jakarta : Raja Grafindo.

Abror, abd Rachman, 1993. Psikologi Pendidikan, Yoyakarta : Tiaraa Wacana Yogya.

Drs. Winarno, M . Sc.  Drs. R. Eko Djuniarto, SE. M. Si. Perencanaan Pembelajaran.

Drs.Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. dan Drs. Aswan Zain . 2019. Strategi Belajar

Dr. Rusman, M.Pd. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Erlangga 2004. Terampil Berhitung Matematika SD Kelas VI

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112. (2012) Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan

Profesi Guru dalam Jabatan . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Permendiknas No.22 Tahun 2006. Standar Isi untuk Satuan Penidikan Dasar danMenengah. Jakarta : Mendiknas.

Purwanto, N . 2002. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. PT. Remaja Rosdakarya, Jakarta.

Purwanto. Ngalim, MP. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakrta : PT Remaja Rosdakarya

Sadirman, N . dkk. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar. Jakarta

Sadirman, N . dkk. 1991 Ilmu Pendidikan. Bandung, Remaja Rosdakarya.

Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: PT Bumi Aksara

Winataputra, Udin.S..dkk.2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka

Wardani I.G.A.K, dkk.2007. Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta : Universitas Terbuka

BIODATA PENELITI

Nama : Ngadiyono, S.Pd.

NIP : 19660608 199903 1 002

Pangkat/Gol Ruang : Pembina IV/ A

Jabatan : Guru Kelas

Unit Kerja : SD Negeri Cikakak 03 Kecamatan Banjarharjo Kabupaten Brebes

You cannot copy content of this page