Iklan

PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN BAGI GURU SD NEGERI SENGON 05 KECAMATAMN TANJUNG MELALUI SUPERVISI KLINIS SEMESTER I TAHUN 2018/2019

Siti Maeni, S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi masih rendahnya kompetensi profesioanl guru dalam pembelajaran di kelas. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kompetensi profesional dalam proses pembelajaran bagi guru SDN Sengon 05 Tanjung”? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dalam proses pembelajaran pada guru SD N Sengon 05 melalui Supervuisi Klinis. Penelitian ini dilakukan pada semester I tahun 2017, dengan mengambil subyek penelitian guru kelas di SD Negeri Sengon 05 yang berjumlah 8 orang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan sekolah, dengan melakukan dua tindakan dalam dua siklus. Tiap Siklus terdiri dari empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Supervisi Klinis dapat meningkatkan kompetensi profesinal guru dalam proses pembelajaran di SD Negeri Sengon 05 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes.

Kata Kunci : Profesional,Supervisi Akademik, Supervisi Klinis,Pembimbingan Profesional

Latar Belakang

Dari hasil pengamatan peneliti selaku kepala sekolah di Sekolah Dasar Negeri Sengon 05 Tanjung menunjukan bahwa masih banyak guru yang belum memahami proses pembelajaran yang sesuai dengan standar proses, sebagaimana diamanatkan dalam peraturan Mendiknas Nomor 41 tahun 2007 yaitu tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Dari delapan orang guru ada tujuh orang yang proses pembelajaranya masih salah belum melaksanakan langkah-langkah pembelajaran dengan benar dan sistematis, padahal sudah diberi penjelasan bahwa dalam proses pembelajaran harus memenuhi standar proses.

Proses pembelajaran yang tidak tepat menjadi salah satu penyebab kurang optimalnya prestasi pembelajaran siswa, kurang tepatnya guru menerapkan pembelajaran dan kurang kreatif dalam menyampaikan pelajaran, kurang kesiapan guru dalam proses belajar mengajar, siswa kurang tertarik terhadap guru dan mata pelajaran yang diajarkan, karena guru kurang kreatif dalam menyampaikan pelajaran, dan tidak menggunakan model pembelajaran dan tidak menggunakan media yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa.

Dengan demikian, guru tersebut perlu diadakan supervisi. Supervisi merupakan tugas pokok kepala sekolah. Kepala sekolah wajib memberikan supervisi untuk meningkatkan kompetensi profesional guru, supervisi yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah supervisi klinis, dengan ciri untuk memberlakukan supervisi klinis bagi guru muncul ketika guru tidak harus disupervisi atas keinginan kepala sekolah sebagai supervisor tetapi atas kesadaran guru datang ke supervisor untuk minta bantuan mengatasi masalahnya.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama ini, peneliti berusaha mencari alternatif dengan supervisi klinis bagi guru untuk meningkatkan kompetensi profesional dalam proses pembalajaran. Dengan supervisi klinis diharapkan minimal 6 dari 8 guru dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilanya dalam proses pembelajaranya. Dengan meningkatnya profesionalisme guru dalam pembelajaran akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Identifikasi Masalah

Penulis mengetahui dari hasil refleksi dan hasil pengamatan yang diperoleh, maka peneliti mendiskusikan dengan teman sejawat yaitu para guru untuk mengungkapkan identifikasi kelemahan dari proses pembelajaran yang dilaksanakan guru SDN Sengon 05 Tanjung sebagai berikut:

  1. Guru belum benar dalam melaksanakan proses pembelajaran
  2. Guru kurang optimal dalam memanfaatkan media pembelajaran
  3. Media pembelajaran yang digunakan guru tidak menarik
  4. Pemilihan metode pembelajaran kurang bervariasi
  5. Guru terlalu cepat dalam menjelaskan suatu materi
  6. Guru kurang memotivasi siswa
  7. Guru lebih aktif dengan metode ceramah yang didominasi selama pelajaran
  8. Guru kurang memberi contoh
  9. Guru belum menggunakan model pembelajaran secara variatif

Dari data/hal-hal yang terkait dengan masalah pembelajaran, peneliti menfokuskan masalah yang akan diatasi melalui penelitian tindakan sekolah adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan guru.

Pembatasan Masalah

Dari hasil permasalahan yang timbul dari guru tidak semuanya dibahas dalam karya tulis ini, penulis hanya membatasi masalah dalam penelitian ini sebagai :

  • Melaksanakan supervisi klinis untuk meningkatkan profesionalisme guru
  • Guru profesional dalam melaksanakan pembelajaran
  • Melaksanakan supervisi klinis untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran di SDN Sengon 05 Tanjung

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah tersebut ,maka dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut “Apakah melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kompetensi profesional dalam proses pembelajaran bagi guru SDN Sengon 05 Tanjung”

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Untuk meningkatkan kemampuan kompetensi profesional dalam proses pembelajaran bagi guru

Tujuan Khusus

  • Untuk meningkatkan kemampuan profesional dalam proses pembelajaran bagi guru SD N Sengon 05 Tanjung
  • Untuk mengetahui kemampuan dan keterampilan dalam proses pembelajaran bagi guru SD N Sengon 05 Tanjung

Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

Peneliti/kepala sekolah: akan meningkatkan kompetensi profesional dan mengetahui kondisi guru dalam proses pembelajaran guna pembinaan dan pembimbingan secara terus menerus.

Bagi guru :

  1. Meningkatkan kompetensi profesional dalam melaksanakan proses pembelajaran
  2. Meningkatkan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah yang teramati melalui peningkatkan prestasi belajar siswa
  3. Menjadi bahan pembelajaran rekan pendidik dalam menyeimbangkan input pembelajaran perolehan siswa selama mengenyam pendidikan, baik input keilmuan maupun input keimanan; dengan kata lain integrasi iman dan ilmu.
  4. Menjadi referensi bagi penelitian serupa

Kajian Pustaka

Pengertian profesional

Profesional guru dalam Undang-Undang No.14 tahun 2005 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih ,menilai dan mengevaluasi peserta didik.

Guru yang profesional harus memiliki kompetensi khususnya kompetensi profesional sebagaimana telah dijelaskan diatas. Kompetensi profesional antar lain kemampuan menyusun merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang memenuhi standar.

Prinsip Pembimbingan Profesional

Pembimbingan hendaknya diarahkan pada pelayanan profesional sehingga guru memilikki kesempatan mengembangkan diri agar lebih mampu melaksanakan tugas pokok sehari-hari yaitu :

  1. Meningkatkan kemampuan perencanaan pelaksanaan pembelajaran
  2. Meningkatkan kemampuan melaksanakan proses pembelajaran ,
  3. Meningkatkan kemampuan menilai proses dan hasil belajar,
  4. Meningkatkan kemempuan menciptakan,memanfaatkan,dan menggunakan alat peraga,sumber belajar dan media pelajaran,
  5. Meningkatkan kemampuan membimbing dan melayani siswa yang mengalami kesulitan belajar dan memerlukan pengayaan,,
  6. Meningkatkan kemampuan mengelola dan mengadministrasi kegiatan belajar.

Jadi pada prinsipnya bahwa pembimbingan profesional harus dapat memberikan bantuan pelayanan kepada guru untuk meningkatkan kompetensi dan memberikan hasil yang baik

Supervisi Klinis

Ide untuk memberlakukan supervisi klinis bagi guru muncul ketika guru tidak harus disupervisi atas keinginan kepala sekolah sebagai supervisor tetapi atas kesadaran guru untuk datang ke supervisor untuk minta bantuan mengatasi masalahnya. Kepala sekolah sebagai supervisor akademik seyogyanya memiliki pengetahuan dan menguasai penerapan supervisi klinis (Kemendikbud: 2017).

Teknik Supervisi Klinis

Supervisi klinis, mula-mula diperkenalkan dan dikembangkan oleh Cogan, Goldhammer, dan Weller di Universitas Harvard. Ada dua asumsi yang mendasari praktik supervisi klinik:

  1. Pengajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis secara berhati-hati, melalui pengamatan dan analisis ini supervisor pengajaran akan mudah mengembangkan kemampuan guru mengelola proses pembelajaran.
  2. Guru-guru yang kompetensi profesional ingin dikembangkan lebih menghendaki cara yang kolegial dari pada cara yang outoritarian (Sergiovanni, 1987).

Supervisi klinis adalah pembinaan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran (Sullivan & Glanz, 2005). Sedangkan menurut Cogan (1973), kegiatan pembinaan performansi guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Menurut Sergiovanni (1987) ada dua tujuan supervisi klinis: pengembangan profesional dan motivasi kerja guru serta memperbaiki proses pembelajaran yang kurang efektif.

Tujuan khusus supervisi klinis adalah sebagai berikut:

  1. Menyediakan umpan balik yang obyektif terhadap guru, mengenai pengajaran yang dilaksanakannya.
  2. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran.
  3. Membantu guru mengembangkan keterampilannya menggunakan strategi pengajaran.
  4. Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya.
  5. Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan.

Pelaksanaan Supervisi Klinis

Langkah-langkah supervisi klinis terdiri dari tiga tahap esensial yang berbentuk siklus, yaitu:

  1. Tahap pertemuan awal,
  2. Tahap observasi mengajar, dan
  3. Tahap pertemuan balikan ( Kemendikbud :2017)

Penelitian yang Relevan

Penelitian jenis ini belum peneliti temukan dalam referensi adanya penelitian tentang supervisi klinis dalam proses pembelajaran. Tetapi penelitian yang berjudul “ Kompetensi Guru dalam proses Pembelajaran Berbasis Pendidikan Karakter Mangsa Melaului Supervisi Klinis“ pernah diteliti oleh Sr.Margaretha, SSpS. S.Pd Kepala SMA Katolik Bhaktyarsa Maumere tahun 2011

Kerangka Berpikir Penelitian

Supaya pengetahuan dan ketrampilan guru dalam proses pembelajaran dapat meningkat perlu dilakukan suatu tindakan yang tepat dalam penelitian ini dilakukan tindakan dengan kerangka berfikir sebagai berikut :

Mengetahui kondisi awal. Guru pada saat mengajar belum diadakan supervisi klinis pada kemampuan dan ketrampilan dalam proses pembelajaran rendah.

Guru pada saat mengajar setelah diadakan supervisi klinis kemampuan dan ketrampilan dalam proses pembelajaran pada siklus pertama meningkat, belum semua guru aktif

Guru pada saat mengajar setelah diadakan supervisi klinis peneliti dibantu oleh kolaborator (guru senior) kemampuan dan ketrampilan dalam proses pembelajaran pada siklus kedua meningkat, semua guru aktif. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema kerangka berfikir sebagai berikut:

Gambar 1 Skema Kerangka Berfikir Penelitian

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori di atas, maka disusun hipotesis penelitian tindakan Sekolah sebagaiberikut : diduga melalui supervisi klinis dapatmeningkatkan kompetensi profesionaldalam proses pembelajaran bagi guru SDNegeri Sengon 05 Tanjung padasemester 1 tahun pelajaran 2017/2018.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Waktu Penelitia Penelitian dilaksanakan pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Sengon 05 Tanjung.

Penelitian dilaksanakan di tempat tersebut dengan alasan peneliti bekerja di sekolah tersebut sehingga akan tersedia banyak waktu dan kesempatan dalam melakukan penelitian.

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah semua guru SDN Sengon 05 berjumlah 8 orang guru

Sumber Data

Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini berupa sumber primer yang berasal dari subyek. Terdapat tiga data yaitu data kondisi awal, data siklus I dan data siklus II

Teknik dan Alat Pengumpul Data

Teknik Pengumpulan Data

  1. Teknik pemberian angket ; untuk mengumpulkan data tentang kemampuan profesional guru dalam proses pembelajaran
  2. Teknik observasi : untuk mengumpulkan data tentang ketrampilan guru dalam proses pembelajaran
  3. Teknik dokumentasi : untuk mengumpulkan data tentang kondisi awal

Alat Pengumpulan Data

  1. Pengamatan dalam pembelajaran
  2. Lembar angket
  3. Dokumen

Validasi Data

Kondisi awal guru diketahui dari proses pembelajaran sebelum dikenai tindakan penelitian. Proses pembelajaran tersebut diperoleh melalui hasil pengamatan dan studi dokumenter. Hasil pengamatan dalam proses pembelajaran yang digunakan untuk mengetahui kondisi awal tersebut dipersiapkan bersama antara guru senior sebagai kolaborator dan peneliti dalam proses pembelajaran

Kondisi akhir diketahui dari proses pembelajaran guru pada akhir siklus I dan akhir siklus II. Hasil proses pembelajaran tersebut diperoleh melalui lembar pengamatan yang dibuat oleh guru senior sebagai kolaborator dan peneliti. Lembar pengamatan tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan dicobakan pada sekolah lain yang tidak dikenai tindakan penelitian.

Analisis Data

  1. Data tentang profesionalisme guru dalam proses pembelajaran diperoleh melalui observasi dan angket dilakukan analisis diskriptif kualitatif.
  2. Data tentang profesionalisme guru dalam pembelajaran yang diperoleh dari hasil pengamatan dan dokumen dilakukan analisis diskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai pada kondisi awal dengan kondisi setelah dilakukan Penelitian Tindalan Sekolah.

Indikator Kinerja

Indikator Proses

Proses pelaksanaan supervisi dengan model klinis dianggap berhasil apabila :

  1. Tim kerja Penelitian Tindakan Sekolah terbentuk sebelum penelitian dilaksanakan.
  2. Instrumen yang akan dipergunakan dalam penelitian telah dilakukan try out sehingga validitas dan reliabilitasnya terjamin.
  3. Telah dipersiapkan Rencana Supervisi Akademik yang memungkinkan terjadinya Supervisi Klinis.
  4. Proses supervisi yang dilaksanakan peneliti sesuai dengan rencana supervisi akademik yang dipersiapkan.
  5. Guru memiliki catatan mengenai proses pembelajaran yang dilaksanakan.

Indikator Hasil

    1. Penelitian dapat terlaksana sesuai dengan jadwal yang telah disusun
    2. Adanya peningkatan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran.
    3. Adanya peningkatan profesionalisme yang dicapai guru yang ditunjukkan dari hasil penilaian proses pembelajaran setelah penelitian lebih baik dari pada sebelum penelitian.
    4. Dapat ditemukan kendala-kendala pelaksanaan proses pembelajaran dengan penerapan supervisi akademik model klinis
    5. Dapat ditemukan saran-saran yang menunjang keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran dengan menerapkan model supervisi klinis dalam peningkatan profesionalisme guru

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan sekolah tentang penerapan supervisi klinis dalam peningkatan profesionalisme guru ini didisain dengan model Kemmis dan Mcx Taggart. Dipilihnya model Kemmis & Mc Taggart ini karena komponen tindakan dan pengamatan dijadikan satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan observing merupakan dua tindakan yang tidak terpisahkan, artinya harus dilakukan dalam satu kesatuan waktu. Adapun desainnya sebagai berikut.

Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua siklus sebagai berikut :

Siklus I

Perencanaan

Dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah, peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat untuk mengungkapkan dan memperjelas masalah yang peneliti hadapi Untuk mencari jalan keluar yang tepat sampai diperoleh ketrampilan guru dalam proses pembelajaran. Membuat rencana supervisi klinis untuk siklus I pada proses pembelajaranuntuk diterapkan pada guru SD N Sengon 05 Tanjung. Menyiapkan alat dan materi yang di perlukan dakam supervisi Menyusun lembar observasi sebagai panduan bagi observer dalam mengobservasi dalam pelaksanaan supervisi klinis. Menyusun format pengamatan.

Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melaksanakan proses pembimbingan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1). Menjelaskan kegiatan supervise klinis tentang peningkatan kompetensi dalam proses pembelajaran yang sesuai standar.

2). Mengadakan pembimbingan proses pembelajaran.

3). Berdiskusi antara peneliti dan guru.

4). Menarik kesimpulan.

Hasil yang dicapai oleh peneliti pada saat pengamatan proses pembelajaran, dan observasi. Maka langkah-langkah berikutnya dianalisis oleh peneliti dan kolaborasi dengan cara berdiskusi dan berkoordinasi agar hasil yang diperoleh bersifat obyektif. Hasil diskusi dan kolaborasi digunakan untuk perencanaan, melaksanakan dan merefleksi pada siklus kedua.

Pengamatan

Hasil yang dicapai oleh peneliti , laporan hasil penilaian proses pembelajarn, dan observasi. Maka langkah-langkah berikutnya dianalisis oleh peneliti dan kolaborasi dengan cara berdiskusi dan berkoordinasi agar hasil yang diperoleh bersifat obyektif. Hasil diskusi dan kolaborasi digunakan untuk perencanaan, melaksanakan dan merefleksi pada siklus kedua.

Refleksi

Setelah pelaksanaanproses pembelajaran berakhir, peneliti dan teman sejawat berdiskusi dan menganalisa yang telah di laksanakan.

Dari hasil pengamatan kemudian diskusi diperoleh kekurangan dan kelebihan sebagai berikut:

  • Guru kurang memahami proess pembelajarn
  • Siswa pasif dalam mengikuti pelajaran
  • Guru perlu melaksanakan psoses pembelajaran yang benar

Siklus II

Perencanaan

  • Dalam mengidentifikasi masalah dan merumuskan masalah, peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat untuk mengungkapkan dan memperjelas masalah yang peneliti hadapi untuk mencari jalan keluar yang tepat sampai diperoleh prestasi yang memuaskan.
  • Membuat rencana proses pembelajarn untuk siklus II.
  • Menganalisa proses pembelajaran siklus II dengan bantuan teman sejawat.

Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan perbaikan proes pembelajaran siklus II

Menjelaskan kegiatan supervise klinis dalam proses pembelajaran yang sesuai standar.

Mengadakan pembimbingan proses pembelajaran.

Berdiskusi antara peneliti, guru dan teman sejawat.

Menarik kesimpulan.

Hasil yang dicapai oleh peneliti pada saat pengamatan proses pembelajaran, dan observasi. Maka langkah-langkah berikutnya dianalisis oleh peneliti dan kolaborasi dengan cara berdiskusi dan berkoordinasi agar hasil yang diperoleh bersifat obyektif. Proses pembelajaran sudah benar sesuai dengan standar.

Pengamatan

Selama proses pembelajaran siklus II berlangsung, peneliti dibantu teman sejawat mengamati proses pembelajaran guru.Hasil yang dicapai oleh peneliti , Dari hasil penilaian proses pembelajarn, dan observasi. Maka langkah-langkah berikutnya dianalisis oleh peneliti dan kolaborasi dengan cara berdiskusi dan berkoordinasi agar hasil yang diperoleh bersifat obyektif. Hasil diskusi dan kolaborasi digunakan untuk merefleksi pada siklus kedua.

Refleksi

Setelah pelaksanaan pembelajaran siklus II berakhir, peneliti dan teman sejawat berdiskusi dan menganalisa proses pembelajaran yang telah di laksankan. Hasil yang dicapai oleh kelas berupa nilai tes, hasil pengamatan proses proses pembelajaran. Maka langkah selanjutnya dianalisisoleh peneliti bersama kolaborasi melalui diskusi agar hasil yang diperoleh lebih obyektif. Dengan menggunakan tringulasi sumber dan waktu.Hasil refleksi pada siklus-2 dapat digunakan untuk merefleksi diri: Apakah tindakan yang dilakukan telah diperoleh hasil yang sesuai dengan yang diinginkan, yaitu adanya peningkatan kompetensiprofesional dalam proses pembelajaran melalui supervise klinis ?

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Diskripsi Kondisi Awal.

Sebelum tindakan penelitian dilaksanakan penulis mengadakan wawancara/ Tanya jawab dan pengamatan dengan guru SD Negeri Sengon 05 tentang proses pembelajaran yang selama ini berjalan. Berdasarkan wawancara/ Tanya jawab dan pengamatan pada umumnya guru belum melaksanakan proses pembelajaran sebagaimana yang diharapkan Permen No.41/2007 tentang Standar Proses.

Berdasarkan hasil valuasi atas proses pembelajan guru SD Negeri Sengon 05 Tanjung diketahui dari 8 orang guru yang mendapat niai amat baik belum ada 2 orang, nilai cukup 4 orang, nilai kurang 2 orang, nilai gagal tidak ada, untuk lebih mudahnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2 Hasil Penilaian Kinerja Kondisi Awal

Skor Kategori Jumlah %
80-100 Baik Sekali 0 0 %
66-79 Baik 2 25%
56-65 Cukup 4 50%
40-55 Kurang 2 25%
0-35 Gagal 0 0 %
Jumlah 8 100%

Hasil evaluasi kondisi sebelum penelitian dalam bentuk grafik dapat disajikan dalam diagram di bawah ini:

Gambar 2 Grafik Hasil Penilaian Kinerja Kondisi Awal

Berkaitan dengan hal tersebut, perlu diadakan tindakan untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran disekolah

Diskripsi Tiap Siklus

Siklus I

Perencanaan Tindakan

Sebelum pelaksanaan tidakan, peneliti melakukan persiapan :

  • Menyusun jadwal dan materi yang akan diberikan dalam supervisi klinis.
  • Menyusun instumen penelitian yang meliputi observasi, penugasan dan pedoman wawancara
  • Menyediakan tempat yang akan digunakan untuk memberikan pengarahan, diskusi dan tempat pemeriksaan dokumen

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan selama tiga kali pertemuan yaitu tanggal, 17, 19 dan 26 Juli 2017 jam 10.00 s/d 12.00 WIB

Pada pertemuan pertama guru SD Negeri Sengon 05 Tanjung diberi pengarahan tentang pentingnya melaksanakan proses pembelajaran yang benar sesuai dengan Permen No.41/2007 tentang Standar Proses dan langkah –langkah pembelajaran yang benar. Dalam pengarahan ini peneliti menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi. Pada akhir pertemuan setiap guru diberi tugas rumah untuk membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) hasilnya untuk dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.

Pada pertemuan kedua semua guru secara bergiliran mempresetasikan RPP yang dibuatnya. Setiap guru harus menjawab pertanyaan atau menanggapi masukan atau saran dari guru lain. Presentasi ditutup dengan menyimpulkan materi diskusi yang telah dilaksanakan. Pada akhir pertemuan peneliti menugaskan kepada gru untuk melajsanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang dibuat hasil diskusi dengan para guru.

Pertemua ketiga, guru menyampaikan kepada peneliti tentang kendala, hambatan dan masalah yang dihadapi guru pada saat pelaksanaan proses pembelajaran. Peneliti memberi umpan balik yang obyektif terhadap guru, mengenai pengajaran yang dilaksanakannya. Peneliti mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran yang dihadapi guru, membantu guru mengembangkan keterampilannya menggunakan strategi pengajaran, membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional guru.

Pencapaian Kinerja Tindakan

Setelah diadakan pembinaan oleh kepala sekolah dalam rangka peningkatan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran maka hasil valuasi atas proses pembelajan guru SD Negeri Sengon 05 Tanjung diketahui dari 8 orang guru yang mendapat niai amat baik belum ada nilai baik 4 orang, nilai cukup 4 orang, nilai kurang tidak ada, nilain gagal tidak ada dapat dilihat pada tabel 3 berikut :

Tabel 3 Hasil Penilaian Kinerja Siklus 1

Skor Kategori Jumlah %
80-100 Baik Sekali 0 0 %
66-79 Baik 4 50%
56-65 Cukup 4 50%
40-55 Kurang 0 0 %
0-35 Gagal 0 0 %
Jumlah 8 100%

Dari tabel hasil evaluasi siklus 1 dapat dilihat bahwa guru yang mencapai nilai 80 ke atas belum ada 0%. Sedang 4 guru atau 50% mendapat nilai 66-79,4 guru yang lain atau 50% mendapat nilai 56-65 sedagkan yang mendapat nilai 55 kebawah tidak ada 0%.

Hasil evaluasi siklus dalam bentuk grafik dapat disajikan dalam diagram di bawah ini:

Gambar 3 Grafik Hasil Penilaian kinerja Siklus 1

Hasil Refleksi

Setelah diadakan pembinaan profesionalisme guru pada siklus I dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:

  1. Guru belum memanfaatkan alat peraga secara efektif.
  2. Penggunaan metode dalam pembelajaran kurang bervariasi.
  3. Guru kurang memberikan motivasi.

Dari data yang diperoleh di atas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pada siklus I masih menujukkan tingkat profesaionalisme guru SD Negeri Sengon 05 dalam proses pembelajaran masih rendah. Hasil evaluasi yang diperoleh dari guru baru 4 guru yang mencapai nilai baik dan 4 orang guru lainya mencapai nilai cukup, belum ada satu orang gurupun yang mencaai nilai amat baik. Oleh sebab itu perlu dilaksanakan siklus II

Siklus II

Perencanaan Tindakan

Teridentifikasi masalah dan rumusan masalah.

  1. Tersusunnya rencana tidakan yang menitik beratkan pada penggunaan metode diskusi dan tanya jawab sehingga guru mampu menyampaikan mareti pelajaran secara profesional.
  2. Terbuatnya lembar pengamatan/lembar observasi. Peneliti menyusun lembar pengamatan yang digunakan sebagai panduan bagi observer dalam pelaksanaan perbaikan proses pembelajaran.
  3. Tersedianya media /alat peraga alat pembelajaran yang sesuai.

Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tidakan siklus II dilaksanakan pada minggu pertama dan kedua bulan Agustus 2017 tanggal 2, 7 dan 10 Agustus 2017 Pada pertemuan pertama guru SD Negeri Sengon 05 Tanjung diberi pengarahan sebagai tindak lanjut dari hasil evaluasi siklus Itentang proses pembelajaran yang belum sesuai dengan Permen No.41/2007 tentang Standar Proses dan langkah –langkah pembelajaran yang benar. Dalam pengarahan ini peneliti menggunakan metode ceramah, Tanya jawab dan diskusi. Pada akhir pertemuan setiap guru diberi tugas rumah untuk membuat RPP hasilnya untuk dipresentasikan pada pertemuan berikutnya

Pada pertemuan kedua peneliti didampingi guru senior semua guru secara bergiliran mempresetasikan RPP yang dibuatnya. Setiap guru harus menjawab pertanyaan atau menanggapi masukan atau saran dari guru lain. Presentasi ditutup dengan menyimpulkan materi diskusi yang telah dilaksanakan. Pada akhir pertemuan peneliti menugaskan kepada gru untuk melajsanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang dibuat hasil diskusi dengan para guru.

Pertemua ketiga, guru menyampaikan kepada peneliti tentang kendala, hambatan dan masalah yang dihadapi guru pada saat pelaksanaan proses pembelajaran. Peneliti memberi umpan balik yang obyektif terhadap guru, mengenai pengajaran yang dilaksanakannya. Peneliti mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran yang dihadapi guru, peneliti enyapaikan perkembangan yang dialami guru dalam pembelajaran dengan kata lain peningkatan profesional yang dialami guru.

Pencapaian Kinerja Tindakan

Setelah diadakan supervisi klinis pada siklus II oleh kepala sekolah selaku peneliti dalam rangka peningkatan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran maka hasil valuasi atas proses pembelajan guru SD Negeri Sengon 05 Tanjung diketahui dari 8 orangguru yang mendapat niai amat baik ada 1 orang guru nilai baik 6 orang, nilai cukup 1 orang, nilai kurang tidak ada, nilain gagal tidak ada dapat dilihat pada tabel 4 berikut :

Tabel 4 Hasil Penilaian Kinerja Guru Siklus II

Skor Kategori Jumlah %
80-100 Baik Sekali 1 12,5 %
66-79 Baik 6 75%
56-65 Cukup 1 12,5%
40-55 Kurang 0 0 %
0-35 Gagal 0 0 %
Jumlah 8 100%

Dari tabel hasil evaluasi siklus II dapat dilihat bahwa guru yang mencapai nilai 80 ke atas ada 1 orang 12.5%. Sedang 6 guru atau 75% mendapat nilai 66-79,1 guru yang lain atau 12,5% mendapat nilai 56-65 sedagkan yang mendapat nilai 55 kebawah tidak ada 0%.

Hasil evaluasi siklus dalam bentuk grafik dapat disajikan dalam diagram di bawah ini:

Gambar 4. Grafik Hasil Penilaian Kinerja Siklus II

Hasil Refleksi

Penulis melakukan renungan atas kegagalan dan keberhasilan selama proses pembelajaran. Ternyata keberhasilan suatu proses pembelajaran bergantung pada persiapan, pelaksanaan dan evaluasi yang dilakukan oleh guru. Dari proses pembelajaran dicukupkan pada siklus II.

Pembahasan Tiap dan Antar Siklus

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kondisi awal, siklus I dan siklus II terbukti bahwa proses pembelajaran memerlukan kompetensi yang tinggi dari seorang guru, banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan suatu pembelajaran. Namun yang paling menentukan adalah kehadiran seorang guru, semakin profesional seorang guru maka guru dalam mengajar semakin berhasil Oleh sebab itu peningkatan profesionalisme guru perlu terus ditingkatkan. Apabila hasil penilaian kinerja disajikan dari data tersebut dalam bentuk tabel dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5 Peningkatan Penilaian Kinerja sebelum siklus, siklus I dan siklus II

No Uraian Sangat Baik Baik Cukup Kurang Total
Frek % Frek % Frek % Frek % Frek %
1 Pra Siklus 0 0 2 25 4 50 2 25 8 100
2 Siklus 1 0 0 4 50 4 50 0 0 8 100
3 Siklus 2 1 12,5 6 75 1 12,5 0 0 8 100

Dari tabel diatas, dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Kondisi awal, dari 8 guru nilai kinerja guru yang mendapat nilai sangat baik 0 sama dengan 0%, yang mendapat nilai baik 2 orang guru atau 25 %, yang mendapat nilai cukup 4 orang guru atau 50%, masih ada dua guru yang mendapat nilai kurang atau sama dengan 25 %.
  2. Pada siklus I, dari 8 guru nilai kinerja guru yang mendapat nilai sangat baik 0 sama dengan 0%, yang mendapat nilai baik 4 orang guru atau 50 %, yang mendapat nilai cukup 4 orang guru atau 50%, guru yang mendapat nilai kurang 0 atau sama dengan 0 %.
  3. Pada siklus II, dari 8 guru nilai kinerja guru yang mendapat nilai sangat baik 1 sama dengan 12,5%, yang mendapat nilai baik 6 orang guru atau 75 %, yang mendapat nilai cukup 4 orang guru atau 50%, guru yang mendapat nilai kurang 0 atau sama dengan 0 %.

Apabila disajikan dalam bentuk grafik nilai kinerja guru SDN Sengon 05 Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes

Gambar 6. Grafik Peningkatan Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Hasil Penelitian

Dari beberapa kajian teori mengenai proses pembelajaran, yang paling menentukan adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran itu meliputi cara memilih strategi, metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran.

Berdasarkan kajian teori maka hasil penelitian secara teoritik dapat dirumuskan sebagai berikut : Melalui supervise klinis dapat ditingkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran bagi guru SDN Sengon 05 Tanjung pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018.

Siklus I

Dalam proses pembelajaran kurang berhasilnya guru dalam kegiatan pembelajaran dalam siklus I sudah menunjukkan adanya peningkatan perbaiakan proses pembelajaran guru. Hal tersebut terbukti bahwa sebelum siklus I guru yang memperoleh nilai kinerja guru dari 8 guru dari 2 guru atau 25 %,pada pra siklus, pada siklus I guru yang memperoleh nilai kinerja baik ada 4 guru atau 50 %. Hal ini berarti ada peningkatan sekitar 25 %.

Siklus II

Pada supervisi klinis siklus II, dari 8 guru nilai kinerja guru yang mendapat nilai sangat baik 1 sama dengan 12,5%, yang mendapat nilai baik 6 orang guru atau 75 %, yang mendapat nilai cukup 4 orang guru atau 50%, guru yang mendapat nilai kurang 0 atau sama dengan 0 %.

PENUTUP

Kesimpulan.

Kesimpulan Secara Teoritik

Berdasarkan kajian teori maka kesimpulan secara teoritik dapat dirumuskan sebagai berikut : Melalui supervise klinis dapat ditingkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran bagi guru SDN Sengon 05 Tanjung pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018.

Kesimpulan Secara Empirik

Dengan dilaksanakan supervise klinis dapat ditingkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran bagi guru SDN Sengon 05 Tanjung pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018, terbukti nilai kinerja guru pada tes awal sebelum dilaksanakan supervise klinis yang memperoleh nilai kinerja guru dari 8 guru, yang mendapat nilai sangat baik 0, nilai baik ada 2 guru atau 25 %, nilai cukup ada 4 guru atau 50 %, nilai kurang ada 2 guru atau 25 %,

Pada siklus I guru yang mendapat nilai sangat baik 0, yang memperoleh nilai kinerja baik ada 4 guru atau 50 %. nilai cukup ada 4 guru atau 50 %, yang mendapat nilai kurang tidak ada guru atau 0 %,

Pada siklus II guru yang mendapat nilai sangat baik 1 atau 12,5 %, yang memperoleh nilai kinerja baik ada 6 guru atau 75 %. nilai cukup ada 1 guru atau 12,5 %, yang mendapat nilai kurang tidak ada guru atau 0 %,

Hal ini berarti ada peningkatan yang signifikan nilai kinerja guru bila dibandingkan antara nilai pra silkus dan nilai siklus II setelak diadakan penelitian tindakan sekolah dari 0 % menjadi 12,5 % yang mendapat nilai sangat baik, dari 2 oran guru menjadi 6 orang guru atau dari 25 % menjadi 75 % yang mendapat nilai hal itu berarti ada peningkatan 50 %.

Saran-saran

Berdasarkan pengalaman selama pelaksanaan penelitian tindakan sekolah di SD Negeri Sengon 05 Tanjung pada semester 1 ini, maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut :

  1. Kepala Sekolah hendaknya melakukan supervise secara rutin baik superfisi Classroom visitation, Observation Visits maupun Individual meeting
  2. Bagi kepala sekolah dengan menggunakan supervise klinis lebih meningkatkan profesionalisme guru dan ketrampilan sosial mengingat mengingat masyarakat kita majemuk.

DAFTAR PUSTAKA

Dyah Budiarsih, ( 2011 ) Kemampuan Menyusun PTS melalui Pembimbingan Kepala Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Widyatama. Volume Nomor 8, Mei 2011. Semarang : LPMP.

Glickman, C.D., Gordon, S.P., and Ross-Gordon, J.M. 2007. Supervision and Instructional Leadership A Development Approach. Seventh Edition. Boston: Perason.

Sullivan, S. & Glanz, J. 2005. Supervision that Improving Teaching Strategies and Techniques. Thousand Oaks, California: Corwin Press.

Sullivan, S & Glanz, J. 2005. Supervision that ImprovesTeaching Strategies and Techniques. Thousand Oaks, California: Corwin Press.

Supervisi Akademik dalam peningkatan profesionalisme guru. 2006. Kompetensi Supervisi Kepala Sekolah Pendidikan Dasar. Direktorat Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK Depdiknas.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta : Depdiknas

Margaretha, (2011)Kompetensi Guru Dalam Proses Pembelajaranerbasis Pendidikan Karakter Bangsa Melalui Supervisi Akademik, P4TK Jugjakarta

BIODATA PENELITI

Nama : Siti Maeni, S.Pd.

NIP : 19730115 199703 2 006

Pangkat, Gol/Ruang : Pembina, IV a

Jabatan : Kepala Sekolah

Lokasi Penelitian : SD Negeri Sengon 05 ,

Kecamatan/Kabupaten: Kec. Tanjung. Kab. Brebes

You cannot copy content of this page