Iklan

PENINGKATAN KOMPETENSI MENYUSUN SOAL PILIHAN GANDA BERBASIS HOTS MELALUI SUPERVISI KLINIS BAGI GURU KELAS V DI DABIN 1 KOORWILCAM DINDIKBUD BOBOTSARI PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Oleh: Tri Wibowo, S.Pd, M.Pd.

ABSTRAK

Realitas menunjukkan bahwa penilaian berbasis HOTS menjadi salah satu kesulitan yang dialami oleh para guru. Berdasarkan hasil supervisi, guru di Koorwilcam Dindikbud Bobotsari belum mampu menyusun soal HOTS dengan baik. Tujuan penelitian secara khusus adalah untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru di Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda melalui tindakan supervisi klinis oleh pengawas. Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2020/2021 di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dan subjek penelitiannya adalah guru kelas V. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus dan tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi. Indikator kinerjanya adalah: 1) Nilai atau skor rata-rata kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda sebesar 27, 2) nilai rata-rata Supervisi klinis yang dilakukan peneliti sebesar 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan supervisi klinis oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda. Hal ini dibuktikan dengan naiknya skor kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda maupun pelaksanaan supervisi klinis pada tiap tahap penelitian. Kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda pada kondisi awal sebesar 17,1 meningkat menjadi 22,9 pada akhir Siklus I dan meningkat lagi menjadi 30,1 pada akhir Siklus II. Total kenaikan sebesar 13 poin atau 37,1%. Pelaksanaan supervisi klinis dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 20 pada Siklus I dan 25,5 pada Siklus II, sehingga total kenaikan sebesar 25,5 poin atau 85%. Hasil akhir pada Siklus II melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis tindakan yang menyatakan: “Supervisi klinis oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda bagi guru kelas V di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2020/2021”, terbukti benar.

Kata kunci: kompetensi, supervisi klinis, HOTS, soal pilihan ganda.

Latar Belakang Masalah

Guru dalam kapasitasnya sebagai seorang profesional di bidang pendidikan dituntut memiliki kompetensi yang memadai dalam mengelola pembelajaran, khususnya dalam melaksanakan evaluasi atau penilaian hasil pembelajaran. Kompetensi dalam melaksanakan evaluasi bersifat dinamis karena sistem penilaian terus berkembang dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan kurikulum. Standar penilaian sesuai Kurikulum 2013 yang sekarang berlaku salah satunya berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skill). Model ini menilai apakah peserta didik sudah memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasikan.

Realitas menunjukkan bahwa penilaian berbasis HOTS menjadi salah satu kesulitan yang dialami oleh para guru, seperti dijumpai di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari. Berdasarkan hasil supervisi rutin, diperoleh temuan bahwa para guru dalam menyusun soal umumnya masih mengukur kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS atau Lower Order Thinking Skill). Permasalahan tersebut mendorong peneliti selaku Pengawas untuk melakukan penelitian tindakan sekolah guna meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS. Selama ini pembinaan yang menyangkut penyusunan soal HOTS belum dilakukan secara intensif. Dalam perkembangan terkini, situasi pandemi Covid-19 yang terjadi pada saat menjadikan waktu dan intensitas guru dalam mengelola pembelajaran agak berkurang karena pembelajaran dilakukan secara daring. Kondisi tersebut dapat memberikan iklim yang kondusif untuk melaksanakan pembinaan secara lebih intensif untuk meningkatkan kompetensi guru, khususnya kompetensi dalam menyusun soal berbasis HOTS.

Landasan Teori

Hamalik (2001) menyatakan bahwa seorang pendidik harus mengetahui dan memahami sejauh mana keberhasilan dalam pengajaran yang telah dilakukan, untuk memperbaiki serta mengarahkan pelaksanaan proses belajar mengajar, dan untuk memperoleh keputusan tersebut maka diperlukanlah sebuah proses evaluasi dalam pembelajaran atau yang disebut juga dengan evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran adalah evaluasi terhadap proses belajar mengajar.

Istilah evaluasi belajar sering pula disebut dengan penilaian. Menurut Panduan Teknis Penilaian di Sekolah Dasar (Dirjen Pendidikan Dasar, 2013) penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian menjadi sangat penting karena penilaian merupakan alat untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran. Begitu pentingnya penilaian, maka idealnya seorang guru harus benar-benar memahami dan juga mampu menerapkan berbagai penilaian yang harus dilakukan di kelas, sehingga keberhasilan pembelajaran dapat terukur dengan tepat.

Terkait kompetensi guru dalam penilaian, Permendiknas No. 16 Tahun 2007 menyebutkan kompetensi guru SD/MI antara lain: 1) memahami prinsip-prinsip penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar sesuai dengan karakteristik lima mata pelajaran SD/MI; 2) menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang penting untuk dinilai dan dievaluasi sesuai dengan karakteristik lima mata pelajaran SD/MI; 3) menentukan prosedur penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar; 4) mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar; 5) mengadministrasikan penilaian proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan mengunakan berbagai instrumen; 6) menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk berbagai tujuan; 7) melakukan evaluasi proses dan hasil belajar.

HOTS merupakan suatu proses berpikir peserta didik dalam level kognitif dan taksonomi pembelajaran seperti metode problem solving, taksonomi Bloom, dan taksonomi pembelajaran, pengajaran, dan penilaian. Tujuan utama dari HOTS adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016).

Soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite) (Kemendikbud, 2018: 10). Kriteria soal HOTs diantaranya: (1) mengukur kemampuan tingkat tinggi dengan meminimalkan aspek ingatan atau pengetahuan dengan ciri-ciri memaksimalkan kemampuan menemukan, menganalisis, menciptakan metode baru, merefleksi, memprediksi, berargumen, dan mengambil keputusan yang tepat, (2) berbasis permasalahan kontekstual, (3) stimulus menarik, dan (4) tidak bersifat rutin baik pada ilustrasi atau pertanyaannya (Awaliyah, 2018).

Menurut Widana (2017) karakteristik soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai bentuk penilaian kelas sebagai berikut:

1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi

Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning) dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).

2. Berbasis permasalahan kontekstual

Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.

3. Membangun bentuk soal beragam

Bentuk soal yang dapat digunakan untuk menulis butir soal HOTS (yang digunakan pada model pengujian PISA), adalah: Pilihan ganda, Pilihan ganda kompleks (benar/salah, atau ya/tidak), Isian singkatan atau melengkapi, Jawaban singkat atau pendek, Uraian.

Menurut Keith Acheson dan Meredith D. Gall (dalam Maunah, 2009), supervisi klinis adalah proses membantu guru memperkecil ketidaksesuaian (kesenjangan) antara tingkah laku mengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal. Sedangkan Richard Waller (dalam Purwanto, 2010), mendefinisikan supervisi klinis sebagai perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan mengadakan modifikasi yang rasional.

Menurut Acheson dan Gall (dalam Maunah, 2009), supervisi mempunyai tujuan umum memberi tekanan pada proses pembentukan dan pengembangan profesional dengan maksud memberi respons terhadap kebutuhan guru yang berhubungan dengan tugasnya. Tujuan supervisi klinis adalah:

  1. Menyediakan umpan balik yang objektif terhadap guru, mengenai pengajaran yang dilaksanakan.
  2. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran.
  3. Membantu guru mengembangkan keterampilannya menggunakan strategi pengajaran.
  4. Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya.
  5. Membantu guru dalam mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan.

Hipotesis Tindakan

Supervisi klinis oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda bagi guru kelas V di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2020/2021

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2020/2021 di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dan subjek penelitiannya adalah guru kelas V. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus dan tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi. Indikator kinerjanya adalah: 1) Nilai atau skor rata-rata kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda sebesar 27, 2) nilai rata-rata Supervisi klinis yang dilakukan peneliti sebesar 22.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Guna mengungkap data awal tentang kompetensi guru Di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda maka peneliti melakukan penilaian awal tentang kompetensi tersebut. Penilaian ini dilakukan sebelum dilakukannya tindakan melalui supervisi klinis. Adapun hasil penilaiannya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Kondisi Awal Kompetensi Guru dalam Menyusun Soal HOTS Pilihan Ganda Sebelum Penelitian Tindakan

No. Kode

Guru

Indikator &

Skor Penilaian

Jml
Ind-1 Ind-2 Ind-3 Ind-4 Ind-5 Ind-6 Ind-7
1. G-1 2 3 3 2 3 2 3 18
2. G-2 3 2 2 2 3 2 2 16
3. G-3 2 3 2 3 2 2 3 17
4. G-4 2 3 3 2 2 2 2 16
5. G-5 3 3 2 3 3 3 3 20
6. G-6 2 2 3 2 3 2 2 16
7. G-7 2 2 3 3 2 2 3 17
Jumlah 16 18 18 17 18 15 18 120
Rerata 2.3 2.6 2.6 2.4 2.6 2.1 2.6 17.1

Data pada Tabel 4.1 menunjukkan rendahnya kompetensi guru di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda. Hal tersebut dibuktikan dengan nilai rata-rata yang hanya mencapai 17,1 dan nilai tersebut termasuk dalam kategori kurang.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil pengamatan pada siklus I penelitian dapat dilihat dalam Tabel berikut ini.

Tabel 4.2 Hasil Penilaian Peneliti tentang Kompetensi Guru dalam Menyusun Soal HOTS Pilihan Ganda pada Siklus I Penelitian

No. Kode

Guru

Indikator & Skor Penilaian Jml
Ind-1 Ind-2 Ind-3 Ind-4 Ind-5 Ind-6 Ind-7
1. G-1 3 3 4 3 4 2 4 23
2. G-2 3 3 3 3 4 3 3 22
3. G-3 3 3 4 3 3 4 3 23
4. G-4 3 3 4 3 3 3 3 22
5. G-5 4 4 3 3 4 4 4 26
6. G-6 3 3 3 3 3 3 3 21
7. G-7 3 3 4 3 3 3 3 22
Jumlah 22 22 25 21 24 22 23 159
Rerata 3.1 3.1 3.6 3.0 3.4 3.1 3.3 22.7

Sementara penilaian kolaborator tentang kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda pada Siklus I Penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3 Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kompetensi Guru dalam Menyusun Soal HOTS Pilihan Ganda pada Siklus I Penelitian

No. Kode

Guru

Indikator & Skor Penilaian Jml
Ind-1 Ind-2 Ind-3 Ind-4 Ind-5 Ind-6 Ind-7
1. G-1 3 3 3 3 3 4 3 22
2. G-2 3 3 3 3 4 4 3 23
3. G-3 3 4 4 3 3 4 3 24
4. G-4 3 3 3 3 3 3 3 21
5. G-5 4 4 4 3 4 3 4 26
6. G-6 3 4 3 4 3 3 3 23
7. G-7 4 3 4 3 3 3 3 23
Jumlah 23 24 24 22 23 24 22 162
Rerata 3.3 3.4 3.4 3.1 3.3 3.4 3.1 23.1

Berdasarkan data tersebut di atas, diketahui bahwa nilai rata-rata kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda pada siklus I penelitian adalah sebesar 22,9 yang termasuk dalam kategori cukup.

Tindakan peneliti dalam melakukan supervisi klinis pada siklus I dinilai oleh kolaborator dan salah satu subjek penelitian. Adapun hasil penilaiannya adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4 Hasil Pengamatan terhadap Tindakan Supervisi Klinis yang Dilakukan Peneliti pada Siklus I Penelitian

No. Pengamat Skor Rata-

rata

Kategori
1. Kolaborator 20 20 Cukup Baik
2. Subjek penelitian 20

Berdasarkan data pada Tabel 4.4 diketahui bahwa nilai pengamatan pelaksanaan supervisi klinis dari kolaborator sebesar 19, sedangkan dari salah satu subjek penelitian juga sebesar 20. Jadi rata-ratanya sebesar 20 yang termasuk dalam kategori cukup baik.

Tabel 4.5 Rata-rata Data Awal dan Siklus I Penelitian

No. Data

Penelitian

Data Awal Siklus I Skor

Kenaikan

%

Kenaikan

1. Kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda 17,1 22,9 5,8 16,6
2. Supervisi klinis 0 20 20 66,7

Berdasarkan data pada tabel tersebut dapat diketahui bahwa data awal rata–ratanya adalah 17,1 (kategori kurang), sementara untuk hasil tindakan pada Siklus I diperoleh rata–rata sebesar 22,9 (kategori cukup). Jadi kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda mencapai kenaikan skor sebesar 5,8 atau 16,6% dan pelaksanaan supervisi klinis mencapai skor 20 atau 66,7%.

Berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus I, maka penelitian belum berhasil mencapai kinerja keberhasilan dalam penelitian ini. Oleh sebab itu tindakan dilanjutkan ke Siklus II. Hasil refleksi pada siklus I juga menjadi masukan untuk memperbaiki tindakan pada siklus II sehingga tindakan supervisi klinis bisa lebih baik dan diharapkan kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda juga meningkat.

Deskripsi Siklus II Penelitian

Hasil pengamatan pada siklus II penelitian dapat dilihat dalam Tabel berikut ini.

Tabel 4.6 Hasil Penilaian Peneliti tentang Kompetensi Guru dalam Menyusun Soal HOTS Pilihan Ganda pada Siklus II Penelitian

No. Kode

Guru

Indikator & Skor Penilaian Jml
Ind-1 Ind-2 Ind-3 Ind-4 Ind-5 Ind-6 Ind-7
1. G-1 4 4 4 4 4 3 4 27
2. G-2 4 4 4 4 5 4 4 29
3. G-3 4 4 5 4 4 5 4 30
4. G-4 4 4 4 4 4 5 4 29
5. G-5 5 5 4 5 5 5 5 34
6. G-6 4 4 5 4 4 5 4 30
7. G-7 4 5 4 4 4 4 4 29
Jumlah 29 30 30 29 30 31 29 208
Rerata 4.1 4.3 4.3 4.1 4.3 4.4 4.1 29.7

Tabel 4.7 Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kompetensi Guru dalam Menyusun Soal HOTS Pilihan Ganda pada Siklus II Penelitian

No. Kode

Guru

Indikator & Skor Penilaian Jml
Ind-1 Ind-2 Ind-3 Ind-4 Ind-5 Ind-6 Ind-7
1. G-1 4 4 4 5 4 4 4 29
2. G-2 4 4 4 4 5 4 4 29
3. G-3 4 4 5 4 5 5 4 31
4. G-4 4 4 5 4 5 4 4 30
5. G-5 5 5 5 5 5 5 5 35
6. G-6 4 4 4 4 4 5 4 29
7. G-7 4 5 4 4 5 4 4 30
Jumlah 29 30 31 30 33 31 29 213
Rerata 4.1 4.3 4.4 4.3 4.7 4.4 4.1 30.4

Berdasarkan data pada Tabel 4.6 dan 4.7, diketahui bahwa nilai rata-rata kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS adalah sebesar 30,1 yang termasuk dalam kategori baik dan bahkan mendekati kategori amat baik.

Tabel 4.8 Hasil Pengamatan terhadap Tindakan Supervisi Klinis yang Dilakukan Peneliti pada Siklus II Penelitian

No. Pengamat Skor Rata-

rata

Kategori
1. Kolaborator 25 25,5 Baik sekali
2. Subjek penelitian 26

Berdasarkan data pada Tabel 4.4, diketahui bahwa nilai rata-ratanya adalah sebesar 25,5 yang termasuk dalam kategori baik sekali. Hasil ini menunjukkan bahwa tindakan supervisi klinis yang dilakukan peneliti dinilai dapat berjaan dengan baik dan memberi dampak positif dalam meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda.

Tabel 4.9 Rata-rata Siklus I dan Siklus II Penelitian

No. Data Penelitian Siklus I Siklus II Skor Kenaikan % Kenaikan
1. Kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda 22,9 30,1 7,2 20,6
2. Supervisi klinis 20 25,5 5,5 18,3

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda mencapai kenaikan skor sebesar 7,2 atau 20,6% dan skor pelaksanaan supervisi klinis meningkat sebesar 5,5 poin atau 18,3%. Untuk pelaksanaan supervisi klinis oleh peneliti secara umum dapat dikatakan sudah berjalan baik, yang dibuktikan dengan skor rata-rata sebesar 25,5 yang termasuk dalam kategori baik sekali.

Berdasarkan hasil-hasil yang dicapai pada siklus II, maka penelitian tindakan ini dinyatakan berhasil karena hasilnya sudah memenuhi indikator kinerja dalam penelitian ini.

Pembahasan

Berdasarkan hasil tindakan pada Siklus I dan II penelitian dapat diketahui bahwa kompetensi guru dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda mengalami peningkatan, yaitu dari data awal sampai akhir Siklus II adalah sebesar 13 poin atau 37,1%. Sementara pelaksanaan supervisi klinis dari awal sampai Siklus II meningkat sebesar 25,5 atau 85%.

Tabel 4.10 Rata-rata Data Awal, Akhir Siklus I dan Akhir Siklus II

No. Data Penelitian Data Awal Siklus

I

Siklus II Total Kenaikan % Kenaikan
1. Kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda 17,1 22,9 30,1 13 37,1
2. Supervisi klinis 0 20 25,5 25,5 85

Uraian data tersebut di atas menunjukkan bahwa penelitian tindakan sekolah ini dapat dinyatakan berhasil karena terjadi peningkatan skor pada kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda dan tindakan supervisi klinis pada tiap siklus penelitian, yang berarti ada hasil positif dari tindakan supervisi klinis terhadap kompetensi guru. Dengan kata lain, kompetensi guru di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda terus berkembang.

5. Hasil Tindakan

Dari data hasil penelitian dapat diketahui bahwa tindakan supervisi klinis oleh peneliti berhasil meningkatkan kompetensi guru di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda. Kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda pada kondisi awal sebesar 17,1 meningkat menjadi 22,9 pada akhir Siklus I dan meningkat lagi menjadi 30,1 pada akhir Siklus II. Total kenaikan sebesar 13 poin atau 37,1%. Pelaksanaan supervisi klinis dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 20 pada Siklus I dan 25,5 pada Siklus II, sehingga total kenaikan sebesar 25,5 poin atau 85%.

Berpijak pada hasil-hasil yang dicapai tersebut, hipotesis tindakan dalam penelitian ini yang menyatakan: “Supervisi klinis oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda bagi guru kelas V di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2020/2021”, terbukti benar. Tindakan yang dilakukan peneliti melalui dua siklus penelitian secara nyata telah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kompetensi guru Di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda. Hal itu terlihat jelas melalui kenaikan skor kompetensi yang dicapai pada tiap siklus penelitian.

Simpulan

Tindakan pembinaan melalui supervisi klinis oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi guru di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda. Hal ini dibuktikan dengan naiknya skor kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda maupun pelaksanaan supervisi klinis pada tiap tahap penelitian. Kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda pada kondisi awal sebesar 17,1 meningkat menjadi 22,9 pada akhir Siklus I dan meningkat lagi menjadi 30,1 pada akhir Siklus II. Total kenaikan sebesar 13 poin atau 37,1%. Pelaksanaan supervisi klinis dalam menyusun soal HOTS pilihan ganda oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 20 pada Siklus I dan 25,5 pada Siklus II, sehingga total kenaikan sebesar 25,5 poin atau 85%. Hasil akhir pada Siklus II melampaui indikator kinerja dalam penelitian tindakan ini, yaitu: 1) Nilai atau skor rata-rata kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda sebesar 30,1 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 27, dan 2) Nilai rata-rata supervisi klinis yang dilakukan peneliti adalah 25,5 yang lebih besar dari indikator kinerja sebesar 22. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis tindakan yang menyatakan: “Supervisi klinis oleh pengawas sekolah dapat meningkatkan kompetensi menyusun soal HOTS pilihan ganda bagi guru kelas V di Dabin 1 Koorwilcam Dindikbud Bobotsari pada semester I tahun pelajaran 2020/2021”, terbukti benar.

DAFTAR PUSTAKA

Awaliyah, Siti. 2018. “Penyusunan Soal HOTS Bagi Guru PPKn dan IPS Sekolah Menengah Pertama”. Jurnal Praksis dan Dedikasi Sosial, Volume 1 Nomor 1 April 2018.

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Hamid, Abd. 2016. “Implementasi Kompetensi Guru Dalam Evaluasi Pembelajaran Pada Madrasah Aliyah Al-Balad Kamande”. Jurnal Alif, Vol. 1 No. 1.

Kemendikbud. 2018. Buku Penilaian Berorientasi pada Higher Order Thinking Skills: Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi. Jakarta: Kemendikbud.

Kemendikbud. 2013. Panduan Teknis Penilaian di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar.

Maunah, Binti. 2009. Supervisi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras

Permendiknas No. 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru.

Purwanto, Ngalim. 2010. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Saputra, Hatta. 2016. Pengembangan Mutu Pendidikan Menuju Era Global: Penguatan Mutu Pembelajaran dengan Penerapan HOTS (Higher Order Thinking Skill). Bandung: SMILE’s Publishing.

Widana, I Wayan. 2017. Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skill (HOTS). Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA Ditjen Dikdasmen.

Biodata Penulis

Nama : Tri Wibowo, S.Pd, M.Pd.

Unit Kerja : DINDIKBUD Bobotsari

By admin

You cannot copy content of this page