Iklan

PENINGKATAN KOMPETENSI MENYELENGGARAKAN PEMBELAJARAN TUNTAS DENGAN SUPERVISI AKADEMIK PENDEKATAN KOLABORATIF PADA GURU SD NEGERI BRANI 02 SEMESTER I KECAMATAN SAMPANG KABUPATEN CILACAP TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Oleh : Slamet Riyadi, S.Pd.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas supervisi akademik pendekatan kolaboratif dalam rangka untuk meningkatan kompetensi guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas. Hasil tinjauan teori yang relevan membuahkan hipotesis tindakan yang berbunyi: ”Supervisi akademik pendekatan kolaboratif efektif untuk meningkatan kompetensi guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas.” Penelitian ini didesain sebagai Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang terdiri dari tiga siklus tindakan, pada setiap siklus tindakan dibagi ke dalam empat kali pertemuan tatap muka. Subjek penelitian ini terdiri dari (1) subjek tindakan, yakni peneliti sendiri selaku Kepala Sekolah SD Negeri Brani 02 yang menerapkan supervisi akademik pendekatan kolaboratif; (2) subjek penelitian, yang terdiri dari tujuh orang guru SD Negeri Brani 02yang berupaya meningkatkan kompetensi mereka dalam memahami dan meningkatkan keterampilan penyelenggaraan pembelajaran tuntas. Objek penelitian ini adalah (1) pelaksanaan supervisi akademik pendekatan kolaboratif; (2) kemampuan guru dalam meningkatkan kompetensi dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas; dan (3) kemandirian dan kreativitas guru dalam pembelajaran. Data dikumpulan dengan metode pengamatan, yang dilaksanakan melalui instrumen lembar pengamatan. Data dianalisis dengan metode statistik deskriptif. Keberhasilan tindakan diukur dengan kriteria yang telah ditetapkan, yakni semua aktivitas tindakan dinyatakan berhasil > 80% guru mencapai rata-rata kategori nilai sebesar > 4 dengan kriteria bagus atau sangat bagus. Hasil penelitian menyatakan bahwa supervisi akademik pendekatan kolaboratif efektif untuk meningkatan kompetensi guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas, yang ditunjukkan dengan data 100% guru mencapai rata-rata kategori nilai sebesar 5 dengan kriteria sangat bagus. Dari segi proses tindakan, penelitian ini telah mampu meningkatkan kemampuan guru-guru SD Negeri Brani 02 dalam bersikap terbuka dan menjalin hubungan dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik. Dari segi hasil tindakan, penelitian ini telah mampu meningkatkan kompetensi guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas.

Kata kunci: Kompetensi Guru, Pembelajaran Tuntas, Supervisi Akademik Pendekatan Kolaboratif

PENDAHULUAN

Pembelajaran tuntas (mastery learning) adalah pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu. Dalam model yang paling sederhana, dikemukakan bahwa jika setiap peserta didik diberikan waktu sesuai dengan yang diperlukan untuk mencapai suatu tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu yang diperlukan, maka besar kemungkinan peserta didik akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi.

Harapan dari proses pembelajaran dengan pendekatan belajar tuntas adalah untuk mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar. prinsip-prinsip utama pembelalaran tuntas adalah (1) Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis, (2) Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback; (3) Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan; (4) Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal.

Peneliti sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri Brani 02, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap melihat guru-guru di SD Negeri Brani 02 masih amat memerlukan peningkatan pemahaman yang lebih luas tentang penyelenggaraan pembelajaran tuntas.

Di samping itu, dalam kompetensi guru bidang kepribadian paedagogik disebutkan bahwa guru harus memiliki sikap terbuka terbuka dan menjalin hubungan dengan teman sejawat, dengan indikator (1) mampu beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik; (2) mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran; (3) mampu mengkomunikasikan hasil-hasil inovasi pembelajaran kepada komunitas profesi sendiri secara lisan dan tulisan maupun bentuk lain.

Peneliti sebagai Kepala sekolah di SD Negeri Brani 02, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap melihat guru-guru di SD Negeri Brani 02 masih amat memerlukan peningkatan kemampuan untuk bersikap terbuka dan menjalin hubungan dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik.

KAJIAN PUSTAKA

Pembelajaran Tuntas

Menurut Dirjen Dikdasmen (2007: 12) disebutkan bahwa Pembelajaran Tuntas adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu.

Dari pendapat di atas, penulis menyimpulkan kandungan yang terdapat dalam pengertian pembelajaran tuntas adalah (1) pembelajaran merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas seluruh standar kompetensi maupun kompetensi dasar mata pelajaran tertentu; (2) strategi belajar tuntas menganut pendekatan individual, dalam arti meskipun kegiatan belajar ditujukan kepada sekelompok peserta didik (klasikal), tetapi mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan peserta didik sedemikiah rupa, sehingga dengan penerapan pembelajaran tuntas memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing peserta didik secara optimal; (3) harapan dengan dilaksanakannya pembelajaran tuntas adalah mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar dengan memberikan kualitas pembelajaran yang lebih sesuai, bantuan, serta perhatian khusus bagi peserta didik yang lambat agar menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar; (4) kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis, (5) evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback; (6) Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan bagi pesetta didik yang lambat; (7) Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal.

Supervisi Akademik Pendekatan Kolaboratif

Dalam Keputusan Mendiknas No. 162/13/2003 tentang Pedoman Penugasan Guru sebagai Kepala sekolah disebutkan bahwa salah satu tugas Kepala sekolah adalah sebagai supervisor, yaitu melaksanakan supervisi terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh guru dan staf sekolah. Tujuan utama supervisi akademik adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Supervisi kolaboratif adalah supervisi mengenai pembelajaran yang dilaksanakan antara Kepala sekolah selaku supervisor dan guru selaku penyelenggara pembelajaran, secara bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kriteria dalam melaksanakan proses pemecahan masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran (Piet A. Sahertian, 2006: 49)

Kerangka Berpikir

Peneliti sebagai Kepala SD Negeri Brani 02 menghadapi permasalahan (1) pemahaman guru-guru dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas masih kurang; (2) komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik masih kurang.

Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti selaku Kepala Sekolah memerlukan strategi, pendekatan, metode dan teknik pembinaan terhadap guru secara efektif dan efisien. Secara lebih spesifik dapat dikatakan bahwa strategi, pendekatan, metode dan teknik pembinaan tersebut harus sesuai dengan dua konteks sebagai berikut: (1) sesuai dengan konteks permasalahan peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas ; (2) sesuai dengan konteks permasalahan peningkatan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik.

Dalam rangka mencari dan menentukan strategi, pendekatan, metode dan teknik pembinaan yang tepat dengan konteks permasalahan, peneliti mengadakan investigasi terhadap karakteristik subjek-subjek permasalahan, studi kepustakaan dan berkonsultasi dengan pihak-pihak yang berkompeten, akhirnya memutuskan untuk menggunakan supervisi akademik pendekatan kolaboratif .

Secara singkat, supervisi akademik pendekatan kolaboratif dapat dimengerti sebagai model pembinaan guru dalam bidang akademik yang dilaksanakan dengan cara mengondisikan antarsesama guru untuk saling bekerja sama, baik antara guru dengan guru maupun antarguru dengan Kepala sekolah, dengan tujuan untuk saling mendorong peningkatan mutu profesi pendidik.

Diasumsikan supervisi akademik pendekatan kolaboratif efektif untuk meningkatkan pemahaman guru-guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas; sekaligus meningkatkan mutu komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik.

Hipotesis Tindakan

”Supervisi akademik pendekatan kolaboratif diduga dapat meningkatkan kompetensi guru-guru SD Negeri Brani 02 dalam penyelenggaraan pembelajaran tuntas.”

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sepanjang kurun waktu Semester I tahun pelajaran 2020/2021.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di SD Negeri Brani 02, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Sekolah ( PTS )

Subjek Penelitian

No Tugas/ Jabatan Nama
1 Kepala sekolah SLAMET RIYADI, S.Pd.
2 Guru Kelas I AGUS RIYANTI, S.Pd.
3 Guru Kelas II ENDANG WAHYUNI, S.Pd.SD
4 Guru kelas III SLAMET RIYADI
5 Guru kelas IV LUJI KASWATI, S.Pd.SD
6 Guru Kelas V YATIMAH, S.Pd.
7 Guru Kelas VI ANZAS PRASASTI, S.Pd.SD
8 Guru PAI YOKY SATRIO ARIWIBOWO, S.Pd.I
9 Guru PJOK AMIR WUSONO ALIM, S.Pd.

Sumber Data

Data yang peneliti peroleh bersumber dari :

  1. Proses Supervisi Akademik dengan menerapkan Pendekatan Kolaboratif Pada Guru SD Negeri Brani 02 Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2020/2021.
  2. Sumber data arsip atau dokumen dalam Supervisi Akademik dengan menerapkan Pendekatan Kolaboratif Pada Guru SD Negeri Brani 02 Sampang Semester I Tahun Pelajaran 2020/2021.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data tentang yakni (1) penggunaan pendekatan kolaboratif dalam supervisi akademik (2) kompetensi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas; dan (3) keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik,. dikumpulkan dengan metode pengamatan, dengan instrumen lembar pengamatan.

Analisis Data

Semua data yang diperoleh, dianalisis dengan teknik statistik kuantitatif deskriptif

Indikator Kinerja / Kriteria Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah:

  1. Penggunaan pendekatan kolaboratif dalam supervisi akademik dinyatakan berhasil apabila pada siklus III mencapai skor rata-rata 4 atau lebih dengan kualifikasi baik atau sangat baik.
  2. Kompetensi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas dinyatakan berhasil apabila pada siklus III mencapai skor rata-rata 4 atau lebih dengan kualifikasi baik atau sangat baik.
  3. Keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik dinyatakan berhasil apabila pada siklus III mencapai skor rata-rata 4 atau lebih dengan kualifikasi baik atau sangat baik.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini didesain sebagai penelitian tindakan sekolah (PTS), yang dilaksanakan dalam beberapa rangkaian kegiatan tindakan yang dilaksanakan di SD Negeri Brani 02.

Secara garis besar penelitian ini terdiri dari 3 siklus, dan setiap siklus terdiri dari empat pertemuan. Siklus tindakan didesain dengan empat tahap, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap pengamatan dan tahap refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal

Kekurangmampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran tuntas secara terperinci tampak pada guru kurang mampu :(1) menjabarkan atau memecah kompetensi dasar ke dalam satuan-satuan (unit-unit) yang lebih kecil dengan memperhatikan pengetahuan prasyaratnya; (2) mengembangkan indikator berdasarkan standar kompetensi /kompetensi dasar; (2) menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk yang bervariasi; (3) memonitor seluruh pekerjaan peserta didik; (4) menyediakan sejumlah alternatif strategi pembelajaran bagi peserta didik yang mengalami kesulitan; (5) menyelenggarakan ulangan untuk melihat ketuntasan setiap kompetensi dasar; (6) menganalisis dan mengadakan tindak lanjut melalui program remedial dan program pengayaan; (7) menyelenggarakan ulangan yang mencakup aspek kognitif dan psikomotor; (8) mengukur aspek afektif dengan kegiatan inventori afektif berupa pengamatan dan kuesioner.

Hasil Tindakan pada Siklus I

Nilai rerata hasil upaya peningkatan kompetensi dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas baru menunjukkan skor 2,200,. jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 2 orang, daya serap menunjukkan angka 13%.

Mengingat semua skor tersebut belum mencapai kriteria keberhasilan, maka dapat dikatakan bahwa upaya peningkatan kompetensi guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas pada siklus I belum mencapai hasil.

Nilai rerata hasil peningkatan mutu keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik baru menunjukkan skor 2,200. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 2 orang, daya serap menunjukkan angka 13%.

Mengingat semua skor tersebut belum mencapai kriteria keberhasilan, maka dapat dikatakan bahwa upaya peningkatan mutu keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik pada siklus I belum mencapai hasil.

Nilai rerata hasil pendekatan kolaboratif menunjukkan skor 2,200. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 2 orang, daya serap menunjukkan angka 13%.

Berdasarkan data tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa dikarenakan penggunaan pendekatan kolaboratif pada siklus I belum berjalan sebagaimana mestinya, dan upaya peningkatan mutu keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik belum mencapai hasil, maka menyebabkan upaya peningkatan kompetensi guru SD Negeri Brani 02 dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas belum berhasil.

Hasil evaluasi pelaksanaan pendekatan kolaboratif yang tertuang pada lampiran jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan metode ini kurang diapresiasi oleh guru. Pada siklus II peneliti mengupayakan agar pelaksanaan pendekatan kolaboratif dapat diparesiasi oleh guru, antara lain dengan cara (1) meningkatkan penjelasan mengenai pengertian dan manfaatnya; (2) menjelaskan langkah-langkahnya secara lebih sederhana, dan (3) meningkatkan fasilitas pelaksanaannya agar lebih kondusif bagi semua guru.

Hasil Tindakan pada Siklus II

Nilai rerata hasil upaya peningkatan kompetensi dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas baru menunjukkan skor 2,800. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 4 orang, Daya serap menunjukkan angka 27%. Semua skor tadi sudah menunjukkan peningkatan bila dibandingkan pada siklus I, walau masih di bawah kriteria keberhasilan.

Nilai rerata hasil peningkatan mutu keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik pada siklus II menunjukkan skor 3,467. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 6 orang, dan daya serap menunjukkan angka 40%. Semua skor tersebut masih di bawah kriteria keberhasilan, namun sudah lebih baik bila dibandingkan pada siklus I.

Nilai rerata hasil peningkatan pendekatan kolaboratif baru menunjukkan skor 3,400. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 6 orang, daya serap mencapai angka 40%. Semua skor sudah menunjukkan peningkatan bila dibanding pada siklus I, namun masih di bawah kriteria keberhasilan.

Hasil evaluasi pelaksanaan pendekatan kolaboratif yang tertuang lampiran jelas menunjukkan bahwa pelaksanaan metode ini masih kurang diapresiasi oleh guru. Pada siklus III peneliti mengupayakan agar pelaksanaan pendekatan kolaboratif dapat diparesiasi oleh guru, antara lain dengan cara (1) lebih meningkatkan penjelasan mengenai pengertian dan manfaatnya; (2) lebih meningkatkan menjelaskan mengenai langkah-langkahnya, dan (3) lebih meningkatkan fasilitas pelaksanaannya agar makin kondusif bagi semua guru.

Hasil Tindakan pada Siklus III

Nilai rerata hasil upaya peningkatan kompetensi dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas baru menunjukkan skor 5,000 posisi ini sudah di atas kriteria keberhasilan sebesar 4. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 15, daya serap menunjukkan angka 100%.

Nilai rerata hasil peningkatan mutu keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik menunjukkan skor 5,000. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 15 orang, daya serap menunjukkan angka 100%.

Nilai rerata hasil peningkatan mutu pendekatan kolaboratif baru menunjukkan skor 5,000. Jumlah subjek yang mampu meraih skor 4 ada 15 orang, daya serap menunjukkan angka 100%.

Dengan mencermati semua skor pencapaian yang dapat diraih pada siklus III, maka hasil tindakan pada siklus III sudah mencapai sasarannya, keberhasilan itu ditunjukkan dengan terlampauinya kriteria keberhasilan. Hal ini mengandung arti bahwa untuk proses pembinaan berikutnya perlu diupayakan tindakan yang berkesinambungan, dan diperluas kepada tindakan pembinaan pada aspek-aspek yang lain.

Pembahasan

Rekapitulasi analisis hasil evaluasi yang tertuang pada tabel berikut ini menunjukkan hal itu.

Komponen Siklus
I II III
Nilai Rerata 2,429 2,857 5,000
Kriteria Keberhasilan 4,000 4,000 4,000
Jml subjek dg skor > 4 2 4 15
Daya Serap 13% 27% 100%

Tabel 4.10 Rekapitulasi Analisis Hasil Evaluasi Upaya Peningkatan Kompetensi Guru dalam Menyelenggarakan Pembelajaran Tuntas Siklus I, II dan III

Komponen Siklus
I II III
Nilai Rerata 2,429 3,571 5,000
Kriteria Keberhasilan 4,000 4,000 4,000
Jml subjek dg skor > 4 2 6 15
Daya Serap 13% 40% 100%

Tabel 4.11 Rekapitulasi Analisis Hasil Evaluasi Upaya Peningkatan Mutu Keterampilan Komunikasi Guru dengan Teman Sejawat dalam Rangka Meningkatkan Efektivitas Sebagai Pendidik Siklus I, II dan III

Komponen Siklus
I II III
Nilai Rerata 2,000 3,429 5,000
Kriteria Keberhasilan 4,000 4,000 4,000
Jml subjek dg skor > 4 2 6 15
Daya Serap 13% 40% 100%

Tabel 4.12 Rekapitulasi Analisis Hasil Evaluasi

Penggunaan Pendekatan kolaboratif Siklus I, II dan III

Peningkatan hasil upaya tindakan tersebut disebabkan oleh serangkaian tindakan yang diambil peneliti dalam menyikapi kekurangan-kekurangan yang masih terjadi pada siklus-siklus sebelumnya. Penyempurnaan demi penyempurnaan dalam semua aspek upaya telah membuahkan hasil tindakan yang mampu mencapai atau bahkan melebih kriteria keberhasilan.

PENUTUP

Kesimpulan

Permasalahan yang dihadapi peneliti sebagai Kepala SD Negeri Brani 02 pada awal tindakan adalah: masing kurangnya kompetensi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas, masih kurangnya keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik. Permasalahan tersebut diatasi dengan menyelenggarakan supervisi atau pembinaan dengan pendekatan kolaboratif.

Serangkaian tindakan yang terdiri dari tiga siklus membuahkan hasil-hasil yang dibahas pada bab IV. Hasil-hasil tersebut membuktikan bahwa kurangnya kompetensi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran tuntas, kurangnya keterampilan komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik, ternyata dapat diatasi dengan supervisi atau pembinaan pendekatan kolaboratif.

Keberhasilan tersebut dinyatakan secara signifikan atau meyakinkan, karena ditunjukkan oleh skor hasil evaluasi yang melampaui besarnya skor kriteria keberhasilan tindakan.

Saran

1. Kepada Rekan Guru.

a. Rekan guru disarankan agar menjadikan hasil penelitian untuk memperluas pemahaman mengenai pembSelajaran tuntas, dan melaksanakannya sebagai wujud peningkatan mutu pembelajaran secara akumulatif.

c. Disarankan pula hasil penelitian ini untuk memperkuat keyakinan dan merealisasikan kemampuan kolaboratif untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi.

e. Memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan kepuasan kinerja pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mutu komunikasi guru dengan teman sejawat dalam rangka meningkatkan efektivitas sebagai pendidik.

2. Kepada Rekan Kepala sekolah

a. Disarankan agar hasil penelitian ini digunakan untuk memperjelas dan mempermudah pelaksanaan fungsi evaluasi dan supervisi terhadap proses dan hasil belajar.

b. Hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk memperjelas objek evaluasi dan supervisi , sehingga menjadi lebih konkret dan objektif.

c. Hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pembanding untuk mempermudah pemilihan dan penggunaan strategi, metode, teknik dan pendekatan evaluasi dan supervisi terhadap pembelajaran.

d. Hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan untuk memudahkan penyusunan laporan hasil evaluasi dan supervisi sekaligus mempermudah perumusan dan penyusunan rencana tindak lanjut.

3. Kepada Instansi

a. Disarankan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memudahkan pencapaian standar kelulusan.

b. Disarankan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pertimbangan mempermudah monitoring pelaksanaan mutu pembelajaran.

c. Disarankan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mempermudah penyusunan peta permasalahan pendidikan.

d. Disarankan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mempermudah pengolahan hasil pelaksanan pembelajaran.

e. Disarankan agar hasil penelitian ini digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mempermudah penyusunan rencana tindak lanjut dan penentuan metode pembenahannya

DAFTAR PUSTAKA

Baedowi. (2013). Kepemimpinan Pembelajaran. Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala sekolah. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan. Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional

Dirjen Dikdasmen. (2007). Panduan Pengembangan Pembelajaran Tuntas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Ali Mudlofir. (2012). Pendidik Profesional. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kunandar. (2007). Guru Profesional : Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta : Rajagrafindo Persada.

Suyanto, 2013, Menjadi Guru Profesional strategi meningkatkan kualifikasi dan kualitas guru di Era Global, Jakarta : Erlangga

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005, Tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Depdiknas.

Dirjen Dikdasmen. (2007). Panduan Penyelenggaraan Belajar Tuntas. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Panji Reksa Hadinata. (2005). Hubungan kepemimpinan Kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru http://ilmiahmanajemen.blogspot.com/2008/10/1 hubungan kepemimpinan Kepala sekolah.html.

Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Depdiknas.

Piet A. Sahertian. (2006). Supervisi Klinik. Jakarta: Remadja Karya.

Siskandar (2003). Teknologi pembelajaran dalam kurikulum berbasis kompetensi. Makalah disajikan pada seminar nasional teknologi pembelajaran pada tanggal 22 – 23 Agustus 2003, di Yogyakarta

Suharsimi Arikunto. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta.

Vincent P. Costa. (2003). Supervisi Pembelajaran, Teori dan Praktik. Jakarta: Jenmars.

BIODATA PENULIS

Nama : Slamet Riyadi, S.Pd.

NIP : 19660403 198806 1 004

Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

Instansi : SD Negeri Brani 02 Korwil Bidang Pendidikan Kec. Sampang

You cannot copy content of this page