Iklan

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM PEMBUATAN RPP MELALUI BIMBINGAN INTENSIF DI SD NEGERI GUNUNGTELU 01 TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Suranto, S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian Tindakan Sekolah. Masalah yang menjadi fokus penelitian adalah kompetensi guru dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang jauh dari harapan, berdasarkan observasi yang diadakan kepala sekolah menunjukkan guru belum paham dalam menyusun RPP dan RPP yang dibuat guru belum lengkap hal ini mengakibatkan prestasi sekolah mengalami penurunan. Berdasarkan masalah tersebut, maka penelitian ini peneliti menerapkan bimbingan intensif dalam pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kompetensi guru dan prestasi sekolah. Penelitian dilakukan melalui proses pengkajian berdaur (PTS) yang meliputi empat tahapan yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (action), observasi (observation), dan refleksi (reflection). Dari hasil analisis data, diperoleh hasil proses bimbingan intensif yang tepat dan konsisten dalam dalam meningkatkan kompetensi guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran di SD Negeri Gunungtelu 01, selain itu hasil peningkatan kompetensi guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran meningkat setelah Proses bimbingan intensif di SD Negeri Gunungtelu 01 Tahun Pelajaran 2019/2020. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%

Kata Kunci : Bimbingan intensif, RPP , Kompetensi Guru.

PENDAHULUAN

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Pembuatan RPP (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.

Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan . Guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri maupun swasta) yaitu masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih lemah. Soal, skor, dan kunci jawaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian ( penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain yaitu beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini peneliti ketahui pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas). Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai kepala sekolah berusaha untuk memberi bimbingan intensif pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Pembuatan RPP harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Pembuatan RPP sangat penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

KAJIAN PUSTAKA

Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.

Jadi dapat disimpulkan standar Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen yang kait- mengait, yakni: 1) pengelolaan pembelajaran, 2) pengembangan profesi, dan 3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi tujuh kompetensi dasar, yaitu: 1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, 5) pengembangan profesi, 6) pemahaman wawasan kependidikan, dan 7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).

Pembuatan RPP

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Pembuatan RPP (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.

RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiap KD. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.

Bimbingan Intensif

Bernard dan Fullmer 1969 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com ) menyatakan, ”bahwa bimbingan dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri individu.” Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya. Menurut Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia,

”Bimbingan adalah petunjuk penjelasan cara mengerjakan sesuatu, tuntutan.”

Menurut Frank Parson. 1951 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com) “bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya.” Chiskon 1959 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com ) menyatakan, “bimbingan membantu individu untuk lebih mengenal berbagai informasi tentang dirinya sendiri.”

Dari beberapa pengertian bimbingan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat.

Supervisi Kependidikan

Suatu organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar apabila suatu organisasi memiliki manajemen yang baik. Proses pendidikan di sekolah (manajemen pendidikan) tidak dapat dilepaskan dari administrasi pendidikan atau administrasi sekolah. Administrasi secara umum tidak dapat digolongkan antara bidang yang satu dengan bidang yang lainnya seperti administrasi niaga, administrasi perusahaan, administrasi pendidikan, dan sebagainya.

Menurut buku pedoman administrasi dan supervisi pendidikan pada kurikulum 1975 dalam Sahertian (1985:3) “ administrasi pendidikan adalah usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber-sumber (personal maupun material) secar efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan, yang terdapat pada berbagai tingkat dan jenjang pendidikan.

Kerangka Pikir

Bagan 2.1 Bagan Kerangka Berfikir

Hipotesis Tindakan

  1. Proses pelaksanaan bimbingan intensif yang tepat dapat meningkatkan kompetensi guru dalam pembuatan RPP di SD Negeri Gunungtelu 01 Tahun Pelajaran 2019/2020
  2. Hasil peningkatan kompetensi guru dalam pembuatan RPP meningkat setelah diterapkan bimbingan intensif di SD Negeri Gunungtelu 01 Tahun Pelajaran 2019/2020.

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research) yang dilakukan oleh kepala sekolah di sekolah sendiri sebagai peneliti dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas dan kompetensi guru khususnya dalam pembuatan RPP yang menjadi tanggungjawabnya menjadi lebih baik

Lokasi Penelitian

Tempat penelitian dilaksanakan di di SD Negeri Gunungtelu 01 Kordinator Bidang Pendidikan Kecamatan Karangpucung Kabupaten Cilacap yang berlokasi di jalan Balai Desa Gunungtelu RT 03 RW 03 Desa Gunungtelu Kecamatan Karangpucung.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 sampai dengan Desember 2019 pada Tahun Pelajaran 2019/2020.

Subjek Penelitian

Subjek Penilitian ini adalah seluruh guru di SD Negeri Gunungtelu 01 yang berjumlah 8 orang.

Sumber Data

Data yang diambil dalam penelitian ini adalah hasil supervisi proses pembelajaran dan penilaian kinerja guru dengan meniktikberatkan pada kompetensi guru dalam pembuatan RPP yang dilakukan dengan program bimbingan intensif. Guru sebagai subjek penilitian merupakan sumber data yang akurat. Sumber data digunakan ketika supervisi PBM dan kinerja guru. Pelakasanaan pengambilan sumber data ketika dalam supervisi dan pembinaan di sekolah.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data yang diambil berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil supervisi guru, sedangkan data kualitatif berupa observasi tentang kompetensi guru dalam pembuatan RPP. Untuk mendapatkan data pada pelaksanaan penelitian tindakan sekolah, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

  1. Data hasil supervisi proses belajar mengajar
  2. Data hasil wawancara dan observasi kinerja guru

Validitas Data

Penelitian ini menerapkan bentuk triangulasi teknik pengumpulan data. Triangulasi teknik pengumpulan data ini untuk menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu melalui observasi. Apabila dengan teknik tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data bersangkutan yakni guru sejawat guna memastikan kebenarannya atau mungkin semua dianggap benar karena sudut pandangnya berbeda-beda.

Indikator Kinerja

Sebagai dasar untuk mengetahui keberhasilan dan menganalisis data yang diperoleh peneliti menetapkan indikator kinerja dalam penelitian, Indikator kinerja antara lain:

  1. Penelitian dikatakan berhasil apabila pembinaan berkelanjutan kompetensi guru dalam pembuatan RPP bejalan dengan baik, dengan skor minimal 80 (83%).
  2. kompetensi guru dalam pembuatan RPP meningkat
  3. profesionalitas guru meningkat
  4. Etos kerja guru meningkat.

Prosedur Penelitian

Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Sekolah

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Observasi dilaksanakan hari senin tanggal 7 Oktober 2019, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
  2. Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  3. Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  4. Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  5. Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.

SIKLUS II

Observasi dilaksanakan terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
  2. Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
  3. Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
  4. Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.

PEMBAHASAN

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SDN Sidamulya 01 yang merupakan sekolah peneliti berstatus negeri, terdiri atas delapan guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.

Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

1. Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

2. Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPPnya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

3. Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masingmasing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPPnya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

4. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

5. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.

6. Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPPnya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.

7. Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

8. Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

9. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.

10. Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

11. Komponen Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 3 (kurang baik dan baik), tiga orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%, pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan latar belakang yang merumuskan masalah, tujuan penelitian, kajian teori, hipotesis dan hasil penelitian diperoleh simpulan sebagai berikut:

  1. Proses bimbingan intensif yang tepat dan konsisten dalam dalam meningkatkan kompetensi guru dalam pembuatan RPP di SD Negeri Gunungtelu 01. Bimbingan intensif dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
  2. Hasil peningkatan kompetensi guru dalam pembuatan RPP meningkat setelah Proses bimbingan intensif di SD Negeri Gunungtelu 01 Tahun Pelajaran 2019/2020. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I.

SARAN

Telah terbukti bahwa dengan bimbingan intensif dapat meningkatkan motivasi dan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan
  2. RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran

DAFTAR PUSTAKA

_______. 2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Tenaga Kependidikan

________ 2005. Undang-Undang Guru dan Dosen UU RI Nomor 14 Tahun 2005. Jakarta.

2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.

Ali Imron, 2006, Belajar dan Pembelajaran , Pustaka Jaya, Jakarta

Fatihah, RM . 2008. Pengertian konseling (Http://eko13.wordpress.com, diakses tanggal: 19 Agustus 2017)

Kurniawati, E, 2009, Komparasi Strategi Make A-Match Dengan Index Card Match, Tersedia: http://myaghnee.blogspot.com/2009 01 11 html, Diakses: tanggal: 15 Agustus 2017

Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual(contextual teaching and learning/ CTL) dan Penerapannya Dalam KBK. Malang: UM press

Pidarta, Made. 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.

Sahertian. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudarsono, Fx. 2001. Aplikasi Tindakan Kelas. Jakarta: DIKTI

Sugiyono. 2013. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

The Liang Gie. 1985. Cara Belajar yang Efisien. Yogyakarta: Pusat Kemajuan Studi.

Wijono.1989. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

BIO DATA PENULIS

Nama : Suranto, S.Pd.

NIP : 19670911 199201 1 001

Pangkat/Gol : Pembina Tingkat I / IVb

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SD Negeri Gunungtelu 01

You cannot copy content of this page