Iklan

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DENGAN PENGGUNAAN MEDIA BUKU CERITA BERGAMBARSISWA KELAS III TUNARUNGU DI SLB NEGERI KOTA MAGELANG TAHUN PELAJARAN 2021/2022

Oleh: Ninik Indrawati

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan proses peningkatan keterampilan berbicara dengan penggunaan media buku cerita bergambar siswa kelas III Tunarungu di SLB Negeri Kota Magelang dan mendeskripsikan seberapa besar peningkatan keterampilan berbicara dengan penggunaan media buku cerita bergambar siswa kelas III Tunarungu di SLB Negeri Kota Magelang. PTK ini terdiri dari 2 siklus. Hasil PTK ini adalah keterampilan berbicara siswa kelas III Tunarungu pada siklus I meningkat dari 16.8% menjadi 18,2% dan peningkatan hasil belajar dari 14% menjadi 16%. Pada siklus II kembali terjadi peningkatan keterampilan berbicara dari 20% menjadi 23,2% dan peningkatan hasil belajar dari 20% menjadi 24%.

Kata Kunci: kemampuan berbicara , media buku cerita bergambar, hasil belajar

PENDAHULUAN

Manusia dalam pergaulannya memerlukan bahasa. Bahasa merupakan sarana komunikasi yang sangat vital. Tujuan komunikasi itu sendiri untuk menyampaikan pikiran atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Berkomunikasi dapat dilakukan dalam bentuk bahasa lisan, bahasa tulis, bahasa isyarat tangan dan sebagainya. Bagi anak normal hal ini perlu latihan untuk menguasainya, terlebih bagi anak Tunarungu yang memiliki banyak kekurangan. Anak Tunarungu memiliki kekurangan salah satu kemampuan yang sangat penting yaitu untuk mengembangkan keterampilan berbicara dan berbahasa. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara dapat ditempuh dengan menceritakan kembali cerita.

Untuk meningkatkan keterampilan berbicara dengan menceritakan kembali dibutuhkan suatu media. Mengutip pemikiran Azhar Arsyad (2018:3), mengemukakan bahwa media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan pembelajaran di sekolah pada khususnya. Maka pada penelitian ini, untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak digunakan media berupa buku cerita bergambar.

Melihat kenyataan yang ada di SLB Negeri Kota Magelang bahwa pembelajaran bahasa Indonesia khususnya berbicara untuk anak siswa Tunarungu kelas III masih rendah. Hal ini terlihat dari berbagai aspek bicaranya antara lain, nada bicara anak tidak beraturan, ucapan bicara anak masih terputus-putus, terjadi penghilangan beberapa kata dalam bicaranya, dan susunan kata dalam kalimat bicaranya masih kacau atau dibolak balik.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) apakah keterampilan berbicara siswa tunarungu kelas III SLB Negeri Kota Magelang tahun pelajaran 2021/2022 dapat meningkat dengan penggunaan media buku cerita bergambar; dan 2) bagaimanakah peningkatan keterampilan berbicara siswa tunarungu kelas III SLB Negeri Kota Magelang tahun pelajaran 2021/2022 dengan menggunakan media buku cerita bergambar?

Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mendiskripsikan proses peningkatan keterampilan berbicara dengan penggunaan media buku cerita bergambar siswa kelas III Tunarungu di SLB Negeri Kota Magelang Tahun Pelajaran 2021/2022; dan 2) mendeskripsikan seberapa besar peningkatan keterampilan berbicara dengan penggunaan media buku cerita bergambar siswa kelas III Tunarungu di SLB Negeri Kota Magelang Tahun Pelajaran 2021/2022.

Penelitian ini bermanfaat agar siswa dapat meningkatkan keterampilan berbicara sebagai sarana komunikasi. Selain itu siswa juga dapat memahami bahasa Indonesia dari aspek berbicara serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, mampu memberikan sumbangan bagi guru dalam menentukan materi pengajaran bahasa Indonesia khususnya tentang keterampilan berbicara, membantu guru mengembangkan kreatifitas dalam mengajar berbicara kepada siswa, serta membantu guru dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul pada saat berlangsungnya pembelajaran berbicara di kelas.

LANDASAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Hakikat Anak Tunarungu

Sebagian ahli berpendapat bahwa anak Tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan bahasa dan wicara. Gangguan bahasa merupakan kelainan dalam sistem atau kode komunikasi seperti kekurangan reseptif bahasa secara nyata. Sedangkan gangguan wicara merupakan masalah dalam produksi bahasa yang dapat diketahui dengan jelas dan merupakan pengubahan karakteristik atau perilaku khusus yang merintangi produksi vocal (Abdul Hadis 2019:19).

Beberapa karakteristik atau ciri yang ditunjukkan oleh anak yang mengalami kehilangan pendengaran tidak semuanya muncul dan dialami oleh anak yang mengalami pendengaran. Boothroyd (dalam Abdul Hadis 2019:21) berpendapat bahwa anak yang mengalami kehilangan pendengaran dicirikan oleh adanya masalah sensorik yang dialami oleh anak yang ditandai dengan adanya gangguan perceptual, wicara, komunikasi, kognitif, sosial, emosional, pendidikan, intelektual dan vokasional.

Keterampilan Berbicara.

Keterampilan berbicara pada anak Tunarungu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulis, mempertajam kepekaan perasaan, meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar, serta kemampuan memperluas wawasan. Dengan kemampuan itu, siswa Tunarungu diharapkan tidak hanya mampu memaharni informasi yang disampaikan secara langsung, tetapi juga memaharni informasi yang disampaikan secara tidak langsung. Keterampilan berbicara juga diperlukan anak Tunarungu dalam menunjang keberhasilan pekerjaan. Hal ini memerlukan beberapa teknik yang diterapkan dalam pengajaran berbicara, yaitu merangkum/ meringkas dan menceritakan kembali.

Vero dan widyamartaya (2017:11) mengemukakan bahwa meringkas bacaan bertujuan menguji kemampuan siswa untuk menemukan butir-butir penting dalam sebuah bacaan dan menyusunnya kembali menjadi sebuah ringkasan yang baik. Dengan begitu apa yang akan disampaikan oleh anak tunarungu akan lebih tertata. Dan lawan bicara baik yang dengar maupun sesama tunarungu akan lebih memahami apa yang ingin disampaikan.

Menceritkan kembali menurut Poerwadarminta (2017:202) adalah menuturkan sesuatu cerita. Dengan menuturkan kembali cerita atau informasi yang di serap oleh anak tunarungu kepada lawan bicara akan menimbulkan komunikasi dua arah. Dimana informasi yang disampaikan akan menjadi pemancing timbal balik dari lawan bicara.

Media Buku Cerita Bergambar

Menurut Abdul Wahid (2018:3) mengartikan media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan peserta didik, sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar. Media digunakan dalam pembelajaran sebagai perantara agar siswa mampu memahami isi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Dalam penelitian ini media yang digunakan oleh peneliti adalah buku cerita bergambar.

Buku cerita bergambar adalah buku yang berisi tentang sebuah cerita yang dipaparkan melalui tulisan dan gambar yang mendukung jalannya sebuah cerita. Buku cerita bergambar akan berhasil dengan efektif, apabila disesuaikan dengan faktor kematangan anak, tujuan yang akan dicapai, dan teknik penggunaan dalam situasi belajar.

Kerangka Berpikir

Tunarungu dalam segi intelegensi, secara potensial tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Namun demikian secara fungsional intelegensi mereka berada di bawah anak normal. Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam memahami bahasa, sehingga sanggat terbatas dalam kosa kata, sulit mengartikan arti kiasan dan kata-kata yang abstrak. Untuk menentukan metode yang yang efektif bagi Tunarungu, penulis menggunakan media buku cerita bergambar sebagai upaya untuk meningkatan keterampilan berbicara siswa Tunarungu kelas III di SLB Negeri Kota Magelang Tahun Pelajaran 2021/202I.

Berdasarkan uraian kajian pustaka dan kerangka berpikir di atas maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Keterampilan berbicara siswa Tunarungu kelas III di SLB Negeri Kota Magelang tahun ajaran 2021/2022 dapat ditingkatkan dengan menggunakan media cerita buku bergambar.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester I Tahun Pelajaran 2021/2022 selama 10 minggu yaitu mulai bulan Agustus 2021 sampai bulan Oktober 2021. Subjek penelitian ini adalah siswa Tunarungu kelas III SLB Negeri Kota Magelang Tahun Pelajaran 2021/2022 beberapa karakteristik, yaitu: a) Nada bicara anak tidak beraturan. b) Ucapan bicara anak masih terputus-putus. c) Terjadi pengulangan beberapa kata dalam bicaranya. d) Susunan kata kalimat bicaranya masih kacau atau terputus-putus.

Metode pada penelitian ini adalah metode deskripsi kualitatif, karena hasil yang diharapkan berupa gambaran objektif tentang keterampilan berbicara dengan menggunakan media buku cerita bergambar kelas III siswa Tunarungu di SLB Negeri Kota Magelang Tahun Pelajaran 2021/2022.

Penelitian ini menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, tes dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menghimpun data tentang tingkat keterampilan berbicara dalam pelaksanaan tindakan pembelajaran bahasa Indonesia dengan subyek guru kelas dan juga siswa tunarungu kelas III. Observasi digunakan untuk mengetahui tingkat keterampilan berbicara siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar di kelas.Tes yang digunakan dalam penelitian ini adlah tes tertulis dan tes lisan mengenai isi dari cerita bergambar yang diberikan kepada siswa. Sedangkan dokumentasi digunakan sebagai pelengkap dari penelitian ini.

Dalam pengukuran keberhasilan menceritakan kembali isi cerita dari buku cerita bergambar, ditentukan beberapa indikator yaitu: 1) apabila siswa aktif belajar dengan mencapai > 65% dalam menceritakan kembali isi cerita dengan menggunakan media buku cerita bergambar; 2) Apabila siswa tuntas belajar dengan mencapai > 65% dalam menceritakan kembali isi cerita dengan menggunakan media buku cerita bergambar.

Analisis data aktivitas belajar siswa dilakukan dengan menafsirkan nilai angka dalam kalimat yang bersifat kualitatif pada penilaian aktifitas menceritakan kembali isi cerita menggunakan bahasa sendiri di depan kelas, yaitu kejelasan pengucapan dalam bercerita untuk dimengerti lawan bicara serta ketepatan pola dan susunan kalimat dalam bercerita. Tes akhir yang digunakan mengacu pada kriteria PAP (Penilaian Acuan Patokan). Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakan bertujuan mengetahui masing-masing ketuntasan belajar agar penggunaan media buku cerita bergambar.

Penelitian ini terdiri dari 2 siklus. I siklus terdiri dari 2 pertemuan 1 x pertemuan waktunya 2 x 35 menit. Adapun desain penelitian yang digunakan pada siklus I dan II adalah sebagai berikut: 1) perencanaan tindakan (planning), pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu terkait penelitian seperti penyusunan RPP, persiapan materi dan media; 2) pelaksaan tindakan (action) ,semua rencana yang telah disiapkan diimplementasikan di lapangan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan; 3) pengamatan tindakan (observing) dalam pelaksanaan pemberian tindakan, peneliti dibantu guru kelas (obsever) untuk mengarnati dengan berpedoman pada instrumen yang telah disiapkan; 4) Penilaian (evaluating) dimana hasil yang telah didapat kemudian dinilai untuk melihat ketercapaian; 5) refleksi Tindakan (reflecting), pada tahap ini hasil yang telah didapatkan dianalisis.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

Siklus I

Siklus I dilakukan sebanyak 2 x pertemuan. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dilakukan pengamatan proses terhadap siswa. Kegiatan pembelajaran dilakukan beracuan pada RPP yang telah disusun oleh peneliti bersama guru kelas. Peneliti menjelaskan apa yang akan dilakukan pada pembelajaran kali ini dan menjelaskan tentang isi dari cerita bergambar “Igo Sedang Marah”, kemudian peneliti menjelaskan bagaimana cara merangkum dan menceritakan kembali isi cerita. Pada pertemuan pertama siswa menanyakan kembali yang belum dipahami dari cerita. Pada pertemuan ke dua, siswa mulai merangkum dan menceritakan kembali isi cerita di depan kelas.

Pada siklus I didapatkan hasil tingkat keaktifan siswa. Tingkat keaktifan siswa dari rata-rata 41,6% (pra siklus) menjadi 58,4% (tingkat aktivitas) setelah tindakan pertemuan pertama. Pada pertemuan 2 tingkat keaktivan siswa dari dari rata-rata 48,6% (pra siklus) menjadi 66,8% (tingkat aktivitas) yang ditunjukkan oleh tabel 1.

Tabel 1. Hasil Observasi Aktifitas Belajar Siswa Pada Siklus I

Untuk tingkat hasil belajar didapatkan tingkat hasil belajar siswa dari 40% (pra siklus) menjadi 54% (nilai akhir) pada pertemuan pertama. Pada pertemuan 2 didapatkan hasil belajar siswa dari 46% (pra siklus) menjadi 62% (nilai akhir) yang tertera pada tabel 2.

Tabel 2. Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I

Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan pada tingkat keaktifan siswa dan tingkat hasil belajar. Pada siklus I siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan peneliti dapat menyampaikan materi sehingga siswa paham. Namun siswa masih belum dapat menceritakan kembali isi cerita dengan baik dan masih terdapat kesalahan dalam menjawab soal tentang isi cerita.

Siklus II

Pada siklus II dilakukan 2 x pertemuan. Kegiatan belajar pada siklus II sama dengan siklus I. Yang membedakan ada pada cerita bergambar yang digunakan. Pada siklus II, cerita bergambar yang digunakan berjudul “Hari Pertama Sekolah”. Kegiatan awal pada siklus II mengingat kembali tentang materi berbicara dengan menceritakan kembali isi cerita yang telah diajarkan sebelum diberikan tindakan (pra siklus) seperti yang ditunjukkan pada gambar 3 dan 4.

Pada pertemuan pertama di siklus II didapatkan hasil tingkat keaktifan siswa dari rata-rata 51,8% (pra siklus) menjadi 71,8% (tingkat aktivitas) setelah tindakan. Kemudian pada pertemuan kedua Tingkat keaktifan siswa dari dari rata-rata 58,4% (pra siklus) menjadi 81,6% (tingkat aktivitas) setelah tindakan. Terlihat adanya kenaikan yang signifikan pada akhir siklus II ini yang ditunjukkan pada tabel 3

Tabel 3. Hasil Observasi Aktifitas Belajar Siswa Pada Siklus II

Tingkat hasil belajar siswa pada pertemuan pertama siklus II dari rata-rata 50% (pra siklus) menjadi 70% (nilai akhir). setelah tindakan. Pada pertemua 2 di siklus II didapatkan tingkat hasil belajar dari 58% (pra siklus) menjadi 82% (nilai akhir) yang dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II

Berdasarkan uraian di atas, hasil belajar siswa Tunarungu kelas III SLBN telah menunjukkan ketuntasan belajar. Di samping itu juga telah mencapai indikator yang ditetapkan yaitu 80%.

PEMBAHASAN

Keaktifan Siswa Tunarungu dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara

Dari hasil siklus I dan II dapat dilihat bahwa: 1) pada siklus 1 pertemuan 1 meningkat sebesar 16,8%; 2) pada siklus 1 pertemuan 2 meningkat sebesar 18.2%; 3) pada siklus II pertemuan I meningkat sebesar 20%; 4) pada siklus II pertemuan II meningkat sebesar 23,2%. Berdasarkan hasil penelitian aktivitas belajar siswa meningkat, karena adanya faktor­-faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah pemilihan metode yang tepat dalam pembelajaran keterampilan berbicara melalui media buku cerita bergambar.

Hasil Belajar Siswa Tunarungu Kelas III SLB Negeri Kota Magelang

Pemberian tindakan pembelajaran keterampilan berbicara melalui media buku cerita bergambar mengalami peningkatan hasil belajar yang sangat positif. Peningkatan hasil belajar siswa pada setiap pertemuan didapatkan: 1) pada siklus I pertemuan I meningkat sebesar 14%; 2) pada siklus I pertemuan 2 meningkat sebesar 16%; 3) Pada siklus II pertemuan 1 meningkat sebesar 20%; 4) pada siklus II pertemuan 2 meningkat sebesar 24%.

Media pembelajaran yang diberikan pada siswa ternyata mampu meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menumbuhkan minat dan motivasi belajar. Di samping itu media pembelajaran yang diberikan dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.

PENUTUP

Simpulan

Dari hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan sebagai berikut:1) Proses pembelajaran dengan menggunkan media buku cerita bergambar efektif untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada siswa tunarungu kelas III SLB N Magelang tahun pelajaran 2021/2022; 2) Dengan menggunakan media buku cerita bergambar, keterampilan berbicara siswa tunarungu kelas III SLB N Magelang tahun pelajaran 2021/2022 mengalami peningkatan yang signifikan disetiap pertemuan pada 2 siklus, hingga hasil akhir berada di angka 81,6% yang mana telah melampaui target awal penelitian.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan, maka diajukan sejumlah saran sebagai berikut: 1) Dalam menyampaikan materi tentang keterampilan membaca guru harus menggunakan media yang sesuai dengan materi pengajaran yang akan disampaikan kepada siswa. 2) Kreasi dan kreatifitas guru sangat dibutuhkan dalam penentuan dan penggunaan media pembelajaran agar siswa lebih tertarik, sehingga hasil yang diperoleh lebih optimal. 3) Guru bekerjasama dengan orangtua murid menyediakan buku cerita bergambar di rumah, sehingga proses pembelajaran tidak terhenti hanya di kelas saja. 4) Siswa harus senantias meningkatkan keterampilan berbicara dengan giat berlatih dan lebih percaya diri.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2018. Media Pembelajaran. Devisi Buku Perguruan tinggi. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.

Hadis, Abdul. 2019. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus-Autistik. Bandung: Alfiabeta..

Vero Sudiati, A. Widyamartaya, 2017. Terampil Meringkas. Penerbit Kanisius.

W.J.S. Poewadarminta. 2017. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Wahid, Abdul. “Pentingnya Media Pembelajaran Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar”. ISTIQRA’: Volume V Nomor 2 Maret 2018.

You cannot copy content of this page