Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL MELALUI SUPERVISI KLINIS TEKNIK KOLEGIAL BAGI GURU SD NEGERI KALIBUNTU 01SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Oleh : Abdul Goni, S.Pd.

ABSTRAK

Abdul Goni, S.Pd.. 2018. Peningkatan Kemampuan Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Penerapan Pembelajaran Kontekstual Melalui Supervisi Klinis Teknik Kolegial Bagi Guru SD Negeri Kalibuntu 01Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019 Kata kunci: menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan penerapan pembelajaran kontekstual melalui supervisi klinis. Kepala sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam membantu guru meningkatkan kinerjanya, termasuk menyusun RPP dan menerapkannya dalam pembelajaran kontekstual, sehingga perlu dilakukan supervise klinis. Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mendeskripsikan dan meningkatkan kemampuan menyusun RPP yang lengkap dan sistematis serta menerapkannya dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui supervisi klinis. enelitian ini dilaksanakan bulan Agustus – Desember 2018 di SD Negeri Kalibuntu 01. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan meyusun RPP secara lengkap dan sistematis sesuai dengan Standar proses yang telah ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 bagi guru di SD Negeri Kalibuntu 01. Melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bagi Guru SD Negeri Kalibuntu 01. Melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan professional guru dalam mennyusun RPP yaitu pada kondisi awal sebesar 44,44%, meningkat menjadi 55,55% pada siklus I, maningkat secara signifikan menjadi 77,77% pada siklus II dan sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual di SD Negeri Kalibuntu 01, dari kondisi awal ke siklus I terjadi peningkatan dari 81,8 menjadi 82,9 yaitu sebesar 1,1%, sedangkan dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan dari 82,9 menjadi 84,2 yaitu sebesar 1,3%. Jadi dari kondisi awal ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 2,4%. Adapun saran yang dapat diberikan adalah supervisi klinis adalah model supervisi akademik masa kini/kontemporer yang bersifat kolaboratif. Prosedur supervisi klinis sama dengan supervisi akademik langsung, yaitu: dengan observasi langsung namun pendekatanya berbeda, yaitu dengan pendekatan inkuiri mencoba menemukan dan memahami apa yang dilakukan guru dan kepala sekolah dalam supervisi hendaknya melakukan pembinaan akademis atau bimbingan yang lebih bersifat mitra sejajar kepada guru melalui program supervisi klinis di sekolahnya demi pengembangan professional dan motifasi kerja guru.

Latar Belakang Masalah

Dalam hal perencanaan pembelajaran, penguasaan guru terhadap penyusunan RPP menjadi hal yang mutlak. RPP yang disusun lengkap dan sistematis mengacu pada standar proses akan sangat menentukan keberhasilan guru dalam pengelolaan pembelajaran. RPP yang disusun dengan baik oleh guru akan berpengaruh baik pula pada pengelolaan pembelajaran di kelas. Sebab RPP yang baik akan memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. RPP sebagai penjabaran dari silabus disusun untuk mengarahkan ke­giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Oleh karena itu dalam menyusun RPP harus memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan RPP sebagaimana disebutkan dalam Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses.

Kondisi yang diharapkan seperti pada penjelasaan di atas, ternyata belum terjadi pada guru-guru SD Negeri Kalibuntu 01. Walaupun hampir semua guru sudah membuat Program Tahunan, Program Semester, Silabus, Rencana Program Pembelajaran (RPP). Namun kemampuan guru dalam menyusun RPP dan pengelolaan pembelajaran belum sesuai dengan harapan. Sebab kalau diteliti lebih dalam, muatan Rencana Program Pembelajaran yang dimiliki para guru belum memenuhi syarat karena belum sesuai dengan RPP yang mengacu pada Standar Proses. Artinya isi dari pada RPP belum menggunakan strategi pembelajaran atau model-model pembelajaran yang inovatif. Dalam langkah-langkah pembelajaran hanya menekankan pada ranah kognitif saja. Dari 9 orang guru di SD Negeri Kalibuntu 01ternyata baru 4 orang guru atau 44,4% yang guru yang mampu dan mau menyusun sendiri RPP nya. Sedangkan guru yang lain menggunakan RPP hasil dari mengadopsi sekolah lain atau hanya sekedar mengkopi RPP yang ada di pasaran, yang tentu saja RPP hasil adopsi tersebut tidak sesuai dengan kondisi di SD Negeri Kalibuntu 01, sehingga proses pembelajaran yang dilakukan guru masih bersifat konvensional. Banyaknya kritik dari berbagai kalangan di masyarakat yang menyoroti tentang kualitas pendidikan kita yang dinilai masih rendah, diakuai atau tidak ternyata dipengaruhi oleh rendahnya kemampuan guru dalam menyusun RPP dan belum maunya guru membuat persiapan mengajar sendiri. Lebih parah lagi RPP dimiliki oleh guru hanya berfungsi sebagai pelengkap penderita. Artinya hanya melengkapi dari segi administrasi saja, sedangkan isinya tidak dibaca bahkan tidak dipakai sebagai pedoman dalam mengelola pembelajaran di kelas.

Rendahnya kemampuan guru dalam menyusun RPP ternyata berpengaruh juga pada rendahnya kinerja guru. Sebab dalam RPP sebagian besar belum tercantum langkah-langkah pembelajaran yang inovatif. Dari hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran oleh guru masih rendah yaitu baru 5 orang guru dari 9 guru yang sudah menerapkan strategi pembelajaran dengan model pembelajaran yang inovatif. Atau 55,55% guru yang secara efektif mulai menerapkan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan pembelalajaran kontekstual meningkatkan daya rentasi siswa terhadap penanaman konsep materi pembelajaran. Dengan pemahaman terhadap konsep materi tertanam kuat pada diri siswa maka prestasi hasil belajar siswapun akan meningkat pula. Namun di temui dilapangan sebagian besar guru dalam pengelolaan pembelajaran hanya mengurut pada buku teks pelajaran saja. Pembelajaran masih bersifat konfensional, monoton, kurang bervariatif dan tidak efektif sehingga mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi rendah. Hal yang paling riil rendahnya kualitas pendidikan tercermin dalam rendahnya prestasi belajar. Dalam dua tahun terakhir ini pencapaian nilai rata-rata Hasil Ujian Sekolah (US) masih rendah yaitu rata-rata nilai yang diperoleh pada tahun pelajaran 2016/2017 sebesar 5,66 dan pada tahun pelajaran 2017/2018 sebesar 6,82. Prestasi tersebut dicapai melalui penambahan jam pelajaran dengan metode pembelajaran tanya jawab. Siswa hanya dituntut untuk bisa menghafal materi dan menjawab soal saja. Sehingga siswa hanya menguasai ranah kognitif saja. Selain itu hasil pencapaian KKM baik pada Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester dan Ulangan Akhir Semester atau Ulangan Kenaikan Kelas masih jauh dari harapan. Dari hasil supervisi kelas untuk hasil belajar siswa dari kelas I sampai kelas VI rata-rata baru mencapai Standar Ketuntasan Minimal 6,20 itu saja ada beberapa anak sekitar 30% dari 117 siswa yang tuntas tetapi harus melalui perbaikan.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi, yaitu: rendahnya komitmen guru, kurangnya bimbingan Kepala sekolah, KKG yang kurang bermakna. Untuk memastikan penyebab tersebut, peneliti melakukan kajian lebih lanjut melalui pengamatan, wawancara, dan menyebar angket. Dari hasil pengamatan, wawancara, dan angket yang telah diisi, serta hasil diskusi dengan guru-guru dapat peneliti simpulkan bahwa penyebab rendahnya kemampuan guru dalam menyusun RPP adalah pengetahuan dan wawasan guru tidak pernah diupdate. Karena peneliti selaku kepala sekolah belum melaksanakan pembinaan langsung secara optimal karena belum adanya program supervisi yang jelas mengukur keberhasilan guru dengan rutin dan terprogram. Kepala sekolah dalam melakukan supervisi belum sesuai dengan kebutuhan guru itu sendiri. Ada dugaan, guru enggan atau malu meminta bantuan kepala sekolah karena takut dianggap tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri. Guru takut akan berdampak pada penilaian DP3 butir prakarsa. Guru takut dianggap prakarsanya rendah, tidak kreatif, dan tidak inovatif. Kondisi seperti ini mempengaruhi rendahya kemampuan guru menyusun RPP yang lengkap dan sistematis sesuai standar proses yang berimplikasi juga pada rendahya kemampuan guru dalam penerapan pembelajaran kontekstual. Kondisi tersebut diperparah dengan komitmen guru yang rendah terhadap tugasnya.

Peneliti sebagai kepala sekolah sebagai bagian dari stake holder pendidikan tentu bertanggung jawab mengakomodir hal tersebut sebagai catatan masalah yang harus segera dicari solusinya. Berdasar pengalaman peneliti dalam mengikuti kegiatan KKKS mengenal berbagai teknik atau cara meningkatkatkan kemampuan dan kinerja guru khusunya dalam hal menyusun persiapan pembelajaran. Diantaranya adalah program pendampingan, program supervisi klinis, ataupun program mengefektifkan KKG di sekolah (In- House Training). Melalui kegiatan KKKS pula peneliti juga mengenal berbagai strategi pembelajaran dengan model-model pembelajaran inovatif. Salah satunya adalah penerapan pembelajaran kontekstual. Berdasarkan pengalaman tersebut di atas peneliti tertarik untuk melaksanakan program supervisi klinis sebagai salah satu solusi dalam mengatasi masalah rendahnya kemampuan guru dalam menyusun RPP dan rendahnya kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dalam bentuk penelitian tindakan sekolah (PTS). Sebab dengan supervisi klinis dapat memberikan suatu bentuk bimbingan profesional kepada para guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematik dalam perencanaannya, observasi yang cermat atas pelaksanaan, dan pengkajian balikan dengan segera dan obyektif terhadap penampilan mengajarnya yang nyata, sehingga dapat meningkatkan ketrampilan mengajar dan sikap profesional guru. Program supervisi klinis ini dipilih peneliti dengan harapan dapat meningkatkan pembinaan akademis terhahap guru SD Negeri Kalibuntu 01secara optimal terutama dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP dan meningkatkan pengelolaan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan kontekstual. Sehingga diharapkan meningkatkan kinerja guru secara profesional, MBS dapat berjalan dengan baik, sehingga pembelajaran PAKEM dapat terwujud. Hal yang paling penting hasil supervisi ditindak lanjuti agar memberikan dampak yang nyata untuk meningkatkan professional guru, sehingga diharapankan pula dapat berimplikasi pada meningkatnya prestasi dan hasil belajar pada peserta didik di SD Negeri Kalibuntu 01.

Pelaksanaan tindakan sekolah ini peneliti laksanakan minimal dalam dua siklus. Siklus pertama supervisi klinis dengan cara kelompok. Pada siklus kedua adalah penerapan supervisi klinis dilanjutkan pembinaan individual. Dengan dua siklus ini diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal mengingat waktu penelitian yang terbatas. Oleh karena itu, PTS ini diberi judul: ”Peningkatan Kemampuan Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Penerapan Pembelajaran Kontekstual Melalui Supervisi Klinis Bagi Guru SD Negeri Kalibuntu 01Semester I Tahun Pelajaran 2018.”

Dalam penelitian ini peneliti tidak akan meneliti semua masalah yang terdapat pada identifikasi masalah, tetapi membatasi pada masalah pokok saja antara lain sebagai berikut.; (1) rendahnya kemampuan guru SD Negeri Kalibuntu 01dalam meyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang ditandai dengan belum menyusun sendiri RPP secara lengkap dan sistematis tetapi merngadopsi RPP sekolah lain dan menganggap sebagai pelengkap administrasi semata; (2) rendahnya kemampuan dan kemauan guru SD Negeri Kalibuntu 01dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dalam pengelolaan pembelajaran. Pembelajaran PAKEM belum dioptimalkan, pembelajaran lebih banyak bersifat konvensional; (3) pelaksanaan pembinaan akademik melalui supervisi oleh Kepala sekolah SD Negeri Kalibuntu 01terhadap para guru dalam menyusun RPP dan pengelolaan pembelajaran masih lemah, yang ditandai dengan tidak adanya program yang jelas dan tindak lanjut yang nyata.

Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam meyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran secara lengkap dan sistematis di SD Negeri Kalibuntu 01? ; (2) Apakah melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bagi Guru SD Negeri Kalibuntu 01?

Tujuan Penelitian dianataranya : (1) untuk mendeskripsikan dan meningkatkan kemampuan menyusun RPP yang lengkap dan sistematis melalui supervisi klinis bagi guru di SD Negeri Kalibuntu 01pada semester I Tahun Pelajaran 2018; (2) untuk mendeskripsikan dan meningkatkan kemampuan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui supervisi klinis bagi guru SD Negeri Kalibuntu 01pada semester I Tahun Pelajaran 2018.

Penelitian bermanfaat bagi guru antara lain : (1) Dengan dilaksanakan penelitian melalui supervisi klinis ini guru dapat memperoleh pemahaman dan pengalaman cara meyusun RPP secara lengkap dan sistematis sesuai dengan prinsip-prinsip penyusunan RPP yang sesuai dengan Standar Proses; (2) Dengan dilaksanakan penelitian melalui supervisi klinis ini guru dapat memperoleh pengetahuan akademik tentang pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sesuai prinsip pembelajaran PAKEM di kelasnya; (3) Dengan dilaksanakan penelitian melalui supervisi klinis ini guru dapat meningkatkan kemampuan profesional dalam mengelola pembelajaran.

Bermanfaat pula bagi Kepala Sekolah yaitu : (a) Dengan penelitian melalui program supervisi klinis kepala sekolah dapat menyarankan dan merekomendasikan kepada para guru agar menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran sendiri secara lengkap dan sistematis sesuai standar proses untuk meningkatkan pengelolaan pembelajaran; (b) Dengan penelitian melalui supervisi klinis kepala sekolah dapat menyarankan dan merekomendasikan kepada para guru agar melaksanakan pengelolaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sesuai prinsip pembelajaran PAKEM untuk meningkatkan prestasi peserta didik; (c) Dengan penelitian melalui supervisi klinis, kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan profesi kepada guru sekaligus sebagai pengalaman yang bermanfaat dalam melaksanakan pengembangan profesi.

Supervisi klinis adalah pembinaan performansi guru mengelola proses pembelajaran (Sullivan & Glanz, 2005:45). Menurut Sergiovanni (1987) ada dua tujuan supervisi klinis: pengembangan professional dan motivasi kerja guru. Johan (2005:19) mengatakan bahwa supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesional guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Bimbingan diarahkan pada upaya pemberdayaan guru dalam menguasai aspek teknis pembelajaran. Dengan bimbingan tersebut diharapkan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran. Pelaksanaan supervisi klinis menuntut perobahan paradigma guru dan supervisor. Supervisi dilakukan bukan dalam kontek mencari kesalahan dan kelemahan guru yang di supervisi. Antara guru yang disupervisi dengan supervisor adalah mitra sejajar, bukan merupakan hubungan antara bawahan dan atasan dan atau hubungan antara guru dengan murid. Secara kemitraan keduanya menganalisis proses pemelajaran yang telah dirancang dan disepakati, kemudian dicarikan alternatif pemecahan permasalah yang ditemui dalam proses pemelajaran tersebut agar dapat ditingkatkan kualitasnya. Waller (Solo, 2003:27) mengatakan bahwa clinical supervision may be defined as supervision focused upon the inprovement of instruction by means of sistematic cycles of planning, observation  and intensive intelectual analysis of actual teaching performance in the interest of rational modification. Pendapat di atas mengenai supervisi klinis memfokuskan pada upaya perbaikan proses pembelajaran yang dilakukan bersiklus. Perbaikan itu dilaksanakan secara berkelanjutan dalam beberapa siklus sampai kondisi yang diinginkan dapat dicapai. Supervisi klinis diharapkan juga dapat melahirkan re-invantion  dan atau inovasi yang relevan dengan kultur dan kondisi masing-masing sekolah. Supervisi klinis adalah suatu bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematik dalam perencanaannya, observasi yang cermat atas pelaksanaan, dan pengkajian balikan dengan segera dan obyektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata, untuk meningkatkan ketrampilan mengajar dan sikap profesional guru itu.

Instrumen supervisi klinis terdiri dari beberapa bagian. Pertama lembaran kesepakatan yang terdiri dari 4 (empat) aspek yakni: aspek kependidikan, akademik, pengelolaan kelas dan interaksi dengan siswa dalam proses pemelajaran. Dalam lembaran ini disepakati, apa fokus persoalan yang akan disupervisi. Kedua lembaran perangkat dan media pembelajaran apa yang menjadi pilihan. Ketiga lembaran observasi, refleksi, dan kesimpulan diskusi sebagai balikan. Keempat lembaran penutup, yang berisi saran pembinaan dan legalitas kegiatan. Instrumen ini sifatnya terbuka dan setelah digunakan harus dimiliki oleh guru yang disupervisi, supervisor/kepala sekolah. Karena data, fakta dan kesimpulan yang terdapat dalam instrumen inilah yang akan dijadikan dasar dalam perencanaan kegiatan pada siklus selanjutnya.

Penelitian tindakan sekolah yang relefan dengan penelitian tindakan sekolah ini adalah PTS yang ditulis Karso (2009) dengan judul Penerapan Supervisi Klinis dalam Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas Melaksanakan Pembelajaran Kontekstual di SD Negeri 3 Kotayasa Unit Pendidikan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Kajian hasil penelitian ini bahwa dengan penerapan supervisi klinis secara individual dapat membantu meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual yaitu pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dalam pembelajaran kontekstual guru menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa menjadi lebih optimal.

Kerangka Berpikir Penelitian

Secara praktis kerangka berpikir dalam penelitian ini dilaksanakan dua siklus. Siklus pertama adalah penerapan supervisi klinis dilanjutkan pembinaan secara kelompok, sedangkan siklus kedua adalah penerapan supervisi klinis dilanjutkan dengan pembinaan secara individual. Setelah dilaksanakan siklus satu dan siklus dua akan diketahui sejauh mana kemampuan guru dalam menyusun RPP dan peningkatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Hasil pengamatan setelah siklus dua adalah merupakan kondisi akhir.

Pada sebuah gambar menunjukkan bahwa penelitian dilakukan dengan melihat kondidi awal, tindakan dan kondisi akhir. Pada kondisi awal peneliti belum melakukan supervisi klinis, kemampuan guru dalam menyusun RPP masih rendah, guru belum menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Kemudian peneliti melakukan penelitian tindakan sekolah dengan menerapkan supervisi klinis, pada siklus I maupun pada siklus II. Jadi dapat disimpulkan pada kondisi akhir berdasarkan hasil analisis pengamatan pada kondisi awal, siklus satu dan siklus II, kajian teori dan kerangka berfikir di atas, diduga bahwa melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun RPP dan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Adapun kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Berpikir Penelitian

Hipotesis Tindakan

Hipotesis merupakan dugaan sementara yang kebenarannya perlu dibuktikan melalui proses penelitian. Berdasarkan landasan teori, bukti-bukti empirik yang diperoleh peneliti sebelumnya dan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: “Melalui Supervisi Klinis Dapat Meningkatkan Kemampuan Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Penerapan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual Bagi Guru SD Negeri Kalibuntu 01Semester I Tahun Pelajaran 2018.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan berturut-turut mulai dari bulan Agustus sampai dengan Desember 2018 karena mulai pertengahan bulan Agustus merupakan waktu yang efektif dalam kegiatan pembelajaran. Guru juga sudah siap dengan perangkat pembelajaran baik itu silabus, program tahunan, program semester, RPP dan pada saat itu peneliti sudah harus mulai melaksanakan supervisi kelas.

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilaksanakan di SD Negeri Kalibuntu 01. Pemilihan tempat tersebut dikarenakan peneliti menemukan kondisi sebagian besar kemampuan guru dalam menyusun RPP rendah dan guru belum menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Selain itu secara administrasi dan operasional memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian, karena SD Negeri Kalibuntu 01 merupakan tempat dimana peneliti bertugas sebagai kepala sekolah yang juga berkewajiban melaksanakan supervisor di sekolah yang menjadi tanggung jawab peneliti.

Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus, masing-masing siklus terdiri atas empat kegiatan yaitu Planing, Acting, Observing dan Reflecting. Siklus I adalah penerapan supervisi klinis dilanjutkan pembinaan secara kelompok, sedangkan siklus II adalah penerapan supervisi klinis dilanjutkan pembinaan secara individual. Adapun desain penelitian tindakan akan tampak lebih jelas dengan skema berikut.

Subjek penelitian atau populasi dalam penelitian ini adalah semua guru yang bertugas di SD Negeri Kalibuntu 01yang terdiri dari 6 orang guru kelas dan 3 orang guru mata pelajaran dan seluruh siswanya yang berjumlah 120 orang. Karena sekolah tersebut yang pembinaan dan penyelenggaraan pendidikannya menjadi tanggung jawab peneliti. Dengan kompetensi guru yang heterogen karena belum semua guru memiliki kualifikasi akademik S1, baru dua orang guru yang sudah meraih memenuhi kualifikasi minimal pendidikan S1, sedang yang lain masih dalam proses pendidikan meraih sarjana, sedangkan objek penelitian adalah aktivitas guru dalam merencanakan pembelajaran (RPP) dan aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.

Sumber data primer dalam penelitian ini adalah sumber data dari subjek. Sumber data primer ada dua yaitu sumber data yang diperoleh melalui supervisi terhadap semua guru SD Negeri Kalibuntu 01 yang berjumlah 9 orang yang terdiri dari 6 orang guru kelas dan 3 orang guru mata pelajaran yang bentuknya berupa RPP yang dimiliki oleh guru pada kondisi awal, hasil pelaksanaan siklus I, dan hasil pelaksanaan siklus II. Sumber data primer kedua adalah guru dan siswa yang merupakan subjek penelitian yang sekaligus sebagai sumber data penelitian ketika sedang melakukan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Demikian juga siswa dapat dijadikan sebagai sumber data ketika sedang melaksanakan kegiatan pembelajaran bersama guru, misalnya keaktifan dalam bertanya, keseriusan, motivasi, rasa senang dan antusiasme.

Sumber data sekunder adalah sumber data yang berasal dari selain Subjek. Sumber data sekunder berasal dari dokumentasi atau pengamatan berkaitan dengan data-data (dokumen) yang menyajikan identitas sumber penelitian, baik guru maupun siswa, tempat (kelas). Tempat dapat dijadikan sumber data dengan melihat kondisi ruangan, misalnya kebersihan, kerapihan, ventilasi, pencahayaan dan pengaturan tempat duduk. Selanjutnya aktivitas berkaitan dengan langkah-langkah guru dalam melaksanakan pembelajaran dan aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Adapun bentuk data yang diperoleh ada dua yaitu bentuk data kuantitatif yang disajikan dalam bentuk angka atau bilangan sampai dua angka dibelakang koma. Bentuk data kualitatif yang berupa pernyataan kategori, misalnya Baik sekali, Baik, Cukup, Sedang, Kurang. Adapun banyaknya sumber data ada 3 yaitu:; (1) Dari kondisi awal berupa data tentang hasil penyusunan RPP dan proses penyusunan RPP; (2) Data pada siklus I berupa data hasil penyusunan RPP dan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Proses penyusunan RPP dan proses penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual siklus I; (3) Data siklus II berupa data hasil penyusunan RPP, dan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Proses penyusunan RPP dan proses penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual siklus II.

Dalam penelitian ini hanya menggunakan satu teknik pengumpulan data yaitu teknik non tes yang pengumpulan datanya dilakukan oleh kepala sekolah sebagai peneliti selama proses pelaksanaan tindakan. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data pada kemampuan menyusun RPP yaitu, observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. Sedangkan pada pembelajaran kontekstual yaitu Indikator Pengamatan Pembelajaran Kontekstual dan Instrumen Pengamatan Pembelajaran Kontekstual.

Observasi. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi.

Indikator Kinerja

Indikator merupakan kondisi akhir yang diharapkan dalam proses penelitian dengan didasarkan pada pengalaman yang lalu. Indikator keberhasilan adalah pada saat subjek penelitian mencapai tingkat keberhasilan dengan rata-rata nilai minimal BAIK. Indikator BAIK pada kondisi akhir yang diharapkan adalah kemampuan guru dalam menyusun RPP minimal mencapai rata-rata nilai 61%-80% dan Baik pada kondisi akhir yang diharapkan adalah kemampuan guru dalam penerapan pembelajaran kontekstual mencapai rata-rata nilai 84,00.

Prosedur Penelitian

Gambar prosedur penelitian menunjukkan tahapan penelitian dari kondisi awal kemudian melakukan studi pendahuluan melihat dokumen, wawancara dan observasi kelas. Melihat hasil studi pendahuluan belum sesuai harapan kemudian peneliti merencanakan tindakan berupa programs Supervisi Klinis. Langkah- langkah supervisi klinis sejalan dengan langkah-langkah penelitian tindakan sekolah.

Siklus I

Perencanaan (Planning)

Menetapkan subjek penelitian yaitu guru-guru SD Negeri Kalibuntu 01yang berjumlah 8 orang yang terdiri 6 guru kelas dan 3 guru mapel.

Menetapkan Mata pelajaran dan semester dari RPP yang akan dibuat. Pada siklus I membuat RPP Bahasa Indonesia sesuai kelas yang diampu, pada siklus II membuat RPP mapel IPA dan bagi guru mapel sesuai mapel yang diampu.

Menetapkan jumlah siklus yaitu 2 siklus. Siklus I dilaksanakan selama 3 (tiga) pertemuan pada tanggal 11, 12 dan 13 Oktober 2018. Tanggal 11 untuk perencanaan, tanggal 12 pelaksanaan dan pengamatan dan tanggal 13 untuk refleksi.

  • Peneliti menyiapkan instrumen observasi dan jadwal pelaksanaan penelitian tindakan sekolah.
  • Menyusun program Supervisi Klinis berdasarkan pendapat Sullivan & Glanz, dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
    • Kegiatan perencanaan pertemuan: menentukan fokus observasi dengan pendekatan umum, informasi langsung, kolaboratif, atau langsung sendiri, menentukan metode dan formulir observasi dan mengatur waktu observasi dan pertemuan berikutnya.
    • Langkah-langkah observasi: memilih alat observasi, melaksanakan observasi penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual berdasarkan RPP yang telah disusun oleh guru, memferivikasi hasil observasi guru pada pertemuan berikutnya, menganalisis data hasil verifikasi dan menginterpretasi dan memilih pendekatan interpersonal setelah pertemuan berikutnya. Langkah-langkah pertemuan berikutnya: menentukan fokus dan waktu dan langkah-langkah refleksi kolaborasi: menentukan nilai-nilai, mana yang kurang bernilai dan apa saran-saran.

Pelaksanaan (Acting)

Supervisi klinis dilaksanakan dengan kegiatan pokok sebagai berikut.

  1. Observasi melakukan pengamatan terhadap dokumen RPP dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen pengamatan yang telah disepakati pada tahap perencanaan.
  2. Pertemuan berikutnya melakukan pembinaan, wawancara tentang cara-cara menyusun RPP, dengan berpedoman pada prosedur dan instrumen pengamatan yang telah disepakati pada tahap perencanaan.
  3. Mnyusun RPP dengan berpedoman pada standar RPP yang benar.
  4. Peneliti menyiapkan instrument pengumpul data.

Pengamatan (Observing)

Tahapan pengamatan merupakan pencatatan semua aktivitas yang dilakukan saat guru melaksanakan penyusunan RPP dan peneliti melakukan pengamatan pembelajaran yang dilaksanakan guru kelas yang menjadi subjek penelitian dan hasilnya dituangkan dalam instrumen pengamatan. Secara umum pengamatan dilakukan untuk mengetahui sejauhmana efektivitas tindakan dilakukan, maka diperlukan alat-alat pemantau dan evaluasi yang terinci sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur keberhasilan. Alat yang digunakan mengumpulkan data sebagai alat pengukur keberhasilan tindakan adalah pedoman wawancara, lembar observasi dan lembar check-list.

Refleksi (reflecting)

Refleksi dilaksanakan secara kolaborasi antara peneliti sebagai supervisor dan guru. Jika tindakan dianggap belum berhasil maka dilanjutkan dengan tindakan pada siklus II. Pelaksanaan tindakan pada siklus II kegiatan yang dilakukan hampir sama dengan siklus I, perbedaannya adalah setelah penerapan supervisi dilanjutkan dengan pembinaan secara individual. Peneliti dan guru menentukan waktu pelaksanaan siklus II untuk masing-masing guru. Tahap refleksi dimaksudkan untuk mengadakan pengamatan terhadap RPP yang disusun setelah pembinaan secara kelompok dan penerapannya pada proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, menemukan kelebihan dan kekurangan RPP dan pengamatan pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas untuk disiapkan solusi pemecahanya dan menyiapkan instrumen pendukungnya untuk tahap berikutnya. Kegiatan refleksi I dimulai dengan kegiatan diskusi. Dalam diskusi ini dimulai anggota kelompok untuk menyampaikan kesan dan pesan selama proses penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dalam siklus I. Kesempatan berikut­nya pengamatan pembelajaran yang dilaksanakan guru kelas berdasarkan RPP yang telah dibuat. Selanjutnya supervisor di luar kelompok dalam hal ini kepala sekolah, menyampaikan hasil pengamatan terutama berkenaan dengan aktifitas kelompok. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru demi perbaikan. Sebaliknya, pihak yang dikritik dapat menerima masukan dari kepala sekolah untuk perbaikan pada kegiatan berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat dirancang kembali kegiatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berikutnya yang lebih baik pada siklus II. Kegiatan refleksi II dilakukan oleh peneliti untuk menemukan kelebihan dan kekurangan RPP yang telah disusun. Kegiatan ini dimulai dengan pemamaparan hasil tiga alat pengumpul data dan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Kegiatan diskusi membahas temuan/hasil siklus I. Peneliti menyampaikan komentar terutama berkenaan dengan aktifitas kelompok. Kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti anggota kelompok demi perbaikan. Sebaliknya, pihak yang dikritik dapat menerima masukan dari kepala sekolah untuk perbaikan pada kegiatan berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat disimpulkan tingkat keberhasilan yang telah dicapai.

Siklus II

Perencanaan (planning)

Siklus II dilaksanakan selama 3 (tiga) pertemuan pada tanggal 24, 25 dan 26 Oktober 2018. Tanggal 24 untuk perencanaan, tanggal 25 pelaksanaan dan pengamatan dan tanggal 26 untuk refleksi.

Pelaksanaan (acting)

Peneliti melaksanakan tindakan penerapan supervisi klinis kemudian mengadakan tindak lanjut dengan pembinaan secara individual. Pembinaan dilaksanakan setelah masing-masing guru disupervisi klinis, sehingga pembinaan performasi guru mengelola proses pembelajaran akan lebih bermakna meningkatkan pengembangan profesi dan motivasi kerja guru.

Pengamatan (Observing)

Peneliti melakukan observasi (pengamatan) terhadap pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru yang menjadi subjek penelitian dan mengisikan hasilnya ke dalam instrumen yang telah disiapkan.

Refleksi (reflecting)

Kegiatan refleksi siklus II dilakukan secara individual terhadap masing-masing guru, untuk menemukan kelebihan dan kekurangan RPP yang telah disusun dilanjutkan dengan menyampaikan hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan oleh guru. Kegiatan ini dimulai dengan pemamaparan hasil tiga alat pengumpul data dan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Kegiatan diskusi membahas temuan/hasil siklus II. Dilanjutkan dengan penyampaian tanggapan, pembinaan, pernyataan, kritik dan saran disampaikan secara bijak tanpa merendahkan atau menyakiti guru yang mengalami pembinaan klinis demi perbaikan. Sebaliknya, pihak yang dikritik dapat menerima masukan dari kepala sekolah untuk perbaikan pada kegiatan berikutnya. Berdasarkan masukan dari diskusi ini dapat disimpulkan tingkat keberhasilan yang telah dicapai olah guru.

Diskripsi Kondisi Awal

SD Negeri Kalibuntu 01adalah salah satu sekolah yang masuk dalam wilayah Kecamatan Losari Kabupaten Brebes. Hasil supervisi kelas menunjukkan 55,55% dari 9 guru tidak membuat rencana RPP yang baru tetapi hanya mengkopy paste atau mengulang rencana pelaksanaan pembelajaran tahun sebelumnya. RPP tersebut merupakan hasil mengadopsi sekolah lain sehingga isi dan muatanya tidak sesuai dengan kondisi di SD Negeri Kalibuntu 01. Sebagian besar guru tidak membuat RPP sendiri karena merasa kesulitan dan belum paham cara membuat RPP yang baik, lengkap dan sistematis karena belum adanya program pembinaan terhadap guru oleh kepala sekolah secara langsung misalnya melalui supervisi yang yang sesuai dengan kebutuhan guru, bermakna dan berkelanjutan. Untuk lebih jelasnya hasil observasi terhadap kemampuan guru dalam menyusun RPP dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.1 Kemampuan Menyusun RPP (Pra Siklus)

No. Uraian Data Jumlah
Angka Prosen
1. Kepemilikan RPP 9 100%
2. RPP disusun sendiri 4 44,44 %
3. RPP tidak disusun sendiri 5 55,55 %

Data di atas terjadi pada guru SD Negeri Kalibuntu 01tahun pelajaran 2018, bulan September 2018. Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa semua guru yang berjumlah 9 orang mempunyai RPP untuk semua mata pelajaran, 4 orang diantaranya (44,44%) membuat sendiri dan 5 orang guru (55,55%) tidak membuat sendiri.

Tabel 4.2 Kemampuan Menyusun RPP (Pra Siklus) Pada Supervisi Kunjungan Kelas dengan Menggunakan Instrumen Pedoman Wawancara

No. Komponen RPP A B C D
Jl % Jl % Jl % Jl %
1. Menentukan Bahan dan merumuskan tujuan indikator pembelajaran 2 22,22 2 22,22 5 55,55 0 0
2. Merencanakan pengorganisasian materi, media dan sumber belajar 3 33,33 1 11,1 5 55,55 0 0
3. Merencanakan skenario pembelajaran. 1 33,33 3 33,33 5 55,55 0 0
4. Merencanakan pengelolaan kelas. 1 11,11 3 33,33 5 55,55 0 0
5. Merencanakan prosedur, jenis dan menyiap-kan alat penilaian 2 22,22 2 22,22 5 55,55 0 0
6. Tampilan dokumen fisik RPP 3 33,33 1 11,11 5 55,55 0 0
Rata-rata 2 22,22 2 22,22 5 55,55 0 0

Keterangan : A = Sangat Baik B = Baik C = Cukup D = Kurang

Data pada guru SD Negeri Kalibuntu 01tahun pelajaran 2018, bulan September 2018. Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa 4 guru (44,44%) memiliki kemapuan baik dalam menyusun RPP dan 5 orang guru (55,55%) memiliki kemampuan cukup. Hasil supervisi kelas menunjukkan bahwa (44,44 %) dari 9 guru kelas dalam memberikan materi pelajaran hanya bergantung pada buku pelajaran saja, hanya 55,55% guru yang sudah mampu dan mau menerapkan pembelajaran inovatif misalnya dengan melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual Kontecstual Theacing Learning, memakai berbagai sumber belajar dan menggunakan alat peraga itupun hanya pada mata pelajaran tertentu saja. Dan sebagian besar guru tidak memajang hasil karya peserta didik, jarang menggunakan metode yang beragam, masih lebih terfokus pada penyelesaian kurikulum. Pembelajaran lebih bersifat konvensional yaitu menerangkan diikuti contoh soal kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan soal latihan dan pembahasan, sehingga kegiatan siswa hanya menghafal dan mengingat materi terbut. Walaupun dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) telah dikenalkan pembelajaran kontekstual, namun para guru masih enggan menggunakannya dalam pembelajaran. Padahal dengan pembelajaran kontekstual anak akan belajar lebih bermakna, karena pembelajaran kontekstual mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman atau dunia nyata siswa.

Pada umumnya pembelajaran di kelas pada kondisi awal, masih sulit ditemukan guru yang melaksanakan pembelajaran kontekstual di kelasnya. Namun beberapa guru ada yang sudah berusaha melaksanakan pembelajaran kontekstual walaupun masih dijumpai beberapa kekurangan. Untuk lebih jelasnya hasil observasi terhadap guru yang melakukan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Kondisi Awal

No Responden Kode Guru Kondisi Awal
1 R 1 A 85.0
2 R 2 B 83,3
3 R 3 C 81,7
4 R 4 D 80,0
5 R 5 E 81,7
6 R 6 F 83,3
7 R 7 G 80,0
8 R 8 H 81,7
9 R 9 I 80,0
Skor Rata-Rata 81,8

Diskripsi Hasil Tiap Siklus

Siklus I

Sesuai dengan prosedur penelitian ini dilaksanakan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan wawancara.

Observasi (pengamatan) dilaksanakan oleh peneliti pada hari Jum’at, 12 Oktober 2018 dengan berkolaborasi dengan teman sejawat yang pada kondisi awal sudah mempunyai kemampuan menyusun RPP baik sekali. Melakukan kunjungan kelas mengamati pelaksanaan proses pembelajaran berdasarkan RPP yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya oleh para guru dengan mengisi lembar/instrument pengamatan yang sudah disiapkan oleh supervisor. Setelah penyusunan RPP dilakukan pengambilan data melalui tiga alat pengumpul data yaitu lembar wawancara, lembar observasi, dan angket, dengan hasil sebagai berikut.

Hasil Wawancara

Wawancara dilakukan dengan berdiskusi kolaborasi dengan semua guru dalam kelompok supervisi secara demokratis dan terbuka.

Keberhasilan diukur dengan perolehan nilai minimal Baik.

Dari data yang dikumpulkan maka tingkat keberhasilan adalah 1 guru (11,11%) dengan predikat baik sekali, 4 guru (44,44%) dengan peringkat baik dan 4 guru (44,44%) dengan predikat cukup.

Hasil Observasi

Observasi dilakukan oleh supervisor yaitu kepala sekolah dan teman sejawat/guru yang memiliki kemampuan lebih baik dari guru lain.

Keberhasilan diukur dengan perolehan nilai minimal Baik.

Dari data di hasil observasi tingkat keberhasilan adalah 1 guru (11,11%) dengan predikat sangat baik, 4 guru (44,44%) dengan peringkat baik, dan 4 guru (44,44%) dengan predikat cukup.

Hasil Angket

Untuk memperoleh hasil pengamatan yang optimal dan terbuka supervisor menyebar angket untuk mengetahui tingkat kemampuan para guru dalam menyusun RPP kepada semua guru. Dapat juga berfungsi sebagai refleksi akan kemampuan guru itu sendiri.

Keberhasilan diukur dengan perolehan nilai minimal Baik.

Dari data hasil angket tingkat keberhasilan adalah 1 guru (11,11%) dengan predikat baik sekali, 4 guru (44,44%) dengan peringkat baik, dan 4 guru (44,44%) dengan predikat cukup.

Setelah mengamati hasil penyusunan RPP, kemudian peneliti melakukan pengamatan pada pelaksanaan proses pembelajaran penerapan RPP yang telah disusun guru, pada siklus I diperoleh hasil yang tampak pada tabel berikut.

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Kondisi Awal dan Siklus I

No Kode Guru Kondisi Awal Hasil Siklus I
1 A 85.0 86.7
2 B 83,3 85,0
3 C 81,7 83.3
4 D 80,0 81,7
5 E 81,7 83,3
6 F 83,3 85,0
7 G 80,0 80,0
8 H 81,7 81,7
9 I 80,0 80,0
Skor Rata-Rata 81,8 82,9

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pula skor rata-rata dalam bentuk gambar grafik sebagai berikut.

Gambar 4.1 Skor Rata-rata Kondisi Awal dan Hasil Siklus I

Berdasarkan tabel dan grafik di atas tampak bahwa dari kondisi awal ke siklus I terjadi peningkatan walau masih dalam prosentase kecil yaitu sebesar 1,1%. Hal ini dapat dimungkinkan karena pelaksanaan siklus I guru mulai berusaha menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip penyusunan RPP yang benar, namun guru masih ragu-ragu, kesulitan dan kurang siap menerapkan RPP yang telah disusun dalam pembelajaran. Guru mulai mencantumkan pembelajaran kontekstual pada langkah-langkah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, tetapi belum terbiasa berpengalaman menerapkan pembelajaran kontekstual pada pelaksanaan proses pembelajaran. Guru mulai mengaitkan pembelajaran dengan konsep baru dengan lingkungan atau sesuatu yang sudah dikenal siswa tetapi belum mengkonstruktivisme belajar siswa atau tidak mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Guru mulai menggunakan alat peraga pembelajaran dalam mengajar namun belum membawa siswa aktif belajar. Padahal belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif. Guru menciptakan pengelaman belajar tetapi masih fokus pada pemahaman bukan hapalan. Para siswapun masih terkesan bermalas-malasan karena guru masih ragu-ragu, merasa kesulitan karena tidak memotivasi siswa dengan berbagai cara agar bersemangat belajar. Guru sudah berusaha agar pembelajaran menyenangkan tetapi siswa masih kurang tertarik dengan pelajaran.

Refleksi

Pada pertemuan kedua siklus I digunakan untuk mengetahui ketercapaian program supervisi klinis. Kegiatan yang dilakukan adalah peneliti dan guru berkolaborasi melakukan diskusi refleksi. Diskusi refleksi pada siklus I mengacu pada pertanyaan Apakah kegiatan menyusun RPP telah dilakukan sesuai rencana? Bagaimana tingkat keberhasilan dalam menyusun RPP? Perubahan apa yang terjadi pada guru? Diskusi refleksi dilakukan pada 15 Oktober 2018 di ruang guru dengan hasil analisis dan diskusi sebagai berikut.

  1. Dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara dapat diketahui bahwa dari 9 guru yang ada di SD Negeri Kalibuntu 01dalam menyusun RPP, 1 guru (11,11%) dengan penilaian baik sekali, 4 guru (44,44%) baik, dan 4 guru (44,44%) masih kurang. Tingkat keberhasilan 11,11%.
  2. Dengan menggunakan instrumen lembar observasi diperoleh hasil bahwa dalam menyusun RPP 1 guru (11,11%) dengan kategori baik sekali, 4 guru (44,44%) dengan kategori baik, dan 4 guru (44,44%) masih kurang. Tingkat keberhasilan 11,11%.
  3. Dengan instrumen angket diperoleh hasil bahwa dalam menyusun RPP 1 guru (11,11%) dengan kategori baik sekali, 4 guru (44,44%) dengan kategori baik, dan 4 guru (44,44%) masih kurang. Tingkat keberhasilan 11,11%.

Hasil siklus I menunjukkan adanya peningkatan tercapainya beberapa indikator keberhasilan yaitu ditunjukkan pada meningkatnya kemampuan guru menyusun RPP yang ditandai dengan terakomodasinya sebagian besar komponen-komponen RPP dan sebagian besar prinsip-prinsip penyusunan RPP. Namun keberhasilan ini masih harus ditingkatkan mengingat baru 55,55% guru yang dapat dinyatakan berhasil dan yang 44,44% guru yang belum mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan. Berdasarkan hasil pengamatan proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual kondisi awal dan siklus I, peneliti dan para guru melakukan refleksi kolaborasi. Peneliti menyampaikan hasil pengamatannya, terutama terhadap siswa yang kurang bersemangat, kurang antusias dan kurang berani bertanya apalagi berpendapat. Guru membenarkan apa yang disampaikan oleh peneliti dan guru akan berusaha lagi untuk memotivasi siswa supaya mereka lebih semangat dan lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Berdasarkan ketercapaian indikator kinerja, menganalisis kekuatan dan kelemahan pada saat refleksi, maka perlu dilakukan perbaikan pada siklus II. Pada siklus II kegiatan supervisi klinis dilakukan tetap dalam satu kelompok namun pembinaan intensif secara individu diberikan kepada guru yang masih belum berhasil atau masih mengalami kesulitan. Dalam kegiatan ini peneliti memberikan perhatiaan yang lebih kepada guru-guru yang belum berhasil menyusun RPP dengan cara mendampingi mereka. Pada kegiatan ini guru menjadi lebih terbuka menyampaikan keluhannya atau kesulitan yang dihadapinya. Pada akhir siklus I kepala sekolah bekerja sama dengan guru yang telah berhasil disamping menyusun RPP lagi juga memberikan masukan dan bimbingan kepada temannya yang belum berhasil. Dengan demikian diharapkan semua guru akan meraih keberhasilan melalui kelompok supervisi klinis.

Siklus II

Observasi (pengamatan) dilaksanakan oleh peneliti pada hari Jum’at, 25 Oktober 2018 dengan berkolaborasi dengan teman sejawat yang pada siklus I sudah mempunyai kemampuan menyusun RPP baik sekali. Melakukan kunjungan kelas mengamati pelaksanaan proses pembelajaran berdasarkan RPP yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya oleh para guru dengan mengisi lembar/instrument pengamatan yang sudah disiapkan oleh supervisor. Peneliti melakukan observasi terhadap semua guru namun penekanan pembinaan klinis diberikan kepada 7 guru yang membutuhkan perlakuan klinis. Setelah penyusunan RPP dilakukan pengambilan data melalui tiga alat pengumpul datayaitu, wawancara, observasi dan angket, dengan hasil sebagai berikut.

Hasil Wawancara

Wawancara dilakukan dengan berdiskusi kolaborasi dengan semua guru dalam kelompok supervisi secara demokratis dan terbuka.

Keberhasilan diukur dengan perolehan nilai minimal Baik.

Dari data hasil angket adalah tingkat keberhasilan adalah 2 guru (22.22%) dengan predikat sangat baik, 5 guru (55,55%) dengan predikat baik, dan 2 guru (22,22%) dengan predikat cukup. Hasil wawancara menunjukkan tingkat keberhasilan 77,77%.

Hasil Observasi

Observasi dilakukan oleh supervisor yaitu kepala sekolah dan teman sejawat/ guru yang memiliki kemampuan baik sekali.

Keberhasilan diukur dengan perolehan nilai minimal Baik.

Dari data hasil observasi tingkat keberhasilan adalah 2 guru (22,22%) dengan predikat sangat baik, 5 guru (55,55%) dengan predikat baik, dan 2 guru (22,22%) dengan predikat cukup. Hasil observasi menunujukan tingkat keberhasilan 77,77%.

Angket

Untuk memperoleh hasil pengamatan yang optimal dan terbuka supervisor menyebar angket untuk mengetahui tingkat kemampuan para guru dalam menyusun RPP kepada semua guru. Dapat juga berfungsi sebagai refleksi akan kemampuan guru itu sendiri.

Keberhasilan diukur dengan perolehan nilai minimal Baik.

Dari data hasil angket adalah tingkat keberhasilan adalah 2 guru (22,22%) dengan predikat baik sekali, 5 guru (55,55%) dengan predikat baik, dan 2 guru (22,22%) dengan predikat cukup. Hasil angket menunjukkan keberhasilan sebesar 77,77%.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses pembelajaran pada supervisi kedua siklus II dan untuk mengetahui apakah ada peningkatan atau penurunan dibandingkan dengan hasil pengamatan pada siklus I, maka peneliti menyajikan hasil pengamatan siklus I dan siklus II dalam satu tabel berikut.

Tabel 4.11 Hasil Pengamatan Siklus I dan II

No Kode Guru Hasil Siklus I Hasil Siklus II
1 A 86.7 86,7
2 B 85,0 85,0
3 C 83.3 85,0
4 D 81,7 81,7
5 E 83,3 85,0
6 F 85,0 86,7
7 H 80,0 81,7
8 I 81,7 83,3
9 J 80,0 83,3
Skor Rata-Rata 82.9 84,2

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pula skor rata-rata dalam bentuk gambar grafik sebagai berikut.

Gambar 4.2 Skor Rata-rata Hasil Pengamatan Siklus I dan II

Berdasarkan tabel dan gambar hasil pengamatan siklus I dan siklus II tampak bahwa ada peningkatan dari 82,9 menjadi 84,2 yaitu sebesar 1,3%. Peningkatan masih sangat kecil, namun kalau dibandingkan dengan peningkatan dari kondisi awal ke siklus I yang hanya 1,1%, maka peningkatan dari siklus I ke siklus II ini cukup menggembirakan. Dan kalau dilihat dari kondisi awal ke siklus II, maka peningkatan cukup bagus yaitu dari 81,8 menjadi 84,2 atau terjadi peningkatan sebesar 2,4%. Pada akhir siklus II ini peneliti merasakan banyak kemajuan baik dari kemampuan dan kemauan guru dalam menyusun RPP serta penerapannya dalam mengelola pembelajaran. Guru maupun siswa menunjukkan peningkatan aktifitas dalam pembelajaran menerapkan pembelajaran inovatif yaitu penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekastual, pembelajaran tidak terjadi di dalam kelas saja, tetapi sudah mulai mengaitkan pembelajaran dengan lingkungan sebagai alat pembelajaran dan sumber belajar, bahkan ada guru yang menyajikan pembelajaran dengan lap top dan LCD menggunakan program power point yang ternyata sangat menarik perhatian siswa. Siswa mulai tampak antusias dalam mengikuti pembelajaran, berani bertanya dan mengemukakan mengemukakan pendapat.

Refleksi

Akhir pertemuan kedua, siklus II digunakan untuk mengetahui ketercapaian program supervisi klinis. Kegiatan yang dilakukan adalah berdiskusi melakukan refleksi kolaborasi antara supervisor dan guru sebagai mitra sejajar secara terbuka dan obyektif. Diskusi refleksi pada siklus II mengacu pada pertanyaan: Apakah kegiatan menyusun RPP telah dilakukan sesuai rencana? Bagaimana tingkat keberhasilan dalam menyusun RPP? Perubahan apa yang terjadi pada guru? Mana yang perlu ditingkatkan lagi dan ditindaklanjuti? Diskusi refleksi dilakukan pada 26 Oktober 2018 di ruang guru dengan hasil analisis dan diskusi sebagai berikut.

  1. Dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara dapat diketahuai bahwa dari 9 orang guru yang ada di SD Negeri Kalibuntu 01, 2 orang guru (22,22%) mempunyai kemampuan baik sekali, 5 orang (55,55%) guru mempunyai kemampuan baik, dan 2 orang guru (22,22%) memiliki kemampuan cukup. Tingkat keberhasilan 77,77%.
  2. Dengan menggunakan instrumen lembar observasi dari 9 orang guru diperoleh hasil 2 orang guru (22,22%) berhasil menyusun RPP dengan kategori baik sekali, 5 orang (55,55%) guru mempunyai kemampuan baik, dan 2 orang guru (22,22%) memiliki kemampuan cukup. Tingkat keberhasilan 77,77%.
  3. Dengan instrumen angket diperoleh bahwa dalam menyusun RPP mengunakan komponen dan menerapkan prinsip-prinsip penyusunan RPP 2 orang guru (22,22%) baik sekali, 5 orang guru (55,55%) baik, dan hanya 2 orang guru (22,22%) yang kemampuannya masih cukup. Tingkat keberhasilan 77,77%.

Hasil siklus II menunjukkan tercapainya sebagian besar indikator keberhasilan yaitu ditunjukkan pada meningkatnya kemampuan guru menyusun RPP yang ditandai dengan terakomodasinya sebagian besar komponen-komponen RPP dan sebagian besar prinsip-prinsip penyusunan RPP. Namun keberhasilan pada siklus II ini belum mencapai 100%. Mengingat waktu penelitian ini dibatasi dalam dua siklus, maka hal-hal yang menjadi kelemahan dan beberapa indikator yang belum tercapai oleh sebagian subjek penelitian, maka ditindak lanjuti dengan kepala sekolah membuka kesempatan kepada guru atau objek penelitian jika membutuhkan supervisi klinis secara individual. Peneliti menyampaikan hasil pengamatan siklus I dan siklus II yang menunjukkan banyak kemajuan. Peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua guru yang telah berusaha melakukan perbaikan meningkatkan kemampuan menyusun RPP dengan kelengkapan dan prinsip-prinsip yang memenuhi standar yang ditetapkan dalam Permendiknas No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Pada siklus II ini guru bersedia datang sendiri menyampaikan keluhannya untuk disupervisi klinis dan menjadi subjek penelitian sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri. Pada akhir siklus II peningkatan kemampuan guru tampak pada peningkatan aktivitas dan inovasi guru dalam mengelola proses pembelajaran. Penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual berimplikasi pada kemauan guru memanfaatkan alat peraga dari lingkungan untuk memudahkan siswa memahami konsep ilmu dengan baik. Hasil kegiatan siswa dalam aktifitas belajar menjadi lebih berpartisipasi aktif, tanggung jawab, disiplin dalam mengikuti pelajaran, dan lebih memusatkan perhatian pada materi pembelajaran, sehingga hasil belajar siswapun meningkat. Pembelajaran berjalan menyenangkan dan lebih bermakna. Guru juga merasa puas dengan hasil kerjanya dan semakin percaya diri. Komunitas masyarakat belajar tercipta di SD Negeri Kalibuntu 01.

Pembahasan Tiap dan Antar Siklus

Siklus I

Sesuai indikator kinerja, bahwa penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui kegiatan supervisi klinis menunjukkan hasil sebagai berikut.

  1. Penyusunan RPP mengacu pada Komponen RPP dan prinsip-prinsip penyusunan RPP.
  2. Terjadi Aktivitas bimbingan analitis dan deskriptis yang baik dalam kegiatan supervisi klinis.
  3. Motifasi menyusun RPP meningkat.
  4. Hasil akhir dari 9 guru dalam menyusun RPP, 5 guru (55,55%) dinyatakan berhasil dan 4 guru (44,44%) belum berhasil. Peningkatan kemampuan dari awal siklus ke siklus I sebesar 11,11% dan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.12 Peningkatan Kemampuan Menyusun RPP Siklus I

No. Alat Pengumpulan Data Hasil Penilaian Perubahan Prosentase Peningkatan
Kondisi Awal Siklus I
1. Pedoman wawancara 44,44% 55,55% 11,11% 25%
2. Lember observasi 55,55% 11,11% 25%
3. Angket 55,55% 11,11% 25%

Berdasarkan indikator tersebut di atas ada peningkatan kemampuan menyusu RPP dari hasil pra siklus 44,44% menjadi 55,55% pada siklus I, dengan prosentase peningkatan 25%. Beberapa hal positif yang dapat diinventarisir dari program supervisi klinis adalah munculnya kesadaran guru untuk datang kepada supervisor atau kepala sekolah, guru senior atau yang sudah memiliki kemampuan membimbing guru lain. Meningkatnya motivasi guru dalam membuat RPP. Guru Mulai mencantumkan model pembelajaran inovatif, serta penggunaan alat peraga dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Di samping itu adanya pembinaan yang bersifat demokratis analitis dan kemitraan antara supervisor dan guru lebih menigkatkan inovasi, semangat, keaktifan, kreatifitas, kerjasama, dan rasa tanggungjawab guru terhadap kinerjanya.

Guru dalam siklus I telah melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual yang telah dicantumkan dalam RPP yang telah di susunnya.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa guru dalam melaksanakan pembelajaran pendekatan kontekstual sesuai data hasil penelitian terdapat peningkatan yang signifikan yaitu sebesar 25%. Berdasarkan data dokumentasi dan lembar observasi telah menunjukkan bahwa aktifitas guru semakin dinamis dan senantiasa ada keinginan untuk memperbaiki diri dalam melaksanakan pembelajaran.

Siklus II

Sesuai indikator kinerja, bahwa penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis menunjukkan hasil sebagai berikut.

  1. Sebagian besar RPP disusun menurut komponen dan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
  2. Aktivitas kepala sekolah dalam program pembinaan akademis melalui supervisi klinis terhadap guru semakin baik.
  3. Motifasi menyusun RPP dan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual meningkat.
  4. Hasil akhir menunjukkan dari 9 orang guru dalam menyusun RPP sebagian besar (77,77%) menyusun dengan kemampuan baik sekali sampai baik dan sebagian kecil (22,22%) masih kurang. Peningkatan kemampuan siklus I ke siklus II dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.13 Peningkatan Kemampuan Menyusun RPP Siklus II

No. Alat Pengumpulan Data Hasil Penilaian Perubahan Prosentase Peningkatan
Siklus I Siklus II
1. Pedoman wawancara 55,55% 77,77% 22,22% 40%
2. Lember observasi 55,55% 77,77% 22,22% 40%
3. Angket 55,55% 77,77% 22,22% 40%

Berdasarkan data tabel di atas tingkat keberhasilan dalam kemampuan menyusun RPP dari hasil 55,55% pada siklus I menjadi menjadi 77,77% pada siklus II, dengan prosentase peningkatan 40%. Beberapa hal positif yang perlu diinventarisir dari hasil tindakan ini adalah:

  1. Peningkatan motivasi dalam membuat RPP karena adanya komptisi sesama guru untuk memenuhi tugas pokoknya terutama dalam mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran.
  2. Timbulnya kesadaran bahwa RPP benar-benar menjadi pedoman pelaksanaan pembelajaran yang memudahkan guru mengajar dan bukan hanya sekedar pelengkap administrasi.
  3. Di samping itu adanya pembinaan langsung dari kepala sekolah yang bersifat relasi koligial yang sederajat, demokratif dan interaktif guru lebih terbuka dan lebih menigkatkan semangat, keaktifan, serta rasa tanggungjawabnya.

Penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui kegiatan supervisi klinis dan tindakan menunjukkan hasil sebagai berikut.

  1. Guru dalam siklus II telah menerapkan pembelajaran kontekstual yang telah dicantumkan dalam langkah-langkah kegiatan inti dalam RPP yang telah di susunnya.
  2. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual pada siklus II meningkat secara signifikan yaitu sebesar 1,3%. Berdasarkan data dokumentasi dan lembar observasi telah menunjukkan bahwa aktifitas guru semakin inovatif dan senantiasa ada keinginan untuk memperbaiki diri dalam melaksanakan pembelajaran.
  3. Kecenderungan guru menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran meningkat. Guru telah berupaya dapat mengaitkan ilmu pengetahuan dengan lingkungan. Karena hal tersebut berimplikasi pada meningkatnya semangat dan motivasi siswa belajar baik di sekolah maupun di rumah lewat kegiatan belajar kelompok maupun individual. Suasana komunitas masyarakat belajar di SD Negeri Kalibuntu 01terlihat meningkat terindikasi pada hasil belajar siswa yang semakin tahun semakin meningkat, baik bidang akademis misalnya hasil UASBN yang semula mencapai rata-rata C menjadi kategori B.

Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan penerapan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui kegiatan supervisi klinis. Peningkatan kemampuan menyusun RPP mengacu pada standar proses, dengan menggunakan tiga alat ukur, yaitu pedoman waancara, lembar observasi, dan angket dalam dua siklus. Berikut ini perbandingan kemampuan menyusun RPP dari hasil pra siklus, siklus I dan siklus II yang disajikan dalm tabel yaitu:

Tabel 4.14 Perbandingan Hasil Kemampuan Menyusun RPP Dari 9 Guru

No Data Pra Siklus Siklus I Siklus II
1. Kemampuan menyusun RPP sesuai komponenen dan prinsip-prinsip yang benar 4 guru 5 guru 7guru
2. Prosentase ketuntasan 44,44% 55,55% 77,77%
3. Prosentase Peningkatan 25% 40%

Berdasarkan tabel dan gambar tersebut tampak bahwa dari kondisi awal ke siklus I kemampuan guru dalam menyusun RPP mengalami peningkatan yaitu sebesar 25%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II juga terjadi peningkatan yaitu 40%. Sehingga peningkatan dari kondisi awal ke siklus akhir atau siklus II sebesar 75%. Dalam pemelitian ini jelas bahwa sejumlah 7 orang guru telah memenuhi kriteria kemampuan baik dalam menyusun RPP bahkan sebagian telah mencapai kualifikasi baik sekali demikian pula rata-rata yang dicapai telah sesuai dengan harapan yang ditetapkan dalam indikator penelitian yaitu mencapai rata-rata nilai sebesar 75% (telah mencapai indikator yang telah ditetapkan yaitu nilai baik rata-rata nilai 61%-80%). Sedangkan pada tujuan penelitian ke 2 adalah peningkatan penerapan pembelajaran kontekstual mengacu pada Indikator Pengamatan Pembelajaran Kontekstual digunakan alat ukur berupa Instrumen Pengamatan Pembelajaran Kontekstual. Untuk lebih jelasnya hasil tindakan penerapan pembelajaran kontekstual dari kondisi awal dan tiap siklus dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 4.15 Hasil Pengamatan Kondisi Awal, Siklus I dan II

No Kode Guru Kondisi Awal Siklus I Hasil Siklus II
1 A 85.0 86.7 86,7
2 B 83,3 85,0 85,0
3 C 81,7 83.3 85,0
4 D 80,0 81,7 81,7
5 E 81,7 83,3 85,0
6 F 83,3 85,0 86,7
7 G 80,0 80,0 81,7
8 H 81,7 81,7 83,3
9 I 80,0 80,0 83,3
Skor Rata-Rata 81.8 82.9 84,2

Skor rata-rata hasil pengamatan kondisi awal, siklus I dan II dapat dilihat pula pada grafik gambar sebagai berikut.

Gambar 4.3 Skor Rata-rata Hasil Pengamatan Kondisi Awal, Siklus I dan II

Berdasarkan tabel dan gambar tersebut tampak bahwa dari kondisi awal ke siklus I kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran kontekstual mengalami peningkatan yaitu 1,1%. Sedangkan dari siklus I ke siklus II peningkatan lebih tinggi yaitu 1,3%. Peningkatan dari kondisi awal ke siklus akhir yaitu siklus II sebesar 2,4%. Walaupun peningkatan relatif kecil, namun peneliti maupun guru sama-sama merasa lega dan puas karena dari kondisi awal, siklus I dan siklus II kemampuan guru dalam pembelajaran kontekstual semakin meningkat. Demikian juga dalam tingkat ketercapaian pembelajaran telah sesuai dengan indikator yang diharapkan, yaitu pada akhir siklus mencapai nilai rata-rata sebesar 84,2 atau 77,77% (7 orang guru) telah mencapai nilai yang termasuk dalam kualifikasi baik berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Namun masih terdapat 2 orang guru yang belum mencapai nilai indikator yang ditetapkan karena guru tersebut belum merasa butuh dengan pembinaan klinis kesadaran dan motivasi untuk berubah lebih maju masih rendah. Dan faktor yang lain karena guru tersebut sering tidak dapat hadir dalam pembinaan akademis secara langsung disekolah karena sering sakit.

Dalam konteks ini jelas bahwa guru sejumlah 7 orang telah memenuhi kriteria baik dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bahkan sebagian telah mencapai kualifikasi sangat baik demikian pula rata-rata yang dicapai telah sesuai dengan harapan yang ditetapkan dalam indikator penelitian. Untuk melihat dan mengetahui secara pasti keberhasilan penerapan pembelajaran kontekstual dalam penelitian ini, maka disajikan hasil dan kebermaknaan tindakan sebagai berikut.

  1. Hasil tindakan siklus I diperoleh nilai rata-rata guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah 81,8 dan termasuk dalam klasifikasi baik, artinya secara umum guru telah melakukan tindakan pembelajaran secara baik, dilihat dari aspek pendahuluan, pelaksanaan dan evaluasi maupun tindak lanjut. Secara rinci guru yang memperoleh nilai di atas 83 adalah 5 orang guru , di bawah nilai 83 adalah 4 orang guru. Dengan demikian artinya kemampuan guru belum mencapai nilai 84 (masih belum mencapai indikator keberhasilan)
  2. Hasil tindakan siklus II telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dari siklus sebelumnya. Secara rata-rata nilai yang diperoleh telah melebihi indikator yang ditetapkan, yaitu 84,2 > 84,0. Dengan demikian secara rinci kemampuan guruyang telah mencapai nilai 84,0 sejumlah 7 orang guru (77,77%). Dengan demikian penelitian ini telah tercapai keberhasilan dan sangat bermanfaat untuk mengembangkan professional bagi guru, meningkatkan hasil belajar siswa dan meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di sekolah.

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan meyusun RPP secara lengkap dan sistematis sesuai dengan Standar proses yang telah ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 bagi guru di SD Negeri Kalibuntu 01.
  2. Melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual bagi Guru SD Negeri Kalibuntu 01.
  3. Melalui supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan professional guru dalam mennyusun RPP yaitu pada kondisi awal sebesar 44,44%, meningkat menjadi 55,55% pada siklus I, maningkat secara signifikan menjadi 77,77% pada siklus II dan sekaligus meningkatkan kemampuan dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual di SD Negeri Kalibuntu 01, dari kondisi awal ke siklus I terjadi peningkatan dari 81,8 menjadi 82,9 yaitu sebesar 1,1%, sedangkan dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan dari 82,9 menjadi 84,2 yaitu sebesar 1,3%. Jadi dari kondisi awal ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 2,4%.

Saran-saran

Berdasarkan simpulan tersebut, maka peneliti perlu memberikan saran atau masukan sebagai berikut.

  1. Bagi kepala sekolah, mengingat kegiatan supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan menyusun RPP dan penerapan pembelajaran kontekstual bagi guru maka perlu diterapkan secara terprogram dan berkelanjutan di sekolah.
  2. Bagi guru, hendaknya mampu dan mau menyusun RPP sendiri karena akan mengembangkan performasi guru dalam mengelola proses pembelajaran dan RPP bukan sekedar pelengkap administrasi.
  3. Bagi pengurus KKG hendaknya penyusunan RPP dan pembelajaran kontekstual menjadi materi dalam kegiatan KKG, sehingga guru dapat menyusun RPP secara lengkap, sistematis dan dapat menerapkan pembelajaran kontekstual secara benar.
  4. Bagi guru, perlu lebih kreatif dan inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga hasil yang dicapai yaitu hasil belajar siswa menjadi lebih optimal.
  5. Penelitian ini baru dilaksanakan dalam 2 siklus, bagi peneliti lain selanjutnya dapat menambah siklus untuk mendapatkan temuan-temuan yang lebih signifikan.
  6. Instrumen yang digunakan dalam penelitian masih merupakan instrumen yang tingkat validitas dan reliabilitasnya belum memuaskan penelitian selanjutnya dapat mencoba mencari validitas dan reliabilitas instrumen yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ametembun. 2003. Supervisi Pendidikan. Bandung: Suri.

Depdiknas. 2006. Peningkatan Mutu Pendidikan di SD. Jakarta: Depdiknas.

Hernawan. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Iskandar. 2007. Administrasi dan Manajemen Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

Johan. 2005. Contextual Teaching Learning. Harvard University.

Karmidi. 2008. Supervisi Klinis. Semarang: Mimbar Pendidikan.

Karso. 2009. Penerapan Supervisi Klinis dalam Meningkatkan Kemampuan Guru Kelas Melaksanakan Pembelajaran Kontekstual di SD Negeri 3 Kotayasa Unit Pendidikan Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. PTS LPMP Provinsi Jawa Tengah.

Kartono. 2006. Metode Penelitian Ilmiah. Bandung: Rosdakarya.

Mahmudi. 2007. Supervisi dan Aministrasi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya.

Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.

Purwanto. 2007. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Armico.

Sahertian. 2007. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Satori. 2008. Profesi Keguruan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sergiovanni. 1987. Supervision in Education. Harvard University.

Solo. 2003. Pengantar Supervisi Pendidikan. Jakarta: Gramedia.

Sugeng. 2003. Pembelajaran Kontekstual. Jakarta: Gramedia.

Suharsimi. 2009. Pengantar Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Sullivan & Glanz. 2005. Suvervision and Administration. Harvard University.

BIODATA PENULIS

Nama : Abdul Goni, S.Pd.

NIP :19680329 199703 1 003

Pangkat/Gol : Pembina /Iva

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SD Negeri Kalibuntu 01 Kecamatan Losari Kabupaten Brebes

You cannot copy content of this page