Iklan

Nama : Madjiati, S.Pd.

Unit Kerja : SD Negeri Tritih Lor 02

Judul : PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MEMBUAT MEDIA PEMBELAJARAN POWER POINT MELALUI PELATIHAN BERJENJANG DI SD NEGERI TRITIH LOR 02

ABSTRAK

Rendahnya Kemampuan guru membuat media belajar Power Point dikarenakan belum pernah melaksanakan pelatihan bersama secara berjenjang, motivasi guru rendah, komputer sulit dipelajari, kesadaran Kepala Sekolah tentang media penting untuk raih prestasi, sarana dan waktu untuk berlatih sangat terbatas. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2019 dengan mengambil subjek guru SD Negeri Tritih Lor 02, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap dengan objek penelitiannya adalah kompetensi dalam pembuatan media pembelajaran Power Point. Pendekatan yang dipilih dalam penelitian ini yaitu melakukan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dengan Teknik Tes Penelitian ini digunakan pula tes pengukuran standar. Hasil Nilai Kompetensi rata-rata pada tiap akhir siklus menunjukan peningkatan yang baik. Nilai rata-rata kompetensi pra siklus 40%, akhir siklus I 60%, dan akhir siklus II 90%. Tterjadi peningkatan Nilai Kompetensi dari pra siklus sampai akhir siklus I sebesar 20%, sehingga nilai kompetensi adalah 30%. Dari hasil analisis data tersebut menunjukan bahwa melalui pelatihan berjenjang dapat meningkatkan kemampuan Guru membuat media pembelajaran Power Point.

Kata kunci : media pembelajaran, Power Point, pelatihan berjenjang.

Pendahuluan

Pemerintah menetapkan PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang dijabarkan pada Permendiknas No 22 tentang Standar Isi, Permendiknas No 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Permendiknas No 24 tentang Pelaksanaan Permendiknas No 22 dan 23,menuntut tanggungjawab guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan untuk melakukan sesuatu agar amanat yang terkandung di dalamnya dapat terwujud. Dalam Standar Isi terdapat berbagai mata pelajaran. Kemampuan guru SD Negeri Tritih Lor 02 dalam memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi masih rendah tertutama kemampuan dalam pembuatan Media Pembelajaran Power Point. Baru sekitar 20% yang dapat membuat dan memanfaatkan Media pembelajaran Power Point dalam kegiatan pembelajaran mereka yang selebihnya masih menggunakan media lain yang tersedia secara instan di sekolah.

Rendahnya Kemampuan Guru dalam membuat media pembelajaran Power Point disebabkan beberapa faktor, yaitu: (1) Kepala Sekolah tidak pernah mengadakan pelatihan dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, (2). Guru kurang berminat untuk dapat menguasai karena menganggap computer sukar untuk dipelajar. (3). Sarana komputer yang masih kurang memadai terutama pada Sekolah Dasar.

Dari kenyataan di atas, diperlukan upaya secara sungguh-sungguh dari Kepala Sekolah untuk mengadakan pelatihan pembuatan media pembelajaran Power Point bagi gurunya. Materi sajian ini dipilih karena sederhana, praktis, mudah, murah tetapi aktual sehingga menarik bagi mereka untuk mempelajarinya.

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini “Bagaimana proses pelatihan berjenjang untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan media pembelajaran Power Point pada Guru SD Negeri Tritih Lor Lor 02 Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2019/2020?” Sedangkan tujuannya adalah mendeskripsi proses pelatihan berjenjang untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan media pembelajaran Power Point pada Guru SD Negeri Tritih Lor Lor 02 Kabupaten Cilacap tahun pelajaran 2019/2020.

Manfaat

Manfaat secara teoretis dari penelitian ini adalah mendapatkan teori baru meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan media pembelajaran Power Point melalui pelatihan secara berjenjang. Secara Praktis, (1) meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. (2) Memperbaiki kinerja guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan media Power Point.

Landasan Teori

Kemampuan Guru

Kemampuan yang selanjutnya disebut kompetensi guru adalah merupakan seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. (PP 74 Tahun 2008). Diamanatkan pula dalam Pasal 2 ayat 2 Guru wajib memiliki Kompetensi. Salah satu dari 4 Kompetensi guru adalah Kompetensi Pedagogik. Selanjutnya pada Kompetensi pedagogik mencakup 8 item kompetensi masing-masing adalah : Pemahaman landasan pendidikan, Pemahaman peserta didik, Pengembangan Kurikulum, Perencanaan pembelajaran, Pelaksanaan pembelajaran, Pemanfaatan teknologi pembelajaran, Evaluasi belajar dan Pengembangan peserta didik.

Sejalan dengan ketentuan tersebut dia atas adalah Permendiknas nomor 13 tahun 2007 yang membahas 5 Kompetensi Kepala Sekolah. Salah satu dari 5 kompetensi tersebut adalah Kompetensi Manajerial, pada kompetensi ini setidaknya Kepala Sekolah dapat mengambil 2 hal yang perlu perhatikan yaitu : (1) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal dan (2) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sekolah bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah.

Dari paparan di atas dapat dilihat adanya dua sisi kepentingan yaitu kepentingan pertama bagi guru adalah untuk mengembangkan diri dalam rangka menguasai sejumlah kompetensi khususnya adalah kemampuan membuat media pembelajaran Power Point . Kepentingan yang ke dua oleh Kepala Sekolah dalam rangka mengoptimalkan kinerja guru serta pemanfaatan sarana multi media yang ada dalam rangka mencapai hasil belajar yang maksimal.

Media pembelajaran Power Point

Pengetian media (medium) adalah cara berkomunikasi dari sumber ke penerima (Smaldino, 2005:9). Pengerian lain tentang media adalah penghantar yang dapat memfasilitasi untuk menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan. Peran media pembelajaran begitu penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini dikuatkan dengan perhatian para pakar pendidikan untuk terus mengadakan kajian dan penyempurnaan tentang media pembelajaran.

Jenis dan karakteristik media pembelajaran disampaikan oleh beberapa ahli beriku ini : (1) Suara, visual dan gerak (Rudy Bretz), (2) Kegunaan media tergantung disain dan biaya (Duncan ), (3) Tiga belas macam media obyek, model, suara, langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai, film, televise dan gambar (Briggs), (4)Benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara dan mesin belajar. (Gagne), (5) Media rumit dan mahal/big media dan media sederhana dan murah/little media (Scharm).

Dalam rangka untuk mengakomodasikan beberapa tuntutan baik tuntutan pencapaian tarjet kurikulum maupun tercapainya kompetensi peserta didik secara komprehensip salah satunya di sini penulis menggunakan media pembelajaran secara maksimal dalam rangka memberikan bantuan pada peserta didik untuk memahami beberapa konsep dalam kegiatan pembelajaran.

Dari beberapa pengertian di atas yang dimaksudkan penulis dalam penelitian ini adalah Media pembelajaran Power Point dari mikrosoft office yang terdapat dalam program komputer. Media pembelajaran Power Point ini dibuat dengan komputer dan ditayangkan dengan menggunakan LCD Proyektor yang dapat dipakai untuk membantu peserta didik dalam memahami materi pelajaran.

Pelatihan berjenjang

Pelatihan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pelatihan yang dilaksanakan secara bertahap mulai dari penjelasan secara lisan, pemberian tugas secara kelompok dan pelatihan secara individual merupakan satu alternative untuk meningkatkan ketrampilan guru dalam membuat media pembelajaran Power Point.

Kerangka Berpikir

Dalam upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik dipengaruhi beberapa faktor, yaitu siswa, guru dan sumber belajar. Guru dalam memberikan kegiatan pembelajran seharusnya mampu membuat dan memanfaatkan beragam media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran adalah Power Point yang dapat dengan mudah dibuat oleh guru untuk selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Kegiatan Pelatihan berjenjang adalah merupakan cara yang dibuat Kepala Sekolah untuk mengadakan pelatihan bersama dengan cara bertahap mulai dari pemberian tugas secara kelompok dan pelayanan pelatihan secara individual.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Tritih Lor 02, Kecamatan Jeruklegi kabupaten Cilacap Tahun 2019, Waktu Penelitian dilakukan pada bulan April 2019 sampai dengan bulan Mei 2019.

Jenis Penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah. Menurut Suharsimi Arikuto (2004) Penelitian tindakan sekolah merupakan penelitian yang dilakukan di sekolah yang menjadi kewenangan kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkitan dengan pembelajaran agar meningkatkan profesionalisme guru dalam pengelolaan pembelajaran yang menjadi tugasnya.

Bertitik tolak pada pengertian di atas maka sebagai subyek penelitian Guru SD Negeri Tritih Lor 02 sebanyak 12 orang, semuanya memiliki karektiristik yang heterogen. Guru tersebut merupakan Tenaga pendidik di SD Negeri Tritih Lor 02 yang menjadi tanggung jawab peneliti dalam pembinaan dan pengembangan profesionalismenya.

Sumber Data

Data merupakan bagian penelitian yang sangat menentukan, sebab kualitas penelitian sangat ditentukan oleh kualitas data yang diperolehnya (Suciati, 2007: 8). Data penelitian tindakan sekolah ini yang digunakan adalah: (1) Sumber data guru meliputi data tentang hasil supervise akademik tiap guru di SD Negeri Tritih Lor 02. (2) Sumber data guru meliputi data ketrampilan guru merencanakan pembelajaran, ketrampilan melaksanakan pembelajaran dan keterampilan membuat media pembelajaran Power Point.

Menurut Suharsimi Arikunto (2005), Teknik pengumpul data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Instrumen pengumpul data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar lebih mudah dan sistematis. Teknik dan alat pengumpul data dalam penelitian ini meliputi data yang bersumber dari guru dengan menerapkan teknik sebagai berikut:

Teknik Tes

Penelitian ini digunakan pula tes pengukuran standar. Dalam pengukuran tes ini merupakan serangkaian item tes yang diujikan kepada sejumlah sampel di mana karakteristik sampel sesuai dengan tuntutan studi. (M. Toha Anggoro, 2007: 5.23).

Teknik Tes pada penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan guru membuat media pembelajaran Power Point menggunakan teknik tes dengan instrumen butir tes pilihan ganda. Soal tersebut dibuat oleh peneliti dengan rambu-rambu pembuatan Power Point dalam mikrosoft Office pada perangkat komputer.

Analsisis Data

Analisis data dari persentase guru yang dapat membuat media pembelajaran Power Point secara kuantitatif. Analisis data kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan statistik, baik yang bersifat deskriptif maupun yang inferensial tergantung tujuannya. (M. Toha Anggoro,2007: 6.12). Langkah yang dilakukan analisis deskriptif melalui proses codding dengan langkah-langkah sebagai berikut, (a) membuat matrik data, (b) memberi kode urutan data, (c) membaca data secara keseluruhan, (d) mengelompokkan data dan e) meringkas data. Analisis data merupakan proses juga untuk memilih, memilah dan membuang data yang tidak sesuai dengan variabel penelitian.

Indikator Kinerja

Berdasarkan data awal persentase guru yang mampu membuat media pembelajaran Power Point 30%, setelah diadakan pelatihan secara berjenjang indikator kinerjanya adalah : (1) Persentase guru yang mampu membuat media pembelajaran Power Point mencapai 80% dari jumlah seluruh guru SD Negeri Tritih Lor 02 sebanyak 12 orang. (2) Persentase guru yang mampu mengoperasikan media pembelajaran Power Point mencapai 100% dari jumlah seluruh guru SD Negeri Tritih Lor 02 sebanyak 12 orang.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian tindakan sekolah terdiri dari 2 siklus. Prosedur umum penelitian ini melalui tahapan planning, acting, observing dan reflecting.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Gambaran kemampuan guru SD Negeri Tritih Lor 02 dalam hal membuat dan mengoperasikan media pembelajaran Power Point masih memprihatinkan. Pada pelayanan pendidikan dasar dari jumlah guru sebanyak 12 orang yang telah dapat membuat hanya 2 orang (20%) dan bisa mengoperasikan sebanyak 10 orang (60%). Dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) belum ada yang mencantumkan media Power Point sebagai alat bantu untuk guru menyampaikan materi pembelajaran. Demikian juga dalam pelaksanaan pembelajaran masih kurang dari 10% yang memanfaatkan multi media komputer khususnya pada media pembelajaran Power Point.

Kondisi memprihatinkan ini terjadi pada guru SD Negeri Tritih Lor 02 yang dapat disajikan dalam daftar berikut ini:

Tabel Penguasaan media Power Point ( Pra Siklus)

No Uraian Data Jumlah Guru Persentase Rata-Rata Persentase
1 Mampu membuat 2 orang 20% 40%
2 Mampu mengoperasikan 10 orang 60%

Data di atas terjadi pada guru SD Negeri Tritih Lor 02 tahun pelajaran 2018/2019 dengan tingkat persentase guru yang mampu membuat adalah 20% dan yang mampu mengoperasikan 60% sehingga rata-rata persentase antara yang mampu membuat dan mampu mengoperasikan adalah 40%.

Deskripsi Hasil Tiap Siklus

Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

Siklus I

Perencanaan (Planning)

Pada bagian ini melakukan perencanaan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan media pembelajaran Power point melalui pelatihan secara dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) menetapkan materi pelatihan berupa dasar-dasar pembuatan media pembelajaran Power Point. (b) menyusun rencana pelatihan. (c) Menentukan jadwal refleksi.

Pelaksanaan (Acting)

Pelaksanaan kegiatan pelatihan bersama yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 4 Mei 2019 merupakan implementasi kegiatan berjenjang dengan langkah-langkah sebagai berikut: Kegiatan pendahuluan, (1) memberi motivasi pada guru untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan professional. (2) menyampaikan tarjet yang akan dicapai setelah mengadakan pelatihan.

Kegiatan Inti, (1) Kepala sekolah menjelaskan cara membuat materi pembelajaran Power Point pada guru secara klasikal. (2) Guru membuat media pembelajaran Power Point secara berkelompok. Kegiatan Penutup, (1) meminta guru menyusun langkah-langkah cara membuat media pembelajaran Power Point. (2) mengakhiri pelatihan dengan memberikan tindak lanjut

Pengamatan (Observing)

Observasi dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui persentase guru yang telah mampu membuat media pembelajaran Power point. Setelah pelatihan berlangsung pada siklus I dapat diperoleh kemajuan sepeti daftar berikut :

Tabel Penguasaan media Power Point Siklus I

No Uraian Data Jumlah Guru Persentase Rata-Rata Persentase
1 Mampu membuat 6 orang 50% 60 %
2 Mampu mengoperasikan 8 orang 70%

Data di atas terjadi pada guru SD Negeri Tritih Lor 02 setelah mengikuti pelatihan pada Siklus I dengan tingkat persentase guru yang mampu membuat adalah 50 % dan yang mampu mengoprasikan 70 % sehingga rata-rata persentase antara yang mampu membuat dan mampu mengoperasikan adalah 60%.

Refleksi (reflecting)

Refleksi pada siklus I mengacu pada pertanyaan Apakah 80% guru telah mampu membuat media pembelajaran Power Point? Apakah 100% guru telah mampu mengoperasikan media pembelajaran Power Point?

Hasil analisis diperoleh data sebagai berikut: (1) Guru yang mampu membuat media pembelajaran Power Point belum mencapai indicator yang ditetapkan (80%). (2) Guru yang mampu mengoperasikan media pembelajaran Power Point belum mencapai indicator yang ditetapkan (100%). Ada beberapa hal yang menjadi kekuatan dalam mengadakan pelatihan yaitu, (a) motivasi peserta pelatihan untuk menguasai mater pelatihan cukup tinggi, (b) kemauan pelatih untuk untuk mencapai target pelatihan masih ada.

Selain kekuatan di atas ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk perbaikan pelatihan yaitu, (a) pola pelaksanaan pelatihan secara klasikal yang tidak mampu memberikan penjelasan secara khusus pada masing-masing kesulitan yang dialami oleh peserta pelatihan. (b) tanggungjawab secara individual peserta pelatihan relatif kecil karena bentuk pelatihan dengan kerja kelompok.

Berdasarkan ketercapaian indikator kinerja, menganalisis kekuatan dan kelemahan pada saat refleksi, maka perlu dilakukan perbaikan pada siklus II. Model pelatihan berjenjang dilakukan perbaikan pada siklus II dengan melihat kekurangan pada siklus I. Perbaikan yang dilakukan adalah pada pola penyampaian materi secara klasikal menjadi invidual dan pemberian tugas secara kelompok menjadi tugas invidual.

Siklus II

Perencanaan (Planning)

Pada kegiatan pelatihan Siklus II ini melakukan perencanaan penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembuatan media pembelajaran Power point melalui pelatihan secara dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) menetapkan pola pelatihan secara individual. (b) menyusun rencana pelatihan. (c) Menentukan jadwal refleksi.

Pelaksanaan (Acting)

Pelaksanaan kegiatan pelatihan bersama yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 November 2019 merupakan implementasi kegiatan berjenjang dengan langkah-langkah sebagai berikut: Kegiatan pendahuluan, (1) memberi hasil refleksi pada Siklua I pada peserta pelatihan. (2) menyampaikan kemajuan hasil dari Siklus I.

Kegiatan Inti, (1) Memberikan penjelaskan cara membuat media pembelajaran Power Point pada guru secara individual. (2) Guru membuat media pembelajaran Power Point secara individual. Kegiatan Penutup, (1) meminta guru membuat rangkuman cara membuat media pembelajaran Power Point. (2) mengakhiri pelatihan dengan memberikan tindak lanjut.

Pengamatan (Observing)

Observasi dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui persentase guru yang telah mampu membuat media pembelajaran Power point. Setelah pelatihan berlangsung pada siklus II dapat diperoleh kemajuan sepeti daftar berikut :

Tabel Penguasaan media Power Point Siklus II

No Uraian Data Jumlah Guru Persentase Rata-Rata Persentase
1 Mampu membuat 9 orang 80% 90%
2 Mampu mengoperasikan 12 orang 100%

Data di atas terjadi pada guru SD Negeri Tritih Lor 02 setelah mengikuti pelatihan pada Siklus II dengan tingkat persentase guru yang mampu membuat adalah 80% dan yang mampu mengoprasionalkan 100% sehingga rata-rata persentase antara yang mampu membuat dan mampu mengoperasikan adalah 90%.

Refleksi (reflecting)

Refleksi pada siklus II mengacu pada pertanyaan, apakah 80% guru telah mampu membuat media pembelajaran Power Point? Apakah 100% guru telah mampu mengoperasikan media pembelajaran Power Point?

Hasil analisis diperoleh data sebagai berikut: (a) Guru yang mampu membuat media pembelajaran Power Point telah mencapai indikator yang ditetapkan (80%). (b) Guru yang mampu mengoperasika media pembelajaran Power Point telah mencapai indikator yang ditetapkan (100%).

Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru membuat media pembelajaran Power Point melalui pelatihan secara berjenjang. Data persentase guru yang mampu dan dapat mengoperasikan media pembelajaran Power point selalu meningkat. Berikut ini perbandingan hasil persentase penguasaan media pembelajaran Power Point pra siklus, siklus I, dan siklus II dipaparkan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel Perbandingan kemampuan guru dalam pembuatan dan pengoperasikan media pembelajaran Power Point.

No Uraian Data Pra Siklus Siklus I Siklus II
1 Mampu membuat 20% 50% 80%
2 Mampu mengoperasikan 60% 70% 100%
Rata-Rata 40% 60% 90%

Dari tabel di atas terlihat, adanya rata-rata persentase kenaikan penguasaan guru dalam penguasaan media pembelajaran Power Point. Rata-rata persentase dari kemampuan membuat dan mengoperasikan media pembelajaran Power Point pra siklus: 40%, siklus I 60% dan siklus II: 90%.

Simpulan Dan Saran

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Pelatihan bersama secara berjenjang dapat memberikan motivasi guru untuk mempelajari cara-cara dalam membuat dan mengoperasikan media pembelajaran Power Point. (2) Pelatihan bersama secara berjenjang juga dapat meberikan pelayanan secara individual sehingga dapat membantu guru memecahkan masalah masing-masing dalam membuat dan mengoperasikan media pembelajaran Power Point. (3) Pelatihan bersama secara berjenjang dapat meningkatkan kemampuan guru dalam membuat dan mengoperasikan media pembelajaran Power Point.

Saran

Saran untuk penelitian lanjut : (1) Mengingat pengumpulan data dari sub-sub variabel dan indikator variabel belum operasional dan spesifik mengukur variabel penelitian maka diharapkan penentuan indikator dari variabel penelitian untuk lebih praktis dan mudah dicari datanya. (2) Pelaksanaan penelitan ini baru dua siklus, peneliti lain selanjutnya dapat menambah siklus untuk mendapatkan temuan-temuan yang lebih signifikan. (3) Instrumen yang digunakan dalam penelitian masih merupakan instrumen yang tingkat validitas dan reliabilitasnya belum memuaskan penelitian selanjutnya dapat mencoba mencari validitas dan reliabilitas instrumen yang lebih baik.

Daftar Pustaka

Andreas Priyono. 2001. Petunjuk Praktis Classroom-Based Action Research. Semarang : Kanwil Depdiknas Propinsi Jawa Tengah.

Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Huijser, H. and Kimmins, L. (2006). Developing a peer-assisted learning community

through MSN Messenger: A pilot program of PALS online. In: OLT 2006

Kartini Kartono. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial.Bandung : Mandar Maju

Mulyadi.HP. 2004.Konsep Dasar dan Prosedur Pelaksanaan PTK. Makalah: Disajikan pada pelatihan pengembangan profesi guru FKPPG Banjarnegara.

Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Roestiyah N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Suhardjono. 1995. Karya Tulis Ilmiah Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Departemen Pendidiakn Nasional.

Suharsimi Arikunto. 1999.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

By admin

You cannot copy content of this page