Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK (LKPD) MELALUI BIMBINGAN INDIVIDU DI SDN 2 KALIWANGI SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Warsimto, S.Pd.SD

Abstrak

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan guru kelas di SD Negeri 2 Kaliwangi dalam menyusun lembar kegiatan peserta didik (LKPD) melalui bimbingan individu. Kegiatan penelitian dilaksanakan selama empat bulan yaitu Agustus sampai dengan November tahun 2019. Subjek penelitian adalah guru kelas I sampai dengan guru kelas VI SDN 2 Kaliwangi. Prosedur tindakan yang dilakukan melalui 2 siklus. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan serta refleksi. Kegiatan dilaksanakan selama dua pertemuan di setiap siklusnya. Pertemuan pertama pada siklus I dan siklus II membahas tentang lembar kegiatan peserta didik (LKPD) ditinjau dari pengertian, ciri-ciri, langkah pembuatan dan pengamatan jenis LKPD. Pada pertemuan kedua berorientasi pada diskusi produk yang telah dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bimbingan individu terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun lembar kegiatan peserta didik (LKPD) pada SD Negeri 2 Kaliwangi semester I. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari kegiatan pra siklus hanya memperoleh nilai rata-rata 51. Setelah dilaksanakan bimbingan pada siklus I meningkat menjadi 73 dan pada siklus II menjadi 85. Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun lembar kegiatan peserta didik tidak terlepas dari adanya bimbingan individual yang dilaksanakan kepala sekolah. Pada kondisi awal kualitas bimbingan hanya 45% yang telah dilaksanakan. Setelah dilaksanakan siklus I kualitas bimbingan yang dilaksanakan meningkat menjadi 80% dan setelah dilaksanakan siklus II kualitas bimbingan meningkat menjadi 90. Berkaitan dengan adanya ketercapaian indikator penelitian pada siklus II maka penelitian dapat dikategorikan berhasil.

Kata Kunci: Kemampuan menyusun lembar kegiatan Peserta Didik (LKPD), bimbingan individu.

PENDAHULUAN

Dalam menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan konteks nyata dalam kehidupan sehari-hari, maka seorang guru perlu menggunakan bahan ajar berupa lembar kegiatan peserta didik (LKPD) yang dapat memudahkan proses pembelajaran. Makna dari kata memudahkan disebabkan karena konten dari lembar kegiatan peserta didik (LKPD) berupa aktivitas aktivitas yang harus dilaksanakan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilaksanakan pada hari Kamis tepatnya tanggal 28 Agustus 2019 diperoleh data bahwa guru belum mampu mengembangkan LKPD dengan baik. Setelah dilakukan pengamatan terhadap LKPD yang pernah dibuat diperoleh data antara lain (1) Lembar kegiatan peserta didik cenderung berupa soal pilihan ganda dan isian; (2) Untuk memenuhi target administrasi, lembar kegiatan peserta didik didik diambil dari LKS yang telah dibeli; (3) Lembar kegiatan peserta didik dibuat tidak sesuai dengan RPP yang dibuat; (4) wawasan dari guru terhadap materi, konstruksi dan Bahasa dalam LKPD masih kurang; (5) Banyak yang beranggapan bahwa melalui buku paket saja sudah cukup; dan (6) Beberapa guru yang menyajikan lembar kerja peserta didik cenderung .hasil download dari internet dan memilih hasil yang kurang maksimal (asal download saja). Setelah satu minggu dilaksanakan, kepala sekolah bersama teman sejawat menganalisis LKPD yang telah dibuat. Hasil perolehan nilai dari produk tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 1.1Rekapitulasi Hasil Observasi Awal Terhadap Penyusunan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)

No Kode Guru Mengajar

Kelas

Skor Perolehan Nilai Kemampuan Guru Kategori
1. A 1 30 50 Kurang
2. B 2 30 50 Kurang
3. C 3 28 47 Sangat Kurang
4. D 4 32 53 Kurang
5. E 5 28 47 Sangat Kurang
6. F 6 34 57 Kurang
Rata-rata Persentase 51 Kurang

Berkaitan dengan adanya beberapa mindset dari guru tersebut, penelti selaku kepala sekolah memikirkan sesuatu yang sudah dilakukan kepada guru-guru di SDN 2 Kaliwangi. Ditinjau berdasarkan hasil refleksi terhadap diri peneliti selaku kepala sekolah, kesalahan yang dilaksanakan oleh guru bukan semata dari factor guru melainkan kepala sekolah. Beberapa factor yang disebabkan oleh kepala sekolah adalah (1) Kepala sekolah kurang memberikan bimbingan dan pendampingan pembuatan lembar kegiatan peserta didik; (2) Kecenderungan kepala sekolah berfokus pada pembimbingan penyelesaian administrasi; (3) Terlalu sibuk mengurus kegiatan di tingkat kecamatan; (4) Kegiatan supervisi hanya dilakukan sekali dalam setahun, hal ini dikarenakan untuk administrasi pembuatan Penilaian Kinerja Guru (PKG); dan (5) Kecenderungan fokus untuk meraih prestasi lomba sehingga kurang focus pelaksanaan bimbingan sebagai bagian dari supervise yang harus dilaksanakan. Kondisi di atas menggugah peneliti untuk melaksanakan perbaikan tentang cara pembuatan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) sesuai dengan kaidah yang berlaku. Untuk mengurai permasalahan tersebut peneliti menggunakan bimbingan individu. Alasan dilaksanakan bimbingan secara individu adalah (1) Target yang akan dilaksanakan lebih optimal. Hal ini dikarenakan jika kegiatan dilaksanakan bersama-sama secara pemerolehan wawasan berbeda. Wawasan yang berbeda dikarenakan beberapa guru fokus membalas chat whatsapp pada saat kegiatan rapat dewan guru; (2) Kontrol kepala sekolah lebih mudah dan bisa lebih detail menjangkau permasalahan yang dihadapi; (3) Meningkatkan rasa harmonis dengan rekan guru; (4) Tidak adanya unsur malu mengungkapkan kepada kepala sekolah. Hal ini dikarenakan ada beberapa tipe guru yang cenderung malu mengungkapkan di depan forum resmi (rapat dewan guru).

KAJIAN PUSTAKA

Kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) mutlak harus dikuasai agar hasil belajar siswa dapat optimal. Di samping itu kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) mutlak harus dikuasai agar hasil belajar siswa dapat diperoleh secara akurat. Nurfuadi (2012: 54) menjelaskan bahwa kemampuan guru adalah usaha guru untuk melaksanakan tugas pembelajaran sebaik-baiknya dalam perencanaan program pengajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran.

Daryanto (2016: 49) menyatakan bahwa lembar kegiatan peserta didik (LKPD) adalah lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar kegiatan peserta didik (LKPD) biasanya berupa petunjuk, langkah untuk menyelesaikan suatu tugas, suatu tugas yang diperintahkan dalam lembar kegiatan harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapainya. Selain itu, Trianto (2008 :148) mendefinisikan bahwa Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan dan pemecahan masalah. Berdasarkan pengertian di atas, lembar kegiatan peserta didik (LKPD) berwujud lembaran berisi kegiatan siswa yang disesuaikan dengan kompetensi dasar dan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Fungsi dari lembar kegiatan peserta didik (LKPD) adalah panduan kerja siswa untuk mempermudah siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Achmadi (2016:38) menjelaskan agar lembar kegiatan peserta didik (LKPD) tepat dan akurat, maka harus dipenuhi syarat-syarat yaitu materi, konstruksi dan Bahasa.

Menurut Achmad (2010: 7) menyatakan bahwa bimbingan sebagai bagian keseluruhan program pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan pribadi dan pelayanan staf khusus agar masing-masing individu dapat mengembangkan secara penuh kesempatan dan kemampuannya dan mengembangkan idenya secara demokratis. Bimbingan dapat terimplementasi dengan maksimal jika menggunakan teknik yang tepat. Salah satu teknik yang dapat dilakukan adalah dengan teknik individual. Jamal (2012: 132) menyebutkan ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam penerapan teknik individu. Kegiatan yang dapat dilakukan pada penerapan teknik individu adalah (1) kunjungan kelas; (2) observasi kelas; (3) percakapan pribadi dan (4) menilai diri sendiri.

METODLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kaliwangi yang terletak di desa Kaliwangi Kecamatan Purwojati, Kabupaten Banyumas. Waktu Penelitian dilakukan selama 4 bulan (Agustus sampai dengan November) pada semester I tahun pelajaran 2019/2020. Subjek penelitian tindakan sekolah adalah seluruh guru kelas di SDN 2 Kaliwangi.

Variabel penelitian merupakan suatu atribut atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2012:38). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model bimbingan individu. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD). Teknik pengumpulan dari dua variable tersebut menggunakan lembar observasi. Dalam lembar observasi ada rentang nilai yaitu 1 sampai dengan 4. Dari skor tersebut diukur dengan kriteria sangat sesuai dengan skor 4, jika kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) dengan kriteria sesuai mendapat skor 3, kemampuan guru dengan kategori kurang sesuai mendapat skor 2, kemampuan guru dengan kategori tidak sesuai mendapat skor 1. Perolehan tersebut kemudian dijumlahkan. Setelah dijumlah dihitung dengan rumus sebagai berikut.

Data yang diperoleh dibandingkan antara rata-rata data awal, rata-rata data akhir siklus 1 dan rata-rata data akhir siklus 2 baik untuk variabel Y maupun X. Dari hasil perbandingan tersebut kemudian dibandingkan untuk diketahui tingkat perkembangan kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) dan kemampuan kepala sekolah dalam melaksanakan bimbingan individu.

Prosedur penelitian tindakan dilakukan melalui dua siklus. Siklus-siklus itu merupakan rangkaian yang saling berkelanjutan, maksudnya siklus ke 2 merupakan kelanjutan dari siklus 1. Tiap-tiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Penelitian ini dikatakan berhasil jika variabel Y atau kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) pada penelitian ini minimal mencapai 75% atau katagori baik. Demikian pula untuk variabel X atau kemampuan peneliti dalam melaksanakan bimbingan individu minimal mencapai 75% atau katagori baik.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I

Sebelum dilakukan tindakan bimbingan individu, peneliti melakukan persiapan dengan mempersiapkan instrumen pengamatan dan penilaian, serta mempersiapkan materi tentang cara-cara pembuatan lembar kegiatan peserta didik juga data awal yang sudah dikumpulkan pada waktu sebelumnya. Adapun beberapa persiapan yang dilaksanakan peneliti pada kegiatan perencanaan meliputi (1) Mempersiapkan instrument observasi siklus I baik untuk mengamati LKPD yang dibuat guru maupun untuk mengamati keterlaksanaan kegiatan bimbingan individu; (2) Mempersiapkan materi bimbingan individu tentang cara-cara mengembangkan lembar kegiatan peserta didik; (3) Melakukan koordinasi dengan seluruh dewan guru dan melakukan kesepakatan dengan kolabor mengenai waktu pelaksanaan, sehingga tidak berbenturan dengan kegiatan lain mengingat banyaknya kegiatan yang ada di sekolah.

Pelaksanaan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 16 sampai dengan 21 September 2019. Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I pertemuan pertama adalah (1) Memberi bimbingan kepada guru tentang pembuatan Lembar Kegiatan Peserta Didik. Bimbingan; (2) Memberi contoh jenis LKPD yang baik dan dilaksanakan telaah bersama antara kepala sekolah beserta guru; (3) Memberi contoh KD, indikator dan tujuan pembelajaran; (4) Guru merancang LKPD didampingi kepala sekolah secara individu; (5) Guru bersama kepala sekolah merefleksikan LKPD yang telah dibuat; dan (6) Kepala sekolah memberikan tugas untuk membuat LKPD sesuai dengan materi yang akan disampaikan.

Pelaksanaan pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 23 sampai dengan 28 September 2019. Kegiatan yang dilaksanakan pada pertemuan kedua adalah (1) Kepala sekolah meminta produk LKPD yang telah dibuat guru sesuai dengan materi yang disampaikan; (2) Mengkroscek LKPD yang dibuat secara bersama-sama; (3) Guru menjelaskan alasan kegiatan yang dicantumkan pada LKPD; (4) Guru menunjukkan beberapa kesalahan yang ditemukan pada LKPD yang telah dibuat; (5) Menanyakan kendala yang muncul saat membuat LKPD.

Berdasarkan hasil observasi pelaksanaan tindakan siklus I dapat diketahui bahwa lembar kegiatan peserta didik yang dibuat oleh guru kelas I sampai dengan kelas enam sudah dapat dikategorikan meningkat dari keadaan sebelumnya. Berdasarkan data penelitian siklus I, masih ada tiga guru yang memperoleh kategori cukup. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada guru kelas I hanya 67, guru kelas II memperoleh 63 dan guru kelas III memperoleh 63. Ditinjau dari guru kelas empat sampai dengan enam, pembuatan lembar kegiatan peserta didik sudah dapat dikategorikan baik. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai pada guru kelas empat memperoleh nilai 80, guru kelas lima memperoleh nilai 85 dan guru kelas enam memperoleh nilai 82. Ditinjau dari indikator pengamatan yang dilaksanakan, konteks materi lembar kegiatan peserta didik sudah dapat dikategorikan baik. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai 83. Ditinjau dari konstruksi dan Bahasa sudah dapat dikategorikan cukup. Hal ini ditunjukkan dengan konstruksi mencapai 71 dan konteks Bahasa mencapai 69.

Pengamatan tindakan dilakukan oleh kolabor selama peneliti melakukan kegiatan bimbingan individu. Kolabor mengamati pelaksanaan kegiatan bimbingan individu oleh peneliti sambil mengisi lembar pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan, pelaksanaan bimbingan sudah dapat dikategorikan baik. Nilai yang diperoleh mencapai 80.

Beberapa kelemahan yang diperoleh setelah dilaksanakan bimbingan individu siklus I dijumpai beberapa kelemahan antara lain (1) Kejelasan perintah dan rumusan langkah kerja masih ada yang kurang sesuai; (2) Sistem penomoran kurang jelas; (3) Pengaturan ruang dan tata letak perlu adanya perbaikan; (4) Masih adanya statement negative ganda; (5) Gambar yang disajikan tidak sesuai dengan kondisi nyata di sekitar siswa; dan (6) Materi disajikan secara kurang runtut

Deskripsi Hasil Siklus 2

Mengacu pada hasil refleksi penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik melalui bimbingan individu pada siklus I hasilnya belum mampu mencapai target yang diharapkan. Oleh karena itu pada penyelenggaraan siklus 2 peneliti menyusun perencanaan dengan mempertimbangkan kelemahan-kelemahan maupun target yang belum terpenuhi pada pelaksanaan bimbingan individu pada siklus II.

Pelaksanan penelitian tindakan sekolah pada siklus II pertemuan I dilaksanakan selama enam hari yaitu pada tanggal 14 sampai dengan 19 Oktober 2019. Setiap hari kegiatan bimbingan dilaksanakan oleh satu guru. Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus II pertemuan pertama adalah (1) Melaksanakan coaching terhadap personal guru. Setelah kegiatan coaching, kepala sekolah memberikan penjelasan tentang unsur-unsur LKPD seperti materi, konstruksi dan Bahasa; (2) Kepala sekolah mempersilahkan guru untuk menanyakan hal-hal yang masih dirasa kurang paham. Pada saat kegiatan tersebut beberapa guru bertanya pada saat mendesain beberapa jenis gambar mengalami kendala. Kendala yang diperoleh dalam bentuk tata letak yang terkadang kurang pas; (3) Memberi contoh KD, indikator dan tujuan pembelajaran. Contoh tersebut diamati oleh guru dari bagian ke bagian secara runtut. Dalam pengamatan tersebut, peneliti selaku kepala sekolah menjelaskan bagian-bagian penting yang harus dipahami bersama karena terkadang menjadi bagian dalam kesalahan saat menyusunnya; (4) Guru merancang LKPD didampingi kepala sekolah secara individu. Kegiatan perancangan tersebut, didasarkan pada KD, indikator dan tujuan pembelajaran yang disajikan kepala sekolah. Kegiatan merancang dilaksanakan secara tertlulis terlebih dahulu sebagai konsep untuk dikembangkan melalui laptop yang dimilikinya; (5) Guru bersama kepala sekolah merefleksikan LKPD yang telah dibuat. Kegiatan refleksi dilaksanakan dengan bertanya kepada guru yang sedang menjadi objek penelitian menggali hal-hal yang sudah dipahami dan juga yang menjadi kendala dalam kegiatan yang dilaksanakan. Rata-rata pada tahap refleksi ini guru menyampaikan perasaan senang. Kendala yang disampaikan hanya masalah waktu yang terkadang menyulitkan mereka harus membuat karena tugas guru tidak hanya mengajar saja melainkan menyelesaikan beberapa administrasi lain yang menjadi tagihan dinas; (6) Kepala sekolah memberikan tugas untuk membuat LKPD sesuai dengan materi yang akan disampaikan. Dalam hal ini kepala sekolah memberi deadline seperti pada siklus sebelumnya yaitu tugas diselesaikan dalam waktu satu minggu.

Pelaksanaan tindakan pada pertemuan kedua secara teknis berorientasi pada pengecekan produk lembar kegiatan peserta didik yang telah dibuat oleh masing-masing guru. Pelaksanaan siklus II pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 21 sampai dengan 28 Oktober 2019. Kegiatan yang dilaksanakan adalah (1) Kepala sekolah meminta produk LKPD yang telah dibuat guru sesuai dengan materi yang disampaikan; (2) Menanyakan kendala yang muncul saat membuat LKPD; (3) Guru menjelaskan alasan kegiatan yang dicantumkan pada LKPD; (4) Guru menunjukkan beberapa kesalahan yang ditemukan pada LKPD yang telah dibuat; (5) Kepala sekolah mengkroscek kembali LKPD yang telah dibuat.

Berdasarkan tabel di atas, kepala sekolah sudah sangat baik dalam melaksanakan bimbingan individu. Berbagai kendala dalam melaksanakan bimbingan individu dapat di atasi secara maksimal. Pada siklus II ini peneliti selaku kepala sekolah tampak lancar dan runtut dalam melaksanakan bimbingan. Dengan adanya peningkatan proses bimbingan, lembar kegiatan peserta didik yang dikembangkan guru lebih baik daripada sebelumnya.

Berdasarkan analisis data pembuatan lembar kegiatan peserta didik (LKPD), masih ada tiga guru yang memperoleh kategori baik. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada guru kelas I mencapai 75. Perolehan hasil analisis produk lembar kegiatan peserta didik yang dibuat guru pada jenjang kelas dua sampai dengan enam mencapai lebih dari 75. Nilai tertinggi dan memperoleh kategori sangat baik diperoleh oleh guru kelas lima dengan perolehan nilai 95. Nilai sangat baik juga diperoleh oleh guru kelas empat dan enam. Dari kedua guru tersebut diperoleh nilai 90.

Pembahasan

Penelitian tindakan sekolah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik melalui bimbingan individu ini dimulai dari bulan Agustus sampai bulan Nopember 2019. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan selama dua pertemuan. Pertemuan pertama membahas tentang konten materi dan pertemuan kedua membahas tentang produk lembar kegiatan siswa yang telah diselesaikan oleh setiap guru kelas di SDN 2 Kaliwangi.

Pengamatan terhadap lembar kegiatan peserta didik (LKPD) mengacu pada pendapat Achmadi (2016:38) menjelaskan agar lembar kegiatan peserta didik (LKPD) tepat dan akurat maka harus dipenuhi syarat-syarat seperti materi, konstruksi dan Bahasa. Berdasarkan kriteria tersebut peneliti dapat mengetahui adanya kenaikan antara sebelum dan sesudah tindakan. Untuk mempermudah dalam mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam membuat lembar kegiatan peserta didik dapat dilihat pada diagram berikut.

Gambar 4.1 Peningkatan Kemampuan Guru Membuat Lembar Kegiatan Peserta Didik

Berdasarkan diagram di atas dapat diketahui bahwa kemampuan guru dalam membuat lembar kegiatan peserta didik (LKPD) dari kegiatan pra siklus hanya memperoleh nilai rata-rata 51. Setelah dilaksanakan bimbingan pada siklus I meningkat menjadi 73 dan pada siklus II menjadi 85. Peningkatan kemampuan tersebut dikarenakan adanya faktor bimbingan individual yang dilaksanakan. Pelaksanaan bimbingan individu mempunyai beberapa fungsi seperti dijelaskan oleh Purwanto (2009: 17) yang menjelaskan bahwa bimbingan berfungsi dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu. Pemberian bimbingan individu dari kondisi awal sampai dengan siklus II dapat dilihat pada diagram berikut.

Gambar 4.2 Peningkatan Kegiatan Bimbingan individu

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa tampak jelas adanya peningkatan proses bimbingan. Pada kondisi awal kualitas bimbingan hanya 45% yang telah dilaksanakan. Setelah dilaksanakan siklus I kualitas bimbingan yang dilaksanakan meningkat menjadi 80% dan setelah dilaksanakan siklus II kualitas bimbingan meningkat menjadi 90.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dengan menerapkan bimbingan individu selama dua siklus, dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Adanya peningkatan kemampuan guru dalam membuat lembar kegiatan peserta didik (LKPD) untuk menunjang proses pembelajaran yang dilaksanakan. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari kegiatan pra siklus hanya memperoleh nilai rata-rata 51. Setelah dilaksanakan bimbingan pada siklus I meningkat menjadi 73 dan pada siklus II menjadi 85.
  2. Peningkatan kemampuan guru dalam menyusun lembar kegiatan peserta didik tidak terlepas dari adanya bimbingan individual yang dilaksanakan kepala sekolah. Pada kondisi awal kualitas bimbingan hanya 45% yang telah dilaksanakan. Setelah dilaksanakan siklus I kualitas bimbingan yang dilaksanakan meningkat menjadi 80% dan setelah dilaksanakan siklus II kualitas bimbingan meningkat menjadi 90.
  3. Respon guru setelah diterapkannya bimbingan individu dalam kaitanya dengan kemampuan guru pada SD Negeri 2 Kaliwangi tahun pelajaran 2019/2020 semester I adalah positif. Guru lebih percaya diri dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) .

Saran

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, peneliti dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa bimbingan individu terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD). Oleh karena itu alangkah baiknya jika kepala sekolah menyusun program bimbingan individu kembali untuk meningkatkan kemampuan guru pada keterampilan lainnya.
  2. Dalam kegiatan kepala sekolah hendaknya disisipkan kegiatan berbagi praktik baik untuk memberi wawasan pada rekan kepala sekolah lainnya.
  3. Kepala sekolah harus secara teratur melaksanakan kegiatan bimbingan tidak hanya pada saat kegiatan penelitian saja melainkan pada jenis kegiatan lain di sekolah.
  4. Guru disarankan untuk selalu mengembangkan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) yang berorientasi kaidah penyusunan lembar kegiatan peserta didik yang tepat baik dari aspek materi, kontruksi, maupun bahasa.
  5. Guru hendaknya berbagi praktik baik dari kegiatan yang telah dilaksanakan dalam forum kelompok kerja guru (KKG).

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Juntika Nurihsan, 2010. Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: Refika Aditama.

Achmadi. 2016. Lembar Kerja Siswa. Jakarta: Bumi Aksara.

Daryanto. 2016. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Depdiknas. 2008. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Dikmennum Depdiknas.

NawawiHadari. (2006). Evaluasi dan manajemen kinerja di lingkungan perusahaan dan industri. Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press.

Jamar Ma’mur Asmani, 2012. Tips Efektif Supervisi Pendidikan Sekolah. Jogjakarta: Diva Press.

Sembiring. 2008. Mengungkap Rahasia dan Tips Manjur Menjadi Guru Sejati. Yogyakarta: Galang Press.

Nana Sudjana, 2009. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Nurfuadi, 2012. Profesionalisme Guru. Purwokerto: STAIN Press.

Purwanto, Ngalim, 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Biodata Penulis

Nama : Warsimto, S.Pd.SD.

Jabatan : Kepala Sekolah

Unit Kerja : SD Negeri 2 Kaliwangi, Korwilcam Dindik Purwojati

You cannot copy content of this page