Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM PENGELOLAAN PROSES PEMBELAJARAN MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KUNJUNGAN KELAS BAGI GURU KELAS IV DI DABIN I

D:\foto bambang.JPG

GUGUS KI HAJAR DEWANTARA KECAMATAN BODEH

KABUPATEN PEMALANG SEMESTER II

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Oleh: Bambang Sugiyanto, S.Pd

ABSTRAK

Dalam menjalankan tugas sebagai supervisor, pengawas sekolah dapat memilih pendekatan yang tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi guru. Supervisi tidak didefinisikan secara sempit sebagai satu cara terbaik untuk diterapkan di segala situasi melainkan perlu memperhatikan kemampuan individu, kebutuhan, minat, tingkat kematangan individu, karakteristik personal guru, semua itu dipertimbangkan untuk menerapkan supervisi. Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, pokok masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan seperti tertuang pada pertanyaan berikut “apakah pelaksanaan kegiatan supervisi kunjungan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru Kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang, dalam pengelolaan pembelajaran”. Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan, pemahaman, dan mengembangkan strategi pengelolaan pembelajaran bagi guru Kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang.

Subjek penelitian adalah guru kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang sebanyak 6 guru. Teknik pengumpulan data melalui teknik observasi, dan teknik dokumentasi. Adapun analisis data secara deskriptif kualitatif dalam penelitian ini adalah memaknai data dengan cara membandingkan hasil dari sebelum dilakukan tindakan dan sesudah tindakan. Analisis data ini dilakukan pada saat tahapan refleksi. Hasil analisis digunakan sebagai bahan refleksi untuk melakukan perencanaan lanjut dalam siklus selanjutnya. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada kondisi awal hanya mencapai angka rerata 44,68 dengan kriteria kurang, meningkat menjadi 70,83 dengan kriteria cukup, dan pada siklus terakhir menjadi 90,28 dengan kriteria baik, dan secara individual per guru pada kondisi awal belum ada guru yang dinyatakan tuntas, meningkat menjadi 2 guru atau 33,33% dan pada siklus terakhir menjadi 6 orang guru atau 100%. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi kunjungan kelas terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.

Kata Kunci : supervisi kunjungan kelas, pengelolaan pembelajaran

PENDAHULUAN

UU No. 20 tahun 2003 dalam pasal 39 (1) dan (2) dinyatakan bahwa tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Untuk dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab di atas, seorang guru dituntut memiliki beberapa kemampuan dan keterampilan tertentu. Kemampuan dan keterampilan tersebut sebagai bagian dari kompetensi profesionalisme guru. Kompetensi merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh guru agar tugasnya sebagai pendidik dapat terlaksana dengan baik.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah menegaskan bahwa seorang pengawas sekolah/madrasah harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, akademik, evaluasi pendidikan, penelitian dan pengembangan serta kompetensi sosial. Permendiknas ini merupakan upaya yang sangat penting untuk menghasilkan pengawas sekolah/madrasah yang kuat dan kompeten dalam menjalankan tugas-tugas kepengawasan yang diembannya.

Salah satu tugas pengawas adalah melaksanakan supervisi. Supervisi intinya adalah membina guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran. Sasaran supervisi adalah guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, penyusunan silabus dan RPP, pemilihan strategi/metode/teknik pembelajaran, penggunaan media dan teknologi informasi dalam pembelajaran, menilai proses dan hasil pembelajaran serta penelitian tindakan kelas (Modul Supervisi Akademik, Dirjen PMPTK, 2010).

Tugas guru erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan. Untuk membuat mereka menjadi profesional tidak semata-mata hanya meningkatkan kompetensinya baik melalui pemberian penataran, pelatihan maupun memperoleh kesempatan untuk belajar lagi namun perlu juga memperhatikan guru dari segi yang lain seperti peningkatan disiplin, pemberian motivasi, pemberian bimbingan melalui supervisi, pemberian insentif, gaji yang layak dengan keprofesionalnya sehingga memungkinkan guru menjadi puas dalam bekerja sebagai pendidik. Kinerja guru akan baik jika guru telah melakukan unsur-unsur yang terdiri dari kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan objektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap tugasnya.

Berdasarkan hasil observasi pada awal kegiatan penelitian, di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh Kabupaten Pemalang Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018, diperoleh data bahwa sebagian besar guru masih rendah kemampuannya dalam pengelolaan proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi awal di mana belum ada satu orangpun guru dari 6 sekolah binaan khususnya guru kelas IV yang dinyatakan kemampuan dalam pengelolaan proses pembelajaran dalam kategori baik dan hanya terdapat 2 guru atau 37,50% dalam kategori cukup, serta 4 guru atau 62,50% dalam kriteria kurang.

Untuk mengatasi masalah di atas, penelitian ini akan melakukan tindakan berupa supervisi akademik dengan teknik kunjungan kelas, agar motivasi serta profesionalisme guru terutama dalam pengelolaan proses pembelajaran (kompetensi pedagogik) dapat meningkat dengan baik.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah yang muncul sebagai berikut: 1) Rendahnya kemampuan guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh dalam pengelolaan proses pembelajaran, 2) Pembelajaran menjadi kurang efektif karena guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh belum memahami pentingnya pengembangan pengelolaan proses pembelajaran, 3) Belum semua guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh yang secara aktif berupaya mengembangkan strategi pengelolaan proses pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Hal tersebut di atas tentu menjadi suatu hambatan bagi guru, namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi melalui kegiatan supervisi kunjungan kelas di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh sebagai upaya peningkatan kemampuan guru-guru dalam pengelolaan proses pembelajaran.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana proses pelaksanaan kegiatan supervisi kunjungan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh dalam pengelolaan proses pembelajaran? 2) Bagaimana hasil peningkatan kemampuan guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh dalam pengelolaan proses pembelajaran setelah pelaksanaan kegiatan supervisi kunjungan kelas?

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk meningkatkan kemampuan guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh dalam pelaksanaan pengelolaan proses pembelajaran, 2) meningkatkan pemahaman guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh tentang pentingnya pengembangan pengelolaan proses pembelajaran, 3) Agar guru-guru di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh yang secara aktif berupaya mengembangkan strategi pengelolaan proses pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Manfaat Penelitian, 1) Bagi siswa: memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik, meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar, meningkatkan penguasaan konsep,

dan menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama dengan teman. 2) Bagi Guru: memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk peningkatan mutu pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan penilaian hasil belajar siswa

  1. Manfaat bagi Sekolah: meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis,

meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru khususnya dalam melaksanakan proses pembelajaran. 4) Manfaat Pengawas Sekolah: penelitian Tindakan Sekolah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengawas sekolah dalam memecahkan masalah guru, meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran sehingga guru menjadi lebih profesional, meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran, dan pada akhirnya meningkatkan kinerja dan mutu sekolah secara keseluruhan. Di samping itu langkah-langkah yang tepat dalam penerapan strategi pembelajaran dapat menjadi referensi bagi tindakan serupa untuk kasus yang sama bagi pengawas sekolah yang lain di Kecamatan Bodeh.

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

Konsep Dasar Pengelolaan Pembelajaran

Pada dasarnya pengelolaan diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian semua sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (Atmodiwiryo,2000:5).

Dalam pembelajaran kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh guru. Pengelolaan pembelajaran adalah serangkaian kegiatan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan evaluasi pembelajaran.

Pembelajaran atau pengajaran merupakan upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Dikatakan pula bahwa proses penciptaan lingkungan belajar sedemikian rupa disebut pembelajaran. Belajar mungkin saja terjadi tanpa pembelajaran tetapi pengaruh suatu pembelajaran dalam belajar hasilnya lebih menguntungkan dan biasanya mudah diamati.

Pengelolaan Pembelajaran merupakan salah satu kompetensi yang harus dimilik seorang guru sebagaimana tercantum dalam daftar kompetensi yang telah ditetapkan oleh Depdiknas RI. Pengelolaan pembelajaran dapat tercapai optimal apabila ada upaya untuk mewujudkan pengelolaan pembelajaran dengan sebaik baiknya.

Supervisi Kunjungan Kelas

Sebagaimana di ketahui bahwa, supervisi kunjungan kelas merupakan salah satu pendekatan supervisi individual. Supervisi kunjungan kelas adalah kegiatan kepala sekolah/pengawas sekolah mengunjungi kelas tempat guru sedang melaksanakan pembelajaran (Sahertian dan Mataheru, 1985:45). Kepala sekolah maupun pengawas dalam melaksanakan supervisi kepada guru di kelas dilengkapi dengan lembar observasi/kuesioner yang dijadikan alat ukur keberhasilan guru dalam membelajarkan siswa. Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Sutisna (1993:268) bahwa supervisi kunjungan kelas adalah pengamatan yang dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas terhadap guru yang sedang mengajar dan melihat alat, metode, dan sarana belajar lainnya di kelas. Aspek yang diamati oleh supervisor di kelas tidak hanya kegiatan guru dalam membelajarkan siswa, akan tetapi termasuk sarana yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pembelajaran antara lain media, ketepatan metode pembelajaran dengan materi pelajaran, termasuk ketersediaan bahan ajar lainnya. Dalam pelaksanaan supervisi kunjungan kelas dapat dilakukan secara mendadak tanpa pemberitahun, dengan pemberitahuan terlebih dahulu, atau atas permintaan guru. Tapi satu hal yang pasti ialah dalam supervisi kunjungan kelas terjadi dialog antara guru dan kepala sekolah. Melalui dialog itu guru akan melihat kelebihan dan kekurangannya. Guru mendapat pengalaman yang dapat memotivasi untuk melakukan refleksi. Dalam konteks penelitian ini menggunakan teknik supervisi kunjungan kelas dengan memberitahu guru terlebih dahulu agar guru dapat mempersiapkan diri dari segi mental, penguasaan materi dan strategi pembelajaran maupun pengelolaan kelas.

Supervisi kunjungan kelas dilaksanakan melalui tahapan atau langkah-langkah tertentu agar pelaksanaan dapat berjalan lancar dan mencapai target yang di tentukan. Langkah-langkah supervisi kunjungan kelas meliputi, (1) tahap persiapan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap evaluasi.

Tahap persiapan merupakan pembuatan kerangka kerja, instrumen penilaian dipersiapkan oleh supervisor dan guru sebaiknya juga mengetahui indikator-indikator yang menjadi objek penilaian. Selanjutnya guru diberitahukan waktu akan diadakan supervisi. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada tahap persiapan ialah (1) menilai pencapaian belajar siswa pada bidang studi tertentu, (2) mempersiapkan instrumen atau alat observasi kunjungan kelas, (3) memberitahukan kepada guru yang akan disupervisi termasuk waktu kunjungan, (4) mengadakan kesepakatan pelaksanaan supervisi.

Pada tahap pelaksanaan, guru melakukan kegiatan pembelajaran sesuai rencana pembelajaran (RP) yang telah dibuat. Selanjutnya supervisor melakukan observasi berdasarkan instrumen atau pedoman observasi yang telah disediakan. Tahap pelaksanaan supervisi kunjungan kelas sebagai berikut, (1) supervisor bersama guru memasuki ruang kelas tempat proses pembelajaran akan berlangsung, (2) guru menjelaskan kepada siswa tentang maksud kedatangan supervisor di ruang kelas, (3) guru mempersilakan supervisor untuk menempati tempat duduk yang telah disediakan, (4) guru mulai melaksanakan kegiatan mengacu pada rencana pembelajaran (RP) yang telah dibuat, (5) supervisor mengobservasi penampilan guru berdasarkan format observasi yang telah disepakati, (6) setelah guru selesai melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran, bersama-sama dengan supervisor meninggalkan ruang kelas dan pindah ke ruang guru atau ruang pembinaan.

Tahap akhir dari supervisi kunjungan kelas adalah evaluasi dan refleksi. Supervisor dalam hal ini pengwas sekolah mengevaluasi hal-hal yang telah terjadi selama observasi terhadap guru selama melaksanakan proses pembelajaran. Tahap evaluasi merupakan diskusi umpan balik antara supervisor (kepala sekolah) dan guru. Suasana pertemuan penuh persahabatan, bebas dari prasangka, dan tidak bersifat mengadili. Supervisor memaparkan data secara objektif sehingga guru dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan selama proses pembelajaran berlangsung. Yang menjadi dasar dari balikan terhadap guru adalah kesepakatan tentang item-item observasi yang digunakan, sehingga guru menyadari tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pembelajaran.

Kerangka Pikir

Dalam bentuk diagram, kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dijelaskan dalam bagan sebagai berikut :

Kondisi Awal

Rendahnya kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran

Pelaksanaan

Supervisi Kunjungan Kelas

Siklus I

Siklus II

Hasil Akhir

Peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir

Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan hipotesis dalam penelitian adalah “melalui kegiatan supervisi kunjungan kelas dapat meningkatkan kemampuan guru Kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh dalam pengelolaan proses pembelajaran”

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018 selama 3 bulan, dimulai dari bulan Januari 2018 Sampai dengan bulan Maret 2018. Penelitian dilaksanakan di 6 sekolah binaan di Dabin I Gugus Gugus Ki Hajar Dewantara, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, dan sebagai subyek penelitian adalah 6 Guru Kelas IV, sedangkan yang menjadi objek penelitian adalah peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1) observasi, dan 2) dokumentasi. Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut: 1) lembar observasi, 2) Catatan, 2) transkrip, 3) buku, 4) surat kabar, 5) majalah, dan 6) foto.

Pada penelitian ini, validitas data dilakukan dengan triangulasi. Terdapat dua macam teknik triangulasi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini, yaitu : 1) Triangulasi dengan Sumber, dan 2) Triangulasi dengan Metode.

Analisis data dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu mereduksi data, mendeskripsikan data dan membuat kesimpulan.

Adapun penjelasan mengenai indikator dan kriteria keberhasilan pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan sekolah ini sebagaimana dijelaskan tabel di bawah ini:

No Rentang Kriteria Nilai Keterangan
1 76-100 Baik
2 51-75 Cukup
3 26-50 Kurang
4 0-25 Sangat Kurang

Prosedur pelaksanaan kegiatan penelitian dilaksanakan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II terdiri atas 4 tahap yaitu: 1) Perencanaan Tindakan, 2) Pelaksanaan Tindakan, 3) Pengamatan (Observasi), dan 4) Refleksi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari data perolehan tindakan kondisi awal, siklus I, dan siklus II di deskripsikan dan dibandingkan secara komparatif untuk mengetahui peningkatan pada tindakan penelitian yang dilakukan.

Hasil perolehan antar siklus dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No Nama Guru Persentase Capaian Kriteria Hasil
B C K SK
1 Guru 1 38,89 K
2 Guru 2 34,72 K
3 Guru 3 43,06 K
4 Guru 4 47,22 K
5 Guru 5 59,72 C
6 Guru 6 44,44 K
Jumlah 268,06 0 1 5 0
Rata-Rata 44,68        
Kriteria Nilai K        
Persentase   0,00 16,67 83,33 0,00

Tabel 1 Rekapitulasi Penilaian Kemampuan Guru dalam Pengelolaan Proses Pembelajaran pada Kondisi Awal

No Nama Guru Persentase Capaian Kriteria Hasil
B C K SK
1 Guru 1 66,67 C
2 Guru 2 63,89 C
3 Guru 3 65,28 C
4 Guru 4 79,17 B C
5 Guru 5 83,33 B C
6 Guru 6 66,67
Jumlah 425,00 2 4 0 0
Rata-Rata 70,83
Kriteria Nilai C
Persentase 33,33 66,67 0,00 0,00

Tabel 2 Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan Pengelolaan Proses Pembelajaran pada Siklus Pertama

No Nama Guru Persentase Capaian Kriteria Hasil
B C K SK
1 Guru 1 90,28 B
2 Guru 2 88,89 B
3 Guru 3 88,89 B
4 Guru 4 91,67 B
5 Guru 5 91,67 B
6 Guru 6 90,28 B
Jumlah 541,67 6 0 0 0
Rata-Rata 90,28
Kriteria Nilai B
Persentase 100 0,00 0,00 0,00

Tabel 3 Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan pengelolaan proses pembelajaran pada Siklus Kedua

Hasil analisis data pada masing-masing siklus dapat disimpulkan bahwa secara kuantitas, peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan pengelolaan proses pembelajaran berdasarkan rata-rata capaian nilai pada setiap siklusnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

No Siklus Rata-Rata Capaian Nilai Kriteria
 1 Awal 44,68 K
 2 Siklus I 70,83 C
 3 Siklus II 90,28 B

Tabel 4 Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan Proses Pembelajaran Berdasarkan Rata-rata Capain Nilai pada Kondisi Awal, Siklus Pertama dan Kedua

Untuk memperjelas, maka dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini.

Gambar 2 Peningkatan Kemampuan Guru dalam pengelolaan Proses Pembelajaran Berdasarkan Rata-rara Capaian Nilai pada Kondisi Awal, Siklus Pertama dan Kedua

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru-guru Kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang dalam pengelolaan pembelajaran pada setiap tahapan siklusnya, di mana pada kondisi awal hanya mencapai angka rerata 44,68 dengan kriteria kurang, meningkat menjadi 70,83 dengan kriteria cukup, dan pada siklus terakhir menjadi 90,28 dengan kriteria baik.

Penjelasan mengenai peningkatan kemampuan pengelolaan pembelajaran guru-guru Kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018, secara individu sebagaimana dijelaskan tabel di bawah ini:

No Siklus Ketuntasan
Tuntas % Belum %
1 Awal 0 0,00 6 100
2 Siklus I 2 33,33 4 66,67
3 Siklus II 6 100,00 0 0,00

Tabel 5 Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan Proses Pembelajaran Berdasarkan Ketuntasan Guru Per Individu pada Kondisi Awal, Siklus Pertama dan Kedua

Untuk memperjelas, maka dalam bentuk diagram batang sebagaimana jelaskan pada gambar di bawah ini.

Gambar 3 Peningkatan Kemampuan Guru dalam Melaksanakan pengelolaan proses pembelajaran Berdasarkan Ketuntasan Guru Per Individu pada Kondisi Awal, Siklus Pertama dan Kedua

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru-guru Kelas IV di Dabin I Gugus Ki Hajar Dewantara Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang dalam pengelolaan pembelajaran pada setiap individu gurunya, di mana pada kondisi awal belum ada guru yang dinyatakan tuntas, meningkat menjadi 2 guru atau 33,33% dan pada siklus terakhir menjadi 6 orang guru atau 100%.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi kunjungan kelas terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan dalam pengelolaan proses pembelajaran. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan guru pengelolaan proses pembelajaran dari siklus ke siklus. Pada kondisi awal hanya mencapai angka rerata 44,68 dengan kriteria kurang, meningkat menjadi 70,83 dengan kriteria cukup, dan pada siklus terakhir menjadi 90,28 dengan kriteria baik, dan secara individual per guru pada kondisi awal belum ada guru yang dinyatakan tuntas, meningkat menjadi 2 guru atau 33,33% dan pada siklus terakhir menjadi 6 orang guru atau 100%

Saran

  1. Bagi Guru
  2. Peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran merupakan indikator peningkatan kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelasnya masing-masing sehingga perlu dilakukan secara terus menerus agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan lancar.
  3. Peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran perlu mendapat perhatian khusus dan terus dibina karena mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap kinerja guru dan prestasi belajar siswa. Kegagalan dalam meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran dapat berakibat pada menurunnya prestasi belajar siswa.

2. Kepala Sekolah

  1. Sikap konsisten dari kepala sekolah dalam menegakkan aturan, kesesuaian perkataan dengan perilaku dapat menumbuhkan sikap disiplin, kejujuran, kerjasama, komitmen pada tugas, hal-hal tersebut merupakan aspek penting dari kinerja guru.
  2. Pemanfaatan waktu untuk supervisi kunjungan kelas terhadap guru-guru di sekolahnya oleh pengawas sekolah agar digunakan sebaik-baiknya oleh kepala sekolah sebagai bahan acuan untuk tindak lanjutnya di kemudian hari.

3. Pengawas Sekolah

  1. Pengawas   sekolah   sebaiknya   menjalin   hubungan  yang  baik sebagai patner kerja bukan sebagai atasan dan bawahan (pengawas sekolah sahabat guru).
  2. Supervisi pengawas sekolah baik akademik maupun manajerial sebaiknya diprogramkan minimal 2 kali / semester sehingga guru akan terbiasa dan mendapatkan manfaat dari pelaksanaan kegiatan supervisi oleh pengawas sekolah.

4. Dinas Pendidikan

Dinas Pendidikan sebaiknya memberikan pendidikan dan pelatihan kepada pengawas sekolah untuk memperluas wawasan tentang penerapan pelaksanaan supervisi pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Atmodiwirio, Soebagio. 2000. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: Ardadizya Jaya.

Departemen Pendidikan Nasional, Keputusan Menpan No 118/1996 , Tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka kreditnya, Jakarta, Dirjen Dikdasmen

Depdiknas. 2003. Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarta.

Kemendiknas. 2010. Modul Supervisi Akademik. Jakarta : Dirjen PMPTK

Sahertian dan Mataheru, 1985. Profil Pendidikan Profesional, Yogyakarta: Andi Offset

Sahertian, Piet A., 1989. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam
Rangka Pengembangan SDM, Jakarta: Rineka Cipta

Sutisna. Oteng. (1993). Administrasi Pendidikan. Bandung: Angkasa

BIODATA

Nama : Bambang Sugiyanto, S.Pd

NIP : 19661028 198806 1 001

Pangkat / Golongan : Pembina Tingkat I, IV/B

Jabatan : Pengawas TK/SD

Unit Kerja : KWK Bodeh,

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Kab. Pemalang

By admin

You cannot copy content of this page