Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM PENGELOLAAN PBM MELALUI PELAKSANAAN SUPERVISI AKADEMIK DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF DI SD NEGERI CINANGSI 04 KECAMATAN GANDRUNGMANGU CILACAP TAHUN 2019

SRI

Sri Rejeki Handayani, S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengetahui pelaksanaan dan peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan PBM melalui pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020 khususnya pada aspek pengelolaan kegiatan belajar mengajar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan sekolah. Metode dan rancangan penelitian tindakan sekolah ini dilakukan dengan prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988:10) yang mencakup kegiatan sebagai berikut : (1) perencanaan (planning) , (2) pelaksanaan tindakan (action), 3) observasi (observation) , (4) refleksi (reflection). Subjek penelitian adalah guru di pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2016/2017 sebanyak 8 guru. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, dan studi dokumentasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi, yaitu Triangulasi yang digunakan dalam penelitian adalah triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Analisis data menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM), di mana pada kondisi awal tidak ada guru yang mampu menyusun pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) dengan baik hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya hasil nilai rata-rata yang diperoleh guru-guru yaitu 49,50 dan hanya masuk dalam kategori KURANG, pada siklus I meningkat cukup signifikan dan terdapat 3 guru atau 37,50% yang dinyatakan mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan baik, dengan peroleh nilai rata-rata secara klasikal sebesar 66,83 dan masuk dalam kriteria CUKUP dan pada siklus terakhir menjadi guru atau 100%, dibuktikan dengan perolehan nilai secara klasikal sebesar 80,17 dalam kriteria nilai BAIK. Dari hasil penelitian sebagaimana dijelaskan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020 peneliti terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan PBM.

Kata Kunci : supervisi akademik, kolaboratif, kemampuan, PBM

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah suatu aktivitas belajar-mengajar. Di dalamnya ada dua subjek yaitu guru dan peserta didik. Tugas dan tanggung jawab utama seorang guru adalah mengelola pembelajaran dengan lebih efektif, dinamis, efisien, dan positif yang ditandai dengan adanya kesadaran dan keterlibatan aktif diantara dua subjek pembelajaran yaitu guru sebagai penginisiatif awal dan pengarah serta pembimbing, sedangkan peserta didik sebagai yang mengalami dan terlibat aktif untuk memperoleh perubahan diri dalam pengajaran.

Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid. Adapun materi yang akan kami bahas dalam makalah pengelolaan pembelajaran yakni pengertian dan hakikat pengelolaan pembelajaran serta pendekatan belajar-mengajar.

Dalam pengelolaan proses pembelajaran mengajar di SD N Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan oleh para guru masih bersifat konvensional, yaitu metode pembelajaran yang monoton yang diajarkan oleh guru serta keterbatasan sarana dan prasarana sekolah. Dari gambaran tersebut sangatlah jelas bahwa proses pembelajaran yang dilaksanakan menjadi kurang maksimal. Keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar merupakan tujuan yang paling diharapkan oleh semua guru. Untuk itu guru harus mampu menciptakan situsi belajar yang efektif. Karena suatu proses belajar mengajar yang efektif berlangsung apabila memberikan keberhasilan serta memberikan rasa puas bagi siswa maupun guru. Seorang guru merasa puas jika siswanya dapat mengikuti proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh, bersemangat dan penuh kesadaran tinggi. Hal itu dapat tercapai apabila guru memiliki sikap dan kemampuan secara profesional serta mempunyai kemampuan mengelola proses belajar mengajar yang menyenangkan dan efektif.

Dari hasil pelaksanaan kegiatan awal penelitian menunjukkan bahwa semua guru masih kurang maksimal dalam pengelolaan pembelajaran di kelasnya masing-masing. Hasil penilaian pada kegiatan supervisi awal menunjukkan bahwa tidak ada guru yang memenuhi indikator penilaian minimal dalam rentang 70-89 atau dalam kriteria baik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh peneliti sebagai kepala sekolah di SD N Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap adalah dengan melaksanakan kegiatan supervisi akademik melalui pendekatan kolaburatif sebagai upaya meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :

  1. Strategi sosialisasi dan strategi bimbingan supervisi akademik yang telah dilaksanakan selama ini ternyata masih belum memadai, sehingga identitas dan penguasaan materi kurang,
  2. Pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif belum pernah dilaksanakan,
  3. Supervisi akademik konvensional belum dapat meningkatkan kinerja guru,
  4. Pelaksanaan supervisi tidak berdasarkan atas kesadaran dan kesepakatan bersama antara guru, kepala sekolah dan pengawas sekolah

Perumusan Masalah

Dari penjelasan pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka dapat ditentukan rumusan masalah dalam pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, yaitu :

  1. Bagaimana pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan PBM di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020?
  2. Bagaimana peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan PBM melalui pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk :

  1. Mengetahui pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan PBM di SD N Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.
  2. Mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan PBM melalui pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif di SD N Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.

LANDASAN TEORI

Kajian Teori

Pengelolaan Proses Belajar Mengajar

Pengertian Pengelolaan Proses Belajar Mengajar

Pengelolaan itu berakar dari kata “kelola” dan istilah lainnya yaitu “manajemen” yang artinya ketatalaksanaan, tata pimpinan. Menurut Bahri dan Zain bahwa pengelolaan itu adalah pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan. Pengelolaan merupakan terjemahan dari kata “management”. Terbawa oleh derasnya arus penambahan kata pungut kedalam Bahasa Indonesia, istilah Inggris tersebut lalu di Indonesiakan menjadi “manajemen”.

Sardiman AM dalam Abdul Majid (2012 : 269) Pembelajaran adalah rangkaian peristiwa (events) yang mempengaruhi pembelajaran sehingga proses belajar dapat berlangsung dengan mudah. Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing peserta didik didalam kehidupannya. Yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangannya yang harus dijalani. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi yang dimiliki peserta didik agar mereka dapat memiliki kompetensi yang diharapkan melalui upaya menumbuhkan serta mengembangkan; sikap/attitude, pengetahuan/knowledge dan keterampilan/skill (Hosnan, 2014).

Proses belajar mengajar didalam kelas pada hakikatnya akan melibatkan semua unsur yang ada dalam sekolah bersangkutan. Akan tetapi secara langsung akan terlibat hal-hal sebagai berikut: Guru sebagai pendidik, murid sebagai yang terdidik, alat/media yang digunakan, situasi dalam lingkungan kelas, sekolah itu sendiri . Jika proses belajar mengajar itu ditinjau dari segi kegiatan guru, maka terlihat guru memegang peranan prima. Ia berfungsi sebagai pembuat keputusan yang berhubungan dengan perencanaan, implementasi/pelaksanaan dan penilaian (Abdul Majid, 2012 : 245).

Perencanaan Pembelajaran

Sebagai perencana, guru hendaknya dapat mendiagnosis kebutuhan para siswa sebagai subjek belajar, merumuskan tujuan kegiatan proses pembelajaran dan menetapkan strategi pembelajaran yang ditempuh untuk merealisasikan tujuan yang telah dirumuskan (Abdul Majid, 2012 : 246). Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan. Namun yang lebih utama adalah perencanaan yang dibuat harus dapat dibuat dengan mudah dan tepat sasaran (Abdul Majid, 2007 : 15).

Aderson dalam Mulyasa (2004 : 83) membedakan perencanaan dalam dua kategori, yaitu perencanaan jangka panjang dan perencanaan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang disebut unit plan yang merupakan perencanaan bersifat komprehensif, dimana dapat dilihat aktivitas guru selama satu semester. Perencanaan umum ini memerlukan uraian lebih terperinci melalui perencanaan jangka pendek yang disebut dengan persiapan mengajar. Perencanaan dan persiapan mengajar merupakan faktor penting dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar kepada anak didiknya. Agar proses pembelajaran terhadap anak didik berlangsung dengan baik, amat tergantung pada perencanaan dan persiapan mengajar yang dilakukan oleh guru yang harus baik pula, cermat dan sistematis (Hosnan, 2014 : 96).

Pelaksanaan Pembelajaran

Sebagai pengimplementasi/pelaksana rencana pembelajaran yang telah disusun, guru hendaknya mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada dan berusaha “memoles” setiap situasi yang muncul menjadi situasi yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Semua itu memerlukan keterampilan profesional secara memadai (Abdul Majid, 2012 : 246).

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran, merupakan strategi yang dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dikaitkan dengan pembelajaran, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan pendidik dan peserta didik dalam perwujudan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Hosnan, 2014 : 91).

Penilaian Pembelajaran

Pada saat melaksanakan penilaian, guru harus dapat menetapkan prosedur dan teknik penilaian yang tepat (valid terandalkan). Jika kompetensi dasar yang telah ditetapkan pada kegiatan perencanaan belum tercapai, maka ia harus meninjau kembali rencana serta implementasinya/pelaksanaannya dengan maksud untuk melakukan perbaikan (Abdul Majid, 2012 : 246).

Supervisi Akademik Kepala sekolah

Hakikat Supervisi Akademik

Supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif (Purwanto, 2003). Menurut Jones dalam Mulyasa (2003:155), Supervisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh proses administrasi pendidikan yang ditujukan terutama untuk mengembangkan efektivitas kinerja personalia sekolah yang berhubungan tugas-tugas utama pendidikan.

Supervisi akademik Kepala sekolah merupakan upaya seorang Kepala sekolah dalam pembinaan guru, agar guru dapat meningkatkan kualitas mengajarnya dengan melalui langkah-langkah perencanaan, penampilan mengajar yang nyata serta mengadakan perubahan dengan cara yang rasional dalam usaha meningkatkan hasil belajar siswa. Supervisi akademik dilakukan untuk mengawasi kegiatan sekolah dengan tujuan kegiatan pendidikan berjalan dengan baik ( Mantja, 2002: 114).

Pada dasarnya supervisi akadimik yang dilakukan oleh Kepala sekolah untuk mengawasi kegiatan yang dilakukan oleh guru dan staf di sekolah guna meningkatkan hasil pembelajaran yang bermutu. Sedangkan menurut Boardmen dalam Sahartian (2008: 17) supervisi sekolah adalah suatu usaha mengkoordinasi dan membimbing secara berkelanjutan pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individu atau secara kelompok, agar lebih mengerti dan lebih efisien dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran.

Pendekatan Kolaboratif

Hakikat Pendekatan Kolaboratif

Jika diperhatikan secara seksama, pendekatan kolaboratif adalah perpaduan antara pendekatan Supervisi direktif dan non direktif. Dugaan itu benar, jika diperhatikan dari aspek tanggung jawab terlaksananya kegiatan Supervisi. Artinya supervisor dan guru berbagi tanggung jawab. Tugas Supervisi dalam hal ini adalah mendengarkan dan memperhatikan secara cermat keluhan guru terhadap masalah perbaikan, peningkatan dan pengembangan pengajarannya, dan sekaligus memperhatikan pula gagasan-gagasan guru untuk mengatasi masalah itu selanjutnya. Supervisor dapat meminta penjelasan terhadap hal-hal yang diungkapkan guru yang kurang dipahami. Selanjutnya ia mendorong guru mengaktualisasikan inisiatif yang dipikirkan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya, atau untuk meningkatkan dan mengembangkan pengajarannya (Glickman; Gordon & Glickman, 1984).

Beberapa pakar Supervisi mengemukakan, bahwa gagasan pendekatan kolaboratif dalam Supervisi, diilhami oleh gerakan hubungan instansi (The Human Relations Movement). Gagasan ini sekaligus merupakan pula reaksi terhadap praktk model Supervisi klasik yang mengatakan bahwa fungsi Supervisi pengajaran adalan untuk mengawasi mutu dengan cara mengarahkan, menunjukkan, mengaharuskan, memantau menilai dan mengajar (Wiles & Lovell, 1975). Dalam praktek Supervisi, pendekatan ini disebut juga sebagai Supervisi kolegiat, kesejawatan atau korepatif, yang lebih banyak meilhami karya para pakar Supervisi klinis (Lovell dan Wiles, 1983: Cagon 1973, 1976 Goldhammer, 1980).

Krajewski dan Anderson (1980) melalui berbagai penelitian mengembangkan siklus Supervisi yang berbasis hubungan kolaboratif antara Supervisi dan guru untuk mengaktifkan yang berbasis hubungan kolaboratif antara supervisor dan guru untuk mengaktifkan Supervisi. Untuk itu Flanders (1976) menyebut Supervisi kolaboratif sebagai Supervisi klinis selanjutnya, ia menjelaskan bahwa Supervisi kolaboratif merupakan kemitraan dalam inkuiri dua orang yang mengadu alternative, dimana supervisor berposisi semangat mitra yang lebih berpengalaman untuk proses inkuri. Lerch (1980) dan Werner (1980) menemukan adanya harapan guru untuk berbagai tanggung jawab dalam proses Supervisi, terutama dalam memecahkan masalah pengajaran yang dihadapi guru. Kedua ahli itu menyimpulkan bahwa pendekatan kolaboratif dalam Supervisi lebih efektif, karena adanya kolgialitas antara supervisor dan guru dalam memecahkan masalah pengajaran yang dihadapi para guru. Kesimpulan itu memperkuat pendapat Sergiovanni (1976) yang menyatakan bahwa hubungan yang lebih intensif dan bersifat kolegial dipersyaratkan dalam Supervisi tradiosional. Reavis (1978) dan Thompson (1979) menemukan fakta bahwa Supervisi harus didasarkan pada kepedulian guru, dan bukan pada kepedulian supervisor. Karena itu guru harus dilatih untuk menetapkan keutusan secara bebas guna mengembangkan sikap profesionalnya, sehingga terwujud apa yang mereka namakan Peer Supervision, Hall (1974) melaporkan ditemukan sikap yang lebih posistif pada para guru yang disupervisi dengan pendekatan kolaboratof. Sementara itu, Shuma (1973) menemukan dalam penelitiannya bahwa para guru yang memperoleh perlakukan berdasarkan Supervisi kolaboratif memiliki perasaan pertumbuhan sebagai gutu. Pertumbuhan itu ditandai dengan adanya hubungan yang dibangun antara supervisor dan guru, jika dibandingkan dengan guru yang tidak pengalami perlakuan semacam itu.

Karakteristik pendekatan Kolaboratif

Salah satu pendekatan dalam melaksanakan supevisi adalah pendekatan kolaboratif. Pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Supervisor bertindak sebagai mitra atau rekan kerja.
  2. Kedua belah pihak berbagi kepakaran.
  3. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan inkuiri yakni, saya mencoba memahami apa yang dilakukan oleh orang yang saya amati.
  4. Diskusi sebagai langkah lanjut dari pengalaman bersifat terbuka atau fleksibel dan tujuannya jelas.
  5. Tujuan supervisi ialah membantu guru dan Kepala sekolah berkembang menjadi tenaga-tenaga profesional melalui kegiatan-kegiatan reflektif.
  6. Sasaran Pendekatan Kolaboratif

Glickman sebagaimana dikutip oleh Binti Maunah menjabarkan adanya tiga tahapan perkembangan profesional, yaitu: perkembangan profesional tingkat rendah (tahap 1), perkembanagn profesional tingkat moderat (tahap II), perkembangan profesional tingkat tinggi (tahap III), tahapan itu digunakannya untuk menetapkan pilihan pendekatan supervisi terhadap guru. Dengan demikian guru yang diduga berada dalam tahap I, supervisi yang digunakan adalah directive. Sedangkan yang telah berada pada tahap II menggunakan pendekatan kolaboratif. Untuk guru yang telah memasuki tahap III, pendekatan supervisinya adalah non-direktif (Glickman dan Gordon, 1987).

Kerangka Pikir

Kerangka berpikir merupakan alur penalaran yang didasarkan pada
masalah penelitian yang menggambarkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik yang dilaksanakan oleh Kepala sekolah dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Peran Kepala sekolah sebagai supervisor menjadi sangat penting, karena tujuan supervisi itu sendiri secara garis besar adalah sebagai alat kendali mutu.

Adanya pengaruh antara supervisi akademik Kepala sekolah terhadap kinerja guru. Untuk lebih jelas dapat dilihat dari gambar berikut:

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

Hipotesis Tindakan

Dari penjelasan pada kajian teori dan kerangka pikir di atas, maka hipotesis tindakan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan sekolah ini adalah jika pelaksanaan supervisi akademik dilaksanakan dengan pendekatan kolaboratif maka kemampuan guru dalam pengelolaan PBM di SD N Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020 akan meningkat.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Tempat Penelitian

Lokasi penelitian adalah SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu yang beralamat Jln. Raya Cinangsi Barat RT 02 RW 07 Cinangsi Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama 4 (empat) bulan yaitu dari bulan Juli 2019 s.d. Oktober 2019. Penjelasan secara rinci mengenai waktu pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada bagian lampiran 2 penelitian tindakan sekolah ini.

Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian tindakan sekolah
(School Action Research) karena peneliti bertindak secara langsung dalam penelitian, mulai dari awal sampai akhir tindakan.

Metode dan Rancangan Penelitian

Metode dan rancangan penelitian tindakan sekolah ini dilakukan dengan prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis dan Taggart (1988:10) yang mencakup kegiatan sebagai berikut : (1) perencanaan (planning) , (2) pelaksanaan tindakan (action), 3) observasi (observation) , (4) refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus.

Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Sekolah (di modifikasi dari Model Kemmis & Mc. Taggart)

Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah guru di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap sebanyak 8 orang pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.

Teknik Pengumpulan Data

Pengamatan (Observasi)

Observasi adalah mengamati objek penelitian dengan memakai alat indera penglihatan dan membuat catatan mengenai hasil pengamatan. (Suharsimi Arikunto, 2009: 152) lembar observasi digunakan agar lebih efektif dalam melakukan observasi sehingga pengamatan akan lebih mendalam.

Dokumentasi dan Arsip

Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang bersummber pada benda-benda tertulis (Arikunto, 2009: 149).

Validasi Data

Suatu informasi yang akan dijadikan data penelitian perlu diperiksa validitasnya agar data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan dijadikan dasar yang kuat dalam menarik kesimpulan. Teknik yang digunakan untuk menjaga validitas data dalam penelitian adalah teknik triangulasi.

Teknik Analisis Data

Penghitungan data kuantitatif adalah dengan menghitung rata-rata peningkatan kinerja berdasarkan skor yang diperoleh dari lembar observasi yang telah disusun sebelumnya. Dengan rata-rata yang diperoleh dapat diketahui persentase peningkatan kinerja. Adapun cara menghitung hasil (skor) yang diperoleh dengan rumus mean atau rerata nilai menurut Suharsimi Arikunto (2010: 284-285) yaitu sebagai berikut:

Keterangan :

x = Mean (rata-rata)

∑x = Jumlah nilai

N = Jumlah yang akan dirata-rata

Di adaptasi dari Suharsimi Arikunto (2010:269) empat kategori predikat tersebut yaitu seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.1 Kriteria Penilaian Hasil Supervisi

No Rentang

Skor

Kriteria

Penilaian

Keterangan
1 90-100 Baik Sekali Tuntas
2 70-89 Baik Tuntas
3 50-69 Cukup Belum Tuntas
4 ≤49 Kurang Belum Tuntas

Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan sekolah ini didasarkan pada hasil observasi yang dilakukan terhadap kelengkapan pembelajaran yang dimiliki oleh masing-masing guru kelas. Guru secara individual dan klasikal dinyatakan telah meningkat kemampuan guru dalam pengelolaan KBM bila minimal memperoleh nilaa dalam 70-89 dan dengan predikat minimal BAIK dan secara klasikal minimal 85% dari jumlah guru meningkat kemampuannya dalam pengelolaan KBM.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Data

Kondisi Awal

Hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti selaku kepala sekolah di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan dengan kegiatan supervisi akademik pada kondisi awal, 8 orang guru atau 100% dinyatakan belum mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan benar.

Untuk lebih memperjelas disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :

Gambar 4.1 Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan KBM Pada Kondisi Awal

Siklus I

Proses pelaksanaan siklus I menempuh empat tahapan, yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi.

Berdasarkan hasil observasi diperoleh beberapa catatan serta hasil penilaian terhadap kemampuan masing-masing guru dapat dijabarkan bahwa pada pelaksanaan siklus pertama, walaupun mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari kondisi awal, tetapi masih belum menunjukkan hal yang maksimal sesuai dengan harapan.

Untuk lebih memperjelas disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :

Gambar 4.2 Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan KBM Pada Siklus Pertama

Refleksi

Dalam merefleksi hasil pelaksanaan tindakan siklus I, peneliti beserta guru-guru melaksanakan diskusi. Melalui upaya ini diperoleh suatu kesepakatan mengenai keberhasilan dan kegagalan siklus I serta upaya untuk mengatasi agar tidak timbul kegagalan pada hal yang sama di siklus II.

Siklus II

Seperti halnya proses pelaksanaan siklus I, pada siklus II pun menempuh beberapa tahapan berikut: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Untuk menggambarkan aktivitas pelaksana tindakan dan subjek, serta aktivitas pengamat untuk mendapatkan data yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi dapat dijabarkan bahwa pada pelaksanaan siklus kedua, semua guru dinyatakan telah mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan benar. Secara klasikal peningkatan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) telah memenuhi kriteria keberhasilan, karena baru memperoleh angka 79,88 dengan kriteria BAIK dengan penjelasan 1 guru atau 12,50% dalam kriteria sangat baik dan 7 guru atau 87,50% dalam kriteria baik. Hal ini menunjukkan bahwa perolehan hasil tersebut sudah berada di atas kriteria keberhasilan yaitu minimal mendapat skor dalam rentang 70-89 atau lebih dengan kriteria minimal BAIK. (Penilaian per individu masing-masing guru dapat dilihat pada lampiran-lampiran)

Untuk lebih memperjelas disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut :

Gambar 4.3 Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan KBM Pada Siklus Kedua

Refleksi

Setelah melakukan serangkaian kegiatan siklus II, pada akhirnya diperoleh suatu bahan refleksi untuk didiskusikan bersama observer dan para guru SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap antara lain:

Semua guru dinyatakan meningkat kemampuannya dengan baik dalam pengelolaan PBM. Sebagai langkah peningkatan maka guru perlu dibekali untuk menyusun standar pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) yang benar agar tujuan penelitian dapat tercapai, yaitu meningkatnya kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM).

Semua dokumen wajib maupun pendukung telah dibuat oleh para guru dengan baik walaupun masih ada beberapa kekurangan tetapi secara keseluruha kinerja dan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) meningkat dengan baik.

Hasil Penelitian

Kondisi Awal

Kemampuan guru dalam pengelolaan PBM pada kondisi awal, seluruh guru dinyatakan belum mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan baik. Keadaan ini menunjukkan bahwa perlu dilakukan perbaikan terhadap kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM). Upaya yang dilakukan peneliti adalah menerapkan kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif guru sebagai upaya meningkatkan kemampuan guru dalam standar pengelolaan proses belajar mengajar (PBM).

Siklus I

Pada prinsipnya pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif yang dilakukan oleh kepala sekolah terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) walaupun secara klasikal belum dapat dinyatakan berhasil. Secara rinci dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini.

Gambar 4.4 Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan KBM Kondisi Awal dan Siklus Pertama

Siklus II

Para guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) meningkat cukup signifikan dari siklus pertama. Nilai rata-rata menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari 66,83 dengan kriteria cukup menjadi 80,17 dengan kriteria Baik, dan secara individual pada siklus kedua terdapat 1 guru atau 12,50% yaitu Bu Yeni dengan kriteria nilai sangat baik, sedangkan 7 guru atau 87,50% memperoleh nilai dalam kriteria baik. Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan penelitian dinyatakan berhasil dan selesai pada siklus kedua.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif yang dilakukan oleh kepala sekolah terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) bagi guru-guru di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap. Secara rinci dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini.

Gambar 4.5 Rekapitulasi Penilaian Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan KBM Siklus I dan Siklus II

Antar Siklus

Peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM), di mana pada kondisi awal tidak ada guru yang mampu menyusun pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) dengan baik hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya hasil nilai rata-rata yang diperoleh guru-guru yaitu 49.50 dan hanya masuk dalam kategori kurang, pada siklus I meningkat cukup signifikan walaupun masih belum ada guru yang dinyatakan mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan baik, dengan peroleh nilai rata-rata secara klasikal sebesar 66,83 dan masuk dalam kriteria cukup dan pada siklus terakhir menjadi guru atau 100%, dibuktikan dengan perolehan nilai secara klasikal sebesar 80,17 dalam kriteria nilai baik.

Untuk memperjelas peningkatan kemampuan guru setelah dilaksanakan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif guru bagi guru-guru di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap sebagaimana grafik di bawah ini:

Gambar 4.6 Peningkatan Peningkatan Kemampuan Guru dalam Pengelolaan KBM pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

Dari pelaksanaan perbaikan kemampuan guru dalam standar pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) dengan kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif kelas dapat disimpulkan bahwa kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif kelas terbukti mampu meningkatkan kemampuan guru di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM).

Pembahasan

Kesimpulan akhir dari pelaksanaan kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif terhadap pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) membuktikan bahwa pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) dalam pendidikan yang tertib dan teratur sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pembelajaran bagi pada guru. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data (recording system) dan pelaporan (reporting system).

Peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM), di mana pada kondisi awal tidak ada guru yang mampu menyusun pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) dengan baik hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya hasil nilai rata-rata yang diperoleh guru-guru yaitu 49,50 dan hanya masuk dalam kategori kurang, pada siklus I meningkat cukup signifikan walaupun masih belum ada guru yang dinyatakan mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan baik, dengan peroleh nilai rata-rata secara klasikal sebesar 66,83dan masuk dalam kriteria cukup dan pada siklus terakhir menjadi guru atau 100%, dibuktikan dengan perolehan nilai secara klasikal sebesar 80,17 dalam kriteria nilai baik.

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pada prinsipnya pelaksanaan kegiatan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif yang dilaksanakan kepala sekolah terbukti dapat meningkatkan kemampuan guru-guru dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM) di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020.

SIMPULAN

Simpulan

Dari data-data hasil proses penelitian tindakan sekolah yang dilakukan di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020 dapat disimpulkan bahwa :

  1. Kepala sekolah menerapkan pendekatan kolaboratif. Pelaksanan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap mendapat dukungan penuh dari para guru, karena mereka merasakan manfaat dari diadakannya supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif ini terutama pada aspek kemampuan dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM).
  2. Peningkatan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM), di mana pada kondisi awal tidak ada guru yang mampu menyusun pengelolaan proses belajar mengajar (PBM) dengan baik hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya hasil nilai rata-rata yang diperoleh guru-guru yaitu 49,50 dan hanya masuk dalam kategori kurang, pada siklus I meningkat cukup signifikan dan terdapat 3 guru atau 37,50% yang dinyatakan mampu mengelola proses belajar mengajar (PBM) dengan baik, dengan peroleh nilai rata-rata secara klasikal sebesar 66,83dan masuk dalam kriteria cukup dan pada siklus terakhir menjadi guru atau 100%, dibuktikan dengan perolehan nilai secara klasikal sebesar 80,17 dalam kriteria nilai baik.

Melihat data perolehan hasil penelitian dalam kegiatan penelitian tindakan sekolah ini, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan supervisi akademik dengan pendekatan kolaboratif yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap 8 guru di SD Negeri Cinangsi 04 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap, dinyatakan BERHASIL meningkatkan kemampuan guru dalam pengelolaan proses belajar mengajar (PBM).

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Majid. 2012. Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja. Rosdakarya

Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta

Imron, Ali. 2012. “Metode Penelitian Hand Out”. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Arikunto, Suharsimi., 2009. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi 6. Jakarta : Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

Asf, Jasmani & Mustafa, S., 2013, Supervisi Pendidikan: Terobosan baru dalam
Peningkatan Kinerja Pengawas Sekolah dan Guru, Yogyakarta: Arr – Ruzz Media.

Bafadal, I & Imron, A. 2004 Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Malang: Kerjasama FIP UM dan Ditjen-Dikdasmen

Davis, B Gordon, et.al 1984, Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen,. Jakarta Pustaka Bina Presindo.

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003,. Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.Jakarta: Depdiknas

Eheren, M.C.M. and Visscher A.J., 2006. The Relationship between School Inspections, School Characteristic and School Improvement, British Journal of Educational Studies,ISSN 0007-1005, DOI number: 10.1111/j.1467-8527.2008.00400.x Vol. 56 , No. 2 , June 2008 , pp 205–227

Flanders, N.A. 1976”Interaction Analysis and Clinical Supervision,” Journal of Research and Development in Education, Volume 9 2, Athens, Georgia. Journal of Research and Development in Education. Volume 15, Athen, Georgia

Glickman, 1985 , Intructional Supervision, , New Jersey, Prentice Hall, Inc Englewood Cliftfs

H.B. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta : UNS Press

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

J. Suprapto, 2003, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, Rineka Cipta, Jakarta.

Kemmis, S. dan Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Deakin:Deakin University

Krajewski, R.A, Anderson 1982.”Clinical Supervision: A Conceptual Framework,”

Lunenburg, Fred C. dan Irby, Beverly J., 2006, The Principalship Vision to Action, United States of America, Wadsworth

Mantja, W. 2002. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Malang: Wineka Media

Moleong, Lexy, J, 2007, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Bandung, PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa, E, 2004, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Mensukseskan MBS dan KBK, Bandung, Remaja Rosda Karya

Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosda Karya

Oliva, P.F.1984. Supervision for Todays School. New York: Tomas J. Crowell Company.

Purwanto, M. Ngalim. 2004. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Purwanto, Ngalim. 2003. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rodakarya.

Robbins, Stephen P. dan Judge, Timothy A., 2009. Organizational Behavior. 13th Edition. Pearson Education, Inc., Upper Saddle River, New Jersey.

Sahertian, Piet A. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka Pengembangan SDM. Jakarta: Rineka Cipta.

Sahertian, Piet A. dan Mahateru, F. 2008. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Sanjaya, Wina. 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media Group.

Subroto Suryo. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta. Rineka Cipta.

Sudiarto. 1989. Supervisi Kepala Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Suhardjono dan Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta : PT. Bumi Aksara.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka

Tisnowati Tamat dan Moekarto Mirman. 2005. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wiles, Kimball, John T Lovell, 1975. Supervision for Better Schools. New Jersey: Prentice-Hall.

BIODATA PENULIS PTS

Nama : Sri Rejeki Handayani, S.Pd

NIP : 19690603 199803 2 004

Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Kepala Sekolah

Instansi : SD Negeri Cinangsi 04 Korwil Bidang Pendidikan Kec Gandrungmangu, Kab. Cilacap

You cannot copy content of this page