Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI SUPERVISI AKADEMIK DI SDN BANJAREJA 02 KECAMATAN NUSAWUNGU KABUPATEN CILACAP TAHUN 2020

Oleh: Sobirin, S.Pd.

ABSTRAK

Kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika masih belum optimal. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk meningkatan kemampuan guru dalam proses pembelajaran matematika melalui supervisi akademik. Penelitian dilakukan selama 2 (dua) siklus dengan prosedur umum meliputi tahapan a) planning; b) acting; c) observing; d) reflekting. Data supervisi akademik instrumen penelitian dan teknik pengumpulan data melalui penilaian hasil belajar siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode deskriptif komparatif yaitu membandingkan pra siklus dan antar siklus. Hasil penelitian membuktikan bahwa kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika melalui supervisi akademik dari 6 guru kelas meningkat yaitu : pra siklus 2/6 x 100% = 33%, siklus I 4/6 x 100% = 67%, siklus II 5/6 x 100% = 83,3%.

Kata kunci: Kemampuan guru, pelaksanaan pembelajaran, Supervisi Akademik.

PENDAHULUAN

Guru dalam menjalankan tugasnya mempunyai tanggung jawab yang besar, apalagi dimasa mendatang karena kemajuan tehnologi dan era globalisasi sehingga menuntut guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya. Kenyataan di atas membawa konsekuensi bahwa guru yang tidak memiliki kemampuan yang memadai, tidak akan mungkin dapat membawa kemajuan bagi anak didiknya.

Berdasarkan hasil pengamatan, rendahnya prestasi akademis khususnya mata pelajaran Matematika siswa SD Negeri Banjareja 02 mungkin disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut, 1) Kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran kurang optimal; 2) Kegiatan belajar mengajar masih bersifat konvensional; 3) Kurangnya penggunaan alat peraga/ media pembelajaran; 4) Pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat; 5) Guru kurang kreatif dalam mencari dan menggunakan lingkungan sebagai sumber pembelajaran. Oleh karena itu secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika melalui Supervisi Akademik

Berdasarkan latar belakang di atas masalah yang terjadi di SD Negeri Banjareja 02 tahun pelajaran 2019/ 2020 dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

  1. Kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika kurang optimal.
  2. Kegiatan belajar mengajar masih bersifat konvensional.
  3. Penggunaan alat peraga masih belum maksimal.
  4. Pemilihan metode pembelajaran kurang tepat.
  5. Guru kurang kreatif dalam mencari sumber belajar.

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut, maka rumusan masalahnya adalah: “Apakah penerapan kegiatan supervisi akademik dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika?”

Kajian Pustaka

Secara umum, kemampuan guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh suatu profesi dalam melaksanakan tugas keprofesianya ( Undang- Undang Republik Indonesia No 14 Th 2005 ) tentang guru dan dosen, pasal 1 butir 10)

Berkaitan dengan kompetensi profesi guru, Sagala mengemukakan 10 kompetensi dasar yang harus dimiliki guru adalah : (1)menguasai landasan- landasan pendidikan .(2) menguasai bahan pelajaran;(3) kemampuan mengelola program belajar mengajar; (4) kemampuan mengelola kelas; (5)kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar(6) menilai hasil belajar;(7) kemampuan mengenal dan menterjemahkan kurikulum;(8) mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan;(9) memahami prinsip-prinsip dan hasil pengajaran;(10) mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan (sagala, 2006;210)

Adapun Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2007 tentang standar kualifikasi akadamikdan kompetensi guru menyebutkan bahwa standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi social dan kompetensi professional.

Kemampuan guru dapat ditinjau dari dua segi, dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, guru dikatakan berhasil apabila mampu melibatkan sebagian besar peserta didik secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran. Sedangkan dari segi hasil, guru dikatakan berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku sebagian besar peserta didik ke arah penguasaan kompetensi dasar yang lebih baik. (Sunion dan Alexander, 1980)

Pengembangan kemampuan guru merupakan suatu proses yang kompleks, dan melibatkan berbagai faktor yang saling terkait. Sehubungan dengan itu, perlu dilakukan “Peningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan berbagai aspek pendidikan dan pembelajaran”. Hal tersebut lebih terfokus lagi dalam implementasi kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, guru terutama dalam mengembangkan materi standar membentuk kompetensi peserta didik. Sehubungan dengan itu, guru harus kreatif, profesional, dan menyenangkan.

8

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

Dalam konteks pendidikan , guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut) ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. (KBBI)

Istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan. (Purwadinata, 1967, hal 22). Dengan demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa) dan Mengajar (oleh guru). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan mengajar adalah kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi kegiatan secara optimal.

Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan karena adanya usaha.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan beberapa komponen :

  1. Siswa, Seorang yang bertindak sebagai pencari, penerima, dan penyimpan isi pelajaran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
  2. Guru, Seseorang yang bertindak sebagai pengelola, katalisator, dan peran lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar yang efektif.
  3. Tujuan, Pernyataan tentang perubahan perilaku (kognitif, psikomotorik, afektif) yang diinginkan terjadi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.
  4. Materi Pelajaran, Segala informasi berupa fakta, prinsip, dan konsep yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
  5. Metode, Cara yang teratur untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapat informasi yang dibutuhkan mereka untuk mencapai tujuan.
  6. Media, Bahan pengajaran dengan atau tanpa peralatan yang digunakan untuk menyajikan informasi kepada siswa.
  7. Evaluasi, Cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya.

Pembelajaran Matematika

Menurut Reyt.,et al. (1998:4) matematika adalah (1) studi pola dan hubungan (study of patterns and relationships) (2). Cara berpikir (way of thinking) yaitu memberikan strategi untuk mengatur, menganalisis dan mensintesa data atau semua yang ditemui dalam masalah sehari-hari, (3). Suatu seni (an art) yaitu ditandai dengan adanya urutan dan konsistensi internal, dan (4) sebagai bahasa (a language) dipergunakan secara hati-hati dan didefinisikan dalam term dan symbol, serta (5) sebagai alat (a tool) yang dipergunakan oleh setiap orang dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

Sedangkan mengenai pengertian matematika sekolah Erman Suherman (1993:134) mengemukakan bahwa matematika sekolah merupakan bagian matematika yang diberikan untuk dipelajari oleh siswa sekolah (formal), yaitu SD, SLTP, dan SLTA. Menurut Soedjadi (1995:1) matematika sekolah adalah bagian atau unsur dari matematika yang dipilih antara lain dengan pertimbangan atau berorentasi pada pendidikan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika sekolah adalah matematika yang telah dipilah-pilah dan disesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa, serta digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi para siswa.

Agar dalam penyampaian materi matematika dapat mudah diterima dan dipahami oleh siswa, guru harus memahami tentang karakteristik matematika sekolah. Menurut Soedjadi (2000:13) matematika memiliki karakteristik : (1) memiliki objek kajian abstrak, (2). Bertumpu pada kesepakatan, (3) berpola pikir deduktif, 4). Memiliki symbol yang kosong dari arti, (5). Memperhatikan semesta pembicaraan, dan (6). Konsisten dalam sistemnya. Sedang menurut Depdikbud (1993:1) matematika memiliki ciri-ciri, yaitu (1). Memiliki objek yang abstrak, (2). Memiliki pola piker deduktif dan konsisten, dan (3) tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Pelaksanaan pembelajaran matematika juga dimulai dari yang sederhana ke kompleks. Menurut Karso (1993:124) matematika mempelajari tentang pola keteraturan, tentang struktur yang terorganisasikan. Konsep-konsep matematika tersusun secara hirarkis, terstruktur, logis, dan sistematis mulai dari konsep yang paling sederhana sampai pada konsep yang paling kompleks.

Skemp (1971:36) menyatakan bahwa dalam belajar matematika meskipun kita telah membuat semua konsep itu menjadi baru dalam pikiran kita sendiri, kita hanya bisa melakukan semua ini dengan menggunakan konsep yang kita capai sebelumnya.

Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika tidak dapat dilakukan secara melompat-lompat tetapi harus tahap demi tahap, dimulai dengan pemahaman ide dan konsep yang sederhana sampai ke jenjang yang lebih kompleks.

Selain itu pembelajaran matematika hendaknya bermakna, yaitu pembelajaran yang mengutamakan pengertian atau pemahaman konsep dan penerapannya dalam kehidupan.

Pembelajaran matematika hendaknya menganut kebenaran konsistensi yang didasarkan kepada kebenaran-kebenaran terdahulu yang telah diterima, atau setiap struktur dalam matematika tidak boleh terdapat kontradiksi. Tetapi mengingat kemampuan berpikir siswa SD, penerapan pola deduktif tidak dilakukan secara ketat.

Tujuan mata pelajaran matematika yang tercantum dalam KTSP pada SD/MI adalah sebagai berikut:

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengkomunkasikan gagasan dengan simbol, table, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006 : 417).

Adapun ruang lingkup materi atau bahan kajian matematika di SD/MI mencakup : a). bilangan, b). geometri dan penguk.uran, dan c). Pengolahan data.

Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. (Daresh, 1989).

Meskipun demikian, supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya (Sergiovanni, 1987).

Penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi kualitas unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik.

Dengan demikian, melalui supervisi akademik guru akan semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya. Alfonso, Firth, dan Neville (1981) menegaskan Instructional supervision is herein defined as: behavior officially designed by the organization that directly affects teacher behavior in such a way to facilitate pupil learning and achieve the goals of organization. Menurut Alfonso, Firth, dan Neville, ada tiga konsep pokok (kunci) dalam pengertian supervisi akademik.

  1. Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru dalam mengelola proses pembelajaran. Tidak ada satupun perilaku supervisi akademik yang baik dan cocok bagi semua guru (Glickman, 1981).
  2. Perilaku supervisor dalam membantu guru mengembangkan kemampuannya harus didesain secara ofisial, sehingga jelas waktu mulai dan berakhirnya program pengembangan tersebut.
  3. Tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.
  4. Supervisi akademik diselenggarakan dengan maksud untuk memonitor kegiatan belajar mengajar di sekolah.
  5. Supervisi akademik diselenggarakan untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas mengajarnya, mengembangkan kemampuannya sendiri, memiliki perhatian yang sungguh-sungguh (commitment) terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

Menurut Alfonso, Firth, dan Neville (1981) Supervisi akademik yang baik adalah yang mampu berfungsi mencapai multi tujuan tersebut di atas. Tidak ada keberhasilan bagi supervisi akademik jika hanya memerhatikan salah satu tujuan tertentu dengan mengesampingkan tujuan lainnya. Pada gilirannya nanti perubahan perilaku guru ke arah yang lebih berkualitas akan menimbulkan perilaku belajar murid yang lebih baik. Alfonso, Firth, dan Neville (1981) menggambarkan sistem pengaruh perilaku supervisi akademik.

Perilaku supervisi akademik secara langsung berhubungan dan berpengaruh terhadap perilaku guru. Selanjutnya perilaku mengajar guru yang baik itu akan mempengaruhi perilaku belajar murid. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tujuan akhir supervisi akademik adalah terbinanya perilaku belajar murid yang lebih baik.

Metode Penelitian

Prosedur penelitian ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robbin MC Taggart yang terdiri dari empat komponen yaitu : 1). Perencanaan (planning), 2). Aksi/tindakan (acting), 3). Observasi (obseving), 4). Refleksi (refleting).

Penelitian tindakan sekolah ini terdiri dari dua siklus, yang masing­-masing siklus terbagi dalam empat bagian yaitu 1) rencana, 2) tindakan, 3) observasi, 4) refleksi.

Agar dapat terkumpul data yang berkualitas, peneliti menggunakan berbagai teknik supaya perolehan data dari teknik yang satu dapat dilengkapi dengan perolehan data dengan teknik lain. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

Instrumen Penelitian

Pada sebuah penelitian kualitatif peneliti sebagai instrumen kunci (key instrumen). Dalam kapasitasnya sebagai key instrumen, peneliti bertindak sebagai perencana dan pelaksana pengumpulan data di lapangan dan sekaligus penafsir, analisis, dan pelapor hasil penelitian..

Wawancara

Wawancara adalah sebagai serangkaian percakapan persahabatan (sebagaimana percakapan antar sahabat) yang di dalamnya peneliti secara perlahan memasukkan beberapa unsur baru guna membantu informan dalam memberikan jawaban.

Observasi

Pada kegiatan observasi ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran Matematika di SD Negeri Banjareja 02, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap maka digunakan lembar observasi.

Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika di SD Negeri Banjareja 02, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap dan kemudian dilakukan analisis data.

Reduksi Data

Dalam penelitian ini reduksi data berupa catatan-catatan yang telah diperoleh mengenai peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran di SD Negeri Banjareja 02, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap.

Sajian Data

Dalam penelitian ini sajian data berhubungan dengan peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran di SD Negeri Banjareja 02, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap.

Penarikan Simpulan

Simpulan akhir tidak akan terjadi sampai pada waktu proses pengumpulan data berakhir. Simpulan perlu diverifikasi agar cukup mantap dan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Dilaksanakannya penelitian tindakan sekolah ini mengingat kondisi guru di sekolah kami khususnya dalam PBM, penanaman konsep belum maksimal. Hal ini dapat diketahui dari banyak siswa yang belum tuntas sesuai kurikulum, sehingga prestasi belajar matematika siswa masih rendah.

Maka berbagai upaya dilakukan guna meningkatkan prestasi belajar siswa terutama pada mata pelajaran matematika. Salah satunya adalah dengan melalui peningkatan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika melalui Supervisi Akademik.

Deskripsi Hasil Siklus I

Perencanaan penelitian tindakan sekolah

  1. Menetapkan materi pembelajaran untuk mata pelajaran matematika.
  2. Menyusun rencana pembelajaran.
  3. Menyusun instrumen penelitian : 1). keseriusan siswa dalam KBM; 2). aktivitas siswa dalam KBM; 3). ketrampilan guru dalam menyusun rencana pembelajaran; 4). ketrampilan guru dalam menyajikan pembelajaran; 5). ketrampilan guru dalam membimbing siswa; 6). kemampuan menyusun butir soal; 7). menyusun lembar refleksi.
  4. Supervisi pelaksanaan pembelajaran.
  5. Menentukan jadwal refleksi.

Dari hasil tes uji coba setelah diadakan tindakan pertama, kenaikan nilai rata-rata sebesar 10 jika dibandingkan dengan hasil tes uji coba sebelum dilakukan tindakan, hal itu tertera pada tabel berikut :

Observasi Data Siklus I

No Uraian Data Nilai Matematika/ Kelas Rata-

rata

I II III IV V VI
1 Nilai Tertinggi 85 100 85 90 90 90 71,3
2 Nilai Terendah 60 50 60 50 50 50
3 Nilai Rata-rata 70 71 68 79 75 71

Analisa Nilai Ulangan Matematika Siklus I SD Negeri Banjareja 02

Kelas Jmlh Murid Rentang Nilai Ket
0 – 20 21 – 40 41 – 60 61 – 80 81 – 100
I 22 10 7 5
II 28 1 7 17 5
III 26 2 8 15 1
IV 19 4 5 8 2
V 21 3 10 6 2
VI 19 10 8 1
Jumlah 135 10 50 61 14

Refleksi

Dari hasil pengamatan selama kegiatan siklus I, kegiatan pembelajaran matematika melalui supervisi akademik adanya keberhasilan. Keberhasilan itu antara lain :

  1. Terdapat peningkatan kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal matematika dan nilai rata-rata naik meskipun hanya 3.
  2. Adanya suasana kegiatan belajar mengajar lebih menarik sehingga dapat menambah gairah peserta didik dalam belajar.
  3. Adanya komunikasi yang positif sehingga mempermudah dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

Sedangkan kelemahan-kelemahan pada siklus I antara lain :

  1. Ada guru yang belum menguasai materi sehingga kurang efektif dalam pembelajaran.
  2. Ada siswa yang tidak memperhatikan.
  3. Ada beberapa siswa yang hanya bermain dalam kegiatan belajar sehingga tidak maksud yang diajarkan.

Deskripsi Hasil Siklus II

Untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan dan mempertahankan serta meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus I, maka pada siklus II dilakukan langkah-langkah:

  1. Menetapkan materi pembelajaran untuk mata pelajaran matematika.
  2. Menyusun rencana pembelajaran dan penguasaan.
  3. Menyusun instrumen penelitian Supervisi pelaksanaan pembelajaran.
  4. Menentukan jadwal refleksi.

Guru lebih aktif memberikan motivasi pada peserta didik agar lebih percaya diri dalam proses pembelajaran maupun dalam menyelesaikan soal. Agar lebih aktif maka anak disuruh mengerjakan soal sendiri sehingga konsep akan lebih tertanam.

Observasi Data Siklus II

No Uraian Data Nilai Matematika/ Kelas Rata-

rata

I II III IV V VI
1 Nilai Tertinggi 100 100 95 100 100 100 82
2 Nilai Terendah 70 70 70 80 65 65
3 Nilai Rata-rata 80 79 79 88 86 81

Analisa Nilai Ulangan Matematika Siklus II SD Negeri Banjareja 02

Kelas Jumlah Murid Rentang Nilai Ket
0 – 20 21 – 40 41 – 60 61 – 80 81 – 100
I 22 17 5
II 28 16 12
III 26 19 7
IV 19 9 10
V 21 10 11
VI 19 9 10
Jumlah 135 80 55

Pelaksanaan

Peserta didik dibentuk kelompok dengan anggota tiap kelompok terdiri atas 4 s.d. 5 orang. Setiap kelompok mendapat tugas mengerjakan soal dalam kelompoknya. Guru mengontrol kegiatan agar semua siswa mengerjakan dengan aktif di kelompok masing-masing. Selanjutnya diadakan koreksi atas jawaban peserta didik dan pembahasan soal-soal tersebut secara klasikal.

Tes uji coba kembali dilakukan dan diikuti oleh semua siswa.

Hasil Pengamatan (Observasi)

Dari hasil uji coba setelah diadakan tindakan kedua diketahui ada kenaikan nilai rata-rata matematika dari 62 menjadi 82 dibandingkan dengan hasil tes uji coba sebelum dilakukan tindakan, sebagaimana tertera pada tabel berikut :

Rekapitulasi Nilai Rata-rata Ulangan Matematika Kelas I s/d Kelas VI; Pra Siklus, Siklus I, Siklus II SD Negeri Banjareja 02

No Uraian Data Nilai Matematika/ Kelas Rata2 Ket
I II III IV V VI
1 Pra siklus 61 59 59 63 63 67 62
2 Iklus I 70 71 68 79 75 71 72
3 Siklus II 70 79 79 88 86 81 82

Dari hasil prestasi di atas maka nilai rata-rata naik dari :

  1. Pra siklus ke Siklus I nilai rata-rata 62 naik menjadi 72 berarti kenaikan nilai rata-rata naik 10.
  2. Siklus I ke Siklus II nilai rata-rata 72 naik menjadi 82 berarti kenaikan nilai rata-rata naik 10

Di samping hasil prestasi belajar anak, penulis tampilkan data hasil supervisi akademik guru kelas I sampai dengan kelas VI SD Negeri Banjareja 02 sebagai berikut:

Penutup

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Dengan melalui Supervisi Akademik dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran matematika.
  2. Dengan kemampuan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran matematika, peserta didik dapat:
  3. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritme.
  4. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  5. Mengkomunikasikan gagasan dan simbol, table diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan masalah.
  6. Dengan Supervisi Akademik dapat meningkatkan aktifitas siswa untuk berkompetisi menjadi yang terbaik, dalam kegiatan belajar mengajar..

DAFTAR PUSTAKA

Alfonso, RJ., Firth, G.R., dan Neville, R.F.1981. Instructional Supervision, A Behavior System, Boston: Allyn and Bacon, Inc

Depdiknas, 2008, Laporan Penelitian Tindakan Sekolah sebagai Karya Tulis Ilmiah dalam kegiatan pengembangan profesi Pengawas Sekolah, Jakarta : Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Depdiknas, 2008, Metode dan Teknik Supervisi, Jakarta : Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan .

Depdiknas, 2008, Pengembangan Silabus dan Rencana Pelksanaan Pembelajaran, Jakarta: Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan.

Depdiknas, 2008, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Depdiknas, 2008,Juknis Instrumen Akreditasi Sekolah/ Akreditasi SMP, Jakarta :BAN S/M.

Depdiknas,. 2004. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar Draft Puskur 24 Mei 2004. Jakarta

Depdiknas, 2004. Pedoman Umum Pengembangan Silabus Berbasis Kom-petensi. Ditjen Dikdasmen. Jakarta.

Depdiknas, 2004. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar Draft Puskur 24 Mei 2004. Jakarta

Depdiknas,. 2004. Pedoman Umum Pengembangan Silabus Berbasis Kom-petensi. Ditjen Dikdasmen. Jakarta.

Depdiknas, 2003. Contoh Silabus Berdiversifikasi dan Penilaian Berbasis Kelas Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta.

Gwynn, J.M. 1961. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company.

Nana Sujana, 2008, Supervisi Akademik, Jakarta : LPP Binamitra.

PERMENDIKNAS NO. 19/2007 tanggal 23 Mei 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan,

PERMENDIKNAS NO. 20/2007 tanggal 20 Juni 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan,

PERMENDIKNAS NO. 41/2007 tanggal 23 November 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,

PERMENDIKNAS NO. 22/2006 tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Isi,

PERMENDIKNAS NO. 23/2006 tanggal 23 Mei 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan,

Sutirjo dan Sri Istuti Mamik. (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif dalam Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.

Biodata Penulis

Nama : Sobirin, S.Pd.

NIP : 19671012 199903 1 004

Unit Kerja : SD Negeri Banjareja 02 Kecamatan Nusawungu

By admin

You cannot copy content of this page