Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MELALUI SUPERVISI KLINIS DI SD NEGERI 2 SUMAMPIR SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Tri Yaeni, S.PD.SD.

ABSTRAK

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti sebagai kepala sekolah menemukan adanya permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran. Dalam hal ini, mayoritas guru di SD Negeri 2 Sumampir belum mampu menerapkan pembelajaran kooperatif dengan baik. Tujuan penelitian secara khusus adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif melalui supervisi klinis oleh kepala sekolah. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2019/2020 di SD Negeri 2 Sumampir dengan subjek penelitian adalah guru. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus dan tiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/ evaluasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif pada kondisi awal sebesar 11,8 meningkat menjadi 15.5 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 27.4 pada siklus II. Total kenaikannya adalah sebesar 15.6 atau 40,3%. Pelaksanaan supervisi klinis dalam penerapan pembelajaran kooperatif oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 11.5 pada siklus I dan 15.5 pada siklus II, sehingga total kenaikan 4 atau 23.1%. Kenaikan skor tersebut merupakan bukti nyata bahwa pelaksanaan supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Rata-rata kenaikan tersebut sudah sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditentukan oleh peneliti.

Kata kunci: supervisi klinis, pembelajaran kooperatif.

Latar Belakang Masalah

Esensi sebuah pendidikan di sekolah adalah terjadinya proses pembelajaran. Tidak ada kualitas pendidikan tanpa pembelajaran. Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah dianggap kurang berguna bilamana belum menyentuh perbaikan proses pembelajaran. Guru merupakan komponen utama yang paling menentukan keberhasilan pendidikan, karena guru, kurikulum, sumber belajar, sarana dan prasarana serta iklim pembelajaran menjadi lebih berarti bagi kehidupan siswa dalam mencapai cita-citanya dimasa yang akan datang. Sehubungan dengan hal tersebut, ada banyak faktor yang turut mempengaruhi rendahnya kualitas pendidikan. Apabila pendidikan dilihat sebagai suatu sistem maka faktor yang turut mempengaruhi pendidikan tersebut, meliputi: (1) input murid atau siswa, (2) proses pendidikan, dan (3) keluaran pendidikan. Kualitas pendidikan dapat ditingkatkan salah satunya dengan cara pengoptimalan fungsi dari aktivitas guru mengajar, peran siswa dalam pembelajaran, sistem pengelolaan administrasi, serta mekanisme kepemimpinan kepala sekolah. (Sutomo, 2011:21)

Tugas guru sebagai pendidik dan tenaga kependidikan menyandang persyaratan tertentu sebagaimana tertuang di dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 (2) yang menyatakan bahwa: “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, dan melakukan pembimbingan”. Pada Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dinyatakan bahwa “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran merupakan bagian dari kompetensi pedagogik. Guru yang menguasai kompetensi ini maka guru dapat memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip perkembangan kognitif siswa dan guru dapat memahami perkembangan kepribadian siswa dan merefleksikannya dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk dapat membimbing peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu dengan menggunakan cara-cara yang ‘tidak biasa’ atau kreatif. Siswa hanya menjadi pendengar, guru yang menjadi satu-satunya sumber belajar merupakan model pembelajaran monoton yang mulai ditinggalkan. Guru milenial sudah sepantasnya mengikuti perkembangan zaman sehingga proses pembelajaran dapat berjalan menyenangkan bagi siswa.

Kenyataan di lapangan berdasarkan hasil observasi, diketahui beberapa kendala berkaitan dengan kompetensi pedagogik guru. Kendala tersebut salah satuya adalah sebagian guru masih melaksanakan kegiatan pembelajaran yang monoton di kelas. Hal ini menunjukkan sebagian guru di SD Negeri 2 Sumampir dalam menguasai pembelajaran kooperatif masih kurang.

Rendahnya kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif di SD Negeri 2 Sumampir memotivasi peneliti sebagai kepala sekolah untuk melakukan suatu tindakan guna meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Dalam kaitan ini salah satu faktor penting yang berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan guru yaitu supervisi klinis yang diberikan oleh kepala sekolah. Kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatatif guru dipengaruhi oleh pembinaan kepala sekolah melalui supervisi. Akhmad Sudrajat (Asmani, 2012: 104) mengemukakan bahwa supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis. Mulai dari tahap perencanaan, pengamatan, hingga analisis yang intensif terhadap penampilan pembelajaran dengan tujuan memperbaiki proses pembelajaran. Menurut Asmani (2012: 106) supervisi klinis adalah bantuan bagi guru untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajarnya.

Peneliti menyadari bahwa dalam rangkaian meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif sangat membutuhkan pembimbingan dari kepala sekolah. Adanya bimbingan dan pembinaan secara intensif sangat penting demi peningkatan kemampuan guru secara menyeluruh, khususnya dalam meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Tujuan penelitian secara umum adalah meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri 2 Sumampir serta meningkatkan kompetensi penelitian dan pengembangan bagi peneliti.

Tujuan Khusus

Tujuan penelitian secara khusus adalah:

  1. mengetahui peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif melalui supervisi klinis oleh Kepala sekolah;
  2. mengetahui persentase guru yang menunjukan peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif;
  3. mengetahui tindakan supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Kajian Teori

Pembelajaran kooperatif merupakan kegitaan pembelajaran yang dilakukan bersama-sama. Sesuai dengan pernyataan Alma (2009: 80) bahwa Cooperative berarti bekerja sama dan Learning berarti belajar, jadi belajar melalui kegiatan bersama. Istilah Cooperative Learning dalam pengertian bahasa Indonesia dikenal dengan nama pembelajaran kooperatif. Menurut Johnson dan Johnson dalam Isjoni (2012: 23), pembelajaran kooperatif adalah mengelompokkan siswa didalam kelas kedalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain2.

Lima unsur dasar dalam model pembelajaran Cooperative Learning menurut Suprijono (2011: 58) adalah Positive Interdependence (saling ketergantungan positif), Personal Responsibility (tanggung jawab perseorangan), Face to face Promotive interaction (interaksi promotif/ interaksi tatap muka), Participation Communication (partisipasi dan komunikasi), serta evaluasi proses kelompok. Sementara, karakter atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif (Rusman, 2011: 39) meliputi pembelajaran secara tim, didasarkan pada manajemen kooperatif, kemampuan unutuk bekerja sama, serta keterampilan bekerjasama

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan ssstem kompetisi, dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan menurut Slaky dalam Taniredja (2011: 56), tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim dalam Kulsum (2011: 43) yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan ketrampilan sosial.

Terdapat enam langkah utama menurut Trianto (2007) atau tahapan didalam pelajaran yang menggunakan model pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

FASE TINGKAH LAKU GURU
Fase-1

Menyajikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase-2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan
Fase-3

Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase-4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase-5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase-6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif, salah satunya adalah melalui supervisi klinis oleh kepala sekolah. Imron (2012: 8) berpendapat bahwa supervisi merupakan serangkaian bantuan yang berwujud layanan profesional yang diberikan orang yang lebih ahli (kepala sekolah, penilik sekolah, pengawas, dan ahli lainnya) kepada guru. P. Adam dan Frank G. Dickey dalam Sutomo (2011:108) mengemukakan bahwa supervisi adalah program yang terencana untuk memperbaiki pengajaran. Tujuan utama dari program supervisi adalah untuk memperbaiki proses belajar dan mengajar. Program ini hanya akan berhasil jika supervisor memiliki keterampilan dan cara kerja yang tepat untuk berkerjasama dengan orang lain guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Supervisi klinis pada mulanya dirancang sebagai salah satu model atau pendekatan dalam mensupervisi calon guru yang berpraktek mengajar. Penekanannya pada klinis atau dalam pengobatan dan penyembuhan, yang diwujudkan dalam bentuk tatap muka antara supervisor dengan calon guru. Supervisi klinis lebih memusatkan perhatiannya pada perilaku guru yang aktual di kelas (Jelantik, 2015). Menurut Richard Waller yang dikutip oleh Purwanto (2009) mengatakan bahwa supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk melakukan modifikasi yang rasional.

Supervisi klinis adalah suatu bentuk bimbingan atau bantuan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhan guru melalui siklus yang sistematis untuk meningkatkan proses belajar mengajar. Supervisi klinis juga diartikan sebagai bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannya melalui siklus yang sistematis. Siklus sistematis ini meliputi: perencanaan, observasi yang cermat atas pelaksanaan dan pengkajian hasil observasi dengan segera dan objektif tentang penampilan mengajarnya yang nyata.

Hipotesis Tindakan

Supervisi Klinis dapat meningkatkan kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif bagi guru SD Negeri 2 Sumampir semester II tahun pelajaran 2019/2020.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2019/2020 di SD Negeri 2 Sumampir dengan subjek penelitian adalah guru. Instrumen penelitian menggunakan lembar pengamatan pembelajaran kooperatif dan tindakan supervisi klinis. Penelitian tindakan ini dilakukan sebanyak dua siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/evaluasi, dan refleksi.

Hasil Tindakan dan Pembahasan

Deskripsi Kondisi Awal

Tabel 2. Kondisi Awal Kemampuan Guru SD Negeri 2 Sumampir dalam Menerapkan Pembelajaran Kooperatif Sebelum Penelitian Tindakan

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian Jml
A B C D E F G H
1. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar 2 2 1 2 2 2 1 3
2. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan 3 2 2 1 1 1 2 2
3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif 2 2 2 1 3 2 2 2
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 2 3 2 2 1 2 3 2
5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya 2 2 2 2 1 2 2 2
6. Memberikan penghargaan 2 3 2 3 2 2 2 2
Jumlah 13 14 11 11 9 11 12 13 95

Ket.: Amat baik dengan skor antara 25 s.d 30; Baik dengan skor antara 19 s.d 24; Cukup dengan skor antara: 13 s.d 18; Kurang dengan skor antara 7 s.d 12; Sangat kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6.

Data pada Tabel 2 menunjukkan kondisi awal kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Perolehan skor masing-masing guru yaitu 13, 14, 11, 11, 9, 11, 12, dan 13. Dimana skor tersebut jika dikategorikan masuk dalam kategori kurang dan cukup. Tidak ada satu subjek pun yang mendapat skor maksimal baik dalam tiap indikator pencapaian dan keseluruhan subjek guru. Hal ini memperkuat indikasi bahwa kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif di SDN 2 Sumampir masih rendah.

Permasalahan tersebut secara khusus dapat disebabkan oleh belum adanya pembimbingan yang dilakukan peneliti belum intensif sehingga perlu ada upaya perbaikan atau peningkatan. Untuk itu, peneliti akan melakukan tindakan melalui supervisi klinis secara intensif guna meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Harapannya, ke depan semua guru SD Negeri 2 Sumampir mampu menerapkan pembelajaran kooperatif dengan baik dan sesuai sintaksnya.

Deskripsi Hasil Siklus I

Tabel 3. Hasil Penilaian Peneliti tentang Kemampuan Guru SD Negeri 2 Sumampir dalam Menerapkan Pembelajaran Kooperatif pada Siklus I

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian
A B C D E F G H
1. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar 3 2 3 3 3 2 3 3
2. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan 3 3 3 3 3 2 3 3
3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif 3 3 3 2 2 3 3 3
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 3 3 3 3 3 2 3 3
5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya 3 2 3 2 3 3 3 3
6. Memberikan penghargaan 3 3 2 3 2 3 3 2
Jumlah 18 16 17 16 16 15 16 17 131

Ket.: Amat baik dengan skor antara 25 s.d 30; Baik dengan skor antara 19 s.d 24; Cukup dengan skor antara: 13 s.d 18; Kurang dengan skor antara 7 s.d 12; Sangat kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6.

Sementara hasil penilaian kolaborator tentang kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif pada Siklus I penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kemampuan Guru SD Negeri 2 Sumampir dalam Menerapkan Pembelajaran Kooperatif pada Siklus I Penelitian

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian
A B C D E F G H
1. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar 2 2 3 2 3 2 3 3
2. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan 2 3 3 2 3 2 3 2
3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif 3 2 3 3 2 3 2 3
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 2 3 2 3 3 2 3 3
5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya 3 2 3 2 3 3 2 3
6. Memberikan penghargaan 2 3 2 3 2 2 3 2
Jumlah 14 15 14 15 14 14 16 16 118

Ket.: Amat baik dengan skor antara 25 s.d 30; Baik dengan skor antara 19 s.d 24; Cukup dengan skor antara: 13 s.d 18; Kurang dengan skor antara 7 s.d 12; Sangat kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6.

Berdasarkan data tersebut di atas, diketahui bahwa nilai kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif dari peneliti adalah sebesar 131 sedangkan dari kolaborator sebesar 118. Jika dirata-rata dari 8 guru 16.3 dan 14.7 yaitu sebesar 15.5. Jadi nilai rata-rata dari kedua penilaian tersebut dikategorikan cukup.

Tindakan supervisi klinis yang dilakukan oleh peneliti juga dinilai oleh kolaborator dan salah satu subjek penelitian. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 5. Hasil Penilaian Terhadap Tindakan Supervisi Klinis Siklus I Penelitian

No. Pengamat Skor Rata-rata Kategori
1. Kolaborator 11 11.5 Cukup Baik
2. Salah seorang subjek penelitian 12

Ket.: Baik sekali dengan skor antara 13 – 18; Cukup baik dengan skor antara 7 – 12; Kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6

Berdasarkan data pada Tabel 5, diketahui bahwa nilai pengamatan pelaksanan supervisi klinis dari kolaborator sebesar 11, sedangkan dari salah satu subjek penelitian sebesar 12. Jadi rata-ratanya sebesar 11.5 yang termasuk dalam kategori cukup baik.

Tabel 6. Rata-rata Data Awal dan Siklus I Penelitian

No. Data Penelitian Data

Awal

Siklus

I

Kenaikan %

Kenaikan

1. Kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif 11.8 15.5 3.7 12.6%
2. Tindakan supervisi klinis 0 11.5 11.5 63 %

Keterangan: Persentase kenaikan dihitung dari skor maksimal pada masing-masing kategori, yaitu 30 untuk Kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif dan 18 untuk pelaksanaan Supervisi klinis.

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif mencapai kenaikan skor 15.5 poin atau 12.6 % dan pelaksanaan supervisi klinis mencapai skor 11.5 atau 63 %. Hasil siklus dikatakan berhasil jika pelaksanaan supervise klinis dan peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif sudah masuk dalam kategori baik. Namun, dua objek penelitian tersebut belum mencapai kriteria.

Terdapat beberapa hal yang belum berjalan maksimal pada kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif yaitu pada indikator Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif; Membimbing kelompok bekerja dan belajar; Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Sedangkan pada tindakan supervise klinis yang belum maksimal pelaksanaanya yaitu pada indikator Peneliti menganalisis masalah dan kelemahan guru. Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian dilanjutkan ke siklus II penelitian.

3. Deskripsi Hasil Siklus II

Tabel 7. Hasil Penilaian tentang Kemampuan Guru SD Negeri 2 Sumampir dalam Menerapkan Pembelajaran Kooperatif pada Siklus II Penelitian

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian
A B C D E F G H
1. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar 4 5 5 4 4 5 5 4
2. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan 5 5 5 4 4 5 5 5
3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif 4 5 5 4 5 5 4 4
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 5 5 5 5 5 5 5 5
5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya 5 5 5 4 4 5 5 4
6. Memberikan penghargaan 4 4 4 5 5 5 4 4
Jumlah 27 29 29 26 27 30 28 26 222

Ket.: Amat baik dengan skor antara 25 s.d 30; Baik dengan skor antara 19 s.d 24; Cukup dengan skor antara: 13 s.d 18; Kurang dengan skor antara 7 s.d 12; Sangat kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6.

Sementara hasil penilaian kolaborator tentang kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif pada Siklus II Penelitian adalah sebagai berikut:

Tabel 8. Hasil Penilaian Kolaborator tentang Kemampuan Guru SD Negeri 2 Sumampir dalam Menerapkan Pembelajaran Kooperatif pada Siklus II

No. Indikator Kode Guru & Skor Penilaian
A B C D E F G H
1. Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar 4 4 4 4 4 4 4 4
2. Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan 5 4 5 5 4 5 5 5
3. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok kooperatif 5 4 4 5 4 5 4 5
4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 5 4 5 5 5 4 5 5
5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing-masing kelompok, atau siswa mempresentasikan hasil kerjanya 5 4 5 5 5 4 5 4
6. Memberikan penghargaan 4 5 5 5 4 4 4 5
Jumlah 28 25 28 29 26 26 27 28 217

Ket.: Amat baik dengan skor antara 25 s.d 30; Baik dengan skor antara 19 s.d 24; Cukup dengan skor antara: 13 s.d 18; Kurang dengan skor antara 7 s.d 12; Sangat kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6.

Berdasarkan data pada tabel terebut, diketahui bahwa nilai rata-rata kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif dari peneliti adalah sebesar 222 sedangkan dari kolaborator sebesar 217. Jadi nilai rata-ratanya adalah antara 27.7 dan 27.1 adalah 27.4 yang termasuk dalam kategori amat baik. Adapun penilaian penilaian terhadap tindakan supervisi klinis yang dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

Tabel 9. Hasil Penilaian Terhadap Tindakan Supervisi Klinis yang Dilakukan Oleh Peneliti pada Siklus II Penelitian

No. Pengamat Skor Rata-rata Kategori
1. Kolaborator 15 15.5 Amat Baik
2. Salah seorang subjek penelitian 16

Ket.: Baik sekali dengan skor antara 13 – 18; Cukup baik dengan skor antara 7 – 12; Kurang dengan skor kurang dari atau sama dengan 6

Berdasarkan data pada tabel tersebut, diketahui bahwa nilai rata-rata dari teman sejawat selaku kolaborator adalah sebesar 15 sedangkan dari salah satu subjek penelitian sebesar 16. Jadi nilai rata-ratanya adalah sebesar 15.5 yang termasuk dalam kategori amat baik.

Tabel 10. Rata-rata Data Siklus I dan Siklus II Penelitian

No. Data Penelitian Data Awal Siklus I Siklus

II

%

Kenaikan

1. Kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif 11.8 15.5 27.4 40.3%
2. Tindakan supervisi klinis 0 11.5 15.5 23.1%

Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif mencapai kenaikan skor sebesar 27.4 atau 40.3% dan skor pelaksanaan supervisi klinis meningkat sebesar 15.5 atau 23,1%. Pada proses pembelajaran kooperatif keenam indikator sudah nampak maksimal. Sedangkan untuk pelaksanaan supervisi klinis oleh peneliti secara umum sudah berjalan sesuai sintaks indikator. Penelitian dianggap berhasil jika peningkatan kedua indikator sudah masuk kategori minimal “baik”. Pada penelitian ini, kedua variable tersebut sudah masuk dalam kategori amat baik, maka dapat dikatakan siklus II penelitian dianggap berhasil.

4. Pembahasan/Diskusi

Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I dan II penelitian dapat diketahui bahwa kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif mengalami peningkatan, yaitu dari data awal sampai akhir siklus II sebesar adalah 27.4 atau 40.3%. Sementara pelaksanaan supervisi akademik dari awal sampai siklus II meningkat sebesar 15.5 atau 23.1%. Hasil tersebut untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 11. Rata-rata Data Awal, Akhir Siklus I dan Akhir Siklus II

No. Data Penelitian Data Awal Siklus

I

Siklus

II

Total Kenaikan %

Kenaikan

1. Kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif 11.8 15.5 27.4 15.6 40.3%
2. Tindakan supervisi klinis 0 11.5 15.5 4 23.1%

Berdasarkan uraian data di atas dapat diketahui bahwa penelitian tindakan sekolah tentang peningkatan kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif oleh peneliti terhadap guru SD Negeri 2 Sumampir dapat dikatakan berhasil karena terjadi peningkatan skor pada kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif dan supervisi klinis pada tiap siklus penelitian. Hasil akhir untuk kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif adalah sebesar 27.4 dan pelaksanaan supervisi klinis sebesar 15.5.

5. Hasil Tindakan

Berdasarkan data hasil penelitian dapat diketahui bahwa tindakan supervisi klinis oleh peneliti berhasil meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif pada kondisi awal sebesar 11,8 meningkat menjadi 15.5 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 27.4 pada siklus II. Total kenaikannya adalah sebesar 15.6 atau 40,3%. Pelaksanaan supervisi klinis dalam penerapan pembelajaran kooperatif oleh peneliti dari kondisi awal belum dilaksanakan (0), meningkat menjadi 11.5 pada siklus I dan 15.5 pada siklus II, sehingga total kenaikan 4 atau 23.1%. Kenaikan skor tersebut merupakan bukti nyata bahwa pelaksanaan supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis tindakan dalam penelitian yang menyatakan: “Supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif bagi guru SD Negeri 2 Sumampir semester II tahun pelajaran 2019/2020”, terbukti benar. Jadi, kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kooperatif dapat ditingkatkan melalui supervisi klinis oleh kepala sekolah. Dengan kata lain, supervisi klinis oleh kepala sekolah secara nyata mampu memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif.

Simpulan

Supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan guru SD Negeri 2 Sumampir dalam menerapkan pembelajaran kooperatif. Kondisi awal menunjukkan nilai rata-rata kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif sebesar 11.8. Pada akhir siklus I, nilainya meningkat menjadi 15.5 dan pada akhir siklus II meningkat lagi menjadi 27.4. Pelaksanaan supervisi klinis dari kondisi awal belum dilaksanakan atau (0), meningkat menjadi 11.5 pada siklus I dan 15.5 pada siklus II, sehingga total kenaikan 4 atau 23.1%. Berdasarkan hasil tersebut, maka hipotesis tindakan yang menyatakan: “Supervisi klinis dapat meningkatkan kemampuan menerapkan pembelajaran kooperatif bagi guru SD Negeri 2 Sumampir semester II tahun pelajaran 2019/2020”, terbukti benar.

DAFTAR PUSTAKA

Alma, d. (2009). Guru Profesional: Menguasai Metode dan Terampil Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Imron, A. (2011). Supervisi Pembelajaran Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Jelantik, K. (2015). Menjadi Kepala Sekolah yang Profesional. Yogyakarta: Deepublish.

Kulsum, U. (2010). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis PAIKEM. Surabaya: Gena Pratama Pustaka.

Purwanto, N. (2012). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Rusman. (2011). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Suprijono. (2011). Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sutomo. (2011). Manajemen Sekolah. Semarang: UNNES Press.

Taniredja, T. (2011). Model-Model Pembelajaran Inovasi. Bandung: Alfabeta.

Trianto. (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pusaka.

.

Biodata Peneliti

Nama : Tri Yaeni, S.PD.SD.

NIP : 19630601 198304 2 006

Pangkat/Gol : Pembina, IV/ a

Jabatan : Kepala Sekolah

You cannot copy content of this page