Iklan

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERCERITA DAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG MENCERITAKAN KEGIATAN SEHARI-HARI MELALUI MEDIA GAMBAR DI KELAS II SD NEGERI KUBANGJATI 02 SEMESTER II TAHUN 2018/2019

Oleh : Jumiati

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk Meningkatkan kemampuan dan hasil belajar siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar Menceritakan Kegiatan Sehari-hari melalui penggunaan Media Gambar di kelas II SD Negeri Kubangjati 02 semester II Tahun 2018/2019”.Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil penelitian serta pembahasannya Dalam kegiatan penelitian ini, peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui dua siklus perbaikan. Peda siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini terlihat dari hasil refleksi siklus pertama.yaitu Hasil analisis terhadap Nilai Rata-Rata Kelas, Prosentase Ketuntasan Belajar dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian Nilai rata-rata 71, 60 , KKM yang telah ditetapkan yaitu 66. Jadi nilai rata-rata meskipun telah mencapai KKM. Namun Prosentase ketuntasan belajar hanya baru mencapai 78,72 sedang KKM ketuntasan belajar adalah 75 %.Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II, peneliti merasa sudah puas dengan hasil yang cukup maksimal, hal ini terlihat dari hasil refleksi siklus II, yaitu Hasil nilai rata-rata kelas mencapai 77,13 ini sudah melampaui KKM 66. Prosentase ketuntasan belajar mencapai 89,36 %. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya aktivitas siswa. Dengan menggunakan media gambar maka aktivitas serta hasil belajar siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia di Kelas II SD Negeri Kubangjati 02 meningkat. Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Kubangjati 02, dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata kunci : Madia, Media Gambar, Aktivitas Belajar, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Kemampuan bercerita siswa SD Negeri Kubangjati 02 belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan yaitu 66,00 dan Ketuntasan Belajar Klasikal minimal 75 %. Pada Kompetensi Dasar 2.2 menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain, nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 57,50. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Dari 24 siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02, siswa yang mendapat nilai di atas KKM ada 9 siswa atau 38,30 %. Dengan memperhatikan nilai ulangan siswa yang rendah diatas maka agar dapat meningkatkan kemampuan siswa terhadap materi pelajaran yaitu bercerita, guru harus melakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan media gambar dan proses perbaikan pembelajaran serta dilakukan observasi maupun diskusi observasi dengan teman sejawat.

Berdasarkan pengalaman penulis sebagai pengajar dan pendidik di SD dan melihat hasil ulangan dan tingkat penguasaan siswa terhadap materi Bahasa Indonesia tentang menceritakan gambar dan menyalin puisi sederhana ke dalam bentuk tulisan dan bicara masih rendah, maka penulis mengadakan penelitian dalam rangka memecahkan masalah tersebut diatas. Dari identifikasi tersebut diatas terkesan terlalu banyak untuk dipecahkan, agar peneliti terfokus maka peneliti memberi batasan masalah sebagai berikut “Penggunaan Media Gambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Bercerita Dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas II SD Negeri Kubangjati 02”.

Dengan adanya proses pembelajaran menggunakan media gambar, maka diharapkan siswa SD kelas II di SD Negeri Kubangjati 02 dapat meningkatkan kemampuannya untuk bercerita serta meningkatkan prestasi belajar serta ketuntasan belajar minimal Bahasa Indonesia

Rumusan Masalah dan Pemecahan yang dapat peneliti ajukan adalah; (1) apakah pemberian motivasi dan penggunaan media gambar dapat meningkatkan kemampuan bercerita pada siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02 Kecamatan Ketanggungan , Kabupaten Brebes?; (2) Rencana Pemecahan Masalah anatar lain; (a) membuat RPP yang menggunakan media gambar kata untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring pada siswa kelas II; (b) membelajarkan siswa bercerita dengan menggunakan media gambar; (c) membuat lembar pengamatan siswa untuk mengetahui kemampuan siswa dalam bercerita; (d) memberdayakan siswa yang telah pandai membaca sebagai tutor sebaya; (e) mengukur pemahaman siswa tentang bercerita sesudah proses pembelajaran.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bercerita melalui media gambar pada siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02, Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes.

Manfaat penelitian secara teoritis anatar lain; (a) meningkatkan mutu pembelajaran; (b) memberikan masukan kepada instansi terkait dalam mengambil kebijakan yang dapat menunjang proses pembelajaran. Manfaat secara praktis antara lain ; (a) bagi peneliti, menemukan solusi untuk meningkatkan kemampuan bercerita nyaring pada siswa kelas II; (b) bagi siswa, siswa menjadi lebih terampil dalam bercerita; (c) kepala sekolah dapat mensosialisasikan kepada rekan guru sehingga terinspirasi untuk menggunakan media gambar dalam pembelajaran bercerita siswa kelas II.

Kegiatan bercerita di SD berperan penting dalam pembelajaran bahasa disamping dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak. Selain tujuan tersebut Kusumo Priyono (2001:15) juga menambahkan bahwa keterampilan mendongeng dalam hal ini termasuk juga bercerita, bertujuan untuk : (a) merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi murid; (b) Mengembangkan daya penalaran sikap kritis serta kreatif; (c) Mempunyai sikap kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa; (d) Dapat membedakan perbuatan yang baik dan perlu ditiru dengan yang buruk dan tidak perlu dicontoh; (e) Menumbuhkan rasa hormat dan mendorong terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada murid. Untuk meningkatkan kemampuan bercerita para pembelajar harus sering mengikuti aktivitas berbahasa lisan dan sering berlatih bercerita dalam berbagai macam situasi. Disamping itu, mereka juga harus terlibat dalam proses bercerita berusaha untuk memahami apa yang mereka ceritakan.

Media gambar adalah media yang sederhana, tidak membutuhkan proyektor dan layar. Media ini tidak tembus cahaya, maka tidak dapat dipantulkan pada layar. Guru memilih ini karena praktis.

Menurut Gerlach dan Ely (1980) mengatakan bahwa gambar tidak hanya bernilai seribu bahasa tetapi seribu tahun. Melalui gambar dapat ditunjukkan kepada pembelajar suatu tempat dan segala sesuatu dari daerah yang jauh jangkauan pengalaman sendiri.Samaldino dkk (2005) mengatakan bahwa gambar atau fotografi memberi gambaran tentang segala sesuatu seperti gambar binatang, orang, bunga, dsb. Gambar diam yang pada umumnya digunakan dalam pembelajaran. Edgar Dale (1963) mengatakan bahwa gambar dapat mengalihkan pengalaman belajar dari taraf belajar dengan lambang kata-kata ke taraf yang lebih konkrit misal guru akan menjelaskan pelajaran. Maka pembelajar akan lebih mudah menagkap gambar daripada uraian guru dengan kata-kata.

Selain dapat menggambarkan berbagai hal, gambar diperoleh dari majalah atau buletin dan sebagainya.. Kalau terpaksa tidak dapat menggambar dengan bagus guru dapat menggambar dengan sederhana.

Manfaat gambar sebagai media visual antara lain; (1) Menimbulkan daya tarik bagi siswa. Gambar dengan berbagai warna akan lebih menarik dan dapat membangkitkan minat serta perhatian siswa; (2) mempermudah pengertian siswa suatu penjelasan yang sifatnya abstrak dapat dibantu dengan gambar sehingga siswa lebih mudah memahami apa yang dimaksud; (3) memperjelas bagian-bagian penting Melalui gambar dapat pula memperbesar bagian-bagian yang penting atau yang kecil, sehingga dapat diamati lebih jelas; (4) menyingkat suatu uraian panjangUraian tersebut mungkin dapat ditunjukkan dengan sebuah gambar saja.

Ciri-ciri gambar yang baik antara lain : (a) cocok dengan tingkatan umur dan kemampuan siswa; (b) bersahaja; (c) realitas maksudnya gambar itu seperti benda yang sesungguhnya atau sesuai dengan apa yang digambar dengan memperhatikan perbandingan ukuran,; (d) gambar dapat dikerjakan dengan tangan.

Kerangka Berfikir

Pada kondisis awal guru belum menggunakan media gambar, sehingga siswa berkemampuan bercerita rendah. Selanjutnya guru melakukan tindakan sebanyak dua siklus. Pada siklus I pembelajaran membaca nyaring menggunakan media gambar hitam putih, dan dilanjutkan siklus II Pembelajaran kemampuan berceritamenggunakan gambar yang berwarna-warni dengan harapan kondisi akhir hasil belajar kemampuan bercerita meningkat.

Hipotesis Tindakan

Diduga dengan penerapan media gambar pada pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain , hasil belajar serta kemampuan bercerita meningkat siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02 Kecamatan Ketanggungan , Kabupaten Brebes meningkat secara optimal.

METODOLOGI PENELITIAN

Subyek Penelitian

Lokasi Penelitian

Tempat penelitian adalah SD Negeri Kubangjati 02, UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes.

Waktu Penelitian

Waktu penelitian selama 6 bulan (satu Semester), adapun pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2018/2019.

  1. Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
  2. Kelas yang dijadikan tempat penelitian ini adalah Kelas II SD Negeri Kubangjati 02 UPT Dinas Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes.
  3. Karakteristik Siswa

Kelas II SD Negeri Kubangjati 02 UPT Dinas Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes.yang berjumlah 24 anak, terdiri atas 9 anak perempuan dan 15 anak laki-laki.

Kemudian dilihat dari pekerjaan orang tua mereka adalah 80 % buruh tani dan petani dan 20 % sebagai wiraswasta dan pedagang. Dengan kondisi seperti ini kehidupan anak-anak kurang perhatian terutama masalah belajarnya, dan kurang sekali motivasi belajar dari orang tua mereka.

Prosedur Penelitian

Prosedur Penelitian Tindakan Kelas terhadap perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia tentang kemampuan bercerita di Kelas II SD Negeri Kubangjati 02 akan peneliti lakukan sampai dua siklus perbaikan. Setiap siklus terdapat empat fase meliputi (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan bercerita di kelas II SD Negeri Kubangjati 02

Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedang fase siklus kedua dirancang dari refleksi siklus pertama.dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa Kelas II SD Negeri Kubangjati 02 dapat meningkatkan pemahaman serta hasil belajarnya.

Adapun kegiatan-kegiatan setiap fase adalah sebagai berikut :

Merencanakan PTK

Kegiatan yang peneliti lakukan dalam merencanakan PTK adalah sebagai berikut : pertama peneiti menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran, kedua peneliti menyiapkan media dan alat pembelajran, menyusun tugas/LKS dan lembar tes yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran untuk mengukur ketercapaian kompetensi dan indikator, ketiga peneliti menyusun pedoman observasi sebagai instrumen untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran, dan membuat lembar perenungan terhadap hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Melaksanakan PTK

Kegiatan melaksanakan PTK adalah melakukan pembelajaran dengan berpedoman pada RPP yang telah disusun dapa fase perencanaan. Pelaksanaan PTK disesuaikan dengan jadwal yang ttelah ditetapkan.

Pelaksanaan pembelajaran tersebut meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu; kegiatan pendahuluan, kegiatan inti yang didalamnya ttermasuk kegiatan penilaian, serta kegiatan akhir yang berupa kegiatan refleksi dan perenungan terhadap hasil pembelajaran.

Melaksanakan Observasi

Observasi dilakukan oleh kedua observer yang telah ditentukan, pengamatan tersebut dilakukan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan peneliti. Dalam pelaksanaaannyya observer mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dan siswa mulai dari kegiatan pendahuluuan , kegiatan inti termasuk kegiatan penilaian yyang dilaksanakan, sertta kegiatan akhir, dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan.

Melaksanakan Refleksi

Refleksi dilakukan bersama ketiga observer setelah proses pembelajaran siklus pertama. Hasil refleksi adalah ditemukannya indikator yang sudah tercapai dan belum tercapai dalam pembelajaran. Selanjutnya kompetensi dasar serta indikator yang belum tercapai dicarikan sebab-sebab ketidaktercapaiannya. Bertitik tolak dari sebab-sebab ketidaktercaian tersbut dicarikan solusi mengatasinya. Selanjutnya solusi tersebut dijadikan dasar untuk memperbaiki rencana perbaikan pembelajaran siklus pertama yang akan digunakan sebagai rencana perbaikan pada siklus kedua.

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik observasi, teknis tes, teknik angket/quesioner. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data dari kegiatan pembelajarran yyang dilakkuka yang akan dideskripsikan. Teknis tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil peniilaian sedang teknik angket/quesioner digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menyerap materi pembelajaran.

Pada setiap akhir pembelajaran peneliti melakukan analisis data hasil observasi dan hasil penilaian yang dilaksanakan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis/mengorganisasikan data, dan (3) melaporkan data. (Wardani, 2002:2.28).

Kegiatan mereduksi data adalah kegiatan membuang data yang tidak relevan dengan pedoman observasi dan mencatat data yang dapat digunakan untuk laporan hasil penelitian. Kegiatan mengorganiisasikan data adalah kegiatan mengurutkan atau mendeskripsikan data secara kronologis sesuai dengan urutan kegiatan pembellajaran.

Selanjutnyya, data yang telah diorganisasikan tersebut dijadikan bahan laporan hasil penelitian. Bahan laporan tersebut disusun secara sistematis yang berupa deskripsi pembelajaran atau hasil penelitian.

Data yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar adalah data hasil peniilaian siklus pertama dan siklus kedua. Data-data tersebut berupa angka untuk penilaian pengetahuan dan keterampilan. Untuk penilaian sikap berupa skala sikap (sangat Baik, Baik, Cukup, Kurang).

Teknik kuantitatif yang digunakan dalam peneliitian ini adalah mencari selisih hasil penilaian siklus kedua dikurangi hasil penilaian siklus pertama. Selisih keduanya merupakan hasill bellajar (Arikuntoo, 1998: 84). Adapun selisih-selisih yang dicari adalah selisih ketercapaian setiap tugas dan seleisih ketercapaian seluruh tugas. Hasil pengolahan data tersebut diubah ke dalamm bentuk diagram batang dan diagram lingkaran.

Hasil pengolahan penilaian tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh peningkattan hasil belajar berarti hipotesis terbukti, sebaliknyya jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.

Indikator Kinerja yang diharapkan agar kemampuan bercerita serta prestasi belajar siswa meningkat, dengan Kriteria Ketuntasan Minimal secara individu ditetapkan 66,00 dan ketuntasan belajar secara klasikal minimal 75 % dari jumlah siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Siklus I

Hasil Refleksi Siklus Pertama

Dari hasil penilaian akhir pembelajaran maka dapat dijelaskan bahwa setelah menyajikan pembelajaran dengan media gambar maka hasil belajar siswa tentang kemampuan bercerita siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02 daa peningkatan walaupun masih ada beberapa siswa yang mesih belum berani menceritakan bercerita didepan kelas, namun secara nilai tertulis ada peningkatan. Adapun hasil penilaian tes tertulis nilai rata-rata kelas mencapai 71,60, siswa yang tuntas atau mendapat nilai ≥ 66 sebanyak 37 siswa atau 78,72% sedang yang masih di bawah KKM sebanyak 10 siswa atau 21,28%.

Penyebab 10 siswa masih di bawah KKM adalah antara lain siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, belum dapat memahami gambar,gambar kurang jelas dilihat anak, belum lancar menulis dan membaca. Guru kurang membimbing secara individual.

Solusi untuk menyelesaikan permasalahan di atas peneliti akan menjelaskan gambar sedaetail mungkin agar siswa jelas, dan gambar di buat agak ukuran besar sehingga dapat terlihat jelas oleh siswa.

Hasil penelitian Siklus II

Hasil Refleksi Siklus II

Setelah dilaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus II penulis menganggap bahwa hasil penelitian sudah dapat menjawab hpotesis dan indikator kinerja yang dirumuskan, hal ini terbukti dari hasil observasi siklus II, yaitu nilai rata-rata kelas meningkat dari 71, 60 menjadi 77,13 di siklus II ini sudah melebihi KKM 66. Sedang ketuntasan belajar di siklus II mencapai 89,36 % artinya 42 siswa mengalami ketuntasan belajar, walaupoun 5 siswa masih di bawah KKM tetapi secra peningkatan nilai nilai mereka meningkat.

Pembahasan

Data Nilai Tes Formatif Prasiklus:

Pada Kompetensi Dasar 2.2 menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain, nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 57,50. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Dari 24 siswa kelas II SD Negeri Kubangjati 02, siswa yang mendapat nilai di atas KKM ada 9 siswa atau 38,30 %. Sedang 15 lainnya masih di bawah KKM.

Data Nilai Tes Formatif Siklus I

Pada akhir siklus I diadakan tes formatif hasil analisisnya adalah:

Siswa yang mendapat nilai ≥ 66 = 19 siswa= 78,72%

Siswa yang mendapat nilai < 66 = 5 siswa = 21,28%

Nilai rata-rata = 71,60

Ternyata dengan menggunakan media gambar hasil belajar ada peningkatan dari kondisi awal nilai rata-rata kelas 57,50 naik menjadi 71,60, ketuntasan belajar dari 38,30 naik menjadi 78,7a-2 %, meskipun nilai rata-rata sudah melampaui KKM namun secara klasikal ketuntasan belajar belum mencapai 75%, oleh karena itu peneliti melanjukan perbaikan di siklus II.

Data Nilai Tes Formatif Siklus II

Setelah selesai dilaksanakan siklus II pertolehan hasil belajar adalah sebagai berikut :

KKM = 66

Siswa yang mendapat Nilai ≥ 66 = 21siswa = 89,36 %

Siswa yang mendapat nilai < 66 = 3 siswa = 10,63%

Nilai rata-rata = 77,13

Prosentase Ketuntasan Belajar = 89,36 %Dengan melihat hasil analisis nilai siklus II peneliti sudah merasa puas karena hasil cukup memuaskan sehingga sepakat, penelitian dianggap selesai.

Data Kualitas (Hasil Angket)

Minat siswa terhadap pembelajaran bahasa indonesia dengan menggunakan gambar siswa yang merasa senang sebanyak 22 siswa dan yang biasa saja 2 siswa.

Jika diperbandingak hasil belajar mulai dari kondisi awal sampai siklus II adalah sebagai berikut :

Siklus Nilai Rata-rata Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas
Prasiklus 57,50 9 38,30% 15 61,70%
Siklus I 71,60 19 78,72% 5 21,28%
Siklus II 77,13 21 89,36% 3 10,63%

Tabel di atas penulis sajikan dalam bentuk diagram di bawah ini :

Diagram Peningkatan Nilai rata-Rata

Diagram 4.3 Prosentase Ketuntasan Belajar Tiap Siklus

Diagram Hasil Angket Respon Siswa

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Setelah peneliti melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia KD menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain, melalui Penelitian Tindakan Kelas yang dlaksanakan dua siklus, yang setiap siklunya yang masing-masng pertemuan alokasi waktunya 4 x 35 menit, maka peneliti menarik kesimpulan, antara lain :

Dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran bahasa indoinesia kompetensi menceritakabn kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain di Kelas II SD Negeri Kubangjati 02 hasilnya sebagai berikut :

  1. Aktivitas serta hasil belajar meningkat mulai dari kondisi awal meningkat
  2. Nilai rata-rata kelas meningkat mulai dari 57,5 menjdi 71,6 dan 77,13 disiklus II
  3. Ketuntasan belajar meningkat yaitu dari 38,30% menjadi 78,72 % dan 89,36% disiklus II
  4. Hasil angket siswa tentang minat belajar 95,74 % siswa merasa senang

Saran

Dengan hasil kegiatan Penelitian Tindakan Kelas pembelajaran Bahasa Indonesia kompetensi dasar menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain yang sangat memuaskan, maka peneliti menuliskan beberapa saran, antara lain:

  1. Sebagai guru SD yang berkewajiban menanamkan kemampuan dasar yaitu ; membaca, menulis, dan berhitung (calistung) terutama guru yang mengajar di kelas rendah, harus mampu mengembangkan kreatifitasnya dan mampu memilih strategi pembelajaran yang tepat untuk melatih siswa membaca dan bercerita
  2. Salah satu strategi yang tepat untuk menyajikan pembelajaran Bahasa Indonesia temntang bercerita di kelas rendah adalah dengan menggunakan media gambar. Oleh karena itu seyoyanya guru harus lebih kreatif lagi dalam memilih dan menyiapkan alat peraga/media yang menarik.
  3. Guru terkadang kesulitan untuk mengembangkan kreatifitasnya dalam menyiapkan media alat peraga, karena terbentur biaya, oleh karena itu penulis menyarankan agar segala sesuatu kebutuhan operasional kelas seyogyanya setiap satuan pendidikan mengalokasikan dana untuk itu.

DAFTAR PUSTAKA

Anton M. Moeliona. dkk. (1988). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka

Gorys Keraf. (1970). Komposisi (Pengantar Kemahiran Bahasa). Jakarta :Nusa Indah.

Kosadi Hidayat, M.Pd. dkk. (1986). Strategi Belajar mengajar Bahasa Indonesia.Bandung : Binacipta.

Puji Santosa, dkk. (2008). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD.Jakarta: Universitas Terbuka.

Wardhani IGAK, dkk. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta :Universitas Terbuka.

BIODATA PENULIS

Nama : Jumiati

NIP : 19651218 198508 2 001

Pangkat, Gol/Ruang : Pembina, IV a

Jabatan : Guru Kelas

Lokasi Penelitian : SD Negeri Kubangjati 02 , Kelas I

Kecamatan/Kabupaten : Kertanggungan, Brebes

You cannot copy content of this page