Iklan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TEMA 1 SUBTEMA 1 TUMBUHAN SAHABATKU DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KOOPERATIF TIPE GALLERY WALK PADA SISWA KELAS VI SDN KARANGGINTUNG 07 SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Teguh Santosa, S.Pd.SD.

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 pada pembelajaran tematik subtema Tumbuhan Sahabatku.Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui penerapan model kooperatif tipe gallery walk untuk meningkatkan hasil belajar pembelajaran Tematik subtema Tumbuhan Sahabatku pada siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07. 2) Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran Tematik subtema Tumbuhan Sahabatku setelah diterapkannya model kooperatif tipe gallery walk di kelas VI SD Negeri Karanggintung 07. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK) dengan model Kurt Lewin. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus yang setiap siklusnya terdiri dari 4 tahap, yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 dengan jumlah siswa sebanyak 11 siswa yang terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penerapan model kooperatif tipe gallery walk pada pembelajaran tematik di kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 dapat dikatakan berhasil dengan kategori sangat baik. Kategori tersebut dapat dibuktikan dengan hasil observasi aktivitas guru yang mendapatkan nilai 80,76 (baik) pada siklus I dan meningkat menjadi 95,19 (sangat baik) pada siklus II, sedangkan hasil observasi aktivitas siswa mendapatkan nilai 77,88 (cukup) pada siklus I dan meningkat menjadi 90,38 (sangat baik) pada siklus II. 2) Hasil belajar siswa pada penelitian ini juga mengalami peningkatan dengan kategori baik. Peningkatan tersebut dapat diketahui dari prosentase ketuntasan belajar siswa. Pada pra siklus sebesar 45,5% siswa tuntas, kemudian meningkat menjadi 72,7% pada siklus I dan 100% pada siklus II.

Kata kunci: Hasil Belajar, Model Kooperatif tipe Gallery Walk, Pembelajaran Tematik.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pembelajaran Tematik telah diajarkan kepada peserta didik sejak kurikulum 2013 diterapkan. Namun, fakta yang didapatkan pembelajaran tematik belum diajarkan secara merata di setiap daerah. Terdapat beberapa SD/MI yang menggunakan kurikulum lama atau KTSP, kurikulum campuran antara KTSP dengan Kurikulum 2013, dan murni menggunakan kurikulum 2013. Keadaan tersebut mengakibatkan peserta didik menjadi bingung dan sulit memahami mata pelajaran Tematik, karena harus beradaptasi dari yang terbiasa menggunakan kurikulum lama atau KTSP dan harus berpindah ke Kurikulum 2013. Hal tersebut dialami oleh siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07, dimana mereka yang sebelumnya pada kelas 1 sampai kelas 5 menggunakan KTSP, namun ketika memasuki kelas 6 mereka menggunakan Kurikulum 2013. Mata pelajaran yang diajarkan sebelumnya merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri, seperti Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan lain sebagainya. Akan tetapi, pada pembelajaran tematik mata pelajaran tersebut menjadi terpadu dalam 1 tema yang disebut Tematik.

Berdasarkan Praktik Pengalaman Lapangan yang pernah peneliti lakukan pada bulan September 2019, hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik, khususnya tema 1 subtema 1 pembelajaran 1, banyak siswa yang belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Pada pembelajaran tersebut prosentase ketuntasan belajar siswa yaitu 45,5%%, dengan rata-rata kelas 67,3. Dari 11 siswa, hanya terdapat 5 siswa yang memenuhi KKM, sedangkan 6 siswa lainnya belum memenuhi KKM. Hasil belajar siswa tersebut termasuk dalam kriteria ketuntasan belajar yang kurang. Hal tersebut dikarenakan dalam proses pembelajaran peneliti belum maksimal dalam menyampaikan materi, penggunaan strategi, metode dan media pembelajaran yang kurang tepat dan kurang menarik, sehingga siswa cepat bosan dan akhirnya mereka bermain sendiri, membuat gaduh dan cenderung mengganggu temannya. Akibatnya, siswa menjadi bingung atau sulit mengerjakan lembar kerja yang diberikan oleh peneliti dengan tujuan untuk mengetahui pemahaman mereka.

Upaya peningkatan hasil belajar siswa tidak lepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Guru sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar dituntut untuk kreatif dalam merencanakan suatu pembelajaran agar proses pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Suasana kelas perlu dirancang dan dibangun sedemikian rupa dengan menggunakan strategi, model atau media pembelajaran yang tepat, agar siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan.

Berdasarkan masalah yang sudah dipaparkan di atas, salah satu alternatif yang digunakan adalah menggunakan model kooperatif tipe gallery walk dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik. Pembelajaran Kooperatif (CooperatVIe Learning) adalah belajar bersama- sama, saling membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya. Manfaat dari penggunaan model kooperatif dalam suatu pembelajaran adalah peserta didik dapat belajar secara berkelompok dengan saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada peserta didik lain untuk mengemukakan pendapatnya dalam kelompok.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti ingin menerapkan perbaiakan pembelajaran pada siswa kelas VI melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Tema 1 Subtema 1 Tumbuhan Sahabatku Dengan Menggunakan Model Kooperatif Tipe Gallery Walk Pada Siswa Kelas VI SDN Karanggintung 07 Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020”

B. Identifikasi masalah

Peneliti menemukan adanya permasalahan dalam kegiatan Pembelajaran di kelas VI SDN Karanggintung 07. Identifikasi masalah dari uraian latar belakang diatas yakni :

  1. Peralihan kurikulum KTSP 2006 ke Kurikulum 2013 membuat siswa harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran tematik.
  2. Kesiapan guru dalam mendukung pembelajaran tematik masih kurang, baik dari segi strategi penyampaian materinya maupun dari segi media belajar yang mendukungnya.
  3. Hasil Belajar Siswa kelas VI di SD Negeri Karanggintung 07 pada Tema 1 Sub Tema 1 masih rendah.

C. Rumusan masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah penerapan Model Kooperatif Tipe Gallery Walk pada pembelajaran Tema 1 Subtema 1 di kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 Semester 1 Tahun pelajaran 2019/2020 ?
  2. Bagimana penerapan Model Kooperatif Tipe Gallery Walk dapat meningkatkan hasil belajar pada Tema 1 Subtema 1 di siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 ?

D. Tujuan penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

  1. Untuk meningkatkan hasil belajar pada Tema 1 Sub Tema 1 melalui penerapan Model Kooperatif Tipe Gallery Walk pada siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020
  2. Mendeskripsikan langkah-langkah penerapan strategi Model Kooperatif Tipe Gallery Walk yang terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada Tema 1 Sub Tema 1 kelas VI SD SD Negeri Karanggintung 07 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020.

LANDASAN TEORI

Kajian Teori

1. Pengertian Hasil Belajar

Suatu pembelajaran tidak jauh dari istilah belajar atau pun hasil belajar. Keduanya saling berhubungan satu sama lain. Menurut E.R. Hilgard belajar dapat diartikan sebagai suatu perubahan kegiatan yang terjadi akibat dari reaksi terhadap lingkungannya. Kegiatan disini mencakup tingkah laku, pengetahuan, serta keterampilan atau kecakapan yang diperoleh dari lingkungannya melalui pengalaman berinteraksi. Berdasarkan pengertian yang sudah dikemukakan oleh Hilgard tersebut dapat diketahui bahwa seseorang dikatakan belajar apabila mereka mendapatkan ilmu dari pengalaman atau pun pembiasaan mereka di lingkungan. Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik itu sikap, pengetahuan, atau pun keterampilannya. Seseorang yang sebelumnya tidak mengetahui suatu hal, akan menjadi tahu, karena telah melakukan kegiatan belajar.

2. Macam-macam Hasil Belajar

Menurut Benyamin Bloom hasil belajar dapat dikategorikan dalam tiga ranah, yakni ranah afektif (sikap), ranah kognitif (pengetahuan) dan ranah psikomotor (keterampilan) dengan uraian sebagai berikut: a) Ranah Afektif, b) Ranah Kognitif, c) Ranah Psikomotor

3. Indikator Ketercapaian Hasil Belajar

Indikator atau patokan yang harus dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran dibutuhkan untuk mengetahui ketercapaian hasil belajar siswa. Bloom dan kawan-kawan menganalisis kompetensi hasil belajar ke dalam tiga aspek dan setiap aspek memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Ketiga aspek tersebut adalah aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Namun, berdasarkan macam-macam hasil belajar yang telah dipaparkan di atas, dalam suatu pembelajaran yang sering digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa adalah aspek kognitif atau pengetahuan siswa.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Sudjana, faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua macam, yakni faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik dan dari luar peserta didik atau lingkungan sekitarnya. Faktor yang berasal dari peserda didik berupa kemampuan yang dimilikinya dan memiliki pengaruh sangat besar terhadap hasil belajar peserta didik.

6. Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang mengaitkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi dalam satu tema tertentu. Tema tersebut kemudian diulas atau dielaborasi dari berbagai sudut pandang baik dari pandangan ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, humaniora maupun agama, sehingga memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik di sekolah. Tema merupakan pengikat keterkaitan antara mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lain.

Pembelajaran tematik atau pembelajaran terpadu merupakan terjemahan dari integrated teaching and learning. Bahkan ada juga yang menyebutnya dengan integrated curriculum approach (pendekatan kurikulum terpadu), atau a coherent curriculum approach (pendekatan kurikulum yang koheren). Pembelajaran tematik dirancang dalam rangka meningkatkan hasil belajar peserta didik yang optimal dengan melibatkan pengalaman serta pengetahuan peserta didik dalam kehidupannya. Mengintegrasikan antara pengalaman yang satu dengan pengalaman yang lain, atau antara pengetahuan yang satu dengan pengetahuan yang lain bahkan antara pengalaman dengan pengetahuan guna membuat pembelajaran semakin bermakna. Secara sederhana, yang dimaksud dengan pembelajaran tematik adalah kegiatan siswa bagaimana seorang siswa secara individual atau secara kelompok dapat menemukan keilmuan yang holistik.

7. Model Kooperatif Tipe Gallery Walk

a. Pengertian Gallery Walk

Kata gallery walk berasal dari bahasa Inggris, gallery artinya serambi, balai atau gedung kesenian, sedangkan walk artinya berjalan. Jadi, gallery walk adalah serambi berjalan atau pameran berjalan. Menurut Melvin L. Silbermean gallery walk merupakan kegiatan belajar berkelompok dengan mendiskusikan tugas yang telah diberikan sebelumnya, kemudian hasil diskusi yang sudah selesai ditempelkan di tempat yang telah ditentukan, lalu anggota kelompok lain berjalan untuk mendapatkan penjelasan dari masing-masing pos atau tempat hasil diskusi. Gallery walk merupakan kegiatan belajar berkelompok dengan mendiskusikan pelajaran setelah itu menempelkan hasil diskusi di tempat yang ditentukan lalu anggota kelompok lain berjalan untuk mendapat penjelasan dari masing-masing pos atau tempat hasil diskusi. Startegi ini merupakan salah satu cara untuk menilai dan mengingat apa yang telah dipelajari peserta didik. Nama lain dari gallery walk adalah kunjung kerja atau kunjung karya, dimana kegiatan ini mendorong siswa untuk mengetahui apa yang dikerjakan temannya.

Kegiatan ini mengajarkan untuk saling melihat hasil karya orang lain untuk belajar bertanya, memberikan komentar dan saran secara produktif. Dalam kegiatan ini siswa bergerak mengamati hasil karya mereka. Selain itu, gallery walk dapat membuat siswa mengembangkan keterampilannya dalam mengemukakan pendapat dengan saling bertukar pikiran atau ide masing-masing dan menyanggah ide dari orang lain. Semua siswa diharapkan mampu mengemukakan pendapatnya dalam bentuk lisan maupun tulisan, sehingga siswa aktif dalam pembelajaran.

Tujuan Gallery Walk

Tujuan penerapan gallery walk pada model pembelajaran kooperatif adalah membangun kerja sama dalam kelompok dan saling memberikan apresiasi dalam belajar. Selain itu, gallery walk memiliki tujuan sebagai berikut:

1) Membuat peserta didik menjadi tertarik pada topik yang akan dipelajari.

2) Mengajak peserta didik untuk menggali informasi lebih dalam dari apa yang mereka ketahui.

3) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk percaya diri dalam menunjukkan pengetahuan yang mereka miliki kepada orang lain.

d. Langkah-langkah Gallery Walk

Adapun langkah-langkah penerapan gallery walk sebagai berikut:

1) Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok.

2) Masing-masing kelompok diberi kertas plano atau kertas yang lainnya oleh guru.

3) Tentukan topik atau materi yang akan dipelajari.

4) Guru memerintahkan setiap kelompok untuk mendiskusikan apa yang didapatkan dari topik pelajaran yang mereka ikuti.

5) Guru memerintahkan kepada setiap kelompok untuk menulis hasil diskusinya di kertas plano yang telah diberikan dalam bentuk daftar, tabel, grafik, atau skema.

6) Hasil kerja kelompok ditempelkan di dinding.

7) Masing-masing kelompok berputar mengamati hasil kerja kelompok lain.

8) Salah satu wakil kelompok menjelaskan apa yang ditanyakan oleh kelompok lain.

9) Peserta didik bersama-sama mengoreksi hasil kerja kelompok lain.

10) Guru memberikan klarifkiasi dan penyimpulan dari materi yang sudah dipelajari.

e. Kelebihan Gallery Walk

Kelebihan dari gallery walk adalah sebagai berikut:

1) Terciptanya budaya kerja sama dalam memecahkan masalah dalam belajar.

2) Terjadi sinergi saling menguatkan pemahaman terhadap tujuan pembelajaran.

3) Peserta didik menjadi terbiasa bersikap menghargai dan mengapresiasikan hasil belajar peserta didik yang lain.

4) Peserta didik aktif dan termotivasi dalam proses pembelajaran.

5) Membiasakan peserta didik untuk saling memberikan dan menerima kritik serta saran.

f. Kekurangan Gallery Walk

Kekurangan gallery walk adalah sebagai berikut:

1) Sulitnya pengondisian kelas dan membutuhkan waktu yang lama, sehingga mengganggu penggunaan waktu untuk proses pembelajarannya.

2) Terdapat kemungkinan penguasaan konsep pada anak terkadang kurang mantap.

3) Sulitnya menumbuhkan percaya diri peserta didik ketika harus menjelaskan hasil kerja kelompoknya.

Kerangka Berpikir

Hasil belajar pada materi Tema 1 Subtema 1, maka dipandang perlu untuk dilakukan penelitian dengan menggunakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Tema 1 Subtema 1 pada siswa kelas VI SDN Karanggintung 07 dengan menggunakan penerapan Model Kooperatif Tipe Gallery Walk.

Gambar. 2.3 Skema Kerangka Berpikir

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan uraian teori, kerangka berpikir, dan rumusan masalah di atas, maka hipotesis tindakan yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah penerapan Model Kooperatif Tipe Gallery Walk pada Tema 1 (Selamatkan Mahluk Hidup) Subtema 1 (Tumbuhan Sahabatku) dapat meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas VI di SDN Karanggintung 07.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan di SD Negeri Karanggintung 07 Kecamatan Gadrungmangu Kabupaten Cilacap pada Semester I tahun 2019/2020.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 Kecamatan Gadrungmangu Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2019/2020. Dengan jumlah siswa 11 siswa terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti ada dua cara yaitu Tes dan Non Tes. Data tes diperoleh dari tes tertulis yang diberikan kepada siswa, dan data non tes diperoleh dari wawancara dan observasi. Data diperoleh melalui observasi aktivitas guru dan siswa dikelas, wawancara dengan guru, dan dokumentasi nilai Ulangan Tengah Semester (UTS) tahun lalu.

Analisis Data

Analisis Hasil Belajar Siswa

Analisis data mempunyai banyak variasi pendekatan, teknik yang digunakan dan nama atau sebutan bergantung pada tujuan dan bidang ilmu yang terkait. Dalam penelitian ini, tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah menggunakan bentuk tes dengan bentuk soal objektif dalam pilihan ganda dan essay. Analisis data dilakukan dengan cara membandingkan kondisi awal siswa dengan kondisi pada siklus I dan kemudian dibandingkan dengan langkah selanjutnya yaitu siklus II.

b. Analisis data kuantitatif

Data kuantitatif yang berupa nilai hasil belajar siswa, dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Analisis statistik deskriptif yang digunakan adalah mencari skor rerata dan mencari presentase peningkatan hasil belajar siswa dalam setiap siklus.

Indikator Kinerja

Indikator keberhasilan penelitian ini adalah terjadinya kenaikan hasil belajar yang ditunjukkan adannya kenaikan nilai rata-rata kelas, dan ketuntasan belajar siswa mencapai ≥ 90 %. Ketuntasan belajar KKM yang diharapkan di kelas VI pada penelitian ini yaitu 70.

Prosedur Penelitian

Model penelitian yang digunakan adalah model Kurt Lewin dengan empat rangkaian kegiatan dan dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdapat empat komponen, yakni perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Apabila pada siklus pertama masih ditemukan kekurangan dari tindakan yang telah dilakukan, maka peneliti akan melanjutkan pada siklus kedua dengan rangkaian kegiatan yang sama dengan siklus pertama.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data Pra Siklus

Dari hasil pengamatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 sebelum diadakan perbaiakan pembelajaran diperoleh data dapat diketahui jumlah keseluruhan siswa kelas VI adalah 11 siswa. Dari 11 siswa hanya terdapat 5 siswa yang dinyatakan tuntas mencapai KKM, sedangkan 6 siswa tidak tuntas atau belum mencapai KKM. Ketuntasan siswa dilihat dari KKM yang harus dicapai, yakni minimal 70. Selain itu, ketuntasan siswa dalam belajar sebesar 45,5% dengan nilai rata-rata kelas pada pra siklus ini adalah 66,4.

Tema 1, subtema 1, pembelajaran 1 memuat mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA dan IPS. Hasil belajar siswa pada pembelajaran tersebut termasuk dalam kriteria ketuntasan belajar yang kurang atau belum mencapai kriteria yang dikehendaki oleh peneliti, yakni 90%. Berdasarkan hasil tersebut, perlu adanya tindakan perbaikan dalam pembelajaran tematik tema 1, subtema 1, pembelajaran 1 dengan menggunakan model kooperatif tipe gallery walk yang akan dilaksanakan pada siklus I

Hasil Penelitian

Pelaksanaan Siklus I

Berdasarkan data yang diperoleh dari observasi aktivitas guru, dapat diketahui dapat diketahui bahwa guru masih belum sempurna dalam menerapkan model kooperatif tipe gallery walk pada pembelajaran tema 1 subtema 1 di kelas VI. Guru terlihat belum menyampaiakan langkah-langkah penerapan model kooperatif tipe gallery walk. Guru terlihat sedikit gugup dan di akhir pembelajaran guru sampai lupa untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Disamping itu juga di akhir pembelajaran siswa belum diajak oleh guru untuk membuat kesimpulan bersama.

Berdasarkan perhitungan nilai siswa pada pembelajaran tematik tema 1 (Selamatkan Mahluk Hidup), subtema 1 (Tumbuhan Sahabatku), pembelajaran 1, dapat diketahui jumlah keseluruhan siswa kelas VI adalah 11 siswa. Dari 11 siswa terdapat 7 siswa yang dinyatakan tuntas mencapai KKM dengan prosentase ketuntasan 72,7%, sedangkan 3 siswa tidak tuntas atau belum mencapai KKM dengan prosentase ketuntasan 27,3%. Adapun nilai rata-rata siswa kelas VI pada siklus I ini adalah 76,4.

Berdasarkan hasil yang sudah diperoleh, peneliti perlu melakukan siklus selanjutnya hingga mencapai kriteria yang sangat baik. Prosentase ketuntasan belajar siswa yang diharapkan adalah mencapai 90%. Akan tetapi pada siklus I baru mencapai 72,7%.

d. Refleksi (Reflection)

Pada tahap ini, peneliti melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah dilakukan pada siklus I. Peneliti bersama guru kolaborator mengkaji mengenai beberapa hal yang kurang maksimal penyampaiannya atau sudah dapat dikatakan baik pada siklus I.

Peneliti melakukan perbaikan pada proses pembelajaran siklus I guna melaksanakan siklus II yang lebih baik. Berikut beberapa perbaikan yang akan dilakukan.

1) Guru mempersiapkan beberapa Ice Breaking yang menarik agar siswa lebih semangat untuk memulai pembelajaran.

2) Guru mempersiapkan beberapa media pendukung yang lain yang lebih bervariatif berupa gambar bunga menggunakan LCD monitor dan gambar peta negara ASEAN.

3) Guru menyampaiakan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Kooperatif tipe gallery walk agar siswa lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan dalam pembelajaran.

4) Guru harus memberikan kesempatan bertanya pada siswa

5) Guru harus melibatkan siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran.

Pelaksanaan siklus II

Siklus II merupakan tahap lanjutan dari siklus I yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I. Proses pembelajaran pada siklus II sama dengan siklus I, yakni tetap menggunakan model kooperatif tipe gallery walk pada pembelajaran tematik Tema 1 (Selamatkan Mahluk Hidup), subtema 1 (Tumbuhan Sahabatku), pembelajaran 1 dengan mata pelajaran yang dipelajari adalah Bahasa Indonesia, IPA, dan IPS. Namun, pelaksanaan proses pembelajaran sedikit berbeda, dengan adanya perbaikan dalam proses pembelajaran sesuai dengan hasil refleksi pada siklus I.

Berdasarkan observasi tersebut, dapat diketahui bahwa guru sudah lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk. Guru terlihat sudah menyampaiakan langkah-langkah penerapan model kooperatif tipe gallery walk. Guru terlihat antusias dan lebih percaya diri dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru memandu dan mendampingi pelaksanaan diskusi kelompok. Disamping itu guru juga membantu siswa/ kelompok yang mengalami kesulitan. Di akhir pembelajaran guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya. Setelah itu dilanjutkan dengan membuat kesimpulan bersama.

Berdasarkan perhitungan nilai siswa pada pembelajaran tematik tema 1 (Selamatkan Mahluk Hidup), subtema 1 (Tumbuhan Sahabatku), pembelajaran 1, dapat diketahui jumlah keseluruhan siswa kelas VI adalah 11 siswa. Dari 11 siswa terdapat 11 siswa yang dinyatakan tuntas mencapai KKM dengan prosentase ketuntasan 100%. Adapun nilai rata-rata siswa kelas VI pada siklus I ini adalah 88,2.

Berdasarkan hasil belajar yang sudah diperoleh, ketuntasan belajar pada siklus II sudah melebihi target yang ditentukan yaitu 90%. Perbaikan pembelajaran pada siklus II menunjukan keberhasilan dengan ketuntasan belajar 100 %.

Refleksi

Pelaksanaan siklus II sudah sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat oleh peneliti. Sebelum memulai Pembelajaran siswa diberitahu mengenai langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe gallery walk. Setelah itu siswa dibagi menjadi 4 kelompok. Ketika pelaksanaan saling mengamati hasil diskusi masing masing kelompok siswa tidak mengalami kendala dan bahkan justru senang dengan penerapan model pembelajaran tipe gallery walk.

Pembahasan

Berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan setelah melakukan pembelajaran pada tema 1 subtema 1 dengan menggunakan model kooperatif tipe gallery walk, pada siswa kelas VI di SD Negeri Karanggintung 07 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Tahun Pelajaran 2019/2020 terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.7 dibawah ini:

Tabel Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar

Ketuntasan

Belajar

Skor Pra Siklus Siklus I Siklus II
Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %
Tidak Tuntas < 70 6 45,5 3 72,7 0 0
Tuntas ≥ 70 5 54,5 8 27,3 11 100

Dari tabel di atas terlihat adanya peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa pada materi tema 1 subtema 1. Pada prasiklus terdapat 45,5% siswa tidak tuntas dan 54,5% siswa tuntas, siklus I terdapat 72,7% siswa tidak tuntas dan 27,3% siswa tuntas sedangkan pada siklus II terdapat 0% siswa tidak tuntas dan 100% siswa tuntas. Hal ini dapat digambarkan pada gambar diagram perbandingan ketuntasan hasil belajar di bawah ini.

Diagram 1 Diagram Perbandingan Hasil Belajar tiap siklus

Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk. Sebelum tindakan nilai rata-rata 66,4 dengan ketuntasan 45,5%. Setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk nilai rata-rata siswa pada siklus I naik menjadi 76,4 dengan ketuntasan belajar 72,7%. Pada siklus II nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 88,2 dengan ketuntasan belajar 100%.

Berdasarkan perolehan nilai pada siklus I dan siklus II didapatkan bahwa pembelajaran menggunakan model model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Tema 1 subtema 1 di kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 Kecamatan Gandrungmangu Kabupaten Cilacap Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk berhasil meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil observasi aktivitas guru dan hasil belajar yang meningkat pada setiap siklusnya. Hasil observasi aktivitas guru pada siklus I sebesar 8 menjadi meningkat pada siklus II, yakni sebesar 10.

2. Hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 pada pembelajaran tematik tema 1 (Selamatkan Makhluk Hidup), subtema 1 (Tumbuhan Sahabatku), pembelajaran 1 meningkat setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk. Peningkatan hasil belajar tersebut diperoleh dari tes evaluasi siswa, sehingga dapat diketahui nilai rata-rata kelas dan prosentase ketuntasan belajar siswa. Pada tahap pra siklus, guru belum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk pada pembelajaran tematik, sehingga prosentase ketuntasan belajar siswa sebesar 45,5 % dengan rata-rata kelas 66,4. Pada siklus I, guru menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk pada pembelajaran tematik. Prosentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I sebesar 72,7% dengan nilai rata-rata kelas 76,4, sedangkan pada siklus II, prosentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 100% dengan nilai rata-rata kelas 88,2.

Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penerapan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk ini mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Karanggintung 07 pada pembelajaran tematik tema 1 (Selamatkan Makhluk Hidup), subtema 1 (Tumbuhan Sahabatku), pembelajaran 1. Beberapa saran dari peneliti untuk dijadikan bahan pertimbangan adalah sebagai berikut: 1) Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk harus disesuaikan dengan indikator pembelajaran, karakteristik mata pelajaran, dan karakteristik siswa yang diteliti. 2) Permasalahan yang dihadapi oleh guru adalah materi yang disampaikan banyak, sedangkan waktu terbatas. Model pembelajaran kooperatif tipe gallery walk dapat diterapkan pada mata pelajaran yang menyajikan banyak materi atau pembahasan, sehingga guru lebih mudah menyampaikan materi.

DAFTAR PUSTAKA

Ekawarna. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Gaung Persada.

Isjoni. 2011. Pembelajaran Kooperatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kadir, Abd. dan Hanun Asrohah. 2014. Pembelajaran Tematik. Jakarta: Rajawali Pers.

Kunandar. 2006. Langkah Mudah Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Kunandar. 2014. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: Rajawali Pers.

Kuswana, Wowo Sunaryo. 2014. Taksonomi Kognitif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Maolani, Rukaesih A. dan Ucu Cahyana. 2015. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Mardalis. 2006. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyasa. 2015. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muslich, Masnur. 2012. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nugroho, U. “Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berorientasi Keterampilan Proses”, Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia, Vol. 5: No 1, April 2009, hlm. 109.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SD/MI.

Purwanto, Ngalim. 2012. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Riduwan dan Akdon. 2010. Rumus dan Data dalam Analisis Statistika. Bandung: Alfabeta.

Ridwa. 2007. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Prawira, Purwa Atmaja. 2014. Psikologi Pendidikan Dalam Perspektif Baru. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Sanjaya, Wina. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana. Sihabudin. 2014. Strategi Pembelajaran. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press.

Silbermean, Melvin L. 2013. Active Learning. Bandung: Penernit Nuansa Cendekia.

Sudijono. 2010. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Grafindo Persada. Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Supardi. 2015. Penilaian Autentik Pembelajaran Afektif, Kognitif, dan Psikomotor. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning: Teoti dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.

Suyono dan Hariyanto. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Tim Penyusun. 2017. Buku Tematik Terpadu (Peduli Terhadap Makhluk Hidup). Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Tim Penulis LAPIS-PGMI. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Aprinta. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Warsono dan Hariyanto. 2017. Pembelajaran Aktif: Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Yuliawati, Fitri,. dkk. 2012. Penelitian Tindakan Kelas untuk Tenaga Pendidik Profesional. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Mandiri.

Biodata Penulis

Nama : Teguh Santosa, S.Pd.SD

NIP : 19670308 199201 1 001

Pangkat/Golongan : Pembina, IV/a

Jabatan : Guru Kelas

Instansi : SD Negeri Karanggintung 07 Korwil Bidang Pendidikan Kec Gandrungmangu, Kab. Cilacap

You cannot copy content of this page