Iklan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA TENTANG MEMBILANG MAJU DAN MUNDUR SERTA MENYELESAIKAN SOAL CERITA YANG BERKAITAN DENGAN PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MODEL DISCOVERY LEARNING DI KELAS I SD NEGERI SENGON 04 KECAMATAN TANJUNG TAHUN PELAJARAN 2018/2019

Ngatiyem, S.Pd.SD

ABSTRAK

Peneliti bertujuan untuk Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Siswa tentang Membilang maju dan mundur dan Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan dengan Pendekatan Saintifik dan Model Discovery Learning Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan hasil penelitian serta pembahasannya Dalam kegiatan penelitian ini, peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui dua siklus perbaikan. Peda siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini terlihat dari hasil refleksi siklus pertama.yaitu Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.4.1adalah 65,75 sedang KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75. Jadi skor rata-rata belum mencapai KKM. Skor rata-rata indikator 4.4.3 yaitu adalah 72,00 dan KKM yang ditetapkan yaitu 66,75 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.4.3 sudah mencapai KKM.Nilai rata-rata yang dicapai oleh indikator adalah 3.4.1 Bila dibandingkan dengan Nilai KKM yaitu 66,75 , maka terdapat 1,00 Nilai rata-rata yang dicapai Indikaor 4.4.3 adalah 72 bila dibandingkan dengan KKM 66,75 maka terdapat kelebihan 5,25Setelah peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II, peneliti merasa sudah puas dengan hasil yang cukup maksimal, hal ini terlihat dari hasil refleksi siklus II, yaitu Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.4.1 , adalah 83,5 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75 Jadi skor rata-rata sudah melebihi KKM .Skor rata-rata indikator 4.4.3 yaitu adalah 77,39 dan KKM yang ditetapkan yaitu 66,75 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.4.3 telah melebihi KKM.Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 39 jumlah siswa kelas I SD Negeri Sengon 04, yang telah tuntas sebanyak 34 atau 87,5 %, dan yang belum tuntas sebanyak 5 siswa atau 12,5 %. Dengan menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran iscovery Learning maka dapat meningkatkan hasil pembelajaran tentang Membilang maju dan mundur dan Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan.Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Sengon 04, dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata kunci : Saintifik, Discovry Learning, KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal

LATAR BELAKANG

Pada kegiatan pembelajaran di kelas I SD Negeri Sengon 04 tema Peristiwa Alam yang terdiri dari muatan Bahasa Indonesia, Matematika, dan PPKn, ternyata masih belum mendapatkan hasil yang maksimal, hal ini dilihat dari hassil pencapaian kompetensi siswa yang masih rendah, terutama pada muatan Matematika dengan indikator 3.4.1 Membilang maju sampai 100 dan mundur sampai 20 dan 4.4.3.Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan hasilnya masih dibawah kriteria ketuntasan minimal yaitu 2,67. Dari permasalahan inilah maka peneliti merumuskan masalah

  1. Bagaimana meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Membilang maju sampai 100 dan mundur sampai 20.
  2. Bagaimana meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan.

Dari rumusan masalah tersebut peneliti akan mengadakan perbaikan pembelajaran melalui kegiatan Penelitian Tindakan Kelas.

Untuk dapat menjawab rumusan masalah diatas peneliti akan mencoba melakukan perbaikan pembelajaran melalui kegiatan PTK dengan dua siklus perbaikan. Dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran peneliti akan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik melalui model pembelajaran Discovery Learning dengan maksud agar pembelajaran akan lebih menggairahkan, menarik minat siswa, serta meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa tentang Meningkatkan Pemahaman dan Hasil Belajar Siswa tentang Membilang maju sampai 100 dan mundur sampai 20 dan Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan, dengan menerapkan pendekatan Saintifik dan model Pembelajaran Discovery Learning di Kelas I SD Negeri Sengon 04”.

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan Hasil Belajar Siswa tentang Membilang maju sampai 100 dan mundur sampai 20 dan Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan dengan Pendekatan Saintifik dan Model Discovery Learning di Kelas I SD Negeri Sengon 04”.

Manfaat penelitian bagi siswa adalah ; (a) Dapat meningkatkan Hasil Belajar Siswa tentang Membilang maju sampai 100 dan mundur sampai 20 dan Menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan dan pengurangan dengan Pendekatan Saintifik dan Model Discovery Learning di Kelas I SD Negeri Sengon 04”; (b) Siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, seang bagi peneliti dan teman sejawat, antara lain; (a) Meningkatkan kemampuan dan kreatifitas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, (b) Mampu menjadi inovator bagi dirinya serta rekan-rekan teman sejawatnya untuk melakukan kegiatan PTK di kelasnya.

Dan manfaat begi sekolah diantaranya ; (a) Sebagai motivasi bagi guru-guru di sekolahnya untuk menyajikan pembelajaran yang lebih bermakna, (b) Sebagai acuan untuk melaksanakan PTK dalam bidang kajian yang lain atau kompetensi yang lain, serta bahan kajian seminasi di sekolah maupun di KKG.

KAJIAN TEORITIS

Pendekatan Saintifik

Penerapan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013 menggunakan modus pembelajaran langsung (direct instructional) dan tidak langsung (indirect instructional). Pembelajaran langsung adalah pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP. Dalam pembelajaran langsung peserta didik melakukan kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran (instructional effect).

Prinsip Pembelajaran Pendekatan Saintifik

Langkah-langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik

Mengamati

Menanya (questioning)

Membuat dan mengajukan pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang belum dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi. Jenis, kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik)

Mengumpulkan Informasi/Mencoba (experimenting)

Mengeksplorasi,mencoba berdiskusi, mendemonstrasi-kan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/menambahi/

Mengasosiasi/ Mengolah Informasi (associating)

Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membua kategori, mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.

Mengomunikasikan (communicating)

Menyajikan laporan dalam bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan Menyajikan hasil kajian (dari mengamati sampai menalar) dalam bentuk tulisan, grafis, media elektronik, multi media dan lain-lain

Model Pemblajaran Discovery Learning

Model Discovery Learning adalah didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dengan bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner yang ie aarnya dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.

Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). Discpovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating conceps and principles in the mind (Robert B.Sund dalam Malik, 2001:219)

Langkah-langkah Operasional implemntasi dalam Proses Pembelajaran

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan Discovery Learning di kelas ada beberapa prosedur yang haru dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut :

Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)

Problem Statement (Pernyataan/identifikasi masalah)

Data Collection (Pengumpulan Data)

Data Procesing (Pengolahan Data)

Verification (Pembuktian)

Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

KERANGKA BERPIKIR

Hipotesis Tindakan

Diduga, jika dalam kegiatan pembelajaran tentang kompetensi dasar pemahaman tentang besaran dengan menghitung maju sampai 100 dan mundur dari 20, di Kelas I SD Negeri Sengon 04 peneliti menerapkan ppendekatan Saintifik dan moodel Discovery Learning, maka kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna serta pemahaman dan hasil belajar siswa akan meningkat.

METODOLOGI PENELTIAN

Subyek Penelitian

Tempat penelitian adalah SD Negeri Sengon 04, UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes.

Waktu penelitian selama 6 bulan (satu Semester), adapun pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2014/2015

Kelas yang dijadikan tempat penelitian ini adalah Kelas I SD Negeri Sengon 04 UPT Dinas Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes.

Kelas I SD Negeri Sengon 04 UPT Dinas Kecamatan Tanjung Kabupaten Brebes.yang berjumlah 39 anak, terdiri atas 10 anak perempuan dan 7 anak laki-laki.

Kemudian dilihat dari pekerjaan orang tua mereka adalah 80 % buruh tani dan petani dan 20 % sebagai wiraswasta dan pedagang. Dengan kondisi seperti ini kehidupan anak-anak kurang perhatian terutama masalah belajarnya, dan kurang sekali motivasi belajar dari orang tua mereka.

PROSEDUR PENELITIAN

Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedang fase siklus kedua dirancang dari refleksi siklus pertama.dengan cara demikian diharapkan pada siklus kedua seluruh siswa Kelas I SD Negeri Sengon 04 dapat meningkatkan pemahaman serta hasil belajarnya.

Adapun kegiatan-kegiatan setiap fase adalah sebagai berikut :

Merencanakan PTK

Kegiatan yang peneliti lakukan dalam merencanakan PTK adalah sebgai berikut : pertama peneiti menyusun Rencana Perbaikan Pembelajaran, kedua peneliti menyiapkan media dan alat pembelajran, menyusun tugas/LKS dan lembar tes yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran untuk mengukur ketercapaian kompetensi dan indikator, ketiga peneliti menyusun pedoman observasi sebagai instrumen untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran, dan membuat lembar perenungan terhadap hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Melaksanakan PTK

Pelaksanaan pembelajaran tersebut meliputi tiga tahapan kegiatan yaitu; kegiatan pendahuluan, kegiatan inti yang didalamnya ttermasuk kegiatan penilaian, serta kegiatan akhir yang berupa kegiatan refleksi dan perenungan terhadap hasil pembelajaran.

Melaksanakan Observasi

Observasi dilakukan oleh ketiga observer yaitu : teman sejawat pengamatan tersebut dilakukan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan peneliti. Dalam pelaksanaaannyya observer mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan oleh peneliti dan siswa mulai dari kegiatan pendahuluuan , kegiatan inti termasuk kegiatan penilaian yyang dilaksanakan, sertta kegiatan akhir, dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disiapkan.

Melaksanakan Refleksi

Refleksi dilakukan bersama ketiga observer setelah proses pembelajaran siklus pertama. Hasil refleksi adalah ditemukannya indikator yang sudah tercapai dan belum tercapai dalam pembelajaran. Selanjutnya kompetensi dasar serta indikator yang belum tercapai dicarikan sebab-sebab ketidaktercapaiannya. Bertitik tolak dari sebab-sebab ketidaktercaian tersbut dicarikan solusi mengatasinya. Selanjutnya solusi tersebut dijadikan dasar untuk memperbaiki rencana perbaikan pembelajaran siklus pertama yang akan digunakan sebagai rencana perbaikan pada siklus kedua.

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah teknik observasi, teknis tes, teknik angket/quesioner. Teknik observasi digunakan untuk memperoleh data dari kegiatan pembelajarran yang dilakkuka yang akan dideskripsikan. Teknis tes digunakan untuk mengumpulkan data hasil peniilaian sedang teknik angket/quesioner digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menyerap materi pembelajaran.

TEKNIK PENGOLAHAN DATA

Pada setiap akhir pembelajaran peneliti melakukan analisis data hasil observasi dan hasil penilaian yang dilaksanakan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan tahapan-tahapan sebagai berikut, (1) mereduksi data, (2) menganalisis/mengorganisasikan data, dan (3) melaporkan data. (Wardani, 2002:2.28).

Hasil pengolahan penilaian tersebut digunakan untuk membuktikan hipotesis. Apabila dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh peningkattan hasil belajar berarti hipotesis terbukti, sebaliknyya jika tidak terjadi peningkatan hasil belajar hipotesis tidak terbukti.

INDIKATOR KINERJA

Kgiatan Penelitian dilaksanakan untuk mencapai keberhasilan pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa mencapai nilai KKM yakni 2,67 atau 66,75. Dan diharapkan ketuntasan belajar secara klasikal mencapai 75 %, artinya siswa yang memperolh nilai di atas KKM mencapai 75 % atau lebih.

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian Siklus I

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.4.1 , adalah 65,75 atau 2,63 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75 atau 2,67 Jadi skor rata-rata belum mencapai KKM.

Skor rata-rata indikator 4.4.3 yaitu adalah 72 atau 2,88 dan KKM yang ditetapkan yaitu 2,67 jadi ketercapaian rata-rata indikator 4.4.3 sudah mencapai KKM.

Nilai rata-rata yang dicapai oleh indikator adalah 3.4.1 Bila dibandingkan dengan Nilai KKM yaitu 66,75 , maka terdapat kekurangan 1,00

Nilai rata-rata yang dicapai Indikaor 4.4.3 adalah 72 bila dibandingan dengan KKM 66,75 maka terdapat kelebihan 5, 25

Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 39 jumlah siswa kelas I SD Negeri Sengon 04, yang telah tuntas untuk aspek pengetahuan adalah sebanyak 8 atau 45 %, dan yang belum tuntas sebanyak 9 siswa atau 55 %. Jadi untuk, untuk aspek keterampilan yang tuntas sebanyak 12 anak atau 72,5 %, yang belum tuntas sebanyak 5 atau 37,5 % ,maka untuk mencapai ketuntasan belajar siswa yang ditentukan yaitu 75 %. Maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran siklus II.

Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa indikator yang menjadi masalah dan harus dicarikan penyebab serta solusinya adalah indikator 3.4.1 dan indikator 4.4.3

Penyebab Kegagalan dan Solusinya

Penyebab kegagalan dari indikator 3.4.1, adalah disebabkan oleh 9 siswa memperoleh skor di bawah KKM, dan untuk indikator 4.4.3 ada 5 siswa memperoleh skor di bawah KKM hal ini disebabkan karena mereka belum lancar membaca dan belum memahami soal, juga tidak terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, ketika membaca soal mereka masih mengeja dan belum dapat memahami soal.

Solusi untuk mengatasi kegagalan tersebut Peneliti akan selalu membimbing dan memberikan motivasi baik secara individu maupun kelompok agar mereka turut aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Hasil Penelitian Siklus II

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.4.1 , adalah 83,5 KKM .

Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 39 jumlah siswa kelas I SD Negeri Sengon 04, yang telah tuntas sebanyak 15 atau 87,5 %, dan yang belum tuntas sebanyak 2 siswa atau 12,5 %.

Berdasarkan hasil refleksi di atas dapat dijelaskan bahwa perbaikan pembelajaran Siklus ke II telah berhasil, hal ini dilihat dari peningkatan ketuntasan belajar yaitu selisih ketuntasan belajar Siklus I dengan siklus II , Ketuntasan Belajar pada Siklus I Aspek Pengetahuan adalah 45 % sedangkan Ketuntasan Belajar pada Siklus II 87,5 %, jadi ada peningkatan secara signifikan yaitu 42,5 %. Sedang untuk aspek Keterampilan ketuntasan belajar pada siklus I adalah 72,5 %, sedang pada siklus II adalah 100 %, maka terjadi peningkatan yang signifikan, yaitu 27,5 %.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Hasil Analisis Penilaian Prasiklus

Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial

Hasil penilaian untuk sikap spiritual dan sikap Sosial seluruh siswa sudah kategori baik, meskipun masih ada aspek-aspek yang masih perlu mendapat bimbingan.

Aspek Pengetahuan :

Prosentase Ketuntasan Belajar :

Siswa yang memperoleh < 66,75 = 11 siswa = 62,5 %

Siswa yang memperoleh ≥66,75 = 6 siswa = 37,5 %

Ketuntasan Belajar = 37,5 %

Aspek Keterampilan :

Siswa yang memperoleh < 66,75 = 9 siswa = 55 %

Siswa yang memperoleh ≥66,75 = 8 siswa = 45 %

Ketuntasan Belajar = 45 %

Hasil Analisis Penilaian Siklus I

Sikap Spiritual dan Sikap Sosial:

Untuk hasil penilaian sikap spiritual dan sikap sosial, kategori Sangat Baik, ini dilihat dari modus nilai, yaitu 4, meskipun masih ada siswa yang memperoleh kategori Baik (3)

Aspek Pengetahuan (KD 3.4.)

Jika dilihat dari ketuntasan belajar siswa dari 39 jumlah siswa kelas I SD Negeri Sengon 04, yang telah tuntas untuk aspek pengetahuan adalah sebanyak 8 atau 45 %, dan yang belum tuntas sebanyak 9 siswa atau 55 %. Jadi untuk, untuk aspek keterampilan yang tuntas sebanyak 12 anak atau 72,5 %, yang belum tuntas sebanak 5 atau 37,5 % ,maka untuk mencapai ketuntasan belajar siswa yang ditentukan yaitu 75 %.

Hasil Analisis Penilaian Siklus II

Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial

Pada Siklus II hasil penilaian sikap spiritual dan sikap sosial, kategori Sangat Baik, ini dilihat dari modus nilai, yaitu 4

Penilaian Aspek Pengetahuan

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap indikator oleh seluruh siswa dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor indikator 3.4.1 , adalah 83,5 KKM yang telah ditetapkan yaitu 66,75 Jadi skor rata-rata sudah melebihi KKM .

Prosentase ketuntasan belajr kelas I SD Negeri Sengon 04, yang telah tuntas sebanyak 15 atau 87,5 %, dan yang belum tuntas sebanyak 2 siswa atau 12,5 %.

Penilaian Aspek Keterampilan

Indikator 4.1.4 :

Siswa yang memperoleh nilai < 66,75 = -.siswa = 0.%

Siswa yang memperoleh nilai ≥ 66,75 = 39 siswa = 100 %

Ketuntasan Belajar = 100 %

Jika dilihat dari prosentasi kenaikan ketuntasan belajar dari prasiklus, siklus I dan siklus II seperti terlihat pada tabel di bawah ini :

Siklus Ketuntasan Belajar
Aspek Pengetahuan Aspek Keterampilan
Prasiklus 37,5 % 32,5 %
Siklus I 45 % 62,5 %
Siklus II 87,5 % 100 %

Dari tabel prosentase di atas dapat disimpulkan bahwa, kegiatan perbaikan pembelajaran dari prasiklus ,Siklus I dan Siklus II, pencapaian ketuntasan belajar mengalami kenaikan yang signifikan, untuk aspek pengetahuan dari mulai Prasiklus ke Siklus I naik dari 37,5 % menjadi 45 %, dan dari siklus I ke siklus II naik dari 45 % menjadi 87,5 %, dan jika dilihat dari hasil penilaian aspek keterampilan mulai dari prasiklus ke siklus I hanya sedikit mengalami kenaikan , tetapi pada siklus II naik mencapai 100 % ,dengan demikian peneliti merasa bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik dan model pembelajaran Discovery Learning dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa di Kelas I SD Negeri Sengon 04.

SIMPULAN

Dengan menerapkan model pembelajaran Discovery Learning maka suasana pembelajaran akan lebih menarik dan menyenangkan anak sehingga mereka aktif dalam mengikuti pembelajaran dan hasil belajar pun mengalami peningkatan, secara rinci dapat dijelaskan : (1)Belajar sambil bermain dan dengan pemberian motivasi serta penguatan pada siswa, akan lebih meningkatkan aktivitas siswa sehingga hasil belajar pun meningkat secara signifikan, (2)Terbukti bahwa Ketuntasan Belajar mengalami peningkatan dari mulai kegiatan pembelajaran Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II, (3) Pendekatan Saintifik dengan Model pembelajaran Discovery Learning dapat membawa situasi belajar lebih menyenangkan dan aktivitas belajar serta hasil belajar siswa meningkat.

SARAN/REKOMENDASI

Berdasarkan hasil data penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanaka oleh penulis, maka penulis menyampaikan beberapa saran bagi para pembaca dalam hal ini rekan-rekan guru. Bahwa kurikulum 2013 dalam kegiatan proses pembelajaran harus menggunakan pendekatan saintifik juga pandai memilih model pembelajaran yang tepat khususnya di kelas rendah , disamping itu seyogyanya guru (a) Harus pandai-pandai menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan, sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna, (b) Harus lebih kreatif memilih model apa yang paling tepat untuk menyajikan materi pembelajara, (c) Harus pandai-pandai memilih media/alat pembelajaran dengan tepat sesuai materi pembelajaran yang disajikan, (d) Selalu memberikan bimbingan, motivasi, serta penguatan pada siswa baik secara individual maupun kelompok,(e)Selalu menindak lanjuti disetiap akhir pembelajaran dengan memberikan Remedial dan pengayaan sebagai bahan pekerjaan rumah siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Ai Sofiyanti, dkk. 2015. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum.

. Jakarta : Kemendikbud.

Muhsetyo Gatot,dkk.2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Trbuka

Mulyani Sumantri,2007. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta :

Universitas Terbuka.

Panitia Sertifikasi Guru Rayon 112. (2012) Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan

Profesi Guru dalam Jabatan . Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Udin S.Winataputra, dkk. 2007.Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta :

Universitas Terbuka

BIODATA PENULIS

Nama : Ngatiyem, S.Pd.SD

NIP : 19640615 199201 2 003

Pangkat, Gol/Ruang : Pembina, IV a

Jabatan : Guru Kelas

Lokasi Penelitian : SD Negeri Sengon 04 ,

Kecamatan/Kabupaten : Kec. Tanjung. Kab. Brebes

You cannot copy content of this page