Iklan

BIO DATA PENULIS

Nama : Samirah, S. Pd. SD.

NIP : 19680405 199401 2 001

Unit Kerja : SD Negeri I Kritig

Judul : PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG PECAHAN MELALUI ALAT PERAGA KOTAK PERMAINAN PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD NEGERI I KRITIG

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul ”Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Pecahan Melalui Alat Peraga Kotak Permainan Pecahan Pada Siswa Kelas VI SD Negeri I KRITIG.” Adapun masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah (1) Apakah penggunaan alat peraga kotak permainan pecahan dapat meningkatkan kerja sama siswa dalam pembelajaran Matematika tentang pecahan? (2) Apakah penggunaan alat peraga kotak permainan pecahan dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran Matematika tentang pecahan? (3) Apakah penggunaan alat peraga kotak permainan pecahan dapat meningkatkan ketelitian siswa dalam pembelajaran Matematika tentang pecahan? (4) Bagaimanakah cara penggunaan alat peraga kotak permainan pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika tentang pecahan pada siswa kelas V SDN 1 Kritig, semester 2 tahun pelajaran 2017/2018? Tujuan penelitian ini adalah (1) Ingin mengetahui seberapa besar pemanfaatan alat peraga kotak permainan pecahan dalam meningkatkan kerja sama siswa tentang konsep pecahan siswa kelas V SD Negeri 1 Kritig Kecamatan Petanahan. (2) Untuk memperoleh informasi tentang dapat tidaknya pemanfaatan alat peraga kotak permainan pecahan meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran tentang konsep pecahan. (3) Untuk memperoleh informasi tentang dapat tidaknya pemanfaatan alat peraga kotak permainan pecahan meningkatkan ketelitian siswa dalam pembelajaran tentang konsep pecahan. (4) Untuk memperoleh informasi tentang dapat tidaknya pemanfaatan alat peraga kotak permainan pecahan meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran tentang konsep pecahan. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Siklus pertama memanfaatkan alat peraga papan permainan pecahan dalam diskusi kelompok besar (8-9 siswa), siklus kedua dalam kelompok kecil (5 siswa dengan posisi tempat duduk siswa sudah diatur membentuk tapal kuda dengan sedikit direnggangkan jarak antar kelompoknya) dan siklus ketiga dalam kelompok kecil (terdiri dari 5 siswa dengan memperhatikan keaktifan dan tingkat pemahaman masing-masing anggota dan meanfaatkan siswa yang sudah menguasi konsep sebagai tutor teman sebaya). Langkah-langkah dalam setiap siklus terdiri dari perencanaan (planing), pelaksanaan tindakan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflcting).

Hasil yang diperoleh membuktikan bahwa dengan alat peraga papan permainan pecahan mampu meningkatkan hasil belajar, kerja sama, keaktifan dan ketelitian siswa dalam konsep pecahan. Pada kondisi awal siswa yang tuntas belajar hanya 6 siswa dari 20 siswa atau 30%. Pada siklus I, 11 siswa atau 55%. Siklus II, 16 siswa atau 80%. Dan di siklus III siswa yang tuntas menjadi 100%. Pada studi awal kerja sama 30%, keaktifan 30% dan ketelitian 25%. Pada siklus I kerja sama 55%, keaktifan 45% dan ketelitian 45%. Pada siklus II studi awal kerja sama 70%, keaktifan 70% dan ketelitian 65%. Sedangkan pada siklus III, kerja sama, keaktifan dan ketelian mencapai 100%.

PENDAHULUAN

Pembelajaran matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari.

Kendala-kendala dalam pembelajaran Matematika khususnya di kelas tinggi seperti kelas V adalah (1) sulitnya memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika tanpa disertai contoh konkret, (2) siswa tidak aktif bertanya, tidak berpikir kritis dan kurang kreatif mengusahakan kemungkinan berbagai alternatif jawaban untuk memecahkan suatu masalah.

Hal ini dapat kita lihat dari data hasil belajar mata pelajaran Matematika di kelas V SD Negeri 1 Kritig, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen yang terdiri 13 orang siswa, 7 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan, diperoleh baru 5 siswa yang mampu mencapai tingkat penguasaan di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), berarti baru diperoleh 30%. Artinya sebagian besar siswa belum mampu memahami konsep Matematika. Hal ini jika dibiarkan tentunya akan menimbulkan kesulitan dalam mempelajari materi selanjutnya.

Dengan memperhatikan permasalahan tersebut di atas, atas saran kolaborator, peneliti memilih alternatif pemecahan masalah melalui pemanfaatan alat peraga kotak permainan pecahan. Alat peraga kotak permainan pecahan merupakan alat peraga sederhana yang didesain guru untuk memudahkan siswa dalam memahami masalah yang berkaitan dengan debit.

Dari uraian di atas perlu dilakukan perbaikan pembelajaran melalui PTK dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Matematika tentang Pecahan Melalui Alat Peraga Kotak Permainan Pecahan pada Siswa Kelas V SD Negeri 1 Kritig.

KAJIAN PUSTAKA

Hasil Belajar Matematika tentang Pecahan

Menurut Asep Heri Hernawan (2003:8.27) mata pelajaran matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bilangan dan simbol-simbol serta ketajaman penalaran yang dapat membantu memperjelas dan menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajjaran di sekolah dasar berisi bahan pelajaran yang menekankan agar siswa mengenal, memahami serta mahir mneggunakan bilangan dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Belajar dapat diartikan memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman dan mendapatkan informasi dan menemukan. (Hilgrad dan Brower dalam Furdyartanto, 2002 dalam Journal Pendidikan, No. 2, Tahun ke-5, Juni 2008 ). Belajar adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang berkembang baik, baik actual maupun potensial. (Sumadi Suryabrata. 1993:5).

Menurut Kevin (1989), hasil belajar harus meliputi: skill atau keterampilan, potensi kognitif, motivasi dan minat dan ideologi. (Journal Pendidikan, No. 022, Tahun ke-5, Maret 2000 ).

Hakikat Alat peraga

Alat peraga adalah alat untuk menerangkan dan mewujudkan suatu konsep. Alat peraga dapat berupa gambar real, gambar atau diagram (Russeffendi, 1980:2). Alat peraga adalah alat yang sederhana yang dapat berupa benda nyata, gambar atau grafik.

Manfaat alat peraga bagi guru adalah membantu cara belajar aktif melalui simulasi sehingga siswa dengan cepat dan mudah memahami konsep-konsep yang sedang dipelajari (Yudyanto, Edi Supriana, muhardjito, Hartatik.

Hakikat Alat Kotak Permainan Pecahan

Alat peraga kotak permainan pecahan merupakan alat peraga sederhana yang didesain guru untuk memudahkan siswa dalam mempelajari berbagai bentuk pecahan. Alat peraga ini dibuat dengan memanfaatkan alat dan bahan-bahan yang berada di lingkungan sekitar siswa seperti tripleks/kertas manila, gambar persegi panjang, pensil, penggaris, lem, pisau/cutter, dan penghapus.

Kerangka Berpikir

Siswa:

Hasil belajar Matematika tentang pecahan rendah

Guru:

Belum memanfaatkan alat peraga kotak permainan pecahan

KONDISI

AWAL

Siklus Pertama

Memanfaatkan alat peraga kotak permainan pecahan dalam pelajaran Matematika dalam berkelompok besar (tiap kelompok 6-7 anak)

Memanfaatkan alat kotak permainan pecahan dalam pembelajaran matematika

TINDAKAN

Siklus Kedua

Memanfaatkan alat peraga kotak permainan pecahan dalam pelajaran Matematika dalam berkelompok kecil (tiap kelompok 4-5 siswa)

KONDISI

AKHIR

Siklus Ketiga

Memanfaatkan alat peraga kotak permainan pecahan dalam pelajaran Matematika dalam berkelompok kecil dengan memperhatikan keaktifan dan tingkat pemahaman masing-masing anggota

Diduga melalui pemanfatan kotak permainan pecahan dapat meningkatkan hasil belajar Matematika tentang pecahan

Gambar 2.1 : Skema Kerangka Berpikir

Hipotesis Tindakan

  1. Penggunaan alat peraga kotak permainan pecahan diduga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang pecahan pada siswa kelas V SD N 1 Kritig semester 2 Tahun Pelajaran 2017/ 2018 ?
  2. Penggunaan alat peraga kotak permainan pecahan diduga dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika tentang pecahan pada siswa kelas V SD N 1 Kritig semester 2 Tahun Pelajaran 2017/ 2018?

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Kritig UPT Dinas Pendidikan Unit Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, pada tahun pelajaran 2017/2018.

Waktu Penelitian

Penelitian ini membutuhkan waktu 4 (empat) bulan. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan Februari 2018 dan berakhir pada bulan Mei 2018

Subjek Penelitian

Subjek penelitian pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah guru kelas V dan seluruh siswa kelas V pada tahun pelajaran 2017/2018. Siswa kelas tersebut berjumlah 13 orang siswa terdiri dari 7 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.

Data dan Sumber Data

Data kuantitatif terdiri dari hasil belajar dan hasil penilaian. Data hasil belajar siswa diperoleh dari hasil tes yang diberikan kepada siswa dan data tentang hasil penilaian diperoleh dari hasil penilaian kegiatan siswa untuk kelompok dengan menggunakan lembar kerja.

Adapun sumber data penelitian ini meliputi: Informasi atau narasumber yaitu siswa, obeserver dan guru, Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran penjumlahan bilangan dan aktivitas lain yang bertalian, Dokumen atau arsip yang antara lain berupa Kurikulum, Rencana Pelaksanaan pembelajaran, hasil kerja siswa dan buku penilaian.

Teknik Pengumpulan Data

Data tentang hasil belajar siswa dengan memberikan tes kepada siswa. Data tentang hasil penilaian kegiatan siswa dengan menggunakan lembar penilaian kegiatan siswa untuk kelompok. Data tentang keaktifan belajar siswa dilakukan dengan menggunakan lembar observasi/pengamatan.

Validitas Data

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain triangulasi dan review informan kunci.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik statistik deskriptif komparatif digunakan untuk data kuantitatif, yakni dengan membandingkan hasil antar siklus.

Indikator Kinerja

Intervensi yang dilakukan dinyatakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa jika ada peningkatan hasil belajar secara individual dan klasikal, serta minimal 90% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar memperoleh nilai 85.

Intervensi yang dilakukan dinyatakan dapat meningkatkan keaktifan dan kerja sama siswa jika 90% dari jumlah siswa menampilkan 1 indikator dari 4 indikator yang dipersyaratkan.

Prosedur Penelitian

Merencanakan

Melaksanakan Tindakan

Refleksi

Mengamati

Gambar 3.3 Tahap-tahap PTK

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Siklus I

Pada tahap pelaksanaan tindakan, data yang diperoleh berupa rekapitulasi nilai tes formatif pembelajaran.

No Nama Siswa Studi Awal Siklus I
65 Mengalami Kenaikan Belum Mengalami Kenaikan Ket.
1 Mokh. Irfangi Anwar 45 75 B T
2 Ferdi Feriyanto 70 80 T
3 Anisa Purnama Sari 70 85 T
4 Eka Bela Safitri 70 95 T
5 Faiza Ngizzatul Laeli 80 85 T
6 Fathir Ar Rahman 75 60 T
7 Lisza Hanim M 35 85 B T
8 Laela Surofa 70 70 T
9 Naeli Masruroh 65 100 T
10 Rafifadillah R 80 65 T
11 Ummu Adilah 50 60 B T
12 Unggul Cahyo Khoeri 35 95 B T
13 Muhamad Nur Hidayat 85 65 T
Jumlah Nilai 830 1.390 9 4 13
Rata-Rata 63.85 69,50

Tabel 4.1 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Matematika, Tentang Pecahan

Dari data di atas diperoleh data sebagai berikut: Pada studi awal nilai rata-rata kelas 61,00, setelah dilakukan perbaikan pada siklus I mengalami kenaikan menjadi 69,50. Rata-rata kelas naik 8,50. Sebanyak 11 atau 85% siswa mengalami kenaikan nilai prestasi. Sebanyak 7 atau 55% siswa telah mencapai tingkat ketuntasan belajar.

Pada tahap pengamatan, diperoleh data seperti berikut:

Kerja Sama Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar telah menunjukkan kerja sama Persentase Ket
Studi Awal 4 30%
Siklus I 7 55%

Tabel 4.2 Rekapitulasi Kerja Sama Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama sebanyak 4 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama sebanyak 7 siswa atau 55%. Dari studi awal ke siklus I, kerja sama belajar siswa naik 25%.

Keaktifan Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar

telah menunjukkan keaktifan belajar

Persentase Ket.
Studi Awal 4 30%
Siklus I 6 45%

Tabel 4.3 Rekapitulasi Keaktifan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 4 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 6 siswa atau 45%. Dari studi awal ke siklus I, keaktifan belajar siswa naik 15%.

Ketelitian Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar telah menunjukkan

ketelitian belajar

Persentase Ket.
Studi Awal 3 25%
Siklus I 6 45%

Tabel 4.4 Rekapitulasi Ketelitian Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus I

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 3 siswa atau 25%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 6 siswa atau 45%. Dari studi awal ke siklus I, ketelitian belajar siswa naik 20%.

Siklus II

Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus II, diperoleh data rekapitulasi nilai hasil tes formatif pembelajaran yang tertera sesuai pada tabel berikut:

No Nama Siswa Studi Awal Siklus

I

Siklus II
Nilai Mengalami Kenaikan Belum Mengalami Kenaikan Ket.
1 Dirga Burhanudin 45 65 75 T
2 Nurohman 70 75 85 T
3 Nurohim 70 80 85 T
4 Uswatun Khasanah 70 85 80 T
5 Adnan Alamsyah 80 95 90 T
6 Ahmad Khoerul F 75 85 80 T
7 Alimun Toha 35 60 85 T
8 Hadad Rifki Salam 70 85 90 T
9 Mukharir 65 70 85 T
10 Nizam Khoerul A. 80 100 100 T
11 Jaenul Ngabidin 50 65 85 T
12 Ahmad Muhlis M 35 60 65 B
13 Bibit Kholis M. 85 95 100 T
Jumlah Nilai 1,220 830 1105 12 1 13
Rata-Rata 63.85 78.46 85,00

Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Matematika, Tentang Pecahan

Dari data di atas diperoleh data sebagai berikut: Pada studi awal nilai rata-rata kelas 61,00, setelah dilakukan perbaikan pada siklus I mengalami kenaikan menjadi 69,50 dan pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 74,5. Rata-rata kelas naik 5,0 dari siklus I atau 13,5 dari studi awal. Sebanyak 7 atau 50% siswa mengalami kenaikan nilai prestasi. Sebanyak 10 atau 80% siswa telah mencapai tingkat ketuntasan belajar.

Pada tahap pengamatan, diperoleh data seperti berikut:

Kerja Sama Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar

telah menunjukkan kerja sama

Persentase Ket.
Studi Awal 4 30%
Siklus I 7 55%
Siklus II 9 70%

Tabel 4.6 Rekapitulasi Kerja Sama Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus II

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama belajar sebanyak 4 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama belajar sebanyak 7 siswa atau 55%. Pada siklus II, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama belajar sebanyak 9 siswa atau 70%. Dari siklus I ke siklus II, kerja sama belajar siswa naik 25% atau 40% dari studi awal.

Keaktifan Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar telah menunjukkan keaktifan belajar Persentase Ket.
Studi Awal 4 30%
Siklus I 6 45%
Siklus II 9 70%

Tabel 4.7 Rekapitulasi Keaktifan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus II

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 4 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 6 siswa atau 45%. Pada siklus II, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 9 siswa atau 70%. Dari siklus I ke siklus II, keaktifan belajar siswa naik 15% atau 40% dari studi awal.

Ketelitian Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar telah menunjukkan

ketelitian belajar

Persentase Ket.
Studi Awal 3 25%
Siklus I 6 45%
Siklus II 8 65%

Tabel 4.8 Rekapitulasi Ketelitian Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus II

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 3 siswa atau 25%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 6 siswa atau 45%. Pada siklus II, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 5 siswa atau 65%. Dari siklus I ke siklus II, ketelitian belajar siswa naik 20% atau 40% dari studi awal.

Pada tahap pelaksanaan tindakan, data yang diperoleh berupa rekapitulasi nilai tes formatif pembelajaran.

No Nama Siswa Studi Awal Siklus

I

Siklus

II

Mengalami Kenaikan Belum Mengalami Kenaikan Ket.
1 Dirga Burhanudin 45 65 75 T
2 Nurohman 70 75 85 T
3 Nurohim 70 80 85 T
4 Uswatun Khasanah 70 85 80 T
5 Adnan Alamsyah 80 95 90 T
6 Ahmad Khoerul F 75 85 80 T
7 Alimun Toha 35 60 85 T
8 Hadad Rifki Salam 70 85 90 T
9 Mukharir 65 70 85 T
10 Nizam Khoerul A. 80 100 100 T
11 Jaenul Ngabidin 50 65 85 T
12 Ahmad Muhlis M 35 60 65 B
13 Bibit Kholis M. 85 95 100 T
Rata-Rata 63.85 78.4 85,00

Tabel 4.9 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran Matematika, tentang Pecahan

Dari data di atas diperoleh data sebagai berikut: Pada studi awal nilai rata-rata kelas 61,00, setelah dilakukan perbaikan pada siklus I mengalami kenaikan menjadi 69,50, pada siklus II mengalami kenaikan menjadi 74,5. Rata-rata kelas naik 11,5 dari siklus II atau 16,5 dari siklus I atau 25,0 dari studi awal. Sebanyak 12 atau 90% siswa mengalami kenaikan nilai prestasi. Sebanyak 13 atau 100% siswa telah mencapai tingkat ketuntasan belajar.

Pada tahap pengamatan, diperoleh data seperti berikut:

Kerja Sama Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar telah menunjukkan kerja sama Persentase Ket.
Studi Awal 3 30%
Siklus I 6 55%
Siklus II 9 70%

Tabel 4.10 Rekapitulasi Kerja Sama Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama belajar sebanyak 3 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama belajar sebanyak 6 siswa atau 55%. Pada siklus II, siswa yang benar-benar menunjukkan kerja sama belajar sebanyak 9 siswa atau 70%.

Keaktifan Siswa

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar

telah menunjukkan keaktifan belajar

Persentase Ket.
Studi Awal 3 30%
Siklus I 6 45%
Siklus II 9 70%

Tabel 4.11 Rekapitulasi Keaktifan Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus III

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 3 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 6 siswa atau 45%. Pada siklus II, siswa yang benar-benar menunjukkan keaktifan belajar sebanyak 9 siswa atau 70%.

No Pembelajaran Siswa yang benar-benar

telah menunjukkan ketelitian belajar

Persentase Ket.
Studi Awal 3 25%
Siklus I 6 45%
Siklus II 8 65%

Tabel 4.12 Rekapitulasi Ketelitian Siswa dalam Mengikuti Pembelajaran pada Siklus

Dari tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 3 siswa atau 25%. Pada siklus I, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 6 siswa atau 45%. Pada siklus II, siswa yang benar-benar menunjukkan ketelitian belajar sebanyak 8 siswa atau 65%.

Setelah dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh, hasil penelitian ini dapat dirangkum sebagai berikut:

Hasil Belajar Siswa

No Pembelajaran Hasil Belajar Siswa
Rata-Rata Kelas Tuntas Persentase

Tuntas

Belum Tuntas Persentase

Belum tuntas

Studi Awal 61,00 3 30% 10 70%
Siklus I 69,50 6 55% 7 45%
Siklus II 74,5 9 80% 4 20%

Tabel 4.13 Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siswa pada Setiap Siklus Kegiatan Perbaikan pembelajaran.

Dari tabel 4.13 tersebut diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada siklus I, angka ketuntasan siswa naik 20% (bertambah 3 siswa dari siklus awal). Pada siklus II, angka ketuntasan siswa naik 25% (bertambah 3 siswa dari siklus I). Pada siklus I, nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan sebesar 8,50. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas mengalami kenaikan sebesar 13,5 dibandingkan rata-rata pada studi awal dan meningkat 5,0 dibandingkan rata-rata kelas pada siklus pertama.

Kerja Sama Siswa

Dari hasil analisis, peningkatan kerja sama siswa pada setiap siklus kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang Menunjukkan Kerja Sama Persentase
Studi Awal 3 30%
Siklus I 6 55%
Siklus II 8 70%

Tabel 4.14 Rekapitulasi Peningkatan Kerja Sama Siswa

Dari tabel 4.14 di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang menunjukkan kerja sama 3 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang menunjukkan kerja sama 6 siswa atau 55%. Pada siklus II, siswa yang menunjukkan kerja sama 8 siswa atau 70%.

Keaktifan Belajar Siswa

Dari hasil analisis, peningkatan keaktifan belajar siswa pada setiap siklus kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang Menunjukkan Keaktifan Persentase
Studi Awal 3 30%
Siklus I 5 45%
Siklus II 8 70%

Tabel 4.15 Rekapitulasi Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa

Dari tabel 4.15 di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang menunjukkan keaktifan belajar 3 siswa atau 30%. Pada siklus I, siswa yang menunjukkan keaktifan belajar 5 siswa atau 45%. Pada siklus II, siswa yang menunjukkan keaktifan belajar 8 siswa atau 70%.

Ketelitian Belajar Siswa

Dari hasil analisis, peningkatan ketelitian belajar siswa pada setiap siklus kegiatan pembelajaran dapat dilihat pada tabel berikut:

No Kegiatan Pembelajaran Siswa yang Menunjukkan Ketelitian Persentase
Studi Awal 3 25%
Siklus I 5 45%
Siklus II 8 65%

Tabel 4.16 Rekapitulasi Peningkatan Ketelitian Belajar Siswa

Dari tabel 4.16 di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut: Pada studi awal, siswa yang menunjukkan ketelitian belajar 3 siswa atau 25%. Pada siklus I, siswa yang menunjukkan ketelitian belajar 5 siswa atau 45%. Pada siklus II, siswa yang menunjukkan ketelitian belajar 8 siswa atau 65%.

Dari hasil refleksi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tindakan perbaikan yang dilakukan telah berhasil. Meski masih ada hal-hal yang harus dipebaiki. Berarti upaya perbaikan pembelajaran berakhir di siklus kedua.

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh pada siklus I, II dapat ditemukan sebagai berikut:

  1. Pemanfaatkan alat peraga papan permainan pecahan mampu meningkatkan kerja sama siswa dalam memahami materi pelajaran. Ditunjukkan hasil siklus I sebanyak 55% dan siklus II sebanyak 70% meningkat dari pra siklus 30%.
  2. Pemanfaatkan alat peraga papan permainan pecahan mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pelajaran. Ditunjukkan hasil siklus I sebanyak 45% dan siklus II sebanyak 65% meningkat dari pra siklus 25%.
  3. Pemanfaatkan alat peraga papan permainan pecahan mampu meningkatkan ketelitian siswa dalam kegiatan pelajaran. Ditunjukkan hasil siklus I sebanyak 45% dan siklus II sebanyak 65% meningkat dari pra siklus 25%.

SARAN

  1. Untuk Guru.
    1. Guru sebaiknya memanfaatkan alat peraga yang tepat agar kemampuan dalam mengelola kelas lebih meningkat
    2. Guru sebaiknya meningkatkan layanan profesional kepada peserta didik.
    3. Guru sebaiknya melakukan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki kinerja dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan sesuai harapan.
    4. Guru harus mampu meningkatkan rasa percaya diri khususnya dalam mengajar siswa.
  2. Untuk Siswa
    1. Siswa sebaiknya lebih tertarik dan tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran Matematika sehingga kerja sama dalam diskusi lebih meningkat.
    2. Siswa bisa menguasai materi pelajaran yang diberikan guru sehingga pembelajaran lebih efektif
    3. Mampu meningkatkan inisisatif sesuai dengan SKBM/KKM.
    4. Menumbuhkan sikap kritis siswa sehingga hasil belajar meningkat.
  3. Bagi sekolah
    1. Sekolah menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mempunyai potensi yang tinggi di bidang Matematika
    2. Meningkatnya peran serta guru dan siswa dalam pembelajaran Matematika

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Bill Handley. 2000. Matematika Cepat/Secret Skill for Quick calculator Speed

Mathemathics. Jakarta: Pakar Raya.

Bekti Kusumaningrum.2012. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Sistem Koordinat Kartesius Melalui Alat Peraga Papan Berpetak Pada Siswa Kelas VI SD Negeri 2 Sidoagung. Kebumen: PGSD Universitas Sebelas Maret.

Dedi Permana; Triyati. 2008. Bersahabat dengan Matematika untuk SD Kelas VI. Jakarta: Depdiknas.

Hasibuan J. J. 1986. Proses Belajar Mengajar. Bandung. PT Rosda Karya.

Herman Hudoyo. 1979. Pengembangan Kurikulum dan Pelaksanaan di Depan Kelas. Surabaya: CV. Usaha Nasional.

Hernawan, Asep Heri; Rudi Susilana; Siti Julaeha; Wina Sanjaya. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka

Journal Pendidikan, No. 022, Tahun ke-5, Maret 2000

Journal Pendidikan, No. 2, Tahun ke-5, Juni 2008..

Max A Sobel & Evan M. 2004. Mengajar Matematika. Jakarta: Erlangga.

Milan, Rianto. 2007. Pengelolaan Kelas Model Pakem. Malang: PPPTK PKn/IPS

Matthew B. Miles. 2007. Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UI Press

Mulyasa, E. 2005. Menjadi Guru Professional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Ruseffeni. E. T. 1980. Pengajaran Modern untuk Orang Tua Murid untuk Orang Tua Murid, Guru dan SPG.

Soemanto, Wasty. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung :Alfabeta.

Sumadi Suryabrata. 1993. Psikologi Pendidikan Yogyakarta: Rake Pers.Terbuka.

Sumanto,Y.D; Heny Kusumawati dan Nur Aksin. 2008. Gemar Matematika 6. Jakarta: Depdiknas.

Sukirman. 1997. Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka.

Tim Penyusun. 2003. Kurikulum 2004. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Tim Penyusun. 2007. Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) SD MI. Kebumen:Disdikbud

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivisme Jakarta: Prestasi Pustaka

Udin Wiranataputra. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wardani, IGAK; Wihardit K; Nasuetion N. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Wiranataputra, Udin S; Refni Delfi dan Munasik. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

By admin

You cannot copy content of this page