Iklan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

TENTANG OPERASI HITUNG CAMPURAN BILANGAN BULAT

MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

KELAS VI SD NEGERI 2 DONOSARI

TAHUN PELAJARAN 2017/2018

PENDAHULUAN

Pada era globalisasi dengan segala tantangan kemajuan jaman seperti sekarang ini, segala sesuatu terasa berkembang sangat cepat dan pesat, termasuk juga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hari ke hari manusia akan banyak menghadapi tantangann kemajuan jaman. Pendukung utama tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia bermutu baik adalah pendidikan yang bermutu baik.

Taraf pembelajaran anak usia SD adalah masih kongkrit operasional. Artinya untuk memahami suatu konsep siswa masih harus diberikan kegiatan yang berhubungan dengan benda nyata yang dapat diterima akal mereka dengan menggunakan kemampuan berpikir sistematis, logis, kritis yang dapat dikembangkan salah satunya melalui pembelajaran matematika. Mata pelajaran matematika diperlukan dalam kehidupan namun berdasarkan observasi awal atau temuan sementara dari peneliti bahwa pelajaran matematika masih dirasa sulit oleh sebagian besar siswa kelas VI SD Negeri 2 Donosari, hal ini terbukti dari hasil ulangan akhir semester 1 tahun pelajaran 2017/2018, nilai rata-rata mata pelajaran matematika paling rendah bila dibandingkan dengan nilai rata-rata mata pelajaran lainnya.

Rendahnya nilai mata pelajaran matematika juga dapat dilihat dari hasil evaluasi tentang operasi hitung campuran bilangan bulat untuk KKM = 68 Dari hasil evaluasi tentang operasi hitung campuran bilangan bulat dari siswa kelas VI yang berjumlah 9 siswa, hanya 5 siswa (56 %) yang nilainya diatas KKM. Guru hendaknya memperbaiki pola pembelajaran di kelas VI SD Negeri 2 Donosari untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka upaya peningkatan hasil belajar siswa tentang operasi hitung campuran bilangan bulat dalam proses pembelajaran mata pelajaran Matematika, salah satu cara diantaranya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) tipe Student Team Achievement Division (STAD). Model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran di mana para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya (Slavin, 2008: 11).

Dengan memperhatikan latar belakang yang ada, maka peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian berjudul “ PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG OPERASI HITUNG CAMPURAN BILANGAN BULAT MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD KELAS VI SD NEGERI 2 DONOSARI, SRUWENG, KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2017/2018”.

Kajian Teori

Pembelajaran Kooperatif

Menurut Hamid Hasan (dalam Etin Solihatin dan Raharjo, 2008: 4) cooperative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesame dalam struktur kerja sama yanag teratur dalam kelompok, yanga terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri (Etin Solihatin dan Raharjo, 2008: 4).

Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu dalam mempelajari suatu materi pelajaran.

Ciri-ciri Model Pembelajaran Kooperatif

Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 30) menjelaskan ciri-ciri model pembelajaran kooperatif yaitu: (1) untuk menuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara kooperatif; (2) kelompok dibentik dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah; (3) jika dalam kelas, terdapat siswa-siswa yang terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam tiap kelompokpun terdiri atas ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda pula; (4) penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.

Tujuan penerapan pembelajaran kooperatif

Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 30) menjelaskan tujuan penerapan pembelajaran kooperatif yaitu: (1) Hasil belajar akademik, (2) Penerimaan terhadap keragaman, dan (3) Pengembangan keterampilan sosial.

Unsur-unsur model pembelajaran kooperatif

Anita Lie (2008: 31) mengemukakan lima unsur pembelajaran kooperatif yaitu; (1) Saling ketergantungan positf, (2) Tanggungjawab perseorangan, (3) Tatap muka, (4) Komunikasi antar anggota, (5) Evaluasi proses kelompok.

Tipe Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe model pembelajaran, dimana masing-masing tipe model pembelajaran berbeda caranya. Beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yaitu:

  1. Student Team-Achievement Division (STAD)

STAD merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif dimana siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat siswa yang berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin dan latar belakang etniknya (Slavin, 2008: 11).

  1. Teams Games-Tournament (TGT)

Model pembelajaran kooperatif tipe TGT menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru dan tim kerja yang sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, dimana siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya

  1. Jigsaw II

Dalam jigsaw II ini siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri empat siswa. Para siswa ditugaskan untuk membaca bab, buku kecil atau materi lain yang bersifat penjelasan terperinci lainnya. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi ahli dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut.

  1. Team Accelerated Instruction (TAI)

Dalam TAI menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual. Para siswa memasuki sekuen individual berdasarkan tes penempatan dan kemudian melanjutkannya dengan tingkat kemampuan mereka sendiri. Secara umum, anggota kelompok bekerja pada unit pelajaran yang berbeda.

Langkah Pembelajaran STAD

Sugiyanto (2008: 42) menguraikan langkah pembelajaran STAD sebagai berikut:

  1. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim, masing-masing terdiri 3 anggota kelompok. Tiap tim mempunyai anggota yang heterogen baik jenis kelamin, ras, etnik maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah).
  2. Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk mengetahui bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesame anggota tim.
  3. Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap 2 minggu guru mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
  4. Tiap siswa atau tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tinggi dan memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.

Hakekat Hasil Belajar

Pengertian Hasil

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999: 300) pengertian hasil adalah “akibat”. Hasil adalah akibat yang ditimbulkan dari perwujudan diri, bakat, kemampuan.

Pengertian Belajar

Menurut Asep Jihad dan Abdul Haris (2008: 1) “belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitar:. Hamalik (dalam Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008: 2) menyajikan dua definisi umum tentang belajar, yaitu: (a) Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing); (b) Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu, sifat dan kemampuan yang relative permanen dalam diri individu, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap dari factor genetic dan berbeda satu dengan lainnya.

Pengertian Hasil Belajar

Menurut Mulyono Abdurrahman (2003: 37) “hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”. Sedangkan menurut Sudjana (dalam Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008: 15) berpendapat, hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah akibat yang ditimbulkan dari perwujudan diri, bakat, kemampuan, dan perubahan tingkah laku individu, yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam proses belajar.

Indikator Hasil Belajar

Menurut Sudjana (dalam Asep Jihad dan Abdul Haris, 2008: 20) ada dua kriteria yang bersifat umum

Kerangka Berpikir

Hasil belajar operasi hitung campuran bilangan bulat rendah

Proses belajar kurang efektif

Hasil belajar operasi hitung campuran bilangan bulat meningkat

Pembelajaran kooperatif tipe STAD

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan latar belakang, hasil penelitian yang relevan dan kerangka berfikir di atas penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

  1. Proses belajar matematika operasi hitung campuran bilangan bulat kelas VI SD Negeri 2 Donosari, diduga dapat meningkat melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
  2. Hasil belajar matematika tentang operasi hitung campuran bilangan bulat kelas VI SD Negeri 2 Donosari, diduga dapat meningkat melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Indikator dan Kriteria Keberhasilan

Indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran adalah ketuntasan belajar siswa. Siswa dinyatakan tuntas belajar jika telah mencapai tingkat pemahaman materi pelajaran 75% ke atas, yang ditunjukkan dengan perolehan nilai tes formatif 75 atau lebih (sesuai KKM).

Kriteria yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut :

  1. Proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil jika 75% dari jumlah siswa tuntas belajar.
  2. Proses perbaikan pembelajaran dinyatakan dapat meningkatkan hasil belajar siswa jika 75% dari jumlah siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran baik secara individu, kelompok, maupun klasikal.

METODE PENELITIAN

Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di sekolah yang letaknya di kaki gunung di kecamatan Sruweng Kabupaten Kebumen. Dari jalan raya masuk kurang lebih 5 kilometer.

Waktu Tiap Siklus

Siklus I dilaksanakan dalam 2 pertemuan, tiap pertemuan berlangsung selama 2 jam pelajaran (2 x 35 menit) yaitu pada tanggal 17 November 2017 dan 20 November 2017. Sedangkan siklus II dilaksanakan pada tanggal 24 November 2017 dan 27 November 2017.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 2 Donosari Tahun Pelajaran 2017/2018 yang berjumlah 9 siswa terdiri dari 6 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan

Prosedur Penelitian

Pada penelitian ini peneliti menggunakan rancangan penelitian atau desain penelitian siklus yaitu yang dirancang oleh Kemmis dan Mc Taggart dalam Kasbolah (2001: 63) dengan spiral refleksi diri yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi. Pada penelitian ini direncanakan dua siklus yaitu siklus I dan siklus II, dalam siklus II merupakan penyempurnaan dari siklus I.

Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan oleh peneliti yaitu jenis data kuantitatif dan data kualitatif. Sedangkan sumber data penelitian ini diperoleh dari siswa dan guru.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi: pengamatan, wawancara atau diskusi, kajian dokumen, angket, dan tes. Data yang diperoleh dari data kuantitatif yaitu (1) data tentang hasil belajar siswa dengan memberikan tes kepada siswa (2) data tentang penilaian kegiatan siswa dengan menggunakan lembar penilaian kegiatan siswa pada setiap kelompok belajar.

Analisis Data

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data-data yang telah terkumpul, untuk data kuantitatif dengan teknik deskriptif komparatif (statistik deskriptif komparatif). Yaitu dengan membandingkan hasil sebelum penelitian dengan akhir setiap siklus. Sedangkan data kualitatif digunakann teknik analisis kritis, untuk mengungkap kelemahan dan kelebihan kinerja siswa dan guru dalam proses pembelajaran berdasarkan kinerja yang telah ditetapkan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

No Mata Pelajaran Nilai Rata-Rata
1 Pendidikan Agama 79
2 PKn 74
3 Bahasa Indonesia 75
4 Matematika 68
5 IPA 74
6 Ilmu Pengetahuan Sosial 72
7 Penjaskes 80
8 Kertangkes 76
9 Muatan Lokal 71
Rata-Rata Kelas 74

Tabel 2: Nilai rata-rata kelas V Semester 2 Tahun pelajaran 2016/2017

Berdasarkan tabel di atas mata pelajaran matematika menempati urutan rata-rata nilai terendah. Sudah selayaknya peneliti tertarik melakukan penelitian mata pelajaran matematika dengan harapan akan dapat memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar peserta didik sehingga penelitian berdampak positif untuk meningkatkan proses dan hasil belajar matematika.

Perencanaan Penelitian

Berikut ini adalah hasil tes studi awal yang diberikan guru sesuai dengan materi operasi hitung campuran bilangan bulat. Peserta didik diberi tugas mengerjakan tugas matematika yang telah disediakan, dengan hasil tes studi awal sebagai berikut:

No Nama Siswa Hasil
1 Dimas Candra Irawan 20
2 Rachmat Waluyo 20
3 Adi Sulistiyo 20
4 Asti Maharani Sakina 70
5 Cahya Vina Ulinnuha 60
6 Edwi Fanesia Maharani 80
7 Rifqi Rinaldi 20
8 Ronal Fatoni 40
9 Waluyo 40
Rata-rata Nilai 41

Tabel 3:Nilai studi awal matematika sebelum dilaskanakan tindakan

Berdasarkan hasil nilai tes studi awal terdapat 2 peserta didik atau 22 % yang tuntas, berarti dari 9 peserta didik terdapat 7 peserta didik yang belum tuntas atau 78 %. Sedangkan nilai rata-rata kelas adalah 41, berarti guru belum berhasil dalam mengajar karena kriteria keberhasilan yang diharapkan nilai rata-rata kelas minimal 68. Berdasarkan data tersebut sudah selayaknya peneliti meneruskan penelitian tindakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran matematika kompetensi dasar operasi hitung campuran bilangan bulat.

Pembahasan Setiap Siklus

Siklus I

Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

No. Nama Siswa Nilai Keterangan
1 Dimas Candra Irawan 50 Belum Tuntas
2 Rachmat Waluyo 40 Belum Tuntas
3 Adi Sulistiyo 40 Belum tuntas
4 Asti Maharani Sakina 80 Tuntas
5 Cahya Vina Ulinnuha 70 Tuntas
6 Edwi Fanesia Maharani 90 Tuntas
7 Rifqi Rinaldi 60 Belum Tuntas
8 Ronal Fatoni 70 Tuntas
9 Waluyo 70 Tuntas
Jumlah 570
Rata-rata 63
Nilai Tertinggi 90
Nilai Terendah 40

Tabel 4 Hasil Evaluasi Siklus I

Dari tabel di atas, hasil evaluasi peserta didik sudah mencapai rata-rata kelas 63 dari 9 siswa dan mencapai ketuntasan 5 peserta didik. Dengan nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 40.

Siklus II

Analisis hasil evaluasi pada siklus II, peneliti sajikan pada tabel berikut ini.

No. Nama Siswa Nilai Keterangan
1 Dimas Candra Irawan 70 Tuntas
2 Rachmat Waluyo 50 Belum Tuntas
3 Adi Sulistiyo 70 Tuntas
4 Asti Maharani Sakina 90 Tuntas
5 Cahya Vina Ulinnuha 80 Tuntas
6 Edwi Fanesia Maharani 100 Tuntas
7 Rifqi Rinaldi 70 Tuntas
8 Ronal Fatoni 80 Tuntas
9 Waluyo 80 Tuntas
Jumlah 690
Rata-rata 77
Nilai Tertinggi 100
Nilai Terendah 50

Tabel 5 Hasil Evaluasi Siklus II

Pada tabel 4 jumlah nilai pada siklus II sebesar 690 dengan rata-rata kelas 77 dari 9 jumlah peserta didik. Ketuntasan belajar siswa mencapai hasil yang maksimal karena dari 9 peserta didik dapat mencapai ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa. Satu peserta didik yang belum tuntas dikarenakan kemampuan akademiknya dibawah normal.

Sedangkan hasil analisis evaluasi pada perbaikan pembelajaran tiap siklus, peneliti sajikan dalam tabel berikut ini.

No. Nama Siswa Studi Awal Siklus Keterangan
I II
1 Dimas Candra Irawan 20 50 70
2 Rachmat Waluyo 20 40 50
3 Adi Sulistiyo 20 40 70
4 Asti Maharani Sakina 70 80 90
5 Cahya Vina Ulinnuha 60 70 80
6 Edwi Fanesia Maharani 80 90 100
7 Rifqi Rinaldi 20 60 70
8 Ronal Fatoni 40 70 80
9 Waluyo 40 70 80
Jumlah 370 570 690
Rata-rata 41 63 77

Tabel 6 Rekapitulasi Nilai Hasil Evaluasi pada Studi Awal hingga Siklus II

Dari tabel di atas dapat diperoleh data siswa yang tuntas belajar sebagai berikut :

  1. Pada studi awal, siswa yang tuntas sebanyak 2 siswa dari 9 siswa dengan nilai rata-rata kelas 41.
  2. Pada siklus I, siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa dari 9 siswa dengan nilai rata-rata kelas 63.
  3. Pada siklus II, siswa yang tuntas sebanyak 8 siswa dari 9 siswa dengan nilai rata-rata kelas 77.

Sedangkan siswa yang belum tuntas yaitu :

  1. Pada studi awal, siswa yang belum tuntas sebanyak 7 siswa dari 9 siswa.
  2. Pada siklus I, siswa yang belum tuntas sebanyak 4 siswa dari 9 siswa.
  3. Pada siklus II, siswa yang belum tuntas sebanyak 1 siswa dari 9 siswa.

Setelah dilakukan analisis terhadap data pada tabel diatas, bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap materi tentang operasi hitung campuran bilangan bulat menunjukkan kenaikan angka ketuntasan yang sangat signifikan. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

No Uraian Siswa yang Tuntas Siswa yang Belum Tuntas
Frekuensi % Frekuensi %
1. Studi Awal 2 22% 7 78%
2. Siklus I 5 56% 4 44%
3. Siklus II 8 89% 1 11%

Tabel 7 Persentase Ketuntasan Hasil Evaluasi Belajar Matematika

dari Studi Awal hingga Siklus II

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

    1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran berlangsung 2 siklus dan telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Siswa yang belum tuntas dalam pembelajaran matematika dari 9 peserta didik untuk mencapai KKM minimal memperoleh nilai 68 sebanyak 2 anak atau 11%, itupun karena memiliki kelainan karena intelegensinya rendah. Sedangkan siswa yang tuntas sebanyak 9 anak atau tingkat ketuntasan mencapai 89%. Berdasarkan perolehan nilai rata-rata kelas pada siklus ke dua mendapatkan hasil yang sangat memuaskan yakni mencapai 77 dari persyaratan keberhasilan rata-rata kelas minimal mencapai 68.
    2. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran matematika tentang operasi hitung campuran bilangan bulat dengan memperhatikan karakteristik, keunggulan dan kelemahan serta kondisi guru dan peserta didik sangat efektif karena dapat melibatkan keaktifan peserta didik secara optimal.
    3. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran matematika tentang operasi hitung campuran bilangan bulat baik aktivitas, interaksi, dan respon positif peserta didik dalam pembelajaran meningkat, sehingga hasil belajar peserta didik meningkat.

Saran

  1. Materi pembelajaran matematika tentang operasi hitung campuran bilangan bulat hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak serta disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada relevansinya dengan tingkatan kematangan berpikir peserta didik.
  2. Pelaksanaan pembelajaran akan berhasil jika guru mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang tepat dengan materi yang diajarkan, oleh karena itu pembelajaran matematika tentang operasi hitung campuran bilangan bulat dapat berhasil jika terjadi hubungan interaktif antara guru dan siswa.
  3. Guru sebelum melaksanakan pembelajaran hendaknya merencanakan pelaksanaan pembelajaran sesuai materi pembelajaran dengan mempertimbangkan penggunaan model pembelajaran dan media pembelajaran yang relevan.

BIO DATA PENULIS

Nama : Nurwendah, S.Pd.SD.

NIP : 19810610 200701 2 020

Unit Kerja : SD Negeri 2 Donosari

Daftar Pustaka

Anita Lie. 2008. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Asep Jihad dan Abdul Haris. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Etin Solihatin dan Raharjo. 2008. Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.

http://theorymethod.blogspot.co.id/2015/12/jenis-dan-sumber-data.htm

Kasihani Kasbolah. 2001. Penelitian Tindakan Kelas. Malang: Universitas Negeri Malang.

Lexi J. Moleong, 1995. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyono Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Slavin, Robert E. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Sugiyanto. 2008. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta. Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

By admin

You cannot copy content of this page