Iklan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SEMESTER II SD NEGERI BANJARSARI TAHUN PELAJARAN 2016/2017

Siti Maryamah,S.Pd.SD.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPS pokok bahasan mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masayarakat untuk siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari yang berjumlah 31 siswa. Metode pengumpulan data dilakukan melalui tes dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitataif dan deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pra-tindakan dan tiap siklus nilai rata-rata kelas mengalami peningkatan. Kriteria ketuntasan belajar dalam penelitian ini adalah 75% siswa mendapatkan nilai minimal sama dengan KKM yaitu 70. Pada pra-tindakan nilai rata-rata sebesar 62,7 dan ketuntasan belajar hanya mencapai 41,38%. Pada siklus I nilai rata-rata sebesar 72,5 dan ketuntasan belajar baru mencapai 72,41%. Pada siklus II nilai rata-rata sebesar 82,5 dan ketuntasan belajarnya mencapai 86,21%. Di lihat dari kriteria ketuntasan belajar, pembelajaran pada siklus II sudah dikatakan tuntas, sebab sebanyak 97% atau sudah mendapatkan nilai hasil belajar tuntas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pendekatan Konstektual pembelajaran IPS pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masayarakat untuk siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari bisa meningkatkan prestasi

Kata kunci: Pembelajaran IPS, pendekatannKonstektual, hasil belajar meningkat

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pendidikan bukanlah suatu hal yang statis atau tetap, melainkan suatu hal yang dinamis sehingga menuntut adanya suatu perubahan atau perbaikan secara terus-menerus. Untuk itu, dalam melakukan suatu perubahan yang besar tidak harus memulainya dari hal-hal yang besar pula tetapi lebih efektif jika dimulai dari hal-hal yang kecil. Salah satunya adalah dari ruang lingkup kecil dari pendidikan yakni sekolah yang terkait dengan proses pembelajaran.

Keberhasilan suatu pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain pendidik, peserta didik, dan metode pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan faktor yang penting dalam pembelajaran karena metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan dalam proses pembelajaran sehingga diperoleh hasil yang optimal (Sugihartono, 2007 : 81). Dalam pembelajaran terdapat berbagai jenis metode pembelajaran. Penggunaanya bersifat luwes tergantung beberapa faktor yang menentukan dipilihnya suatu metode, antara lain tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan kondisi yang ada dalam proses pembelajaran. Penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan situasi akan menunjang proses pembelajaran.

Oleh karena itu, guru yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap guru itu terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.

Batasan Masalah

Berdasarkan sejumlah masalah yang ada tersebut, tidak semua diteliti. Permasalahan dibatasi dan hanya difokuskan pada permasalahan upaya guru dalam meningkatkan hasil belajar IPS menggunakan pendekatan kontekstual pada siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari Kecamatan Ajibarang.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari Kecamatan Ajibarang ?”

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatan hasil belajar IPS melalui pendekatan kontekstual pada siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari Kecamatan Ajibarang.

KAJIAN TEORI

Deskripsi Teori

Tinjauan Tentang Hasil Belajar

Pengertian Belajar

Menurut Oemar Hamalik (2007: 20), belajar merupakan suatu proses, dan bukan hasil yang hendak dicapai semata. Proses itu sendiri berlangsung melalui serangkaian pengalaman, sehingga terjadi modifikasi yang telah dimiliki sebelumnya. Slameto (2003: 2) mengatakan belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari berbagai definisi tersebut penulis dapat menyimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

Pengertian Hasil Belajar

Menurut Purwanto (2008 : 45) hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil menunjuk pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional.

Hasil belajar menurut Nana Sudjana (2006 : 22) adalah “kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.”

Sedangkan Gagne (dalam Nana Sudjana: 2006:22) membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) keterampilan intelaktual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan motoris. Benyamin Bloom (dalam Nana Sudjana, 2006:22-23) mengkalsifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.

Tinjauan Tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) SD

Menurut Kurikulum 2006 IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD – SMP. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan ilmu sosial. Pada jenjang sekolah dasar, mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Menurut Djodjo Suradisastra (1991: 3-4), IPS merupakan kajian tentang manusia dan dunia sekelilingnya. Yang menjadi pokok kajian IPS ialah tentang hubungan antar manusia.

Ruang lingkup materi IPS kelas IV SD SD berdasarkan KTSP 2006 adalah : membaca dan menggambar peta lingkungan setempat., keragaman sosial dan budaya berdasarkan kenampakan alam, persebaran sumber daya alam dilingkungan setempat, menghargai keragaman suku bangsa dan budaya, menghargai peninggalan sejarah, semangat kepahlawanan dan cinta tanah air, kegiatan ekonomi dam pemanfaatan sumber daya alam, koperasi dan kesejahteraan rakyat, teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi, masalah-masalah sosial di lingkungan setempat.

Tinjauan Tentang Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual menurut Nurhadi (dalam Mansur Muslih, 2009 : 40 ) adalah konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antar pengatahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan ketrampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai masyrakat.

Pembelajaran kontekstual akan membuat siswa mampu memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dirasakan masuk akal sesuai dengan kerangka berfikir yang dimiliki siswa. Juga dapat mendorong agar siswa dapat menghubungkan pengetahuan awal mereka dengan materi yang sedang dipelajari.

Kerangka Berfikir

IPS merupakan salah satu mata pelajaran di SD kelas IV yang masih dianggap pelajaran sulit disebabkan oleh beberapa faktor yaitu 1) IPS merupakan pelajaran yang terus mengalami perkembangan 2) motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran IPS masih kurang 3) metode yang digunakan dalam pelajaran IPS kebanyakan masih konvensional yaitu melalui ceramah. Dari beberapa sebsb tersebut menyebabkan hasil belajar IPS di SD masih rendah.

Pendekatan Kontekstual merupakan salah satu cara yang dapat membawa pembelajaran menjadi suatu hal yang menyenangkan bagi anak dan sesuai dengan karakteristik siswa SD karena dalam pendekatan kontekstual anak belajar dari pengalamannya sendiri. Anak diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Dengan cara belajar yang seperti itu maka akan merubah anggapan terhadap pelajaran IPS yang membosankan berubah menjadi pelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan menantang siswa. Maka itulah sebabnya jika penggunaan Pendekatan Kontekstual pada pelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka berfikir di atas, dapat diajukan hipotesis tindakan sebagai berikut: ‘Penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari Kecamatan Ajibarang.”

METODOLOGI PENELITIAN.

Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kelas IV SD Negeri Banjarsari yang beralamat di JL. Desa Banjarsari Kecamatan ajibarang.

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan selama tiga bulan dari bulan Februari – Maret 2017 pada semester II tahun ajaran 2016/2017. Pelaksanaan Penelitian

Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari yang berjumlah 29 siswa, yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Peneliti memilih siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari.

Kriteria Keberhasilan

Indikator keberhasilan penelitian ini secara kualitatif ditandai dengan ada peningkatan aspek aktivitas/ partisipasi siswa dalam pembelajaran IPS dengan menerapkan Pendekatan Kontekstual pada setiap pertemuannya dan ketuntasan belajar siswa dikatakan tuntas apabila 75% dari jumlah total siswa dalam satu kelas telah mencapai ketuntasan belajar individu. Ketuntasan belajar individu yang telah ditetapkan SD Negeri Banjarsari untuk mata pelajaran IPS yakni jika nilai siswa ≥ 6,5.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Kondisi Awal Pra Tindakan

Dari hasil nilai ulangan harian didapatkan hasil bahwa masih banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM yaitu 6,5. Dari 29 siswa hanya 41,38% atau sekitar 12 siswa yang mendapat nilai di atas KKM, sedangkan sekitar 17 siswa belum mencapai ketuntasan. Nilai rata-rata pada ulangan harian adalah 5,71. Nilai rata-rata tersebut masih di bawah nilai kriteria ketuntasan minimun (KKM) mata pelajaran IPS yaitu 6,5.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas IV sebelum dilakukan tindakan masih rendah dan belun mencapai ketuntasan. Untuk itu perlu dilakukan tindakan agar para siswa mendapatkan hasil minimal KKM.

Hasil Penelitian Siklus I

. Hasil tes pada siklus I digunakan sebagai upaya untuk mengetahui seberapa jauh siswa dapat memahami materi Koperasi setelah pembelajaran dilakukan dengan Pendekatan Kontekstual. Sehingga data hasil nilai tes pada siklus I dapat dilihat pada lampiran 2 dan secara sederhana dapat terlihat dalam tabel dibawah ini:

Tabel Hasil Belajar IPS Siklus I

No Klasifikasi Ketuntasan Siklus I
Jumlah Persen
1. Tuntas 21 72,41%
2. Belum Tuntas 8 21,59%
Rata-rata 6,86

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan dari hasil tes siklus I ada 21 siswa yang tuntas dan 8 orang siswa yang belum tuntas. Hal ini berarti sebanyak 20 siswa atau 72,41% dari seluruh siswa yang mendapatkan nilai ≥6,5. Adapun skor total nilai siswa pada siklus I yaitu 199 sehingga nilai rata-rata hasil tesnya yaitu 6,86.

Dari hasil tes siklus I menunjukkan bahwa setelah pembelajaran IPS dilakukan dengan pendekatan kontekstual terjadi peningkatan jumlah persentase siswa yang tuntas KKM dari sebelum dilakukan tindakan dan sesudah dilakukan tindakan pada siklus I. Secara sederhana dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Hasil Penelitian Siklus II

Hasil tes pada siklus II digunakan sebagai upaya untuk mengetahui seberapa jauh peningkatan siswa dalam memahami materi Koperasi setelah pembelajaran dilakukan dengan pendekatan kontekstual. Sehingga data hasil nilai tes pada siklus II dapat dilihat pada lampiran 2 dan secara sederhana dapat terlihat dalam tabel dibawah ini:

Tabel Hasil Belajar IPS Siklus II

No Klasifikasi Ketuntasan Siklus I
Jumlah Persen
1. Tuntas 25 86,21%
2. Belum Tuntas 4 13,79%
Rata-rata 7,60

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan dari hasil tes siklus II ada 25 siswa yang tuntas dan 4 orang siswa yang belum tuntas. Hal ini berarti sebanyak 25 siswa atau 86,21% dari seluruh siswa mendapatkan nilai ≥65. Adapun skor total nilai siswa pada siklus I yaitu 220,5 sehingga nilai rata-rata hasil tesnya yaitu 7,60.

Dari hasil tes siklus II menunjukkan bahwa setelah pembelajaran IPS dilakukan dengan pendekatan kontekstual terjadi peningkatan jumlah persentase siswa yang tuntas KKM dari sebelum dilakukan tindakan dan sesudah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II. Secara sederhana dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:

Pembahasan

Penelitian dilakukan untuk menemukan solusi untuk meningkatkan pemahaman konsep IPS dan mendapatkan hasil peningkatan berupa peningkatan hasil belajar IPS khususnya pada siswa kelas IV.

Berdasarkan observasi dan analisa hasil pada setiap siklus, pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual mempunyai dampak yang positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dan keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran. Peningkatan hasil belajar dipengaruhi oleh pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata anak, sehingga anak akan paham dan mudah menerima materi yang sedang dipelajari. Dengan menerapkan pendektatan kontekstual dalam pembelajaran siswa akan mengalami pembelajaran lebih bermakna, dan hasilnya siswa akan mendapatkan prestasi belajar yang baik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dikemukakan dalam Bab IV, kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian ini adalah:

  1. Penerapan Pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Banjarsari UPK Ajibarang khususnya pada mata pelajaran IPS.
  2. Penerapan Pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran yang ditandai dengan aktivitas siswa yang meningkat dibandingkan sebelum diberi tindakan.

Saran

  1. Guru perlu melakukan refleksi setelah pembelajaran sehingga mengetahui kekurangan dan mau memperbaiki kualitas pembelajaran.
  2. .
  3. Sekolah perlu memberikan motivasi kepada guru untuk selalu memberikan pembelajaran yang berkualitas.
  4. Dalam melakukan penelitian harus dipersiapkan secara matang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

A.M Sardiman. (2007). Interaksi dan motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

BSNP. (2008). KTSP Model Silabus Kelas IV. Jakarta: Depdiknas Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Djodjo Suradisastra. (1991). Pendidikan IPS 3. Jakarta : Depdikbud.

Fakih Samlawi, & Bunyamin Maftuh,. (1998). Konsep Dasar IPS. Jakarta: Depdikbud.

Hisnu P Tantya. (2008). Ilmu Pengetahuan sosial Untuk SD/MI Kelas 4. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.

Iqbal Hasan. (2004). Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta : Bumi Aksara.

Kasihani Kasbolah. (1998). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Depdikbud.

Mansur Muslich. (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.

M. Asrori, dkk. (2009). Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan kompetensi Profesionalisme Guru. Yogyakarta: Multi Pressindo.

Nana Sudjana. 2006. Penilaian Hasil Belajar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Ngalim Purwanto. (2006). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.

Oemar Hamalik,. (2007). Metoda Belajar dan Kesulitan-kesulitan Belajar. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Suharjo. (2006). Mengenal pendidikan Sekolah Dasar Teori dan Praktek. Jakarta: Depdiknas.

Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian Suatau Pendekatan Praktik. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Suwarsih Madya (2001). Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.

Udin Syaefudin Sa’ud. (2009). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Wina Sanjaya. (2006). Pembelajaran dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana.

Zaenal Aqib. (2009). Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru. Bandung: Yrama Widya.

Nama : Siti Maryamah,S.Pd.SD.

NIP : 196811232000122001

Unit Kerja : SD Negeri Banjarsari

You cannot copy content of this page