Iklan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN MEDIA LCD PADA SISWA KELAS V SD NEGERI TEGALREJA 01 KECAMATAN BANJARHARJA KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2019/2020

Diana Rosita, S.Pd.

Abstrak

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan di kelas V SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD ddengan media LCD. Laporan PTK ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hasil penelitian dan pembahasannya.Dalam kegiatan ini peneliti melaksanakan pembelajaran Matematika Kompetensi Penjumlahan Pecahan,, di Kelas V SD Negeri Tegalreja 01 dengan dua siklus perbaikan yang masing-masing dilaksanakan selama 4 jam pelajaran. Pada siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini dilihat dari hasil refleksi siklus pertama pertemuan ke-1. Ketercapaian rata-rata nilai hanya mencapai 62,00, ketuntaan belajar hanya mencapai 60 %. Hanya 16 siswa yang tuntas dari 26 siswa kelas V SD Negeri Tegalreja 01.Setelah peneliti melaksanakan siklus II , peneliti merasa cukup berhasil dalam pembelajaran, hal ini terlihat dari refleksi siklus, hasil analisis nilai rata-rata mencapai 76,00. Ini sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 60. Dan siswa yang tuntas 24 (92%) dari 26 siswa SD Negeri Tegalreja 01.Dengan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media LCD maka hasil pembelajaran Matematika Kompetensi Penjumlahan Pecahan,dapat mencapai hasil yang maksimal.Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Tegalreja 01 dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, STAD,LCD,Aaktivitas Belajar, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Matematika adalah salah satu dasar penguasaan ilmu dan teknologi, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya. Salah satu ciri utama matematika adalah penggunaan simbol-simbol. Ada dua hal yang mendukung arah penguasaan matematika untuk anak didik sekarang ini, yaitu: (1) Matematika diperlukan sebagai alat bantu untuk memahami terjadinya peristiwa-peristiwa alam dan sosial, (2) Matematika telah memiliki semua kegiatan manusia, baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan profesional ( Abdullah,2008).

Berbagai model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada umumnya untuk membantu siswa agar mampu memahami  dan mengerti apa yang dipelajarinya. Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar siswa, salah satu model pembelajaran  yang menjadi alternatif adalah dengan menggunakan atau menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran.

Dari hasil yang di dapatkan pada tahun pelajaran 2019/2020 bahwa nilai matematika peserta didik kelas V SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes, masih dibawah KKM yang telah ditentukan, ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas tes awal yaitu 56,00. Karena metode dan teknik yang digunakan cenderung mototon kepada murid, dimana guru aktif menyampaikan informasi dan murid pasif menerima. Kesempatan bagi murid untuk melakukan refleksi melalui interaksi antara murid dengan murid, dan murid dengan guru kurang dikembangkan. Dengan pembelajaran tersebut murid tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah, tetapi mereka menjadi sangat tergantung pada guru, tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien.  Diduga salah satu faktor yang menyebabkan kondisi tersebut adalah kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan sebuah masalah sebagai berikut :”Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan pecahan siswa kelas V SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja Kabuipaten Brebes?”

Agar sasaran penelitian ini dapat tercapai, maka dalam mengatasi permasalahan yang telah dikemukakan di atas, perlu dilakukan suatu proses tindakan dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada siswa kelas V SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes.

Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan pecahan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes.

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Bagi siswa : Hasil belajar siswa meningkat khususnya pada materi penjuumlahan pecahan  karena menjadikan matematika sebagai aktivitas sehari-hari dan tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan.

Bagi guru : Sebagai masukan, strategi dan solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Bagi sekolah : Sebagai bahan pertimbangan agar model pembelajaran ini diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas pada semua bidang studi, mengingat model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini sejalan dengan KTSP

METODE PENELITIAN.

Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja, Kabupaten Brebes, dengan subjek penelitian adalah Siswa kelas V dengan jumlah siswa 26 orang yang   terdiri dari : laki-laki 8  orang dan perempuan  18 orang pada semester ganjil tahun ajaran 2019/2020.

Faktor yang  Diteliti

Hal-hal yang ingin dikumpulkan sebagai data dasar yang selanjutnya DIANA ROSITAlisis adalah:

Faktor input : Melihat kehadiran, kerjasama siswa, keaktifan siswa serta kemampuan siswa dalam menjawab soal pada materi penjumlahan pecahan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD

Faktor Proses : Melihat bagaimana proses belajar mengajar melalui model pembelajaran tipe STAD baik itu interaksi antara siswa dan guru maupun antara siswa dengan siswa lainnya, mengecek pemahaman mengenai materi yang telah diberikan dan memberikan pertanyaan berupa soal-soal pada akhir pertemuan mengenai materi yang telah diberikan dan dijawab oleh siswa serta adanya umpan balik agar siswa benar-benar mengerti dan memahami apa yang telah dipelajari dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Faktor Output : Melihat bagaimana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran cooperatipe STAD pada pelajaran matematika mampu meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari setiap siklus yang dilakukan.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researh). Tindakan yang diberikan adalah proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan, yaitu (a) perencanaan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan,       (c) observasi dan evaluasi dan (d) refleksi

Rencana Tindakan

Siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dan Siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Untuk dapat mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas V SD maka sebelumnya diberikan tes awal dan hasilnya dijadikan sebagai skor dasar. Setelah itu barulah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Secara rinci kedua siklus tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Siklus I

Sesuai dengan kriteria penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), maka pelaksanaan siklus I ini dibagi 2 tahap yaitu : (a) perencanaan tindakan atau rancangan tindakan (planning), (b) pelaksanaan tindakan (acting),  (c) observasi dan evaluasi dan (d) refleksi (reflecting).

Tahap perencanaan

Tahap perencanaan yang dilakukan pada siklus I ini adalah sebagai berikut:

Menelaah kurikulum SD kelas V  pada mata pelajaran matematika.

Membuat model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Menyatakan kegiatan atau topik utama pembelajaran yang diberikan, berupa standar kompetensi, kompetensi dasar, kelas/semester dan alokasi waktu.
  • Menyatakan tujuan umum pembelajaran (indikator pencapaian hasil belajar).
  • Merinci media untuk mendukung pembelajaran atau topik tersebut. Dalam hal ini media yang akan digunakan adalah media LCD yang isinya mencakup materi yang akan disajikan.
  • Membuat pedoman observasi untuk merekam proses pembelajaran dikelas.
  • Membuat soal-soal yang disusun berdasarkan materi –materi yang telah diajarkan.

Tahap tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah  kegiatan belajar mengajar dan mengimplementasikan soal-soal yang telah dipersiapkan, baik dalam proses belajar mengajar di kelas maupun pada pemberian tugas kurikuler.

Gambaran umum yang dilakukan adalah :

  • Pada awal setiap pertemuan, hal yang pertama dilakukan adalah memberikan penjelasan singkat tentang materi  yang dipelajari dengan mengkaitkan dengan kehidupan nyata siswa atau kehidupan sehari-hari serta memperlihatkan gambar yang ada di LCD.
  • Setelah guru menjelaskan, siswa diberikan tugas sesuai dengan bahan yang telah dikembangkan, baik secara individual maupun secara kelompok. Pada pembentukan kelompok siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6-7  orang yang dibagi berdasarkan nomor urut absen.
  • Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting seperti kehadiran siswa, keaktifan dalam  mengerjakan tugas, bertanya, memberikan tanggapan, serta keseriusan dalam kerjasama dengan kelompoknya.

Memberi tes akhir siklus

Melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa, dengan berbagai cara seperti pengukuran proses bekerja, hasil karya, penampilan, PR, kuis, hasil tes tulis dan demonstrasi.

Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada tahap penulis melakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Observasi dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data hasil observasi yang meliputi kehadiran siswa, kerjasama, keaktifan siswa baik dalam bertanya atau memberi tanggapan, menjawab pertanyaan guru atau teman, mengerjakan tugas, tampil menyelesaikan soal latihan di papan tulis dengan benar, siswa yang melakukan kegiatan diluar proses belajar mengajar, siswa yang memerlukan bimbingan dalam mengerjakan soal,  siswa yang meminta untuk dijelaskan kembali konsep yang telah dibahas dan kerjasama dengan kelompoknya.

Evaluasi selanjutnya dilaksanakan pada akhir siklus I dengan memberikan tes tertulis. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar siswa terhadap materi yang telah diperoleh selama siklus I berlangsung.

Tahap Refleksi

Data yang diperoleh dari hasil observasi dan evaluasi dikumpulkan dan DIANA ROSITAlisis. Dari analisis tersebut peneliti merekfleksi diri dan melihat kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah berhasil atau tidak. Adapun hal-hal yang sudah baik agar tetap dipertahankan sedangakan yang belum berhasil ditindaklanjuti pada siklus berikutnya.

SIKLUS II

Siklus dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Pada dasarnya hal yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengulangi tahap-tahap yang dilaksanakan pada siklus I. Disamping itu akan dilaksankan juga sejumlah rencana baru untuk memperbaiki, merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dari hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

  • Data mengenai tingkat hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran setelah diadakan tindakan, dikumpulkan dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus dalam bentuk ulangan harian.
  • Data mengenai proses belajar mengajar dalam hal kehadiran dan keaktifan siswa untuk tiap pertemuaan diambil dengan menggunakan lembar observasi.

 Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan DIANA ROSITAlisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Untuk analisis secara kuantitatif digunakan statistik deskripsi yaitu skor rata-rata dan persentase. Selain itu ditentukan pula standar deviasi, tabel frekuensi, nilai minimum, dan maksimum yang diperoleh dari setiap siklus. Adapun  untuk keperluan analisis penguasaan siswa digunakan  standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal ) yaitu 60

Untuk menganalisis data hasil observasi digunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Kriteria penilaian  pada data observasi yaitu kehadiran, menanggapi pertanyaan guru,  pertanyaan teman, mengajukan pertanyaan, kerjasama dengan kelompok, membuat kesimpulan,  dan mengumpulkan tugas.

Indikator Kinerja

Kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes terhadap bahan ajar setelah diberikan pembelajaran dengan menggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, baik ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus maupun dari data hasil observasi dalam mengikuti proses pembelajaran

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis kuantitatif

Analisis Deskriptif Hasil Belajar Siswa Pada Tes Awal Siklus :

Siswa Yang Memperoleh Nilai Kategori Jumlah Siswa Prosentase
< 60 Belum Tuntas 16 64 %
≥ 60 Tuntas 9 36 %
Nilai Rata-Rata 56 56 %

Pada tabel 4.1. menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Rata-rata skor yang dicapai siswa tidak mencapai nilai KKM yaitu 60. Prosentase ketuntasan belajar hanya mencapai 36 %.

Analisis Deskriptif Hasil Belajar Siswa Pada Tes Siklus I

Siswa Yang Memperoleh Nilai Kategori Jumlah Siswa Prosentase
< 60 Belum Tuntas 10 40 %
≥ 60 Tuntas 16 60 %
Nilai Rata-Rata 62 62 %

Tabel di atas menunjukkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tabel tersebut mengindikasikan adanya peningkatan dimana pada kondisi awal awal rata-rata skor 56,00 menjadi 62,00 , prosentase ketuntasan belajar meningkat dari 36 % di kondisi awal menjadi 60 % di siklus I.

Analisis Deskriptif Hasil Belajar Siswa Pada Tes Siklus II :

Siswa Yang Memperoleh Nilai Kategori Jumlah Siswa Prosentase
< 60 Belum Tuntas 2 8 %
≥ 60 Tuntas 24 92 %
Nilai Rata-Rata 76 76 %

Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan dibanding pada siklus I yang rata-rata skornya 62,00 menjadi 76,00  pada siklus II. Prosentase ketuntasan belajarpun meningkat secara signifikan mulai dari 36 % di kondisi awal menjadi 60 % di siklus I, dan 92 % disiklus II.

Analisis Kualitatif

Refleksi siklus I

Pada siklus I ini apa yang ingin dicapai oleh peneliti telah tercapai, misalnya meningkatnya rata-rata hasil belajar siswa terhadap matematika , tapi masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya.

Adapun hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus II antara lain :

  • Pada siklus I siswa dikelompokkan menurut absen, ternyata nilainya tidak optimal sehingga pada siklus II pengelompokan diubah berdasarkan hasil tes siklus I. Siswa tetap dibagi dalam 4 kelompok dan pada setiap kelompok terdapat siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah.
  • Pada siklus I beberapa siswa belum menguasai cara menyamakan penyebut dengan KPK dan pecahan senilai, sehingga pada siklus II materi itulah yang akan mendapat penekanan.

Refleksi siklus II

Siklus II terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan dengan materi penjumlahan pecahan campuran yang berpenyebut sama dan beda dengan  mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya. Pada siklus ini penulis menekankan hal-hal yang perlu diperbaiki seperti cara menyamakan penyebut dengan menggunakan KPK dan pecahan senilai, kemudian penulis menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut.

Pada pertemuan pertama peneliti menjelaskan materi disajikan diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya, kemudian menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar siswa mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut. Setelah itu penulis menjelaskan materi secara singkat dan mengaitkannya dengan contoh benda yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dan mengelompokkan siswa dan membagikan LKS untuk setiap kelompok. Kemudian setelah itu diberikan kuis dan dikerjakan secara individu, kemudian evaluasi, menyimpulkan materi, memberikan penguatan  .

Pada siklus II ini, pada umumnya siswa lebih bersemangat lagi dengan model pembelajaran dengan cara berkelompok sehingga siswa dapat saling berdiskusi dan bertukar pikiran dalam memahami materi dan memecahkan atau menyelesaikan soal matematika.

Pada siklus II ini apa yang ingin dicapai oleh peneliti tercapai. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata hasil belajar siswa.

Perubahan Sikap Siswa

Disamping terjadinya peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II, tercatat  pula sejumlah perubahan sikap yang terjadi pada siswa. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif dan dicatat oleh peneliti dalam lembar observasi tiap siklus. Adapun perubahan-perubahan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  • Pada siklus I kehadiran siswa sudah bagus begitu juga pada siklu II.
  • Pada siklus I siswa masih malu-malu dalam bertanya kepada guru tentang masalah yang terkait dengan apa yang disajikan guru sedangkan pada siklus II siswa sudah berani untuk bertanya guru tentang masalah yang terkait dengan apa yang disajikan guru.
  • Pada siklus I interaksi siswa dengan sumber belajar/media sudah baik sedangkan pada siklus II interaksi siswa dengan sumber belajar/media jauh lebih baik dari siklus I.
  • Pada siklus I semua siswa aktif melakukan kegiatan fisik dan mental (berpikir), begitu juga pada siklus II.
  • Pada siklus I ketuntasan belajar siswa meningkat, itu dapat dilihat dari nilai rata-rata siswa pada siklus I 62,00 menjadi 76,00 pada siklus II.
  • Peneliti menyadari bahwa untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar matematika perlu dirancang model pembelajaran yang sesuai dengan situasi keadaan siswa, yang terpenting juga adalah membelajarkan siswa antusias, keberanian mengungkapkan gagasan, ide dan pemikiran serta meningkatkan hasil belajar matematika. Adanya peningkatan hasil belajar matematika pada siklus II tersebut menunjukkan bahwa banyak kemajuan yang dicapai oleh siswa setelah dilaksanakan pembelajaran model kooperatif tipe STAD.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan di depan , penulis menarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mata pelajaran  metematika pada materi penjumlahan pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Kesimpulan ini diambil setelah melihat data sebagai berikut:

  • Pada awal siklus atau sebelum dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa adalah 56,00. Sementara skor ideal yang mungkin dicapai siswa adalah 100,00.
  • Pada siklus I atau setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa pada pokok bahasan penjumlahan pecahan biasa yang berpenyebut sama dan beda adalah 62,00 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,00.
  • Pada siklus II atau setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar siswa pada pokok bahasan penjumlahan pecahan campuran berpenyebut sama dan beda adalah 76,00 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,00.

SARAN

Adapun saran-saran yang penulis ajukan setelah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut:

  • Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika, diharapkan guru menerapkan metode mengajar yang mudah diterima oleh siswa.
  • Diharapkan kepada guru dalam memberikan soal-soal latihan kepada siswa, hendaknya soal-soal tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga siswa merasa bahwa matematika itu memang sangat penting dalam kehidupan mereka.
  • Kepada pihak sekolah agar memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada disekolah. Khusus untuk buku-buku yang berkaitan dengan matematika lebih diperhatikan lagi,  demikian pula pengadaan alat peraga yang sangat membantu siswa dalam memahami pelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan.(2007). Standar Isi (Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Jakarta : Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Departemen Pendidikan Nasional RI (2007). Standar kompetensi dankompetensi dasar tingkat SD/MI. Jakarata: Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dr. Rusman, M.Pd. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Handoko, Tri, (2006). Terampil Matematika 6 untuk Kelas 6 SD. Jakarta :Yudhistira

Panitia Serifikasi Guru Rayon 112. (2012). Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Suparno, Yunus Muhammad (2003). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta:Universitas Terbuka.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Bandung : Kencana.

Wardani I.G.A.K, dkk.(2006). Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta :Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K. (2007) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas

Terbuka

BIODATA PENELITI

Nama : Diana Rosita, S.Pd.

NIP : 19740429 199903 2 003

Pangkat/Gol Ruang : Pembina IV/ A

Jabatan : Guru Kelas

Unit Kerja : SD Negeri Tegalreja 01 Kecamatan Banjarharja Kabupaten Brebes

You cannot copy content of this page