Iklan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI PENJUMLAHAN PECAHAN MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN MEDIA LCD PADA PESERTA DIDIK KELAS V SD NEGERI SLATRI 01 KECAMATAN LARANGAN KABUPATEN BREBES TAHUN PELAJARAN 2016/ 2017

ST. Farhatun, S.Pd.

(Guru SD Negeri Slatri 01)

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran matematika materi penjumlahan pecahan di kelas V SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes melalui penerapan pembelajaran kooperatif tipe STAD ddengan media LCD. PTK ini menyajikan hasil penelitian mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hasil penelitian serta pembahasannya.

Dalam kegiatan ini peneliti melaksanakan pembelajaran Matematika Kompetensi Penjumlahan Pecahan,, di Kelas V SD Negeri Slatri 01 dengan dua siklus perbaikan yang masing-masing dilaksanakan selama 4 jam pelajaran. Pada siklus pertama hasil yang dicapai masih kurang maksimal ini dilihat dari hasil refleksi siklus pertama pertemuan ke-1. Ketercapaian rata-rata nilai hanya mencapai 63,00, ketuntaan belajar hanya mencapai 60%. Hanya 16 peserta didik yang tuntas dari 39 peserta didik kelas V SD Negeri Slatri 01 yang terdiri dari 19 peserta didik laki-laki dan 20 peserta didik perempuan.

Setelah peneliti melaksanakan siklus II , peneliti merasa cukup berhasil dalam pembelajaran, hal ini terlihat dari refleksi siklus, hasil analisis nilai rata-rata mencapai 76,00. Ini sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 60. Dan peserta didik yang tuntas 24 (92%) dari 39 peserta didik SD Negeri Slatri 01.Dengan dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media LCD maka hasil pembelajaran Matematika Kompetensi Penjumlahan Pecahan,dapat mencapai hasil yang maksimal.

Rekomendasi atau saran peneliti berharap agar hasil penelitian ini dijadikan bahan referensi untuk memacu meningkatkan mutu pendidikan khususnya guru-guru SD Negeri Slatri 01 dan umumnya semua kalangan guru, sehingga kinerja serta hasilnya dapat mencapai apa yang diharapkan.

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif, STAD,LCD,Aaktivitas Belajar, Hasil Belajar

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Matematika adalah salah satu dasar penguasaan ilmu dan teknologi, baik aspek terapannya maupun aspek penalarannya. Salah satu ciri utama matematika adalah penggunaan simbol-simbol. Ada dua hal yang mendukung arah penguasaan matematika untuk anak didik sekarang ini, yaitu: (1) Matematika diperlukan sebagai alat bantu untuk memahami terjadinya peristiwa-peristiwa alam dan sosial, (2) Matematika telah memiliki semua kegiatan manusia, baik untuk keperluan sehari-hari maupun keperluan profesional (Abdullah,2008).

Berbagai model pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru pada umumnya untuk membantu peserta didik agar mampu memahami  dan mengerti apa yang dipelajarinya. Sebagai upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik, salah satu model pembelajaran  yang menjadi alternatif adalah dengan menggunakan atau menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana peserta didik belajar dalam kelompok kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerjasama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran.

Dari hasil yang di dapatkan pada tahun pelajaran 2016/ 2017 bahwa nilai matematika peserta didik kelas V SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes, masih dibawah KKM yang telah ditentukan, ini dapat dilihat dari nilai rata-rata kelas tes awal yaitu 56,00. Karena metode dan teknik yang digunakan cenderung mototon kepada murid, dimana guru aktif menyampaikan informasi dan murid pasif menerima. Kesempatan bagi murid untuk melakukan refleksi melalui interaksi antara murid dengan murid, dan murid dengan guru kurang dikembangkan. Dengan pembelajaran tersebut murid tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah, tetapi mereka menjadi sangat tergantung pada guru, tidak terbiasa melihat alternatif lain yang mungkin dapat dipakai menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien.  Diduga salah satu faktor yang menyebabkan kondisi tersebut adalah kurang tepatnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan sebuah masalah sebagai berikut :”Apakah model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi penjumlahan pecahan peserta didik kelas V SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan Kabuipaten Brebes?”

Agar sasaran penelitian ini dapat tercapai, maka dalam mengatasi permasalahan yang telah dikemukakan di atas, perlu dilakukan suatu proses tindakan dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD pada peserta didik kelas V SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.

Berdasarkan permasalahan di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi penjumlahan pecahan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD di kelas V SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Bagi peserta didik : Hasil belajar peserta didik meningkat khususnya pada materi penjuumlahan pecahan  karena menjadikan matematika sebagai aktivitas sehari-hari dan tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan.

Bagi guru : Sebagai masukan, strategi dan solusi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Bagi sekolah : Sebagai bahan pertimbangan agar model pembelajaran ini diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas pada semua bidang studi, mengingat model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini sejalan dengan KTSP

METODE PENELITIAN.

Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, dengan subjek penelitian adalah Peserta didik kelas V dengan jumlah peserta didik 39 orang yang   terdiri dari : laki-laki 19 orang dan perempuan 20 orang pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2016/ 2017.

Faktor yang  Diteliti

Hal-hal yang ingin dikumpulkan sebagai data dasar yang selanjutnya dianalisis adalah:

  1. Faktor input : Melihat kehadiran, kerjasama peserta didik, keaktifan peserta didik serta kemampuan peserta didik dalam menjawab soal pada materi penjumlahan pecahan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
  2. Faktor Proses : Melihat bagaimana proses belajar mengajar melalui model pembelajaran tipe STAD baik itu interaksi antara peserta didik dan guru maupun antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, mengecek pemahaman mengenai materi yang telah diberikan dan memberikan pertanyaan berupa soal-soal pada akhir pertemuan mengenai materi yang telah diberikan dan dijawab oleh peserta didik serta adanya umpan balik agar peserta didik benar-benar mengerti dan memahami apa yang telah dipelajari dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.
  3. Faktor Output : Melihat bagaimana pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran cooperatipe STAD pada pelajaran matematika mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari setiap siklus yang dilakukan.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Researh). Tindakan yang diberikan adalah proses pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dibagi dalam dua siklus dengan empat tahapan, yaitu (a) perencanaan tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi dan evaluasi dan (d) refleksi

Rencana Tindakan

Siklus I dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dan Siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan. Untuk dapat mengetahui hasil belajar matematika peserta didik kelas V SD maka sebelumnya diberikan tes awal dan hasilnya dijadikan sebagai skor dasar. Setelah itu barulah dilakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Secara rinci kedua siklus tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

Siklus I

Sesuai dengan kriteria penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research), maka pelaksanaan siklus I ini dibagi 2 tahap yaitu : (a) perencanaan tindakan atau rancangan tindakan (planning), (b) pelaksanaan tindakan (acting),  (c) observasi dan evaluasi dan (d) refleksi (reflecting).

Tahap perencanaan

Tahap perencanaan yang dilakukan pada siklus I ini adalah sebagai berikut:

Menelaah kurikulum SD kelas V  pada mata pelajaran matematika.

Membuat model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Menyatakan kegiatan atau topik utama pembelajaran yang diberikan, berupa standar kompetensi, kompetensi dasar, kelas/semester dan alokasi waktu.
  • Menyatakan tujuan umum pembelajaran (indikator pencapaian hasil belajar).
  • Merinci media untuk mendukung pembelajaran atau topik tersebut. Dalam hal ini media yang akan digunakan adalah media LCD yang isinya mencakup materi yang akan disajikan.
  • Membuat pedoman observasi untuk merekam proses pembelajaran dikelas.
  • Membuat soal-soal yang disusun berdasarkan materi –materi yang telah diajarkan.

Tahap tindakan

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah  kegiatan belajar mengajar dan mengimplementasikan soal-soal yang telah dipersiapkan, baik dalam proses belajar mengajar di kelas maupun pada pemberian tugas kurikuler.

Gambaran umum yang dilakukan adalah :

  • Pada awal setiap pertemuan, hal yang pertama dilakukan adalah memberikan penjelasan singkat tentang materi  yang dipelajari dengan mengkaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik atau kehidupan sehari-hari serta memperlihatkan gambar yang ada di LCD.
  • Setelah guru menjelaskan, peserta didik diberikan tugas sesuai dengan bahan yang telah dikembangkan, baik secara individual maupun secara kelompok. Pada pembentukan kelompok peserta didik dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6-7  orang yang dibagi berdasarkan nomor urut absen.
  • Tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting seperti kehadiran peserta didik, keaktifan dalam  mengerjakan tugas, bertanya, memberikan tanggapan, serta keseriusan dalam kerjasama dengan kelompoknya.

Memberi tes akhir siklus

Melakukan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik, dengan berbagai cara seperti pengukuran proses bekerja, hasil karya, penampilan, PR, kuis, hasil tes tulis dan demonstrasi.

Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada tahap penulis melakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi. Observasi dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data hasil observasi yang meliputi kehadiran peserta didik, kerjasama, keaktifan peserta didik baik dalam bertanya atau memberi tanggapan, menjawab pertanyaan guru atau teman, mengerjakan tugas, tampil menyelesaikan soal latihan di papan tulis dengan benar, peserta didik yang melakukan kegiatan diluar proses belajar mengajar, peserta didik yang memerlukan bimbingan dalam mengerjakan soal,  peserta didik yang meminta untuk dijelaskan kembali konsep yang telah dibahas dan kerjasama dengan kelompoknya.

Evaluasi selanjutnya dilaksanakan pada akhir siklus I dengan memberikan tes tertulis. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil belajar peserta didik terhadap materi yang telah diperoleh selama siklus I berlangsung.

Tahap Refleksi

Data yang diperoleh dari hasil observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari analisis tersebut peneliti merekfleksi diri dan melihat kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan apakah berhasil atau tidak. Adapun hal-hal yang sudah baik agar tetap dipertahankan sedangakan yang belum berhasil ditindaklanjuti pada siklus berikutnya.

SIKLUS II

Siklus dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Pada dasarnya hal yang dilakukan pada siklus II ini adalah mengulangi tahap-tahap yang dilaksanakan pada siklus I. Disamping itu akan dilaksankan juga sejumlah rencana baru untuk memperbaiki, merancang tindakan baru sesuai dengan pengalaman dari hasil refleksi yang diperoleh pada siklus I.

Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

  • Data mengenai tingkat hasil belajar peserta didik terhadap materi pelajaran setelah diadakan tindakan, dikumpulkan dengan menggunakan tes pada akhir setiap siklus dalam bentuk ulangan harian.
  • Data mengenai proses belajar mengajar dalam hal kehadiran dan keaktifan peserta didik untuk tiap pertemuaan diambil dengan menggunakan lembar observasi.

 Teknik Analisis Data

Data yang dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Untuk analisis secara kuantitatif digunakan statistik deskripsi yaitu skor rata-rata dan persentase. Selain itu ditentukan pula standar deviasi, tabel frekuensi, nilai minimum, dan maksimum yang diperoleh dari setiap siklus. Adapun  untuk keperluan analisis penguasaan peserta didik digunakan  standar KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal ) yaitu 60

Untuk menganalisis data hasil observasi digunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Kriteria penilaian  pada data observasi yaitu kehadiran, menanggapi pertanyaan guru,  pertanyaan teman, mengajukan pertanyaan, kerjasama dengan kelompok, membuat kesimpulan,  dan mengumpulkan tugas.

Indikator Kinerja

Kriteria keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan hasil belajar peserta didik kelas V SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes terhadap bahan ajar setelah diberikan pembelajaran dengan menggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, baik ditinjau dari hasil tes setiap akhir siklus maupun dari data hasil observasi dalam mengikuti proses pembelajaran

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis kuantitatif

Analisis Deskriptif Hasil Belajar Peserta didik Pada Tes Awal Siklus :

Peserta didik Yang Memperoleh Nilai Kategori Jumlah Peserta didik Prosentase
< 60 Belum Tuntas 26 64 %
≥ 60 Tuntas 13 36 %
Nilai Rata-Rata 56 56 %

Pada tabel 4.1. menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika sebelum dilakukan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Rata-rata skor yang dicapai peserta didik tidak mencapai nilai KKM yaitu 60. Prosentase ketuntasan belajar hanya mencapai 36 %.

Analisis Deskriptif Hasil Belajar Peserta didik Pada Tes Siklus I

Peserta didik Yang Memperoleh Nilai Kategori Jumlah Peserta didik Prosentase
< 60 Belum Tuntas 16 41 %
≥ 60 Tuntas 23 60 %
Nilai Rata-Rata 63 63 %

Tabel di atas menunjukkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tabel tersebut mengindikasikan adanya peningkatan dimana pada kondisi awal awal rata-rata skor 56,00 menjadi 63,00 , prosentase ketuntasan belajar meningkat dari 36 % di kondisi awal menjadi 60 % di siklus I.

Analisis Deskriptif Hasil Belajar Peserta didik Pada Tes Siklus II :

Peserta didik Yang Memperoleh Nilai Kategori Jumlah Peserta didik Prosentase
< 60 Belum Tuntas 3 8 %
≥ 60 Tuntas 36 92 %
Nilai Rata-Rata 76 76 %

Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan dibanding pada siklus I yang rata-rata skornya 63,00 menjadi 76,00  pada siklus II. Prosentase ketuntasan belajarpun meningkat secara signifikan mulai dari 36 % di kondisi awal menjadi 63 % di siklus I, dan 92 % disiklus II.

Analisis Kualitatif

Refleksi siklus I

Pada siklus I ini apa yang ingin dicapai oleh peneliti telah tercapai, misalnya meningkatnya rata-rata hasil belajar peserta didik terhadap matematika , tapi masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus berikutnya.

Adapun hal-hal yang perlu diperbaiki pada siklus II antara lain :

  • Pada siklus I peserta didik dikelompokkan menurut absen, ternyata nilainya tidak optimal sehingga pada siklus II pengelompokan diubah berdasarkan hasil tes siklus I. Peserta didik tetap dibagi dalam 4 kelompok dan pada setiap kelompok terdapat peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dan rendah.
  • Pada siklus I beberapa peserta didik belum menguasai cara menyamakan penyebut dengan KPK dan pecahan senilai, sehingga pada siklus II materi itulah yang akan mendapat penekanan.

Refleksi siklus II

Siklus II terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan dengan materi penjumlahan pecahan campuran yang berpenyebut sama dan beda dengan  mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya. Pada siklus ini penulis menekankan hal-hal yang perlu diperbaiki seperti cara menyamakan penyebut dengan menggunakan KPK dan pecahan senilai, kemudian penulis menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar peserta didik mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut.

Pada pertemuan pertama peneliti menjelaskan materi disajikan diawali dengan mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya, kemudian menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar agar peserta didik mengetahui apa yang ingin dicapai pada materi tersebut. Setelah itu penulis menjelaskan materi secara singkat dan mengaitkannya dengan contoh benda yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dan mengelompokkan peserta didik dan membagikan LKS untuk setiap kelompok. Kemudian setelah itu diberikan kuis dan dikerjakan secara individu, kemudian evaluasi, menyimpulkan materi, memberikan penguatan  .

Pada siklus II ini, pada umumnya peserta didik lebih bersemangat lagi dengan model pembelajaran dengan cara berkelompok sehingga peserta didik dapat saling berdiskusi dan bertukar pikiran dalam memahami materi dan memecahkan atau menyelesaikan soal matematika.

Pada siklus II ini apa yang ingin dicapai oleh peneliti tercapai. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata hasil belajar peserta didik.

Perubahan Sikap Peserta didik

Disamping terjadinya peningkatan hasil belajar peserta didik pada siklus I dan siklus II, tercatat  pula sejumlah perubahan sikap yang terjadi pada peserta didik. Perubahan tersebut merupakan data kualitatif dan dicatat oleh peneliti dalam lembar observasi tiap siklus. Adapun perubahan-perubahan yang dimaksud adalah sebagai berikut :

  • Pada siklus I kehadiran peserta didik sudah bagus begitu juga pada siklu II.
  • Pada siklus I peserta didik masih malu-malu dalam bertanya kepada guru tentang masalah yang terkait dengan apa yang disajikan guru sedangkan pada siklus II peserta didik sudah berani untuk bertanya guru tentang masalah yang terkait dengan apa yang disajikan guru.
  • Pada siklus I interaksi peserta didik dengan sumber belajar/media sudah baik sedangkan pada siklus II interaksi peserta didik dengan sumber belajar/media jauh lebih baik dari siklus I.
  • Pada siklus I semua peserta didik aktif melakukan kegiatan fisik dan mental (berpikir), begitu juga pada siklus II.
  • Pada siklus I ketuntasan belajar peserta didik meningkat, itu dapat dilihat dari nilai rata-rata peserta didik pada siklus I 63,00 menjadi 76,00 pada siklus II.
  • Peneliti menyadari bahwa untuk menumbuhkan minat peserta didik dalam belajar matematika perlu dirancang model pembelajaran yang sesuai dengan situasi keadaan peserta didik, yang terpenting juga adalah membelajarkan peserta didik antusias, keberanian mengungkapkan gagasan, ide dan pemikiran serta meningkatkan hasil belajar matematika. Adanya peningkatan hasil belajar matematika pada siklus II tersebut menunjukkan bahwa banyak kemajuan yang dicapai oleh peserta didik setelah dilaksanakan pembelajaran model kooperatif tipe STAD.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan di depan , penulis menarik kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD mata pelajaran  metematika pada materi penjumlahan pecahan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Kesimpulan ini diambil setelah melihat data sebagai berikut:

  • Pada awal siklus atau sebelum dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar peserta didik adalah 56,00. Sementara skor ideal yang mungkin dicapai peserta didik adalah 100,00.
  • Pada siklus I atau setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar peserta didik pada pokok bahasan penjumlahan pecahan biasa yang berpenyebut sama dan beda adalah 63,00 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,00.
  • Pada siklus II atau setelah dilakukan pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, skor rata-rata hasil belajar peserta didik pada pokok bahasan penjumlahan pecahan campuran berpenyebut sama dan beda adalah 76,00 dari skor ideal yang mungkin dicapai 100,00.

SARAN

Adapun saran-saran yang penulis ajukan setelah menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD sebagai berikut:

  • Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika, diharapkan guru menerapkan metode mengajar yang mudah diterima oleh peserta didik.
  • Diharapkan kepada guru dalam memberikan soal-soal latihan kepada peserta didik, hendaknya soal-soal tersebut berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik merasa bahwa matematika itu memang sangat penting dalam kehidupan mereka.
  • Kepada pihak sekolah agar memaksimalkan sarana dan prasarana yang ada disekolah. Khusus untuk buku-buku yang berkaitan dengan matematika lebih diperhatikan lagi,  demikian pula pengadaan alat peraga yang sangat membantu peserta didik dalam memahami pelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan.(2007). Standar Isi (Kerangka Dasar dan

Struktur Kurikulum) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Jakarta : Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Departemen Pendidikan Nasional RI (2007). Standar kompetensi dan

kompetensi dasar tingkat SD/MI. Jakarata: Direktorat Jendral

Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dr. Rusman, M.Pd. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Handoko, Tri, (2006). Terampil Matematika 6 untuk Kelas 6 SD. Jakarta :

Yudhistira

Panitia Serifikasi Guru Rayon 112. (2012). Bahan Ajar Pendidikan dan

Latihan Profesi Guru (PLPG). Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Suparno, Yunus Muhammad (2003). Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta:

Universitas Terbuka.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Bandung : Kencana.

Wardani I.G.A.K, dkk.(2006). Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta :

Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K. (2007) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas

Terbuka

BIODATA PENELITI

Nama : ST. Farhatun, S.Pd.

NIP : 19660606 199102 2 005

Pangkat/Gol Ruang : Pembina IV/ A

Jabatan : Guru SD

Unit Kerja : SD Negeri Slatri 01 Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes

By admin

You cannot copy content of this page