Iklan

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG LUAS BANGUN DATAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN PEMBERDAYAAN TUTOR SEBAYA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 4 JATIBARANG KABUPATEN BREBES

Agus Subekti, S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika kompetensi menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar I Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes melalui penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pemberdayaan Tutor sebaya. Subyek penelitian adalah siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang yang berjumlah 19 siswa yang terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan tahun pelajaran 2014/2015. Penelitian Tindakan kelas dilaksanakan dua siklus perbaikan. Hasil penelitian pada siklus I menunjukan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif dengan pemberdayaan tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tentang luas bangun datar, terbukti dari hasil pembelajaran kondisi awal nilai rata-rata kelas hanya 48,00 meningkat menjadi 68,00. Ketuntasan belajar hanya mencapai 58,33 % karena11 siswa yang mendapat nilai di atas KKM yang ditetapkan yaitu 66. Tetapi hal ini belum memuaskan peneliti karena prosentase ketuntasan belajar belum mencapai KKM ketuntasan belajar yaitu 75 %. Setelah peneliti melaksanakan tindakan prbaikan siklus II, peneliti merasa puas karena hasil yang dicapai sudah optimal, yaitu nilai rata-rata kelas mencapai 78,53 dan prosentase ketuntasan belajar mencapai 91,67 %, yakni 17 siswa dari 19 siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang Berdasarkan dari kenyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model kooperatif dengan pemberdayaan Tutor Sebaya dapat meningkatkan aktivitas serta hasil belajar siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang pada pembelajaran matematika materi luas bangun datar. Saran atau rekomendasi semoga hasil penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan kinerja peneliti dan dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru SMP Negeri 4 Jatibarang Jatibarang Brebes.

Kata kunci : Model pembelajaran kooperatif, Tutor Sebaya, Hasil Belajar.

LATAR BELAKANG

Keberhasilan dalam melaksanakan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru sebagai pengelola dalam proses belajar mengajar dengan segala keunikannya (Kunandar, 2007).

Berdasarkan hasil observasi serta pengalaman peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran matematika kompetensi dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar yang telah dilaksanakan hasilnya kurang memuaskan. Hal ini disebabkan pembelajaran masih secara konvensional artinya dalam menyajikan pembelajaran masih terpusat pada guru, guru menjelaskan, memberi contoh, dilanjutkan pemberiaan tugas.

Beberapa fenomena yang teridentifikasi pada pembelajaran diantaranya; (1) siswa pasif, karena hanya menerima penjelasan guru, komunikasi satu arah, (2) siswa kurang bergairah dalam belajar, kurang respon, kurang perhatian, (3) siswa cepat lupa materi apa yang diberikan guru, hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran kurang bermakna.

Dari ketiga fenomena tersebut berdampak pada hasil belajar siswa, hal ini terbukti dari hasil penilaian tes formatif, yaitu hanya 5 anak saja yang mendapat nilai di atas KKM untuk kompetensi dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar yang ditetapkan yaitu 66,00. Sedang 7 anak lainnya masih mendapat nilai di bawah KKM.

Berdasar dari hasil pemblajaran tersebut maka peneliti mencoba memperbaikinya melalui Penelitian Tindakan Kelas yang direncanakan dua siklus perbaikan.peneliti merencanakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran koopratif dengan pemberdayaan siswa yang pandai (Tutor Sebaya). Peneliti menerapkan pembelajarn tersebut setelah membaca beberapa kajian teori diantaranya pendapat Sanjaya (2006) mengatakan bahwa prosedur pembelajaran kooperatif pada prinsipnya terdiri atas empat tahap, yaitu ; (1) tahap penjelasan materi, (2) belajar dalam kelompok, (3) penilaian, dan (4) pengakuan dalam tim. Siswa yang lebih mampu membantu siswa yang kurang mampu untuk belajar dalam pasangan-pasangan kerja yang kooperatif atau group-group belajar kecil yang secara hati-hati diorganisir oleh guru professional disebut Tutor Sebaya (peer tutoring), (sudria, dkk, 2000). Pada penelitian ini siswa yang dipilih sebagai tuitor adalah siswa yang tergolong baik dalam prestasi belajarnya terutama pada mata pelajaran matematika, serta memiliki huibungan sosial yang baik dengan teman-temannya. Selanjutnya siswa lainnya memilih dari tutor sebaya yang telah ditunjuk peneliti, atau dengan teknik lain.

Berdasar dari permasalahan di atas maka penelitiu merumuskan masalah penelitian ini anatara lain ; (1) apakah pnerapan model pembelajaran kooperatif dengan pemberdayaan tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VII SMP Negeri Dukuhbaag?, (2) bagaimana aktivitas siswa ssaat diterapkan model pembelajaran kooperatif dengan pemberdayaan tutor sebaya?, (3) bagaimana respon siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif dengan pemberdayaan tutor sbaya?.

Tujuan penelitian tindakan kelas ini untuk meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika kompetensi dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar di Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang Jatibarang Brebes, serta mengetahui bagaimana respon siswa terhadap pembelajaran model kooperatif dengan pemberdayaan tutor sebaya.

Manfaat penelitian ini bagi siswa adalah dapat meningkatkan aktifitas serta hasil belajar siswa karena model pembelajaran yang digunakan memiliki unsur kolaborasi dan saling ketergantungan positif antar siswa dalam kelompok, sedang manfaat bagi guru adalah dapat menambah pengalaman dan wawasan dalam menyajikan pembelajaran untuk penyempurnaan pembelajran selanjutnya, serta bagi sekolah penelitian ini bermanfaat dapat meningkatkan kualitas atau mutu pendidikan di sekolah

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

Pengertian Strategi Belajar Mengajar

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis bsar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru, anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi ; (1) mengidentifikasi serta menetapkan speifikasi an kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik, (2) memilih sistim pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi an pendangan hidup masyarakat, (3) memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang paling tepat dan efektif, (4) menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau criteria serta standar keberhasilan sebagai pedoman untuk melakukan evaluasi.

Pengertian Aktifitas Belajar (www.kajianpustaka.com. 2014)

Aktifitas belajar adalah aktifitas yang berupa fisik maupun mental dalam proses belajar, kedua aktivitas tersebut harus saling berkaitan (Sadirman. 2011)

Menurut Anton M.Mulyono (2001) aktivitas belajar artiya kegiatan atau keaktifan, jadi segala ssuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun nonfisik dalam proses belajar.

Jenis-jenis aktivitas belajar : (1) visual Actvities, (2) oral activities, (3) listening activities, (4) motor activities.

Pengertian Hasil Belajar (ainamulyana.blogspot.com/2012/1)

Masalah belajar adalah bagi setiap manusia, dengan belajar manusia memperoleh keterampilan, kemampuan sehingga terbentuklah sikap dan bertambahlah ilmu pengtahuan, jadi hasil belajar itu adalah hasil nyata yang dicapai oleh siswa dalam usaha menguasai kecakapan jasmani dan rohani disekolah yang diwujudkan dalam bentuk raport pada setiap akhir semester.

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain ; (1) factor internal (factor dalam diri sendiri), (2) factor eksternal (factor dari luar diri), (3) factor pendekatan belajar.

Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin (2007) pembelajaran kooperatif menggalakan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Model pemblajaran ini ini dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme yang lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky. Berdasarkan penelitian Piaget yang pertama dikemukakan bahwa pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak (Ratna, 1988:181).

Dalam model pembelajaran kooperatif ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak ahanya memberikan pengetahuan pada siswa tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya.

Menurut pandangan Piaget dan Vigotsky adanya hakikat sosial dari sebuah proses belajar dan juga tentang penggunaan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggotanya yang beragam, sehingga terjadi perubahan konseptual.

Berkaitan dengan karya vigotsky dan penjelasan Piaget, para konstruktivisme menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya, melalui pembentukan kelompok belajar. Dengan kelompok belajar memberikan kepada siswa secara aktif dan kesempatan untuk mengungkapkan sesuatu yang dipikirkan siswa kepada teman akan membantunya untuk melihat sesuatu dengan lebih jelas bahkan melihat ketidaksesuaian pandangan mereka sendiri.

Konsep Dasar Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran koopratif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 – 6 orang engan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi (Nurulhayati, 2002 : 25). Dalam sistim belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya.

Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan beelajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan (Sanjaya, 2006:239).

Tom V. Savage (1987 : 217) mengemukakan bahwa cooperative learning adalah suatu pendekatan yang menekankan kerja sama dalam kelompok.

Terdapat empat hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yakni : (1) adanya pesrta didik dalam kelompok, (2) adanya aturan main (role) dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok.

Berkenaan dengan pengelompokkan siswa dapat ditentukan berdasarkan atas : (1) minat dan bakat siswa, (2) latar belakang kemampuan siswa, (3) perpaduan antara minat ddan bakat siswa dan latar kemampuan siswa.

Nurulhayati, (2002:25-28), mngemukakan lima unsur dasar model cooperative learning yaitu : (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungan individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok.

Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif

Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran koopratif dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pembelajaran secara TIM

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dilakukan secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar, setiap anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Didasarkan pada Manajemen kooperatif

Manajemen mempunyai tiga fungsi yaitu : (a) fungsi manajemen sebagai perencanaan pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran koopratif dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan (b) fungsi manajemen sebagai organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan dengan efektif, (c) fungsi manajemen sebagai kontrol, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui bentuk tes maupun non tes.

Kemauan untuk Bekerja sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok, oleh karenanya prinsip kebersamaan atau kerja sama perlu ditekankan dalam pembelajaran kooperatif. Tanpa kerja sama yang baik pembelajaran kooperatif tidak akan mencapai hasil yang optimal.

Keterampilan Bekerja sama

Kenmampuan bekerja sama itu dipraktikan melalui aktivitas alam kegiatan pembelajaran secara berkelompok. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain da;lam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Prosedur Pembelajaran Kooperatif

  1. Penjelasan Materi, tahap ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran
  2. Belajar Kelompok, tahap ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya.
  3. Penilaian, penilaian dalam pembelajaran kooperatif bisa dilakukan melalui tes atau kuis, yang dilakukan secara individu atau kelompok. Tes individu akan memberikan penilaian kemampuan individu, sedangkan klompok akan memberikan penilaian pada kemampuan klompoknya, seperti dijelaskan Sanjaya (2006: 247). Hasil terakhir setiap siswa adalah menggabungkan keduanya dan dibagi dua.
  4. Pengakuan tim, adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadihn, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi.

Pembelajaran Teknik Tutor Sebaya :

Dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya peserta didik dilatih mandiri, dewasa, dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Metode pembelajaran tutor sebaya ini melatih tanggung jawab individu dan memberikan pengajaran pada peserta didik untuk saling membantu satu sama lain dan saling mendorong untuk melakukan usaha yang maksimal.

Fungsi dari metode tutor sebaya antara lain :Membantu peserta didik yang kurang mampu agar mudah memahami pembelajaran, peserta didik yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi dalam bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas. Di dalam pembelajaran ini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing, artinya guru hanya melakukan intervensi ketika benar-benar dibutuhkan peserta didik dan memotivasi peserta didik untuk aktif belajar

Langkah-langkah : (1) Pemilihan materi, (2) Pembagian kelompok, (3) Pembagian materi, (4) Waktu, (5) Diskusi kelompok, (6) Laporan tim, (7) Simpulan, (8) Tes/ Evaluasi

METODOLOGI PENELITIAN

Setting penelitian

Waktu penelitian selama 6 bulan pada semester 1 tahun plajaran 2014/2015

Tempat pnelitian adalah di SMP Negeri 4 Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes

Subyek Penelitian adalah Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang Jatibarang Brebes, dengan jumlah siwa sebanyak 19 siswa terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan.

Peneliti : AGUS SUBEKTI, S.Pd. Selaku Guru SMP Negeri 4 Jatibarang

Prosedur Penelitian :

Penelitian ini tergolong penelitian tinadakan kelas (PTK) dengan menggunakan Model PTK Kurt Lewin, yang terdiri atas empat komponen, yaitu (a) perencanaan (planning), (b) tindakan (acting), (c) pengamatan (observing), dan () refleksi (reflecting). Penelitian ini dilakanakan dalam dua siklus perbaikan terdiri dari perencanaan, pelaksanaan. Observasi/evaluasi, serta refleksi.

Tahap perencanaan meliputi: (1) melakukan analis kurikulum untuk mengetahui kompetnsi dasar yang akan disampaikan kepadda siswa dengan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan tutor sebaya, (2) membuat rencana pembelajaran kooperatif dengan tutor sebaya, (3) menyiapkan alat/media pembelajaran, (menyusuin instrumen penelitian berupa lembar tes, lemabr angket .quesioner, lembar observasi,.

Tahap pelakssanaan meliputi : (1) membagi siswa ke dalam kelompok, (2) guru menyampaikan materi pelajaran secara klasikal dan secara khusus pada tutor sebaya (ketua kelompok), (3) tutor sebaya menyampaikan materi pada anggotanya, (4) setiap kelompok mengerjakan lembar kerja kelompok dipandu oleh tutor sebaya, (5) guru memantau siswa dalam diskusi/kerja kelompok, (6) guru memberikan penguatan kepada kelompok atau siswa yang hasil kerjanya masih kurang.

Tahap observasi/evaluasi dilakukan pada akhir pembelajaran yaitu penilaian hasil belajar dengan menggunakan tes formatif yang sudah disiapkan. Setelah proses belajar mengajar guru membuat catatan hasil pengamatan tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Pada tahap refleksi peneliti mengkaji dan merenungkan hasil penelitian terhadap pelaksanan tindakan pada siklus I dan analisis data. Untuk menentukan keberhasilan dalam penelitian ini maka hasil penelitian dibandingkan dengan indikator kerja.

Pada siklus II juga dilakukan tahapan-tahapan yang sama seperti pada siklus pertama yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi, serta refleksi.

Teknik Pengumpulan Data

Data tentang hasil belajar dikumpulkan melalui teknik Tes setiap akhir siklus, data tentang aktivitas siswa dikumpulkan melalui teknik observasi, catatan tentang respon siswa terhadap pembelajaran dikumpulkan melalui Teknik Angket/Questioner.

Analisis Data

Data tentang hasil belajar siswa dan respon siswa dianalisis secara deskriftif komparatif, yaitu dengan membandingkan hasil belajar maupun nilai rata-rata dengan indikator kinerja. Sedangkan aktivitas siswa dianalisis secara deskriftif berdasarkan catatan guru/observer tentang aktivitas siswa ketika mengikutii proses pembelajaran.

Indikator Kinerja

Penelitian dianggap berhasil apabila ketuntasan belajar siswa mencapai 75 % atau lebih dari jumlah siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang , sedangkan KKM kompetnsi dasar ditetapkan 66,00.

Untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar menggunakan rumus sebagai berikut ;

Criteria repon siswa terhadap proses pembelajaran berdasarkan kategori sebagai berikut :

85% – 100 = Sangat Baik

70% – 84% = Baik

55% – 69% = Cukup

45% – 54% = Kurang

Kurang dari 45% = Sangat Kurang

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 68,00 dengan ketuntasan belajar mencapai 11 Siswa atau 58,33 %. Sedang 8 siswa (41,77%) lainnya belum tuntas, aktivitas siswa secara umum masih biasa-biasa saja. Mereka belum bisa memanfaatkan ketua kelompok (Tutor Sebaya). Beberapa siswa masih ketergantungan pada guru, mereka malu bertanya pada tutor sebaya, sehingga guru masih perlu banyak memberikan penjelaan, berdasar dari hasil refleksi tersebut maka perlu diadakan perbaikan pembelajaran pada siklus bertikutnya.

Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II diperoleh Nilai rata-Rata 78,53, dan ketuntasan belajar mencapai 17 siswa atau 91,67%. Sehingga target penelitian sudah tercapai, karena ketuntasan belajar sudah melampaui 75%.

Prosentase dan Nilai Rata-rata Kelas hasil pembelajaran mulai dari kondisi awal, Siklius I, dan Siklus II peneliti sajikan dalam tabel di bawah ini :

Siklus Jumlah Siswa Siswa Tuntas Prosentse Ketuntasan Belajar NRK
Prasiklus 19 5 25 % 48
Siklus I 19 11 58.33% 68
Siklus II 19 17 91.67% 78

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa adanya peningkatan Nilai Rata-Rata, yaitu pada kondisi awal 48 menjadi 68 di siklus I , dan 78 pada siklus II, sedangkan prosentase ketuntasan belajar mulai dari 25 %, menjadi 58,33%, dan 91,67 pada siklus II, hal ini membuktikan bahwa peningkatan nilai rata-rata dan prosntase ketuntasan belajar mengalami peningkatan secara signifikan setelah peneliti melakukan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan pemberdayaan Tutor Sebaya di Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang Jatibarang Brebes.

Aktivitas belajar pada siklus II pun meningkat terjadi komunikasi dan kolaborasi yang aktif antara anggota kelompok dengan tutor sebaya, sehingga hasil penilaian kerja kelompokpun meningkat dari kategori baik menjadi sangat baik untuk setiap kelompoknya.

Rata-rata skor respon siswa setelah diberikan angket pada akhir siklus ternyata hampir seluruh siswa merespon baik, mereka merasa senang belajar dengan pendekatan kooperatif dengan tutior sebaya. Terbukti dari 19 siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang menyatakan senang belajar matematika tentang luas bangun datar dengan teknik tutor sebaya.

PENUTUP

Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan, dan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa : (1) penerapan model kooperatif dengan pemberdayaan Tutor Sebaya dapat meningkatkan hasil belajar matematika kompetensi dasar menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan luas bangun datar di Kelas VII SMP Negeri 4 Jatibarang , (2) pembelajaran kooperatif dengan tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, (3) dapat mengembangkan sikap positif siswa terhadap proses pembelajaran.

Saran atau rekomendasi yang dapat peneliti sampaikan kepada rekan-rekan guru seprofesi yang menemukan permasalahan serupa dengan yang ditemukan peneliti agar dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif teknik Tutor sebaya sebagai model pembelajaran alternatif, baik pada mata pelajaran matematika maupun pelajaran yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Erman, Suherman. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Gatot Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SMP. Jakarta : Universsitas Terbuka

Kusnandar. 2007. Guru Profesional. Jakarta : PT Raja Grafindo Peersada.

Panitia Serifikasi Guru Rayon 112. (2012). Bahan Ajar Pendidikan dan Latihan  Profesi Guru (PLPG). Semarang : Universitas Negeri Semarang.

Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Sunaryo, R.J. 2007. Matematika 5 untuk SMP/MI Kelas 5.Jakarta : Pusat Perbukuan Depdiknas

Wardani I.G.A.K, dkk.(2006). Teknik Menulis Karya Ilmiah. Jakarta : Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K. (2007) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : UniversitasTerbuka.

Winataputra, Udin S. dkk.2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

BIODATA PENELITI

Nama : Agus Subekti, S.Pd.

NIP : 19720404 199903 1 009

Jabatan : Guru Mapel

Unit Kerja : SMP Negeri 4 Jatibarang Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes

You cannot copy content of this page