Iklan

PENGGUNAAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DENGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) DALAM PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG PECAHAN PADA SISWA KELAS VI SDN 2 KEDUNGPUJI KECAMATAN GOMBONG TAHUN AJARAN 2019/2020

Nurjanah,S.Pd.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika tentang pecahan pada siswa kelas VI SDN 2 Kedungpuji. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus ditempuh melalui empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VI SD Negeri 2 Kedungpuji Tahun Pelajaran 2019/2020 sebanyak 30 siswa, terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 21 siswa perempuan. Penggunaan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan keaktifan belajar pada siswa kelas VI SD Negeri 2 Kedungpuji Tahun Ajaran 2019/2020. Pada kondisi awal diperoleh nilai rata-rata 2,2 atau dengan persentase 55% yang termasuk ke dalam kriteria C atau Cukup. Pada kondisi awal siswa belum menyiapkan diri dengan baik. Pada siklus I menunjukkan hasil yang cukup baik. Hasil analisis diperoleh skor 3,2 dengan persentase sebesar 80% dan termasuk ke dalam kategori Baik. pada siklus II menunjukkan hasil yang sangat baik. Perolehan skor nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus II sebesar 3,6 dengan persentase 90% dan kategorinya sangat baik. Penggunaan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 2 Kedungpuji Tahun Ajaran 2019/2020. Hasil pre-test diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 61,5. Nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi adalah 90. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 6 atau sebesar 30%. Sedangkan siswa yang nilainya ≤ KKM sebanyak 14 siswa atau 70%. Pada Siklus I nilai rata-ratanya adalah 71,5. Siswa yang memperoleh nilai tuntas mengalami kenaikan menjadi sebesar 65% atau sejumlah 13 siswa. Siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM jumlahnya hanya 7 anak atau 35%. Hasil evaluasi siswa pada siklus II rata-ratanya adalah 78,5. Siswa yang memperoleh nilai tuntas menjadi 100% atau sebanyak 20 siswa memperoleh nilai ≥ KKM.

Kata kunci: RME, keaktifan dan hasil belajar, pecahan

PENDAHULUAN

Matematika memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena dengan bantuan matematika ilmu dan teknologi akan maju lebih pesat. Matematika merupakan pengetahuan dasar yang diperlukan oleh peserta didik untuk menunjang keberhasilan belajarnya dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Matematika adalah salah satu ilmu yang sangat penting dalam hidup. Hampir setiap hari dalam kehidupan selalu berhubungan dengan matematika terutama dalam berhitung. Karena ilmu ini demikian penting, konsep dasar matematika harus tertanam benar dan kuat. Matematika mendapatkan porsi yang paling besar dibandingkan dengan pembelajaran mata pelajaran yang lain. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat mempelajari matematika dan menguasai konsep-konsep Matematika yang ada pada kurikulum.

Kenyataan yang terjadi pada siswa kelas VI SD Negeri 2 Kedungpuji pada pembelajaran matematika masih rendah. Hal ini terbukti dari hasil tes awal yang diperoleh dari 20 siswa kelas VI hanya 6 siswa atau hanya sebesar 30% dari total 20 siswa yang mendapat nilai di atas 70. KKM penelitian mata pelajaran matematika kelas VI SD N 2 Kedungpuji yang ditetapkan adalah 70. Hal ini berarti tingkat penguasaan materi masih rendah. Pembelajaran dikatakan dikatakan berhasil jika 90% siswa sudah mendapat nilai di atas KKM. Hasil ulangan tersebut memberikan gambaran bahwa sebagian besar siswa masih belum mencapai ketuntasan belajar karena masih kurang dalam menguasai materi pecahan.

Perolehan nilai siswa kurang memenuhi batas ketuntasan minimal dikarenakan pada pelaksanaan pembelajaran Matematika guru masih mendominasi kelas melalui bentuk matematika yang struktualistik dan siswa cenderung pasif. Guru mengajar Matematika hanya pada konsep intinya dengan metode ceramah kemudian memberi soal latihan untuk dikerjakan dan menilai pekerjaan siswa.

Guru perlu merancang dan melaksanakan suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa mengkonstruksi pemikirannya sendiri untuk menemukan konsep dan prinsip Matematika tersebut serta mengetahui untuk apa konsep tersebut dipelajari. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa mengkonstruksi pemikirannya sendiri, siswa dapat belajar lebih aktif, kreatif, menumbuhkan kesan bermakna dan menarik bagi siswa, sehingga hasil belajar yang diharapkan dalam pembelajaran dapat tercapai.

Ketersediaan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang merupakan media sekaligus bahan ajar berfungsi sebagai alat bantu siswa. Dengan menggunakan LKS siswa dapat mengerjakan soal-soal sesuai dengan materi yang diajarkan. Prosedur LKS dikembangkan berdasarkan langkah RME untuk memahami konsep matematika dengan mengkontruksi sendiri masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penelitian tindakan ini peneliti menggunakan LKS dengan tujuan dapat meningkat minat belajar siswa, kegiatan pembelajaran lebih hidup, siswa lebih kreatif, aktif dan antusias.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penggunaan Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) dalam Peningkatan Keaktifan dan Hasil Belajar Matematika tentang Pecahan pada Siswa Kelas VI SDN 2 Kedungpuji Tahun Ajaran 2019/2020”.

II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian Keaktifan Belajar

Menurut Dimyati (2006: 44) siswa merupakan makhluk yang aktif. Siswa memiliki dorongan untuk melakukan sesuatu, memiliki kemauan dan keinginan. Belajar pada hakekatnya adalah proses aktif dimana seseorang melakukan kegiatan untuk merubah suatu perilaku, terjadi kegiatan merespon terhadap setiap proses pembelajaran. Siswa yang belajar tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain, belajar hanya akan terjadi apabila seorang siswa aktif mengalami sendiri.

Dimyati (2006: 51) menyatakan belajar aktif merupakan langkah pembelajaran yang menyenangkan. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut untuk selalu aktif dalam memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional. Marno & Idris (2010: 150) menyatakan bahwa belajar aktif dapat membantu siswa untuk menghidupkan dan melatih memori siswa agar bekerja dan berkembang secara optimal. Pembelajaran itu dapatmelalui media visual yang ditunjukkan oleh guru karena siswa dapat menyimpulkan sesuatu dari apa yang telah siswa lihat. Belajar aktif juga merupakan cara untuk membuat siswa aktif sejak dini melalui aktivitasaktivitas yang membangun kerja kelompok dan dapat membuat siswa memahami materi pelajaran yang disampaikan.

Menurut Martinis Yamin (2007: 77) keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan dapat merangsang dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, berfikir kritis, dan dapat memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari. Guru dalam mengajar dapat menginovasikan pembelajaran sehingga dapat merangsang siswa dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian dapat dilihat bahwa untuk menimbulkan keaktifan siswa tedapat berbagai macam dan bervariasi. Peran seorang guru yang menjamin setiap siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam kondisi yang ada. Guru juga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keaktifan siswa selama proses pembelajarannya dalam mencari, memperoleh, dan mengolah hasil belajarnya.

B. Pengertian Hasil Belajar

Sudjana (dalam Padmono, 2002: 37) menyatakan “Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa atau mahasiswa setelah si menerima pengalaman belajarnya”. Hasil belajar menunjukkan perubahan yang berupa penambahan, peningkatan, dan penyempurnaan perilaku

Selain itu, Abdurahman (2003: 38-39) menyatakan ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan menurut Romiszowski, hasil belajar merupakan keluaran (outputs) dari suatu sistem pemrosesan masukan (inputs).Masukan berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya berupa perbuatan atau kinerja (perfomance), hasil belajar sebagai keluaran dari suatu sistem pemrosesan berbagai masukan yang berupa informasi

Dari pendapat beberapa ahli di atas disimpulkan pengertian hasil belajar adalah seluruh kecakapan atau kemampuan (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan proses belajar dan pengalaman belajarnya yang akan menunjukkan adanya suatu perubahan yang berupa penambahan, peningkatan, dan penyempurnaan perilaku serta bisa juga diwujudkan dalam bentuk hasil karya anak.

C. Pengertian Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME)

RME merupakan suatu pendekatan, sejalan dengan pernyataan Wijaya (2012) bahwa, “Pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran matematika di Belanda” (hlm. 23). Susanto (2013: 205) menyatakan bahwa, “Pendidikan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa”. Muhsetyo (2008: 1.20) menyatakan, “RME yaitu teori dalam pembelajaran matematika dengan cara mengkaitkanya dengan situasi dunia nyata di sekitar siswa”. Tarigan memberikan pandangan bahwa, pembelajaran matematika Realistik adalah pendekatan yang orientasinya menuju kepada penalaran siswa yang bersifat realistik sesuai dengan tuntutan Kurikulum berbasis kompetensi yang di tunjukan kepada pengembangan pola pikir praktis, logis, kritis dan jujur dengan orientasi pada penalaran matematika dalam menyelesaikan masalah (2006: 4).

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa, pendekatan RME adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari-hari sebagai sumber inspirasi dalam membangun sendiri pemahaman konsep matematika melalui sesuatu yang telah diketahui oleh siswa lalu di kembangkan oleh siswa itu sendiri.

Menurut De Lange (Hadi, 2005: 37), pembelajaran matematika menggunakan pendekatan Matematika Realistik melalui beberapa aspek sebagai berikut: (a) memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna, (b) permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut. (c) siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terdapat persoalan/ masalah yang diajukan. (d) pengajaran berlangsung secara interaktif dengan mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan refleksi terhadap setiap hasil pelajaran.

Berdasarkan uraian langkah pembelajaran menggunakan pendekatan RME menurut (Gravemeijer, De lange, dan Wijaya) serta ditunjang dari prinsip dan karakteristik, maka dapat disimpulkan langkah-langkah pembelajaran menggunakan pendekatan RME yang dilaksanakan dalam penelitian ini yaitu:

  1. Memahami masalah kontekstual
  2. Menjelaskan masalah kontekstual
  3. Menyelesaikan masalah kontekstual
  4. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
  5. Menyimpulkan

D. Pengertian Pecahan

Heruman (2010: 43) memberikan definisi pecahan merupakan bagian dari sesuatu yang utuh. Jika menggunakan gambar, bagian yang dimaksud bagian yang diperhatikan, yang biasanya diberi tanda khusus misalnya arsiran. Bagian yang ditandai itu adalah pembilang. Sedangkan bagian yang utuh adalah bagian yang dianggap satuan, yang disebut penyebut. Menurut Kerami (2002: 196) menyatakan bahwa , “pecahan adalah ekspresi berbentuk pembilang/penyebut, merupakan suatu besaran”.

Sedangkan Sukayati (2003: 1) berpendapat bahwa, “pecahan merupakan bagian dari bagian rasional yang ditulis dalam bentuk dengan a dan b merupakan bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol”.

Berdasarkan uraian diatas maka pecahan merupakan bagian dari sesuatu yang utuh yang dapat ditulis melalui pasangan terurut dari bilangan cacah. Jika menggunakan gambar, a adalah bagian yang diperhatikan, yang biasanya diberi tanda khusus misalnya arsiran. Sedangkan b adalah bagian yang utuh atau bagian yang dianggap satuan. Pada pecahan, a disebut pembilang dan b disebut penyebut.

III. METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Penelitian berlangsung di di SD Negeri 2 Kedungpuji, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen. Subjek penelitian yaitu peserta didik Kelas VI Tahun Pelajaran 2019/2020 sebanyak 20 anak (9 laki-laki 11 perempuan). Penelitian berlangsung selama 3 bulan. Penelitian berlangsung dalam dua siklus. Pelaksanaan setiap siklus melalui 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian dilakukan dalam mata pelajaran matematika pada kompetensi dasar Melakukan operasi pecahan dalam pemecahan masalah.

B. Indikator Kinerja

Keaktifan Belajar

Keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar dapat dilihat dari aspek perhatian siswa terhadap penjelasan guru, kerja sama antara siswa dalam kelompok, kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapatnya sendiri, keberanian siswa dalam mengemukakan pertanyaan, memberikan pendapat atau gagasan yang cemerlang, dan saling membantu dalam menyelesaikan masalah dalam diskusi kelompok. Perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 75% atau lebih dari jumlah peserta didik memberikan respon positif terhadap penjelasan dan tugas guru, aktif dalam proses pembelajaran, serta bersedia mengkomunikasikan hasil pekerjaan kepada orang lain.

Hasil belajar

Peserta didik dinyatakan tuntas belajar apabila berhasil memperoleh nilai ≥ KKM dimana KKM yang ditentukan dalam penelitian ini untuk mata pelajaran matematika sebesar 70. dalam mengikuti tes akhir pembelajaran. Pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 80% atau lebih dari jumlah peserta didik yang mengikuti pembelajaran berhasil mencapai kriteria ketuntasan belajar.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

1. Keaktifan Belajar

Aspek-aspek yang diamati dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika berupa langkah-langkah penggunaan pendekatan RME yang dilaksanakan oleh guru beserta siswa. Indikator observasi pelaksanaan pembelajaran pecahan menggunakan pendekatan RME bagi guru dan bagi siswa yaitu: (1) memahami masalah kontekstual, (2) menjelaskan masalah kontekstual, (3) menyelesaikan masalah kontekstual, (4) membandingkan dan mendiskusikan jawaban, (5) menyimpulkan.

Hasil penilaian keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika materi pecahan dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada kondisi awal diperoleh nilai rata-rata 2,2 atau dengan persentase 55% yang termasuk ke dalam kriteria C atau Cukup.

Hasil penilaian keaktifan belajar siswa pada siklus I menunjukkan hasil yang cukup baik. Hasil analisis diperoleh skor 3,2 dengan persentase sebesar 80% dan termasuk ke dalam kategori Baik.

Hasil analisis keaktifan siswa dalam pembelajaran pada siklus II menunjukkan hasil yang sangat baik. Perolehan skor nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus II sebesar 3,6 dengan persentase 90% dan kategorinya sangat baik.

Tabel 1. Tabel Rekapitulasi Peningkata Keaktifan Belajar Tiap Siklus

NO INDIKATOR PRETEST SIKLUS I SIKLUS I
SKOR KET SKOR KET SKOR KET
1. Memahami masalah kontekstual 2 C 3 B 4 A
2. Menjelaskan masalah kontekstual 3 B 3 B 4 A
3. Menyelesaikan masalah kontekstual 2 C 3 B 3 B
4. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban 2 C 4 A 4 A
5. Menyimpulkan 2 C 3 B 3 B
Jumlah 11 16 18
Rata-rata 2,2 3,2 3,6
Persentase 55% 80% 90%

2. Hasil Belajar

Berdasarkan hasil dari pre-test diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 61,5. Nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi adalah 90. KKM untuk penelitian tindakan kelas ini adalah 70. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 6 siswa atau jika dipersentase sebesar 30%. Sedangkan siswa yang nilainya ≤ KKM sebanyak 14 siswa atau 70%.

Hasil evaluasi selama siklus I diperoleh data nilai rata-rata kelas sebesar 71,5. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar 13 siswa (65%). Siswa yang belum tuntas sebanyak 7 siswa (35%). Nilai terendah pada siklus I adalah 55 dan nilai tertinggi adalah 100.

Hasil evaluasi siklus II diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 78,5. Jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 20 siswa (100%). Nilai terendah pada siklus II adalah 70 dan nilai tertinggi adalah 100. Data di atas dapat disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

Tabel 2. Tabel Data Hasil Evaluasi Siswa Tiap Siklus

No Siklus Persentase Siswa

Tuntas ≥KKM

Persentase Siswa

Belum Tuntas <KKM

1 Tes Awal 30% 70%
2 Siklus I 65% 35%.
3 Siklus II 100% 0%

B. PEMBAHASAN

Keaktifan Belajar

Hasil penilaian keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika materi pecahan dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada kondisi awal diperoleh nilai rata-rata 2,2 atau dengan persentase 55% yang termasuk ke dalam kriteria C atau Cukup. Pada kondisi awal siswa belum menyiapkan diri dengan baik. Ada beberapa siswa pada awal pembelajaran ribut sendiri sehinga masih bingung maksud dan tujuan dari masalah kontekstual yang diberikan. Siswa yang belum memahami masalah tidak berani bertanya kepada guru, sehingga pada saat mengaitkan data dengan konsep Matematika siswa masih mengalami kesulitan. Siswa menggunakan media dengan bimbingan guru dalam berdiskusi dengan baik. Tetapi sebagian kelompok belum menyiapkan diri dengan baik sehingga siswa dalam mengerjakan LKS masih mengalami kesulitan menerjemahkan soal kontekstual berdasarkan pengalaman sendiri. Siswa yang duduk pada deretan belakang masih melakukan diskusi padahal waktu untuk mengerjakan telah habis. Akan tetapi kelompok yang ditunjuk presentasi sangat baik dalam membandingkan hasil diskusi antar kelompok.

Hasil penilaian keaktifan belajar siswa pada siklus I menunjukkan hasil yang cukup baik. Hasil analisis diperoleh skor 3,2 dengan persentase sebesar 80% dan termasuk ke dalam kategori Baik. Pada siklus I, beberapa siswa pada awal pembelajaran ribut sendiri sehinga masih bingung maksud dan tujuan dari masalah kontekstual yang diberikan. Pada saat menyiapkan diri untuk berdiskusi masih bermain sendiri dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Selain itu ada sebagian kelompok belum menyiapkan diri dengan baik sehingga siswa dalam mengerjakan LKS masih mengalami kesulitan menerjemahkan soal kontekstual berdasarkan pengalaman sendiri. Siswa yang duduk pada deretan belakang masih melakukan diskusi padahal waktu untuk mengerjakan telah habis. Akan tetapi kelompok yang ditunjuk presentasi sangat baik dalam membandingkan hasil diskusi antar kelompok. Pada saat guru memberikan langkah formal masih ada siswa yang bicara sendiri.

Hasil analisis keaktifan siswa dalam pembelajaran pada siklus II menunjukkan hasil yang sangat baik. Perolehan skor nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus II sebesar 3,6 dengan persentase 90% dan kategorinya sangat baik. Siswa menyiapkan diri untuk belajar Matematika mengenai materi pengurangan pecahan dengan baik. Pada saat guru menyampaikan tujuan dan materi yang akan dipelajari siswa memperhatikan penjelasan guru dengan sangat antusias. Siswa memperhatikan penjelasan guru dan mempersiapkan diri untuk kegiatan diskusi dengan baik. Siswa menunjukan partisipasi aktif dengan berusaha menemukan penyelesaian dari suatu masalah kontekstual bersama kelompok. Dari hasil pengamatan telah terjadi peningkatan semangat dan keaktifan siswa dalam belajar. Ada interaksi/komunikasi antar siswa dengan berani beragumentasi dengan teman sekelompoknya. Pada waktu kelompok yang maju mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, siswa memperhatikan hasil diskusi kelompok tersebut. Ada persaingan positif antar kelompok dengan saling berkompetisi agar kelompoknya menjadi yang terbaik. Siswa ikut terlibat Bersama-sama menyimpulkan hasil diskusi.

Selengkapnya grafik peningkatan persentase keaktifan belajar siswa dari tes awal, siklus I, dan siklus II pada mata pelajaran matematika tentang pecahan dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Grafik Peningkatan Keaktifan Belajar Siswa pada Tes Awal, Siklus I, dan Siklus II

2. Hasil belajar

Berdasarkan hasil dari pre-test diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 61,5. Nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi adalah 90. KKM untuk penelitian tindakan kelas ini adalah 70. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 6 siswa atau jika dipersentase sebesar 30%. Sedangkan siswa yang nilainya ≤ KKM sebanyak 14 siswa atau 70%. Berdasarkan hasil tes tersebut, secara nyata menunjukkan bahwa nilai matematika siswa kelas VI SDN 2 Kedungpuji masih kurang memuaskan.

Hasil evaluasi siswa pada Siklus I nilai rata-ratanya adalah 71,5. Nilai tertinggi pada siklus I adalah 100 dan nilai terendah adalah 55. Pada siklus I mengalami kenaikan rata-rata kelas dibandingkan pada kondisi awal dari yang semula rata-ratanya sebesar 61,5 menjadi 71,5 pada siklus I. Siswa yang memperoleh nilai tuntas mengalami kenaikan dari yang sebelumnya hanya sebesar 30% atau sejumlah 6 siswa pada kondisi awal menjadi sebesar 65% atau sejumlah 13 siswa yang memperoleh nilai ≥ KKM pada siklus I. Jumlah siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM mengalami penurunan dari yang semula sebanyak 14 siswa atau 70% dari jumlah total siswa, pada siklus I jumlahnya menurun menjadi hanya 7 anak atau 35%.

Hasil evaluasi siswa pada siklus II rata-rata nilai hasil evaluasi siswa pada Siklus II adalah 78,5. Nilai tertinggi pada siklus I adalah 100 dan nilai terendah adalah 70. Pada siklus II mengalami kenaikan rata-rata kelas dibandingkan pada siklus I dari yang semula rata-ratanya sebesar 71,5 menjadi 78,5 pada siklus II. Siswa yang memperoleh nilai tuntas mengalami kenaikan pesat dari yang sebelumnya hanya sebesar 65% atau sejumlah 13 siswa yang memperoleh nilai ≥ KKM pada siklus II menjadi 100% atau sebanyak 20 siswa memperoleh nilai ≥ KKM. Jumlah siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM pada siklus I jumlahnya 7 anak atau 35% menjadi tuntas semua.

Grafik peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada tes awal, siklus I, dan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Diagram Persentase Siswa Tuntas dan Belum Tuntas Tiap

Rata-rata hasil tes belajar siswa tiap siklus dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut:

Gambar 3. Rata-rata Tes Hasil Belajar Tiap Siklus

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan analisis data hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat disimpulkan sebagai berikut:

Penggunaan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan keaktifan belajar pada siswa kelas VI SD Negeri 2 Kedungpuji Tahun Ajaran 2019/2020. Pada kondisi awal diperoleh nilai rata-rata 2,2 atau dengan persentase 55% yang termasuk ke dalam kriteria C atau Cukup. Pada kondisi awal siswa belum menyiapkan diri dengan baik. Pada siklus I menunjukkan hasil yang cukup baik. Hasil analisis diperoleh skor 3,2 dengan persentase sebesar 80% dan termasuk ke dalam kategori Baik. pada siklus II menunjukkan hasil yang sangat baik. Perolehan skor nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus II sebesar 3,6 dengan persentase 90% dan kategorinya sangat baik.

Penggunaan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dengan Lembar Kerja Siswa (LKS) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri 2 Kedungpuji Tahun Ajaran 2019/2020. Hasil pre-test diperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 61,5. Nilai terendah sebesar 40 dan nilai tertinggi adalah 90. Siswa yang memperoleh nilai ≥ 70 sebanyak 6 atau sebesar 30%. Sedangkan siswa yang nilainya ≤ KKM sebanyak 14 siswa atau 70%. Pada Siklus I nilai rata-ratanya adalah 71,5. Siswa yang memperoleh nilai tuntas mengalami kenaikan menjadi sebesar 65% atau sejumlah 13 siswa. Siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM jumlahnya hanya 7 anak atau 35%. Hasil evaluasi siswa pada siklus II rata-ratanya adalah 78,5. Siswa yang memperoleh nilai tuntas menjadi 100% atau sebanyak 20 siswa memperoleh nilai ≥ KKM.

B. Saran

Berdasarkan penilaian hasil dan kesimpulan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Oleh karena itu, penelti mengajukan saran-saran sebagai berikut:

Guru

  1. Guru hendaknya sabar dan peka terhadap ide atau gagasan yang berbeda dari siswa, dengan memberikan kebebasan dan tidak membatasi siswa dalam mengeluarkan pendapat.
  2. Guru hendaknya lebih kreatif dalam mendesain soal-soal kontekstual yang dikemas dalam bentuk LKS.

Bagi Siswa

  1. Siswa hendaknya berperan aktif dengan menyampaikan ide pemikiran pada proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar untuk memperoleh hasil belajar yang optimal.
  2. Siswa hendaknya memanfaatkan pengalaman yang didapat di kehidupan sehari-hari untuk dikembangkan di sekolah sesuai materi yang dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak BerkesulitanBelajar.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hadi, S. (2005). Pendidikan Matematika Realistik dan Implementasinya. Banjarmasin: Tulip.

Heruman. (2010). Model Pembelajaran di Sekolah Dasar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Kerami, D. (2002). Kamus matematika. Jakarta: Balai Pustaka.

Marno & M. Idris. 2010. Strategi dan Metode Pengajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Martinis Yamin. 2007. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press.

Muhsetyo, G. (2008). Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Padmono. 2002. Evaluasi Pengajaran. Surakarta: UNS.

Sukayati. (2003). Pelatihan Supervisi pengajaran Untuk Sekolah Dasar.Yogyakarta: PPPG Matematika.

Susanto, A. (2013). Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenada Media Group.

Wijaya, A. (2012). Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternatif pendekatan Pembelajaran matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu

Biodata Penulis

Nama : Nurjanah, S.Pd

NIP : 19670502 198908 2 001

Pangkat Gol/Ruang : Pembina , IV/a

Jabatan : Guru

Unit Kerja : SD Negeri 5 Gombong Kec.Gombong Kab Kebumen

You cannot copy content of this page