Iklan

PENGGUNAAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DAPAT MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANG SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI 3 WONOKROMO SEMESTER II PADA TAHUN AJARAN 2016/2017

Suryati, S.Pd.SD

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah: Meningkatkan hasil pembelajaran Matematika tentang sifat-sifat bangun datar melalui penggunaan pendekatan kontekstual pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 3 Wonokromo pada tahun ajaran 2016/2017. Meningkatkan hasil belajar matematika tentang sifat-sifat bangun ruang melalui pendekatan kontekstual pada siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 3 Wonokromo semester 2 pada Tahun ajaran 2016/2017. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam 3 siklus dengan setiap siklusnya terdiri dari dua pertemuan. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 32 siswa. Sumber data berasal dari guru, siswa, dan dokumen. Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dan tes. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data menggunakan teknik analisis data statistik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Prosedur penelitian ini adalah sistem spiral refleksi diri. Simpulan penelitian ini adalah: 1) Penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi dan hasi belajar Matematika tentang sifat-sifat bangun datar pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo tahun ajaran 2016/2017 meliputi: (1) konstruktivisme; (2) bertanya; (3) inkuiri; (4) pemodelan: (5) masyarakat belajar; (6) refleksi, dan (7) penilaian autentik. 2) Penggunaan pendekatan kontekstual yang dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah di atas dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Matematika tentang bangun ruang pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo tahun ajaran 2016/2017. Dari hasil evaluasi atau tes hasil belajar siswa diperoleh nilai rata-rata kelas yaitu 70,5 pada siklus I, 74,4 pada siklus II, dan 86,5 pada siklus III. Motivasi belajar siswa yang meliputi minat, keaktifan, dan interaksi rata-rata pada siklus I 3,1 atau 77,5% pada siklus II 3,4 atau 85% dan pada siklus III 3,8 atau 95%.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang memegang peranan penting dalam melangsungkan kehidupannya. Upaya peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai. Pengembangan aspek-aspek tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup melalui seperangkat kompetensi agar siswa dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa yang akan datang.

Keberhasilan pendidikan di sekolah dasar sangat menentukan keberhasilan pendidikan di tingkat selanjutnya. Untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan tersebut, kegiatan pembelajaran di sekolah dasar harus dilaksanakan dan diterapkan secara optimal. Matematika diajarkan di SD dengan semua jenis dan program serta dengan jumlah jam yang relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Meskipun matematika mempunyai jam yang relatif paling banyak, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa Matematika di SD masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit.

Keberhasilan belajar Matematika siswa juga sangat dipengaruhi oleh peran guru dalam proses pembelajaran. Siswa akan merasa bosan dan kurang berminat dalam proses pembelajaran karena dalam metode pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terpusat pada guru, siswa kurang leluasa untuk aktif dan berkreasi dalam pembelajaran yang akhirnya bisa membuat konsentrasi siswa kurang terfokus pada pembelajaran. Hal tersebut membuat minat belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran rendah sehingga berdampak pada hasil belajar siswa.

Oleh sebab itu, perlu diterapkannya model pembelajaran yang efektif dan inovatif yang dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa. Berkaitan dengan hal itu pembelajaran kontekstual merupakan model pembelajaran yang dirasa tepat dan efektif dalam upaya peningkatkan pembelajaran matematika siswa kelas I V SD Negeri 3 Wonokromo, khususnya materi bangun datar.

Penggunaan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran Matematika siswa tentang bangun datar terutama sifat-sifat bangun datar. Dengan pendekatan ini siswa akan akan lebih aktif dan termotivasi. Kelebihan pendekatan kontekstual di antaranya adalah memudahkan siswa dalam mempelajari suatu konsep-konsep yang ada. Selain itu pendekatan kontekstual diharapkan dapat merubah pola pembelajaran konvensional dan dapat meningkatkan mutu pendidikan di masa yang akan datang. Berdasarkan kenyataan yang telah dikemukakan di atas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “  Penggunaan Pendekatan Kontekstual dalam Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Sifat-sifat Bangun Ruang Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo Semester II Kecamatan Alian Tahun ajaran 2016/2017”.

II. LANDASAN TEORI

Peningkatan Hasil Belajar Matematika tentang Sifat-sifat Bangun Ruang Siswa Kelas IV SD

Karakteristik Siswa Kelas IV SD

Anak Kelas IV SD berkisar antara 9 sampai 11 tahun, menurut teori perkembangan Piaget, maka anak Kelas IV SD termasuk pada tahap atau stadium konkret operasional. Piaget, menyatakan bahwa karakteristik-karakteristik dasar dari tahap perkembangan konkret operasional yaitu anak mengembangkan pikiran logis yang berdasarkan sebagian pada manipulasi fisik objek-objek. Proses-proses berpikirnya pada tahap ini telah reversibel (Wahyudi, 2008:23). Heruman (2012) mengatakan bahwa, “Siswa Sekolah Dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13 tahun”. Menurut Piaget, mereka berada pada fase operasional konkret.

Matematika

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Wahyudi (2008:35) berpendapat bahwa, ”Matematika merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima, sehingga kebenaran antar konsep dalam Matematika bersifat sangat kuat dan jelas.

Pembelajaran Matematika adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui perubahan tingkah laku yang diarahkan oleh guru untuk menghasilkan, merangsang, atau mempermudah belajar siswa dalam mata pelajaran Matematika yang objeknya abstrak dan terstruktur, dan terbagi dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri.

Sifat-sifat Bangun Ruang

Sifat-Sifat Kubus
Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam buah persegi yang berukurang sama. Lihat Gambar kubur berikut.

Sisi yang dimiliki kubus ABCD.EFGH adalah Sisi ABCD, Sisi ABFE, Sisi ADHE, Sisi EFGH, Sisi DCGH, Sisi BCGF. Rusuk yang dimiliki Kubus ABCD.EFGH adalah Rusuk AB, Rusuk EF, Rusuk HG, Rusuk DC, Rusuk BC, Rusuk FG, Rusuk EH, Rusuk AD, Rusuk EA, Rusuk BF, Rusuk CG, Rusuk DH. Sehingga ada 12 Rusuk pada bangun ruang kubus.Titik Sudut yang dimiliki Kubus ABCD.EFGH adalah Titik Sudut A, Titik Sudut B, Titik Sudut C, Titik Sudut D, Titik Sudut E, Titik Sudut F, Titik Sudut G, Titik Sudut H. Sehingga ada 8 Titik Sudut pada bangun ruang Kubus.

Sifat-Sifat Balok 
Balok adalah bangun ruang yang dibatasi oleh tiga pasang atau 6 buah persegi panjang dimana setiap pasang persegi panjang saling sejajar berhadapan dan berukuran sama.
Perhatikan Gambar berikut

Sisi yang dimiliki Balok ABCD.EFGH adalah
Sisi ABCD, Sisi EFGH, Sisi BCFG, Sisi DCGH, Sisi ADHE, Sisi EFGH.
Rusuk yang dimiliki Balok ABCD.EFGH adalah Rusuk AB, Rusuk EF, Rusuk HG, Rusuk DC, Rusuk BC, Rusuk FG, Rusuk EH, Rusuk AD, Rusuk EA, Rusuk BF, Rusuk CG, Rusuk DH. Sehingga ada 12 Rusuk pada bangun ruang Balok.
Titik Sudut yang dimiliki Balok ABCD.EFGH adalah Titik Sudut A, Titik Sudut B, Titik Sudut C, Titik Sudut D, Titik Sudut E, Titik Sudut F, Titik Sudut G, Titik Sudut H. Sehingga ada 8 Titik Sudut pada bangun ruang Balok.

Kerucut

Sifat-sifat kerucut yaitu :

  • Memiliki 2 sisi, yaitu sisi alas yang berbentuk lingkaran dan sisi lengkung atau selimut kerucut.
  • Memiliki 1 rusuk lengkung
  • Tidak memiliki titik sudut.
  • Memiliki 1 titik puncak

Tabung

Sifat-sifat tabung yaitu :

  • Memiliki 3 sisi yaitu sisi alas dan sisi atas yang berbentuk lingkaran dan 1 sisi lengkung yang disebut selimut tabung.
  • Memiliki 2 rusuk lengkung.
  • Tidak mempunyai titik sudut

Bola

Sifat-sifat bola

Bola adalah bangun ruang sisi lengkung yang dibatasi oleh satu bidang lengkung. Contoh benda-benda yang umumnya berbentuk bulat (bola) adalah antara lain misalnya bola sepak, bola pingpong, bola kasti dan bola voli. Bentuk pola dapat dibentuk dari bangun setengah lingkaran yang diputar sejauh 360o pada garis tengahnya.

Perhatikan Gambar (a) diatas merupakan gambar setengah lingkaran. Jika bangun tersebut diputar 360o pada garis tengah AB, diperoleh bangun seperti pada gambar (b), yang dinamakan dengan bola.

Sifat-sifat ruang bola adalah antara lain yakni sebagai berikut :

a. Bola memiliki satu sisi dan tidak memiliki rusuk.

b. Titik O dinamakan titik pusat bola.

c. Ruas garis OA=OB dinamakan jari-jari bola.

d. Ruas garis AB dinamakan diameter bola. Jika kamu amati, ruas garis Ab juga merupakan diameter bola. AB dapat pula disebut dengan tinggi bola.

e. Sisi bola adalah kumpulan titik yang mempunyai jarak sama terhadap titik O. Sisi tersebut dinamakan selimut atau kulit bola.

f. Ruas garis ACB dinamakan tali busur bola.

Motivasi

Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak agar menjadi aktif. Aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan/mendesak (Sardiman, 2009: 73). Menurut Mc. Donald dalam Sardiman A.M (2009: 73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Motivasi merupakan daya penggerak/pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan yang bisa berasal dari dalam diri maupun dari luar (Dalyono, 2009: 57). Menurut Eko Putro Widoyoko (2012: 234) motivasi adalah kondisi yang muncul dalam diri individu yang disebabkan oleh interaksi antara motif dengan kejadian-kejadian yang diamati oleh individu, sehingga mendorong mengaktifkan perilaku menjadi tindakan nyata

pada indikator Motivasi pembelajaran matematika mencakup aspek-aspek yaitu minat belajar siswa, keaktifan belajar siswa, dan interaksi belajar siswa.

Minat Belajar Siswa

Purwanto (1990: 34) berpendapat bahwa “minat atau dorongan adalah suatu pernyataan yang kompleks didalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap tujuan (goal) atau perangsang (incentive)”. (Semiawan, 2000: 289). menegaskan bahwa “minat dapat didefinisikan sebagai keadaan internal yang menaikkan, mengarahkan dan memelihara perilaku”. Selain itu, Aunurrahman (2009:90) berpendapat bahwa “motivasi merupakan tenaga pendorong bagi seseorang agar memiliki energi atau kekuatan melakukan sesuatu dengan penuh semangat. Minat sebagai suatu kekuatan yang mampu mengubah energi dalam diri seseorang dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu”

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa minat belajar siswa merupakan suatu tenaga pendorong atau kekuatan yang mampu mengubah energi dalam diri seorang siswa (menaikkan, mengarahkan, dan memelihara perilaku) untuk mencapai tujuan tertentu atau perangsang yang ditandai dengan timbulnya afektif pada kegiatan belajar siswa.

Keaktifan Belajar Siswa

Keaktifan belajar siswa menurut Mayasa (2012:14) yaitu partisipasi siswa baik secara jasmani maupun rohani dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Keaktifan belajar sangat mempengaruhi hasil belajar yang dicapai siswa, sebab siswa yang aktif akan mampu menangkap materi yang diajarkan dengan lebih optimal. Pada saat guru mengajar ia harus mengusahakan agar murid-muridnya aktif, jasmani maupun rohani. Keaktifan jasmani maupun rohani meliputi

Keaktifan indera, murid harus dirangsang agar dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin.

Keaktifan akal, akal anak-anak aktif atau diaktifkan untuk memecahkan masalah.

Keaktifan ingatan, pada waktu mengajar anak harus aktif menerima bahan pengajaran yang disampaikan oleh guru dan menyimpannya dalam otak.

Keaktifan emosi, anak hendaklah senantiasa mencintai pelajarannya.

Berdasarkan penjelasan tersebut, keaktifan belajar siswa merupakan partisipasi siswa yang meliputi keaktifan indera, akal, ingatan, dan emosi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Interaksi Belajar Siswa

Interaksi belajar mengajar menurut Faqod (2012:23) merupakan suatu hubungan timbal balik antara orang satu dengan orang lainnya. Di dalam interaksi belajar mengajar, hubungan timbal balik antara guru yang bersifat edukatif ( mendidik ) hal mana interaksi itu harus diarahkan pada suatu tujuan tertentu yang bersifat mendidik yaitu adanya perubahan tingkah laku anak didik ke arah kedewasaan. Interaksi belajar siswa menurut Susanto (2011:12) yaitu istilah yang menggambarkan hubungan aktif dua arah antara pendidik dengan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan interaksi belajar siswa adalah suatu hubungan timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa yang bersifat edukatif yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

Penggunaan Pendekatan Kontekstual

Pendekatan Kontekstual

Hakikat Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2009:255).

Menurut Nurhadi (dalam Sugiyanto, 2008:18), pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Sedangkan menurut Johnson (dalam Sugiyanto, 2008:18), pendekatan kontekstual adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.

Karakteristik Pendekatan Kontekstual

Berdasarkan pengertian pendekatan kontekstual, menurut Sa’ud (2008:163-164) terdapat lima karakteristik penting dalam menggunakan proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu :

  1. Dalam pembelajaran kontekstual merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada.
  2. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru..
  3. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini.
  4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa
  5. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Komponen Pendekatan Kontekstual

Komponen pembelajaran kontekstual menurut Sanjaya (dalam Sugiyanto, 2008:21) yang efektif meliputi:

Konstruktivisme (constructivism), konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu.

Bertanya (questioning), dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa.. Questioning dapat diterapkan pada hampir semua aktivitas belajar, antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain, dan sebagainya.

Menemukan (inquiry), merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.

Masyarakat belajar (learning community), adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan.

Pemodelan (modelling), dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajar atau melakukan sesuatu sesuai dengan pemodelan yang diberikan.

Refleksi (reflection), yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan.

Penilaian sebenarnya (authentic assessment), prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata..

Depdiknas (2002:5) menyatakan pembelajaran kontekstual sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen, yakni: (1) konstruktivisme (Constructivism), (2) bertanya (Questioning), (3) menemukan (Inquiry), (4) masyarakat belajar (Learning Community), (5) pemodelan (Modeling), (6) Refleksi (Reflection), (7) penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Kegiatan dan Strategi Pendekatan Kontekstual

Menurut Sumiati dan Asra (2008:17), kegiatan dan strategi pembelajaran kontekstual dapat ditujukan berupa kombinasi kegiatan dari kegiatan-kegiatan berikut ini:

  1. Pembelajaran otentik (authentic instruction), yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dalam konteks yang bermakna.
  2. Pembelajaran berbasis inquiry (inquiry based learning), yaitu memaknakan strategi pembelajaran dengan pendekatan-pendekatan sains, sehingga perolehan pembelajaran yang bermakna.
  3. Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah-masalah yang ada di dunia nyata atau di sekelilingnya sebagai konteks bagi siswa untuk belajar kritis dan keterampilan memecahkan masalah dan untuk memperoleh konsep utama dari suatu pelajaran.
  4. Pembelajaran layanan (serve learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang menggabungkan layanan masyarakat dengan struktur sekolah untuk merefleksikan layanan, menekankan hubungan antara layanan yang dialami dan pembelajaran akademik sekolah.
  5. Pembelajaran berbasis kerja (work based learning), yaitu pendekatan pembelajaran yang menggunakan konteks tempat kerja dan membahas penerapan konsep mata pelajaran di lapangan

Peranan Guru dan Siswa dalam Pendekatan Kontekstual

Dalam proses pendekatan kontekstual, setiap guru memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Oleh karena itu, menurut Sanjaya (2009:262-263) ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual yaitu:

  1. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
  2. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan.
  3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang sudah diketahui..
  4. Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian peran guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi

Langkah-langkah dalam Pendekatan Kontekstual

Secara sederhana langkah penerapan pendekatan kontekstual dalam kelas secara garis besar menurut Sugiyanto (2008:26) adalah :

  1. Kembangkan pemikiran anak bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
  4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dengan kelompok-kelompok)
  5. Hadirkan refleksi di akhir pertemuan
  6. Lakukan penilaian autentik dengan berbagai cara

Berdasarkan paparan di atas maka peneliti menentukan langkah-langkah dalam pendekatan kontekstual sebagai berikut :

  1. Menentukan materi dan masalah sebelum pembelajaran (penentuan materi dan masalah yang akan diselesaikan dalam pembelajaran).
  2. Memberikan penanaman, pengarahan, dan motivasi kepada siswa bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika mereka mengkonstruksi atau mendapatkan sendiri suatu pengetahuan atau konsep dengan pengalaman yang mereka dapat sendiri (Konstruktivisme).
  3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya ataupun sebaliknya guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk membangkitkan respon siswa (Bertanya).
  4. Menggerakkan siswa untuk membentuk kelompok dalam kelas. Pembentukan dilakukan secara merata oleh guru. Dengan tujuan akan terjalin dan berkembangnya keterampilan siswa dalam berkomunikasi, dalam kelas yaitu dari siswa untuk diskusi kelompok, siswa – diskusi kelompok kemudian diskusi kelas. Selain itu bisa dengan menjalin hubungan dengan orang-orang yang berada di sekitar anak (Masyarakat Belajar).
  5. Guru atau siswa ataupun guru bersama-sama siswa melakukan pemodelan misal dengan guru bersama siswa melakukan demonstrasi didepan kelas atau siswa melakukan, memberikan, dan memperagakan sesuatu di depan kelas (Pemodelan).
  6. Melakukan inkuiri dalam pembelajaran yaitu dengan siswa melakukan percobaan dan observasi untuk menemukan pengetahuan, informasi, dan konsep itu (Inkuiri).
  7. Mengajak siswa bersama-sama melakukan refleksi atau melihat kembali apa yang telah mereka pelajari sekilas (Refleksi).
  8. Melakukan penilaian sebenarnya yaitu guru menilai dari hasil pekerjaan siswa baik berupa pembelajaran siswa ataupun hasil karya siswa (Penilaian Autentik).

III. METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo tahun ajaran 2016/2017, yang berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan.

B. Indikator Kinerja

Setelah adanya penelitian dan pelaksanaan tindakan, sebagai indikator kerja, peneliti berharap:

  1. Sebanyak 80% siswa berperan aktif selama proses belajar mengajar berlangsung
  2. Adanya peningkatan hasil belajar matematika yaitu 80% siswa tuntas dalam belajar tentang luas bangun datar dari KKM 70

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. MOTIVASI BELAJAR SISWA

Selain observasi terhadap guru, observasi juga dilakukan terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui motivasi belajar siswa selama proses pembelajaran matematika yang mencakup minat belajar siswa, keaktifan siswa, dan interaksi belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Berikut adalah tabel perbandingan hasil pengamatan observer motivasi belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I, II, dan III.

Tabel 1. Hasil Observasi Siswa pada Siklus I, II, dan III

Pelaksanaan Rata-rata hasil observasi Motivasi Belajar Siswa
Siklus I 3,1
Siklus II 3,4
Siklus III 3,8

Tabel 1 dapat disajikan pula dalam bentuk diagram seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Diagram Hasil Observasi Siswa pada Siklus I, II, dan III

HASIL BELAJAR SISWA

Berdasarkan hasil evaluasi pada saat test awal, siklus I, II, dan III diperoleh nilai rata-rata kelasnya yang pada tes awal sebesar 61,7. Pada siklus I sebesar 70,5. Pada siklus II menjadi 74,4 dan meningkat menjadi 86,5 pada siklus III. Selengkapnya peningkatan nilai rata-rata hasil evaluasi matematika siswa pada tes awal, siklus I, II, dan III dapat dilihat pada grafik 2.

Gambar 2. Peningkatan Nilai Rata-rata Hasil Evaluasi Siswa Tiap Siklus

Jika dilihat dari prosentase ketuntasan belajar siswa tiap siklus mengalami peningkatan yang signifikan. Selengkapnya prosentase ketuntasan belajar siswa tiap siklus dapat dilihat pada tabel 4.13.

Tabel 2. Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa Tiap Siklus

No Kriteria Siklus I Siklus II Siklus III
% Jumlah % Jumlah % Jumlah
1. Tuntas (≥ KKM) 62.5 20 71,8 23 100 32
2. Belum Tuntas (≤ KKM) 37.5 12 28,2 9 0

Selengkapnya prosentase ketuntasan belajar siswa tiap siklus dapat dilihat pada diagram 3.

Gambar 3. Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa Antarsiklus

Berdasarkan deskripsi data pada tabel 2 dan gambar 3, dapat diketahui tes hasil belajar siswa di setiap siklus mengalami peningkatan. Pada siklus I, ketuntasan siswa hanya 62,5% atau sebanyak 20 siswa, pada siklus kedua meningkat menjadi 71,8% atau sebanyak 23 siswa dan pada siklus ketiga meningkat mencapai 100% atau 32 siswa. Sesuai dengan kriteria keberhasilan yang terdapat pada indikator kinerja, persentase kelulusan dikatakan berhasil apabila mampu mencapai 80%. Itu berarti pada penelitian ini, jika dilihat dari persentase ketuntasan sudah bisa dikatakan berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan penggunaan pendekatan kontekstual dalam Peningkatan Hasil Belajar Matematika Tentang Sifat-sifat Bangun datar Siswa Kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo Tahun ajaran 2016/2017 yang telah dilaksanakan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

  1. Penggunaan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar Matematika tentang bangun datar siswa kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo tahun ajaran 2016/2017 yang meliputi minat, keaktifan, dan interaksi rata-rata pada siklus I 3,1 atau 77,5% pada siklus II 3,4 atau 85% dan pada siklus III 3,8 atau 95%.
  2. Penggunaan pendekatan kontekstual yang dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah di atas dapat meningkatkan hasil belajar Matematika tentang bangun datar siswa kelas IV SD Negeri 3 Wonokromo tahun ajaran 2016/2017. Berdasarkan hasil evaluasi pada saat test awal, siklus I, II, dan III diperoleh nilai rata-rata kelasnya yang pada tes awal sebesar 61,7. Pada siklus I sebesar 70,5. Pada siklus II menjadi 74,4 dan meningkat menjadi 86,5 pada siklus III.
  3. Langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual adalah sebagai berikut :
  4. Menentukan materi dan masalah sebelum pembelajaran (penentuan materi dan masalah yang akan diselesaikan dalam pembelajaran).
  5. Memberikan penanaman, pengarahan, dan motivasi kepada siswa bahwa siswa akan belajar lebih bermakna jika mereka mengkonstruksi atau mendapatkan sendiri suatu pengetahuan atau konsep dengan pengalaman yang mereka dapat sendiri (Konstruktivisme).
  6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya ataupun sebaliknya guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk membangkitkan respon siswa (Bertanya).
  7. Menggerakkan siswa untuk membentuk kelompok dalam kelas. Pembentukan dilakukan secara merata oleh guru. Dengan tujuan akan terjalin dan berkembangnya keterampilan siswa dalam berkomunikasi, dalam kelas yaitu dari siswa untuk diskusi kelompok, siswa – diskusi kelompok kemudian diskusi kelas. Selain itu bisa dengan menjalin hubungan dengan orang-orang yang berada di sekitar anak (Masyarakat Belajar).
  8. Guru atau siswa ataupun guru bersama-sama siswa melakukan pemodelan misal dengan guru bersama siswa melakukan demonstrasi didepan kelas atau siswa melakukan, memberikan, dan memperagakan sesuatu di depan kelas (Pemodelan).
  9. Melakukan inkuiri dalam pembelajaran yaitu dengan siswa melakukan percobaan dan observasi untuk menemukan pengetahuan, informasi, dan konsep itu (Inkuiri).
  10. Mengajak siswa bersama-sama melakukan refleksi atau melihat kembali apa yang telah mereka pelajari sekilas (Refleksi).
  11. Melakukan penilaian sebenarnya yaitu guru menilai dari hasil pekerjaan siswa baik berupa pembelajaran siswa ataupun hasil karya siswa (Penilaian Autentik).

Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi yang telah diuraikan, perlu disampaikan saran sebagai berikut.

Bagi Guru

  1. Seorang guru SD hendaknya menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajar dan kondisi siswa, salah satunya adalah menggunakan pendekatan kontekstual sehingga kegiatan belajar menjadi lebih bermakna dan keberhasilan pembelajaran dapat tercapai
  2. Sebelum pelaksanaan pembelajaan kontekstual dilaksanakan hendaknya guru mempersiapkan segala kebutuhan baik alat atau bahan yang digunakan selama proses pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Bagi Siswa

Keberhasilan pembelajaran akan tercapai jika ada kerja sama yang baik antara guru dan siswa dalam pembelajaran. Siswa hendaknya mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik supaya keberhasilan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Selain itu, siswa juga hendaknya mempunyai motivasi yang tinggi dan aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, khususnya dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

Bagi Lembaga Pendidikan

  1. Pihak-pihak yang berkompeten atau penentu kebijakan hendaknya melaksanakan monitoring atau pembinaan pelaksanaan pembelajaran-pembelajaran yang inovatif seperti pembelajaran kontekstual pada guru-guru SD.
  2. Hendaknya memberikan atau menyediakan fasilitas yang memadai kepada guru-guru SD untuk melaksanaan pembelajaran kontekstual.

Bagi Peneliti Lain

  1. Peneliti lain hendaknya lebih kritis dalam menghadapi masalah yang muncul dalam dunia pendidikan, khususnya dalam masalah pembelajaran sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi dalam memberikan informasi tentang pelaksanaan pendekatan kontekstual.
  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pertimbangan bagi peneliti lain untuk menggunakan metode atau model pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran Matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rohani.1991. Media Instruksional Edukatif. Jakarta:Rineka Cipta

Ali. (2008). Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo..

Anitah, Sri. (2010). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Arikunto. (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Asrori, M. (2009). Psikologi Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

Aunurrahman. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Chatarina. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES

Dalyono. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka cipta

Dimyati dan Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Depdiknas. (2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Untuk Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas

Eko Putro Widoyoko.2012. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Faqod. (2012). Pengertian Interaksi. Diperoleh 5 Februari 2017, dari http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2261194-pengertian-interaksi/

Biodata Penulis

Nama : Suryati, S.Pd.SD

Unit Kerja : SD Negeri 3 Wonokromo, Kecamatan Alian, Kebumen

You cannot copy content of this page